Masalah Dzahirah, Khofiyah dan Istighosah kepada Pemuja Kubur

Masalah dzahirah adalah masalah yang sudah jelas dan diketahui oleh semua orang. Masalah seperti ini tidak lepas dari perkara yang disebut dengan ma’lum fiddin bidharurah. Contohnya seperti wajibnya sholat lima waktu, puasa ramadhan, hajji dsb. Haramnya minum arak, zina, mencuri dsb.

Sedangkan masalah khofiyah adalah masalah yang tersembunyi yang banyak orang tidak mengetahuinya. Hanya orang orang tertentu saja yang tahu.

Dalam masalah yang dzahirah tidak diterima padanya udzur kejahilan. Karena masalah tsb telah jelas kepada semua orang. Maka orang yang mengingkarinya otomatis kafir.

Namun…
Masalah masalah dzahirah atau juga perkara yang mu’lum fiddin bidharurah adalah masalah masalah yang bersifat relatif.
Semakin merebak kejahilan, semakin banyak kesamaran dalam masalah agama.
Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فكون الشيء معلوما من الدين ضرورة أمر إضافي ، فحديث العهد بالإسلام ، ومن نشأ ببادية بعيدة : قد لا يعلم هذا بالكلية ، فضلا عن كونه يعلمه بالضرورة . وكثير من العلماء يعلم بالضرورة أن النبي صلى الله عليه وسلم سجد للسهو ، وقضى بالدية على العاقلة ، وقضى أن الولد للفراش ، وغير ذلك مما يعلمه الخاصة بالضرورة ، وأكثر الناس لا يعلمه ألبتة

“Sesuatu dianggap ma’lum fiddin secara darurat adalah perkara yang bersifat relatif. Orang yang baru masuk islam dan orang yang tinggal di pedalaman terkadang tidak mengetahui masalah ini sama sekali. Apalagi menjadi perkara yang diketahui secara darurat. Dan banyak ulama yang mengetahui secara darurat bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam sujud sahwi, mewajibkan diyat atas ‘aqilah, memutuskan bahwa anak (zina) dinisbatkan kepada firosy dan sebagainya. Sedangkan kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Majmu Fatawa 13/118)

Sebuah contoh juga adalah istighotsah kepada selain Allah adalah syirik yang telah jelas keharamnnya. Namun untuk sebagian orang menjadi samar karena banyaknya syubhat.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

علم بالضرورة أنه لم يشرع لأمته أن تدعو أحدا من الأموات ، لا الأنبياء ولا الصالحين ولا غيرهم ، لا بلفظ الاستغاثة ولا يغيرها ، ولا بلفظ الاستعاذة ولا بغيرها، كما أنه لم يشرع لأمته السجود لميت ، ولا لغير ميت، ونحو ذلك، بل نعلم أنه نهى عن كل هذه الأمور، وأن ذلك من الشرك الذي حرمه الله تعالى ورسوله .
لكن لغلبة الجهل وقلة العلم بآثار الرسالة في كثير من المتأخرين : لم يمكن تكفيرهم بذلك ، حتى يتبين لهم ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم ، مما يخالفه.

“Telah diketahui secara dharurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya untuk berdoa kepada mayat. Baik mayat itu nabi atau orang salih. Baik dengan lafadz istigotsah atau lainnya. Juga lafadz isti’adzah dan lainnya. Sebagaimana juga Nabi tidak pernah mensyariatkan sujud kepada mayat atau selain mayat dan sebagainya. Bahkan Kita mengetahui bahwa beliau melarang perkara perkara itu semua. Dan bahwa itu termasuk kesyirikan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya.


Namun, karena merajalelanya kebodohan dan sedikitnya ilmu tentang risalah pada banyak orang orang belakangan, tidak mungkin untuk mengkafirkan mereka karena itu hingga menjadi jelas kepada mereka ajaran yang dibawa oleh Rasul Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dari ajaran yang menyelisihinya.”
(Ar Raddu ‘alal bakri 2/731)

Ustadz Badrusalam

Tauhid dan Keluh Kesah

Termasuk pengaruh paling kuat dari pelajaran aqidah Tauhid adalah tidak memperdengarkan keluh kesah dan kesulitan kepada makhluk, karena beraharap uluran tangan dari selain Allah.

Orang yang tauhidnya kuat akan lebih yakin jika keluh kesahnya lebih Allah dengar daripada makhluk apapun dan manapun.

Nabi Ya’qub berkata, “Aku hanya mengadukan kesedihan dan kepedihanku kepada Allah semata. Dan aku lebih tahu daripada kalian bahwa Allah akan berbaik dan mendengar orang yang kesulitan.”

Nasib Pendakwah Tauhid

Pemegang kuat tradisi kebanyakan tidak menyukai dakwah Tauhid. Karena kebanyakan tradisi mengandung kesyirikan. Oleh karena itu para nabi dan rasul dimusuhi karena berdakwah kepada Tauhid

Demikian nasib semua yang berdakwah kepada Tauhid.

(Ustadz Badrusalam)

Soal Pilihan Ganda

SOAL PILIHAN GANDA
➖➖➖➖➖➖➖➖
Pilihlah salah satu jawaban yang Benar.

Jodoh, Rezki dan Ajal Sudah di Atur oleh Yang…??

A. Diatas
B. Dimana Mana
C. Di Hati Manusia
D. Tidak di Atas, Dibawah, Dikiri, ataupun diKanan
E. Di Urat Nadi

JAWABANNYA..:✅
➖➖➖➖➖
Secara fitrah manusia mengakui bahwa Allah berada di atas langit. Misalnya manusia akan mengatakan:

“Jodoh telah diatur oleh Yang di atas”

“Saya lakukan ini ikhlas kepada Allah” (terkadang tangan/jari menunjuk ke atas)

Tentu TIDAK kita katakan:
“Jodoh telah diatur oleh yang di mana-mana”

“Jodoh telah diatur oleh yang tidak bertempat dan tidak berposisi”

Terdapat hadits yang menyiratkan bahwa memang jodoh telah diatur oleh YANG DI ATAS LANGIT.

Hadits dari salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab binti Jahsy yang berbangga sekali karena ia dinikahkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Allah yang berada di atas langit.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

“Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab binti Jahsy:

‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya ’
(QS. Al-Ahzab: 37)”.

Anas berkata :
“Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ia berkata:
‘Yang menikahkan kalian (dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah keluarga-keluarga kalian, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada DI ATAS TUJUH LANGIT.”
(HR. Tirmidzi)

Saudaraku yang semoga disayangi oleh Allah, salah satu aqidah ahlus sunnah adalah meyakini bahwa Allah berada di atas langit

Silahkan baca beberapa tulisan kami dengan dalil-dalil Al-Quran dan hadits serta perkataan para ulama:

1.https://muslim.or.id/35494-menjawab-pertanyaan-di-manakah-allah.html

2.https://muslimafiyah.com/semutpun-mengakui-allah-ada-di-atas-langit-arsy.html
.
3.https://muslim.or.id/36086-firaun-mendustakan-allah-berada-di-atas-langit.html

4.https://muslim.or.id/36103-makna-ayat-kami-lebih-dekat-dari-urat-lehernya.html

SELENGKAPNYA :
https://muslimafiyah.com/jodoh-telah-diatur-oleh-yang-di-atas.html

By @anggaazzahra
Semoga bermanfaat, barokallahufiykum,,!!

Penjual Kambing dan Sufi

Syaikh DR. Ibrahim bin Shaleh Al Muhaimid hafidzahullah [Dai yang malang melintang berdakwah di Negeri Afrika] bercerita :

Suatu hari seorang pedagang kambing yang beraqidah Ahlis Sunnah di negeri Afrika, didatangi oleh sekelompok orang-orang sufiyah, dan mereka meminta kambing sebagai bantuan, tetapi penjual kambing ini enggan untuk memberi mereka kambing.

Maka orang-orang sufi ini mengancam : Jika engkau tidak memberi kami kambing niscaya guru kami “wali” akan marah dan akan merubah kambing-kambingmu menjadi bebatuan.

Dengan santainya penjual kambing yang bertauhid ini menjawab: kalau memang guru kalian “wali” mampu mengubah kambing, silahkan rubah saja batu-batu yang ada di kampung ini menjadi kambing, setelah itu kalian ambil semua.!

Skak mat !!

حفظ الله أهل السنة في كل مكان
📚__
Dakwah Ahlis Sunnah mengajak umat agar pintar dan mengunakan akal untuk berfikir yang baik. disaat manusia mentauhidkan Allah maka ia akan takut hanya kepada Allah, bukan kepada makhluq !
Sebagaiamana perintan Allah :

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS Ali Imran : 175).

Yakinlah dengan janji Nabi shallallahu alaihi wasallam :

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzi no. 2516, -shahih-).

(Ust Alif El Qibty)

Antara Musibah Dunia dan Musibah Akhirat

Musibah dalam agama jauh lebih dahsyat daripada musibah dunia, baik berupa gempa, tsunami, hilangnya harta benda dan lain-lain.

Kalau kita terkena musibah dunia, sedangkan kita ridho, maka akan dapat mengantarkan kita ke dalam surga.

Adapun musibah agama, dapat mengantarkan kita masuk neraka. Orang kafir, sebaik apapun dia, maka dia akan masuk neraka, maka nikmat agama Islam harus kita jaga. Begitupun nikmat Sunnah, harus kita jaga dengan terus menuntut ilmu agama

Musibah agama bisa berupa :
– Tidak pahamnya kita pada agama kita,
– Termakan dengan berbagai syubhat,
– Memiliki keyakinan yang sesat,
– Terjerumus ke dalam kebid’ahan, dan lain-lain

Untuk menghindari berbagai musibah adalah dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, yang Allah akan selamatkan bagi penyerunya, dan jika amar ma’ruf nahi mungkar diabaikan maka akan Allah adzab seluruhnya, meskipun di dalamnya ada orang-orang sholih.

Di Indonesia ini, berbagai macam kemungkaran ada, berupa :
-Pemurtadan dari Islam
– Zina
– Khamr
– Homo
– Kebid’ahan
– Kesyirikan
Semua ada

Ma’ruf yang paling ma’ruf adalah Tauhid dan mungkar yang paling mungkar adalah syirik. Dakwah menyeru kepada Tauhid adalah dakwah para Nabi dan Rasul, dan kita harus menegakkan dakwah ini, sebagai warisan dari para Nabi.

Menyuruh yang ma’ruf lebih mudah daripada mencegah kemungkaran. Pahala mereka yang mencegah kemungkaran lebih besar daripada yang menyuruh kepada yang ma’ruf. Disebutkan pahala besar bagi mereka yang berusaha mencegah kemungkaran, dengan pahala seperti pahala generasi pertama dalam Islam.

Kita juga harus sabar dalam menghadapi kedzaliman oleh penguasa, sebagai mana yang dilakukan oleh para salafush shalih.

Menasehati mereka (penguasa) dengan baik, tidak mengumbar aib mereka di khalayak umum, tidak memberontak, mematuhi mereka dalam hal yang makruf, hal ini untuk menghindari kemungkaran yang lebih besar berupa pertumpahan darah dan lain-lain.

Diantaranya yang dicontohkan oleh Abdullah bin Umar dengan tetap patuh kepada penguasa dzalim waktu itu, yaitu Al Hajjaj bin Yusuf yang dikabarkan telah membunuh sampai 120.000 orang, diantaranya adalah sahabat Rasulullah dan tabi’in.

Hukum amar ma’ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah, sebagaimana yang disampaikan Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah, bagi sebagian orang yang mampu dalam ilmu dan memiliki kekuasaan.

Tapi mengingkari segala kemungkaran dalam hati adalah wajib bagi tiap individu, karena jika tidak demikian, maka tidak ada iman dalam dirinya.

Faedah Kajian Islam
Amar ma’ruf nahi mungkar
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Masjid Taqwa Kota Metro, Lampung
LIVE RodjaTV

Nggak Enakan Hati yang Berujung Petaka

Tak Enak Hati Berujung Petaka

Dua tokoh kekafiran Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl hadir saat Abu Thalib, paman nabi itu tengah sakaratul maut. Berkali-kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawarkan agar pamannya itu mengucapkan kalimat tauhid yang dengan kalimat tsb menjadi persaksian bagi Rasulullah guna menjadi penolongnya di hadapan Allah.

Pada saat yang sama, kedua tokoh munafik di atas ‘menembak’ paman nabi itu dengan pernyataan pamungkas:

أترغب عن ملة عبد المطلب؟

“Apakah engkau ini membenci agama Abdul Muthalib (agama nenek moyang)?” Ini dengan maksud agar Abu Thalib jangan sekali-sekali mengucakan syahadat. Sebab mereka tahu bhw konsekuensi syahadat adalah meninggalkan dan berlepas dari agama nenek moyang.

Nabi pun mengulang-ulang permintaaan kepada pamannya perkara syahadat agar sang paman meninggal di atas tauhid dan bukan meninggal di atas kekufuran.

Sayangnya sang paman enggan mengucapkan kalimat tauhid laa ilaha illallah dan lebih memilih meninggal di atas kekufuran setelah tak enak hati dengan dua tokoh munafik di atas. Fragmen ini terekam dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Sudah banyak korban tak enak hati dalam urusan iman/aqidah. Di antaranya sebagian kaum muslimin yang bersikukuh berani mengucapkan selamat natal karena tak enak hati dan ingin meraih hati/ridha musuh-musuh Allah.

NB:

  1. Abdullah bin Abu Umayyah pada akhirnya diberi taufik untuk masuk Islam. Sementara Abu Jahl musuh Islam ini terbunuh di perang Badr.
  2. Islam tidak melarang ber-mu’amalah/berinteraksi dengan orang kafir dalam urusan dunia: berbisnis, dll. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengunjungi si kafir kecil yang sedang sakit lalu beliau menawarkan Islam hingga dia masuk Islam. Muamalah kita dengan orang kafir jangan sampai memudarkan prinsip wala’ dan Bara’ apalagi hanya karena tak enak hati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengambil hati orang kafir dengan cara mengucapkan selamat atau bahkan menghadiri hari raya orang kafir. Beliau tidak menjadikan hal demikian sebagai wasilah dakwah sebab Allah telah menjaga kemurniaan tauhid pada diri Rasulullah shallallahu alaihi.
  3. Ta’asshub terhadap agama, ritual atau keyakinan nenek moyang yang bertentangan dgn Islam termasuk salah satu sebab su’ul khatimah.
    __

(Ust Yani Fahriansyah)

Parameter Kemajuan Umat Islam

Parameter kemajuan umat Islam adalah sejauh mana mereka memegang teguh Tauhid, menjauhi bid’ah dan dosa-dosa besar, bukan pada penguasaan atas kursi parlemen, kemajuan teknologi dan pencapaian duniawi lainnya.

Blog at WordPress.com.

Up ↑