Dan Heraclius-pun Ciut

Ingatlah ketika Heraclius yang telah menaklukkan Persia dalam dua peperangan yang maha dahsyat, tak sedikitpun dia dan pasukannya berani menyambangi medan perang Tabuk di musim panas yang panjang itu, di mana Rasulullah dan para Shahabat yang mulia telah menunggu berhari-hari, dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit dan persenjataan yang lebih sederhana.

Mengapa dia takut?

Tak lain karena dia sadar, menghadapi seorang Nabi dan kekuatan kaum muslimin yang telah sempurna tauhidnya, maka Heraclius sadar diri bahwa tak mungkin dia akan menang.

Tauhid kunci kejayaan. Bukan pada kemenangan partai tertentu dalam sabung partai dan lotere demokrasi.

Allahul musta’an

Syubhat Haroki

Biarpun namanya diklaim aksi damai, konstitusional, bersih, tertib, tetap saja hakikatnya demo. Kalau sampai ada yang memprovokasi, ada sniper liar nembak, ada yang lempar batu, ada adu jotos, bisa-bisa jadilah negeri ini chaos, dan chaosnya bukan hanya di Monas saja. Seluruh negeri.

Ideologi ikhwanul muslimin yang diimpor kelompok-kelompok itu memang penuh syubhat. Juga ideologi liberal dan sosialis di pihak lainnya. Lebih baik ikutilah nasihat tulus para ahli ilmu sebenar-benarnya semacam Syaikh Muqbil, Syaikh Albani, yang mana dengan tak dihiraukannya nasihat mereka, dengan kehendak Allah maka terjadilah apa yang terjadi saat ini nun jauh di sana. Chaos. Hancur sehancur-hancurnya. Sementara provokatornya kabur atau sedari awal ongkang-ongkang di negeri lain.

Ingatlah, bukanlah dukung-mendukung ataupun mengejar kekuasaan duniawi yang hanya lima menit dalam hitungan akhirat yang menjadi tujuan hidup seorang muslim, melainkan menegakkan tauhid dalam dirinya dan keluarganya agar terhindar dari api neraka, serta mendakwahkan ke luar apabila telah memiliki ilmunya.

Lhaaa…lalu bagaimana Islam akan tegak tanpa memegang tampuk kekuasaan? Tampuk kekuasaan adalah karunia Allah bagi masyarakat yang bertakwa, lurus tauhidnya, betul orientasi hidupnya. Tampuk kekuasaan hanya wasilah saja untuk menyebarkan tauhid. Bukan tujuan. Karena kemenangan sejati bukanlah di atas dunia yang hanya lima menit ini, tapi di alam sana yang tak berujung. Jangan galfok gaes. Jangan terkadalin kaum harokiyyun, yang seolah-olah kiamat sudah, di kala jagoannya kalah dan perolehan kursinya rendah.
Kacamata kuda, hanya terframing dalam syubhat kubro bernama demokrasi.

Cukuplah sekian banyak peperangan Rasulullah menjadi ibrah. Ketika para shahabat berperang karena ikhlas berharap syahid dan surga, walaupun dengan jumlah dan persenjataan yang jauh lebih sedikit, Allah berikan kemenangan secara elegan.

Isy kariiman aumut syahiidan.
Tauhid (dan cabang-cabangnya) adalah kunci kemenangan.
Dakwah Rasulullah adalah dakwah penegakan tauhid untuk seluruh kalangan masyarakat.
Cinta dunia dan takut mati (dan cabang-cabangnya) adalah kunci kehinaan.

Dakwah harokiyyun secara umum adalah dakwah demi dunia dan tampuk kekuasaan duniawi, seringkali terbatas hanya untuk kalangan sendiri, dan bagi haroki, agama diperlakukan sebagai aroma pemanis buat menarik peminat.

Buat kaum muslimin, yang namanya syubhat jauh lebih memelencengkan daripada maksiat. Seorang muslim, walaupun jahil, secara naluriah biasanya tahu bahwa dia sedang bermaksiat. Tapi dalam syubhat, bahkan seorang muslim yang sudah mengajipun seringkali tak sadar dia sedang bermaksiat, karena disangkanya sedang beramal shaleh. Termasuk di dalamnya syubhat harokiyyun.

Allahul musta’an.

Islam dan Syubhat Haroki

Islam dengan keagungannya terlalu besar untuk dikerangkai dalam man-made system bernama demokrasi.
Islam dengan kebesarannya terlalu mulia untuk dijadikan atribut dalam arena sabung partai dalam kalang bernama demokrasi.
Dakwah tauhid dengan segala kemuliaannya terlalu tinggi untuk dimurah-meriahkan dalam man-made marketing agent bernama partai politik.

Bredel

Ketika kaum harokiyyun menakut-nakuti, kata mereka pada waktunya dakwah salaf akan dibungkam penguasa, justru yang sebetulnya sudah terjadi adalah dakwah salaf didiskreditkan oleh kaum mereka, diblokir oleh mereka, bahkan dibungkam oleh golongan semisal mereka dari kubu hizbiyyun.

“Golongan semisal mereka” – mereka berbeda-beda kubu tapi masih dalam kolam yang sama: demokrasi dan sabung partai.

Aqidah merekapun 11-12: asya’irah, maturidi, sufiyyah. Beda antara mereka seringkali cuma soal pendapat remeh-temeh dan pendapatan saja. Begitu kepentingannya sama, simbiosis mutualisma pun terjadi. Iya toh?

Harakah – Antara Kepedean, Tergesa-gesa, atau Tidak Peduli dan Selera Pasar

Dulu, siapa tidak kenal dengan kiai fulan? Dielu-elukan umat. Ceramahnya legendaris semua. Diputar sampai sekarang. Kurang apa lagi beliau? Udah lengkap hidupnya. Tidak usah cari apa lagi.

Tapi tetibanya melangkah ke politik demokrasi. Ikut partai. Tetiba itulah ambruk. Dari kelas alimnya, hingga thalibnya, jika dulu lisannya selalu ilmu dan nasehat. Lalu bertamu ke panggung demokrasi. Ternyata disambut hangat. Masuk. Tidak menunggu lama. Hilang arwah keilmuannya.Resureksi partai lawas.

Sempat dibangkitkan sebelumnya oleh Partai Starmoon. Mana jejaknya sekarang? Alih-alih teruskan track Starmoon. Kini resmi membuat baru. Silakan. Tapi I wonder: seberapa pede kita mengerahkan ideologi Islam melalui panggung demokrasi, sementara banyak rakyat masih anti syariat karena kejahilan merebak?

Ini imma kepedean, imma tergesa-gesa, imma memang tidak peduli mencerdaskan masyarakat sebelum mengatur. Gerak dulu. Harakah dulu. Kalau ga sekarang, kapan?!

Prinsip it’s now or never inilah yang kurang bijak – dalam konteks ini -. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?!
Resureksi golongan lawas berideologis murni kanan tidak mudah. Tugas yang terlalu berat.

Jangankan untuk mengatur umat menuju gemilang syariat Islam, untuk mengatakan “Asya’irah memiliki kesalahan dalam masalah aqidah” saja tidak mampu, karena mengerti kepentingan dan suara. Suara mereka banyak. Tifosi mereka cukup fanatik. “The Grand Imam” has already arrived. Jalan tol saja bisa rapat dijadikan parkiran. Ini menunjukkan apa? Kecintaan luar biasa, numeral suara yang bisa berpengaruh dan identitas kanan yang mulai menggema.

Modal nih. Tapi tetap ada kejanggalan sikap, yaitu: kepedean dan tergesa.
Yang justru kita khawatir jika sudah kadung di panggung, baru ngeh jika sudah kadung kejebak. Konon ideologi Islam diusung, namun kenyataannya menuruti selera pasar.
Tidak ada lagi ideologi baku. Tidak idealis lagi. Justru ya sama seperti lainnya.

Tapi siapalah saya kawulo alit berbicara apalagi mencegah. Wong saya bagian dari rakyat jelata yang kakinya masih belepetan lumpur sawah. Saya hanya sering menyesali ketika diri saya atau siapapun yang dulunya selalu bincang ilmu, kini hanya bisa bincang dunia – walau covernya ideologi agama -.

(Ust Hasan Al Jaizy)

Syubhat (Haroki) yang Kronis

Syubhat kronis yg menempel di benak banyak muslim negeri plesnenamdua: bahwa berjuang menegakkan Islam itu identik dengan konfrontasi head to head secara diametral terhadap penguasa (muslim).
Kaset butut yang selalu diputar: soal keadilan.
(Keadilan dalam hal apa? Nggak bakal jauh jauh dari soal soal duniawiah).

Sementara di waktu yang sama mereka sangat tidak peduli dengan lurus-bengkoknya aqidah mereka dan yang sejalan dengan mereka.Untuk mereka, tema Tauhid itu nggak penting.
“Jangan dibahas, nanti malah bikin perpecahan”.Bahkan banyak di antara aktivis ‘pergerakan’ yang aqidahnya dan amalannya amburadul, bertabur syirik dan bid’ah.

Lhaaa…yang macam begini mau menegakkan Islam? Sementara dalam diri dan keluarganya sesungguhnya jauh dari Islam.
Mereka lupa, musuh sesungguhnya adalah iblis. Kekalahan terbesar adalah melakukan syirik. Awal kemenangan besar adalah tegaknya Tauhid di setiap dada kaum muslimin dan keluarganya.Ketika ketaqwaan telah menjadi nafas hidup kaum muslimin, maka Allah akan menolong dari jalan yang TIDAK DISANGKA-SANGKA.

Allahul musta’an

“Taqiyyah” ala Haroki

“Jangankan untuk mengatur umat menuju gemilang syariat Islam, untuk mengatakan “Asya’irah memiliki kesalahan dalam masalah aqidah” saja tidak mampu, karena mengerti kepentingan dan suara.”

(Ust Hasan Al Jaizy hafidzahullah)

Blog at WordPress.com.

Up ↑