Shalawat dan iPhone 11

Shalawatin saja …
Biar dapat iPhone 11
.
Shalawatin saja …
Biar dapat BMW
.
Shalawat jadi rendah banget
Shalawat hanya ingin dapat dunia
.
Murah
Murah
Murah
.
Syariat kayak gini, mana ada dilakukan para sahabat nabi dan diajarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang pernah tahu riwayat gara-gara pingin unta, para sahabat cukup shalawatin saja unta yang mereka lihat? Terasa murah dan rendah banget shalawat pada nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, cuma untuk dapat dunia, dunia, dan dunia. Padahal shalawat itu jadi amalan untuk meraih syafaat nabi hingga surga yang mulia.
.
Taubatlah kepada Allah jika ada yang menyarankan amalan bidah semacam ini.
.
Semoga mencerahkan.
.
Muhammad Abduh Tuasikal
dari kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 30 Shafar 1441 H (29 Oktober 2019)

Ketika Ahlul Bid’ah Mendapatkan Kemenangan

Ada yang berkata, “Di antara musuh Islam adalah mereka yang menganggap dirinya sedang memerangi bid’ah. Tapi juga ada seorang muslim yang merupakan pelaku bid’ah mendapatkan kemenangan, maka ia akan marah”. Namun jika orang kafir yang mendapatkan kemenangan, ia diam tanpa berkomentar. Memang bid’ah lebih besar dosanya daripada maksiat.

*****

Komentar dari pernyataan di atas ini adalah sbb:

  1. Jika memang yang dimaksud bid’ah disini adalah bid’ah mufassiqoh yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, maka benar bahwa kekufuran itu lebih besar dari pada bid’ah.
  2. Akan tetapi jika yang dimaksud dengan bid’ah disini adalah bid’ah yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam dengan menyekutukan Allah, maka antara kekufuran dan kesyirikan itu tidak berbeda karena keduanya sama2 mengeluarkan pelakunya dari islam.
  3. Bahkan dengan kita memperingatkan ummat atas bahaya bid’ah yang mengandung kesyirikan ini lebih diutamakan dari pada kekufuran yang dimiliki oleh orang2 kafir, hal ini dikarenakan banyak diantara kaum muslimin yang belum mengerti hakikat kesyirikan itu sendiri sehingga perlu diberikan peringatan kepada mereka agar tidak terjerumus dalam kesyirikan itu sendiri serta menganggap itu suatu kebenaran, dan lain halnya dengan kekufuran yang ada pada kaum kafir yang memang semua kaum muslimin tidak menganggap itu suatau kebenaran.
  4. Memperingatkan kaum muslimin atas bid’ah yang ada pada ahlu bid’ah tidak melazimkan sikap marah kita kepada mereka ketika mereka mengalami kemenangan, dua hal tersebut tidak melazimkan satu dengan yang lainnya.
    Jadi jika Ahlu sunnah yang memperingatkan kepada kaum muslimin terhadap suatu kelompok yang ada pada mereka itu bid’ah terlebih bid’ah kesyrikian dan kemudian mengalami kemenangan, itu bukan berarti mereka marah atas kemenangan yang ada pada mereka.
    Tapi ini semua dalam rangka menjalankan kewajiban mereka untuk memberikan nasihat kepada kaum muslimin akan bahaya bid’ah pada mereka, sehingga kaum musliminpun tidak menjadikan pembenaran atas bid’ah yang mereka lakukan dari berupa pengagungan kepada kuburan dan lain semacamnya

Semoga bisa dipahami…

Ustadz Agus Susanto

Yang Menjadi Patokan Ibadah

Syaikh Al-Albani rahimahullah:

“Yang menjadi patokan bukanlah banyaknya ibadah, namun yang menjadi patokan adalah kesesuaiannya di atas sunnah dan jauh dari bid’ah”

(Al Silsilah Ash Shahihah V/1314)

Berbagai Bid’ah dalam Pengurusan Jenazah

Al-Imām al-Albāniy rahimahullāh menyebutkan bahwasanya diantara bid’ah-bid’ah yang berkaitan dengan jenazah:

  1. Menyiram air mawar diatas kuburan mayit
  2. Menetapkan ta’ziyah selama tiga hari
  3. Shadaqah disisi kuburan
  4. Ziyarah kubur pada hari ‘id
  5. Membaca al-Fātihah untuk orang mati
  6. Dibuatkan marmer atau papan diatasnya
  7. Diukir nama dan tanggal kematian mayit diatas kuburan.

[Sumber: Ahkāmul Janāiz wa bida’uhā]

Dan sebagai faidah ‘ilmiyyah al-Imām al-Albāniy rahimahullāh menyebutkan di dalam kitāb ini lebih dari 240 bid’ah yang berkaitan dengan jenazah

Salah-Salah Malah dapat Dosa Jariyah

Bagaimana dengan bersedekah atau berdonasi buat ma’had atau pesantren yang mengajarkan kesyirikan di dalamnya?
Terlebih pesantren yang mengajarkan kesyirikan hampir pasti banyak mengajarkan bid’ah dalam i’tiqad dan amaliyah.

Dikuatirkan maunya dapat pahala, tapi malah dapat dosa jariyah.
(Kalau sedekah untuk pribadi, itu hal lain).

Padahal musibah dan bencana di mana-mana, itu tidak lepas akibat dari kesyirikan dan bid’ah yang merajalela di mana-mana, yang mereka dinasehati malah keras kepala.



“Shalawat” Bid’ah bahkan Syirik

Rangkuman “shalawat-shalawat” bid’ah, bahkan mengandung kesyirikan. Shalawat-shalawat yang tidak ada contohnya dari Nabi.

(Rincian silakan dibaca pada link-link di bawah).

  1. Shalawat Nariyah
    “…kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik…”
    Syair di atas jelas-jelas mempersekutukan Allah dengan RasulNya. Hanya Allah yang dapat melepaskan seseorang dari kesulitan dan menunaikan hajat-hajat hidupnya. Terlebih Rasulullah telah wafat. Meminta kepada seseorang yang sudah meninggal adalah syirik, terlebih untuk hal-hal yang hanya Allah saja yang dapat mengabulkannya.

  2. Shalawat Badar
    “….Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah…”
    Hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
    Bertawasul dengan Nabi hanya bisa dilakukan dengan doa-doa Beliau saat masih hidup dan apa-apa dari fisik Beliau.
    Adapun bertawasul dengan Ahlul Badar tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan (karena Beliau telah wafat).
    Selain itu, tidak ada penjelasan yang shahih bahwa Thaha dan Yasin adalah nama lain dari Rasulullah. Dengan demikian ini termasuk mengada-ada.

  3. Qasidah Burdah
    “…Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
    Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta…”
    Ini adalah kalimat bathil karena “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)”
    “Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya.
    Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya” – yang dimaksud di sini adalah makam Nabi.
    Tidak diragukan lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.
    “…Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya..”
    Ini adalah kalimat syirik karena bersumpah dengan nama selain Allah.
    “…Aku tidak memiliki pelindung wahai Rasul termulia selain dirimu di kala datangnya petaka…”
    Ini adalah kalimat syirik, karena meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
    “…Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena. Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya…”
    Ini adalah kalimat bathil, karena Rasulullah tidak tahu isi Lauhul Mahfudz kecuali sedikit yang Allah wahyukan kepadanya. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)”.
    Kalimat kedua juga bathil, karena “Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)”

  4. Barzanji
    Ditulis oleh seorang penganut paham tasawwuf, Ja’far al-Barjanzi.
    “…Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir
    Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)”
    Ini adalah syair syirik, karena hanya Allah yang dapat menjadi penolong, pelindung, dan tempat beristighosah.
    “…Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang..”
    Ini adalah kalimat bathil. Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir secara fisik? Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya saja.
    Penulis kitab Barzanji menyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.

    Padahal;
    Bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shalallahu’alahisasalam bersabda “Dia berada di neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka”. (HR. Muslim dalam shahihnya (348) dan Abu Daud dalam sunannya (4718))
    Allahul musta’an.

  5. “Shalawat-shalawat” lain yang dirincikan dalam artikel sumber pada link di bawah


    Sumber:

    1. https://almanhaj.or.id/2669-pengakuan-cinta-rasul.html

    2. https://muslim.or.id/54-shalawat-nariyah.html

    3. https://almanhaj.or.id/2583-barzanji-kitab-induk-peringatan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html?fbclid=IwAR0-vdFgyTUFRR-F9DridE0KbfqPlwhYKL7Y0iQbWxsNIIv7COMCcRyXxrU

    4. https://www.nahimunkar.org/daftar-sholawat-sholawat-bidah-tersebar-masyarakat-isinya-kebanyakan-mengandung-makna-kesyirikan-datang-hadits-hadits-dhoif-lemah/?fbclid=IwAR1BE6cZaIc_V73BmO1a3yxRmj1_G7dsX0otzA7_JZOyaWuowRhtPj_DEV0

    5. https://muslimafiyah.com/meminta-syafaat-nabi-kepada-allah-bukan-meminta-kepada-nabi.html?fbclid=IwAR1zPQF09nZhU7ZjEeIrVGHkr-xcNdJFFOcP69fEptPbUKc1dOw2pB1s-2A

Islam Bukan untuk Diperdebatkan (seruan untuk ahlul hawa)

Sesungguhnya perkataan “Islam bukan untuk diperdebatkan” adalah kalimat untuk mengumpat bagi para Ahli Syirik, Ahli Bid’ah dan Munafik yang tidak mau disalahkan atas kesesatannya agar tenang tanpa gangguan dalam menyebarkan kesesatannya dalam Aqidah, Amaliyyah ataupun Istinbath dalam hukum yang mengikuti Hawa nafsu saja di tengah masyarakat yang semakin hari semakin jauh dari ilmu.
.
Belajarlah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membantah kesesatan Kafir Quraisy yang merubah ajaran Islam Nabi Ibrahim alaihissalam, Kafir Nashrani yang merubah ajaran Islam Nabi Isa alaihissalam dan Kafir Yahudi yang merubah ajaran Islam Nabi Musa alaihissalam.
.
Ketahuilah ! Dakwah Al Haq selalu tegak membantah kesesatan barisan mereka meski mereka tidak suka dan selalu ingin memadamkannya dengan berbagai cara. AKAN TETAPI, siapa yang bisa melawan dan menolak jika Allah telah berkehendak ingin menyempurnakan cahaya-Nya ? Hanya golongan Setan lah yang ingin memadamkan Al Haq.
.
(Atha bin Yussuf)

Mengaji di Kuburan

Tradisi yang masih berlangsung di masyarakat kita, kalau ada salah satu dari anggota keluarganya yang meninggal atau orang tuanya yang meninggal, dia bayar orang untuk ngaji di kuburan keluarganya itu, atau di kuburan orang tuanya.


Coba deh dipikir lagi … kenapa harus di kuburan, apa istimewanya kuburan?
Jika niatnya mendoakan bukankah doa itu bisa dimana saja tanpa kita harus pergi ke kuburan?
Bukankah Nabi ﷺ malah mengatakan “la taj’aluu buyutakum kubuuron / janganlah kalian jadikan rumah² kalian seperti kuburan” (HR. Abu Daud dengan sanad jayyid).


Lihat, kata Nabi, “jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan”, karena kuburan itu bukan tempat khusus untuk beribadah. Kuburan bukan tempat khusus untuk berdoa atau membaca Al Quran seperti halnya di rumah. Makanya kita dilarang menjadikan rumah kita seperti kuburan. Kenapa sekarang kita malah menjadikan kuburan itu sebagai tempat ibadah sepertihalnya di masjid atau di rumah?


Terus kenapa harus membayar orang lain? Bukankah ini bisa merusak keikhlasan mereka?
Mereka beribadah dengan semangat mencari harta dunia sehingga menyebabkan doa mereka tidak dikabulkan.

(Faishal Abu Ibrahim)

Bidah: Meremehkan Allah Ta’ala dan Aturan-Nya

BID’AH ADALAH TINDAKAN MENGOLOK-OLOK DAN MEREMEHKAN ALLAH TA’ALA DAN ATURAN-NYA.
.
Saya buat suatu perumpamaan untuk kalian, para penyeru dan pelaku Bid’ah dalam Syariat.
.
Bagaimana jika kalian memiliki karyawan namun kerjanya tidak mengikuti aturan-aturan yang telah kalian tetapkan dengan alasan dipandang baik dalam pandangan dan perasaannya saja ?
.
Pastilah kalian menilai bahwa karyawan kalian telah meremehkan, merendahkan dan mengolok-olok kalian dan aturan-aturan yang telah kalian tetapkan sehingga yang kalian lakukan adalah memecatnya.
.
Bagaimana dengan Allah yang telah menciptakan kalian dan telah menetapkan aturan dalam beribadah kepada-Nya haruslah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melarang perbuatan Bid’ah dalam Syariat.
.
Kemudian manusia yang diciptakan oleh-Nya itu tidak mengikuti aturan yang telah Allah tetapkan dengan alasan hanya memandang baik dalam pandangan dan perasaannya saja atau bahkan berbuat seenaknya.
.
Bagaimana menurut kalian ?
.
Ketahuilah ! bahwa perbuatan Bid’ah dalam Syariat itu merupakan bagian perbuatan dan tindakan meremehkan, merendahkan dan mengolok-olok Allah dan aturan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.
.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ
.
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok ?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.”
.

  • QS. At Taubah [9] : 65- 66
    .
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata,
    .
    “Melakukan bid’ah dalam perkara agama hakikatnya termasuk bentuk mengolok-olok Allah. Sebab, engkau mendekatkan diri kepada-Nya (beribadah) dengan sesuatu yang tidak Dia syariatkan.”
    .
  • Al Qaulul Mufid, I/67
    .
    Sudah direnungkan ? Sudah ? takutlah dan taubatlah !
    .
    (Atha bin Yussuf)

Blog at WordPress.com.

Up ↑