Taat Kepada Pemimpin (2)

“Tidak wajib taat Ulil Amri yang menerapkan hukum non-Islam.”

Jika maksudnya adalah tidak mentaati pada perkara maksiat, maka benar. Ini paham ahlus sunnah wal jama’ah.

Jika maksudnya adalah tidak wajib taat sama sekali, ini paham ahlul bid’ah.

Jika ada anggapan bahwa rezim penguasa harus selalu ditaati dalam segala hal, maka itu paham Murji’ah.

Jika ada yang menuduh orang lain namun tidak mampu menunjukkan buktinya, ketahuilah bahwa ia seorang pendusta.

Anda yang mana?

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Memilih Pemimpin (2)

Nyoblosnya sendiri bukan ushul. Ma’ruf kalau itu ijtihadiyah..

Tapi yang melandasi kenapa dia nyoblos, bisa jadi masuk kepada ushul.. Ini yang akan membedakan kita dengan ahli bid’ah yang fokus pada kekuasaan.. Kalau kita tidak… kita hanya fokus pada dakwah tauhid, bukan kekuasaan.. dan nyoblos karena menghindari mafsadah yang lebih besar, bukan karena kekuasaan..

“Trus kalau salafi nggak berkuasa, kapan bisa menerapkan hukum Allah?”

Allah akan beri kekuasaan kalau kita bertauhid dan beramal shalih, baca QS An Nuur: 55. Kalau kita memaksakan berkuasa dengan cara kudeta sekalipun dalam kondisi rakyat belum terdidik dengan syariat, maka tinggal menunggu bom waktu kita akan diberontak. Pengalaman yang sudah2 telah membuktikan.

Lha sekarang menyiapkan rakyat agar terdidik dengan satu syariat saja yaitu “taat waliyyul amr”, susahnya minta ampun salah satunya gara2 banyak da’i yang menggembosi masalah ini, memprovokasi agar rakyat membenci dan tidak mengakui penguasanya.. Kalau seperti ini gimana syariat lainnya yang merupakan derivat dari syariat tsb bisa ditegakkan?

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Memilih Pemimpin

Setiap muslim hendaknya paham bahwa idealnya, pemimpin tidaklah dipilih berdasarkan kehendak rakyat umum, akan tetapi lewat musyawarah orang-orang terpilih yang disebut dengan ahlul hall wal ‘aqd.

Dan paham bahwa hukum tidaklah ditentukan berdasarkan kehendak rakyat atau perwakilan rakyat, melainkan wajib berasal dari Al Hakim Tabaraka wa Ta’ala. Kecuali yang Dia mandatkan kepada manusia untuk mereka tentukan sendiri berupa siyasah syar’iyyah.

Oleh sebab itu, karena pemilihan pemimpin berdasarkan suara terbanyak rakyat umum bukanlah dari syariat Islam, dan penentuan hukum berdasarkan kehendak rakyat bukan pula dari syariat yang mulia ini. Maka setiap muslim mestinya punya sikap bara’ (berlepas diri) dan membenci hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Jika memang diharuskan untuk berpartisipasi dalam pemilihan tersebut, maka semata karena mengambil kerusakan yang terkecil dari dua kerusakan yang tidak bisa dihindari.

Dan jika tidak ada keharusan, maka semestinya sikap seorang muslim adalah menunjukkan bara’ah /penentangan dengan tidak berpartisipasi.

Ini yang kami yakini sebagai sikap yang pertengahan.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Larangan Memberontak Terhadap Penguasa Muslim

Kata Nabi ﷺ pemimpin yg zhalim itu kelak akan masuk kedalam neraka, dalam hadits yg lain juga disebutkan bahwa seorang pemimpin kelak akan datang pd hari kiamat dlm keadaan tangannya dibelenggu, jika ia berbuat adil semasa didunia maka keadilannya itu akan menyelamatkannya, jika ia zhalim maka kezhalimannya itu akan melemparkannya kedalam neraka. Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya.

Akan tetapi, menghukum penguasa yg zhalim, semua itu adalah pekerjaan Allah bukan pekerjaan anda. Adakalanya nanti (di Akhirat) Allah mengampuni mereka karena kebaikan² mereka yg banyak yg tersembunyi dari kita, adakalanya Allah tetap menghukum mereka, itu semua rahasia Allah.

Adapun anda, jika didunia anda bertemu dgn penguasa yg zhalim maka kata Nabi ﷺ tetaplah mendengar dan taat kepadanya dalam hal ma’ruf (baik) dan jangan memberontak, selama ia (pemimpin tersebut) masih mengerjakan shalat. Sebagaimana Hadits:

إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون فمن كره فقد برئ ومن أنكر فقد سلم ولكن من رضي وتابع قالوا يا رسول الله ألا نقاتلهم قال لا ما صلوا أي من كره بقلبه وأنكر بقلبه

”Akan diangkat para penguasa untuk kalian, Lalu kalian mengenalinya dan kemudian kalian mengingkarinya (karena ia telah berbuat maksiat dan penyimpangan² dalam agama). Barangsiapa yg benci, maka ia telah berlepas tangan. Barangsiapa yg mengingkarinya, sungguh ia telah selamat. Akan tetapi, lain halnya dengan orang yg ridha dan patuh terhadap pemimpin tersebut (dalam perbuatan maksiatnya)”. Para shahabat bertanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memeranginya ?”. Beliau menjawab : ”Tidak, selama mereka masih mengerjakan shalat, yakni barangsiapa yg benci maka bencilah dengan hatinya dan barang siapa yg mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya”. (HR. Muslim)

Faishal Abu Ibrahim

Tentang Ketaatan Kepada Pemimpin

Coba kita ingat lagi, kenapa dalam Islam kita diwajibkan mengangkat pemimpin? Tidak lain untuk mengatur urusan kita. Karena kalau tidak ada yang mengatur, akan kacau semua urusan..

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:

ويقال: ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان، والتجربة تبين ذلك

“Dikatakan bahwa 60 tahun di bawah pemimpin zhalim lebih baik daripada satu malam tanpa penguasa. Pengalaman telah membuktikan hal tersebut..”

Dan kenapa kalau mereka mengatur kita, harus kita kompak taati? Karena fungsi pengaturan itu akan maksimal kalau semua taat. Kalau ada yang tidak taat, ya jadinya tidak maksimal bahkan gagal.

Contoh: Lampu lalu lintas di perempatan. Kalau semua taat dan tertib kecuali satu orang saja yang melanggar, maka yang rugi banyak orang kalau terjadi tabrakan.

Begitu pula ketika pemerintah membuat aturan pembatasan jaga jarak (termasuk untuk shaf), maksimum keterisian ruangan, pemakaian masker, vaksinasi, dan lain-lain, itu maslahatnya adalah maslahat komunal alias bersama-sama. Kepatuhan Anda mempengaruhi keselamatan orang lain.

Sebagai yang mengaku ahlus sunnah yang taat pemerintah dalam perkara ma’ruf, sekarang Anda diuji.

Kalau Anda katakan bahwa perintah dari penguasa ini adalah maksiat yang tidak boleh diikuti, dan bukan perkara ijtihadiyah, ya monggo. Kami angkat tangan..

Tapi kalau Anda menganggap ini ijtihadiyah, maka Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa perintah penguasa dalam masalah ijtihadiyah ada dua macam:

  1. Jika terkait dengan urusan ibadah pribadi, misalkan diminta untuk puasa sebelum shalat istisqa (ini pendapat madzhab Syafi’i dan Hanafi), yang menurut kita ini tidak disyariatkan, maka boleh tidak taat. Namun tidak perlu mengumumkan sikap pribadinya ini, karena itu sebuah kesalahan. Cukup diamalkan sendiri
  2. Jika terkait urusan umum, untuk tanzhimul ummah (membuat tatanan bagi rakyat agar teratur), maka inilah yang kita diwajibkan untut taat.

Source: https://www.youtube.com/watch?v=0ZTimhmdO5I

Semoga bermanfaat dan dapat dipahami.

Ust Ristiyan Ragil Putradianto

Ketaatan Kepada Pemimpin

Ada yang bilang katanya pemimpin (Presiden) kita yg sekarang itu bukanlah Ulil amri, karena tidak berhukum dengan hukum agama secara totalitas ..

Baik, coba antum baca yg difirmankan Allah ta’ala berikut ini,

يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم ..

“Wahai orang² beriman ta’atilah Allah, ta’atilah Rasul dan ulil amri dari kalangan kalian”.
(QS. An Nisa’ : 59)

Lihat, Allah hanya menyebutkan “wa ulil amri minkum/ ulil amri dari golongan kalian”. Sekarang kita tanya: presiden kita muslim apa kafir? Jawabnya; beliau Muslim dan beliau masih shalat, ya sudah (selesai masalah) berarti dia adalah ulil amri kita .. karena ayatnya berbunyi : wa ulil amri minkum/ ulil amr dr kalangan kalian, jadi, selama dia masih muslim maka dia adalah ulil amri kita, karena ia bagian dr kita (kaum muslimin).
Kata “athii’uu/taatlah kalian” ditaruh didepan nama “Allah” dan didepan kata “ar Rasul”, tapi tidak diulang ketika hendak menyebut kata “ulil amri”, hikmahnya: Allah dzat yg maha tahu mengetahui bahwa ulil amri bisa jadi perintahnya menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul, oleh karenanya ulil amri tidak ditaati sepihak, ketaatan pada Ulil amri mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul, jika ulil amri memerintahkan sesuatu yg bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul, maka perintahnya tidak boleh ditaati.

Tersisa masalah kedua, lalu bagaimana jika dia tidak berhukum dengan hukum Islam secara totalitas, atau seperti yg disebutkan diatas misalnya, ulil amri memerintahkan kita dengan sesuatu yg menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul, Apakah label umri lantas hilang dari dirinya sehingga ia berhak untuk kita lengserkan? Jawabnya simak hadits² Nabi ﷺ berikut ini:

Hadits pertama:

يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قال: قلت: كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك، قال: تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Akan ada disetelahku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku, dan akan tegak diantara mereka orang² yang hatinya adalah hati syetan dalam jasad manusia.”Aku bertanya, “apa yang akan aku lakukan wahai Rasulullah jika aku menemukan yang demikian.” Beliau menjawab: ”engkau mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.”
(HR. Muslim)

Lihat, kata Nabi ﷺ “aimmatun laa yahtaduuna bihuday walaa yastannuuna bisunnatiy/ para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku” lafadznya tegas dan terang, yakni para pemimpin yg tidak berhukum dengan hukum Islam secara totalitas karena kata Nabi “tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku”, bahkan Nabi mengatakan “akan tegak diantara pr pemimpin tersebut orang² yang hatinya adalah hati syetan dalam jasad manusia”, itu artinya; “para pemimpin tersebut dikelilingi oleh orang² yg berhati jelek”, lalu apakah label ulil amri terlepas begitu saja dr mereka? Simak apa jawaban Nabi ketika sahabat menanyakan apa yg harus ia perbuat jika menemui pemimpin² yg seperti itu.. beliau ﷺ bersabda: “tasma’u watuthi’u lil AMIR/ engkau mendengar dan taatlah kepada Amir (lihat, Nabi masih menyebut pemimpin tersebut sebagai Amir) walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka (kata Nabi) dengarlah dan taatlah.”

Hadits kedua:

إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون فمن كره فقد برئ ومن أنكر فقد سلم ولكن من رضي وتابع قالوا يا رسول الله ألا نقاتلهم قال لا ما صلوا أي من كره بقلبه وأنكر بقلبه

”Akan diangkat para penguasa untuk kalian. Lalu engkau mengenalinya dan kemudian engkau mengingkarinya (karena ia telah berbuat maksiat dan penyimpangan² dalam agama). Barangsiapa yang benci, maka ia telah berlepas tangan. Barangsiapa yang mengingkarinya, sungguh ia telah selamat. Akan tetapi, lain halnya dengan orang yang ridha dan patuh terhadap pemimpin tersebut (dalam perbuatan maksiatnya)”. Para shahabat bertanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memeranginya ?”. Beliau menjawab : ”Tidak, selama mereka masih mengerjakan shalat, yakni barangsiapa yang membenci maka bencilah dengan hatinya dan mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya”.
(HR. Muslim)

Lihat, sekalipun pemimpin tersebut melakukan perkara² yg mungkar, kita tetap diperintah untuk mendengar dan ta’at kepadanya, maksiat yg ia lakukan tidak lantas membuat label ulil amri terlepas dari dirinya.

Allaahu a’lam
Semoga bermanfaat

Faishal Abu Ibrahim

Kalau Ahli Bid’ah Jadi Presiden

Salafi sudah teruji dengan tetap taat pada presiden yang dulunya mereka kampanyekan agar tidak terpilih. Mereka tetap taat dan tidak menjelek-jelekkan pemimpinnya.

Kita tidaklah seperti mereka para pengikut barisan sakit hati yang ketika capres yang diusungnya kalah, mereka lalu menghabiskan 5 tahun dari umur mereka untuk tajassus, ghibah, dan provokasi.

Jadi, kalau ada penyeru kebid’ahan yang jadi penguasa, maka imam kita, Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- pun telah mengalaminya, dan beliau pun telah memberi teladan dalam bersikap…

Ibnu Taimiyyah bertutur:

“Imam Ahmad tetap shalat dibelakang Jahmiyah yang mendakwahkan pemikiran mereka, yang menguji dan menyiksa orang-orang yang menyelisihi mereka dengan siksa yang berat.

Beliau dan yang semisal beliau tidak mengkafirkan mereka, bahkan beliau masih meyakini keimanan dan kepemimpinan mereka. Beliau mendoakan mereka dan shalat, haji dan berjihad di belakang mereka. Beliau juga melarang memberontak kepada mereka, sebagaimana pendapat para imam selain beliau.

Beliau mengingkari perkataan batil yang diada-adakan tersebut, yang merupakan kekafiran besar, meskipun mereka tidak mengetahui bahwa hal tersebut kufur. Beliau tetap mengingkari dan berjuang untuk membantah ucapan tersebut sesuai dengan kemampuan.

Beliau menggabungkan antara ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menghidupkan Sunnah dan agama dan juga mengingkari bid’ah Jahmiyah yang menyimpang, dengan sekaligus memelihara hak-hak kaum muslimin baik pemimpin maupun rakyatnya, meskipun mereka orang-orang bodoh, mubtadi’, zhalim dan fasik.”

[Majmu’ Fatawa 7/508]

Insyaallah kita pun bisa seperti Imam Ahmad yang menggabungkan antara keduanya. Di samping bahwa keadaan yang kita alami masih lebih baik daripada keadaan beliau.

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Blog at WordPress.com.

Up ↑