Penjual Kambing dan Sufi

Syaikh DR. Ibrahim bin Shaleh Al Muhaimid hafidzahullah [Dai yang malang melintang berdakwah di Negeri Afrika] bercerita :

Suatu hari seorang pedagang kambing yang beraqidah Ahlis Sunnah di negeri Afrika, didatangi oleh sekelompok orang-orang sufiyah, dan mereka meminta kambing sebagai bantuan, tetapi penjual kambing ini enggan untuk memberi mereka kambing.

Maka orang-orang sufi ini mengancam : Jika engkau tidak memberi kami kambing niscaya guru kami “wali” akan marah dan akan merubah kambing-kambingmu menjadi bebatuan.

Dengan santainya penjual kambing yang bertauhid ini menjawab: kalau memang guru kalian “wali” mampu mengubah kambing, silahkan rubah saja batu-batu yang ada di kampung ini menjadi kambing, setelah itu kalian ambil semua.!

Skak mat !!

حفظ الله أهل السنة في كل مكان
📚__
Dakwah Ahlis Sunnah mengajak umat agar pintar dan mengunakan akal untuk berfikir yang baik. disaat manusia mentauhidkan Allah maka ia akan takut hanya kepada Allah, bukan kepada makhluq !
Sebagaiamana perintan Allah :

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS Ali Imran : 175).

Yakinlah dengan janji Nabi shallallahu alaihi wasallam :

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzi no. 2516, -shahih-).

(Ust Alif El Qibty)

Antara Musibah Dunia dan Musibah Akhirat

Musibah dalam agama jauh lebih dahsyat daripada musibah dunia, baik berupa gempa, tsunami, hilangnya harta benda dan lain-lain.

Kalau kita terkena musibah dunia, sedangkan kita ridho, maka akan dapat mengantarkan kita ke dalam surga.

Adapun musibah agama, dapat mengantarkan kita masuk neraka. Orang kafir, sebaik apapun dia, maka dia akan masuk neraka, maka nikmat agama Islam harus kita jaga. Begitupun nikmat Sunnah, harus kita jaga dengan terus menuntut ilmu agama

Musibah agama bisa berupa :
– Tidak pahamnya kita pada agama kita,
– Termakan dengan berbagai syubhat,
– Memiliki keyakinan yang sesat,
– Terjerumus ke dalam kebid’ahan, dan lain-lain

Untuk menghindari berbagai musibah adalah dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, yang Allah akan selamatkan bagi penyerunya, dan jika amar ma’ruf nahi mungkar diabaikan maka akan Allah adzab seluruhnya, meskipun di dalamnya ada orang-orang sholih.

Di Indonesia ini, berbagai macam kemungkaran ada, berupa :
-Pemurtadan dari Islam
– Zina
– Khamr
– Homo
– Kebid’ahan
– Kesyirikan
Semua ada

Ma’ruf yang paling ma’ruf adalah Tauhid dan mungkar yang paling mungkar adalah syirik. Dakwah menyeru kepada Tauhid adalah dakwah para Nabi dan Rasul, dan kita harus menegakkan dakwah ini, sebagai warisan dari para Nabi.

Menyuruh yang ma’ruf lebih mudah daripada mencegah kemungkaran. Pahala mereka yang mencegah kemungkaran lebih besar daripada yang menyuruh kepada yang ma’ruf. Disebutkan pahala besar bagi mereka yang berusaha mencegah kemungkaran, dengan pahala seperti pahala generasi pertama dalam Islam.

Kita juga harus sabar dalam menghadapi kedzaliman oleh penguasa, sebagai mana yang dilakukan oleh para salafush shalih.

Menasehati mereka (penguasa) dengan baik, tidak mengumbar aib mereka di khalayak umum, tidak memberontak, mematuhi mereka dalam hal yang makruf, hal ini untuk menghindari kemungkaran yang lebih besar berupa pertumpahan darah dan lain-lain.

Diantaranya yang dicontohkan oleh Abdullah bin Umar dengan tetap patuh kepada penguasa dzalim waktu itu, yaitu Al Hajjaj bin Yusuf yang dikabarkan telah membunuh sampai 120.000 orang, diantaranya adalah sahabat Rasulullah dan tabi’in.

Hukum amar ma’ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah, sebagaimana yang disampaikan Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah, bagi sebagian orang yang mampu dalam ilmu dan memiliki kekuasaan.

Tapi mengingkari segala kemungkaran dalam hati adalah wajib bagi tiap individu, karena jika tidak demikian, maka tidak ada iman dalam dirinya.

Faedah Kajian Islam
Amar ma’ruf nahi mungkar
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Masjid Taqwa Kota Metro, Lampung
LIVE RodjaTV

Nggak Enakan Hati yang Berujung Petaka

Tak Enak Hati Berujung Petaka

Dua tokoh kekafiran Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl hadir saat Abu Thalib, paman nabi itu tengah sakaratul maut. Berkali-kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawarkan agar pamannya itu mengucapkan kalimat tauhid yang dengan kalimat tsb menjadi persaksian bagi Rasulullah guna menjadi penolongnya di hadapan Allah.

Pada saat yang sama, kedua tokoh munafik di atas ‘menembak’ paman nabi itu dengan pernyataan pamungkas:

أترغب عن ملة عبد المطلب؟

“Apakah engkau ini membenci agama Abdul Muthalib (agama nenek moyang)?” Ini dengan maksud agar Abu Thalib jangan sekali-sekali mengucakan syahadat. Sebab mereka tahu bhw konsekuensi syahadat adalah meninggalkan dan berlepas dari agama nenek moyang.

Nabi pun mengulang-ulang permintaaan kepada pamannya perkara syahadat agar sang paman meninggal di atas tauhid dan bukan meninggal di atas kekufuran.

Sayangnya sang paman enggan mengucapkan kalimat tauhid laa ilaha illallah dan lebih memilih meninggal di atas kekufuran setelah tak enak hati dengan dua tokoh munafik di atas. Fragmen ini terekam dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Sudah banyak korban tak enak hati dalam urusan iman/aqidah. Di antaranya sebagian kaum muslimin yang bersikukuh berani mengucapkan selamat natal karena tak enak hati dan ingin meraih hati/ridha musuh-musuh Allah.

NB:

  1. Abdullah bin Abu Umayyah pada akhirnya diberi taufik untuk masuk Islam. Sementara Abu Jahl musuh Islam ini terbunuh di perang Badr.
  2. Islam tidak melarang ber-mu’amalah/berinteraksi dengan orang kafir dalam urusan dunia: berbisnis, dll. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengunjungi si kafir kecil yang sedang sakit lalu beliau menawarkan Islam hingga dia masuk Islam. Muamalah kita dengan orang kafir jangan sampai memudarkan prinsip wala’ dan Bara’ apalagi hanya karena tak enak hati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengambil hati orang kafir dengan cara mengucapkan selamat atau bahkan menghadiri hari raya orang kafir. Beliau tidak menjadikan hal demikian sebagai wasilah dakwah sebab Allah telah menjaga kemurniaan tauhid pada diri Rasulullah shallallahu alaihi.
  3. Ta’asshub terhadap agama, ritual atau keyakinan nenek moyang yang bertentangan dgn Islam termasuk salah satu sebab su’ul khatimah.
    __

(Ust Yani Fahriansyah)

Parameter Kemajuan Umat Islam

Parameter kemajuan umat Islam adalah sejauh mana mereka memegang teguh Tauhid, menjauhi bid’ah dan dosa-dosa besar, bukan pada penguasaan atas kursi parlemen, kemajuan teknologi dan pencapaian duniawi lainnya.

Tauhid dan Ilmu Duniawi

Mempelajari Tauhid. Terus dan terus.
Ternyata membuat ilmu-ilmu dunia yang awalnya dahsyat menjadi tampak sepele saja.
Tak lebih cuma sekedar ilmu buat mencari penghidupan buat mengisi perut, mencari popularitas dan semisalnya saja.
Tak akan lagi bermanfaat untuk kehidupan berikutnya yang abadi.
Tak pula membawa ketentraman hati di dunia.
Tak untuk dibanggakan, sekedarnya saja untuk bertahan di kehidupan yang sesaat di dunia yang dihinakan oleh penciptanya sendiri.

Blog at WordPress.com.

Up ↑