Berzina dengan Istri Tetangga

Zina dengan isteri tetangga


عن الْمِقْدَاد بْنَ الْأَسْوَدِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَا قَالُوا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ

Dari Miqdad bin al-Aswad, Rasulullah bersabda kepada para shahabatnya, “Apa komentar kalian mengenai zina?”. Para shahabat mengatakan, “Zina itu diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Zina itu haram sampai Kiamat tiba”. Rasulullah lantas bersabda, “Sungguh jika seorang laki-laki itu berzina dengan sepuluh wanita yang bukan tetangganya itu dosanya lebih ringan dibandingkan dengan berzina dengan isteri tetangga sendiri”.


قَالَ فَقَالَ مَا تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ قَالُوا حَرَّمَهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهِيَ حَرَامٌ قَالَ لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

Rasulullah bersabda, “Apa komentar kalian mengenai tindakan mencuri?”. Para shahabat mengatakan, “Mencuri itu diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Jadi hukum mencuri adalah haram”.
Rasulullah bersabda, “Sungguh jika seorang itu mencuri di sepuluh rumah yang bukan tetangganya itu dosanya lebih ringan dibandingkan dengan mencuri di satu rumah yang merupakan tetangganya sendiri”

HR Ahmad no 23905, Syuaib al-Arnauth mengatakan, “sanadnya jayyid”.

Zina di Pinggir Jalan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda:

”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hancur umat ini hingga kaum pria mendatangi kaum wanita, lalu dia menggaulinya di jalan. Orang yang paling baik di antara mereka saat itu berkata, ’Seandainya engkau menutupinya di belakang tembok ini.’” [Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Al Haitsami berkata, ’dan perawinya adalah perawi yang ash-Shahih.” Lihat Maj’mauz Zawaa-id (VII/331)]

Al Qurthubi (beliau adalah seorang ulama fikih madzhab Maliki, meninggal di Iskandaria th 656 H) berkata dalam al Mufhim, mengomentari hadits Anas terdahulu, “Di dalam hadits ini ada sebuah tanda dari tanda-tanda kenabian, karena beliau telah mengabarkan berbagai perkara yang akan terjadi, maka perkara itu pun telah terjadi terutama di masa-masa sekarang ini.” [Fathul Bari (I/179)]

Jika hal ini terjadi pada zaman Imam al Qurthubi, maka sesungguhnya hal ini lebih nampak lagi di zaman kita sekarang ini, karena besarnya dominasi kebodohan dan tersebarnya kerusakan di tengah-tengah manusia.

(Dan betapa kita lihat dan baca hari ini secara langsung dan dari surat kabar, kaum muda hingga kaum tua berpacaran, berselingkuh hingga berzina di pinggir jalan, di kantor-kantor, di taman-taman di mall dan di tempat-tempat wisata).

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/3464-tanda-kiamat-merebaknya-perzinaan.html

Pacaran dan Zina

Coba tulis di google pakai kata kunci, “pria bunuh kekasih”, maka … ratusaaaannn banyaknya wanita-wanita cantik yang dibunuh pacarnya.
Ada yg digorok, dicekik, diperkosa kemudian dibunuh, dibakar hidup-hidup dll.
Alangkah kasihannya…. kasihan dirinya mati dalam keadaan zina, kasihan keluarganya.
Susah payah orang tuanya membesarkan si anak, tahu-tahu sudah besar dibunuh orang.

Ambil pelajaran, jangan sekali-sekali pacaran dan jangan biarkan anak kita pacaran.
Pacaran itu zina, zina itu bisikan syaithon, orang pacaran itu dalam kendali syaithon, setelah pacaran syaithon akan lebih mudah membisikkan kekejian-kekejian lainnya.

Dan yang lebih dari itu, untuk mereka yang sudah menikah, harus lebih menjauh lagi dari yang namanya pacaran, karena mereka yang sudah menikah, baik lelaki maupun perempuan, sudah merasakan nikmatnya hubungan biologis, maka syaithon jauh lebih mudah lagi untuk menjerumuskan mereka berdua ke dalam zina. Hasil studi memperlihatkan bahwa 85% perzinaan terjadi tanpa direncanakan semula. Perzinaan terjadi begitu saja ketika si pihak wanita sudah dalam posisi submisif dan permisif sementara si pria sudah dalam dalam posisi dikuasai nafsu syahwat.

Na’udzubillahi min dzaalik.

(Alex Abu Usaid dengan tambahan)

Blog at WordPress.com.

Up ↑