Mencintai Sunnah Nabi Ternyata Lebih Sulit daripada Mencintai Pribadi Nabi

Mencintai sunnah Nabi itu lebih sulit daripada mencintai Nabi sebagai pribadi.

Sebagai contoh:

  1. Rasulullah melarang memperbaharui kesedihan karena ditinggal mati orang yang dicintai. Tapi banyak kaum muslimin yang malah melakukan pesta kenduri arwah dalam hitungan hari-hari yang sudah ditentukan, sampai mereka harus hutang sana hutang sini untuk membiayai pesta makan-makan dan besekan
  2. Rasulullah tidak pernah mensyariatkan peringatan ulang tahun yang merupakan acara khas kaum kuffar. Tapi kaum muslimin malah membuat-buat acara peringatan ulang tahun, bahkan ulang tahun Rasulullah
  3. Begitu banyak hadits shahih yang memerintahkan umatnya untuk bersabar terhadap kezaliman pemimpin, tapi umatnya banyak yang pikir-pikir dulu. Yang ada malah memprovokasi masyarakat supaya memberontak.

Hujjah untuk Mementahkan Syubhat Kaum Murji’ah, Liberal, Filsuf dan ‘Islam’ Nusantara

Kebenaran adalah milik Allah dan disampaikan kepada manusia oleh Rasul-Nya yang ma’shum, dan manusia diberi akal untuk bisa membedakan dan men-judge mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan timbangan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan interpretasi generasi salaf, yaitu tiga generasi pertama kaum muslimin.

Hujjah buat mementahkan syubhat lisan tipikal kaum murji’ah, liberal, filsuf dan ‘Islam’ Nusantara.


“There is no truth”
A: How could this be true?

“You cannot know the truth”
A: How do you know this is true?

“This is true for you, but not for me”
A: Likewise.

“Nobody really has the truth”
A: Except you when you say this?

“The truth always changes”
A: Will this truth change?

“All truth is relative”
A: Is this truth relative?

“You should doubt everything”
A: Should I doubt this?

“Everything is meaningless”
A: What do you mean by that?

“It is wrong to judge”
A: Is that not a judgement?

“You should never apply your moral standards on others”
A: Why it okay to apply this moral standard on me?

“You should never impose your beliefs on others”
A: Why is it okay to impose this belief on me?

“We should be tolerant of all views to prevent intolerance”
A: What if the views are themselves intolerant?

“There is no truth in religion, only in empirical science”
A: Can you use empirical science to prove this, or is it itself a philosophical, metaphysical assumption?

“Listen to me, you need to think for yourself!”
A: What if I think for myself and decide not to listen to you?

Sikap Tengah Terhadap Pemimpin

Oleh: Ust Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi حفظه الله تعالى

Ahli Sunnah wal Jama’ah dalam sikap mereka terhadap pemerintah antara dua kelompok:

  1. Kelompok yang berlebihan2 kepada pemerintah, mengkultuskan mereka, mendukung kedzaliman mereka, membela mati2-an perbuatan mereka. Ini sikap ghuluw yg terlarang.
  2. Kelompok yang merendahkan para pemimpin, mengkafirkan, menyebarkan aib di muka umum, dan mengkudeta mereka. Ini adalah sikap yang keliru juga.

Ciri khas Ahli Sunnah wal Jamaah adalah wasath (pertengahan) antara dua sikap tersebut: mereka menghormati pemimpin, taat padanya, sabar atas kedzaliman mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun mereka juga bukan penjilat dan bukan pendukung kecurangan dan ketidakadilan pemerintah.

Oleh karena itu, termasuk kesalahan jika kita membela kecurangan & kedzaliman pemimpin, sebagaimana termasuk kesalahan memprovokasi rakyat untuk aksi² yang beresiko kerusakan bahkan hilangnya nyawa.

Saudaraku… Tetaplah tegar di atas manhaj wasath ini, jangan menjadi bagian dari dua kelompok di atas, terutama di saat fitnah, jangan plin plan sehingga terjerumus dalam jeratan Syetan.

Wajib dakwah semampunya, mari sebarkan ilmu & kebaikan, saling ingat mengingat sesama insan. Nabi ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

══ ❁✿❁ ══

Jangan lupa follow medsos official ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi,

Web: abiubaidah.com
Facebook: FB.com/YusufAbuUbaidah
YouTube : bit.ly/youtubeYAU
Instagram: bit.ly/YAUig
Twit: twitter.com/YusufAbuUbaidah
Telegram: t.me/ilmu20
Ebook: abiubaidah.com/ebook

Blog at WordPress.com.

Up ↑