Hari Wanita Sedunia dan Awal Kejatuhan Qowamah Laki-Laki

Awal dari kejatuhan qowamah seorang laki-laki (suami) adalah ikut campurnya wanita (istri) dalam mencari uang.

Ini yg sering tidak di perhatikan oleh kita (laki-laki), dan ini adalah PR untuk kita sebagai pemimpin dalam rumah tangga.

Jangan jauh-jauh dulu ngomongin masalah negara!

Karena sebab itulah wanita (istri) kerja / punya penghasilan. Kebanyakan laki-laki (suami) jatuh di hadapannya…

Bahasanya: “Aku nggak perlu uang kamu, wong penghasilanku lebih gede dari kamu kok…”

Subhanalloh, dan itu sudah banyak terjadi hari ini. Yg bahkan saya sendiri pernah menyaksikannya…

Ketahuilah wahai saudara/saudariku…
Pemberian harta (nafkah) suami untuk istrinya, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan.

Akan tetapi ini adalah ikatan tali kasih antara suami & istri, serta dalam rangka menjaga aowamah seorang laki-laki (suami).

Bukan sekedar keperluan (butuh uang), karena kalau hanya sekedar kebutuhan uang, lama kelamaan wanita tidak perlu lagi kepada laki-laki (suami). Dan itu awal keretakan dalam hubungan rumah tangga.

Lebih jauh dari itu, seperti dalam paragraf terakhir gambar yg saya screenshoot.
(wanita bebas memilih kecenderungan seksualnya).

Allahul musta’an…

Pesan saya, jika seorang istri ingin bekerja dalam rangka membantu suami. Maka harus di jaga baik-baik qowamah itu serta harus diperhatikan juga syarat-syaratnya.

Hadanallahu waiyyakum…
Barakallahu Ta’ala fiikum…

Abdulkisan Mufty As Sundaiy

Kok Dunia yang Diincar?

“Antum secerdas apapun, seberilmu apapun, kalau yang di incar Dunia, ya tetep aja receh. Wong dunia lebih hina dari bangkai kambing yang cacat.”

✍🏻 Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullah

Rumput Tetangga

Jangan mudah tergiur dengan hijaunya ‘rumput tetangga’. Karena seringkali di balik setiap kelebihan yang kamu lihat dari mereka, Allah uji masing-masing dari mereka dengan kesulitan yang tidak Allah timpakan kepadamu.


Mungkin kamu pernah merasa iri dengan saudaramu yang kaya raya. Mau beli apa saja bisa. Nggak perlu mikir panjang untuk alokasi keuangan. Tapi siapa sangka, ternyata Allah mengujinya dengan penyakit kanker, gagal ginjal, kelumpuhan, atau penyakit lain yang membuat mereka tidak bisa lagi menikmati kekayaannya sampai akhir hayatnya.
Sementara kamu? Walaupun kamu cuma punya motor bebek butut yang batok kepalanya getar, tapi Allah membuat hatimu tenang karena Dia selalu memberimu kesehatan serta memberkahi usiamu. Maka syukurilah.


Atau mungkin, terkadang kamu iri dengan rizki yang Allah berikan kepada saudaramu berupa seorang istri yang sangat cantik. Padahal sebagai suami, menurutmu muka saudaramu itu sangat pas-pasan, misalnya. Tapi siapa sangka, dengan memanfaatkan wajah cantiknya itu, ternyata istrinya suka berkhianat di belakang suaminya dan suka menggoda lelaki lain sampai terjerumus ke dalam dosa.
Sementara kamu? Walaupun mungkin istrimu tidak secantik istrinya, namun Allah memberi hidayah kepada istrimu untuk menjadi istri yang amanah, taat kepadamu, lembut tutur katanya, tidak banyak menuntut, sejuk dipandang, dan setia kepadamu. Maka syukurilah.


Atau mungkin, terkadang kamu iri dengan temanmu yang karier dan studinya lancar. Masih muda sudah jadi bos atau jadi Doktor, misalnya. Tapi siapa sangka, ternyata Allah mengujinya dengan sulitnya mendapatkan jodoh di usia yang tidak lagi muda. Atau barangkali ada yang sudah menikah tapi terpaksa LDR karena tuntutan pekerjaan dan jabatan.

Sementara kamu? Walaupun kamu hanya seorang bawahan yang lulusan SMA, misalnya. Namun Allah memberi ketenteraman di hatimu dengan mudahnya dirimu mendapatkan jodoh. Dimana setiap kamu terbangun dari tidurmu, kamu dapat melihatnya ada di sampingmu. Maka syukurilah.

Tidak ada satupun celah bagi kita di dalam kehidupan dunia yang fana ini untuk tidak bersyukur kepada Allah.

Anas Baihaqi

Dua Jenis Duka yang Berbeda

Hamba yang masih dominan ikatan duniawinya, bisa jadi dia diberi masalah duniawi bertubi-tubi sampai kebanyakan isi doanya adalah meminta diselesaikan masalah-masalah tersebut. Dengan begitu dia “dipaksa” membangun hubungannya dengan Allah, kembali ke fitrahnya sebagai hamba Allah, mulai menyadari betapa palsunya dunia yang sementara ini, dan mulai tergerak untuk mengenal Rabbnya lebih dalam.

Adapun hamba yang lebih dominan ikatan akhiratnya, biasanya problem duniawi sudah tidak terlalu mengganggu pikirannya. Di fase ini, bukan masalah duniawi lagi yang benar-benar membuatnya bersedih, tetapi musibah dinlah yang sungguh mengganggu hatinya.

Dia murung karena merasa sulit istiqamah dalam ketaatan.
Dia sering berduka cita karena merasa tidak baik menyembah Rabbnya.
Dia merasa sedih karena memandang dirinya lemah melaksanakan perintah Allah.
Dia sering menangis karena berkali-kali kalah oleh hawa nafsunya sehingga melanggar batasan.
Doa orang jenis kedua ini yang dominan adalah doa untuk kemaslahatan din, yakni sering meminta pertolongan supaya bisa membuat Allah rida.

Sesekali, saat dia sendiri mengingat Rabbnya, entah berdiri, duduk atau berbaring, berlinanglah air matanya, lalu terucap lirih dari lisannya,

يا مالك يوم الدين
إياك نعبد وإياك نستعين

“Yā mālika yaumiddīn, Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta‘īn”

(Muafa)

Mekanisme Pasar dan Sebuah Kontradiksi

⛔Ketika tersebar kesyirikan dan kebid’ahan, mereka diam saja walau hak Allah dilanggar

⛔Ketika kaum wanita bertabarruj (keluar rumah dengan berhias/bersolek bahkan menanggalkan jilbab), mereka juga bungkam. Padahal ketika kaum muslimat rusak, akan rusak pula generasi kaum muslimin

⛔Ketika minuman keras dan narkotika tersebar luas, mereka juga menutup mata. Padahal berapa banyak kerusakan dan kemaksiatan yang akan muncul akibat alkohol dan zat adiktif

⛔Namun ketika harga barang dan sembako naik, mereka dengan segala argumennya akan turun ke jalan

Lupakah mereka bahwa naik dan turunnya harga barang merupakan ketentuan Allah Azza wa Jalla sesuai mekanisme pasar?
Tidak selalu karena kezhaliman pemegang kebijakan.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ ، سَعِّرْ لَنَا . فَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ

Dari Anas, ia berkata, “Telah naik harga barang pada era Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulallah, tetapkanlah harga barang untuk kami.” Lalu Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah adalah Rabb yang menetapkan harga, yang menahan (rizki), yang membentangkan (rizki) dan Maha Pemberi Rizki. Sesungguhnya aku berharap ketika aku berjumpa dengan Rabb-ku nanti, tanpa ada seorang pun dari kalian yang menuntut kepadaku lantaran kezaliman pada darah dan harta” (HR. Tirmizi, Bab Penetapan Harga, hadits no : 1235)

Ustadz Abu Razin Taufiq

Mengejar Dunia

Mengejar pundi-pundi dunia itu tidak ada habis-habisnya. Semakin dunia di kejar, dunia semakin berlari. Sudah di dapatkan satu perbendaharaan dunia, akan mengejar perbendaharaan yang lain.

Sudah punya satu lembah emas, kembali menginginkan lembah emas yang lain. Semakin dunia dikejar, semakin dia berlari menjauh. Akhirnya hari-harinya disibukkan untuk mencari dunia, melalaikan kehidupan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya kalau akhirat yang dikejar, dunia akan balik mengejar dan mendatanginya. Kekurangan dan kefaqiran akan sirna dan kecukupan akan mewarnai hari-harinya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ
أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya.

Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (Riwayat Ibnu Majah – Hadits Shahih).

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

‘Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.’” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Berkata

Syaikh al-Albani : Hadist Shahîh).

Memang ada sebagian pencari pundi-pundi dunia, masih sempat beribadah, namun itupun disisa-sisa waktunya dalam mengejar dunia. Seperti shalat, kadang mengerjakannya mendahului waktunya dan kadang mengakhirkannya, karena kepentingan dunia yang selalu menghantuinya takut luput darinya.

Abdullah bin ‘Aun rahimahullah berkata:

«إنَّ مَـنْ كان قبْلنـَا كانوا يَجْعلُـونَ للـدنيا مـا فَضُـلَ عَـنْ ِآخـرتهـم، وإنّكـم تجعلـُون لآخـرتِكُـم مـَا فَضُـلَ عَـنْ دُنْيَاكـم»

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kita, mereka menjadikan dunia, apa yang tersisa dari urusan akhirat mereka, dan sesungguhnya kalian, menjadikan untuk akhirat kalian, apa yang tersisa dari urusan dunia kalian.” (Shifatush Shafwah, jilid 3 hlm. 101). Sumber :http://islamport.com/w/trj/Web/5242/216.htm

AFM
Tulisan ini terinspirasi dari seseorang yang hampir setahun menemani dan mengawal beberapa konglomerat di negeri ini.

Jangan Bangga Kalau Anaknya …

Ummaahh…

Jangan bangga kalau anaknya jago nyanyi dan nari, jadi populer karenanya, jadi idola karena goyangannya, jadi buah bibir karena suaranya, itu MUSIBAH…

Sadarilah…
Kelak amal sholehnya yang akan engkau nantikan di a’lam baqa…

Sudahkah mereka bisa mengaji…?
Sudahkah mereka faham tauhid…?
Sudahkah mereka shalat 5 waktu…?
Sudahkah anak perempuanmu yang baligh berhijab syar’i…?
Sudahkah mereka faham halal dan haram…?
Sudahkah mereka benar wudhunya juga gerakan serta bacaan shalatnya…?

Ummaahh…

Saat menyolatkan jenazah kita nanti mereka tidak butuh nyanyi dan nari…
Saat mendoakan kita nanti mereka hanya perlu ilmu syar’i…

Ketahuilah…
Anakmu adalah investasi akhiratmu…
Anakmu titipan Rabb mu…
Suatu saat titipan itu akan diambil dan kita ditanya apakah yang kita lakukan padanya…
Kita jadikan majusi, yahudi ataukah nasrani anak anak kita…
Sebab mereka seperti lembaran kertas yang putih…
Kitalah yang menuliskan kebaikan atau keburukan padanya…

Ummaahh…

Engkau adalah guru dan sekolah pertama dan yang utama bagi anak anakmu…
Maka jadilah guru dan sekolah yang sesungguhnya…
Ingatlah tujuan kita hidup di dunia ini…

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ( الذاريات : ٥٦ )

Barakallaahu fiikum… 💐
@Berbagi_Kebaikan

Yang Tak Punya Rumah Tak Perlu Memikirkan Jalan Pulang

Orang yang tidak menganggap penting Akhiratnya, tidak akan mengerti betapa pentingnya belajar agama atau membaca tulisan² agama.

Bukankah mereka yang tak punya rumah, tak perlu memikirkan pulang?!

Demikian juga akhirat, mereka yang tak yakin dengan surga dan neraka, tidak memikirkan cara untuk mencapai atau menjauhinya.

Faishal Abu Ibrahim

Dunia dalam Timbangan Imam Syafi’i

Dunia adalah batu yang licin dan kampung yang kumuh
Bangunannya kelak rubuh
Penduduknya adalah calon penghuni kubur
Apa yang dikumpulkan akan ditinggalkan
Apa yang dibanggakan akan disesalkan
Mengejarnya sulit meninggalkannya mudah

(Imam asy Syafi’i rahimahullah)

Blog at WordPress.com.

Up ↑