Larangan dan Yang Menyertainya

Setiap larangan pada umumnya ada larangan lain yang menyertainya.

Minum khamr terlarang, dan terlarang pula menjualnya, menuangkannya, membuatkannya, dan lain-lain.

Makan riba terlarang, dan terlarang pula memberinya, menjadi penulis dan saksinya.

Ghibah terlarang, dan terlarang pula menyimak ghibah.

Namimah terlarang, dan terlarang pula menuruti orang yang melakukannya. Allah Ta’ala berfirman:

ولا تطع كل حلاف مهين… هماز مشاء بنميم

“Jangan kamu turuti setiap pengumbar sumpah yang hina, yang kesana kemari mengadu domba” (QS Al Qalam: 10-11).

Maka di antara yang disyariatkan ketika ada orang yang menyebar provokasi adalah:

  1. Tidak boleh langsung mempercayainya.
  2. Tidak bertindak berdasarkan provokasinya.
  3. Menegur dan memperingatkannya dengan keras.

Praktek ini banyak dilakukan oleh para salaf, seperti Umar bin Abdul Aziz, Wahb bin Munabbih, dll.

Sehingga kalau di beranda Anda ada yang share berita yang provokatif, maka skip, lewati saja.

Kalau sudah jadi hobi dan susah dinasehati, unfollow saja kalau perlu unfriend. Biarkan dia bersama sesamanya dan jangan jadikan diri Anda melanggar larangan Allah dengan menuruti provokasinya.

Kalau Anda malah menaruh jempol, apalagi komentar tanpa pengingkaran, maka artinya Anda berserikat dengannya dalam dosa. Karena artinya Anda menyetujui, dan membuatnya semakin tersebar.

Na’udzubillah.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Saham Dalam Tertumpahnya Darah Seorang Muslim

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berwasiat:

من استطاع أن لا يُحال بينه وبين الجنة بملء كفٍّ من دم هراقه فليفعل

“Siapa yang mampu untuk tidak menjadikan penghalang antara dirinya dan surga dengan tidak menumpahkan darah walaupun hanya seluas telapak tangan, hendaknya ia lakukan” [HR Al Bukhari]

Ustadz Aris Munandar -hafizhahullah- menjelaskan makna hadits adalah jangan sampai kita punya saham dalam tertumpahnya darah seorang muslim. Jadi maknanya tidak mesti kita yang membunuh, tapi cukup punya saham dalam pertumpahan darah bisa menghalangi kita ke surga….bagaimana bisa?

Salah satunya dengan lisan, yaitu meng-GHIBAH penguasa /pemerintah dalam rangka provokasi, yang sekarang ini sering dilakukan lewat update status di Facebook.


Jika terjadi gejolak, pemberontakan dan tertumpahnya darah puluhan atau ratusan kaum muslimin, maka si provokator ini punya saham di dalamnya, walaupun hanya dengan SATU status saja yang provokatif dimana pengaruhnya mungkin tidak banyak.

Saya sarankan bagi Anda, selain tidak mengapdet status provokatif dan menjelek-jelekkan penguasa, juga jangan menyumbang jempol ke status semacam itu meskipun itu dilakukan orang yang dikenal sebagai ustadz atau orang berilmu. Karena bisa jadi seperti itu karena gemas sehingga lupa aturan yang telah digariskan agama.
Sehingga kita tidak punya saham walaupun hanya satu klik yang membuat status itu populer, jika -na’udzubillah- nanti terjadi pertumpahan darah.

Silakan download rekaman kajiannya di web radiomuslim, dari pembahasan kitab Afatul Lisan karya Syaikh Sa’id bin Ali Al Qahthani, penulis kitab Hishnul Muslim yang monumental.

Ust Ristiyan Ragil Putradianto

Blog at WordPress.com.

Up ↑