Istri yang Menyembunyikan Suaminya

Ini kisah nyata yang kualami sendiri, aku adalah seorang jomblowati yang berteman ke sana-sini. Dan aku berteman dengan seorang ummahat, sudah hampir 3 tahun kenal, sering bertemu di majelis ilmu, pernah juga satu profesi, dan kadang kami kumpul-kumpul bersama akhwat lainnya.

Bagiku, ia sosok yang mengagumkan dalam seni menyembunyikan kehidupan rumah tangganya. Umur rumah tangganya melebihi umur pertemanan kami. Namun, tak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok suaminya, tak pernah ia bercerita panjang lebar tentang keluarga kecilnya. Baik itu keromantisan ataupula sebuah pertengkaran, tak kudapati ia sebuti.

Jangankan untuk menge-tag akun suaminya di sosial media, menyebutkan nama suaminya di depan kami(para teman akhwatnya) saja tidak pernah ia lakukan.

Betapa ia begitu menjaga, apa yang memang seharusnya dijaga. Begitu besar rasa cemburunya, hingga tak ada celah yang ia tampakkan dari kehidupan rumah tangganya. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang tahu kehidupan keluarganya. Bukan teman pada umumnya, bukan pula dibeberkan di sosial media yang siapa saja bisa mengetahuinya.

Untukmu, wahai ummahat yang begitu menjaga kehidupan rumah tangga, aku benar-benar banyak belajar darimu. Seni menjaga yang sangat besar manfaatnya, apalagi buat para jomblo yang sering menghalu tentang indahnya kehidupan berumah tangga, disebabkan bersilewernya pasangan-pasangan yang memamerkan keromantisannya di sosial media.

Darimu, aku mengerti hakikat cemburu yang sesungguhnya. Bahwa suamimu adalah milikmu, cukup kau yang tahu, cukup menjadi privasimu.

Semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan keturunanmu.
Aku kagum dengan caramu menjaga kehidupan berumah tangga.

Jejak Pena | @tintadya
telegram | t.me/tintadya15

********************

Wahai kalian para suami, hendaklah kalian berlaku serupa. Apalagi kalian terancam dengan predikat lelaki dayyuts yang dengan itu diharamkan atasnya Surga.

Untuk Para Suami

Berkata Al-Hafidzh ‘Amru bin Qois Al-Malaai rahimahullah.

“Sesungguhnya seorang wanita benar² akan memusuhi suaminya pada Hari Kiamat disisi Rabb-nya kemudian dia mengatakan (sembari mengadukan perihal suaminya kepada Rabb-nya);

“Dahulu dia tidak mengajariku adab, dan tidak mengajariku apapun(dari perkara agama), dahulu dia hanya datang membawakanku roti dari pasar (yakni dia hanya sibuk memenuhi kebutuhan duniawinya semata).”

[Tafsir As-Sam’aany, cetakan Daarul Wathan (5/475)]

*****

Sudahkah kita para suami mengajarkan tauhid, adab, tazkiyatun nafs dan fiqh – semampu kita sembari terus belajar?

Ketaatan kepada Suami Lebih Tinggi Kedudukannya Daripada kepada Orang Tua

Kedudukan suami lebih tinggi daripada ustadz, ibu. Kedudukan suami lebih tinggi daripada guru. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kyai. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kedua orang tua.

Maka ketaatan kepada suami lebih tinggi daripada ketaatan kepada orang tua. Di sini saya sampaikan. Ini ijma ulama.

Setelah seorang wanita menikah maka dia harus taat kepada suaminya lebih dari kepada kedua orang tuanya. Kenapa bisa demikian ustadz ??

Bukankah yang melahirkan orang tuanya. Yang merawat ia sejak kecil orang tuanya. Sudah puluhan tahun dia rawat sang putri.
20 tahun kemudian dinikahi sama orang lain ketaatannya kemudian berubah harus kepada suaminya.

Memang demikian. Demikian. Tetapi syariat punya pandangan yang lebih daripada itu.

Ustadz Firanda Andirja Hafidzhahullah.
—selesai—

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita – setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260)

“Nglaruhi”

[Bismillah]

Seorang istri jangan gemar “nglaruhi” apa yang dilakukan suami.

(“Nglaruhi” adalah istilah Jawa yang mengandung makna menegur yang bercampur dengan unsur protes, marah, dan ikut campur).

Jangan suami apa dikit dilaruhi, apa dikit dilaruhi. Suami pulang terlambat dilaruhi, main ke rumah teman dilaruhi, beli apa dilaruhi, makan dimana dilaruhi, segala macam polah suami dilaruhi.

Istri yang hobi nglaruhi suami, diakui atau tidak, merupakan salah satu sebab terbesar seringnya timbul percekcokan serta iklim rumahtangga yang tidak harmonis. Apalagi jika suami tidak punya “self control” yang baik, kemudian membalas laruhan istri dengan kemarahan. Pecah!

Sadarilah, aspek fithrah, ditambah posisinya sebagai qowwam keluarga, menjadikan laki-laki tidak suka dilaruh-laruhi oleh istri, tidak mau diatur-atur, serba terkekang, mau berbuat ini itu serba terbatas, menjadikan jiwanya tidak nyaman, hingga bisa merusak “mood” kepemimpinannya. Jika sudah sampai di titik ini, entahlah, keluarga yang bagaimana yang hendak diperjuangkan dunia akhirat.

Biarkanlah suami melakukan apa saja yang dia mau. Selama bukan perkara dosa dan maksiat, selama tugas dan tanggungjawab lahir batin terhadap istri & anak telah tertunaikan dengan baik, selama tidak memadharatkan kehidupan berkeluarga; biarkanlah dia dengan apa yang dia inginkan. Dia mau futsal sama temannya, oke. Dia mau beli baju baru, monggo. Dia mau wisata keluar kota, silahkan. Dia mau nongkrong sama kawan-kawannya, nggak masalah. Di hari libur kerja dia lagi pengen tidur tiduran saja di rumah, boleh.

Yakinlah, istri yang tidak suka nglaruhi suami, akan menjadikan suaminya nyaman menjalani hidup bersamanya. Hati menjadi tenang. Keluargapun terasa bahagia dan harmonis, biidznillah.

Bagi suami pemilik istri yang nggak suka nglaruhi, banyak banyaklah bersyukur; itu adalah salah satu modal besar kebahagiaan dalam hidup Anda. Jaga dan cintailah selalu. 😊

Barakallahu fiikum. 🤝

Ustadz Ammi Ahmad

Nasihat Syaikhul Islam Kepada Para Suami

Cintailah istrimu sewajarnya, jangan terlalu sering mengucapkan kata-kata
romantis terhadapnya apalagi jika sampai mengatakan bahwa istrinya tak tergantikan, karena yang demikian hanya akan membelengukan hati sehingga hatipun tertawan kepada istri, akhirnya istrinya benar-benar menguasainya, mengaturnya sedemikian rupa, dan ia menjadi budak sang istri. ‘iyaadzan billah

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahmatullah ‘alaihi berujar :

فالرجل إذا تعلق قلبه بامرأة ولو كانت مباحة له يبقى قلبه أسيرا لها

“Seorang pria apabila hatinya telah tertambat pada seorang wanita walaupun wanita tersebut adalah halal baginya (istinya-pent), maka jadilah hatinya tertawan oleh wanita tersebut”

Asy-syaikh Shalih Al-Fauzan mengomentari mengapa ia menjadi tawanan bagi istrinya tadi :

يلتمس رضاها و يجتنب ما يسخطها, و في ذلك له و عبودية لها بحيث ” تحكم فيه و تتصرف يما تريد

“Sang suami akan terus menggapai keridhaan istrinya serta berupaya menjauhi apa yang akan membuat istrinya marah. Maka sikap demikian adalah kehinaan bagi sang suami, dan juga bentuk peribadatan kepada istrinya, dimana sang istri akan menguasai dan mengatur suami sesuai dengan apa yang ia inginkan”

Ibnu Taimiyah melanjutkan,

تحكم و تتصرف بما تريد، و هو في الظاهر سيدها لأنه زوجها

“Maka sang istri akan menguasainya serta mengatur sang suami sesuai dengan apa yang ia kehendaki, padahal secara lahiriah ia adalah tuan dari wanita tersebut karena ia adalah suaminya”

Syaikh Al-Fauzan menjelaskan makna diatas :

لكنه في الباطن عبد لها، لأنه متعلق قلبه بها، يراقب طاعتها وما تريد و يحذر من إغضابها

“Namun hakikatnya sang suami adalah budak istrinya, karena hatinya bertumpu kepadanya. Ia senantiasa mengawasi dirinya untuk tetap taat kepada istrinya dan kepada apa yang diinginkan istrinya, serta berhati-hati dari hal-hal yang akan membuat istrinya marah”

Padahal Nabi Yusuf ‘alaihis Salam pernah berdoa kepada Allah, sebagaimana firman-Nya :

وإلا تصرف عني كيدهن أصب إليهن و أكن من الجاهلين

“Dan Jika Engkau tidak memalingkan aku dari tipu daya mereka (wanita yang menggoda Yusuf-pent) maka aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh”

Maknanya adalah : Aku condong kepada mereka dan mencari keridhaan mereka.

Syaikhul Islam kembali berujar :

في الحقيقة هو أسيرها و مملوكها لا سيما إذا درت بفقره إليها، و عشقه لها

“Akan tetapi hakikatnya suami tersebut adalah tawanan dan budak istrinya, apalagi jika istrinya mengetahui bahwa suaminya sangat membutuhkan dan merindukannya”

Syaikh Al-Fauzan kembali menjelaskan :

فإنها تتسلط عليه إذا علمت أنه يطمع فيها و أنه يحبها، فينبغي له ألا يظهر لها ذلك

“Apabila sang istri mengetahui bahwa suaminya sangat mendambakan dan mencintai istrinya, maka istrinya akan menguasainya. Oleh karena itu sudah sepatutnya bagi sang suami untuk tidak (terlalu sering) menampakkan kecintaanya kepada istrinya”

Tertawannya qalbu, lebih mengerikan daripada tertawannya badan. Diperbudaknya qalbu, lebih dahsyat dan mengerikan daripada diperbudaknya badan. Tertawannya badan hanya terbelenggu oleh besi atau tali, akan tetapi tertawannya qalbu terbelenggu oleh cinta dan ini jauh lebih mengerikan daripada besi dan tali sekalipun.

Tidakkah anda mengingat firman Allah Ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).”
[Al-Baqarah: 165]

Dirangkum oleh seorang suami dari kitab Syarh Al-‘Ubudiyyah

Layangan Putus

Sepasang suami istri bercerai, kemudian si istri curhat di sosmed, membuka aib mantan suaminya, bolehkah? Jawabnya ngga boleh, ini ghibah, orang yg nimbrung di status itu, kasih like, kasih komentar, ikut terkena dosanya. Seorang wanita, tidak boleh membuka aib mantan suaminya, begitu juga seorang pria, tidak boleh membuka aib mantan istrinya.

Saudariku, .. kalau kau merasa tersakiti maka cukuplah Allah sebagai tempatmu mengadu dan berkeluh kesah .. Jangan balas kebencian dengan kebencian, semoga kelapangan hati menghadapi buruknya perlakuan mantan suamimu dulu menjadi penghapus dosa²mu selama bermua’amalah dengannya.

Bukanlah kebahagiaan membalas setiap perbuatan yang tidak menyenangkan, namun kebahagiaan itu adalah ketika diperlakukan tidak menyenangkan oleh seseorang, lalu kita jadikan hal tersebut sebagai tangga untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, karena do’a orang yang dalam keadaan terzhalimi akan didengarkan oleh Allah tanpa pandang bulu.

Faishal Abu Ibrahim

Titik Keutamaan dan Titik Rawan Suami dan Istri

[Bismillah]

Di mata syariat, baik suami maupun istri, sama-sama memiliki titik keutamaan dan titik rawan. Titik keutamaan bisa menjadi jalan masuk surga, titik rawan akan menjadi sebab masuk neraka.

Oleh sebab itu, tidak sepatutnya suami istri “eren erenan” (saling iri) terhadap pasangannya.

“Iya, kamu enak jadi istri cuma bla bla bla…”
“Kamu sebagai suami lebih enak, hanya bla bla bla…”

Titik keutamaan suami, misalnya, nafkah yang diberikan untuk keluarganya terhitung sedekah yang paling utama. Bahkan, setiap suap yang dia suapkan pada istrinya bisa bernilai pahala sedekah. Juga, seandainya suami meninggal dalam kondisi sedang mencari nafkah, bisa terhitung sebagai pahala mati fii sabilillah. Masyaallah.

Sebaliknya, titik rawan suami, diantaranya, adalah dayyuts. Jika dia mengetahui istri dan anaknya berbuat dosa, kemudian dia dengan sengaja membiarkannya tanpa udzur syar’i, maka kelak di hadapan Allah dia turut mempertanggungjawabkannya. Sungguh, titik ini rawan sekali.

Dari pihak istri, titik keutamaannya, salah satunya jika dia telah melaksanakan kewajiban rumahtangga dengan baik, dia menjaga sholat lima waktu, memelihara kehormatan, serta tidak mendurhakai suami, maka kelak dia bisa memasuki surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki. Indah, bukan?

Namun, titik rawannya, diantaranya jika dia berani mendurhakai suami dalam situasi kondisi yang syariat tidak membenarkannya, dan suami tidak memaafkannya, itu sudah cukup membuatnya terancam dengan siksa neraka. Wajib bagi wanita mewaspadai titik rawan ini.

Oleh karenanya, hentikan segala bentuk iri hati atas peran pasangannya. Tidak ada yang 100% enak, tidak pula ada yang sepenuhnya tidak enak. Peran apapun dalam rumahtangga hakikatnya adalah ujian dari Allah, agar suami istri saling bekerjasama dan bersinergi untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Wallahul Muwaffiq. 😊🤝

Ustadz Ammi Ahmad

Dosa tidak Menghapus Hak Suami

Kesalahan yang ada pada suami tidak otomatis hilang hak nya untuk didengar dan dita’ati oleh istrinya. Kecuali jika kesalahan yang membuat suami keluar dari Islam.
Suami adalah Pemimpin dan wajib dita’ati juga didengar.
.
Ketika ada yang menjelaskan bahwa suami itu wajib didengar dan dita’ati, bukan berarti yang menjelaskan itu sedang mensucikan sosok seorang suami. Tidak sama sekali, dan yang pasti setiap pemimpin itu pasti punya kesalahan.
.
NB:

  • sedikit tapi semoga bisa dipahami.
  • saat suami atau pemimpinmu punya kesalahan jangan disebarkan di FB
  • aib suami atau pemimpinmu jangan dicari-cari itu namanya tajassus dan haram.

(La Ode Abu Hanifa)

Blog at WordPress.com.

Up ↑