Salah-Salah Malah dapat Dosa Jariyah

Bagaimana dengan bersedekah atau berdonasi buat ma’had atau pesantren yang mengajarkan kesyirikan di dalamnya?
Terlebih pesantren yang mengajarkan kesyirikan hampir pasti banyak mengajarkan bid’ah dalam i’tiqad dan amaliyah.

Dikuatirkan maunya dapat pahala, tapi malah dapat dosa jariyah.
(Kalau sedekah untuk pribadi, itu hal lain).

Padahal musibah dan bencana di mana-mana, itu tidak lepas akibat dari kesyirikan dan bid’ah yang merajalela di mana-mana, yang mereka dinasehati malah keras kepala.



“Shalawat” Bid’ah bahkan Syirik

Rangkuman “shalawat-shalawat” bid’ah, bahkan mengandung kesyirikan. Shalawat-shalawat yang tidak ada contohnya dari Nabi.

(Rincian silakan dibaca pada link-link di bawah).

  1. Shalawat Nariyah
    “…kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik…”
    Syair di atas jelas-jelas mempersekutukan Allah dengan RasulNya. Hanya Allah yang dapat melepaskan seseorang dari kesulitan dan menunaikan hajat-hajat hidupnya. Terlebih Rasulullah telah wafat. Meminta kepada seseorang yang sudah meninggal adalah syirik, terlebih untuk hal-hal yang hanya Allah saja yang dapat mengabulkannya.

  2. Shalawat Badar
    “….Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah…”
    Hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
    Bertawasul dengan Nabi hanya bisa dilakukan dengan doa-doa Beliau saat masih hidup dan apa-apa dari fisik Beliau.
    Adapun bertawasul dengan Ahlul Badar tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan (karena Beliau telah wafat).
    Selain itu, tidak ada penjelasan yang shahih bahwa Thaha dan Yasin adalah nama lain dari Rasulullah. Dengan demikian ini termasuk mengada-ada.

  3. Qasidah Burdah
    “…Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
    Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta…”
    Ini adalah kalimat bathil karena “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)”
    “Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya.
    Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya” – yang dimaksud di sini adalah makam Nabi.
    Tidak diragukan lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.
    “…Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya..”
    Ini adalah kalimat syirik karena bersumpah dengan nama selain Allah.
    “…Aku tidak memiliki pelindung wahai Rasul termulia selain dirimu di kala datangnya petaka…”
    Ini adalah kalimat syirik, karena meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
    “…Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena. Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya…”
    Ini adalah kalimat bathil, karena Rasulullah tidak tahu isi Lauhul Mahfudz kecuali sedikit yang Allah wahyukan kepadanya. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)”.
    Kalimat kedua juga bathil, karena “Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)”

  4. Barzanji
    Ditulis oleh seorang penganut paham tasawwuf, Ja’far al-Barjanzi.
    “…Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir
    Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)”
    Ini adalah syair syirik, karena hanya Allah yang dapat menjadi penolong, pelindung, dan tempat beristighosah.
    “…Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang..”
    Ini adalah kalimat bathil. Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir secara fisik? Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya saja.
    Penulis kitab Barzanji menyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.

    Padahal;
    Bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shalallahu’alahisasalam bersabda “Dia berada di neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka”. (HR. Muslim dalam shahihnya (348) dan Abu Daud dalam sunannya (4718))
    Allahul musta’an.

  5. “Shalawat-shalawat” lain yang dirincikan dalam artikel sumber pada link di bawah


    Sumber:

    1. https://almanhaj.or.id/2669-pengakuan-cinta-rasul.html

    2. https://muslim.or.id/54-shalawat-nariyah.html

    3. https://almanhaj.or.id/2583-barzanji-kitab-induk-peringatan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html?fbclid=IwAR0-vdFgyTUFRR-F9DridE0KbfqPlwhYKL7Y0iQbWxsNIIv7COMCcRyXxrU

    4. https://www.nahimunkar.org/daftar-sholawat-sholawat-bidah-tersebar-masyarakat-isinya-kebanyakan-mengandung-makna-kesyirikan-datang-hadits-hadits-dhoif-lemah/?fbclid=IwAR1BE6cZaIc_V73BmO1a3yxRmj1_G7dsX0otzA7_JZOyaWuowRhtPj_DEV0

    5. https://muslimafiyah.com/meminta-syafaat-nabi-kepada-allah-bukan-meminta-kepada-nabi.html?fbclid=IwAR1zPQF09nZhU7ZjEeIrVGHkr-xcNdJFFOcP69fEptPbUKc1dOw2pB1s-2A

Islam Bukan untuk Diperdebatkan (seruan untuk ahlul hawa)

Sesungguhnya perkataan “Islam bukan untuk diperdebatkan” adalah kalimat untuk mengumpat bagi para Ahli Syirik, Ahli Bid’ah dan Munafik yang tidak mau disalahkan atas kesesatannya agar tenang tanpa gangguan dalam menyebarkan kesesatannya dalam Aqidah, Amaliyyah ataupun Istinbath dalam hukum yang mengikuti Hawa nafsu saja di tengah masyarakat yang semakin hari semakin jauh dari ilmu.
.
Belajarlah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membantah kesesatan Kafir Quraisy yang merubah ajaran Islam Nabi Ibrahim alaihissalam, Kafir Nashrani yang merubah ajaran Islam Nabi Isa alaihissalam dan Kafir Yahudi yang merubah ajaran Islam Nabi Musa alaihissalam.
.
Ketahuilah ! Dakwah Al Haq selalu tegak membantah kesesatan barisan mereka meski mereka tidak suka dan selalu ingin memadamkannya dengan berbagai cara. AKAN TETAPI, siapa yang bisa melawan dan menolak jika Allah telah berkehendak ingin menyempurnakan cahaya-Nya ? Hanya golongan Setan lah yang ingin memadamkan Al Haq.
.
(Atha bin Yussuf)

Mengaji di Kuburan

Tradisi yang masih berlangsung di masyarakat kita, kalau ada salah satu dari anggota keluarganya yang meninggal atau orang tuanya yang meninggal, dia bayar orang untuk ngaji di kuburan keluarganya itu, atau di kuburan orang tuanya.


Coba deh dipikir lagi … kenapa harus di kuburan, apa istimewanya kuburan?
Jika niatnya mendoakan bukankah doa itu bisa dimana saja tanpa kita harus pergi ke kuburan?
Bukankah Nabi ﷺ malah mengatakan “la taj’aluu buyutakum kubuuron / janganlah kalian jadikan rumah² kalian seperti kuburan” (HR. Abu Daud dengan sanad jayyid).


Lihat, kata Nabi, “jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan”, karena kuburan itu bukan tempat khusus untuk beribadah. Kuburan bukan tempat khusus untuk berdoa atau membaca Al Quran seperti halnya di rumah. Makanya kita dilarang menjadikan rumah kita seperti kuburan. Kenapa sekarang kita malah menjadikan kuburan itu sebagai tempat ibadah sepertihalnya di masjid atau di rumah?


Terus kenapa harus membayar orang lain? Bukankah ini bisa merusak keikhlasan mereka?
Mereka beribadah dengan semangat mencari harta dunia sehingga menyebabkan doa mereka tidak dikabulkan.

(Faishal Abu Ibrahim)

Bidah: Meremehkan Allah Ta’ala dan Aturan-Nya

BID’AH ADALAH TINDAKAN MENGOLOK-OLOK DAN MEREMEHKAN ALLAH TA’ALA DAN ATURAN-NYA.
.
Saya buat suatu perumpamaan untuk kalian, para penyeru dan pelaku Bid’ah dalam Syariat.
.
Bagaimana jika kalian memiliki karyawan namun kerjanya tidak mengikuti aturan-aturan yang telah kalian tetapkan dengan alasan dipandang baik dalam pandangan dan perasaannya saja ?
.
Pastilah kalian menilai bahwa karyawan kalian telah meremehkan, merendahkan dan mengolok-olok kalian dan aturan-aturan yang telah kalian tetapkan sehingga yang kalian lakukan adalah memecatnya.
.
Bagaimana dengan Allah yang telah menciptakan kalian dan telah menetapkan aturan dalam beribadah kepada-Nya haruslah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melarang perbuatan Bid’ah dalam Syariat.
.
Kemudian manusia yang diciptakan oleh-Nya itu tidak mengikuti aturan yang telah Allah tetapkan dengan alasan hanya memandang baik dalam pandangan dan perasaannya saja atau bahkan berbuat seenaknya.
.
Bagaimana menurut kalian ?
.
Ketahuilah ! bahwa perbuatan Bid’ah dalam Syariat itu merupakan bagian perbuatan dan tindakan meremehkan, merendahkan dan mengolok-olok Allah dan aturan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.
.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ
.
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok ?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.”
.

  • QS. At Taubah [9] : 65- 66
    .
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata,
    .
    “Melakukan bid’ah dalam perkara agama hakikatnya termasuk bentuk mengolok-olok Allah. Sebab, engkau mendekatkan diri kepada-Nya (beribadah) dengan sesuatu yang tidak Dia syariatkan.”
    .
  • Al Qaulul Mufid, I/67
    .
    Sudah direnungkan ? Sudah ? takutlah dan taubatlah !
    .
    (Atha bin Yussuf)

Awal Mula Bid’ah Tahlilan

SEJARAH LAHIRNYA TAHLILAN DALAM UPACARA KEMATIAN DI INDONESIA

Para ulama yang sembilan dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di Tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.

Mereka terpecah menjadi dua kelompok: aliran Giri Dan aliran Tuban.

Aliran Tuban yang dipipimpin oleh Sunan Kalijaga ini lebih moderat, mereka membolehkan Islam masuk lewat budaya, seni, dan tradisi tradisi lama masyarakat yang ada.

Silahkan cari KITAB atau BUKU TUNTUNAN TAHLILAN SESUAI SUNNAH sampai kiamatpun tidak akan mungkin ketemu, karena ajaran tersebut memang bukan berasal dari Nabi kita shalallahu ‘alaihi wasallam..

Tapi coba kita cari di kitab Samawedha Samitha Agama Hindu, barulah kita dapat menemukannya di sana. Sebuah kitab yg isinya mengatur tata cara pelaksanaan sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk menghormati orang yang telah mati (nenek moyang).

Satu yang sangat berat di buang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati roh-roh org yg sdh mati.

Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada di lingkungan rumah keluarganya.
Pada hari ke 40, 100, 1000 dari Kematiannya roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus diadakan upacara, bacaan mantera serta nyanyian kepada dewa-dewa.

Maka secara resmi berdasarkan hasil musyawarah menyetujui usulan Sunan Kalijaga, walaupun aliran Giri menentangnya. Upacara dalam Agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna di lestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian di kenal dengan nama Nelung Dina (3 hari), Mitung Dina (7 hari), Matang Puluh (40 hari), Nyatus (100 hari) dan Nyewu (1.000 hari).

Orang Hindu sama sekali tidak mau melestarikan ajaran Islam, bahkan tidak mau kepercikan ajaran Islam sedikit pun.
Tetapi kenapa kita Umat Islam justru melestarikan keyakinan mereka?

(hamzahabumirza)

Cara Beragama Para Ahlul Hawa

Dalam menghadapi perbedaan pendapat di kalangan ulama, alih-alih mengikuti pendapat yang paling dekat dengan Al Quran, Al Hadits, pendapat para Shahabat dan ijma para ulama, para pengikut hawa nafsu akan mengambil pendapat yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Setelah Wafatnya Saya

[Setelah Wafatnya Saya, Jangan Adakan Ritual 7 Harian, 40 Harian, Haulan Dan Kebid’ahan Lainnya]

Al-Hafizh an-Nawawy -rahimahullah- berkata:

ويستحبّ استحباباً مؤكداً أن يوصيهم باجتناب ما ‌جرت ‌العادة به من البدع في الجنائز

“Sangat dianjurkan (seorang yang akan wafat) untuk berwasiat kepada orang-orang agar menjauhi kebid’ahan-kebid’ahan yang menjadi tradisi berkaitan dengan jenazah.” [Al-Adzkar, hal. 142]

Diriwayatkan dari Malik bin Anas, dari Sa’id bin Aby Sa’id, bahwasanya:

أَبَا هُرَيْرَةَ نَهَى أَنْ يُتَّبَعَ بِنَارٍ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Abu Hurairah melarang dirinya diarak dengan api setelah wafatnya.” [Mushannaf, Abdurrazzaq ash-Shan’any, no. 6155]

(Ust Hasan Al Jaizy)

Nggak Enakan Hati yang Berujung Petaka

Tak Enak Hati Berujung Petaka

Dua tokoh kekafiran Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl hadir saat Abu Thalib, paman nabi itu tengah sakaratul maut. Berkali-kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawarkan agar pamannya itu mengucapkan kalimat tauhid yang dengan kalimat tsb menjadi persaksian bagi Rasulullah guna menjadi penolongnya di hadapan Allah.

Pada saat yang sama, kedua tokoh munafik di atas ‘menembak’ paman nabi itu dengan pernyataan pamungkas:

أترغب عن ملة عبد المطلب؟

“Apakah engkau ini membenci agama Abdul Muthalib (agama nenek moyang)?” Ini dengan maksud agar Abu Thalib jangan sekali-sekali mengucakan syahadat. Sebab mereka tahu bhw konsekuensi syahadat adalah meninggalkan dan berlepas dari agama nenek moyang.

Nabi pun mengulang-ulang permintaaan kepada pamannya perkara syahadat agar sang paman meninggal di atas tauhid dan bukan meninggal di atas kekufuran.

Sayangnya sang paman enggan mengucapkan kalimat tauhid laa ilaha illallah dan lebih memilih meninggal di atas kekufuran setelah tak enak hati dengan dua tokoh munafik di atas. Fragmen ini terekam dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Sudah banyak korban tak enak hati dalam urusan iman/aqidah. Di antaranya sebagian kaum muslimin yang bersikukuh berani mengucapkan selamat natal karena tak enak hati dan ingin meraih hati/ridha musuh-musuh Allah.

NB:

  1. Abdullah bin Abu Umayyah pada akhirnya diberi taufik untuk masuk Islam. Sementara Abu Jahl musuh Islam ini terbunuh di perang Badr.
  2. Islam tidak melarang ber-mu’amalah/berinteraksi dengan orang kafir dalam urusan dunia: berbisnis, dll. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengunjungi si kafir kecil yang sedang sakit lalu beliau menawarkan Islam hingga dia masuk Islam. Muamalah kita dengan orang kafir jangan sampai memudarkan prinsip wala’ dan Bara’ apalagi hanya karena tak enak hati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengambil hati orang kafir dengan cara mengucapkan selamat atau bahkan menghadiri hari raya orang kafir. Beliau tidak menjadikan hal demikian sebagai wasilah dakwah sebab Allah telah menjaga kemurniaan tauhid pada diri Rasulullah shallallahu alaihi.
  3. Ta’asshub terhadap agama, ritual atau keyakinan nenek moyang yang bertentangan dgn Islam termasuk salah satu sebab su’ul khatimah.
    __

(Ust Yani Fahriansyah)

Blog at WordPress.com.

Up ↑