Sudahlah, Sudah Cukup

Dulu, saat pilpres 2019, dia begitu didukung dan dielu-elukan, bahkan oleh banyak dari kalangan kita yang sudah ngaji; karena dianggap dekat dengan Islam, religius, dan cukup mewakili suara umat Islam.
Tapi, hari ini, dia menyatakan bahwa pawang hujan adalah kearifan lokal.
Sudahlah. Sudah cukup. Semoga ini semua benar-benar cukup memberi kita pelajaran, tidak perlu berlebihan mengagumi dan berharap pada permainan politik. Siapapun orangnya. Karena politik yang tidak didasarkan atas asas syar’i tidak lebih dari segala rupa tipu daya. Politik tidak akan memberikan apapun sampai seseorang menyerahkan seluruh agamanya.
Next, semoga kita, terutama yang mengaku sudah mengenal manhaj, tak lagi terlalaikan dengan berlarut-larut dalam kubangan pembicaraan politik. Tidak perlu juga terlalu over membela sosok politik manapun, siapapun. Percayalah. Selama pondasi dan bingkai politiknya bukan agama, maka tidak akan pernah ada the real pejuang agama.
Cukuplah bagi kita banyak berdoa kepada Allah, mengadu kepada Allah, agar Allah memperbaiki dan memberkahi negeri ini; sambil terus berikhtiar dengan dakwah serta amal shalih yang kita mulai dari diri sendiri dan keluarga.

Wallahul Muwaffiq. 🤝

Ustadz Ammi Ahmad

Muridmu Sedang Merengat Keringat Memerah Darah!

Janganlah Anda menjadi orang terdepan bicara saat situasi masyarakat masih aman, namun ketika keadaan sudah memanas, tetibanya Anda tak terdengar lagi hingga hembusan nafas pun. Sebagian bercokol di luar negeri saat itu, sebagian menjadi hantu.

Ingatlah bahwa boleh jadi jemari kita menanam saham untuk pertumpahan darah.

Kenalilah keadaan sebenarnya. Kita menghunus pedang melalui ketikan. Kita mengambil anak panah di mimbar-mimbar. Tapi yang menjadi korban adalah para pembaca dan hadirin. Yang ‘memperjuangkan’ kilatan pedang dan desingan anak panah Anda adalah para pemuda yang seharusnya lebih fokus belajar dan beramal.

Saat sebagian darah mereka tumpah, Anda boleh tetibanya membisu; sambil masih mencari siapa kambing hitam. Tapi ALLAH TIDAK LALAI.

Allah tidak akan lalai akan kezaliman manusia, berkuasa atau tidak.

Sekalipun seseorang rajin shalatnya bahkan menjadi imam sekalipun, jika kemudian menanam saham pertumpahan darah, maka ingatlah dan ingatlah hadits berikut:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ، وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat. Sedangkan yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah.” [H.R. An-Nasa’i]

Sekiranya saat ini anak Anda berlumuran darah memperjuangkan sesuatu yang dia sendiri tidak memahami dengan baik -bahkan kehidupan pun belum dia mengerti-, maka sudikah menobatkannya sebagai pejuang dan pahlawan?! Sementara di Akhirat, pertanyaan demi pertanyaan akan menjurus kepada Anda, wahai penanam saham?!

Bukankah para orator mimbar, baik bersorban, berpeci, berbaju koko dan bersarung itu tidak tampak di medan saat darah tertumpah?

Bukankah mereka justru hidup lebih tenang, dengan suguhan kopi atau teh istri, atau murid, atau panitia kajian; dan urusan ekonomi ada yang mengamankan?!

Penulis bukanlah individu yang tidak mengerti posisi bapak-bapak penceramah agama, yang tinggal di kota-kota besar. Penulis sangat mengerti betapa sejuknya tinggal di kota besar yang kian hari kian panas.

Sehingga, disarankan jangan berpura-pura. Disarankan ubah haluan pemikiran. Tenangkan umat dengan jari dan lisanmu. Istighfar. Setiap saham dan investasi ada laba jahatnya. Jika laba bersihnya adalah darah pemuda kita di masa tutup buku, kira-kira jawaban apa yang Anda akan manipulasikan di hadapan Allah Ta’ala kelak?!

Sementara Anda lebih banyak meneliti koran dibandingkan al-Qur’an.

Berpura-puralah, jika sejak lama memang rasa malumu sudah terkubur sebelum jasadmu.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Spanduk Partai

Kalau ada spanduk /reklame menjelang pemilu yang bertuliskan “Kami akan mensejahterakan rakyat…”
Iyain sajalah karena mereka itu jujur sebab diri mereka sendiri itu adalah ‘rakyat’ juga, keluarga mereka juga ‘rakyat ‘, anggota partai mereka juga ‘rakyat’.
Dengan demikian kita bisa membaca spanduk /reklame mereka “Kami akan mensejahterakan diri kami, keluarga kami dan partai kami”

Syubhat Ahlul Demo

Diantara dalil yang dipakai oleh mereka untuk membolehkan manusia memberontak dan mengadakan demo berjilid², adalah hadits berikut ini:

ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﻣﻨﻜﻢ ﻣﻨﻜﺮﺍ ﻓﻠﻴﻐﻴﺮﻩ ﺑﻴﺪﻩ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻠﺴﺎﻧﻪ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻘﻠﺒﻪ ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﺿﻌﻒ ﺍﻹﻳمان

“Barangsiapa di antara kalian yg melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, yg demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”.
(HR.Muslim)

Akhil habib,.
Hadits diatas adalah hadits umum, hadits diatas dibatasi dengan hadits hadits Nabi yg lebih khusus tentang perintah taat dan menasehati penguasa secara 4 mata, begitulah pr ulama salaf memahaminya. Seperti apa kata Imam as Syaukani dalam kitabnya, Nailul Author:

وقد استدل القائلون بوجوب الخروج على الظلمة ومنابذتهم بالسيف ومكافحتهم بالقتال بعمومات بالكتاب والسنة في وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .ولا شك ولا ريب أن الأحاديث التي ذكرها المصنف في هذا الباب وذكرناها أخص من تلك العمومات مطلقا.

“Orang-orang yang mengatakan wajib memberontak, memerangi dengan pedang dan melakukan perlawanan terhadap pemimpin yang zhalim, mereka berdalil dengan dalil² umum dlm Al Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Tidak diragukan lagi bahwa hadits² yang disebutkan oleh penulis dalam bab ini (Hadits² tentang kewajiban ta’at pada pemimpin zhalim dan larangan memberontak) lebih khusus daripada dalil² umum tersebut (yaitu hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar).

Ada kaidah; apabila ada dalil umum bertemu dengan dalil yg lebih khusus, maka dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil yang sifatnya umum.

Lihatlah Nabi dalam hadits diatas menyebut kata “munkaron” yang artinya “kemungkaran” dengan lafadz nakirah (umum). Lafadz “munkaron” belum dibatasi oleh Nabi kemungkaran macam apa saja yg kita diperintahkan untuk mencegahnya dengan tangan (kekuatan). Lalu Nabi bersabda dalam hadits yg lebih khusus “man aroda an yanshoha lidzi sulthon fala yubdihi alaniyah/ kalau mau menasehati penguasa maka janganlah dia tampakkan dimuka umum” dan hadits² yg melarang kita untuk memberontak. Jadi, hadits diatas yg sifatnya masih umum di batasi dengan hadits² yg khusus dan lebih spesifik. Sehingga, kita memang diperintahkan untuk mengingkari kemungkaran sekuat kemampuan kita tapi terkait dengan kemungkaran² yg dibuat oleh penguasa maka ada cara tersendiri untuk mengingkarinya yg cara ini sudah ditetapkan oleh Allah dalam syariat.

Kalau anda sulit untuk memahaminya, maka saya berikan sebuah gambaran:

Misalnya ibu guru bilang “semua murid besok libur ya”.. kemudian (misalnya) ibu guru juga bilang “Andi, besok kamu masuk”. Maka, karena kalimat kedua sifatnya lebih spesifik dan lebih detail dr kalimat pertama, maka, kalimat kedua mengecualikan kalimat pertama, sehingga pengertiannya adalah “semua murid besok libur, kecuali Andi”.

Jadi, Nahi munkar kpd pemimpin negeri itu datangi dengan baik, ngomong empat mata bukan didepan umum, atau kirimi surat jika tak mampu, ini cara nahi munkar kepada pemimpin yg ditetapkan oleh agama (dalil²nya sudah sering saya sebutkan di status² yang lalu). Kalau anda tidak mampu untuk mendatangi penguasa, atau tidak bisa mengiriminya surat, atau sudah menyampaikan nasehat tapi tidak didengar, maka kata Nabi ingkari kemungkaran-kemungkarannya dengan hati. Baca lagi hadits Nabi shallallaahu alaihi wa sallam,

تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Dengarlah dan ta’atlah kamu kepada pemimpin, meskipun punggungmu digebuk dan hartamu dirampas, kamu tetaplah dengar dan ta’at”
(HR. Muslim)

Selama pemimpin itu masih muslim maka kata Nabi “ishbiruu (bersabarlah kalian) man kariha biqalbih wa ankaro biqalbih (siapa yg benci maka bencilah dengan hatinya, dan yg mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya)”.

Sekarang, siapakah yg lebih baik petunjuknya dalam hal ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yg lebih baik petunjuknya, ataukah para du’at provokator itu yg lebih baik?! Siapa yg lebih kalian ikuti?

Bersabar bukan berarti membenarkan kezhalimannya atas kita, tapi dalam rangka menta’ati perintah Nabi shallallaahu alaihi wasallam ..

Ingat, di akhirat kita tidak akan ditanya tentang apa saja dosa pemimpin kita, tapi kita akan ditanya kenapa menyelisihi petunjuk nabi shallallaahu alaihi wasallam

Faishal Abu Ibrahim

Memilih Pemimpin (2)

Nyoblosnya sendiri bukan ushul. Ma’ruf kalau itu ijtihadiyah..

Tapi yang melandasi kenapa dia nyoblos, bisa jadi masuk kepada ushul.. Ini yang akan membedakan kita dengan ahli bid’ah yang fokus pada kekuasaan.. Kalau kita tidak… kita hanya fokus pada dakwah tauhid, bukan kekuasaan.. dan nyoblos karena menghindari mafsadah yang lebih besar, bukan karena kekuasaan..

“Trus kalau salafi nggak berkuasa, kapan bisa menerapkan hukum Allah?”

Allah akan beri kekuasaan kalau kita bertauhid dan beramal shalih, baca QS An Nuur: 55. Kalau kita memaksakan berkuasa dengan cara kudeta sekalipun dalam kondisi rakyat belum terdidik dengan syariat, maka tinggal menunggu bom waktu kita akan diberontak. Pengalaman yang sudah2 telah membuktikan.

Lha sekarang menyiapkan rakyat agar terdidik dengan satu syariat saja yaitu “taat waliyyul amr”, susahnya minta ampun salah satunya gara2 banyak da’i yang menggembosi masalah ini, memprovokasi agar rakyat membenci dan tidak mengakui penguasanya.. Kalau seperti ini gimana syariat lainnya yang merupakan derivat dari syariat tsb bisa ditegakkan?

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Memilih Pemimpin

Setiap muslim hendaknya paham bahwa idealnya, pemimpin tidaklah dipilih berdasarkan kehendak rakyat umum, akan tetapi lewat musyawarah orang-orang terpilih yang disebut dengan ahlul hall wal ‘aqd.

Dan paham bahwa hukum tidaklah ditentukan berdasarkan kehendak rakyat atau perwakilan rakyat, melainkan wajib berasal dari Al Hakim Tabaraka wa Ta’ala. Kecuali yang Dia mandatkan kepada manusia untuk mereka tentukan sendiri berupa siyasah syar’iyyah.

Oleh sebab itu, karena pemilihan pemimpin berdasarkan suara terbanyak rakyat umum bukanlah dari syariat Islam, dan penentuan hukum berdasarkan kehendak rakyat bukan pula dari syariat yang mulia ini. Maka setiap muslim mestinya punya sikap bara’ (berlepas diri) dan membenci hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Jika memang diharuskan untuk berpartisipasi dalam pemilihan tersebut, maka semata karena mengambil kerusakan yang terkecil dari dua kerusakan yang tidak bisa dihindari.

Dan jika tidak ada keharusan, maka semestinya sikap seorang muslim adalah menunjukkan bara’ah /penentangan dengan tidak berpartisipasi.

Ini yang kami yakini sebagai sikap yang pertengahan.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Dan Heraclius-pun Ciut

Ingatlah ketika Heraclius yang telah menaklukkan Persia dalam dua peperangan yang maha dahsyat, tak sedikitpun dia dan pasukannya berani menyambangi medan perang Tabuk di musim panas yang panjang itu, di mana Rasulullah dan para Shahabat yang mulia telah menunggu berhari-hari, dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit dan persenjataan yang lebih sederhana.

Mengapa dia takut?

Tak lain karena dia sadar, menghadapi seorang Nabi dan kekuatan kaum muslimin yang telah sempurna tauhidnya, maka Heraclius sadar diri bahwa tak mungkin dia akan menang.

Tauhid kunci kejayaan. Bukan pada kemenangan partai tertentu dalam sabung partai dan lotere demokrasi.

Allahul musta’an

Islam dan Syubhat Haroki

Islam dengan keagungannya terlalu besar untuk dikerangkai dalam man-made system bernama demokrasi.
Islam dengan kebesarannya terlalu mulia untuk dijadikan atribut dalam arena sabung partai dalam kalang bernama demokrasi.
Dakwah tauhid dengan segala kemuliaannya terlalu tinggi untuk dimurah-meriahkan dalam man-made marketing agent bernama partai politik.

Bredel

Ketika kaum harokiyyun menakut-nakuti, kata mereka pada waktunya dakwah salaf akan dibungkam penguasa, justru yang sebetulnya sudah terjadi adalah dakwah salaf didiskreditkan oleh kaum mereka, diblokir oleh mereka, bahkan dibungkam oleh golongan semisal mereka dari kubu hizbiyyun.

“Golongan semisal mereka” – mereka berbeda-beda kubu tapi masih dalam kolam yang sama: demokrasi dan sabung partai.

Aqidah merekapun 11-12: asya’irah, maturidi, sufiyyah. Beda antara mereka seringkali cuma soal pendapat remeh-temeh dan pendapatan saja. Begitu kepentingannya sama, simbiosis mutualisma pun terjadi. Iya toh?

Harakah – Antara Kepedean, Tergesa-gesa, atau Tidak Peduli dan Selera Pasar

Dulu, siapa tidak kenal dengan kiai fulan? Dielu-elukan umat. Ceramahnya legendaris semua. Diputar sampai sekarang. Kurang apa lagi beliau? Udah lengkap hidupnya. Tidak usah cari apa lagi.

Tapi tetibanya melangkah ke politik demokrasi. Ikut partai. Tetiba itulah ambruk. Dari kelas alimnya, hingga thalibnya, jika dulu lisannya selalu ilmu dan nasehat. Lalu bertamu ke panggung demokrasi. Ternyata disambut hangat. Masuk. Tidak menunggu lama. Hilang arwah keilmuannya.Resureksi partai lawas.

Sempat dibangkitkan sebelumnya oleh Partai Starmoon. Mana jejaknya sekarang? Alih-alih teruskan track Starmoon. Kini resmi membuat baru. Silakan. Tapi I wonder: seberapa pede kita mengerahkan ideologi Islam melalui panggung demokrasi, sementara banyak rakyat masih anti syariat karena kejahilan merebak?

Ini imma kepedean, imma tergesa-gesa, imma memang tidak peduli mencerdaskan masyarakat sebelum mengatur. Gerak dulu. Harakah dulu. Kalau ga sekarang, kapan?!

Prinsip it’s now or never inilah yang kurang bijak – dalam konteks ini -. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?!
Resureksi golongan lawas berideologis murni kanan tidak mudah. Tugas yang terlalu berat.

Jangankan untuk mengatur umat menuju gemilang syariat Islam, untuk mengatakan “Asya’irah memiliki kesalahan dalam masalah aqidah” saja tidak mampu, karena mengerti kepentingan dan suara. Suara mereka banyak. Tifosi mereka cukup fanatik. “The Grand Imam” has already arrived. Jalan tol saja bisa rapat dijadikan parkiran. Ini menunjukkan apa? Kecintaan luar biasa, numeral suara yang bisa berpengaruh dan identitas kanan yang mulai menggema.

Modal nih. Tapi tetap ada kejanggalan sikap, yaitu: kepedean dan tergesa.
Yang justru kita khawatir jika sudah kadung di panggung, baru ngeh jika sudah kadung kejebak. Konon ideologi Islam diusung, namun kenyataannya menuruti selera pasar.
Tidak ada lagi ideologi baku. Tidak idealis lagi. Justru ya sama seperti lainnya.

Tapi siapalah saya kawulo alit berbicara apalagi mencegah. Wong saya bagian dari rakyat jelata yang kakinya masih belepetan lumpur sawah. Saya hanya sering menyesali ketika diri saya atau siapapun yang dulunya selalu bincang ilmu, kini hanya bisa bincang dunia – walau covernya ideologi agama -.

(Ust Hasan Al Jaizy)

Blog at WordPress.com.

Up ↑