Buka Kedok Saja Sekalian

Memang ada baiknya yang memusuhi salafi dan para ulamanya ini buka kedok sekalian daripada terlalu lama bermuka dua.

Kalau menguntungkan pemikiran haraki-nya saja, fatwa ulama salafi dicomot dan dikesankan seolah mereka ini salafi karena mengambil fatwa dari mereka.

Sedangkan ketika fatwa ulama tidak menguntungkannya, mereka tidak berani menyerang para ulama tersebut, tapi yang diserang para da’i di bawah mereka yang mengawal fatwa para ulama tsb.

Contoh paling mudah adalah tentang status waliyyul amri di negara yang berhukum dengan undang-undang buatan. Syaikh Ibn Baz, Syaikh Ibn ‘Utsaimin, Syaikh Al Fauzan, Syaikh Ibrahim Ar Ruhailiy, dll mereka dengan jelas mengatakan bahwa penguasa muslim semacam itu adalah ulil amri yang wajib ditaati dalam perkara ma’ruf.

Beranikah orang-orang itu secara langsung mengejek para ulama tsb dengan ejekan “bodoh”, “tolol”, “tidak paham soal ini..”, “kokohiyyun”, “cebong”, dan segala bentuk perendahan lainnya? Yakinlah, tidak akan berani. Beraninya ya sama kita-kita ini yang selevel.

Masih lebih gentle mereka yang asli orang partai dan harokah yang tidak bermuka dua. Mereka menyebut salafi dengan sebutan salafi, bukan kokohiyyun atau yang lainnya karena mereka memang menempatkan diri di luar salafi.
Sesekali nyetatus rada gahar dikit.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Muridmu Sedang Merengat Keringat Memerah Darah!

Janganlah Anda menjadi orang terdepan bicara saat situasi masyarakat masih aman, namun ketika keadaan sudah memanas, tetibanya Anda tak terdengar lagi hingga hembusan nafas pun. Sebagian bercokol di luar negeri saat itu, sebagian menjadi hantu.

Ingatlah bahwa boleh jadi jemari kita menanam saham untuk pertumpahan darah.

Kenalilah keadaan sebenarnya. Kita menghunus pedang melalui ketikan. Kita mengambil anak panah di mimbar-mimbar. Tapi yang menjadi korban adalah para pembaca dan hadirin. Yang ‘memperjuangkan’ kilatan pedang dan desingan anak panah Anda adalah para pemuda yang seharusnya lebih fokus belajar dan beramal.

Saat sebagian darah mereka tumpah, Anda boleh tetibanya membisu; sambil masih mencari siapa kambing hitam. Tapi ALLAH TIDAK LALAI.

Allah tidak akan lalai akan kezaliman manusia, berkuasa atau tidak.

Sekalipun seseorang rajin shalatnya bahkan menjadi imam sekalipun, jika kemudian menanam saham pertumpahan darah, maka ingatlah dan ingatlah hadits berikut:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ، وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat. Sedangkan yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah.” [H.R. An-Nasa’i]

Sekiranya saat ini anak Anda berlumuran darah memperjuangkan sesuatu yang dia sendiri tidak memahami dengan baik -bahkan kehidupan pun belum dia mengerti-, maka sudikah menobatkannya sebagai pejuang dan pahlawan?! Sementara di Akhirat, pertanyaan demi pertanyaan akan menjurus kepada Anda, wahai penanam saham?!

Bukankah para orator mimbar, baik bersorban, berpeci, berbaju koko dan bersarung itu tidak tampak di medan saat darah tertumpah?

Bukankah mereka justru hidup lebih tenang, dengan suguhan kopi atau teh istri, atau murid, atau panitia kajian; dan urusan ekonomi ada yang mengamankan?!

Penulis bukanlah individu yang tidak mengerti posisi bapak-bapak penceramah agama, yang tinggal di kota-kota besar. Penulis sangat mengerti betapa sejuknya tinggal di kota besar yang kian hari kian panas.

Sehingga, disarankan jangan berpura-pura. Disarankan ubah haluan pemikiran. Tenangkan umat dengan jari dan lisanmu. Istighfar. Setiap saham dan investasi ada laba jahatnya. Jika laba bersihnya adalah darah pemuda kita di masa tutup buku, kira-kira jawaban apa yang Anda akan manipulasikan di hadapan Allah Ta’ala kelak?!

Sementara Anda lebih banyak meneliti koran dibandingkan al-Qur’an.

Berpura-puralah, jika sejak lama memang rasa malumu sudah terkubur sebelum jasadmu.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Taat Kepada Pemimpin (2)

“Tidak wajib taat Ulil Amri yang menerapkan hukum non-Islam.”

Jika maksudnya adalah tidak mentaati pada perkara maksiat, maka benar. Ini paham ahlus sunnah wal jama’ah.

Jika maksudnya adalah tidak wajib taat sama sekali, ini paham ahlul bid’ah.

Jika ada anggapan bahwa rezim penguasa harus selalu ditaati dalam segala hal, maka itu paham Murji’ah.

Jika ada yang menuduh orang lain namun tidak mampu menunjukkan buktinya, ketahuilah bahwa ia seorang pendusta.

Anda yang mana?

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Syubhat Ahlul Demo

Diantara dalil yang dipakai oleh mereka untuk membolehkan manusia memberontak dan mengadakan demo berjilid², adalah hadits berikut ini:

ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﻣﻨﻜﻢ ﻣﻨﻜﺮﺍ ﻓﻠﻴﻐﻴﺮﻩ ﺑﻴﺪﻩ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻠﺴﺎﻧﻪ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻘﻠﺒﻪ ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﺿﻌﻒ ﺍﻹﻳمان

“Barangsiapa di antara kalian yg melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, yg demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”.
(HR.Muslim)

Akhil habib,.
Hadits diatas adalah hadits umum, hadits diatas dibatasi dengan hadits hadits Nabi yg lebih khusus tentang perintah taat dan menasehati penguasa secara 4 mata, begitulah pr ulama salaf memahaminya. Seperti apa kata Imam as Syaukani dalam kitabnya, Nailul Author:

وقد استدل القائلون بوجوب الخروج على الظلمة ومنابذتهم بالسيف ومكافحتهم بالقتال بعمومات بالكتاب والسنة في وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .ولا شك ولا ريب أن الأحاديث التي ذكرها المصنف في هذا الباب وذكرناها أخص من تلك العمومات مطلقا.

“Orang-orang yang mengatakan wajib memberontak, memerangi dengan pedang dan melakukan perlawanan terhadap pemimpin yang zhalim, mereka berdalil dengan dalil² umum dlm Al Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Tidak diragukan lagi bahwa hadits² yang disebutkan oleh penulis dalam bab ini (Hadits² tentang kewajiban ta’at pada pemimpin zhalim dan larangan memberontak) lebih khusus daripada dalil² umum tersebut (yaitu hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar).

Ada kaidah; apabila ada dalil umum bertemu dengan dalil yg lebih khusus, maka dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil yang sifatnya umum.

Lihatlah Nabi dalam hadits diatas menyebut kata “munkaron” yang artinya “kemungkaran” dengan lafadz nakirah (umum). Lafadz “munkaron” belum dibatasi oleh Nabi kemungkaran macam apa saja yg kita diperintahkan untuk mencegahnya dengan tangan (kekuatan). Lalu Nabi bersabda dalam hadits yg lebih khusus “man aroda an yanshoha lidzi sulthon fala yubdihi alaniyah/ kalau mau menasehati penguasa maka janganlah dia tampakkan dimuka umum” dan hadits² yg melarang kita untuk memberontak. Jadi, hadits diatas yg sifatnya masih umum di batasi dengan hadits² yg khusus dan lebih spesifik. Sehingga, kita memang diperintahkan untuk mengingkari kemungkaran sekuat kemampuan kita tapi terkait dengan kemungkaran² yg dibuat oleh penguasa maka ada cara tersendiri untuk mengingkarinya yg cara ini sudah ditetapkan oleh Allah dalam syariat.

Kalau anda sulit untuk memahaminya, maka saya berikan sebuah gambaran:

Misalnya ibu guru bilang “semua murid besok libur ya”.. kemudian (misalnya) ibu guru juga bilang “Andi, besok kamu masuk”. Maka, karena kalimat kedua sifatnya lebih spesifik dan lebih detail dr kalimat pertama, maka, kalimat kedua mengecualikan kalimat pertama, sehingga pengertiannya adalah “semua murid besok libur, kecuali Andi”.

Jadi, Nahi munkar kpd pemimpin negeri itu datangi dengan baik, ngomong empat mata bukan didepan umum, atau kirimi surat jika tak mampu, ini cara nahi munkar kepada pemimpin yg ditetapkan oleh agama (dalil²nya sudah sering saya sebutkan di status² yang lalu). Kalau anda tidak mampu untuk mendatangi penguasa, atau tidak bisa mengiriminya surat, atau sudah menyampaikan nasehat tapi tidak didengar, maka kata Nabi ingkari kemungkaran-kemungkarannya dengan hati. Baca lagi hadits Nabi shallallaahu alaihi wa sallam,

تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Dengarlah dan ta’atlah kamu kepada pemimpin, meskipun punggungmu digebuk dan hartamu dirampas, kamu tetaplah dengar dan ta’at”
(HR. Muslim)

Selama pemimpin itu masih muslim maka kata Nabi “ishbiruu (bersabarlah kalian) man kariha biqalbih wa ankaro biqalbih (siapa yg benci maka bencilah dengan hatinya, dan yg mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya)”.

Sekarang, siapakah yg lebih baik petunjuknya dalam hal ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yg lebih baik petunjuknya, ataukah para du’at provokator itu yg lebih baik?! Siapa yg lebih kalian ikuti?

Bersabar bukan berarti membenarkan kezhalimannya atas kita, tapi dalam rangka menta’ati perintah Nabi shallallaahu alaihi wasallam ..

Ingat, di akhirat kita tidak akan ditanya tentang apa saja dosa pemimpin kita, tapi kita akan ditanya kenapa menyelisihi petunjuk nabi shallallaahu alaihi wasallam

Faishal Abu Ibrahim

Siapa Pemerintah Kaum Muslimin

“Yang dimaksud pemerintah (pemerintahan kaum muslimin) ?”
(Yakni) pemerintahan sepanjang zaman,pemerintahan kaum muslimin, DENGAN CARA APA SAJA mereka memperoleh pemerintahannya itu,
Mau dengan bai’at,majelis syura atau dengan sistem yang sekarang yang penting pemerintahannya kaum muslimin!
Berapa banyak pemerintahan pada zaman dahulu tidak dengan majelis syura,
Ada yang mengkudeta/memberontak. Kalau sekarang ini ahli demonstrasi (atau pemberontak) mengkudeta sebagian pemerintahan kaum muslimin, kemudian dia menjadi raja /dia menjadi presiden, itu pemerintahan dia, (maka) dilarang juga kita mendemonstrasi (memberontak) kepada dia yang ahli demonstrasi (pemberontak).
Satu pemerintahan digulingkan dengan cara dikudeta, tetap dia pemerintah (pemerintahan kaum muslimin) dan kalau dia telah menjadi pemerintah WAJIB KITA MENTAATINYA,kalau kita tidak mentaatinya maka kerusakannya sangat besar sekali”


Al Ustadz Abdul Hakim Abdat hafizhahullah

Larangan Memberontak Terhadap Penguasa Muslim

Kata Nabi ﷺ pemimpin yg zhalim itu kelak akan masuk kedalam neraka, dalam hadits yg lain juga disebutkan bahwa seorang pemimpin kelak akan datang pd hari kiamat dlm keadaan tangannya dibelenggu, jika ia berbuat adil semasa didunia maka keadilannya itu akan menyelamatkannya, jika ia zhalim maka kezhalimannya itu akan melemparkannya kedalam neraka. Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya.

Akan tetapi, menghukum penguasa yg zhalim, semua itu adalah pekerjaan Allah bukan pekerjaan anda. Adakalanya nanti (di Akhirat) Allah mengampuni mereka karena kebaikan² mereka yg banyak yg tersembunyi dari kita, adakalanya Allah tetap menghukum mereka, itu semua rahasia Allah.

Adapun anda, jika didunia anda bertemu dgn penguasa yg zhalim maka kata Nabi ﷺ tetaplah mendengar dan taat kepadanya dalam hal ma’ruf (baik) dan jangan memberontak, selama ia (pemimpin tersebut) masih mengerjakan shalat. Sebagaimana Hadits:

إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون فمن كره فقد برئ ومن أنكر فقد سلم ولكن من رضي وتابع قالوا يا رسول الله ألا نقاتلهم قال لا ما صلوا أي من كره بقلبه وأنكر بقلبه

”Akan diangkat para penguasa untuk kalian, Lalu kalian mengenalinya dan kemudian kalian mengingkarinya (karena ia telah berbuat maksiat dan penyimpangan² dalam agama). Barangsiapa yg benci, maka ia telah berlepas tangan. Barangsiapa yg mengingkarinya, sungguh ia telah selamat. Akan tetapi, lain halnya dengan orang yg ridha dan patuh terhadap pemimpin tersebut (dalam perbuatan maksiatnya)”. Para shahabat bertanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memeranginya ?”. Beliau menjawab : ”Tidak, selama mereka masih mengerjakan shalat, yakni barangsiapa yg benci maka bencilah dengan hatinya dan barang siapa yg mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya”. (HR. Muslim)

Faishal Abu Ibrahim

Tentang Ketaatan Kepada Pemimpin

Coba kita ingat lagi, kenapa dalam Islam kita diwajibkan mengangkat pemimpin? Tidak lain untuk mengatur urusan kita. Karena kalau tidak ada yang mengatur, akan kacau semua urusan..

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:

ويقال: ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان، والتجربة تبين ذلك

“Dikatakan bahwa 60 tahun di bawah pemimpin zhalim lebih baik daripada satu malam tanpa penguasa. Pengalaman telah membuktikan hal tersebut..”

Dan kenapa kalau mereka mengatur kita, harus kita kompak taati? Karena fungsi pengaturan itu akan maksimal kalau semua taat. Kalau ada yang tidak taat, ya jadinya tidak maksimal bahkan gagal.

Contoh: Lampu lalu lintas di perempatan. Kalau semua taat dan tertib kecuali satu orang saja yang melanggar, maka yang rugi banyak orang kalau terjadi tabrakan.

Begitu pula ketika pemerintah membuat aturan pembatasan jaga jarak (termasuk untuk shaf), maksimum keterisian ruangan, pemakaian masker, vaksinasi, dan lain-lain, itu maslahatnya adalah maslahat komunal alias bersama-sama. Kepatuhan Anda mempengaruhi keselamatan orang lain.

Sebagai yang mengaku ahlus sunnah yang taat pemerintah dalam perkara ma’ruf, sekarang Anda diuji.

Kalau Anda katakan bahwa perintah dari penguasa ini adalah maksiat yang tidak boleh diikuti, dan bukan perkara ijtihadiyah, ya monggo. Kami angkat tangan..

Tapi kalau Anda menganggap ini ijtihadiyah, maka Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa perintah penguasa dalam masalah ijtihadiyah ada dua macam:

  1. Jika terkait dengan urusan ibadah pribadi, misalkan diminta untuk puasa sebelum shalat istisqa (ini pendapat madzhab Syafi’i dan Hanafi), yang menurut kita ini tidak disyariatkan, maka boleh tidak taat. Namun tidak perlu mengumumkan sikap pribadinya ini, karena itu sebuah kesalahan. Cukup diamalkan sendiri
  2. Jika terkait urusan umum, untuk tanzhimul ummah (membuat tatanan bagi rakyat agar teratur), maka inilah yang kita diwajibkan untut taat.

Source: https://www.youtube.com/watch?v=0ZTimhmdO5I

Semoga bermanfaat dan dapat dipahami.

Ust Ristiyan Ragil Putradianto

40 Hadits Kewajiban Taat Kepada Pemimpin

Oleh: Ustadz Abu Asma Andre

40 hadits yang saya kumpulkan , menjelaskan kewajiban taat kepada pemimpin kaum muslimin dan inilah aqidah ahlussunnah wal jamaah dimana telah diyakini oleh para ulama salafush shalih, dimana saya beri judul : ” 40 Hadits Tentang Kewajiban Ta’at Kepada Pemimpin “

Nampaklah disini bahwa ahlussunnah lah yang berusaha menjaga keutuhan negara – dengan berbagai cara yang diperbolehkan syariat…bukan para pembangkang yang berbau ” khawarij ” dimana kerjaannya men”thogut” kan penguasa dimana setelah diciduk – atau mau diciduk kemudian membuat tausiyyah atau khutbah jum’at dengan tema ” Usaha Menjaga Kesatuan NKRI dari bahaya Wahhabi “

apa gak malu ? kerjaannya menjelek jelekkan pemerintah setelah tercyduk – berubah dan coba mencuci tangan serta melempar kesalahan seakan akan ” wahhabi – salafi ” lah yang berbuat…

===

silahkan unduh disini : https://archive.org/download/ArbaaunTaat/Arbaaun%20Taat.pdf

Ketaatan Kepada Pemimpin

Ada yang bilang katanya pemimpin (Presiden) kita yg sekarang itu bukanlah Ulil amri, karena tidak berhukum dengan hukum agama secara totalitas ..

Baik, coba antum baca yg difirmankan Allah ta’ala berikut ini,

يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم ..

“Wahai orang² beriman ta’atilah Allah, ta’atilah Rasul dan ulil amri dari kalangan kalian”.
(QS. An Nisa’ : 59)

Lihat, Allah hanya menyebutkan “wa ulil amri minkum/ ulil amri dari golongan kalian”. Sekarang kita tanya: presiden kita muslim apa kafir? Jawabnya; beliau Muslim dan beliau masih shalat, ya sudah (selesai masalah) berarti dia adalah ulil amri kita .. karena ayatnya berbunyi : wa ulil amri minkum/ ulil amr dr kalangan kalian, jadi, selama dia masih muslim maka dia adalah ulil amri kita, karena ia bagian dr kita (kaum muslimin).
Kata “athii’uu/taatlah kalian” ditaruh didepan nama “Allah” dan didepan kata “ar Rasul”, tapi tidak diulang ketika hendak menyebut kata “ulil amri”, hikmahnya: Allah dzat yg maha tahu mengetahui bahwa ulil amri bisa jadi perintahnya menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul, oleh karenanya ulil amri tidak ditaati sepihak, ketaatan pada Ulil amri mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul, jika ulil amri memerintahkan sesuatu yg bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul, maka perintahnya tidak boleh ditaati.

Tersisa masalah kedua, lalu bagaimana jika dia tidak berhukum dengan hukum Islam secara totalitas, atau seperti yg disebutkan diatas misalnya, ulil amri memerintahkan kita dengan sesuatu yg menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul, Apakah label umri lantas hilang dari dirinya sehingga ia berhak untuk kita lengserkan? Jawabnya simak hadits² Nabi ﷺ berikut ini:

Hadits pertama:

يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قال: قلت: كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك، قال: تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Akan ada disetelahku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku, dan akan tegak diantara mereka orang² yang hatinya adalah hati syetan dalam jasad manusia.”Aku bertanya, “apa yang akan aku lakukan wahai Rasulullah jika aku menemukan yang demikian.” Beliau menjawab: ”engkau mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.”
(HR. Muslim)

Lihat, kata Nabi ﷺ “aimmatun laa yahtaduuna bihuday walaa yastannuuna bisunnatiy/ para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku” lafadznya tegas dan terang, yakni para pemimpin yg tidak berhukum dengan hukum Islam secara totalitas karena kata Nabi “tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku”, bahkan Nabi mengatakan “akan tegak diantara pr pemimpin tersebut orang² yang hatinya adalah hati syetan dalam jasad manusia”, itu artinya; “para pemimpin tersebut dikelilingi oleh orang² yg berhati jelek”, lalu apakah label ulil amri terlepas begitu saja dr mereka? Simak apa jawaban Nabi ketika sahabat menanyakan apa yg harus ia perbuat jika menemui pemimpin² yg seperti itu.. beliau ﷺ bersabda: “tasma’u watuthi’u lil AMIR/ engkau mendengar dan taatlah kepada Amir (lihat, Nabi masih menyebut pemimpin tersebut sebagai Amir) walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka (kata Nabi) dengarlah dan taatlah.”

Hadits kedua:

إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون فمن كره فقد برئ ومن أنكر فقد سلم ولكن من رضي وتابع قالوا يا رسول الله ألا نقاتلهم قال لا ما صلوا أي من كره بقلبه وأنكر بقلبه

”Akan diangkat para penguasa untuk kalian. Lalu engkau mengenalinya dan kemudian engkau mengingkarinya (karena ia telah berbuat maksiat dan penyimpangan² dalam agama). Barangsiapa yang benci, maka ia telah berlepas tangan. Barangsiapa yang mengingkarinya, sungguh ia telah selamat. Akan tetapi, lain halnya dengan orang yang ridha dan patuh terhadap pemimpin tersebut (dalam perbuatan maksiatnya)”. Para shahabat bertanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memeranginya ?”. Beliau menjawab : ”Tidak, selama mereka masih mengerjakan shalat, yakni barangsiapa yang membenci maka bencilah dengan hatinya dan mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya”.
(HR. Muslim)

Lihat, sekalipun pemimpin tersebut melakukan perkara² yg mungkar, kita tetap diperintah untuk mendengar dan ta’at kepadanya, maksiat yg ia lakukan tidak lantas membuat label ulil amri terlepas dari dirinya.

Allaahu a’lam
Semoga bermanfaat

Faishal Abu Ibrahim

Blog at WordPress.com.

Up ↑