Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu Sina

.
Abu Ali Al Husain bin Abdillah al-Balkhi (wafat 427H), lebih dikenal dengan nama Ibnu Sina, adalah seorang ilmuwan ahli di bidang kedokteran, bidang filsafat, kimia dan berbagai macam ilmu lainnya. Beliau terkenal cerdas dan menguasai cukup banyak bidang ilmu. Beliau juga belajar agama, akan tetapi pelajaran agama beliau banyak terpengaruh oleh ilmu filsafat Yunani dan terpengaruh ajaran-ajaran yang menyimpang akidah Islam. Bahkan penyimpangan-penyimpangan yang ia lakukan sampai pada level mengeluarkan pelakunya dari Islam. Beliaupun ikut mendakwahkan akidah menyimpang ini, dan menulis beberapa kitab filsafat diantaranya “asy-Syifa”, “al-Isyarat”, “al-Qanun”, dan yang lainnya.
.
Inti dari tulisan kami adalah sikap pertengahan terhadap Ibnu Sina terkait status beliau sebagai ilmuwan dan akidah beliau yang sangat jauh keluar dari Islam. Ada beberapa poin yang perlu kita perhatikan:
.
Pertama: Banyak ulama yang sudah menganggap beliau keluar dari Islam karena akidah yang sangat melenceng dari Islam. Mungkin ini hal ini membuat “kaget” sebagian kaum muslimin di Indonesia karena selama ini mereka mengira bahwa Ibnu Sina adalah Islam dan ilmuwan Islam. Kami akan nukilkan perkataan-perkataan ulama yang menyatakan hal ini, terutama ulama yang terkenal dari mazhab Syafi’i yang merupakan mazhab mayoritas di Indonesia semisal Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Ibnu Katsir. Masih banyak penjelasan ulama lainnya terkait akidah Ibnu Sina ini.
.
Kedua: Status beliau sebagai seorang ilmuwan, maka kita pun memperlakukan beliau sebagaimana ilmuwan non-muslim lainnya. Tidak haram mengambil ilmu dunia bermanfaat dari beliau, selama hal itu tidak ada kaitannya dengan agama.
.
Ketiga: Ada pendapat yang lemah (karena kebenarannya belum bisa dipastikan) bahwa beliau telah bertaubat dari akidah yang menyimpang tersebut ketika akan meninggal. Tentu kita sangat berharap ini benar. Namun demikian, pendapat ini lemah, dan yang terpenting bagi kita adalah tetap berlepas diri dan mengingatkan umat dari akidahnya yang sangat melenceng dari akidah Islam.
.

(Ust dr Raehanul Bahraen)

Hujjah untuk Mementahkan Syubhat Kaum Murji’ah, Liberal, Filsuf dan ‘Islam’ Nusantara

Kebenaran adalah milik Allah dan disampaikan kepada manusia oleh Rasul-Nya yang ma’shum, dan manusia diberi akal untuk bisa membedakan dan men-judge mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan timbangan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan interpretasi generasi salaf, yaitu tiga generasi pertama kaum muslimin.

Hujjah buat mementahkan syubhat lisan tipikal kaum murji’ah, liberal, filsuf dan ‘Islam’ Nusantara.


“There is no truth”
A: How could this be true?

“You cannot know the truth”
A: How do you know this is true?

“This is true for you, but not for me”
A: Likewise.

“Nobody really has the truth”
A: Except you when you say this?

“The truth always changes”
A: Will this truth change?

“All truth is relative”
A: Is this truth relative?

“You should doubt everything”
A: Should I doubt this?

“Everything is meaningless”
A: What do you mean by that?

“It is wrong to judge”
A: Is that not a judgement?

“You should never apply your moral standards on others”
A: Why it okay to apply this moral standard on me?

“You should never impose your beliefs on others”
A: Why is it okay to impose this belief on me?

“We should be tolerant of all views to prevent intolerance”
A: What if the views are themselves intolerant?

“There is no truth in religion, only in empirical science”
A: Can you use empirical science to prove this, or is it itself a philosophical, metaphysical assumption?

“Listen to me, you need to think for yourself!”
A: What if I think for myself and decide not to listen to you?

Blog at WordPress.com.

Up ↑