Bersabar di Belakang Garis Sunnah (adalah Kemuliaan, bukan Kepengecutan)

Dahulu Abu Dzar Al Ghifari -radhiyallahu ‘anhu- pernah disuruh Rasulullah untuk tetap di tempatnya sampai beliau kembali.

Beberapa waktu kemudian Abu Dzar mendengar suara gemuruh yang mengkhawatirkan dari arah Rasulullah pergi.

Karena khawatir, beliau ingin menyusul ke arah Rasulullah pergi, akan tetapi beliau ingat pesan Rasulullah “Tetap di tempatmu, jangan kemana-mana sampai aku kembali”.

Akhirnya beliau tetap di tempatnya, dan Rasulullah pun kembali dengan membawakan hadits bahwa orang yang meninggal tanpa berbuat syirik akan masuk surga.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari.

Apakah Abu Dzar pengecut? Abu Dzar bukanlah pengecut, bahkan beliau sangat pemberani. Untuk dirinya sendiri saja beliau tidak takut menantang orang menghunuskan pedang padanya, apalagi untuk Rasulullah.

Akan tetapi apakah yang membuat Abu Dzar tetap sabar berada di tempatnya? Apakah beliau tidak peduli dengan keselamatan Rasulullah? Jelas bukan!

Tidak ada yang menahan beliau kecuali perintah Rasulullah untuk bersabar di belakang garis SUNNAH. Beliau tidak mau melanggar perintah Rasulullah untuk alasan keselamatan Rasul. Lantas bagaimana dengan orang-orang pada masa sekarang yang melah mengolok-olok perintah Rasulullah untuk sabar terhadap kezhaliman penguasa? Na’udzubillah, kita berlindung pada Allah dari ketergelinciran lisan yang berujung pada kebinasaan!

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Mencintai Sunnah Nabi Ternyata Lebih Sulit daripada Mencintai Pribadi Nabi

Mencintai sunnah Nabi itu lebih sulit daripada mencintai Nabi sebagai pribadi.

Sebagai contoh:

  1. Rasulullah melarang memperbaharui kesedihan karena ditinggal mati orang yang dicintai. Tapi banyak kaum muslimin yang malah melakukan pesta kenduri arwah dalam hitungan hari-hari yang sudah ditentukan, sampai mereka harus hutang sana hutang sini untuk membiayai pesta makan-makan dan besekan
  2. Rasulullah tidak pernah mensyariatkan peringatan ulang tahun yang merupakan acara khas kaum kuffar. Tapi kaum muslimin malah membuat-buat acara peringatan ulang tahun, bahkan ulang tahun Rasulullah
  3. Begitu banyak hadits shahih yang memerintahkan umatnya untuk bersabar terhadap kezaliman pemimpin, tapi umatnya banyak yang pikir-pikir dulu. Yang ada malah memprovokasi masyarakat supaya memberontak.

Tidak Bermudah-mudah dalam Mentakfir Penguasa

Berkaitan dengan negara Aljazair, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ditanya mengenai sekelompok pemuda yang baru keluar dari penjara dan mereka mengkafirkan pemerintah Aljazair karena berhukum dengan hukum buatan manusia.

Syaikh menjelaskan bahwa selama penguasa masih shalat, maka mereka muslim dan tidak boleh dikafirkan. Mereka adalah penguasa syar’i dan bai’at diberikan kepada mereka (، فله بيعة، وهو حاكمٌ شرعيٌّ)

Adapun berkaitan dengan undang-undang buatan, maka Syaikh menjelaskan bahwa yang benar darinya harus diterima, dan yang keliru darinya jika memungkinkan bisa didiskusikan kembali dengan ahlul hal wal aqd dan para ahli di bidangnya, jika tidak maka yang keliru harus ditolak.

Kemudian Syaikh mengajak kita untuk berpikir dengan bertanya:

مع أنَّ الجزائر كم بقيت مستعمَرة للفرنسيين؟
السائل: 130 سنة.
الشيخ: 130سنة! طيِّب! هل يُمكن أن يُغيَّر هذا القانون الذي دوَّنه الفرنسيَّون بين عشيَّة وضحاها؟! لا يُمكن.
أهمُّ شيء: عليكم بإطفاء هذه الفتنة بما تستطيعون، بكلِّ ما تستطيعون، نسأل الله أن يقيَ المسلمين شرَّ الفتن.

“Berapa lama Aljazair di bawah penjajahan Perancis?”
“130 tahun”
“130 tahun! Baik. Mungkinkan mengubah undang-undang yang dibuat Perancis ini dalam waktu antara sore sampai paginya? Tidak mungkin!”

Maka yang paling penting sekarang bagimu adalah memadamkan fitnah ini semampumu, dengan segenap kemampuanmu, kita memohon kepada Allah agar Dia melindungi kita dari kejelekan fitnah-fitnah”

Sumber:فتاوى العلماء الأكابر فيما أُهدر من دماء في الجزائر

Sama dengan Syaikh Al Albani yang mengatakan bahwa katakanlah besok diterapkan undang-undang Islam, maka yang pertama melanggar justru mereka sendiri, anak-anak mereka dan istri mereka.. Karena masyarakat tidak siap, tidak terdidik dengan Islam terlebih dahulu sehingga yang ada hanya penolakan…

Maka solusinya adalah tashfiyah (pemurnian) dan tarbiyah (pendidikan), agar nanti antara rakyat dengan undang-undangnya bisa berjalan beriringan.

Jangan ikut arus orang yang selalu isti’jal (tergesa-gesa), karena orang yang tergesa-gesa sebelum waktunya, maka hukumannya adalah diharamkan baginya perkara yang ia kejar tersebut.

(Ristiyan Ragil Putradianto)

Sikap Tengah Terhadap Pemimpin

Oleh: Ust Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi حفظه الله تعالى

Ahli Sunnah wal Jama’ah dalam sikap mereka terhadap pemerintah antara dua kelompok:

  1. Kelompok yang berlebihan2 kepada pemerintah, mengkultuskan mereka, mendukung kedzaliman mereka, membela mati2-an perbuatan mereka. Ini sikap ghuluw yg terlarang.
  2. Kelompok yang merendahkan para pemimpin, mengkafirkan, menyebarkan aib di muka umum, dan mengkudeta mereka. Ini adalah sikap yang keliru juga.

Ciri khas Ahli Sunnah wal Jamaah adalah wasath (pertengahan) antara dua sikap tersebut: mereka menghormati pemimpin, taat padanya, sabar atas kedzaliman mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun mereka juga bukan penjilat dan bukan pendukung kecurangan dan ketidakadilan pemerintah.

Oleh karena itu, termasuk kesalahan jika kita membela kecurangan & kedzaliman pemimpin, sebagaimana termasuk kesalahan memprovokasi rakyat untuk aksi² yang beresiko kerusakan bahkan hilangnya nyawa.

Saudaraku… Tetaplah tegar di atas manhaj wasath ini, jangan menjadi bagian dari dua kelompok di atas, terutama di saat fitnah, jangan plin plan sehingga terjerumus dalam jeratan Syetan.

Wajib dakwah semampunya, mari sebarkan ilmu & kebaikan, saling ingat mengingat sesama insan. Nabi ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

══ ❁✿❁ ══

Jangan lupa follow medsos official ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi,

Web: abiubaidah.com
Facebook: FB.com/YusufAbuUbaidah
YouTube : bit.ly/youtubeYAU
Instagram: bit.ly/YAUig
Twit: twitter.com/YusufAbuUbaidah
Telegram: t.me/ilmu20
Ebook: abiubaidah.com/ebook

Mengapa Masih Tidak Mau Mendoakan Kebaikan Atas Pemimpin?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan:

“Siapa yang tidak mendoakan kebaikan untuk penguasa, maka pada dirinya ada bid’ah yang jelek, yaitu bid’ah khawarij, yang memberontak kepada para penguasa.

Kalau dirimu menginginkan kebaikan, untuk Allah, untuk kitab-Nya, rasul-Nya, serta para pemimpin muslimin dan rakyatnya, maka mestinya engkau doakan kebaikan ke penguasa. Karena jika mereka baik, maka rakyat akan mendapatkan kebaikan.

Adapun sebagian orang, jika mereka melihat ada penyimpangan pada penguasanya lalu dinasehati agar mendoakan hidayah pada penguasa, mereka mengatakan: “Tidak, dia tidak akan dapat hidayah dari Allah! Justru aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menghancurkannya!”. Bagaimana tidak mungkin Allah beri hidayah, sedangkan Allah telah memberi hidayah kepada sebagian pemimpin kekufuran?

Lalu seandainya ditakdirkan bahwa Allah hancurkan penguasa ini, sebagaimana itu yang engkau harapkan sekarang, lantas siapa yang memerintah setelahnya? Siapa penggantinya? Coba sekarang rakyat di negeri-negeri Arab yang mengalami revolusi, tanya ke mereka: Mana yang lebih baik kondisinya? Kondisi dulu ketika masih kerajaan atau setelah revolusi? Mereka semua, baik yang sedang berdiri, duduk, atau tiduran, akan mengatakan secara serempak: Kondisi dulu ketika masih kerajaan, 1000 kali lebih baik. Ini sangat jelas. [Liqa Bab Al Maftuh, no 169)

Teks:
الذي لا يدعو للسلطان فيه بدعة من بدعة قبيحة، وهي: الخوارج -الخروج على الأئمة- ولو كنت ناصحاً لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم لدعوت للسلطان؛ لأن السلطان إذا صلح صلحت الرعية، أما بعض الناس إذا رأى من سلطانه انحرافاً وقيل: ادع الله أن يهديه، قال: لا لا هذا لن يهديه الله، ولكن أدعو الله أن يهلكه إذاً! كيف لا يهديه الله، أليس الله هدى بعض أئمة الكفر؟!!
ثم إذا قدر أن الله أهلكه كما تحب أنت الآن من الذي يتولى بعده؟ من البديل؟ الآن الشعوب العربية التي قامت على الثورة اسأل أهل البلدان: أيها أحسن: عندما كانت البلاد ملكية أو لما كانت ثورية؟ سيقولون بلسان واحد بآن واحد قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم: عندما كانت ملكية أحسن بألف مرة، وهذا شيء واضح”
[لقاء الباب المفتوح، اللقاء رقم 169].

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Kebanyakan Aksi dan Ngajinya Ngawur

Akibat kebanyakan aksi, tapi ngga’ mau ngaji.
Cita²nya Jihad, tapi jihad di jalan demokrasi, dan yang dimusuhi adalah saudara semuslim sendiri.
Cita²nya perang, tapi perang melawan pemerintah, yang mayoritas juga masih muslim.
Polisinya muslim, TNI-nya muslim, bahkan pemimpinnya juga muslim, mereka (pak polisi dan TNI) juga sholat sama seperti kita sholat. Berpuasa sama seperti kita berpuasa.
Perintah Nabi untuk bersabar tidak digubris, perintah Nabi untuk tetap mendengar dan taat juga tidak digubris.
Benar apa kata Imam Malik rahimahullah,

إن اقواما ابتغوا العبادة، وأضاعوا العلم فخرجوا على أمة محمد بأسيافهم ولو ابتغوا العلم لحجزهم عن ذلك.

“Sungguh ada kaum-kaum yang mengejar ibadah tapi mengabaikan ilmu. Sehingga mereka pun keluar dengan sambil membawa pedang menuju ummat Muhammad.
Seandainya mereka menuntut ilmu, niscaya ilmu itu akan mencegah mereka berbuat demikian”.
(Miftah daaris sa’adah 1/119)

Kawan,
Sesalah apapun saudaramu, darah dan kehormatannya tetap tidak halal untuk kau rusak.

(Faishal Abu Ibrahim)

Kenapa Tidak Lembut kepada Pemimpin Muslim?

Ada orang-orang yang suka menggembar-gemborkan dakwah dengan “lemah lembut” tapi dia sendiri keras dan kasar kepada pemimpin muslim. Sungguh kontradiksi yang nyata. Na’udzubillahi min dzalika.
Memvonis pemimpin muslim (yang saat itu mencalonkan diri untuk menjadi Presiden RI periode kedua dan tetap statusnya sebagai pemimpin) dengan “panen dosa” itu kasar atau lembut?
Menuduhnya berbuat tidak adil di medsos (meski dengan menukil ucapan orang lain) itu kasar atau lembut? (Dan itu seperti tuduhan Dzul Khuwaishirah Attamimi kepada Rasulullah ﷺ).

Padahal Allah berfirman:

ٱذۡهَبَاۤ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ – فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلࣰا لَّیِّنࣰا لَّعَلَّهُۥ یَتَذَكَّرُ أَوۡ یَخۡشَىٰ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43-44).

Jika Fir’aun pemimpin kafir yang mengklaim memiliki hak rububiyah saja, Allah perintahkan Nabi Musa dan Harun ‘alaihima as-salaam untuk menasihatinya langsung menghadap kepadanya (bukan di jalanan atau di hadapan umum) dengan ucapan yang lemah lembut, apalagi pemimpin muslim?

Dan menasihati pemimpin muslim dengan rahasia dan lemah lembut merupakan manhaj salaf ahlussunnah wal jamaah. Sedangkan kasar kepadanya (mencela) dan mengkritiknya di hadapan umum adalah manhaj/kelakuan Khawarij. Itu juga mereka praktikkan berdasarkan seleranya atau hawa nafsunya. Bijaksana nggak bijaksini, bijaksana injak sini. Na’udzubillahi min dzalika.

Lihat kembali tulisan kita yang berjudul “Paham Pendiri Syiah Merasuki ‘Dai Sunnah'”.
Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullahu di link youtube: https://youtu.be/9iqbaRWzIQU
Lihat kembali tulisan kita dengan judul “Kelakuan Khawarij”.

(Ust Abdurrahman Thoyyib)

Syubhat (Haroki) yang Kronis

Syubhat kronis yg menempel di benak banyak muslim negeri plesnenamdua: bahwa berjuang menegakkan Islam itu identik dengan konfrontasi head to head secara diametral terhadap penguasa (muslim).
Kaset butut yang selalu diputar: soal keadilan.
(Keadilan dalam hal apa? Nggak bakal jauh jauh dari soal soal duniawiah).

Sementara di waktu yang sama mereka sangat tidak peduli dengan lurus-bengkoknya aqidah mereka dan yang sejalan dengan mereka.Untuk mereka, tema Tauhid itu nggak penting.
“Jangan dibahas, nanti malah bikin perpecahan”.Bahkan banyak di antara aktivis ‘pergerakan’ yang aqidahnya dan amalannya amburadul, bertabur syirik dan bid’ah.

Lhaaa…yang macam begini mau menegakkan Islam? Sementara dalam diri dan keluarganya sesungguhnya jauh dari Islam.
Mereka lupa, musuh sesungguhnya adalah iblis. Kekalahan terbesar adalah melakukan syirik. Awal kemenangan besar adalah tegaknya Tauhid di setiap dada kaum muslimin dan keluarganya.Ketika ketaqwaan telah menjadi nafas hidup kaum muslimin, maka Allah akan menolong dari jalan yang TIDAK DISANGKA-SANGKA.

Allahul musta’an

Lebih Berbahaya daripada Pemimpin yang Zalim

Ada yang lebih berbahaya daripada pemimpin zhalim, yakni para da’i ahlul bid’ah dan penebar syubhat.

Pemimpin yang zhalim, mungkin hanya merampas dunia dari tanganmu, tapi da’i-da’i provokator, ahlul bid’ah dan penebar syubhat, mereka menipu umat dengan mulut-mulut mereka, dibuatlah yang buruk agar nampak baik di mata manusia. Ketika manusia mulai terpedaya dan mengikuti ucapan para da’i tersebut, maka tersesatlah mereka dan bangkrutlah akhiratnya.

Kata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mereka itu adalah “du’aatun ilaa abwaabi jahannam”, yaitu da’i-da’i yang mengajak ke pintu Neraka Jahannam” (HR. Bukhari no.3606).

Demo dan Bunting

Kalau dikatakan, “Itu demo kami berjilid-jilid tidak menyebabkan kerusakan, tertib, tidak anarkis, dst”, maka kita juga bisa katakan, “Itu mereka yang berzina berkali-kali juga tidak selalu bikin si perempuan jadi bunting!”

Hanya mereka yang cukup cerdas yang tidak terjebak dalam logical fallacy.

Blog at WordPress.com.

Up ↑