Tikus-Tikus Terus Saja Masuk

Tukang filsafat bawa kedustaan, dongeng dan khurafat. Sudah sejak awal Ahlus Sunnah mewanti-wanti. Eh, mereka baru ngeh sekarang. Kecolongan. Tapi masih saja sempat mengkambinghitamkan Wahabi.

Pawang hujan bawa kedustaan, khurafat dan ritual aneh. Sudah dibahas di kajian-kajian Ahlus Sunnah soal tauhid, hujan dan bebintangan. Akhirnya pawang hujan jadi bahan tertawaan. Eh, ada yang masih sempat mengkambinghitamkan Kadrun.

Kadang orang mencari kambing hitam untuk menutupi keterlambatannya dalam mengantisipasi. Kadung malu, tapi tidak mau menanggung beban sendiri.

Ada orang rumahnya banyak celah buat tikus masuk. Tetangga sudah sejak lama memberi saran agar disumbat. Akhirnya saat bejibun tikus masuk, kelagepan. Yang disalahin malah tetangga yang dianggap bawel dan hobi menyalahkan.

Ahlus Sunnah banyak membahas perkara agama dari ushulnya. Dari asasnya. Dari dalilnya. Tidak sibuk mentakwil macam-macam seperti kebablasannya para nganu itu. Tapi sudah terbukti berulang. Kaum tertentu berkali-kali kecolongan. Padahal sudah lama dibahas sama Ahlus Sunnah dan mereka ngeyel. Tidak cukup ngeyel. Plus stempel Wahabi atau Kadrun disertakan. Tikus tetap akan terus masuk kalau celah-celah tidak disumbat dan diperbaiki. Tokoh-tokoh sesat akan terus terbit dari kaum ini kalau aqidah tidak dibenahi.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Prinsip Dalam Mencintai dan Membenci

Prinsip Ahlus Sunnah dalam mencintai dan membenci adalah bahwa seseorang:

  • Dicintai sesuai kadar keimanan, ketakwaan, ketaatan, dan kedekatannya dengan sunnah.
  • Dibenci sesuai kadar kekufuran, kefasikan, kemaksiatan, dan kebid’ahannya.

Sehingga seseorang bisa saja dicintai secara parsial, dan juga dibenci secara parsial.

Adapun yang tidak memegang prinsip di atas, maka mereka kalau cinta ya cinta 100%, benci juga benci 100%. Kalau cinta seperti ngga ada salahnya. Kalau benci seperti nggak ada benernya.

Dan kadang kebencian itu hanya disebabkan perbedaan dalam satu dan dua masalah, yang itupun bukan pokok agama. Tapi sudah seperti jadi musuh yang tiap membaca namanya, atau melihat tulisannya sudah kesel dan bawaannya pengen mengomentari negatif terus. Padahal dulunya tidak seperti itu.

Mari introspeksi diri.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Blog at WordPress.com.

Up ↑