Taat Kepada Pemimpin (2)

“Tidak wajib taat Ulil Amri yang menerapkan hukum non-Islam.”

Jika maksudnya adalah tidak mentaati pada perkara maksiat, maka benar. Ini paham ahlus sunnah wal jama’ah.

Jika maksudnya adalah tidak wajib taat sama sekali, ini paham ahlul bid’ah.

Jika ada anggapan bahwa rezim penguasa harus selalu ditaati dalam segala hal, maka itu paham Murji’ah.

Jika ada yang menuduh orang lain namun tidak mampu menunjukkan buktinya, ketahuilah bahwa ia seorang pendusta.

Anda yang mana?

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Syubhat Ahlul Demo

Diantara dalil yang dipakai oleh mereka untuk membolehkan manusia memberontak dan mengadakan demo berjilid², adalah hadits berikut ini:

ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﻣﻨﻜﻢ ﻣﻨﻜﺮﺍ ﻓﻠﻴﻐﻴﺮﻩ ﺑﻴﺪﻩ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻠﺴﺎﻧﻪ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻘﻠﺒﻪ ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﺿﻌﻒ ﺍﻹﻳمان

“Barangsiapa di antara kalian yg melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, yg demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”.
(HR.Muslim)

Akhil habib,.
Hadits diatas adalah hadits umum, hadits diatas dibatasi dengan hadits hadits Nabi yg lebih khusus tentang perintah taat dan menasehati penguasa secara 4 mata, begitulah pr ulama salaf memahaminya. Seperti apa kata Imam as Syaukani dalam kitabnya, Nailul Author:

وقد استدل القائلون بوجوب الخروج على الظلمة ومنابذتهم بالسيف ومكافحتهم بالقتال بعمومات بالكتاب والسنة في وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .ولا شك ولا ريب أن الأحاديث التي ذكرها المصنف في هذا الباب وذكرناها أخص من تلك العمومات مطلقا.

“Orang-orang yang mengatakan wajib memberontak, memerangi dengan pedang dan melakukan perlawanan terhadap pemimpin yang zhalim, mereka berdalil dengan dalil² umum dlm Al Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Tidak diragukan lagi bahwa hadits² yang disebutkan oleh penulis dalam bab ini (Hadits² tentang kewajiban ta’at pada pemimpin zhalim dan larangan memberontak) lebih khusus daripada dalil² umum tersebut (yaitu hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar).

Ada kaidah; apabila ada dalil umum bertemu dengan dalil yg lebih khusus, maka dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil yang sifatnya umum.

Lihatlah Nabi dalam hadits diatas menyebut kata “munkaron” yang artinya “kemungkaran” dengan lafadz nakirah (umum). Lafadz “munkaron” belum dibatasi oleh Nabi kemungkaran macam apa saja yg kita diperintahkan untuk mencegahnya dengan tangan (kekuatan). Lalu Nabi bersabda dalam hadits yg lebih khusus “man aroda an yanshoha lidzi sulthon fala yubdihi alaniyah/ kalau mau menasehati penguasa maka janganlah dia tampakkan dimuka umum” dan hadits² yg melarang kita untuk memberontak. Jadi, hadits diatas yg sifatnya masih umum di batasi dengan hadits² yg khusus dan lebih spesifik. Sehingga, kita memang diperintahkan untuk mengingkari kemungkaran sekuat kemampuan kita tapi terkait dengan kemungkaran² yg dibuat oleh penguasa maka ada cara tersendiri untuk mengingkarinya yg cara ini sudah ditetapkan oleh Allah dalam syariat.

Kalau anda sulit untuk memahaminya, maka saya berikan sebuah gambaran:

Misalnya ibu guru bilang “semua murid besok libur ya”.. kemudian (misalnya) ibu guru juga bilang “Andi, besok kamu masuk”. Maka, karena kalimat kedua sifatnya lebih spesifik dan lebih detail dr kalimat pertama, maka, kalimat kedua mengecualikan kalimat pertama, sehingga pengertiannya adalah “semua murid besok libur, kecuali Andi”.

Jadi, Nahi munkar kpd pemimpin negeri itu datangi dengan baik, ngomong empat mata bukan didepan umum, atau kirimi surat jika tak mampu, ini cara nahi munkar kepada pemimpin yg ditetapkan oleh agama (dalil²nya sudah sering saya sebutkan di status² yang lalu). Kalau anda tidak mampu untuk mendatangi penguasa, atau tidak bisa mengiriminya surat, atau sudah menyampaikan nasehat tapi tidak didengar, maka kata Nabi ingkari kemungkaran-kemungkarannya dengan hati. Baca lagi hadits Nabi shallallaahu alaihi wa sallam,

تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Dengarlah dan ta’atlah kamu kepada pemimpin, meskipun punggungmu digebuk dan hartamu dirampas, kamu tetaplah dengar dan ta’at”
(HR. Muslim)

Selama pemimpin itu masih muslim maka kata Nabi “ishbiruu (bersabarlah kalian) man kariha biqalbih wa ankaro biqalbih (siapa yg benci maka bencilah dengan hatinya, dan yg mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya)”.

Sekarang, siapakah yg lebih baik petunjuknya dalam hal ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yg lebih baik petunjuknya, ataukah para du’at provokator itu yg lebih baik?! Siapa yg lebih kalian ikuti?

Bersabar bukan berarti membenarkan kezhalimannya atas kita, tapi dalam rangka menta’ati perintah Nabi shallallaahu alaihi wasallam ..

Ingat, di akhirat kita tidak akan ditanya tentang apa saja dosa pemimpin kita, tapi kita akan ditanya kenapa menyelisihi petunjuk nabi shallallaahu alaihi wasallam

Faishal Abu Ibrahim

Ghibah dan Tingkatannya

Simak dua kutipan ulama berikut ini, sehingga Anda bisa memahami dua tipe ghibah dan menempatkannya dengan tepat.

  1. Ghibah pemerintah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan:
واعلم أن الغيبة تختلف مراتبها باختلاف ما ينتج عنها، فغيبة الأمراء أعظم من غيبة عامة الناس؛ لأن غيبتهم تؤدي إلى كراهتهم، وإلى التمرد عليهم، وإلى عدم تنفيذ أوامرهم التي يجب تنفيذها، وربما تؤدي إلى الخروج المسلح عليهم،
“Ketahuilah bahwa dosa ghibah itu bertingkat-tingkat, tergantung akibat yang ditimbulkan dari ghibah tersebut. Maka mengghibahi para pemimpin itu LEBIH BERAT daripada mengghibahi orang biasa. Karena hal itu bisa membuat rakyat benci kepada pemimpinnya dan menyebabkan penentangan kepada para pemimpin, serta membuat mereka tidak mau menuruti perintah-perintah pemimpin. Dan bahkan bisa menimbulkan pemberontakan bersenjata kepada para pemimpin.” (Syarh Riyadhish Shalihin)

  1. Ghibah dalam rangka memperingatkan orang dari keburukan

Imam An Nawawi mengatakan:
تباح الغيبة لغرض شرعي ، وذلك لستة أسباب …الرابع تحذير المسلمين من الشر ، وذلك من وجوه : منها جرح المجروحين من الرواة ، والشهود ، والمصنفين ، وذلك جائز بالإجماع ، بل واجب صونا للشريعة
“Ghibah dibolehkan ketika ada kebutuhan syar’i. Ada enam sebab yang membolehkannya, di antaranya… yang keempat, memberi peringatan kepada kaum muslimin dari keburukan. Bentuknya banyak, di antaranya: menjatuhkan orang-orang yang memang tercela keadaannya, baik itu dari kalangan para perawi hadits, para saksi, ataupun para penulis. Hal itu boleh berdasarkan kesepakatan para ulama, bahkan hal itu wajib untuk melindungi syariat Islam.” (Syarh Shahih Muslim)

Jadi jangan terbalik…

Ketika pemerintah dighibah dan dihina-hina, diam saja, dianggap wajar dan boleh..
Giliran ada provokator yang suka mengajak orang lain untuk ghibah pemerintah, kemudian kita ingatkan agar dijauhi, malah nasehat “jangan ghibah”-nya baru keluar…

Kata orang lama mah, LTPT = Letakkan Tahdzir Pada Tempatnya.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Memilih Pemimpin (2)

Nyoblosnya sendiri bukan ushul. Ma’ruf kalau itu ijtihadiyah..

Tapi yang melandasi kenapa dia nyoblos, bisa jadi masuk kepada ushul.. Ini yang akan membedakan kita dengan ahli bid’ah yang fokus pada kekuasaan.. Kalau kita tidak… kita hanya fokus pada dakwah tauhid, bukan kekuasaan.. dan nyoblos karena menghindari mafsadah yang lebih besar, bukan karena kekuasaan..

“Trus kalau salafi nggak berkuasa, kapan bisa menerapkan hukum Allah?”

Allah akan beri kekuasaan kalau kita bertauhid dan beramal shalih, baca QS An Nuur: 55. Kalau kita memaksakan berkuasa dengan cara kudeta sekalipun dalam kondisi rakyat belum terdidik dengan syariat, maka tinggal menunggu bom waktu kita akan diberontak. Pengalaman yang sudah2 telah membuktikan.

Lha sekarang menyiapkan rakyat agar terdidik dengan satu syariat saja yaitu “taat waliyyul amr”, susahnya minta ampun salah satunya gara2 banyak da’i yang menggembosi masalah ini, memprovokasi agar rakyat membenci dan tidak mengakui penguasanya.. Kalau seperti ini gimana syariat lainnya yang merupakan derivat dari syariat tsb bisa ditegakkan?

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Memilih Pemimpin

Setiap muslim hendaknya paham bahwa idealnya, pemimpin tidaklah dipilih berdasarkan kehendak rakyat umum, akan tetapi lewat musyawarah orang-orang terpilih yang disebut dengan ahlul hall wal ‘aqd.

Dan paham bahwa hukum tidaklah ditentukan berdasarkan kehendak rakyat atau perwakilan rakyat, melainkan wajib berasal dari Al Hakim Tabaraka wa Ta’ala. Kecuali yang Dia mandatkan kepada manusia untuk mereka tentukan sendiri berupa siyasah syar’iyyah.

Oleh sebab itu, karena pemilihan pemimpin berdasarkan suara terbanyak rakyat umum bukanlah dari syariat Islam, dan penentuan hukum berdasarkan kehendak rakyat bukan pula dari syariat yang mulia ini. Maka setiap muslim mestinya punya sikap bara’ (berlepas diri) dan membenci hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Jika memang diharuskan untuk berpartisipasi dalam pemilihan tersebut, maka semata karena mengambil kerusakan yang terkecil dari dua kerusakan yang tidak bisa dihindari.

Dan jika tidak ada keharusan, maka semestinya sikap seorang muslim adalah menunjukkan bara’ah /penentangan dengan tidak berpartisipasi.

Ini yang kami yakini sebagai sikap yang pertengahan.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Siapa Pemerintah Kaum Muslimin

“Yang dimaksud pemerintah (pemerintahan kaum muslimin) ?”
(Yakni) pemerintahan sepanjang zaman,pemerintahan kaum muslimin, DENGAN CARA APA SAJA mereka memperoleh pemerintahannya itu,
Mau dengan bai’at,majelis syura atau dengan sistem yang sekarang yang penting pemerintahannya kaum muslimin!
Berapa banyak pemerintahan pada zaman dahulu tidak dengan majelis syura,
Ada yang mengkudeta/memberontak. Kalau sekarang ini ahli demonstrasi (atau pemberontak) mengkudeta sebagian pemerintahan kaum muslimin, kemudian dia menjadi raja /dia menjadi presiden, itu pemerintahan dia, (maka) dilarang juga kita mendemonstrasi (memberontak) kepada dia yang ahli demonstrasi (pemberontak).
Satu pemerintahan digulingkan dengan cara dikudeta, tetap dia pemerintah (pemerintahan kaum muslimin) dan kalau dia telah menjadi pemerintah WAJIB KITA MENTAATINYA,kalau kita tidak mentaatinya maka kerusakannya sangat besar sekali”


Al Ustadz Abdul Hakim Abdat hafizhahullah

Larangan Memberontak Terhadap Penguasa Muslim

Kata Nabi ﷺ pemimpin yg zhalim itu kelak akan masuk kedalam neraka, dalam hadits yg lain juga disebutkan bahwa seorang pemimpin kelak akan datang pd hari kiamat dlm keadaan tangannya dibelenggu, jika ia berbuat adil semasa didunia maka keadilannya itu akan menyelamatkannya, jika ia zhalim maka kezhalimannya itu akan melemparkannya kedalam neraka. Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya.

Akan tetapi, menghukum penguasa yg zhalim, semua itu adalah pekerjaan Allah bukan pekerjaan anda. Adakalanya nanti (di Akhirat) Allah mengampuni mereka karena kebaikan² mereka yg banyak yg tersembunyi dari kita, adakalanya Allah tetap menghukum mereka, itu semua rahasia Allah.

Adapun anda, jika didunia anda bertemu dgn penguasa yg zhalim maka kata Nabi ﷺ tetaplah mendengar dan taat kepadanya dalam hal ma’ruf (baik) dan jangan memberontak, selama ia (pemimpin tersebut) masih mengerjakan shalat. Sebagaimana Hadits:

إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون فمن كره فقد برئ ومن أنكر فقد سلم ولكن من رضي وتابع قالوا يا رسول الله ألا نقاتلهم قال لا ما صلوا أي من كره بقلبه وأنكر بقلبه

”Akan diangkat para penguasa untuk kalian, Lalu kalian mengenalinya dan kemudian kalian mengingkarinya (karena ia telah berbuat maksiat dan penyimpangan² dalam agama). Barangsiapa yg benci, maka ia telah berlepas tangan. Barangsiapa yg mengingkarinya, sungguh ia telah selamat. Akan tetapi, lain halnya dengan orang yg ridha dan patuh terhadap pemimpin tersebut (dalam perbuatan maksiatnya)”. Para shahabat bertanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memeranginya ?”. Beliau menjawab : ”Tidak, selama mereka masih mengerjakan shalat, yakni barangsiapa yg benci maka bencilah dengan hatinya dan barang siapa yg mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya”. (HR. Muslim)

Faishal Abu Ibrahim

Tentang Ketaatan Kepada Pemimpin

Coba kita ingat lagi, kenapa dalam Islam kita diwajibkan mengangkat pemimpin? Tidak lain untuk mengatur urusan kita. Karena kalau tidak ada yang mengatur, akan kacau semua urusan..

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:

ويقال: ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان، والتجربة تبين ذلك

“Dikatakan bahwa 60 tahun di bawah pemimpin zhalim lebih baik daripada satu malam tanpa penguasa. Pengalaman telah membuktikan hal tersebut..”

Dan kenapa kalau mereka mengatur kita, harus kita kompak taati? Karena fungsi pengaturan itu akan maksimal kalau semua taat. Kalau ada yang tidak taat, ya jadinya tidak maksimal bahkan gagal.

Contoh: Lampu lalu lintas di perempatan. Kalau semua taat dan tertib kecuali satu orang saja yang melanggar, maka yang rugi banyak orang kalau terjadi tabrakan.

Begitu pula ketika pemerintah membuat aturan pembatasan jaga jarak (termasuk untuk shaf), maksimum keterisian ruangan, pemakaian masker, vaksinasi, dan lain-lain, itu maslahatnya adalah maslahat komunal alias bersama-sama. Kepatuhan Anda mempengaruhi keselamatan orang lain.

Sebagai yang mengaku ahlus sunnah yang taat pemerintah dalam perkara ma’ruf, sekarang Anda diuji.

Kalau Anda katakan bahwa perintah dari penguasa ini adalah maksiat yang tidak boleh diikuti, dan bukan perkara ijtihadiyah, ya monggo. Kami angkat tangan..

Tapi kalau Anda menganggap ini ijtihadiyah, maka Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa perintah penguasa dalam masalah ijtihadiyah ada dua macam:

  1. Jika terkait dengan urusan ibadah pribadi, misalkan diminta untuk puasa sebelum shalat istisqa (ini pendapat madzhab Syafi’i dan Hanafi), yang menurut kita ini tidak disyariatkan, maka boleh tidak taat. Namun tidak perlu mengumumkan sikap pribadinya ini, karena itu sebuah kesalahan. Cukup diamalkan sendiri
  2. Jika terkait urusan umum, untuk tanzhimul ummah (membuat tatanan bagi rakyat agar teratur), maka inilah yang kita diwajibkan untut taat.

Source: https://www.youtube.com/watch?v=0ZTimhmdO5I

Semoga bermanfaat dan dapat dipahami.

Ust Ristiyan Ragil Putradianto

40 Hadits Kewajiban Taat Kepada Pemimpin

Oleh: Ustadz Abu Asma Andre

40 hadits yang saya kumpulkan , menjelaskan kewajiban taat kepada pemimpin kaum muslimin dan inilah aqidah ahlussunnah wal jamaah dimana telah diyakini oleh para ulama salafush shalih, dimana saya beri judul : ” 40 Hadits Tentang Kewajiban Ta’at Kepada Pemimpin “

Nampaklah disini bahwa ahlussunnah lah yang berusaha menjaga keutuhan negara – dengan berbagai cara yang diperbolehkan syariat…bukan para pembangkang yang berbau ” khawarij ” dimana kerjaannya men”thogut” kan penguasa dimana setelah diciduk – atau mau diciduk kemudian membuat tausiyyah atau khutbah jum’at dengan tema ” Usaha Menjaga Kesatuan NKRI dari bahaya Wahhabi “

apa gak malu ? kerjaannya menjelek jelekkan pemerintah setelah tercyduk – berubah dan coba mencuci tangan serta melempar kesalahan seakan akan ” wahhabi – salafi ” lah yang berbuat…

===

silahkan unduh disini : https://archive.org/download/ArbaaunTaat/Arbaaun%20Taat.pdf

Mencintai Sunnah Nabi Ternyata Lebih Sulit daripada Mencintai Pribadi Nabi

Mencintai sunnah Nabi itu lebih sulit daripada mencintai Nabi sebagai pribadi.

Sebagai contoh:

  1. Rasulullah melarang memperbaharui kesedihan karena ditinggal mati orang yang dicintai. Tapi banyak kaum muslimin yang malah melakukan pesta kenduri arwah dalam hitungan hari-hari yang sudah ditentukan, sampai mereka harus hutang sana hutang sini untuk membiayai pesta makan-makan dan besekan
  2. Rasulullah tidak pernah mensyariatkan peringatan ulang tahun yang merupakan acara khas kaum kuffar. Tapi kaum muslimin malah membuat-buat acara peringatan ulang tahun, bahkan ulang tahun Rasulullah
  3. Begitu banyak hadits shahih yang memerintahkan umatnya untuk bersabar terhadap kezaliman pemimpin, tapi umatnya banyak yang pikir-pikir dulu. Yang ada malah memprovokasi masyarakat supaya memberontak.

Blog at WordPress.com.

Up ↑