Tentang Shalawat (2)

Para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam itu orang Arab dan fasih berbahasa Arab

Selain fasih dalam bahasa Arab, para sahabat adalah orang-orang terbaik pilihan Allah taala dan murid dari Nabi shalallahu alaihi wasallam

Namun demikian, mereka bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam bagaimana cara bershalawat

“Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat” (Muttafaqun alaihi)

Ajaib nya, hari ini ada yang pas-pasan dalam bahasa Arab namun berani bikin-bikin sholawat sendiri dan tentunya orang-orang ini tidak bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Orang-orang yang bukan orang terbaik dan bukan murid Nabi shalallahu alaihi wasallam, mereka masuk surga atau neraka nya saja masih rahasia Allah taala.

Seandainya bikin-bikin sholawat sendiri itu baik maka pasti para sahabat radhiyallahu’anhum Ajma’in lah yang pertama kali bikin-bikin sholawat

Karena dalam kitab tafsir Ibnu Katsir dikatakan:

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

(Ust La Ode Abu Hanifa)

Tentang Shalawat

Bershalawat di hari jumat bisa diucapkan secara lirih dgn membaca bacaan² shalawat yg teksnya ada dalam hadits² shahih, bisa sambil bekerja, berkendara atau lainnya.

Bershalawat itu amalan lisan dan amalan hati. Jadi, kalau sekedar ngedengerin lagu² nasyid sabyan, maher zain dan yg sejenisnya, itu ngga masuk dlm kategori bershalawat yg dimaksud oleh agama, itu mah dengerin musik namanya, bukan bershalawat.

Bershalawat tidak perlu dinyanyikan apalagi pakai musik, kita bukan umat Nashrani yg cara beribadahnya dengan nyanyi² lagu rohani, kata Nabi ﷺ

من تشبه بقوم فهو منهم

Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dr mereka
(HR. Abu Daud. Shahih)

Faishal Abu Ibrahim

“Shalawat” Bid’ah bahkan Syirik

Rangkuman “shalawat-shalawat” bid’ah, bahkan mengandung kesyirikan. Shalawat-shalawat yang tidak ada contohnya dari Nabi.

(Rincian silakan dibaca pada link-link di bawah).

  1. Shalawat Nariyah
    “…kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik…”
    Syair di atas jelas-jelas mempersekutukan Allah dengan RasulNya. Hanya Allah yang dapat melepaskan seseorang dari kesulitan dan menunaikan hajat-hajat hidupnya. Terlebih Rasulullah telah wafat. Meminta kepada seseorang yang sudah meninggal adalah syirik, terlebih untuk hal-hal yang hanya Allah saja yang dapat mengabulkannya.

  2. Shalawat Badar
    “….Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah…”
    Hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
    Bertawasul dengan Nabi hanya bisa dilakukan dengan doa-doa Beliau saat masih hidup dan apa-apa dari fisik Beliau.
    Adapun bertawasul dengan Ahlul Badar tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan (karena Beliau telah wafat).
    Selain itu, tidak ada penjelasan yang shahih bahwa Thaha dan Yasin adalah nama lain dari Rasulullah. Dengan demikian ini termasuk mengada-ada.

  3. Qasidah Burdah
    “…Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
    Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta…”
    Ini adalah kalimat bathil karena “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)”
    “Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya.
    Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya” – yang dimaksud di sini adalah makam Nabi.
    Tidak diragukan lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.
    “…Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya..”
    Ini adalah kalimat syirik karena bersumpah dengan nama selain Allah.
    “…Aku tidak memiliki pelindung wahai Rasul termulia selain dirimu di kala datangnya petaka…”
    Ini adalah kalimat syirik, karena meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
    “…Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena. Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya…”
    Ini adalah kalimat bathil, karena Rasulullah tidak tahu isi Lauhul Mahfudz kecuali sedikit yang Allah wahyukan kepadanya. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)”.
    Kalimat kedua juga bathil, karena “Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)”

  4. Barzanji
    Ditulis oleh seorang penganut paham tasawwuf, Ja’far al-Barjanzi.
    “…Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir
    Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)”
    Ini adalah syair syirik, karena hanya Allah yang dapat menjadi penolong, pelindung, dan tempat beristighosah.
    “…Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang..”
    Ini adalah kalimat bathil. Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir secara fisik? Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya saja.
    Penulis kitab Barzanji menyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.

    Padahal;
    Bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shalallahu’alahisasalam bersabda “Dia berada di neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka”. (HR. Muslim dalam shahihnya (348) dan Abu Daud dalam sunannya (4718))
    Allahul musta’an.

  5. “Shalawat-shalawat” lain yang dirincikan dalam artikel sumber pada link di bawah


    Sumber:

    1. https://almanhaj.or.id/2669-pengakuan-cinta-rasul.html

    2. https://muslim.or.id/54-shalawat-nariyah.html

    3. https://almanhaj.or.id/2583-barzanji-kitab-induk-peringatan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html?fbclid=IwAR0-vdFgyTUFRR-F9DridE0KbfqPlwhYKL7Y0iQbWxsNIIv7COMCcRyXxrU

    4. https://www.nahimunkar.org/daftar-sholawat-sholawat-bidah-tersebar-masyarakat-isinya-kebanyakan-mengandung-makna-kesyirikan-datang-hadits-hadits-dhoif-lemah/?fbclid=IwAR1BE6cZaIc_V73BmO1a3yxRmj1_G7dsX0otzA7_JZOyaWuowRhtPj_DEV0

    5. https://muslimafiyah.com/meminta-syafaat-nabi-kepada-allah-bukan-meminta-kepada-nabi.html?fbclid=IwAR1zPQF09nZhU7ZjEeIrVGHkr-xcNdJFFOcP69fEptPbUKc1dOw2pB1s-2A

Blog at WordPress.com.

Up ↑