Tidak Ada Hijrah kecuali Menjadi Seorang Salaf-y

Tidak ada hijrah kecuali kembali kepada bagaimana berislamnya generasi salaf, yaitu para Shahabat Rasulullah radhiyallahu anhum para tabi’in dan tabi’it tabi’in, karena mereka orang-orang yang sudah Nabi telah sebutkan sebagai generasi terbaik.
Mereka, para Shahabat yang Allah telah ridha atas mereka dan telah dijamin masuk surga. Bukan kemudian malah berhijrah ke firqah-firqah dan pemahaman sufi /tasawuf, khawarij dan takfiri, mu’tazilah dan jahmiyah, asy’ariyah dan maturidiyah dan filsafat.

Tidak ada hijrah kecuali menjadi seorang yang meneladani dan menimbang dirinya kepada salaf, kecuali memang seseorang ingin mampir ke neraka dulu.

Na’udzubillahi min dzaalik.

Kami Adalah Umat Pertengahan

[Bismillah]

Prinsip kami tidak pernah berubah. Terhadap urusan politik dan pemerintahan, kami tidak terlalu nge-hype berekspektasi tinggi, dan tidak pula terlalu under-estimate. Biasa-biasa saja.

Ingin nge-hype berekspektasi tinggi, kami sadar bahwa politik di negeri ini tidak sesuai dengan ruh syariat Islam. Pagi lawan sore kawan. Siang musuh malam sekutu. Hari ini bertarung besok bergabung. Penuh intrik dan ketidak pastian.

Ingin terlalu under-estimate, hanya akan menyebabkan kurangnya rasa syukur dan hormat; kemudian gemar mencari-cari dosa dan kesalahan pemimpin, untuk diumbar serta dijadikan bahan cacian olokan; sedangkan manhaj Islam melarang yang demikian.

Jadi ya…..biasa biasa saja.

Terhadap pejabat pemerintahan, kami tidak terlalu memuji dan membela membabi buta; tidak pula mencaci atau merendahkannya.

Kami tidak pernah ikut heboh dan larut dengan pemberitaan politik apapun. Apakah itu berarti kami tidak peduli akan nasib bangsa dan negara?

Pertanyaan balik:
Apakah sikap peduli harus diwujudkan dengan menghabiskan waktu dan tenaga dengan politik yang bukan bidang kita?

Diam bukan berarti tidak peduli. Dunia terus berputar, silih berganti. Kami hanya berusaha menyikapi persoalan apapun sesuai kapasitas yang diajarkan oleh agama, diiringi doa dan keyakinan akan pertolongan-Nya.

—Shobahul khoir—

(Ust Ammi Ahmad)

Kalau Ahli Bid’ah Jadi Presiden

Salafi sudah teruji dengan tetap taat pada presiden yang dulunya mereka kampanyekan agar tidak terpilih. Mereka tetap taat dan tidak menjelek-jelekkan pemimpinnya.

Kita tidaklah seperti mereka para pengikut barisan sakit hati yang ketika capres yang diusungnya kalah, mereka lalu menghabiskan 5 tahun dari umur mereka untuk tajassus, ghibah, dan provokasi.

Jadi, kalau ada penyeru kebid’ahan yang jadi penguasa, maka imam kita, Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- pun telah mengalaminya, dan beliau pun telah memberi teladan dalam bersikap…

Ibnu Taimiyyah bertutur:

“Imam Ahmad tetap shalat dibelakang Jahmiyah yang mendakwahkan pemikiran mereka, yang menguji dan menyiksa orang-orang yang menyelisihi mereka dengan siksa yang berat.

Beliau dan yang semisal beliau tidak mengkafirkan mereka, bahkan beliau masih meyakini keimanan dan kepemimpinan mereka. Beliau mendoakan mereka dan shalat, haji dan berjihad di belakang mereka. Beliau juga melarang memberontak kepada mereka, sebagaimana pendapat para imam selain beliau.

Beliau mengingkari perkataan batil yang diada-adakan tersebut, yang merupakan kekafiran besar, meskipun mereka tidak mengetahui bahwa hal tersebut kufur. Beliau tetap mengingkari dan berjuang untuk membantah ucapan tersebut sesuai dengan kemampuan.

Beliau menggabungkan antara ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menghidupkan Sunnah dan agama dan juga mengingkari bid’ah Jahmiyah yang menyimpang, dengan sekaligus memelihara hak-hak kaum muslimin baik pemimpin maupun rakyatnya, meskipun mereka orang-orang bodoh, mubtadi’, zhalim dan fasik.”

[Majmu’ Fatawa 7/508]

Insyaallah kita pun bisa seperti Imam Ahmad yang menggabungkan antara keduanya. Di samping bahwa keadaan yang kita alami masih lebih baik daripada keadaan beliau.

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Ahlus Sunnah, Merekalah yang Paling Peduli Darah Kaum Muslimin

Ahlus Sunnah itu sayang dengan darah kaum muslimin. Meskipun telah tertumpah darah, tapi berusaha agar darah yang tertumpah tidak semakin banyak.

Abul Harits bercerita, “Aku bertanya ke Abu Abdillah (Imam Ahmad) mengenai perkara yang terjadi di Baghdad, dan bahwa sekelompok orang bertekad ingin memberontak.”. Aku tanyakan padanya: Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang mereka yang mau memberontak?”

Maka Imam Ahmad pun mengingkarinya dan berkata:

“Subhanallah! Darah.. Darah.. Aku tidak setuju! Dan aku tidak pula memerintahkan demikian! Sabar di atas apa yang saat ini kita alami, lebih baik daripada fitnah tertumpahnya darah, dan dijarahnya harta benda, dan terlanggarnya kehormatan kaum muslimin.. Apakah engkau tidak tahu apa yang dialami manusia di masa lampau ketika masa-masa fitnah (pemberontakan)?

Maka Abul Harits pun bertanya: “Bukankah saat ini kita juga sedang dalam masa fitnah wahai Abu Abdillah?”

Imam Ahmad menjawab:

“Meskipun itu fitnah, tapi itu fitnah khusus (terbatas pada sebagian orang).. Jika sudah terjadi pemberontakan, maka fitnah itu akan meluas (meliputi semua orang), dan jalan-jalan akan terputus.. Sabar di atas hal ini lebih baik, yang penting agamamu selamat..

Maka Al Harits pun menyimpulkan bahwa beliau betul-betul mengingkari rencana pemberontakan ini, dengan perkataan beliau: “Darah.. darah.. Aku tidak setuju dan aku tidak memerintahkannya”

[Selesai nukilan]

Artinya, jangan sampai Engkau berbicara menuntut darah yang tertumpah, tapi perilakumu ternyata memicu pertumpahan darah yang lebih besar disebabkan kata-katamu yang provokatif.

Semua harus berdasarkan keyakinan, kepastian, ilmu dan bashirah, bukan emosi semata dan ketergesa-gesaan.

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Blog at WordPress.com.

Up ↑