Sikap Tengah Terhadap Pemimpin

Oleh: Ust Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi حفظه الله تعالى

Ahli Sunnah wal Jama’ah dalam sikap mereka terhadap pemerintah antara dua kelompok:

  1. Kelompok yang berlebihan2 kepada pemerintah, mengkultuskan mereka, mendukung kedzaliman mereka, membela mati2-an perbuatan mereka. Ini sikap ghuluw yg terlarang.
  2. Kelompok yang merendahkan para pemimpin, mengkafirkan, menyebarkan aib di muka umum, dan mengkudeta mereka. Ini adalah sikap yang keliru juga.

Ciri khas Ahli Sunnah wal Jamaah adalah wasath (pertengahan) antara dua sikap tersebut: mereka menghormati pemimpin, taat padanya, sabar atas kedzaliman mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun mereka juga bukan penjilat dan bukan pendukung kecurangan dan ketidakadilan pemerintah.

Oleh karena itu, termasuk kesalahan jika kita membela kecurangan & kedzaliman pemimpin, sebagaimana termasuk kesalahan memprovokasi rakyat untuk aksi² yang beresiko kerusakan bahkan hilangnya nyawa.

Saudaraku… Tetaplah tegar di atas manhaj wasath ini, jangan menjadi bagian dari dua kelompok di atas, terutama di saat fitnah, jangan plin plan sehingga terjerumus dalam jeratan Syetan.

Wajib dakwah semampunya, mari sebarkan ilmu & kebaikan, saling ingat mengingat sesama insan. Nabi ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

══ ❁✿❁ ══

Jangan lupa follow medsos official ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi,

Web: abiubaidah.com
Facebook: FB.com/YusufAbuUbaidah
YouTube : bit.ly/youtubeYAU
Instagram: bit.ly/YAUig
Twit: twitter.com/YusufAbuUbaidah
Telegram: t.me/ilmu20
Ebook: abiubaidah.com/ebook

Mengapa Masih Tidak Mau Mendoakan Kebaikan Atas Pemimpin?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan:

“Siapa yang tidak mendoakan kebaikan untuk penguasa, maka pada dirinya ada bid’ah yang jelek, yaitu bid’ah khawarij, yang memberontak kepada para penguasa.

Kalau dirimu menginginkan kebaikan, untuk Allah, untuk kitab-Nya, rasul-Nya, serta para pemimpin muslimin dan rakyatnya, maka mestinya engkau doakan kebaikan ke penguasa. Karena jika mereka baik, maka rakyat akan mendapatkan kebaikan.

Adapun sebagian orang, jika mereka melihat ada penyimpangan pada penguasanya lalu dinasehati agar mendoakan hidayah pada penguasa, mereka mengatakan: “Tidak, dia tidak akan dapat hidayah dari Allah! Justru aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menghancurkannya!”. Bagaimana tidak mungkin Allah beri hidayah, sedangkan Allah telah memberi hidayah kepada sebagian pemimpin kekufuran?

Lalu seandainya ditakdirkan bahwa Allah hancurkan penguasa ini, sebagaimana itu yang engkau harapkan sekarang, lantas siapa yang memerintah setelahnya? Siapa penggantinya? Coba sekarang rakyat di negeri-negeri Arab yang mengalami revolusi, tanya ke mereka: Mana yang lebih baik kondisinya? Kondisi dulu ketika masih kerajaan atau setelah revolusi? Mereka semua, baik yang sedang berdiri, duduk, atau tiduran, akan mengatakan secara serempak: Kondisi dulu ketika masih kerajaan, 1000 kali lebih baik. Ini sangat jelas. [Liqa Bab Al Maftuh, no 169)

Teks:
الذي لا يدعو للسلطان فيه بدعة من بدعة قبيحة، وهي: الخوارج -الخروج على الأئمة- ولو كنت ناصحاً لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم لدعوت للسلطان؛ لأن السلطان إذا صلح صلحت الرعية، أما بعض الناس إذا رأى من سلطانه انحرافاً وقيل: ادع الله أن يهديه، قال: لا لا هذا لن يهديه الله، ولكن أدعو الله أن يهلكه إذاً! كيف لا يهديه الله، أليس الله هدى بعض أئمة الكفر؟!!
ثم إذا قدر أن الله أهلكه كما تحب أنت الآن من الذي يتولى بعده؟ من البديل؟ الآن الشعوب العربية التي قامت على الثورة اسأل أهل البلدان: أيها أحسن: عندما كانت البلاد ملكية أو لما كانت ثورية؟ سيقولون بلسان واحد بآن واحد قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم: عندما كانت ملكية أحسن بألف مرة، وهذا شيء واضح”
[لقاء الباب المفتوح، اللقاء رقم 169].

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Blog at WordPress.com.

Up ↑