Jin Nasab (Part 9 – selesai)

Part 9 – Selesai

Sudah beberapa lama semenjak saya tulis Part 8. Akhirnya, saya tuliskan Part 9 ini sekaligus sebagai part penutup seri cerita ini.

Bersyukur kepada Allah ta’ala, setelah saya tulis cerita pada Part 8 sudah tidak ada lagi gangguan yang terjadi setelahnya. Namun, untuk mengantisipasi masalah psikologis anak-anak, saya membawa mereka ke psikiater. Alhamdulillah, dokter bilang anak-anak kami sehat-sehat.

Dokter menyarankan untuk mengganti seluruh tema perbincangan di rumah. “No more” cerita-cerita tentang jin. Kami disarankan untuk membuat topik dan suasana baru. Tujuannya agar anak tidak trauma.

Saya pun inisiatif untuk mengajak anak-anak liburan ke Bandung, lalu pulang kampung ke Bekasi (rumah saya), dan Kebumen (rumah istri). Saat pulang ke Bekasi dan Kebumen, saya sampaikan kepada keluarga untuk jangan bertanya-tanya tentang gangguan jin dan semisal. Anggap semua sudah ‘clear’ dan tidak pernah terjadi.

Sengaja kami liburan menggunakan transportasi yang disukai anak-anak. Mulai dari kereta api, sampai bis double decker. Intinya apapun itu yang bisa membuat anak-anak saya ceria kembali, akan saya lakukan. Sekolah online anak-anak pun tak liburkan semua. Biar mereka ceria dan bahagia dulu tanpa beban.

Alhamdulillah, kami kami bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ujian yang kami lalui membuat kami semakin bersyukur.

Dulu saat awal-awal gangguan terjadi, saya sangat emosional, sering menangis. Bahkan saat ditelepon orang tua pun saya menangis seperti anak kecil. Mungkin itu kali pertama orang tua saya melihat anak sulungnya menangis seperti itu. Saya gak pernah menangis di depan orang tua, apalagi sampai sesegukan.

Ditengah down-nya mental saya saat itu, saya banyak mendengar kabar musibah dan cobaan yang dirasakan teman dan kolega saya sendiri. Ada kawan saya yang diuji dengan sakit diabetes sampai harus suntik insulin setiap hari. Ada lagi kawan saya yang diuji dengan kebangkrutan.

Jika saya berada pada posisi kawan saya di atas, mungkin saya tidak mampu menanggungnya. Memang Allah itu sangat adil. DIA menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. So, bagaimana mungkin saya tidak bersyukur?

Saat awal-awal saya sekeluarga tinggal di tempat ustadz Fadlan, ada seorang pasien wanita pimpinan perusahaan. Ia disihir oleh rekan kerjanya sendiri karena sikapnya yang terlalu ‘lurus’, sangat anti korupsi. Jelas rekan kerjanya yang korup menjadi terusik, lantas mengirim sihir kepadanya.

Celakanya, pasien wanita ini tidak bisa membaca Qur’an sehingga mudah baginya terkena serangan sihir. Tidak ada pembentengan diri. Pasien wanita tersebut sudah puluhan kali diruqyah, tapi tak kunjung sembuh.

Melihat kejadian itu, seakan-akan saya sedang diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana serta pribadi yang lebih berhati-hati dalam bermuamalah dengan orang lain. Sebisa mungkin minimalisir konflik dengan orang lain yang berpotensi membuat hati orang terluka. Terlebih rekan kerja.

Mungkin saja kita berada pada posisi yang benar, namun kalo ada orang lain yang hasad atau tersinggung dengan sikap kita, bukan tidak mungkin mereka akan main sihir. Jika kita lalai dari dzikrullah, maka akan sangat mudah dukun menyerang dengan sihirnya.

Gangguan jin semakin menambah iman kami kepada Allah ta’ala. Eksistensi bangsa jin yang telah dikabarkan dalam Quran dan Hadits shahih pun terbukti. Kami juga semakin meyakini lemahnya gangguan jin dihadapan dzikrullah. Semakin membuktikan kebenaran Quran dan Haditst.

Memang setiap musibah itu selalu ada hikmahnya. Semoga rangkaian cerita yang sudah saya ceritakan sampai part 9 ini bermanfaat bagi yang membacanya serta bisa diambil hikmahnya.

Saya secara pribadi mohon maaf jika selama menuliskan cerita ini dan dalam membalas komentar ada kata-kata yang salah atau menyinggung. Semoga Allah ta’ala mengampuni dosa kita semua.

Selesai

Hendy Mustiko Aji

Jin Nasab (Part 8)

Part 8.

Setelah kejadian dialog dan meng-Islamkan jin-jin yang ada di tubuh anak kami. Alhamdulillah, gangguan yang berasal dari dalam relatif gak ada lagi.

Pernah sih beberapa kali bagian tubuh anak kami ada yg sakit. Namun, alhamdulillah setelah diruqyah sebentar langsung hilang sakitnya. Yang jauh lebih terlihat adalah gangguan dari luar.

Gangguan luar pertama adalah cakaran. Jadi tiba-tiba ada bekas cakaran di tangan dan kaki anak-anak kami. Dicakar ketika tidur maupun ketika sedang main-main. Beberapa ada yang tidak terlalu sakit, dan beberapa lagi kata anak kami cukup dalam sehingga cukup sakit.

Gangguan luar kedua adalah bau bangkai di ruang tamu. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba bau bangkai. Bau bangkainya tapi rada aneh. Biasanya bau bangkai itu semakin kesini semakin pekat menyengat. Tapi ini bau bangkainya sifatnya ‘light’.

Kalo kata istri saya seperti bau rendeman kain yang busuk, tapi busuknya ndak semenyengat bau bangkai pada umumnya. Dan juga ada tiga lalat ijo berterbangan di ruang tamu. Mungkin karena bau bangkai itu.

Akhirnya coba tak ruqyah membacakan Al-Baqarah Full dilanjut dengan menyipratkan bidara yang sudah dicampur garam. Alhamdulillah, setelah itu bau bangkainya hilang. Berarti memang bau bangkai itu berasal dari gangguan jin. Lalat ijo yang berterbangan pun tak pukul mati dengan menyebut nama Allah.

Ganggun luar berikutnya adalah gangguan yang menunjukkan penghinaan syaithon ini kepada al-Quran. Syaithon ini membuang Quran anak saya ke dalam kamar mandi, diceburin ke bak mandinya sampai basah.

Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali hingga seluruh Quran di rumah saya ‘habis’ karena semuanya dicemplungin ke bak di kamar mandi. Bisa dilihat di Gambar 1.

Bukan hanya Quran yang dihinakan, buku sekolah anak saya juga begitu. Diumpetin, dsobek, dibasahin hingga gak bisa dipakai. Mukena istri saya dibuang ke selokan di depan rumah. Alhamdulillah selokannya kering. Bisa dilihat di Gambar 2.

Karena seluruh Qur’an sudah habis, kami pun beli lagi sebanyak 4 Quran. Namun, lagi-lagi Quran baru yg dibaca anak saya dimasukkin lagi ke bak yang ada di kamar mandi. Kali ini surat al-Baqarahnya disobek habiss…. Bisa dilihat Gambar 3.

Kami hanya bisa beristighfar. Astaghfirullah.

Namun demikian kami gak mau menyerah begitu saja. Syaithon ini harus kami lawan. Kami memohon kepada Allah ta’ala yang maha perkasa agar menyegerakan adzab untuk syaithon ini karena penghinaan mereka kepada kalamullah berkali-kali.

Di hari Jum’at ini, kami memohon juga kepada pembaca untuk melaknat syaithon ini dan mendoakan agar syaithon ini disegerakan adzabnya. Aamiin..

Untuk mencegah syaithon mencemplungkan Quran kami ke kamar mandi lagi, akhirnya kami membeli plasti Zip. Jadi, setelah baca Quran harus langsung ditaro di plastik Zip, sehingga masih aman meskipun diceburkan ke bak mandi. Bisa dilihat di Gambar 4

Hal lain, kami pun juga mendisiplinkan untuk selalu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Sebelumnya, pintu kamar mandi ndk pernah tertutup rapat.

Setelah mencoba ikhtiar tersebut, alhamdulillah tidak ada lagi Quran yang diceburkan ke bak di kamar mandi. Darisitu kami mulai menduga bahwa syaithon ini tidak mampu memindahkan barang dari dan ke tempat yang terkunci rapat.

Akhirnya kami beli box plastik yang tutupnya bisa dikunci rapat untuk menyimpan Quran dan buku sekolah anak-anak. Semenjak itu, alhamdulillah sudah tidak ada lagi Quran yang hilang dan diceburkan ke bak di dalam kamar mandi.

Namun ternyata ada gangguan ‘luar’ lainnya. Yakni ketika wudhu, anak saya tiba-tiba telanjang bulat dan seluruh pakaiannya ada ada di dalam bak mandi di kamar mandi. Basah semua. Memang diluar nalar, tapi begitulah adanya. Kejadiannya kalo gak salah sudah dua kali.

Setelah itu, kami berikhtiar membeli smart CCTV yang bisa dipantau melalui smartphone. Alhamdulillah, setelah ada CCTV gangguan di atas sudah tidak pernah lagi terjadi. Saya juga gak tahu kenapa.

Sudah kurang lebih 1 bulan kami sekeluarga ruqyah mandiri dengan membaca Al-Baqarah full konsisten setiap hari. Alhamdulillah, kami merasakan progress yang sangat positif. Gangguan relatif sudah tidak ada, dan kami jadi dipaksa untuk melakukan kebiasaan baru. Anak saya juga jadi hafal beberapa lembar surat al-Baqarah karena dibaca terus setiap hari. Semoga Allah menghapus dosa-dosa kami dan menambahkan pahala untuk kami.

Sampai hari ini masih kami pantau terus gangguannya. Harapan kami semoga musnah semua syaithon kaafir penghina kalamullah itu.

Pada part berikutnya insya Allah akan saya ceritakan perkembangannya, khususnya setelah uyut anak kami meninggal dunia setelah di ruqyah kurang lebih 1 bulan sebelumnya.

Semoga part berikutnya adalah part terakhir. Aamiin.

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/05/31/jin-nasab-part-9-selesai/

Jin Nasab (Part 2)

Izinkan saya melanjutkan cerita sebelumnya.


Gangguan jin kepada anak kami semakin frontal hari ke hari. Bukan hanya saat akan ibadah saja, tetapi juga saat tidak akan melaksanakan ibadah. Sampai satu kejadian dimana saya pribadi begitu khawatir akan keselamatan anak saya.


Saat itu hari Jum’at, anak-anak sedang bermain di kamar kami sekitar pukul 14.00-an. Istri saya tertidur, dan saya juga sangat mengantuk. Saya pun tiduran di kasur, niatnya gak tidur karena saya ada kelas pukul 15.30 WIB. Namun, qadarallah saya tertidur juga pada akhirnya.
Bangun-bangun dari tidur, saya mendapat cerita yang betul-betul membuat saya sangat menyesal kenapa saya tertidur. Ketika saya tidur, dan istri juga tidur, anak kami cerita katanya lampu dimatikan kembali oleh Jin. Lalu anak kami cerita katanya ia dilempari batu-batu jorok berbau pipis (istilah anak kami) oleh jin yang membawa tali dan jarum. Lalu ia dilempar keluar kamar (nembus pintu), dan dilempar balik ke dalam kamar (nembus pintu).


Anak kami juga cerita bahwa mulutnya dikunci dan tangannya dibekap, sehingga tidak bisa berteriak minta tolong kepada kami. Luka (terbeset akibat dilempar batu) ditangannya akibat serangan Ghoib pun ada bekasnya dan masih terasa.
Anak saya terus terusan ingin dicelakakan ketika kami lengah. Pukul 15.00-an saya mengambil pesanan Go-Send dan meminta anak saya duduk di sofa ruang tamu. Selang beberapa detik setelah saya menerima Go-Send, anak saya teriak minta tolong. Ternyata jin melemparnya lagi ke bawah kasur dengan kepala yang terpentok dan tertindih kasur.


Dari situ saya peluk anak saya sambil mengatakan,
“Yang sabar ya sayang, Allah pasti menurunkan pertolongan”
Saya peluk sambil membaca ayat kursi berkali-kali. Hingga saya pun tak kuasa menahan tangis terisak-isak. Kami tidak takut dengan jinnya, melainkan sangat khawatir dengan keselamatan anak kami.
Setelah kejadian itu saya putuskan untuk cancel seluruh kelas saya selama seminggu. Saya pun minta ijin ke kampus untuk tidak bisa mengikuti kegiatan kampus apapun. Baik mengajar atau kerjaan tim.
Detik itu juga saya bawa anak saya dan keluarga untuk ruqyah ke tempat Ust. Fadlan Abu Yasir di Kota Gede. Beliau adalah praktisi Ruqyah ternama di Jogja.


Saya memohon kepada Ust. Fadlan agar berkenan menampung saya, istri dan anak-anak di tempat beliau karena saya sangat trauma sekali di rumah. Lengah beberapa detik saja, anak saya bisa semakin celaka!
Saya cerita kronologis kejadiannya kepada Ust. Fadlan sambil menganalis jenis gangguan jin seperti apakah yang menyerang anak kami. Hingga kami meyakini bahwa gangguan yang diterima anak kami adalah gangguan Jin Nasab atau Jin yang secara otomatis diturunkan dari bapak/kakek/uyut/leluhur kepada nasab/keturunannya.


Jin Nasab ini turun secara otomatis, tanpa harus kita menerima atau menolak. Turun kepada siapanya tergantung bagaimana kontrak/kesepakatan awal dengan bangsa jin yang dilakukan oleh bapak/kakek/uyut/leluhur. Kesepakatan/persekutuan dengan bangsa jin itu bentuknya bisa berbagai macam, diantaranya tenaga dalam, ilmu kebal dan bentuk lainnya.
Hipotesis Jin Nasab itu pun menguat karena uyut anak kami memang diketahui sebagai orang yang punya ilmu tenaga dalam.

Malam hari setelah anak kami di ruqyah oleh ust. Fadlan sambil menangis karena kesakitan di beberapa bagian tubuhnya, ia pun bercerita kepada kami bahwa sebetulnya ia bisa melihat makhluk-makhluk aneh semenjak kecil (indigo). Ia tidak pernah menceritakan kepada kami karena pikirnya itu hanya bayangannya saja. Ia juga melihat jin yang mendzoliminya. Katanya warnanya hitam dan jorok (bau).
Ini semakin menguatkan hipotesis terkait Jin Nasab. Salah satu ciri pasti dari orang yang diturunkan Jin Nasab adalah indigo semenjak kecil.


(Bersambung insya Allah jika banyak yang mau membaca kelanjutannya….)

Nb:
Cerita ini saya tuliskan agar bisa menjadi pelajaran dan menambah keimanan bagi yang membaca

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-3/

Perdukunan dan Konsumsi Netizen Terhadapnya

Perdukunan di belakangan hari ini tidak bisa diremehkan keberadaan dan penyebarannya. Justru semakin ke sini, konsumsi masyarakat netizen terhadap ramalan, perdukunan dan pengagungan terhadap hal-hal berbau mistis semakin tinggi. Utamanya melalui YouTube. Jasa pelet misalnya, ya sudah terang-terangan. Sangat dibutuhkan ketegasan pemerintah dalam masalah ini. Tapi selama slogannya ‘dari rakyat untuk rakyat’, maka ngaca lagi:
‘Kalau rakyatnya doyan perdukunan dan mistis, ya untuk rakyat adalah fasilitas menujunya’
Berarti pundak para dai harus lebih kekar lagi untuk terus menyerukan kepada tauhid. Dan kita lihat yang paling concern dalam masalah anti-syirik adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak usah disingkat. Kalau disingkat, kenyataan akan terbalik.


Perlu kita singgung para influencer atau youtuber yang justru mengajarkan kebid’ahan dan kesyirikan. Tentu di bab ini, Ahlul Bid’ah maupun ahli masalah khilafiyyah tidak bisa banyak menusuk penyimpangan dan mempertahankan aqidah, karena wong sendirinya mumet kok. Maka yang paling pas untuk membantah dan membongkar kesesatan mereka adalah Ahlus Sunnah.


Pak Bu sekeleusan, generasi sekarang memang ga langsung ikutan jurit malam, atau dateng ke kuburan minta-minta dan seterusnya. Tapi mereka nonton tiap hari video-video mistis dan syirik. Minimal: di mindset mereka tertanam bahwa itu tuh cuman buat hiburan.


Mas, dulu orang kita masih malu pakai celana youcanseebutyoucan’ttouch. Tapi karena film dan tontonan, dan alasannya ‘ini kan cuma film cuma hiburan’, akhirnya jadi nyata dan tuntunan. Sekarang banyak semi-kuntilanak sudah mulai berani pakai celana you can see and you can touch. Bahkan kuntilanak sendiri sudah surrender dan menyerah melihat pakaian sebagian awewe yang mendekati busana wewe gombel itu. Sekarang tingkatannya sudah mencapai level wewe. Tinggal cowoknya ini siapa aja yang jadi wowo.
Kembali ke syirik.


Youtuber sampai rela membakar dupa supaya dapat penampakan. Sebagai penonton, kita anggap itu cuma seru-seruan dong. Tapi bagi para ustadz dan ikhwan Ahlus Sunnah, ini menjurus ke syirik, jika bukan syirik itu sendiri. Membakar dupa demi setan, konten, penonton dan UUD.
Ada youtuber sampai rela membakar sate gagak di hutan supaya setan dateng. Dan masih banyak lagi kelakuan para penghamba duit.


Semua itu cuma: hiburan. Akhirnya jadi dianggap biasa. Kita tereak di mimbar melawan syirik. Jemaah muda mudi ga mau nerima bahkan bilang, ‘Ustadz lebay ah. Itu semua kan cuma hiburan. Daripada ngebucin atau ngegabut, mendingan ngehibur orang. Kan dapet pahala.’


Kita di medan dakwah, terutama dai-dai muda, kadang belum cukup menyampaikan dalil dan kesimpulan. Tapi sebut langsung contoh real di masa kini. Biar terbayang di benak jemaah muda. Biar kena maksudnya. Biar kena di hati mereka bahwa itu syirik. Bukan sebatas hiburan.


Kita memang termasuk bangsa yang paling hobi kalau menonton atau menceritakan hal-hal mistis. Di sinilah setan suka. Kalau ada ensiklopedi varian jin, mesti Indonesia paling tebal bukunya. Dari jin-jin klasik seperti pocong, kuntilanak sampai jin-jin kontemporer, seperti nenek gayung. Boleh jadi kelak ada jin jelmaan Mang Oleh. Sekalian saja ada jin wujudnya odading. Nanti kita bikin lagi jin kepal milo.
Dan semua setan itu, didukung oleh warung makanan dan minuman. Ada Es Pocong, sambel setan, dan seterusnya.


Sepertinya saya cukup saja menulis sepatah dua patah kata ini. Takutnya malah jadi panjang.

(Ust Hasan Al Jaizy)

“Shalawat” Bid’ah bahkan Syirik

Rangkuman “shalawat-shalawat” bid’ah, bahkan mengandung kesyirikan. Shalawat-shalawat yang tidak ada contohnya dari Nabi.

(Rincian silakan dibaca pada link-link di bawah).

  1. Shalawat Nariyah
    “…kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik…”
    Syair di atas jelas-jelas mempersekutukan Allah dengan RasulNya. Hanya Allah yang dapat melepaskan seseorang dari kesulitan dan menunaikan hajat-hajat hidupnya. Terlebih Rasulullah telah wafat. Meminta kepada seseorang yang sudah meninggal adalah syirik, terlebih untuk hal-hal yang hanya Allah saja yang dapat mengabulkannya.

  2. Shalawat Badar
    “….Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah…”
    Hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
    Bertawasul dengan Nabi hanya bisa dilakukan dengan doa-doa Beliau saat masih hidup dan apa-apa dari fisik Beliau.
    Adapun bertawasul dengan Ahlul Badar tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan (karena Beliau telah wafat).
    Selain itu, tidak ada penjelasan yang shahih bahwa Thaha dan Yasin adalah nama lain dari Rasulullah. Dengan demikian ini termasuk mengada-ada.

  3. Qasidah Burdah
    “…Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
    Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta…”
    Ini adalah kalimat bathil karena “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)”
    “Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya.
    Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya” – yang dimaksud di sini adalah makam Nabi.
    Tidak diragukan lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.
    “…Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya..”
    Ini adalah kalimat syirik karena bersumpah dengan nama selain Allah.
    “…Aku tidak memiliki pelindung wahai Rasul termulia selain dirimu di kala datangnya petaka…”
    Ini adalah kalimat syirik, karena meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
    “…Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena. Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya…”
    Ini adalah kalimat bathil, karena Rasulullah tidak tahu isi Lauhul Mahfudz kecuali sedikit yang Allah wahyukan kepadanya. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)”.
    Kalimat kedua juga bathil, karena “Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)”

  4. Barzanji
    Ditulis oleh seorang penganut paham tasawwuf, Ja’far al-Barjanzi.
    “…Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir
    Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)”
    Ini adalah syair syirik, karena hanya Allah yang dapat menjadi penolong, pelindung, dan tempat beristighosah.
    “…Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang..”
    Ini adalah kalimat bathil. Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir secara fisik? Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya saja.
    Penulis kitab Barzanji menyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.

    Padahal;
    Bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shalallahu’alahisasalam bersabda “Dia berada di neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka”. (HR. Muslim dalam shahihnya (348) dan Abu Daud dalam sunannya (4718))
    Allahul musta’an.

  5. “Shalawat-shalawat” lain yang dirincikan dalam artikel sumber pada link di bawah


    Sumber:

    1. https://almanhaj.or.id/2669-pengakuan-cinta-rasul.html

    2. https://muslim.or.id/54-shalawat-nariyah.html

    3. https://almanhaj.or.id/2583-barzanji-kitab-induk-peringatan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html?fbclid=IwAR0-vdFgyTUFRR-F9DridE0KbfqPlwhYKL7Y0iQbWxsNIIv7COMCcRyXxrU

    4. https://www.nahimunkar.org/daftar-sholawat-sholawat-bidah-tersebar-masyarakat-isinya-kebanyakan-mengandung-makna-kesyirikan-datang-hadits-hadits-dhoif-lemah/?fbclid=IwAR1BE6cZaIc_V73BmO1a3yxRmj1_G7dsX0otzA7_JZOyaWuowRhtPj_DEV0

    5. https://muslimafiyah.com/meminta-syafaat-nabi-kepada-allah-bukan-meminta-kepada-nabi.html?fbclid=IwAR1zPQF09nZhU7ZjEeIrVGHkr-xcNdJFFOcP69fEptPbUKc1dOw2pB1s-2A

Jin Nasab (Part 7)

Part 7.

Setelah kurang lebih 2 minggu di tempat ustadz Fadlan dan setelah meruqyah uyut anak-anak kami, alhamdulillah tidak ada lagi gangguan kepada anak-anak kami, khususnya ketika melakukan ibadah. Dari situ kami memutuskan kembali ke rumah pada waktu pagi hari. Sampai-sampai rumah langsung ruqyah rumah.


Alhamdulillah, mukena yang dulu disembunyikan dan belum ketemu tiba-tiba ketemu. Ternyata ada di kardus pojokan. Padahal dulu kami cari disitu mukenanya, tapi dulu gak ada disitu.
Siang hari menjelang sore, kami dikejutkan dengan kembali hilangnya Al-Qur’an. Setelah dicari ternyata syaithon ini menyembunyikannya di bawah spingbed yang tak berdipan. Saya pelajari memang syaithon ini betul-betul sangat menghinakan Qur’an.


Gangguan belum berakhir, namun alhamdulillah meskipun demikian gangguannya tidak separah saat awal-awal dulu. Kami terus mengupayakan ruqyah syar’iyyah secara mandiri, sesekali kami ruqyah ke tempat ustadz Fadhlan.
Syaithon menggangu anak kami dengan membuat rasa sakit di perut. Sakit perutnya gak hilang-hilang sampai hari berikutnya. Sampai membuat anak kami nangis karena menahan sakit.
Sebagai orang tua, saya mencoba kemungkinan diagnosis lain. Akhirnya saya bawa ke dokter. Setelah dicek, ternyata anak saya sakit infeksi saluran kencing (ISK). Keluhannya kalo pipis ada sensasi panas dan gatal dibagian kemaluannya.

Seminggu setelahnya kami kontrol ke dokter. Berdasarkan hasil lab, sudah gak ada lagi ISK, tapi pipis anak masih panas sampai beberapa hari kemudian, perutnya juga masih mengeluh sakit. Menguatkan dugaan bahwa sakitnya itu bisa jadi karena pengaruh syaithon. Allahua’lam.
Saya bawa ke ustadz Fadlan untuk diruqyah. Coba tebak, bagaimana caranya ustadz Fadhlan meruqyah area kelamin?
Beliau menggunakan teknik pijat refleksi, dengan meruqyah titik saraf di kaki yang nyambung ke area kelamin. Alhamdulillah, setelah itu langsung hilang sakit di perutnya dan pipisnya juga sudah ndk ada sensasi panas lagi.


Serangan terus berlanjut. Syaithon menyihir mata anak saya (lagi). Kali ini anak saya dibuat tidak bisa membaca Al-Quran. Kata anak saya ada tai di Quran yang menutupi pandangannya.
Astaghfirullah. Betul-betul penghinaan yang luar biasa yang dilakukan syaithon ini.
Gangguan lainnya adalah berbentuk suara. Saat solat anak saya diperdengarkan suara Bom, sehingga membuatnya kaget dan terpental. Gangguan ini berlangsung selama beberapa hari kemudian.
Pada suatu hari kami juga cukup dikagetkan bahwa ternyata si jin di tubuh anak kami mulai bisa ‘bicara’ melalui mulut anak kami. Waktu itu, anak kami sedang baca Al-Baqarah, tiba-tiba mulutnya bersuara “Ssstt….!!”, memotong bacaan anak kami. Sambil jari telunjuk tangannya ditempel ke bibir. Berulang-ulang seperti itu.


Sampai ketika jin nya berbicara. Diantara kalimatnya yang saya ingat, “aku mau pulang ke pohon”, “aku mau ke XXX (kota tempat uyut anak kami) lagi”, dia juga bilang “nama saya Jin, bukan syaithon!”
Ngomong terus gak berhenti-berhenti. Saya bilang ke anak saya untuk terus baca Al-Baqarahnya.
Saat baca ayat “wat taba’u ma tatlusy syayathin…..”, jinnya berkomentar, “bukan wat taba’u tapi wat taba’e…”.
Lalu saat ayat “min kulli daabbah….”, jin nya ngoceh “saya suka Daabbah…”. Ngoceh terus. Kami cuekin aja.
Saya pun memutuskan beli buku-buku ruqyah syar’iyyah untuk belajar lebih dalam terkait jin dan dunianya, gangguannya serta pembentengan diri dari mereka.


Saya membaca buku Ruqyah karya Syaikh Waahid Abdussalam Baali. Beliau menjelaskan seluk beluk dunia jin. Di dalam bukunya juga dijelaskan metode dan pengalaman beliau dalam melakukan Ruqyah.
Impresi saya setelah membaca buku Syaikh Waahid sangat positif. Beliau menggunakan metode pendekatan ‘baik-baik’ terlebih dahulu, dengan menceramahi jin, meng-Islamkan baru setelah itu disuruh keluar. Kalo gak mau disuruh keluar, baru disikat.


Sekedar untuk diketahui dan dipahami saja oleh para pembaca bahwa Ruqyah itu gak sesederhana teori yang kalian baca. Terkhusus pada kasus anak kami.
Saya sering membaca komentar yang seakan menggampangkan dan meremehkan kasus yang kami alami, “begini aja…”, atau “begitu aja….”.


Pada kasus kami, ruqyahnya gak sesederhana baca ayat kursi terus ilang seketika. Gak sesederhana minum air bidara terus ilang. Gak sesederhana “jangan ketergantungan peruqyah, ruqyah mandiri saja!!”.
Pada beberapa kasus, justru lebih tepat ketika ruqyah dilakukan oleh praktisi/ahlinya. Setiap kasus perlu metode tersendiri, yang hanya bisa diidentifikasi orang yang bergelut di bidangnya.
Metode itu sifatnya luas. Makanya saya pernah bilang saya open dengan metode pengobatan manapun selama terbukti menyembuhkan dan gak mengandung kesyirikan.
Kalo kamu yang merasakannya atau mengalaminya sendiri apa yang kami rasakan, mungkin kamu baru bisa paham.


Singkat kata saya coba cara ruqyah dari buku Syaikh Waahid Baali hafidzahullah.
Saat itu siang menjelang sore hari, ketika diruqyah si Jin mulai kembali ngoceh. Saya tanya beberapa pertanyaan,
“kamu siapa namanya?”,
“apa agamamu?”,
“maukah masuk Islam?”,”kenapa kamu mengganggu anak saya?”,
dan beberapa pertanyaan lain sambil memberikan ancaman adzab Allah ta’ala karena berbuat dzolim.
Ketika ditanya nama dan agama, beberapa ada yang mau menyebutkannya dan beberapa tidak mau menyebutkannya.


Yang mau menyebutkan namanya seingat saya ada dua, namanya Kristina agamanya Nasrani dan satu lagi namanya Zimat (atau ‘Azimat) agamanya Yahudi. Total ada 6 jin saat itu. Semua saya tawarkan Islam.
Ketika ditanya kenapa mengganggu anak saya, jawabannya beragam. Ada yang bilang karena disuruh, ada yang bilang karena gak suka sama anak yang suka ibadah, ada yang bilang “saya jin baru dari tante XX” (indikasi bahwa jin ini adalah jin nasab).


Ketika ditawarkan Islam, ada yang mau ada yang gak. Yang gak mau alasannya karena gak boleh sama saudaranya. Ada yang ditahan sama setan lainnya. Ada juga yang minta diajarin dulu apa itu Islam. Saya suruh dia ke masjid belajar dengan jin Muslim disana, ikut majelis ilmu di masjid. Ada juga yang minta dibacakan ayat Quran.
Walhasil setelah bertanya baik-baik seperti itu satu per satu, mereka semua mau bersyahadat. Beberapa diantara mereka minta diberikan nama Muslim, beberapa memilih nama sendiri.
Yang laki ada yg saya berikan nama Muhammad, Ibrahim dan Sulaiman. Jin perempuan ada yang mengganti namanya menjadi Ruqoyyah, dan beberapa nama shahabiyah.


Setelah itu saya katakan kepada mereka bahwa mereka adalah saudara sesama Muslim dan saya buat perjanjian dengan mereka agar tidak masuk ke badan anak saya lagi.
Lalu saya suruh mereka keluar. Mereka bilang mau keluar lewat hembusan udara. Saya bilang “gak, keluar lewat muntah aja!”.
Jin bilang “saya tidak punya muntah”. Lalu saya suruh keluar lewat buang air kecil. Benar saja, enam kali anak saya pipis secara berurutan.


Untuk memastikan apakah jinnya sudah keluar, saya ruqyah kembali dan alhamdulillah tidak ada reaksi.
Beberapa dari kalian mungkin akan mengatakan “ngapain jin diajak dialog, “jin itu pendusta!”.
Saya sepakat gak ada keraguan tentang itu. Namun, mereka juga makhluk Allah yang dibebankan ibadah, sehingga perlu didakwahi dan diajak masuk Islam.
Yang saya lihat dari metode Syaikh Waahid Baali, boleh bertanya kepada mereka selama tidak menuruti permintaan mereka yang bertentangan dgn syariat, selama sebatas bertanya pertanyaan yang diperlukan saja terkait gangguan yang dirasakan.


Kalaupun mereka berdusta dengan syahadatnya, itu menjadi urusan mereka dengan Allah. Sama saja seperti manusia. Ada yang syahadatnya sungguh-sungguh dan main-main. Ya itu urusan mereka dengan Allah.
Itulah yang saya pelajari dari buku syaikh Waahid Abdussalam Baali hafidzahullah. Boleh sepakat, boleh tidak. Tapi ingat sekali lagi konsep “Bounded Rationality”. Yang belum kalian ketahui belum tentu salah. Atau sedikit ilmu yang sudah kalian ketahui bisa jadi kurang tepat. Seiring bertambahnya pengalaman, akan semakin bertambah juga wawasan dan cara pandang.


Faktanya setelah kejadian meng-Islamkan enam jin tersebut, anak saya tidak lagi mendengar suara bom, gak lagi melihat tai di Quran. Karakteristik gangguan yang berasal dari “dalam” berangsur menghilang. Alhamdulillah.
Pernah beberapa kali muncul lagi sakit di area tertentu, tp dibacakan (diruqyah) sebentar langsung hilang alhamdulillah.

Gangguan yang belum hilang adalah gangguan yang berasal dari “luar”. Seperti menyembunyikan Quran, bahkan sampai menyeburkan Quran ke dalam kamar mandi sampai basah kuyup. Buku sekolah anak-anak juga disembunyikan, disobek dan dibasahin di wastafel.


Syaithon yang kerjaannya mengganggu dalam bentuk gangguan luar seperti ini yang masih belum kapok.
Menurut keterangan salah satu jin yang masuk Islam sebelumnya, syaithon yang suka mengganggu kami dari awal dulu dgn cara ngumpetin mukena, alat sholat, Quran dan lainnya (monggo baca part-part awal) itu masih ada dan belum mati.

Insya Allah akan saya ceritakan pada part berikutnya, jika masih banyak yang ingin membaca cerita ini.

(Sebagaimana diceritakan akhi Hendy Mustiko Aji)

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/05/31/jin-nasab-part-8/

Jin Nasab (Part 6)

Part 6.
Hari Kamis, 17 Desember 2020, kami (saya, istri, anak-anak, ust. Fadlan dan tim) bertolak menuju rumah uyut anak kami ke kota yang dapat ditempuh dengan perjalanan selama kurang lebih 10 jam menggunakan mobil dari Yogyakarta. Kota/daerah yang memang terkenal dengan ‘pendekar’ nya.


Jum’at dini hari sekitar pukul 01.30 WIB kami sampai di hotel. Anak dan istri langsung tidur karena masih capek. Mereka harus banyak istirahat karena paginya pukul 08.00 WIB agendanya adalah meruqyah uyut anak kami beserta rumahnya.
Di hotel, saya merasakan gangguan yang terasa lebih kuat. Indikasinya adalah banyaknya suara-suara seperti kerikil jatuh dari plafon kamar.


Saya mengamati, sebelum gangguan terjadi dan ketika proses ruqyah dilakukan, selalu muncul suara kerikil dari plafon rumah. Entah itu berasal dari syaithon yang mengganggu anak kami atau bukan. Allahu’alam. Namun, pola nya seperti itu. Setiap ada suara kerikil jatuh di plafon, setelahnya ada gangguan.
Mendengar gelagat gangguan seperti itu di kamar hotel, saya memilih membacakan Quran serta doa perlindungan, memohon kepada Allah ta’ala. Saya baru tidur lagi sekitar pukul 03.00 WIB, dan harus bangun subuh sekitar pukul 04.00 WIB. Bisa dibayangkan, betapa capeknya saat itu.
Pukul 08.00 WIB, kami tiba di rumah uyut anak kami. Setelah persiapan, kira-kira pukul 09.00-an WIB ruqyah dilakukan. Datang hampir seluruh anak-anak uyut anak kami. Mereka yang sebelumnya menolak keras dilakukannya Ruqyah.


‘Ala kulli hal, ruqyah pun dilakukan. Dibacakan al-baqarah full menggunakan speaker sehingga terdengar seisi rumah. Uyut kami sudah sangat sepuh. Usianya 100 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana keadaannya. Hanya duduk di kursi roda. Tenaga hampir tidak ada.
Ketika diruqyah saya perhatikan gerakannya seperti mau muntah, tapi gak bisa. Berkali-kali seperti itu. Mungkin tadi, karena faktor tenaga yang sudah tidak ada.


Saya melihat kedua tangan uyut anak kami sempat mengangkat dengan membentuk pose seperti pose harimau. Namun setelah itu, lemes lagi. Ya, mungkin tadi.. Faktor usia, sudah lemah tidak ada banyak tenaga.
Anak kami didudukkan di dekat uyutnya. Reaksi justru terjadi pada anak kami. Tak seperti biasanya, sebelum-sebelumnya ketika diruqyah tidak ada reaksi berarti. Sebelum-sebelumnya, reaksi muncul hanya saat akan dan ketika beribadah saja. Tapi saat itu, mendengar bacaan ruqyah al-baqarah, anak kami (baca: syaithon di dalamnya) bereaksi. Kakinya menendang-mendang, tangannya berontak-berontak, kepalanya dijedot-jedotin.


Setelah selesai pembacaan al-baqarah full, kemudian seluruh rumah dicipratkan air bidara yang telah diruqyah. Dicipratkan di tempat-tempat yang mana suka muncul penampakan.
Pernah ada sejarah di rumah uyut anak kami penampakan kuntilanak dan syaithon lain. Pernah juga ada yang mendengar suara harimau di salah satu kamar. Intinya rumah uyut kami banyak setannya. Tempat yang dicipratkan air bidara bisa dilihat pada Gambar 1.

Setelah proses selesai, kami semua mendengar tausyiah dari ust. Fadlan. Disampaikan nasihat-nasihat terkait taqwa, kesyirikan, husnul khotimah. Sampai kemudian ust. Fadlan bertanya, apakah ada benda pusaka yang masih tersimpan?

Betapa terkejutnya kami, ternyata ada salah seorang anak uyut anak kami yang langsung menjawab “Ya, ada”. Tanpa dipaksa-paksa untuk mengaku, langsung spontan jawabannya, “Ya, ada”.
Kalo kalian mengikuti cerita part yang lalu, kami sudah pernah menceritakan bahwa menurut pengakuan keluarga besar, di rumah (uyut anak kami) sudah tidak ada lagi benda pusaka. Katanya hilang dan sudah dibawa orang. Ternyata kenyataannya pusaka itu masih ada, tidak hilang dan tidak dibawa orang, tapi tersimpan rapi terbungkus kain berwarna usang di dalam lemari kamar uyut anak kami.
Allahul musta’an….


Mengetahui hal tersebut, spontan langsung ust. Fadlan minta tolong diambilkan seluruh benda pusaka untuk kemudian dibakar. Fotonya seperti dapat dilihat pada Gambar 2 yang saya upload.
Seluruh pusaka yang sudah terlihat usang dibakar diatas kompor sambil membacakan doa tertentu. Ada keris, ukuran besar dan kecil, ada ‘komando’, dan pusaka lain. Setelah proses pemusnahan pusaka, kami berharap seluruh syaithon juga ikut terbakar hangus, putus semua kontrak dengan bangsa jin.
Hari itu, proses ruqyah dilakukan 2x. Sebelum sholat Jum’at dan setelahnya. Sore (maghrib) harinya, kami langsung pulang kembali ke Yogyakarta. Sangat menguras tenaga.


Selama di perjalannan, ketika anak kami sholat di dalam mobil, alhamdulillah sudah tidak ada lagi gangguan seperti biasanya. Tidak ada lagi kepala dijedotin, tangan dan kaki yang berontak-berontak ketika sedang sholat seperti biasanya terjadi. Ya, normal aja. Sampai 3 hari kemudian pun, alhamdulillah tidak ada lagi gangguan sama sekali.


Kami pun memutuskan pulang ke rumah kami, setelah sebelumnya sudah selama kurang lebih 2 minggu kami tinggal di rumah ust. Fadlan. Setelah pulang ke rumah, kami cukup terkejut. Ternyata terjadi lagi hal yang pernah terjadi saat awal-awal gangguan seperti saya ceritakan pada part 1.


Insya Allah bersambung ceritanya jika masih banyak yang mau membaca kelanjutan cerita ini.

(Sebagaimana diceritakan oleh akhi Hendy Mustiko Aji)

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-7/

Jin Nasab (Part 5)

Part 5 ini lama tidak saya tuliskan karena berat jemari ini untuk menulis, mentok kepala ini untuk berfikir, tak kuasa hati ini melawan perasaan.


Pasalnya, tak pernah terfikir kami sekeluarga akan diuji dengan gangguan seperti ini. Melepas gangguannya (dari anak-anak kami) pun bukan perkara mudah dan instan. Terlebih lagi, banyak dari pembaca part sebelumnya yang berkomentar menyelekit hati. Dibilangnya saya menceritakan cerita fiktif lah, dibilangnya saya gak niat nulis lah karena bersambung-sambung, dst.


Semoga Allah mengampuni kita semua dan meningkatkan level ketaqwaan dan keimanan kita semua.
Sebelumnya sudah kami ceritakan bahwa besar kemungkinan, gangguan yang dialami anak kami mengarah ke indikasi syaithon nasab. Menghilangkan gangguan syaithon nasab ini bukannya mudah.
Cerita dari yang sudah-sudah, perlu waktu yang tak sebentar untuk memutus kontrak dengan syaithon nasab. Untuk itulah, ruqyah perlu dilakukan secara intensif terus menerus dengan metode yang efektif.
Sudah 1 mingguan setelah cerita part 4 sebelumnya anak-anak kami diobati dengan metode ruqyah syar’iyyah. Beberapa metode sudah dilakukan dan dicoba oleh ust. Fadhlan, diantaranya adalah dengan berendam air bidara yang dicampur es batu dan garam sambil dibacakan ayat Ruqyah. Satu waktu berendamnya seluruh tubuh, dan waktu lain direndam kaki dan tangan saja.


Kata ust. Fadhlan, air bidara dan garam adalah ramuan ruqyah dari syaikh Utsaimin rahimahullah. Adapun penambahan es batu dilakukan karena secara filosofis, syaithon terbuat dari api, sehingga dilawannya dengan dingin. Es batunya bukan sebiji-dua biji, tapi 5-10 bungkus besar.
Ust. Fadhlan sudah puluhan tahun mempraktikkan metode ini kepada pasiennya, dan memang cara tersebut efektif membuat syaithon yang bersemayam teriak kesakitan.


Selama tinggal berobat di tempat ust. Fadhlan, hampir setiap hari datang pasien dengan berbagai macam kasus. Hampir setiap hari juga kami dengar teriakan syaithon yang diruqyah. Ada pasien wanita yang terkena serangan sihir, saat diruqyah teriakannya suara lelaki.
Jujur, saya banyak melihat dan belajar hal baru terkait kasus gangguan syaithon.
Ruqyah dilakukan kepada anak kami sambil berendam selama kurang lebih 45-60 menit. Setelah itu dilanjut dengan minum air bidara. Kami melihat banyak pasien lain reaksi kesurupan ketika diruqyah, namun untuk kasus anak kami, tak banyak reaksi terjadi, tak pula sampai membuat kesurupan.
Katanya, bisa jadi Allah ta’ala menjaga mulut dan kesadaran anak kami dari dikuasai syaithon, karena anak kami penghafal (menjaga) Quran.


Setelah beberapa kali ruqyah dengan metode di atas dilakukan, reaksi baru muncul beberapa hari setelahnya. Anak kami mencret ketika BAB (keluarnya air saja). Lalu juga muntah. Namun muntahnya tidak berbau muntah (asam lambung). Reaksi tersebut menandai keluarnya syaithon dari tubuh anak kami.
Kata anak kami, setelah mencret dan muntah, badannya serasa lebih enteng. Namun, meskipun demikian, gangguan masih ada. Utamanya saat sholat dan ibadah. Kata ust. Fadhlan bisa jadi syaithonnya sangat banyak dan berlapis-lapis.


Kasus seperti ini lumrah terjadi pada kasus jin nasab/khoddam, karena tujuan memiliki jin ini adalah sebagai penjagaan diri, maka tak heran jika syaithonnya ada sangat banyak dan berlapis.
Beberapa malam sebelumnya istri saya bermimpi aneh. Istri saya melihat banyak mayat tergeletak, dan semua mayatnya hitam gosong. Lalu ada sesosok orang dalam mimpi istri saya bilang “disana masih banyak lagi (mayat gosong yang bergeletakkan)”.


Saya tanya ke Ust. Fadhlan, bisa jadi mayat gosong dalam mimpi istri saya adalah syaithon pengganggu anak kami yang mati terbakar karena diruqyah terus menerus.
Anak kami juga cerita bahwa selama ini ada dua jenis jin yang berinteraksi dengannya. Pertama adalah jin (syaithon) yang mengganggunya dan ingin mencelakakannya. Warnanya cokelat dan hitam serta berbau busuk. Jin ini yang menyembunyikan mukena dan alat sholat.
Dulu pas awal-awal diganggu, kami mencoba pergi ke hotel namun jinnya ternyata ikut (silahkan baca Part awal). Di hotel, anak kami melihat jin jahat membawa Quran dan Mukena yang masih hilang.


Kedua adalah jin yang ‘baik’ (bahasa anak kami), yang mencoba memotivasinya agar terus kuat dan bertahan. Kata anak kami, jin yang ‘baik’ ini suaranya lembut kaya umi, bercadar, dan wangi.
Ketika jin jahat mengunci mulut anak kami sehingga tidak bisa berdzikir dan membaca Qur’an, jin ‘baik’ ini selalu memotivasi. Suatu waktu jin ‘baik’ ini memberi tahu anak kami untuk menarik nafas dalam-dalam, baru membaca Quran. Dan cara itu berhasil.


Selain itu, jin ‘baik’ ini suka memberitahu dimana tempat alat sholat disembunyikan, namun selalu diteriaki jin jahat. Begitu cerita anak kami. Saya tanya ust. Fadhlan tentang jin ‘baik’ ini, kata beliau bisa jadi itu adalah jin yang sudah bertaubat. Allahua’lam. Hanya Allah yang tahu
Setelah diruqyah terus menerus, utamanya bagian mata dan telinganya, sekarang anak kami sudah tidak bisa lagi melihat jin dan mendengar suara-suara lagi.


Cerita ini masih berlanjut, insya Allah. Akan kami ceritakan jika memang masih banyak yang mau membacanya. Di Instagram, beberapa kali saya posting gambar-gambar terkait proses ruqyah.
Semoga ada pelajaran yang dapat diambil dari setiap cerita yang kami ceritakan.

(Sebagaimana diceritakan oleh akhi Hendy Mustiko Aji)

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-6/

Jin Nasab (Part 4)

Part 4 ini saya ceritakan melihat masih banyak pembaca yang ingin mengetahui kelanjutan cerita sebelumnya


Uyut anak kami masih hidup. Usianya sudah atau mendekati 100 tahun. Namun mohon dicatat bahwa saya sengaja dan tidak mau menyebut uyut anak kami dari jalur nasab saya atau istri, demi menjaga privasi keluarga besar. Lagipula, bukanlah esensi untuk mengetahui hal tersebut dalam cerita ini.


Untuk meruqyah uyut anak kami tidak semudah asal meruqyah. Ini menyangkut keluarga besar. Banyak kepentingan di sana. Kami perlu meminta ijin terlebih dahulu kepada keluarga besar, khususnya anak-anak langsung dari uyutnya anak kami.
Ijin dan cara kekeluargaan perlu dilakukan karena setelah ruqyah bisa saja terjadi berbagai kemungkinan. Kami tidak ingin disalahkan atas kemungkinan buruk yang akan terjadi, sehingga dapat berpotensi merusak hubungan keluarga dan terlebih merusak citra dakwah Tauhid.
Keluarga besar kami masih sangat awam dalam urusan agama. Seperti misalnya ketika diganggu Syaithon nasab, mereka selalu meminta bantuan ke ‘orang pintar’ yang berkamuflase menjadi sefigur ustadz.
Mereka pun suka mengamalkan amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya secara syariat. Amalan tersebut diyakini sebagai kebenaran karena dibalut nuansa Islami.
Ada yang puasa setiap hari dengan niat meminta hajat tertentu. Ada yang membaca wirid-wirid tertentu yang tidak ada dasarnya dalam agama, dan beberapa amalan nyeleneh lain namun bernuansa Islami. Tak heran dengan amalan ibadah seperti itu, syaithon nasab tak menganggu sampai berupaya mencelakakan fisik mereka.


Mendengar ruqyah syar’iyyah tentu saja membuat perasaan mereka (keluarga besar) tidak nyaman. Beberapa (mayoritas) keluarga besar memberikan ijin, namun ada juga beberapa yang menolak. Kami husnudzon (berbaik sangka), penolakan mereka disebabkan ketidaktahuan (kejahilan) tentang praktik ruqyah syar’iyyah.
Uyutnya anak kami harus diruqyah demi membatalkan perjanjian/kontrak dengan bangsa jin. Saya coba berikan pengertian bahwa ruqyah yang dilakukan kepada uyutnya anak kami hanya sebatas membacakan ayat-ayat Quran. Tidak ada praktek menangkap jin lalu jinnya dimasukan ke dalam botol. Tidak ada gerakan-gerakan seperti yang dilakukan tim pemburu hantu atau yang semisal. Ya, murni hanya dibacakan ayat Quran dengan niat ruqyah.


Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah ta’ala, setelah beberapa ikhtiar untuk menjelaskan dan memberikan pemahaman, ijin meruqyah uyutnya anak kami pun diberikan. Insya Allah jika tidak ada aral melintang dalam minggu depan kami bersama ust. Fadlan dan tim akan meruqyah uyutnya anak kami di rumahnya.

Kami sudah meminta bantuan keluarga besar untuk mengumpulkan semua pusaka/jimat/keris/atau barang apapun yang dianggap sakti. Namun, qadarallah katanya barang-barang tersebut sudah tidak ada di rumah. Entah hilang, tak kasat mata, atau sudah dibawa oleh orang lain.
Ijinkan saya pindahkan fokus cerita terkait anak kami.


Sudah beberapa hari kami sekeluarga tinggal di tempat ust. Fadlan. Ruqyah dilakukan intensif pagi dan sore. Gangguan syaithon nasab semakin frontal. Selain berusaha mencelakakan fisik anak kami, musuh Allah ini pun berupaya sekuat tenaga membuat anak kami tidak bisa beribadah.
Jin nasab membuat anak kami tidak bisa berbicara. Ya betul, tidak bisa berbicara karena mulut anak kami dikunci oleh jin nasab. Saya berusaha membuka mulut anak kami yang mingkem rapet, betul-betul kuat sekali. Jika dipaksakan, saya khawatir menyakiti anak saya sendiri.
Barulah kemudian saya ruqyah mulutnya, sambil dibantu ust. Fadlan dengan cara merendam kaki dan tangan anak kami di ember air bidara yang diisi es batu. Selain itu, ust. Fadlan memberikan minyak wangi untuk dioleskan dimulut anak kami.


Alhamdulillah dengan cara tersebut mulutnya sudah bisa terbuka. Panas katanya. Anak kami sudah bisa bicara kembali, namun ia tidak mampu mengucapkan kata yang berkaitan dengan amalan ibadah.
Ketika diminta mengucapkan kata ‘abi’, ‘umi’ dan nama-nama saudara dan orang yang dikenalnya, ia bisa lancar mengucapkannya tanpa hambatan. Namun, ketika diminta mengucapkan ta’awudz, basmalah, nama Allah, dan nama-nama Nabi, ia tidak mampu melakukannya. Bibirnya rapat terkunci hanya bergoyang seperti sedang mengunyah.
Bukan hanya itu saja. Musuh Allah ini juga membuat anak kami tidak bisa membaca Quran. Anak kami mengatakan bahwa ia tidak bisa melihat huruf di dalam mushaf. Hanya ada harokatnya saja. Kata ‘bismillah’, terlihat i-i-a.


Gangguan serupa juga terjadi pada pendengarannya. Jin nasab ini membuat anak kami tidak mampu mendengar kalimatullah. Ketika dibacakan ayat-ayat Quran, anak kami hanya mendengar harokatnya saja.
Makhluk terkutuk ini juga mengganggu hati anak kami sehingga ia tidak ingat hafalan Qurannya. Anak kami tidak bisa melantunkan dzikir dan ayat Quran secara keras, dan juga tidak bisa melakukannya di dalam hati!
Betul-betul terkutuk syaithon nasab ini. Ia mencoba menghalangi anak kami dari berdzikir dan membaca Quran.


(Bersambung insya Allah jika masih banyak yang ingin membaca kelanjutan cerita nyata ini. Pada cerita berikutnya insya Allah akan saya ceritakan bagaimana praktek dan metode ruqyah putus kontrak dengan bangsa jin yang dilakukan dan reaksi-reaksi yang terjadi)


Nb:
Cerita ini saya tuliskan agar bisa menjadi pelajaran dan menambah keimanan bagi yang membaca.

(Sebagaimana diceritakan oleh akhi Hendy Mustiko Aji)

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-5/

Jin Nasab (Part 3)

Ini adalah part 3 dari cerita-cerita sebelumnya.

Saya begitu sedih dan terpukul tatkala mengetahui gangguan yg menyerang anak kami adalah gangguan Jin Nasab. Ia diturunkan melalui jalur darah (nasab) tanpa adanya persetujuan. Persekutuan dengan bangsa jin yang dilakukan oleh orang lain, namun keturunan yang kena imbasnya.

Kami menganggap kejadian ini adalah salah satu ujian keimanan dari Allah ta’ala. Disaat saya begitu terpukul, mudah menangis terisak, hati dipenuhi was-was, lantas ada beberapa kawan menawarkan bantuan melalui jalur ‘orang pintar’ alias dukun. Alhamdulillah, Allah masih meneguhkan hati kami untuk menolak bantuan-bantuan tersebut.

Saya dan istri mulai sering menganalisis mengapa serangannya begitu frontal sampai ingin mencelakakan anak kami. Kami coba bertanya-tanya kepada keluarga kami apakah ada dari mereka yang memiliki indikasi diturunkan Jin Nasab juga. Ternyata hampir semua, dan mayoritas yang diganggu adalah saudara perempuan!


Diantara mereka ada yang dari kecil juga indigo, ada yang selalu ditampakkan penampakan-penampakan, bahkan ada yang sampai selalu mengikuti dan menemani ketika tidur. Akan tetapi, tidak mengganggu sampai ingin mencelakakan fisik seperti yang dialami anak kami, Ummu Abdirrohman.

Analisis kami mengarah pada satu dugaan mengapa gangguannya bisa frontal kepada anak kami, yaitu karena ‘ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Sangat nyata terlihat, jin Nasab ini sangat membenci ketika anak kami beribadah.
Semua barang yang disembunyikan adalah barang yang berkaitan dengan ibadah. Mukena, sarung, bahkan Quran sekalipun. Terlebih anak kami adalah penghafal Quran. Sangat jelas yang kami rasakan bahwa tujuan dari jin Nasab ini ingin menggelincirkan anak kami (nasab) dari aqidah yang lurus.
Anak kami pernah cerita, saat tinggal di kontrakan sebelumnya, ada anak kecil (jin) di dalam rumah yang tidak suka ia sholat. Musuh Allah ini mengatakan kepada anak kami, “ngapain sih rajin-rajin sholat, baca Quran..!!”.


Jin-jin ini juga mengganggu saat anak kami disekolah. Dulu pernah ada komplain dari guru (ustadzahnya) di sekolahnya (sebelum pindah sekolah ke sekolah sekarang). Katanya anak kami selalu ngobrol sendiri, dan tidak fokus memperhatikan pelajaran.


Anak kami cerita pada malam hari Jum’at itu bahwa ia saat di sekolah bukannya ngobrol sendiri. Namun, ketika pelajaran, jin selalu mengganggunya dan anak kami mencoba mengusirnya dengan mengatakan “iih.. sana awas awas, aku mau belajar!”, sehingga ia terkesan ngobrol sendiri.
Anak kami dilaporkan tidak mau duduk di kursi ketika pelajaran. Ternyata saat itu bangkunya didudukin Jin. Jika ia mengusirnya, nanti ia dimarahin dan dikira ngobrol sendiri. Semoga ustadzah anak kami dahulu membaca tulisan ini.


Selain itu kami juga sadar bahwa jin yang terkutuk ini mencoba untuk memisahkan hubungan antara ibu dan anak. Kami sempat heran karena anak kami mengeluarkan bau keringat yang tidak wajar semenjak kecil. Qadarallah bau ini sangat tidak disukai istri saya. Istri saya selalu ingin muntah ketika mencium bau anak kami.

Baunya ini bersumber di kepala, bukan di badan atau ketiak. Sempat ingin saya konsultasikan ke dokter kulit. Alhamdulillah, bau-bau ini hilang setelah anak kami di ruqyah dan dimandikan air bidara yg telah diruqyah oleh ustadz Fadlan.


Hari pertama ruqyah di tempat ust. Fadlan, sekujur badan anak kami kesakitan. Ia sampai mengeluarkan air mata. Ust. Fadlan sudah banyak pengalaman menangani pasien Jin Nasab. Menurutnya, kontrak dengan jin nasab bisa diputus langsung pada level anak yang diturunkan, namun akan lebih efektif jika diputus pada level bapak/kakek/uyut jika masih hidup.

Saat ini, ruqyah dan putus kontrak dengan bangsa jin masih dilakukan pada level anak kami. Sudah lebih dari 12x intensif Ruqyah, alhamdulillah gangguan melemah, namun gangguan masih ada. Jin belum mau keluar dari tubuh anak kami.


Sepertinya memang harus diputus kontrak langsung pada level uyut anak kami dengan cara di ruqyah. Namun, menempuh pendekatan ini bukannya mudah. Masih ada dari keluarga besar kami yang menolak mentah-mentah rencana tersebut. Butuh ekstra kesabaran dalam menjelaskan dan memberikan pemahaman.
(Bersambung insya Allah jika masih banyak yang mau membaca kelanjutan ceritanya. Jika tidak banyak yang mau membaca kelanjutannya, saya sudahi cerita ini sampai disini)


Nb:

  • Cerita ini saya tuliskan agar bisa menjadi pelajaran dan menambah keimanan bagi yang membaca
  • Saya tidak menyebutkan uyutnya anak kami dari jalur nasab saya atau istri, demi menjaga privasi keluarga besar

(Sebagaimana diceritakan oleh akhi Hendy Mustiko Aji)

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-4/

Blog at WordPress.com.

Up ↑