Tidak Ada yang Merasa an dari Riya’ kecuali Orang Munafik

Setiap amalan ibadah yang dikerjakan secara terang-terangan berpotensi riya di dalamnya. Bahkan sepotong status singkat seperti ini pun sama.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Barangsiapa yang beramal agar disebut-sebut manusia, maka Allah akan tampakkan bahwa ia berharap demikian. Begitupun dengan orang yang beramal agar manusia memandangnya, maka Allah akan tampakkan bahwa ia berharap demikian.”

(HR. Bukhari 6499)

Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan,

ومن كان له وِردٌ مشروعٌ من صلاة الضحى أو قيام ليل أو غير ذلك، فإنه يصليه حيث كان، ولا ينبغي له أن يدَع ورده المشروع لأجل كونه بين الناس – إذا علم الله من قلبه أنه يفعله سرًّا لله – مع اجتهاده في سلامته من الرياء ومفسدات الإخلاص…ومن نهى عن أمر مشروع بمجرد زعمه أن ذلك رياءٌ فنهيه مردود عليه…والأعمال المشروعة لا يُنهى عنها خوفًا من الرياء، بل يؤمر بها، وبالإخلاص فيها

“Seseorang yang sudah punya rutinitas khusus dari ibadah, seperti salat Duha, salat malam, atau yang lainnya, maka hendaknya ia tetap mengerjakannya bagaimanapun kondisinya. Tidak lantas menghentikan hanya gegara ia tengah bersama manusia yang lain, padahal ia yakin Allah tahu ia mengerjakannya ikhlas karena Allah di kala sendiri, dengan catatan ia tetap mengondisikan hatinya beramal hanya karena Allah dan waspada dari riya dan penghancur keikhlasan lainnya. Seorang yang meninggalkan rutinitas ibadah yang disyariatkan hanya karena persangkaan bahwa hal itu tergolong riya, maka tertolak. Amalan yang disyariatkan tidak lantas ditinggalkan hanya karena khawatir riya. Bahkan dianjurkan dan tetap menjaga hati.”

Tidak ada yang merasa aman dari riya kecuali orang munafik.

Ustadz Muhammad Nur Faqih

Tawasul, Penghuni Kubur dan Syirik Akbar

Baru dikirimin video seorang habib yang mengatakan bahwa meminta kepada Allah itu harus melalui dan melewati orang yang telah mati sebagai perantara dan jembatan (wasilah) agar dikabulkan, karena jika tidak akan dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla doa permintaan dan permohonannya sebab banyak dosa, karenanya harus menjadikan orang shalih yang telah mati sebagai perantara dan jembatan.
.
Tipikal ahlu syirik yang berjubah Islam yang menyelewengkan tawasul /sasilah itu harus melalui dan melewati orang yang telah mati sebagai perantara dan jembatan dalam doa memohon kepada Allah Azza Wa Jalla. Ini sama saja meminta dan memohon pertolongan kepada orang yang telah mati agar memberikan manfaat untuk menjadi perantara memohon kepada Allah Azza Wa Jalla, dan itu adalah syirik akbar.
.
Jika mengatakan tidak diterima lantaran banyak dosa, sungguh, iblis saja yang dinyatakan kafir oleh Allah Azza Wa Jalla didengar doanya dan dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla doanya.
.
Berdoalah langsung kepada Allah Azza Wa Jalla. Dia Dzat Yang Maha Mendengar dan tidak membutuhkan perantara. Jangan dengarkan ahlu syirik berjubah Islam
.
Atha bin Yussuf

Shalat di Pekuburan yang Diperbolehkan

Bismillah,
Foto yang sarat fitnah ini sering digunakan sebagai amunisi untuk menyerang beberapa posting Dakwah Salafiyah, terutama ketika membahas perihal ziarah kubur yang terlarang/syirik, padahal jelas kuburan ini terlihat baru, bukan kuburan lama, dan amalan shalat di depan kuburan ini pernah di amalkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam, dengan tujuan adalah menshalatkan, bukan pemujaan (syirik) seperti dikira mereka yang memposting foto ini, Allahua’lam.

Sebuah hadis yang menceritakan tentang seorang perempuan berkulit hitam, yang biasa menyapu masjid di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.


َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi).
Nabi shallallahu’alaihiwasallam, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.”
” Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada sahabatnya.
Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang.
“Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya” (Muttafaqun ‘ alaihi).

(Siswo Kus)

Masalah Dzahirah, Khofiyah dan Istighosah kepada Pemuja Kubur

Masalah dzahirah adalah masalah yang sudah jelas dan diketahui oleh semua orang. Masalah seperti ini tidak lepas dari perkara yang disebut dengan ma’lum fiddin bidharurah. Contohnya seperti wajibnya sholat lima waktu, puasa ramadhan, hajji dsb. Haramnya minum arak, zina, mencuri dsb.

Sedangkan masalah khofiyah adalah masalah yang tersembunyi yang banyak orang tidak mengetahuinya. Hanya orang orang tertentu saja yang tahu.

Dalam masalah yang dzahirah tidak diterima padanya udzur kejahilan. Karena masalah tsb telah jelas kepada semua orang. Maka orang yang mengingkarinya otomatis kafir.

Namun…
Masalah masalah dzahirah atau juga perkara yang mu’lum fiddin bidharurah adalah masalah masalah yang bersifat relatif.
Semakin merebak kejahilan, semakin banyak kesamaran dalam masalah agama.
Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فكون الشيء معلوما من الدين ضرورة أمر إضافي ، فحديث العهد بالإسلام ، ومن نشأ ببادية بعيدة : قد لا يعلم هذا بالكلية ، فضلا عن كونه يعلمه بالضرورة . وكثير من العلماء يعلم بالضرورة أن النبي صلى الله عليه وسلم سجد للسهو ، وقضى بالدية على العاقلة ، وقضى أن الولد للفراش ، وغير ذلك مما يعلمه الخاصة بالضرورة ، وأكثر الناس لا يعلمه ألبتة

“Sesuatu dianggap ma’lum fiddin secara darurat adalah perkara yang bersifat relatif. Orang yang baru masuk islam dan orang yang tinggal di pedalaman terkadang tidak mengetahui masalah ini sama sekali. Apalagi menjadi perkara yang diketahui secara darurat. Dan banyak ulama yang mengetahui secara darurat bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam sujud sahwi, mewajibkan diyat atas ‘aqilah, memutuskan bahwa anak (zina) dinisbatkan kepada firosy dan sebagainya. Sedangkan kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Majmu Fatawa 13/118)

Sebuah contoh juga adalah istighotsah kepada selain Allah adalah syirik yang telah jelas keharamnnya. Namun untuk sebagian orang menjadi samar karena banyaknya syubhat.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

علم بالضرورة أنه لم يشرع لأمته أن تدعو أحدا من الأموات ، لا الأنبياء ولا الصالحين ولا غيرهم ، لا بلفظ الاستغاثة ولا يغيرها ، ولا بلفظ الاستعاذة ولا بغيرها، كما أنه لم يشرع لأمته السجود لميت ، ولا لغير ميت، ونحو ذلك، بل نعلم أنه نهى عن كل هذه الأمور، وأن ذلك من الشرك الذي حرمه الله تعالى ورسوله .
لكن لغلبة الجهل وقلة العلم بآثار الرسالة في كثير من المتأخرين : لم يمكن تكفيرهم بذلك ، حتى يتبين لهم ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم ، مما يخالفه.

“Telah diketahui secara dharurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya untuk berdoa kepada mayat. Baik mayat itu nabi atau orang salih. Baik dengan lafadz istigotsah atau lainnya. Juga lafadz isti’adzah dan lainnya. Sebagaimana juga Nabi tidak pernah mensyariatkan sujud kepada mayat atau selain mayat dan sebagainya. Bahkan Kita mengetahui bahwa beliau melarang perkara perkara itu semua. Dan bahwa itu termasuk kesyirikan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya.


Namun, karena merajalelanya kebodohan dan sedikitnya ilmu tentang risalah pada banyak orang orang belakangan, tidak mungkin untuk mengkafirkan mereka karena itu hingga menjadi jelas kepada mereka ajaran yang dibawa oleh Rasul Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dari ajaran yang menyelisihinya.”
(Ar Raddu ‘alal bakri 2/731)

Ustadz Badrusalam

Kalimat Toxic Pembatal Tauhid

Diantara kalimat toxic sejak jaman jahiliyah kuno hingga sekarang yang masih sering dilontarkan pelaku kesyirikan adalah : “ini hanya ikhtiar, takdirnya Allah yang tentukan”.


Ya memang begitu, banyak manusia terjerumus dalam kesyirikan bukan secara rububiyahnya, melainkan dalam hal al uluhiyah. Bahkan mungkin dia tahu itu kesyirikan, namun syahwatnya lah yang mengkaburkannya. Dan tetap Allah katakan mereka pelaku kesyirikan.


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
(QS. An Nisaa’ : 48)


Maka bersyukurlah jika kita masih mendapat taufiq Allah berupa aqidah yang benar serta keteguhan ilmu dan iman. Sungguh itu rizki yang begitu mahal.

Fahmi Nurul Akbar

Mekanisme Pasar dan Sebuah Kontradiksi

⛔Ketika tersebar kesyirikan dan kebid’ahan, mereka diam saja walau hak Allah dilanggar

⛔Ketika kaum wanita bertabarruj (keluar rumah dengan berhias/bersolek bahkan menanggalkan jilbab), mereka juga bungkam. Padahal ketika kaum muslimat rusak, akan rusak pula generasi kaum muslimin

⛔Ketika minuman keras dan narkotika tersebar luas, mereka juga menutup mata. Padahal berapa banyak kerusakan dan kemaksiatan yang akan muncul akibat alkohol dan zat adiktif

⛔Namun ketika harga barang dan sembako naik, mereka dengan segala argumennya akan turun ke jalan

Lupakah mereka bahwa naik dan turunnya harga barang merupakan ketentuan Allah Azza wa Jalla sesuai mekanisme pasar?
Tidak selalu karena kezhaliman pemegang kebijakan.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ ، سَعِّرْ لَنَا . فَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ

Dari Anas, ia berkata, “Telah naik harga barang pada era Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulallah, tetapkanlah harga barang untuk kami.” Lalu Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah adalah Rabb yang menetapkan harga, yang menahan (rizki), yang membentangkan (rizki) dan Maha Pemberi Rizki. Sesungguhnya aku berharap ketika aku berjumpa dengan Rabb-ku nanti, tanpa ada seorang pun dari kalian yang menuntut kepadaku lantaran kezaliman pada darah dan harta” (HR. Tirmizi, Bab Penetapan Harga, hadits no : 1235)

Ustadz Abu Razin Taufiq

Inti Kesyirikan Kaum Quraisy

Dahulu ketika kaum musyrikin Makkah diajak untuk mengucapkan ‘Laa ilaaha illa-llaah’, mereka menolak. Mereka menolak karena mereka tahu bahwa kalimat syahadat ini membawa pada konsekuensi yg mana mereka harus meninggalkan semua sesembahan dan berhala yg biasa mereka sembah di sekitar Makkah.

Dan (mereka) berkata: “Apakah kami akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kami demi seorang penyair gila?” [QS as-Saffat: 36]

Ironisnya sekarang, banyak yang mengucapkan syahadat tetapi tidak konsisten dengan persaksiannya itu, yaitu dengan tetap berharap berkah dari kuburan bahkan mahluk selevel kerbau, percaya kalung jimat dan keris sebagai pelindung dari bahaya, mendatangi dukun “orang pinter” untuk meramal nasib, yg semua itu intinya percaya kepada Allah tetapi masih melakukan kesyirikan.

Semoga kita tidak termasuk orang2 yg disebutkan dalam Al Quran:

“Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukanNya” [QS Yusuf: 106]

Juga, banyak muslimin malah melakukan pembatal keislaman dengan memperantarai doa melalui penghuni kubur, yang menjadi penyebab kesyirikan kaum kafir Quraisy sebagaimana disebutkan dalam Al Quran:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [Az-Zumar: 3]

Sungguh kita harus bersyukur atas hidayah yang Allah berikan, Allah lembutkan hati kita untuk memahami dan menerima ayat ini, sementara di luar sana bahkan ada tokoh agama yang kelakuannya mirip dengan musyrikin Quraisy: meminta-minta kepada penghuni kubur atau memperantarai doa melalui penghuni kubur.

Bahkan sebagian kaum muslimin saat ini lebih buruk dari kaum musyrikin zaman Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, yang mereka ketika ditimpa bencana atau kesulitan maka mereka meminta /berdo’a hanya semata kepada Allah dan mengesampingkan berhala-berhala.
Sedangkan sebagian kaum muslimin saat ini ketika berada dalam kesulitan, mereka malah meminta kepada para penghuni kubur.

1 Muharram,
Saatnya hijrah dari kesyirikan.

Jin Nasab (Part 9 – selesai)

Part 9 – Selesai

Sudah beberapa lama semenjak saya tulis Part 8. Akhirnya, saya tuliskan Part 9 ini sekaligus sebagai part penutup seri cerita ini.

Bersyukur kepada Allah ta’ala, setelah saya tulis cerita pada Part 8 sudah tidak ada lagi gangguan yang terjadi setelahnya. Namun, untuk mengantisipasi masalah psikologis anak-anak, saya membawa mereka ke psikiater. Alhamdulillah, dokter bilang anak-anak kami sehat-sehat.

Dokter menyarankan untuk mengganti seluruh tema perbincangan di rumah. “No more” cerita-cerita tentang jin. Kami disarankan untuk membuat topik dan suasana baru. Tujuannya agar anak tidak trauma.

Saya pun inisiatif untuk mengajak anak-anak liburan ke Bandung, lalu pulang kampung ke Bekasi (rumah saya), dan Kebumen (rumah istri). Saat pulang ke Bekasi dan Kebumen, saya sampaikan kepada keluarga untuk jangan bertanya-tanya tentang gangguan jin dan semisal. Anggap semua sudah ‘clear’ dan tidak pernah terjadi.

Sengaja kami liburan menggunakan transportasi yang disukai anak-anak. Mulai dari kereta api, sampai bis double decker. Intinya apapun itu yang bisa membuat anak-anak saya ceria kembali, akan saya lakukan. Sekolah online anak-anak pun tak liburkan semua. Biar mereka ceria dan bahagia dulu tanpa beban.

Alhamdulillah, kami kami bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ujian yang kami lalui membuat kami semakin bersyukur.

Dulu saat awal-awal gangguan terjadi, saya sangat emosional, sering menangis. Bahkan saat ditelepon orang tua pun saya menangis seperti anak kecil. Mungkin itu kali pertama orang tua saya melihat anak sulungnya menangis seperti itu. Saya gak pernah menangis di depan orang tua, apalagi sampai sesegukan.

Ditengah down-nya mental saya saat itu, saya banyak mendengar kabar musibah dan cobaan yang dirasakan teman dan kolega saya sendiri. Ada kawan saya yang diuji dengan sakit diabetes sampai harus suntik insulin setiap hari. Ada lagi kawan saya yang diuji dengan kebangkrutan.

Jika saya berada pada posisi kawan saya di atas, mungkin saya tidak mampu menanggungnya. Memang Allah itu sangat adil. DIA menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. So, bagaimana mungkin saya tidak bersyukur?

Saat awal-awal saya sekeluarga tinggal di tempat ustadz Fadlan, ada seorang pasien wanita pimpinan perusahaan. Ia disihir oleh rekan kerjanya sendiri karena sikapnya yang terlalu ‘lurus’, sangat anti korupsi. Jelas rekan kerjanya yang korup menjadi terusik, lantas mengirim sihir kepadanya.

Celakanya, pasien wanita ini tidak bisa membaca Qur’an sehingga mudah baginya terkena serangan sihir. Tidak ada pembentengan diri. Pasien wanita tersebut sudah puluhan kali diruqyah, tapi tak kunjung sembuh.

Melihat kejadian itu, seakan-akan saya sedang diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana serta pribadi yang lebih berhati-hati dalam bermuamalah dengan orang lain. Sebisa mungkin minimalisir konflik dengan orang lain yang berpotensi membuat hati orang terluka. Terlebih rekan kerja.

Mungkin saja kita berada pada posisi yang benar, namun kalo ada orang lain yang hasad atau tersinggung dengan sikap kita, bukan tidak mungkin mereka akan main sihir. Jika kita lalai dari dzikrullah, maka akan sangat mudah dukun menyerang dengan sihirnya.

Gangguan jin semakin menambah iman kami kepada Allah ta’ala. Eksistensi bangsa jin yang telah dikabarkan dalam Quran dan Hadits shahih pun terbukti. Kami juga semakin meyakini lemahnya gangguan jin dihadapan dzikrullah. Semakin membuktikan kebenaran Quran dan Haditst.

Memang setiap musibah itu selalu ada hikmahnya. Semoga rangkaian cerita yang sudah saya ceritakan sampai part 9 ini bermanfaat bagi yang membacanya serta bisa diambil hikmahnya.

Saya secara pribadi mohon maaf jika selama menuliskan cerita ini dan dalam membalas komentar ada kata-kata yang salah atau menyinggung. Semoga Allah ta’ala mengampuni dosa kita semua.

Selesai

Hendy Mustiko Aji

Jin Nasab (Part 8)

Part 8.

Setelah kejadian dialog dan meng-Islamkan jin-jin yang ada di tubuh anak kami. Alhamdulillah, gangguan yang berasal dari dalam relatif gak ada lagi.

Pernah sih beberapa kali bagian tubuh anak kami ada yg sakit. Namun, alhamdulillah setelah diruqyah sebentar langsung hilang sakitnya. Yang jauh lebih terlihat adalah gangguan dari luar.

Gangguan luar pertama adalah cakaran. Jadi tiba-tiba ada bekas cakaran di tangan dan kaki anak-anak kami. Dicakar ketika tidur maupun ketika sedang main-main. Beberapa ada yang tidak terlalu sakit, dan beberapa lagi kata anak kami cukup dalam sehingga cukup sakit.

Gangguan luar kedua adalah bau bangkai di ruang tamu. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba bau bangkai. Bau bangkainya tapi rada aneh. Biasanya bau bangkai itu semakin kesini semakin pekat menyengat. Tapi ini bau bangkainya sifatnya ‘light’.

Kalo kata istri saya seperti bau rendeman kain yang busuk, tapi busuknya ndak semenyengat bau bangkai pada umumnya. Dan juga ada tiga lalat ijo berterbangan di ruang tamu. Mungkin karena bau bangkai itu.

Akhirnya coba tak ruqyah membacakan Al-Baqarah Full dilanjut dengan menyipratkan bidara yang sudah dicampur garam. Alhamdulillah, setelah itu bau bangkainya hilang. Berarti memang bau bangkai itu berasal dari gangguan jin. Lalat ijo yang berterbangan pun tak pukul mati dengan menyebut nama Allah.

Ganggun luar berikutnya adalah gangguan yang menunjukkan penghinaan syaithon ini kepada al-Quran. Syaithon ini membuang Quran anak saya ke dalam kamar mandi, diceburin ke bak mandinya sampai basah.

Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali hingga seluruh Quran di rumah saya ‘habis’ karena semuanya dicemplungin ke bak di kamar mandi. Bisa dilihat di Gambar 1.

Bukan hanya Quran yang dihinakan, buku sekolah anak saya juga begitu. Diumpetin, dsobek, dibasahin hingga gak bisa dipakai. Mukena istri saya dibuang ke selokan di depan rumah. Alhamdulillah selokannya kering. Bisa dilihat di Gambar 2.

Karena seluruh Qur’an sudah habis, kami pun beli lagi sebanyak 4 Quran. Namun, lagi-lagi Quran baru yg dibaca anak saya dimasukkin lagi ke bak yang ada di kamar mandi. Kali ini surat al-Baqarahnya disobek habiss…. Bisa dilihat Gambar 3.

Kami hanya bisa beristighfar. Astaghfirullah.

Namun demikian kami gak mau menyerah begitu saja. Syaithon ini harus kami lawan. Kami memohon kepada Allah ta’ala yang maha perkasa agar menyegerakan adzab untuk syaithon ini karena penghinaan mereka kepada kalamullah berkali-kali.

Di hari Jum’at ini, kami memohon juga kepada pembaca untuk melaknat syaithon ini dan mendoakan agar syaithon ini disegerakan adzabnya. Aamiin..

Untuk mencegah syaithon mencemplungkan Quran kami ke kamar mandi lagi, akhirnya kami membeli plasti Zip. Jadi, setelah baca Quran harus langsung ditaro di plastik Zip, sehingga masih aman meskipun diceburkan ke bak mandi. Bisa dilihat di Gambar 4

Hal lain, kami pun juga mendisiplinkan untuk selalu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Sebelumnya, pintu kamar mandi ndk pernah tertutup rapat.

Setelah mencoba ikhtiar tersebut, alhamdulillah tidak ada lagi Quran yang diceburkan ke bak di kamar mandi. Darisitu kami mulai menduga bahwa syaithon ini tidak mampu memindahkan barang dari dan ke tempat yang terkunci rapat.

Akhirnya kami beli box plastik yang tutupnya bisa dikunci rapat untuk menyimpan Quran dan buku sekolah anak-anak. Semenjak itu, alhamdulillah sudah tidak ada lagi Quran yang hilang dan diceburkan ke bak di dalam kamar mandi.

Namun ternyata ada gangguan ‘luar’ lainnya. Yakni ketika wudhu, anak saya tiba-tiba telanjang bulat dan seluruh pakaiannya ada ada di dalam bak mandi di kamar mandi. Basah semua. Memang diluar nalar, tapi begitulah adanya. Kejadiannya kalo gak salah sudah dua kali.

Setelah itu, kami berikhtiar membeli smart CCTV yang bisa dipantau melalui smartphone. Alhamdulillah, setelah ada CCTV gangguan di atas sudah tidak pernah lagi terjadi. Saya juga gak tahu kenapa.

Sudah kurang lebih 1 bulan kami sekeluarga ruqyah mandiri dengan membaca Al-Baqarah full konsisten setiap hari. Alhamdulillah, kami merasakan progress yang sangat positif. Gangguan relatif sudah tidak ada, dan kami jadi dipaksa untuk melakukan kebiasaan baru. Anak saya juga jadi hafal beberapa lembar surat al-Baqarah karena dibaca terus setiap hari. Semoga Allah menghapus dosa-dosa kami dan menambahkan pahala untuk kami.

Sampai hari ini masih kami pantau terus gangguannya. Harapan kami semoga musnah semua syaithon kaafir penghina kalamullah itu.

Pada part berikutnya insya Allah akan saya ceritakan perkembangannya, khususnya setelah uyut anak kami meninggal dunia setelah di ruqyah kurang lebih 1 bulan sebelumnya.

Semoga part berikutnya adalah part terakhir. Aamiin.

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/05/31/jin-nasab-part-9-selesai/

Blog at WordPress.com.

Up ↑