@buzzerp

Kalau orang-orang shaleh dalam heningnya sudah memanjatkan doa-doa laknat atasmu, tinggal kehendak Allah saja yang menentukan.

Lalu mau lari ke mana lagi kamu?

Doa Mengubah Takdir?


.
Bismillahirrahmanirrahim
.
Banyak yang masih keblinger mengenai Doa dapat merubah takdir yang akhirnya berujung kepada pemahaman Qadariyyah bahwasannya Takdir belum ditulis dan baru akan ditulis setelah hamba-Nya melakukan ikthiar. Inna Lillahi Wa Inna Ilayhi Raji’un
.
PERTAMA : yang harus dipahami adalah bahwasannya takdir telah ditulis dan ditetapkan 50,000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi oleh Allah Azza Wa Jalla.
.
Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin ‘Amru bin ‘Abdullah bin Sarh : telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb : telah mengabarkan kepadaku Abu Hani Al Khalwani dari Abu ‘Abdur Rahman Al Hubuli dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
“Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” Rasulullah menambahkan : “Dan Arsy Allah itu berada di atas air.”
.

  • HR. Muslim no. 4797 | Syarh Shahih Muslim no. 2653, Tirmidzi no. 2082 | no. 2156, Al-Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/327 no. 1026 dan Ahmad no. 6291. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim
    KEDUA : Takdir yang telah ditetapkan dan ditentukan 50,000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi oleh Allah Azza Wa Jalla tidak dapat dirubah sebagaimana pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.
    .
    Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Musa : telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak : telah mengkhabarkan kepada kami Laits bin Sa’ad dan Ibnu Lahi’ah dari Qais bin Al Hajjaj berkata : dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman: telah mengkhabarkan kepada kami Abu Al Walid : telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’ad telah menceritakan kepadaku Qais bin Al Hajjaj -artinya sama- dari Hanasy Ash Shan’ani, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku pernah berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, beliau bersabda,
    .
    “Hai nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya dihadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (maksudnya takdir telah ditetapkan).”
    .
  • HR. Tirmidzi no. 541 | no. 593. Hasan Shahih
    .
    DAN MAKSUD DOA DAPAT MERUBAH takdir sebagaimana di dalam hadits hasan dibawah ini
    .
    Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad : telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abdullah bin Isa dari Abdullah bin Abu Al Ja’d dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Tidaklah akan bertambah umur (seseorang) kecuali dengan kebaikan, dan tidaklah akan dapat menolak takdir kecuali doa. Sesungguhnya seseorang akan ditahan rizkinya karena dosa yang dia lakukan.”
    .
  • HR. Ibnu Majah no. 4012 | no. 4022 dan Ahmad no. 21379. Hasan. Lafazh dan sanad di atas milik Ibnu Majah
    .
    IALAH bahwasannya tidaklah Allah Azza Wa Jalla telah menakdirkan atau menetapkan, menentukan dan menuliskan takdir hamba-Nya KECUALI juga telah ditakdirkan, ditetapkan, ditentukan dan dituliskan sebab-sebabnya yang sebab itu juga telah ditakdirkan, ditetapkan, ditentukan dan dituliskan oleh Allah Azza Wa Jalla.
    .
    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
    .
    وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ (96)
    .
    “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
    .
  • QS. Ash Shaffat [37] : 96
    .
    Telah menceritakan Abu An-Nadhr Muhammad bin Yusuf Al Faqih kepada kami : telah menceritakan Utsman bin Sa’id Ad Darimi kepada kami, telah menceritakan Ali bin Al Madini kepada kami : telah menceritakan Marwan bin Muawiyah kepada kami, Abu Malik Al Asyja’i menceritakan kepada kami dari Rib’i bin Hirasi, dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Allah adalah pembuat (pencipta) setiap orang yang berbuat sekaligus perbuatannya.”
    .
  • Al Hakim no. 85, Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/199 no. 942 dan Al Bukhari, Khalq Af’al Al Ibad no. 137. Shahih. Ash-Shahihah no. 1637. Lafazh dan sanad di atas milik Al Hakim.
    .
    Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdullah bin Mubasysyir, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinan, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il Al Jabbbuli, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyyah, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Malik, dari Rib’i bin Khirasy dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Allah menciptakan setiap orang yang berbuat sekaligus perbuatannya.”
    .
    Al Fazari berkata : “Maksudnya menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.”
    .
  • Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/200 no. 943 dan Al Hakim no. 86, Al Hakim rahimahullah berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim, namun keduanya (Al Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya (dalam Shahihnya).” Shahih. Ash Shahihah no. 1637. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dari Ya’qub bin Humaid dari Marwan dengan redaksi yang sama dalam As Sunnah no. 358 dan juga dari Al Fudhail bin Sulaiman dari Marwan dengan redaksi yang sama dalam As-Sunnah no. 357 sebagaimana juga yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Syaikh Ahmad bin Sa’ad bin Hamdan Al Ghamidi mengatakan : “Jalur periwayatannya tidak masalah”. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan : “Jalur periwayatannya Jayyid.”. Lafazh dan sanad di atas milik Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/200 no. 943
    .
    Maka, perbuatan berdoa itu adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Azza Wa Jalla, dan takdir itu pasti terjadi. Atas kehendak Allah-lah terjadi dan tercegahnya segala sesuatu. Dia juga yang menakdirkan dan mencegah segala sesuatu baik dengan sebab doa, sedekah, atau amal shalih. Dan Dia menjadikan perkara-perkara ini sebagai sebab-sebab dari semua itu (rezeki, panjang umur, dll), yang tidak lepas dari ketetapan-Nya.
    .
    Sederhananya, orang yang memiliki hidup yang sempit kemudian dia berdoa agar diluaskan rezekinya dan terus melakukan ikthiar. Takdir ia berdoa pada saat itu sudah dituliskan dan takdir ia melakukan ikthiar pun juga sudah dituliskan, kemudian hasil dari apa yang menjadi doanya pun juga telah dituliskan dalam takdirnya.
    .
    Jadi jangan keblinger lagi kalau Takdir belum ditulis macam Qadariyyah.
    .
    Atha bin Yussuf

Dua Jenis Duka yang Berbeda

Hamba yang masih dominan ikatan duniawinya, bisa jadi dia diberi masalah duniawi bertubi-tubi sampai kebanyakan isi doanya adalah meminta diselesaikan masalah-masalah tersebut. Dengan begitu dia “dipaksa” membangun hubungannya dengan Allah, kembali ke fitrahnya sebagai hamba Allah, mulai menyadari betapa palsunya dunia yang sementara ini, dan mulai tergerak untuk mengenal Rabbnya lebih dalam.

Adapun hamba yang lebih dominan ikatan akhiratnya, biasanya problem duniawi sudah tidak terlalu mengganggu pikirannya. Di fase ini, bukan masalah duniawi lagi yang benar-benar membuatnya bersedih, tetapi musibah dinlah yang sungguh mengganggu hatinya.

Dia murung karena merasa sulit istiqamah dalam ketaatan.
Dia sering berduka cita karena merasa tidak baik menyembah Rabbnya.
Dia merasa sedih karena memandang dirinya lemah melaksanakan perintah Allah.
Dia sering menangis karena berkali-kali kalah oleh hawa nafsunya sehingga melanggar batasan.
Doa orang jenis kedua ini yang dominan adalah doa untuk kemaslahatan din, yakni sering meminta pertolongan supaya bisa membuat Allah rida.

Sesekali, saat dia sendiri mengingat Rabbnya, entah berdiri, duduk atau berbaring, berlinanglah air matanya, lalu terucap lirih dari lisannya,

يا مالك يوم الدين
إياك نعبد وإياك نستعين

“Yā mālika yaumiddīn, Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta‘īn”

(Muafa)

Doa Orang Tua untuk Anaknya

Mengapa doa orang tua kepada anaknya merupakan salah satu doa yang Allah kabulkan?

Karena merekalah orang yang paling tulus dalam mendoakan.

Doa yang khusyuk bersumber dari lubuk hati yang terdalam, tak jarang pula diselingi dengan tangisan.

Ketika mendoakan kebaikan, doa tersebut betul-betul tulus diucapkan.

Doa yang muncul dari rasa cinta dan harapan.

Mendoakan agar anak hidup bahagia, sekalipun orang tua tak ikut merasakan.

Mendoakan agar anak senantiasa dicukupi kekayaan, sekalipun diri sendiri hidup kekurangan.

Mendoakan agar anak sholeh, meski mungkin saja diri pribadi belum mencapai derajat kesholehan.

Pun begitu pula dengan doa keburukan,

Ketika doa ini terlontarkan, tak ada lain dan bukan karena dari hati yang terdalam.

Itulah sebabnya mengapa kita sebagai orang tua hendaknya membiasakan kata-kata baik untuk diucapkan.

Betapapun marahnya, betapapun kesalnya,

Tahanlah lisan dari mendoakan keburukan.

Karena ketika doa itu terkabulkan, kesedihan pasti ‘kan kita rasakan.

Atas apa yang menimpa anak akibat doa buruk yang terucap di lisan.

Anak tetaplah anak, bagaimanapun keadaan, yang selalu kita cinta tanpa berharap balasan.

Selalu doakanlah untuk mereka kebaikan, Semoga Allah senantiasa mengabulkan.

(Boris Tanesia)

Antara Permintaan dan Kemalasan

Kita punya seabrek keinginan untuk dimintakan kepada Allah untuk segera dikabulkan. Tapi pada saat yang sama kita lamban dalam memenuhi hak-hak Allah, nyaman bergelimang dalam dosa, istiqamah dalam mengingkari-Nya. Bahkan untuk sekedar menggerakkan bibir berdoa untuk suatu permintaan saja malasnya bukan main.

Blog at WordPress.com.

Up ↑