Penting tapi Bukan yang Terpenting

Belajar bahasa Arab itu penting, bahkan penting sekali.. Tapi bukan yang paling penting..

Seorang dari kalangan terpandang dan berpakaian dari sutera, melewati majelis Imam Malik -rahimahullah-, lalu ia dapati sang imam melakukan kesalahan dalam tata bahasa Arab, maka ia pun berkata: “Kenapa kedua orang tuanya tidak mengeluarkan dua dirham saja supaya ia belajar nahwu?”

Imam Malik mendengarnya lalu menanggapi:

لان تعرف ما يحل لك لبسه مما يحرم عليك خير لك من ضرب عبدالله زيدا، وضرب زيد عبدالله.

“Engkau tahu mana baju yang halal dan mana yang haram kau pakai, itu lebih baik bagimu daripada membedakan antara “Abdullah memukul Zaid” dan “Zaid memukul Abdullah”

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar bahwa ia berkata:

تلقى الرجل وما يلحن حرفا وعمله لحن كله

“Engkau jumpai ada orang yang satu huruf pun ia tidak keliru dalam berbahasa, namun amalannya keliru seluruhnya!”

Maka sering kita temui orang yang menyerang dakwah ahlus sunnah, mereka mengandalkan ilmu nahwu, sharaf dan balaghah yang mereka miliki untuk menunjukkan kefasihan mereka demi menutupi kekeliruan mereka dalam pemahaman terhadap sunnah. Sebagiannya lain menjadikan kefasihan dalam berbahasa untuk meremehkan du’at ahlus sunnah yang keliru. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Beda Wanita ‘Alimah dan Jahilah

“Dahulu Fâthimah bintu al-imâm Mâlik jika dibacakan kepada ayahnya Al-Muwattha’ dan qâri’ (pembaca) melakukan kesalahan baca huruf, atau menambah dan mengurangi, ia akan mengetuk pintu, Lalu imâm Mâlik berkata kepada qâri’: ‘ulangi karena kesalahan menyertaimu’.

Lalu qâri’ mengulangi membaca dan menemukan kesalahan.”

[Al-Makhal karya Ibnul Hâj 1/215]

Pemilik Status (Abû Salmân) berkata: “Kalau wanita ‘âlimah mengetuk pintu, kalau wanita jâhilah (bodoh) akan membuka chanel youtube.”

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Blog at WordPress.com.

Up ↑