Tetap Berusaha di Atas Ketaatan Walaupun

Teruslah berusaha di atas ketaatan, meski saat ini dirimu masih belum mampu melepaskan diri dari maksiat. Semoga Allah memperbaiki keadaan dirimu dgn sebab ketaatanmu tsb.


Betapa sering kita dapati orang yg muamalah nya bagus, tutur katanya baik, tidak pernah menyakiti atau merugikan orang lain, namun kesehariannya dikenal sebagai orang yg gemar bermaksiat atau berbuat bid’ah, dan ketika mereka dinasehati untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, lisannya menjawab; “Urus saja urusanmu sendiri, jangan kebanyakan ngurusin orang”, seraya membanding-bandingkan keadaan dirinya dengan orang yg casingnya terlihat shaleh namun lisannya kotor, ‘munafiq’; – seakan hendak menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dari mereka; “ana khoiru minhum.”

Abdul Hakim

Ketaatan kepada Suami Lebih Tinggi Kedudukannya Daripada kepada Orang Tua

Kedudukan suami lebih tinggi daripada ustadz, ibu. Kedudukan suami lebih tinggi daripada guru. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kyai. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kedua orang tua.

Maka ketaatan kepada suami lebih tinggi daripada ketaatan kepada orang tua. Di sini saya sampaikan. Ini ijma ulama.

Setelah seorang wanita menikah maka dia harus taat kepada suaminya lebih dari kepada kedua orang tuanya. Kenapa bisa demikian ustadz ??

Bukankah yang melahirkan orang tuanya. Yang merawat ia sejak kecil orang tuanya. Sudah puluhan tahun dia rawat sang putri.
20 tahun kemudian dinikahi sama orang lain ketaatannya kemudian berubah harus kepada suaminya.

Memang demikian. Demikian. Tetapi syariat punya pandangan yang lebih daripada itu.

Ustadz Firanda Andirja Hafidzhahullah.
—selesai—

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita – setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260)

Blog at WordPress.com.

Up ↑