Pertanyaan Pertama di Akhirat atas Seorang Wanita

Qatadah rahimahullah mengatakan bahwa Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata:

أول ما تسأل عنه المرأة يوم القيامة عن صلاتها، وعن حق زوجها.

“Pada hari kiamat nanti, yang pertama kali akan ditanyakan kepada seorang wanita adalah tentang shalatnya dan hak suaminya (kewajiban istri terhadap suami, apakah dijalankan dengan baik atau tidak, -pent.).”

Al-Mushannaf 11/304, Karya al-Imam Abdur Razzaq

“…jangankan merangkul, mungkin mengingat namaku pun sudah tak sudi”

Simpati saya terhadap al-akh yang dipenjara adalah ketika di ujung jurang, tak satu pun temannya yang menolong. Bersuara pun tidak. Lantangnya para teman berubah menjadi gugup. Sebelumnya lantang anti rezim. Katanya pergerakan tapi kali ini tidak bisa atau tidak mau bergerak.

Mana sahabat sepercangkulan yaitu al-ustadz fulan dan allan, yang di masa ceria saling merangkul. Yang sama-sama hendak mempersatukan umat, menurut mereka.

Saya sangat berharap agar al-akh menyadari bahwa teman sejati bukan yang seperti itu. Yang sungkan menasehati karena kita sebarisan dan sama-sama punya kepentingan, entah kepentingan popularitas, komunitas, dan duniawi lainnya. Koaran dan keberanian (kenekatan) al-akh adalah instrumen yang selama ini dimanfaatkan para ‘teman’. Inilah teman kepentingan.

Kini mari kita introspeksi perjuangan kita selama ini. Apa tulus untuk menegakkan kalimat Allah dan syariat-Nya?

Mana penegakan itu jika syirik masih tidak menjadi tema pembahasan dan bid’ah justru jadi perhiasan?! Berteman dengan ahlul bid’ah bahkan bersatu padu demi menggalang persatuan, yang pada akhirnya peristiwa demi kejadian mmembuat kita tahu rupanya selama ini hanya kepentingan. Berjuang ketika bermassa, namun mencari aman saat teman dipenjara.

Anda mungkin geram membaca ini dan tidak geram dengan kebid’ahan teman. Jika betul Anda menuju pemurnian Islam dan melawan kebid’ahan, maka mengapa Ahlul Bid’ah menjadi teman kencan dan hukum buatan manusia dijadikan perahu masa depan?!

Jika rangkulanmu hanya untuk ‘kepentingan’, maka di saat aku sudah tidak penting lagi, jangankan merangkul, mungkin mengingat namaku pun sudah tak sudi.

(Ust Hasan Al Jaizy)

Haaditsatul Ifki

Sesungguhnya ketika kita menyimak kisah haaditsatul ifki, di situ kecintaan, adab dan akhlak kita terhadap Rasulullah dan keluarganya diuji

Taubat yang Sia-Sia

Sungguh celaka, mereka yang bertaubat dari korupsi, perselingkuhan, perzinahan dan semisalnya, karena takut diketahui oleh mata para manusia.

Mereka takut aibnya diketahui manusia, tapi tidak takut kepada Allah. Mereka menyepelekan dan melecehkan Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan maha berat azab-Nya.

Yang semacam demikian bukanlah taubat yang ikhlas, melainkan taubat karena takut kepada manusia. Maka tidak jarang mereka akan tercebur lagi ke dalam kehinaan yang sama.

Ada dua taubat yang harus dijalani para pelaku kemaksiatan semodel ini: taubat atas lalainya dari rasa takut kepada Allah, dan taubat atas dosa yang diperbuat.

Allah berkehendak memberikan taufiq kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Menzalimi Tetangga

Seseorang berkata ketika habis dizhalimi tetangganya;
“Aku akan menjual rumahku, aku sudah tidak mampu lagi dari gangguan tetanggaku”.

Berkata Tsaubān radhiyallāhu ‘anhu;
“Dan tidaklah ada seorang tetangga menzhalimi tetangganya dan memaksanya sampai hal itu membawanya untuk keluar dari rumahnya, melainkan ia binasa”.

[HR. al-Bukhāriy di dalam al-Adabul Mufrad 127]

Rumah Tangga Neraka

Rumah tangga yang tidak diisi dengan Ilmu Agama selama-lamanya tidak akan pernah menjadi keluarga sakinah.
Keluarga sakinah hanyalah mimpi-mimpi bagi keluarga yang didalam keluarga itu tidak dihidupkan dan diamalkan ilmu agama Allah.

Kalau toh pun dia katanya bahagia, hanyalah bahagia sesaat.
Setelah bahagia sesaat ini yang ada hanyalah rutinitas membosankan.
Apalagi setelah itu ketahuan melakukan sebuah perbuatan maksiat, keluarga ini semakin akan hancur lebur.
Namun sayang, hancur leburnya setelah kita punya anak.
Sehingga akhirnya bingung, cerai gak cerai gak.. kasihan anak-anak.
Akhirnya si bapak malas masuk rumah, masuk rumah hanya karena anak-anak.
Ibunya masak atau mencuci gak ada niat di hati.
Jadilah rumah tangga itu rumah tangga neraka.

Dan semua ini adalah efek dari dosa dan maksiat kepada Allah ta’ala.

Berkata para ulama “Kebahagiaan itu milik Allah, berada di tangan Allah. Dan Allah tidak akan memberikan kebahagiaan itu kecuali kepada orang-orang yang Dia ridhoi”.

Tidak ada petaka rumah tangga yang akhirnya berujung dengan pertikaian-pertikaian rumah tangga didunia sekarang ini yang akhirnya berujung dengan perceraian melainkan penyebab seluruhnya adalah dosa dan maksiat.

[Disalin dari tausiah Ust Maududi Abdullah – Meraih Cita-Cita (akherat)]

Kalau Bukan karena Rahmat Allah maka Kita Sudah Binasa (Akibat Dosa Kita)

Kalaulah bukan karena rahmat Allāh itu luas, pastilah kita telah berputus asa dalam menjalani hidup ini, bagaimana tidak membuat hati kita kecut ?, ujian kita hidup di zaman ini dahsyat, peluang berbuat dosa siang dan malam silih berganti datang menghampiri, godaan demi godaan bertubi-tubi menghampiri, sementara bencana silih berganti datang kepada kita sebagai peringatan Allāh atas penduduk bumi.

Sementara Iblis dan bala tentaranya tak pernah henti menyesatkan, sementara manusia memiliki hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada kerusakan, sementara dosa dikelilingi berbagai macam kenikmatan dunia, dan surga dihiasi dengan hal-hal yang dibenci.

Bagaimana kita akan selamat ?

Tentu kita semua telah terjatuh di dalam lumpur dosa baik sengaja ataupun tanpa disengaja.

Tentu kalaulah bukan karena rahmat Allāh itu luas, dan ampunan Allāh selalu terbuka, dan lagi maha penerima taubat tentulah kita telah berputus asa untuk hidup, karena tidak akan ada yang dapat selamat berjalan dengan segala ujian dunia ini.

Bila tidak terjatuh kedalam dosa syahwat, akan jatuh dalam dosa syubhat, bila selamat dari keduanya akan jatuh pada dosa ujub, kibr, dan riya’ yang akan menggugurkan amalan yang didalamnya disertai penyakit ini, atau bisa saja ada diantara kita jatuh kedalam semuanya.

Tentu kalaulah bukan karena rahmat Allāh itu luas pastilah kita semua telah binasa. Karena itu selalulah memohon ampunan dan rahmat-Nya dan selalulah bertaubat setiap tergelincir kedalam dosa, mudah-mudahan Allāh akan menurunkan rahmat dan maghfirah-Nya.

Ya Allāh ampunilah dosa-dosa kami, maafkan kesalahan² kami, bantulah kami dalam mentaati-Mu, terimalah taubat kami, dan rahmatilah kami sungguh sedikit rahmat-Mu lebih agung dari banyaknya dosa-dosa kami. Sungguh Engkaulah Rabb yang rahmat-Mu mengalahkan murka-Mu, dan Engkaulah Rabb yang tak pernah bosan mengampuni dosa-dosa hamba-Mu. Dan janganlah Engkau jadikan kami bersama dengan orang-orang yang zhālim

(Hanafi Abu Abdillah Ahmad)

Sama-Sama Rela. Tapi Allah tidak.

Kalau kaifiyah jual-beli, pembagian waris dan pinjam-meminjam ribawi hanya semata didasarkan kepada kaidah “sama-sama rela”, “sama-sama enak”, “sama-sama senang” dan semisal, maka sungguh, mereka pelaku selingkuh dan pelaku zina juga menggunakan hujjah “sama-sama rela” dan “sama-sama suka”.

Syaithon mengalir dalam darah, membisikkan talbis berupa syubhat yang halus. Dari aliran darah hingga masuk ke jantung dan merasuk di kalbu.

Lalu bagaimana kita mau meraih keberkahan dalam harta kita? Sedangkan kita sepelekan hukum-Nya.

Bahkan, sungguh dosa menyepelekan hukum yang telah digariskan oleh Rabbul ‘aalamiin lebih besar daripada dosa perbuatan itu sendiri. Bagaikan beranggapan hukum yang bersumber dari hawa nafsu kita lebih baik daripada hukum buatan Allah.
(Maka kemudian tampak jelas bayangan ibis di belakang kegelapan hawa nafsu kita).

Hanya Allah pemberi hidayah dan taufik.

Di Mana Debu Engkau Taburkan?

[Bismillah]

Jika kita membuang sejumput saja debu di lantai ruang dalam rumah, tentu akan sangat terlihat debu itu sebagai kotoran yang harus segera dibersihkan. Tapi, kalau kita melempar segenggam debu ke halaman rumah yang dari tanah, akan terlihat biasa saja, debu itu tidak mengotori halaman. Hal itu karena debu dan tanah sifatnya sama.

Ini adalah gambaran, jika kita berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, yang terbiasa menjalankan nilai-nilai Islam secara baik dan benar, kesalahan sekecil apapun yang menyelisihi ajaran agama tentu akan terlihat jelas. Namun, bila kita berbaur dengan orang-orang yang tidak baik, tidak terbiasa menerapkan ajaran agama, tidak perduli halal haram, mau sebesar apapun dosa yang kita perbuat akan terasa biasa saja.

Inilah pentingnya kita berupaya berteman dengan pribadi-pribadi nan sholeh. Setidaknya, saat kita tergelincir melakukan kesalahan, akan terlihat, terasa, kemudian ada yang menegur dan menasihati kita. Minimal, ada rasa segan untuk melakukan perbuatan dosa. Meskipun, tentu yang terbaik, meninggalkan kejelekan semestinya adalah karena Allah semata.

Mabruuk insyaallah.

(Ust Ammi Ahmad)

Kesabaran dalam Menahan Pandangan Lebih Ringan daripada Kesabaran dalam Menanggung Akibatnya

Berkata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, “Pandangan merupakan pangkal dari segala bencana yang menimpa manusia. Sebab, pandangan akan melahirkan getaran hati, diikuti dengan angan-angan yang membangkitkan syahwat dan keinginan yang semakin menguat dan akhirnya menjadi kebulatan tekad, hingga terjadilah itu secara pasti, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya”.

Dalam hal ini ada yang berkata, “Kesabaran dalam menundukan pandangan masih lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung beban akibatnya”.

Seorang penyair berkata, “Setiap bencana berawal dari pandangan mata, sebagaimana api yang besar berasal dari percikan bara”.

Berapa banyak pandangan sanggup menembus relung hati pemiliknya, seperti kekuatan anak panah yang lepas dari busurnya.
Seorang hamba, selama mengumbar pandangannya untuk memandang selain (yang halal untuk)nya, maka dia berada dalam bahaya.

Ia menyenangkan mata dengan sesuatu yang membahayakan hatinya, maka janganlah menyambut kesenangan yang akan membawa bencana.

(Ad-Daa’ Wad Dawaa’, hal. 351-352)

Blog at WordPress.com.

Up ↑