Nikmat Iman atas Wanita

Seorang wanita bertanya pada syaikh Muhammad Nashiruddin Rahimahullaah

Wahai Syaikh, dulu sebelum nikah aku gadis yang rajin puasa, sholat malam, membaca alqur’an dan menikmati lezatnya taat pada Allah, akan tetapi kini tak lagi nikmat wahai syaikh, Apa masalahnya syaikh ?

Bagaimana perhatianmu pada suamimu wahai saudari ?

Syaikh Aku tanya padamu soal diatas, tetapi engkau malah tanya padaku soal perlakuanku pada suamiku?

Tidak demikian wahai saudari…mengapa sebagian wanita tidak lagi merasakan lezatnya iman, taat dan ibadah.

Karena Nabi telah bersabda:
Tidak akan seorang wanita mendapati lezatnya Iman sampai mereka menunaikan hak-hak suaminya.

Pertanyaan Pertama di Akhirat atas Seorang Wanita

Qatadah rahimahullah mengatakan bahwa Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata:

أول ما تسأل عنه المرأة يوم القيامة عن صلاتها، وعن حق زوجها.

“Pada hari kiamat nanti, yang pertama kali akan ditanyakan kepada seorang wanita adalah tentang shalatnya dan hak suaminya (kewajiban istri terhadap suami, apakah dijalankan dengan baik atau tidak, -pent.).”

Al-Mushannaf 11/304, Karya al-Imam Abdur Razzaq

Seburuk-buruk Wanita

بسم الله الرحمن الرحیم

Telah Berkata Amīrul mu’minin ‘Umar bin Khaththāb Radhiyallahu ‘anhu:

« أقـبـح النـسـاء السـلفـع »

” Seburuk – buruk wanita adalah As_salfa’.”

Assalfa’ : Pemberani terhadap para laki-laki dan tidak ada rasa malu terhadap mereka.

(Ibn Abī Syaibah : 32503)

قنـاة : الـفتيات_العفيفـات

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ.

Berzina dengan Istri Tetangga

Zina dengan isteri tetangga


عن الْمِقْدَاد بْنَ الْأَسْوَدِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَا قَالُوا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ

Dari Miqdad bin al-Aswad, Rasulullah bersabda kepada para shahabatnya, “Apa komentar kalian mengenai zina?”. Para shahabat mengatakan, “Zina itu diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Zina itu haram sampai Kiamat tiba”. Rasulullah lantas bersabda, “Sungguh jika seorang laki-laki itu berzina dengan sepuluh wanita yang bukan tetangganya itu dosanya lebih ringan dibandingkan dengan berzina dengan isteri tetangga sendiri”.


قَالَ فَقَالَ مَا تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ قَالُوا حَرَّمَهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهِيَ حَرَامٌ قَالَ لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

Rasulullah bersabda, “Apa komentar kalian mengenai tindakan mencuri?”. Para shahabat mengatakan, “Mencuri itu diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Jadi hukum mencuri adalah haram”.
Rasulullah bersabda, “Sungguh jika seorang itu mencuri di sepuluh rumah yang bukan tetangganya itu dosanya lebih ringan dibandingkan dengan mencuri di satu rumah yang merupakan tetangganya sendiri”

HR Ahmad no 23905, Syuaib al-Arnauth mengatakan, “sanadnya jayyid”.

Sebab Fitnah dari Wanita

Kepada setiap siapa saja yang ketika menikah mencari kecantikan, nasab, harta, dan mengabaikan serta meninggalkan sisi agama, bacalah (kisah berikut) semoga Allāh menjagamu:
“Seseorang mengeluh disisi Sufyān bin ‘Uyainah bahwasanya ia menikahi seorang wanita lalu ia menjadi barang yang paling hina disisi istrinya dan paling remeh yakni ia menghina suaminya.

Lalu Sufyān berkata: “Mungkin engkau berhasrat kepadanya karena engkau ingin menambah kemuliaan ?”.

Ia berkata: “Benar”.

Dan Sufyān berkata: “Barangsiapa pergi menuju kemuliaan, maka ia diuji dengan kehinaan, dan barangsiapa pergi menuju harta maka ia diuji dengan kefaqiran, dan barangsiapa pergi menuju agama, maka Allāh akan mengumpulkan untuknya kemuliaan, harta, beserta agama”.

[Hilyatul Auliyā’ 7/289]

Antara Suami dan Orang Tua

Seringkali seorang istri tatkala berbuat baik, tunduk dan patuh kepada kedua orang tuanya, maka ia merasa telah benar-benar beramal sholeh.

Maka bisakah ia menghadirkan perasaan ini tatkala ia tunduk, patuh dan berbuat baik kepada suaminya? Tatkala ia berbakti kepada suaminya seakan-akan ia berbakti kepada kedua orang tuanya?

Seringkali seorang istri merasa telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh dan tatkala menyakiti hati kedua orang tuanya, maka apakah ia juga merasakan telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh, tidak taat serta tatkala menyakiti dan menyedihkan hati suaminya?

Bukankah para ulama telah menjelaskan bahwa seorang istri harus lebih berbakti kepada suaminya daripada kedua orang tuanya?

Semoga Allah menjadikan para istri-istri sholehah lebih semangat dalam berbakti kepada suami-suami mereka.

Sungguh keridhoan suami-suami mereka adalah kunci untuk membuka pintu-pintu surga, aamiin.

(Ust Firanda Andirja)

Taubat yang Sia-Sia

Sungguh celaka, mereka yang bertaubat dari korupsi, perselingkuhan, perzinahan dan semisalnya, karena takut diketahui oleh mata para manusia.

Mereka takut aibnya diketahui manusia, tapi tidak takut kepada Allah. Mereka menyepelekan dan melecehkan Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan maha berat azab-Nya.

Yang semacam demikian bukanlah taubat yang ikhlas, melainkan taubat karena takut kepada manusia. Maka tidak jarang mereka akan tercebur lagi ke dalam kehinaan yang sama.

Ada dua taubat yang harus dijalani para pelaku kemaksiatan semodel ini: taubat atas lalainya dari rasa takut kepada Allah, dan taubat atas dosa yang diperbuat.

Allah berkehendak memberikan taufiq kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Blog at WordPress.com.

Up ↑