Jangan Jadi Awam Terus

Tak ada orang awam yang bisa langsung merujuk ke dalil. Pasti melalui ulama. Karena istilah ‘dalil’ yang kita kenal saat ini sebetulnya tidak murni dalil.

Kalau kita bicara dalil berupa Al Quran, maka sumber aslinya dalam bahasa arab. Kapan orang awam dapat membacanya? Setelah diterjemahkan oleh ulama. Dan terjemah itu kedudukannya seperti tafsir.

Itupun, kalau tidak dibimbing bisa salah pengertian. Seperti salah seorang kawan saya yang karena baca terjemahan berkesimpulan bahwa jika seorang mukmin membunuh mukmin lainnya dengan sengaja, maka kekal di neraka selama-lamanya. Padahal tidak ada mukmin yang kekal di neraka.

Itu baru tentang Al Quran.

Kalau bicara dalil hadits, maka sumber primernya ada pada kitab-kitab hadits berbahasa arab berikut sanad atau rantai periwayatannya.. Itu sumber aslinya kalau mau langsung merujuk.

Maka untuk sampai ke kita dalam bentuk sudah terjemahan dan dilengkapi “(HR Abu Dawud, dishahihkan Al Albani)”, dia melalui proses yang panjang yang melibatkan para ulama.

Mulai dari penelitian masing-masing perawi hadits dalam satu sanad.. Kemudian mencari sanad lainnya dari hadits tersebut untuk dicek satu-satu perawinya dan ketersambungannya, lalu semua sanad digabungkan, sampai ketemu apakah shahih atau dha’if atau hukum lainnya.

Itu pun, ulama satu dengan yang lain bisa berbeda penilaian, sehingga yang satu menjadikannya dalil hukum karena shahih, yang satu tidak memakainya..

Nanti setelah misalkan shahih, baru diterjemahkan.. Kadangkala menerjemahkan bisa langsung, kadangkala butuh ilmu ushul fiqih.. Karena tidak semua lafazh dalam hadits bisa diterjemahkan saklek.

Contoh: ‘alaikum bi sunnati… diterjemahkan: wajib bagimu mengikuti sunnahku.. karena ‘ala bermakna wajib. Kalau diterjemahkan saklek cuma pakai bahasa arab pas2an hanya akan menjadi: “atasmu dengan sunnahku”, ndak bisa dipahami.

Itu baru satu hadits.. Padahal untuk merumuskan sebuah hukum harus mengumpulkan hadits-hadits pada permasalahan yang sama, sehingga yang tadinya lafazh-nya mewajibkan, ternyata setelah dikombinasikan dengan hadits lain disimpulkan sunnah muakkadah, dll. Contohnya hadits tentang shalat witir.

Walhasil, sekali lagi, kalau kita orang awam, hanya bermodal hadits itupun terjemahan, sebaiknya tahu diri agar tidak merasa bisa langsung merujuk kepada dalil tanpa melalui ulama.

Pertanyaan: Lalu, apa ngga boleh menganggap ulama itu salah berdasarkan dalil? Tentu boleh, asalkan pemahaman Anda terhadap dalil itu berasal dari ulama juga, bukan dari kantong Anda sendiri.

Ini yang disebut muttabi’, yaitu orang yang bisa menilai pendapat yang lebih tepat berdasarkan dalil (dan pendalilan, ini tak kalah penting, karena boleh jadi sama2 berdalil bahkan dalilnya sama tapi berbeda pemahaman).

Kalau mau bisa membaca dalil secara langsung, upgrade diri. Jangan kajian tematik terus bertahun2 tanpa ada perkembangan.

Mulailah kajian kitab dan ilmu-ilmu alat seperti bahasa arab, ushul fiqih, mustalah hadits, dll. Jangan mau jadi orang awam terus, tapi jadilah penuntut ilmu syar’i.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Blog at WordPress.com.

Up ↑