Urgensi Mengenalkan Properti dalam Keluarga Inti


Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Seorang lelaki tua renta menjelang kematiannya memanggil salah satu anaknya lalu berkata,
“Anakku, tanah tempat berdiri rumah kita ini diminta kembali oleh anak-anak pakdhemu. Bagaimana pendapatmu?”
Sang anak dengan keheranan hanya menjawab pasrah,
“Kalau diminta ya sudah pak, tidak mengapa berikan saja”.
Setelah itu lelaki tua itu wafat dengan meninggalkan sebidang tanah dengan rumah yang berdiri di atasnya.
Beberapa saat kemudian, datanglah “si anak-anak pakdhe” tersebut. Cocok dengan “sounding” almarhum, mereka datang untuk “meminta kembali” tanah.

Tidak semua tanah yang diminta, hanya sebagian saja.
Ada kesan bahwa sekitar separuh dari tanah itu adalah hak milik “si anak-anak pakdhe”, sementara separuh sisanya dan bangunan rumah adalah hak milik almarhum. Jika benar hak almarhum hanya separuh tanah dan bangunan rumah, berarti hanya itulah yang bisa diwariskan untuk anak-anaknya.
Tapi sang anak almarhum heran.
Jika benar itu hak “si anak-anak pakdhe”, mengapa baru diminta saat almarhum menjelang wafat?
Sang anak juga heran, karena sertifikat tanah dan rumah jelas tertulis atas nama almarhum.
Saat “si anak-anak pakdhe” dikonfrontasi dengan fakta keabsahan sertifikat tersebut, mereka mengklaim bahwa almarhum memalsukan tanda tangan sehingga bisa memiliki sertifikat atas namanya.
Sang anak makin bingung, sebenarnya bagaimana sejarah tanah dan rumah tersebut?
Apakah tanah itu sebelumnya hak penuh “si pakdhe” lalu dihibahkan separuh untuk almarhum?
Ataukah tanah itu milik “si pakdhe” lalu dijual kepada almarhum tapi baru lunas separuh?
Ataukah sebenarnya “si pakdhe” hanya berhak separuhnya, lalu karena kasihan melihat adiknya miskin, kemudian mengizinkan dipakai oleh sang adik (almarhum) hingga sang adik beranak cucu dan sampai “si pakdhe” wafat juga tidak diterangkan kepada anak-anaknya?
Bagaimana sebenarnya status penggunaan tanah itu?

Semuanya gelap.
Sang anak tidak tahu sejarahnya.
Yang ditahu anak hanyalah pertanyaan almarhum menjelang wafat,
“Anakku, tanah tempat berdiri rumah kita itu diminta kembali oleh anak-anak pakdhemu. Bagaimana pendapatmu?”
Sebuah pertanyaan yang memberi kesan bahwa “anak-anak pakdhe” memang punya hak. Sebab andai tidak punya hak, nada pertanyaannya mungkin sudah emosi. Orang umumnya marah atau minimal jengkel jika ada orang lain yang tidak punya hak dengan seenaknya ingin menguasai harta yang bukan haknya.
Juga hanya tahu bahwa sepupu-sepupunya datang untuk “meminta kembali” sebagian tanah yang ditempati mereka.
Karena kasus ini, akhirnya hubungan di antara dua keluarga itu berpotensi kurang enak. Sebab anak-anak almarhum bukan orang-orang yang kaya sehingga bisa dengan mudah menyelesaikan perselisihan itu memakai hartanya. Anak-anak “si pakdhe” juga heterogen, ada yang kaya dan ada yang kurang sehingga masih terasa berat untuk merelakan sebagian tanah yang ditempati almarhum dan anak-anaknya.

  • Kasus ketidak jelasan sejarah properti dalam satu unit keluarga seperti di atas cukup sering terjadi. Dampak dari kasus tersebut berpotensi membuat hubungan kekerabatan jadi merenggang, silaturahmi terancam putus dan ketegangan antar keluarga jadi muncul.
    Oleh karena itu, fakta-kata semisal itu di masyarakat seharusnya menyentak kesadaran kita agar dalam mendidik anak itu kita harus mengagendakan untuk mengajarkan pengetahuan tentang properti yang dimiliki. Bukan dengan maksud menumpuk kecintaan terhadap harta, juga bukan untuk mengajarkan sifat “kemaruk” bin tamak terhadap dunia, tetapi mengajarkan sejarah properti dan pengetahuan tentangnya semata-mata dengan semangat ketakwaan. Yakni menghindari kezaliman, memperjelas hak+kewajiban, menghindari konflik, memecahkan problem, dan meringankan yang sudah ada di kuburan. Jika posisi kita sebagai anak dan melihat orang tua kurang memberi perhatian terhadap pengenalan properti, maka kita yang harus pro aktif dan mencari tahu sejarah semua properti orang tua, agar saat beliau wafat tidak sampai terjadi masalah antar keluarga gara-gara warisan hanya karena tidak mengerti sejarah propertinya.
    Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada kita untuk memburu apapun yang bermanfaat untuk urusan dunia maupun akhirat kita. Mencari tahu sejarah properti orang tua termasuk hal bermanfaat karena bisa mencegah salah paham, memecahkan problem, memblokir kezaliman, mengurai keruwetan, meringankan beban orang dan membantu ketakwaan. Oleh karena itu, belajar sejarah properti orang tua termasuk mengajarkannya kepada anak harus menjadi salah satu agenda dalam hidup kita. Rasulullah ﷺ bersabda,

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ». «صحيح مسلم» (8/ 56 ط التركية)
Artinya,
“Seriuslah terhadap segala hal yang bermanfaat bagimu” (H.R.Muslim)
Mengomentari hadis ini, Abu al-‘Abbas al-Qurtubi menjelaskan maknanya sebagai berikut,

«استعمل الحرص ‌والاجتهاد ‌في ‌تحصيل ما تنتفع به في أمر دينك ودنياك التي تستعين بها على صيانة دينك، وصيانة عيالك، ومكارم أخلاقك، ولا تفرط في طلب ذلك، ولا تتعاجز عنه متكلا على القدر، فتنسب للتقصير، وتلام على التفريط شرعا وعادة». «المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم» (6/ 682)
Artinya,
“Bersungguh-sungguhlah untuk mengoleksi apapun yang bermanfaat bagimu baik urusan din maupun duniamu, yang dengannya engkau bisa menggunakannya untuk menjaga dinmu, menjaga keluargamu/ tanggunganmu dan kemuliaan akhlakmu. Jangan melalaikan memburu hal seperti itu dan jangan lemah dengan alasan pasrah dengan takdir. Jika engkau seperti itu, maka engkau dianggap lalai dan dicela karena kelalaian itu baik secara syar’I maupun secara tradisi” (al-Mufhim, juz 6 hlm 682)

Adapun properti yang dikenalkan, maka cukup yang besar-besar saja. Yakni properti yang punya potensi menjadi sumber pertengkaran. Yang termasuk jenis ini adalah tanah, rumah/bangunan, tempat usaha dan harta apapun yang nilanya besar. Adapun properti yang kecil-kecil seperti ponsel, tas, pakaian, alas kaki dan semisalnya tidak masalah jika diabaikan karena biasanya hal-hal demikian tidak terlalu menjadi penyebab masalah.

Adapun level kedalaman mengenal sejarah properti, maka itu dikembalikan pada maksud mengenal properti, yakni mencegah segala mafsadat/kerusakan/mudarat yang timbul akibat kekaburan sejarah properti. Oleh karena kebanyakan perselisihan terkait properti itu seringkali berhubungan dengan status kepemilikannya, maka semua sejarah akad dan taṣarruf properti harus diketahui lengkap dengan bukti-buktinya. Semua dokumen yang membantu juga harus disimpan baik-baik. Semua saksi yang terkait dengan akad dan taṣarruf itu harus dicatat. Jika bukti kepemilikan belum jelas dan masih kabur, sedapat mungkin segera diuruskan sertifikan kepemilikannya.
Jika terkait tanah misalnya, harus diketahui siapa pemilik awal tanah itu, setelah itu berpindah ke tangan siapa saja. Perpindahan itu juga harus jelas, apakah melalui akad jual beli, hibah, warisan, hak pakai atau apa. Bukti-bukti dari transaksi atau saki-saksi juga harus didokumentasi dengan baik.

Jika terkait bangunan, maka juga harus diketahui dengan jelas. Siapakah yang membangun, atas biaya siapa, prosentase kepemilikan bangunan itu, apakah hak milik pribadi atau komunal, apakah milik keluarga ataukah yayasan, apakah sudah diwakafkan ataukah belum. Bukti-bukti akad, transaksi dan saksi-saksi juga harus didokumentasi dengan baik.

Jika jauh hari proses mengenal properti ini sudah disiapkan, maka saat terjadi perselisihan seputar tinggalan seperti kasus lelaki tua dalam kisah di atas, maka insya Allah permasalahan bisa diselesaikan dengan baik dan tidak harus sampai mengorbankan persaudaraan yang mengakibatkan putusnya silaturahmi.
اللهم اجعلنا من الواصلين للأرحام

(Muafa)

Tidak Mampu Memperbaiki Rumahnya Sendiri, tapi

‏‏عجباً لرجل لا يستطيع أن يصلح بيته وزوجته وأولاده وهو مسؤول عنهم ؛ ويريد أن يصلح الحاكم وهو غير مسؤول عنه !
‏✍️الألباني .

Al-Albâniy rahimahullâh berkata:
“Menakjubkan bagi orang yang ia tidak mampu memperbaiki rumahnya, istrinya, dan anak-anaknya padahal ia akan ditanya tentang mereka, tetapi ia ingin memperbaiki hâkim (penguasa) padahal ia tidak akan ditanya tentangnya.”

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Istri yang Menyembunyikan Suaminya

Ini kisah nyata yang kualami sendiri, aku adalah seorang jomblowati yang berteman ke sana-sini. Dan aku berteman dengan seorang ummahat, sudah hampir 3 tahun kenal, sering bertemu di majelis ilmu, pernah juga satu profesi, dan kadang kami kumpul-kumpul bersama akhwat lainnya.

Bagiku, ia sosok yang mengagumkan dalam seni menyembunyikan kehidupan rumah tangganya. Umur rumah tangganya melebihi umur pertemanan kami. Namun, tak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok suaminya, tak pernah ia bercerita panjang lebar tentang keluarga kecilnya. Baik itu keromantisan ataupula sebuah pertengkaran, tak kudapati ia sebuti.

Jangankan untuk menge-tag akun suaminya di sosial media, menyebutkan nama suaminya di depan kami(para teman akhwatnya) saja tidak pernah ia lakukan.

Betapa ia begitu menjaga, apa yang memang seharusnya dijaga. Begitu besar rasa cemburunya, hingga tak ada celah yang ia tampakkan dari kehidupan rumah tangganya. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang tahu kehidupan keluarganya. Bukan teman pada umumnya, bukan pula dibeberkan di sosial media yang siapa saja bisa mengetahuinya.

Untukmu, wahai ummahat yang begitu menjaga kehidupan rumah tangga, aku benar-benar banyak belajar darimu. Seni menjaga yang sangat besar manfaatnya, apalagi buat para jomblo yang sering menghalu tentang indahnya kehidupan berumah tangga, disebabkan bersilewernya pasangan-pasangan yang memamerkan keromantisannya di sosial media.

Darimu, aku mengerti hakikat cemburu yang sesungguhnya. Bahwa suamimu adalah milikmu, cukup kau yang tahu, cukup menjadi privasimu.

Semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan keturunanmu.
Aku kagum dengan caramu menjaga kehidupan berumah tangga.

Jejak Pena | @tintadya
telegram | t.me/tintadya15

********************

Wahai kalian para suami, hendaklah kalian berlaku serupa. Apalagi kalian terancam dengan predikat lelaki dayyuts yang dengan itu diharamkan atasnya Surga.

Tidak Perlu Ada Kumpulan Pejuang Poligami

Jika ingin, dan siapalah yang tak ingin…
Lebih tepatnya, jika sudah kuat hasratnya, maka bercerminlah: ‘ibadah dan ketakwaan’ atau sekadar perhiasan dunia dan hawa nafsu belaka? Ketahuilah bahwa yang telah berpengalaman, lebih mengenal dan lebih dewasa.


Jika rupanya betul karena ibadah dan takwa, maka ceritakan itu ke mereka yang telah berpengalaman.

Namun, saya ingin sebutkan untuk siapapun di sini kalam Ibnul Jauzy -rahimahullah-. Tentang orang yang telah menikah dengan lebih dari seorang perempuan. Dan hasratnya masih terus, karena memang begitulah tabiat. Beliau berkata:

ظن أنه يجد عندها ما ليس عندهن!

“Dia mengira bahwa dia akan menemukan di perempuan (asing) tersebut, apa yang tidak ada pada mereka (istri-istrinya).”

Lalu ia memperjuangkan untuk mendapatkannya. Penasaran. Merasa istri-istrinya masih kurang. Perlu pelengkap. Ia kemudian menyana bahwa pada insan baru ini ada hal baru, berbeda dan menyemangatinya.


Kemudian beliau berkata:

ولعمري، إن في الجدة لذة، ولكن، رب مستور إذا انكشف افتضح.

“Sungguh, dalam hal yang baru memang ada kenikmatan. Tetapi, boleh jadi yang tadinya tertutup, jika disingkap, akan tampak buruknya.” [Shaid al-Khathir]

Acapkali dunia itu terasa indah justru sebelum mendapatkannya. Setelah ia mendapatkannya, membuka bungkusnya, merasakannya, ternyata ia merasakan apa yang pernah dirasakan. Seterusnya ia ingin lebih. Atau sebaliknya, ada bangunan yang telah dihancurkan.

Kecuali jika dunia digenggam karena demi berpijak untuk akhirat. Maka, ia akan merasakan iman dan kekhusyuan di setiap khuthuwat. Hanyasaja, banyak orang -khususnya ‘pejuang poligami’- tidak jujur dalam hal ini.
Lisan mereka berkata akhirat, namun hati mereka merindu dunia.

Jika ingin berjuang, perjuangkan terlebih dahulu kemapanan i’tikad, niat dan ibadah. Semoga Allah permudah bagi orang bertakwa.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Untuk Para Suami

Berkata Al-Hafidzh ‘Amru bin Qois Al-Malaai rahimahullah.

“Sesungguhnya seorang wanita benar² akan memusuhi suaminya pada Hari Kiamat disisi Rabb-nya kemudian dia mengatakan (sembari mengadukan perihal suaminya kepada Rabb-nya);

“Dahulu dia tidak mengajariku adab, dan tidak mengajariku apapun(dari perkara agama), dahulu dia hanya datang membawakanku roti dari pasar (yakni dia hanya sibuk memenuhi kebutuhan duniawinya semata).”

[Tafsir As-Sam’aany, cetakan Daarul Wathan (5/475)]

*****

Sudahkah kita para suami mengajarkan tauhid, adab, tazkiyatun nafs dan fiqh – semampu kita sembari terus belajar?

Wanita, Casingnya dan Sosok Istri yang Dibutuhkan Saat Suami Terpuruk

[Bismillah]

Ketika suami tengah terpuruk dalam ujian yang berat, ekonomi sulit, masalah datang silih berganti; saat itulah dia akan menyadari seperti apa gambaran sosok istri yang dibutuhkannya.

Tidaklah terlalu penting istri cantik jelita yang pandai berdandan dan bersolek. Tidaklah terlalu berguna pendidikan tinggi dengan sederet gelar yang mentereng. Bahkan, meskipun seorang hafizhah faqihah lulusan lembaga pendidikan Islam ternama; semuanya itu seakan tiada arti bila tidak diimbangi dengan akhlaq yang baik.

Akhlaq, yang dengannya seorang istri selalu setia membersamai suaminya; dalam suka duka, ada dan tiada. Akhlaq, yang menjadikan seorang wanita berkarakter sabar dan syukur menjalani deru debu rumahtangga bersama imamnya. Akhlaq, yang bisa menguatkan wanita untuk terus mendukung suaminya menjalani peran sebagai pemimpin, meski dirinya sendiri tengah tertatih perih berkalang lara. Akhlaq teguh, yang dibangun di atas asas qona’ah dan taat pada suami di jalan Allah.

Dalam memilih pasangan, jangan silau dengan hal-hal yang bersifat casing.

“Dia itu dokter muda loh…”

“Dia bidan lulusan terbaik.”

“Dia wanita yang hebat. Sudah lulus S3.”

“Dia itu hafizhah loh, baru lulus dari pesantren ternama.”

“Dia putrinya Ustadz Fulan loh…”

Rupa ragam casing yang seperti itu tidak menjamin kebahagiaan dan keharmonisan rumahtangga. Bukan berarti mutlak tidak penting, tapi tidak menjamin. Betapa banyak rumahtangga yang karam, padahal dibangun oleh sosok-sosok yang punya casing menyilaukan.

Banyak kalangan ikhwan yang jika mendengar ada akhwat dengan “casing” background yang WOW , terutama terkait pendidikan formal duniawi, seketika menggebu-gebu ingin bisa mempersuntingnya tanpa berusaha lebih jauh mengenali bagaimana aspek akhlaqnya. Ujungnya, ketika bahtera rumahtangga mulai berlayar, pukulan demi pukulan ombak menghantam dan membuatnya tenggelam.

Semoga Allah karuniakan kepada kita pasangan dengan visi misi surgawi yang sama. Saling menjaga, saling ridho, saling menguatkan di atas kebaikan, hingga ke jannah, biidznillah.

Shobahul khoir. 🤝

Ustadz Ammi Ahmad

“Kalian Silakan Poligami, Selama Bukan Suamiku”

Hadits yang kerap dibawakan oleh beberapa dai yang terkesan kurang mendukung praktik poligami (untuk dirinya maupun jemaah) adalah hadits ancaman bagi pria yang tidak berbuat adil antar istri. Hadits itu pula yang lebih dipertimbangkan oleh sebagian ummahat, sebagai tameng agar suami mereka tidak pernah berniatan poligami, meskipun boleh jadi itu kebutuhannya. Hadits itu pula yang lebih dititikberatkan oleh sebagian pria muslim yang mapan, mampu dan butuh poligami demi menghindari kemunkaran lebih besar.

Bagaimana dengan hadits berikut:

«ما من عبدٍ استرعاه الله رعية فلم يحطها بنصيحة إلا لم يجد رائحة الجنة»

“Tidaklah ada seorang hamba yang diberikan tugas oleh Allah untuk memelihara suatu pihak yang dipimpin, lalu ia tidak melakukan sesuai dengan petunjuk melainkan ia tidak memperoleh aroma surga.” [H.R. Al-Bukhary]

Dijelaskan oleh sebagian ahli ilmu:

ويَشمَلُ كذلك الرَّجُلَ في بيتِه والمرأةَ في بيْتِها، فقصَّر في حَقِّ رَعِيَّتِه، ولم يَرْعَهَا ويَنصَحْ لها، فضَيَّعَ حُقوقَها الدِّينيَّةَ والدُّنيويَّةَ؛ فعُقوبتُه عند اللهِ شَديدةٌ، وهي: ألَّا يَشَمَّ رائحةَ الجنَّةِ التي تُشَمُّ مِن مَسافةِ سَبعينَ سَنَةً

“(Ancaman itu) mencakup pula suami atau istri di rumah. Baik suami maupun istri, kurang cakap dalam memenuhi hak rakyatnya (anak); dengan tidak memperhatikan dan memberikan arahan. Maka hak agama dan dunia anak tidak tertunaikan. Hukuman di sisi Allah begitu besar yaitu tidak mencium aroma surga yang sebenarnya bisa tercium dari jarak perjalanan sejauh 70 tahun.” [https://dorar.net/hadith/sharh/13372]

Jika hadits itu diberikan kepada sepasang suami istri yang ingin punya anak, apakah pantas sebagai ancaman agar jangan sampai punya anak, karena pertanggungjawabannya berat kelak? Terlebih anak bisa saja lebih dari 1. Sebagian punya anak 5 bahkan lebih. Berapa kali lipat pertanggungjawabannya?!

Atau sekalian ancaman agar tidak nikah sekalian? Karena suami akan diminta pertanggungjawaban akan istrinya.

Tetapi kenapa pada menikah?!
Jika mereka katakan: ‘menikah (pertama) untuk lajang dan mojang itu kan diperintahkan oleh Nabi?!’
Kita katakan: ‘menikah (kedua ketiga keempat) juga ada syariatnya dan contohnya oleh Nabi langsung dan para salaf. Bahkan, itu bukan hal yang dianggap tabu, ganjil dan sensitif, sebagaimana tinjauan masyarakat sekarang yang sudah cukup terkontaminasi.’

Selama memang butuh, dan memenuhi syarat bisa berbuat adil, maka semoga semua dipermudah. Kalau dikatakan bahwa itu akan berat pertanggungjawabannya, maka Anda punya istri, anak, mobil, rumah, semua itu pun juga bisa berat pertanggungjawabannya. Adakalanya berpoligami namun lebih aman dan selamat dari godaan dan fitnah, justru lebih ringan hisabnya daripada tidak berpoligami namun tidak aman dari fitnah bahkan rajin bertengkarnya. Yang terceritakan tentang praktek poligami selama ini rata-rata kegagalan sebagian praktisi. Yang berhasilnya dan teduhnya tidak dikisahkan, melainkan ditutupi, di-blacklist oleh sebagian ummahat bahkan boleh jadi dikorek-korek oleh pemulung sampah.

Tulisan ini bukan merupakan suatu dukungan untuk para pria yang disebut sebagian ulama sebagai jabban (pengecut) atau yang tahu diri belum siap berbuat adil. Sebaiknya yang seperti ini tentu mencukupkan satu saja. Dan tidak semua yang tidak atau belum berpoligami berarti pengecut.

Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi hidayah pada kaum Muslimin akan hal ini, dan semoga kelak poligami benar-benar menjadi solusi terbaik untuk banyak kemerosotan moral, hancurnya ekonomi sebagian keluarga dan keberkahan tersendiri untuk banyak dari janda yang diuji kehidupannya.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Hari Wanita Sedunia dan Awal Kejatuhan Qowamah Laki-Laki

Awal dari kejatuhan qowamah seorang laki-laki (suami) adalah ikut campurnya wanita (istri) dalam mencari uang.

Ini yg sering tidak di perhatikan oleh kita (laki-laki), dan ini adalah PR untuk kita sebagai pemimpin dalam rumah tangga.

Jangan jauh-jauh dulu ngomongin masalah negara!

Karena sebab itulah wanita (istri) kerja / punya penghasilan. Kebanyakan laki-laki (suami) jatuh di hadapannya…

Bahasanya: “Aku nggak perlu uang kamu, wong penghasilanku lebih gede dari kamu kok…”

Subhanalloh, dan itu sudah banyak terjadi hari ini. Yg bahkan saya sendiri pernah menyaksikannya…

Ketahuilah wahai saudara/saudariku…
Pemberian harta (nafkah) suami untuk istrinya, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan.

Akan tetapi ini adalah ikatan tali kasih antara suami & istri, serta dalam rangka menjaga aowamah seorang laki-laki (suami).

Bukan sekedar keperluan (butuh uang), karena kalau hanya sekedar kebutuhan uang, lama kelamaan wanita tidak perlu lagi kepada laki-laki (suami). Dan itu awal keretakan dalam hubungan rumah tangga.

Lebih jauh dari itu, seperti dalam paragraf terakhir gambar yg saya screenshoot.
(wanita bebas memilih kecenderungan seksualnya).

Allahul musta’an…

Pesan saya, jika seorang istri ingin bekerja dalam rangka membantu suami. Maka harus di jaga baik-baik qowamah itu serta harus diperhatikan juga syarat-syaratnya.

Hadanallahu waiyyakum…
Barakallahu Ta’ala fiikum…

Abdulkisan Mufty As Sundaiy

Ketaatan kepada Suami Lebih Tinggi Kedudukannya Daripada kepada Orang Tua

Kedudukan suami lebih tinggi daripada ustadz, ibu. Kedudukan suami lebih tinggi daripada guru. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kyai. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kedua orang tua.

Maka ketaatan kepada suami lebih tinggi daripada ketaatan kepada orang tua. Di sini saya sampaikan. Ini ijma ulama.

Setelah seorang wanita menikah maka dia harus taat kepada suaminya lebih dari kepada kedua orang tuanya. Kenapa bisa demikian ustadz ??

Bukankah yang melahirkan orang tuanya. Yang merawat ia sejak kecil orang tuanya. Sudah puluhan tahun dia rawat sang putri.
20 tahun kemudian dinikahi sama orang lain ketaatannya kemudian berubah harus kepada suaminya.

Memang demikian. Demikian. Tetapi syariat punya pandangan yang lebih daripada itu.

Ustadz Firanda Andirja Hafidzhahullah.
—selesai—

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita – setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260)

Blog at WordPress.com.

Up ↑