“Kamu Jangan Nge-judge Gitu Dong! Kebenaran Hanya Milik Tuhan!”

Apa artinya belajar aqidah Islam dan manhaj, kalau lalu tidak bisa atau tidak berani memilah mana aqidah yang lurus dan mana yang menyimpang?

Tidak perlu termakan perkataan kaum liberal dan zindiq yang sedikit-sedikit bilang, “kamu jangan nge-judge gitu dong .. kebenaran hanya milik Tuhan”.

Kebenaran adalah milik Allah dan disampaikan kepada manusia oleh Rasul-Nya yang ma’shum, dan manusia diberi akal untuk bisa memilah dan membedakan (alias nge-judge) mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan timbangan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan interpretasi generasi salaf, yaitu tiga generasi pertama kaum muslimin.

Tidak Ada Hijrah kecuali Menjadi Seorang Salaf-y

Tidak ada hijrah kecuali kembali kepada bagaimana berislamnya generasi salaf, yaitu para Shahabat Rasulullah radhiyallahu anhum para tabi’in dan tabi’it tabi’in, karena mereka orang-orang yang sudah Nabi telah sebutkan sebagai generasi terbaik.
Mereka, para Shahabat yang Allah telah ridha atas mereka dan telah dijamin masuk surga. Bukan kemudian malah berhijrah ke firqah-firqah dan pemahaman sufi /tasawuf, khawarij dan takfiri, mu’tazilah dan jahmiyah, asy’ariyah dan maturidiyah dan filsafat.

Tidak ada hijrah kecuali menjadi seorang yang meneladani dan menimbang dirinya kepada salaf, kecuali memang seseorang ingin mampir ke neraka dulu.

Na’udzubillahi min dzaalik.

Sikap Tengah Terhadap Pemimpin

Oleh: Ust Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi حفظه الله تعالى

Ahli Sunnah wal Jama’ah dalam sikap mereka terhadap pemerintah antara dua kelompok:

  1. Kelompok yang berlebihan2 kepada pemerintah, mengkultuskan mereka, mendukung kedzaliman mereka, membela mati2-an perbuatan mereka. Ini sikap ghuluw yg terlarang.
  2. Kelompok yang merendahkan para pemimpin, mengkafirkan, menyebarkan aib di muka umum, dan mengkudeta mereka. Ini adalah sikap yang keliru juga.

Ciri khas Ahli Sunnah wal Jamaah adalah wasath (pertengahan) antara dua sikap tersebut: mereka menghormati pemimpin, taat padanya, sabar atas kedzaliman mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun mereka juga bukan penjilat dan bukan pendukung kecurangan dan ketidakadilan pemerintah.

Oleh karena itu, termasuk kesalahan jika kita membela kecurangan & kedzaliman pemimpin, sebagaimana termasuk kesalahan memprovokasi rakyat untuk aksi² yang beresiko kerusakan bahkan hilangnya nyawa.

Saudaraku… Tetaplah tegar di atas manhaj wasath ini, jangan menjadi bagian dari dua kelompok di atas, terutama di saat fitnah, jangan plin plan sehingga terjerumus dalam jeratan Syetan.

Wajib dakwah semampunya, mari sebarkan ilmu & kebaikan, saling ingat mengingat sesama insan. Nabi ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

══ ❁✿❁ ══

Jangan lupa follow medsos official ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi,

Web: abiubaidah.com
Facebook: FB.com/YusufAbuUbaidah
YouTube : bit.ly/youtubeYAU
Instagram: bit.ly/YAUig
Twit: twitter.com/YusufAbuUbaidah
Telegram: t.me/ilmu20
Ebook: abiubaidah.com/ebook

Kalau Ahli Bid’ah Jadi Presiden

Salafi sudah teruji dengan tetap taat pada presiden yang dulunya mereka kampanyekan agar tidak terpilih. Mereka tetap taat dan tidak menjelek-jelekkan pemimpinnya.

Kita tidaklah seperti mereka para pengikut barisan sakit hati yang ketika capres yang diusungnya kalah, mereka lalu menghabiskan 5 tahun dari umur mereka untuk tajassus, ghibah, dan provokasi.

Jadi, kalau ada penyeru kebid’ahan yang jadi penguasa, maka imam kita, Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- pun telah mengalaminya, dan beliau pun telah memberi teladan dalam bersikap…

Ibnu Taimiyyah bertutur:

“Imam Ahmad tetap shalat dibelakang Jahmiyah yang mendakwahkan pemikiran mereka, yang menguji dan menyiksa orang-orang yang menyelisihi mereka dengan siksa yang berat.

Beliau dan yang semisal beliau tidak mengkafirkan mereka, bahkan beliau masih meyakini keimanan dan kepemimpinan mereka. Beliau mendoakan mereka dan shalat, haji dan berjihad di belakang mereka. Beliau juga melarang memberontak kepada mereka, sebagaimana pendapat para imam selain beliau.

Beliau mengingkari perkataan batil yang diada-adakan tersebut, yang merupakan kekafiran besar, meskipun mereka tidak mengetahui bahwa hal tersebut kufur. Beliau tetap mengingkari dan berjuang untuk membantah ucapan tersebut sesuai dengan kemampuan.

Beliau menggabungkan antara ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menghidupkan Sunnah dan agama dan juga mengingkari bid’ah Jahmiyah yang menyimpang, dengan sekaligus memelihara hak-hak kaum muslimin baik pemimpin maupun rakyatnya, meskipun mereka orang-orang bodoh, mubtadi’, zhalim dan fasik.”

[Majmu’ Fatawa 7/508]

Insyaallah kita pun bisa seperti Imam Ahmad yang menggabungkan antara keduanya. Di samping bahwa keadaan yang kita alami masih lebih baik daripada keadaan beliau.

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Ahlus Sunnah, Merekalah yang Paling Peduli Darah Kaum Muslimin

Ahlus Sunnah itu sayang dengan darah kaum muslimin. Meskipun telah tertumpah darah, tapi berusaha agar darah yang tertumpah tidak semakin banyak.

Abul Harits bercerita, “Aku bertanya ke Abu Abdillah (Imam Ahmad) mengenai perkara yang terjadi di Baghdad, dan bahwa sekelompok orang bertekad ingin memberontak.”. Aku tanyakan padanya: Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang mereka yang mau memberontak?”

Maka Imam Ahmad pun mengingkarinya dan berkata:

“Subhanallah! Darah.. Darah.. Aku tidak setuju! Dan aku tidak pula memerintahkan demikian! Sabar di atas apa yang saat ini kita alami, lebih baik daripada fitnah tertumpahnya darah, dan dijarahnya harta benda, dan terlanggarnya kehormatan kaum muslimin.. Apakah engkau tidak tahu apa yang dialami manusia di masa lampau ketika masa-masa fitnah (pemberontakan)?

Maka Abul Harits pun bertanya: “Bukankah saat ini kita juga sedang dalam masa fitnah wahai Abu Abdillah?”

Imam Ahmad menjawab:

“Meskipun itu fitnah, tapi itu fitnah khusus (terbatas pada sebagian orang).. Jika sudah terjadi pemberontakan, maka fitnah itu akan meluas (meliputi semua orang), dan jalan-jalan akan terputus.. Sabar di atas hal ini lebih baik, yang penting agamamu selamat..

Maka Al Harits pun menyimpulkan bahwa beliau betul-betul mengingkari rencana pemberontakan ini, dengan perkataan beliau: “Darah.. darah.. Aku tidak setuju dan aku tidak memerintahkannya”

[Selesai nukilan]

Artinya, jangan sampai Engkau berbicara menuntut darah yang tertumpah, tapi perilakumu ternyata memicu pertumpahan darah yang lebih besar disebabkan kata-katamu yang provokatif.

Semua harus berdasarkan keyakinan, kepastian, ilmu dan bashirah, bukan emosi semata dan ketergesa-gesaan.

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Blog at WordPress.com.

Up ↑