Pandemi, Prokes dan Tawakkal

[Bismillah]

I’tiqad yang selalu kami pegang adalah:

“Tidak ada penyakit menular kecuali atas kehendak dan izin Allah”.

Itulah sebabnya, kami pribadi tidak pernah memastikan, bahwa orang yang disiplin prokes pasti tidak akan tertular wabah; sementara yang abai prokes pasti akan tertular. Shaf renggang pasti aman dari penularan virus, sedangkan shaf rapat pasti rentan terpapar virus.

Tidak. Kami tidak menyimpan keyakinan saklek semacam itu. Taat prokes atau abai, shaf renggang atau rapat, semuanya sama berpeluang terkena atau tidak terkena paparan pandemi. Semua atas kehendak dan izin dari Allah Rabb semesta.

Makanya, kami nggak heran, ada orang sudah ketat banget menerapkan prokes, kok ya tetap saja terpapar virus. Sebaliknya, ada orang yang begitu “santai” terhadap prokes, bahkan seolah tak percaya adanya wabah virus, malah aman aman saja. Ini semua kembali pada taqdir Allah semata.

Tapi…..
Ada satu hal yang perlu dicatat, bahwa manzilah kita sebagai hamba adalah WAJIB menempuh sebab-sebab penjagaan jiwa, baik secara syar’i maupun kauni. Kelalaian yang disengaja serta peremehan akan sebab-sebab tersebut, hingga menyebabkan kemadharatan dan ‘kebinasaan’ jiwa (kematian) bisa jadi termasuk perkara yang terancam dosa.

Sebab syar’i misalnya dengan memperbanyak doa dan pengharapan kepada Allah; sebab kauni tidak lain adalah mengikuti arahan para ahli di bidangnya, yang tak lain adalah segala ragam prokes itu sendiri.

Lailatul khoir was sa’adah. 🤝

(Ustadz Ammi Ahmad)

Blog at WordPress.com.

Up ↑