Hijrah dan Musibah yang Datang Kemudian

Kalau antum berhijrah, lalu musibah menimpa antum secara bertubi-tubi, maka boleh jadi itulah musibah yang Allah berikan untuk menguji kesungguhan antum dalam berhijrah.
(Dan Allah sungguh sudah tahu apakah hijrah antum benar-benar ikhlas atah hanya berpura-pura).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(QS: al-‘Ankabuut Ayat: 2-3)

Musibah, yang mana ketika antum hadapi pertama kali dengan ketawakkalan kepada Allah, maka ia adalah ujian. Sedangkan bila antum hadapi pertama kali dengan celaan dan keluhan, maka itulah hukuman yang sesungguhnya atas dosa-dosa antum.

Kabar gembiranya, bilamana antum sabar dalam menghadapi musibah tersebut, maka musibah inilah yang insya Allah menjadi pelebur dosa-dosa antum di masa lalu sebelum berhijrah.

Semoga kita semua diberi-Nya taufik, kekuatan dan kesabaran di saat musibah datang melanda.

(Faidah dari Ust Syafiq Basalamah, Ust Muhammad Nuzul Dzikri dan Ust Hasan Al Jaizy hafidzahumullah)

Antara Musibah Dunia dan Musibah Akhirat

Musibah dalam agama jauh lebih dahsyat daripada musibah dunia, baik berupa gempa, tsunami, hilangnya harta benda dan lain-lain.

Kalau kita terkena musibah dunia, sedangkan kita ridho, maka akan dapat mengantarkan kita ke dalam surga.

Adapun musibah agama, dapat mengantarkan kita masuk neraka. Orang kafir, sebaik apapun dia, maka dia akan masuk neraka, maka nikmat agama Islam harus kita jaga. Begitupun nikmat Sunnah, harus kita jaga dengan terus menuntut ilmu agama

Musibah agama bisa berupa :
– Tidak pahamnya kita pada agama kita,
– Termakan dengan berbagai syubhat,
– Memiliki keyakinan yang sesat,
– Terjerumus ke dalam kebid’ahan, dan lain-lain

Untuk menghindari berbagai musibah adalah dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, yang Allah akan selamatkan bagi penyerunya, dan jika amar ma’ruf nahi mungkar diabaikan maka akan Allah adzab seluruhnya, meskipun di dalamnya ada orang-orang sholih.

Di Indonesia ini, berbagai macam kemungkaran ada, berupa :
-Pemurtadan dari Islam
– Zina
– Khamr
– Homo
– Kebid’ahan
– Kesyirikan
Semua ada

Ma’ruf yang paling ma’ruf adalah Tauhid dan mungkar yang paling mungkar adalah syirik. Dakwah menyeru kepada Tauhid adalah dakwah para Nabi dan Rasul, dan kita harus menegakkan dakwah ini, sebagai warisan dari para Nabi.

Menyuruh yang ma’ruf lebih mudah daripada mencegah kemungkaran. Pahala mereka yang mencegah kemungkaran lebih besar daripada yang menyuruh kepada yang ma’ruf. Disebutkan pahala besar bagi mereka yang berusaha mencegah kemungkaran, dengan pahala seperti pahala generasi pertama dalam Islam.

Kita juga harus sabar dalam menghadapi kedzaliman oleh penguasa, sebagai mana yang dilakukan oleh para salafush shalih.

Menasehati mereka (penguasa) dengan baik, tidak mengumbar aib mereka di khalayak umum, tidak memberontak, mematuhi mereka dalam hal yang makruf, hal ini untuk menghindari kemungkaran yang lebih besar berupa pertumpahan darah dan lain-lain.

Diantaranya yang dicontohkan oleh Abdullah bin Umar dengan tetap patuh kepada penguasa dzalim waktu itu, yaitu Al Hajjaj bin Yusuf yang dikabarkan telah membunuh sampai 120.000 orang, diantaranya adalah sahabat Rasulullah dan tabi’in.

Hukum amar ma’ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah, sebagaimana yang disampaikan Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah, bagi sebagian orang yang mampu dalam ilmu dan memiliki kekuasaan.

Tapi mengingkari segala kemungkaran dalam hati adalah wajib bagi tiap individu, karena jika tidak demikian, maka tidak ada iman dalam dirinya.

Faedah Kajian Islam
Amar ma’ruf nahi mungkar
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Masjid Taqwa Kota Metro, Lampung
LIVE RodjaTV

Balasan Atas Dosa PASTI Akan Datang, Cepat atau Lambat

Ketika Muhammad bin Sirin terlilit hutang dan ia dipenjara karenanya, beliau berkata:

إني أعرف الذنب الذي أصابني بهذا عيّرتُ رجلاً منذُ أربعين سنة فقلت له : يا مفلس قال : عَيَّرْتُ رَجُلاً بِالْإِفْلَاسِ فَأَفْلَسْتُ

“Sesungguhnya aku ingat dosaku yang mengakibatkan aku tertimpa musibah ini. Dahulu 40 tahun yang lalu aku pernah mengejek seorang yang bangkrut, “Hai bangkrut!””
Ternyata kini aku yang terkena bangkrut.”
(Majmu’ Rosail Ibnu Rojab 2/413)

Maka segeralah kita bartaubat dari segala dosa.
Karena dosa mendatangkan kesialan di dunia dan akherat.

(Ust Abu Yahya Badrusalam)

Musibah dan Sebab Syar’iyah (yang Sering kali Diabaikan)

Dalam memandang adanya wabah penyakit, musibah paceklik, kezhaliman penguasa, dan sebagainya, orang beriman tak hanya melihat adanya sebab kauniyah (alami) seperti kurangnya vaksinasi, adanya hama, musim kemarau, dsb.

Melainkan juga memandang adanya sebab syar’iyah atas terjadinya musibah-musibah di atas, yaitu kemaksiatan yang dilakukan oleh penduduk negeri… ketika zina terang-terangan dilakukan, pedagang curang dalam timbangan, dsb.

Dengan mengimani adanya sebab syar’iyah membuat kita senantiasa bermuhasabah atas dosa kita, dan mendorong kita untuk tidak membiarkan kemungkaran di sekitar kita agar kita tidak tertimpa adzab yang tidak terbatas pada orang-orang zhalim saja.

(Ristiyan Ragil Putradianto)

Blog at WordPress.com.

Up ↑