Membid’ahkan Perbuatan vs Membid’ahkan Orangnya

Membid’ahkan perbuatan tidak sama dengan membid’ahkan orangnya.
Mengatakan suatu perbuatan termasuk bid’ah itu BOLEH, meskipun dalam hal itu ada perbedaan pendapat. Karena bid’ah-sunnah, halal-haram, mubah-makruh, semua itu masuk domain/wilayah khilafiyah.


Adapun membid’ahkan orang, maknanya adalah menyatakan bahwa orang tersebut mubtadi’ atau ahli bid’ah. Maka ini hanya boleh untuk masalah yang disepakati (mujma’ ‘alaihi), bukan pada masalah khilafiyah ijtihadiyah. Itupun ada kaidahnya tersendiri, tidak otomatis.
Sehingga dalam masalah khilafiyah: Boleh membid’ahkan suatu perbuatan/ibadah, namun tidak boleh membid’ahkan pelakunya.

Jangan sampai kebablasan dengan mengatakan: “Tidak boleh membid’ahkan qunut subuh.”, ini salah paham dan salah kaprah. Yang tidak boleh dibid’ahkan adalah pelakunya. Adapun bid’ahnya qunut subuh ini adalah salah satu pendapat ulama yang mu’tabar.

Kemudian, terkait bolehnya bermakmum dan mengikuti imam yang qunut hal ini karena terdapat dalil yang menyatakan bahwa imam itu untuk diikuti. Oleh karena itu para ulama menyatakan sah shalat di belakang orang yang berbeda madzhab, bahkan walaupun shalat imam tersebut tidak sah jika dipandang menurut madzhab makmum.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: