Ahlul Bid’ah dan Miskin Adab

Ahlul bid’ah adalah orang-orang yg paling gak tau diri dan miskin adab. Bagaimana tidak, mereka berani membuat syari’at baru yg sudah jelas ada larangannya, namun mereka mencari-cari dalih pembenaran untuk melegitimasi perbuatannya dan membuat beragam alasan bahwa apa yg mereka lakukan tidaklah tercela.

Lalu agar orang lain percaya mereka pun mengarang-ngarang cerita bahwa amalan yg mereka buat sudah mendapat restu dan persetujuan dari Rasulullah baik itu melalui mimpi atau bahkan katanya bertemu langsung secara sadar.


Tapi lucunya, mereka mensyaratkan ijazah bagi siapapun yg hendak mengamalkan dan mengajarkan bid’ah yg mereka buat dan melarang mereka untuk mengubah & mengutak-atiknya entah itu dalam lafadz, jumlah, waktu, tempat ataupun urutannya.

Abdul Hakim

Beratnya Dosa kepada Sesama Manusia

Bila engkau berjumpa dengan Allah dalam keadaan engkau membawa 70 kesalahan /dosa – selain syirik – yg dosa tersebut antara engkau dan Allah, itu lebih baik daripada engkau berjumpa dengan Allah meskipun hanya membawa satu dosa yang itu menyangkut antara engkau dengan manusia.

(Imam Sufyan Ats-Tsauri – رحمه الله )

Jilbab dan Aib Fisik

Bagi sebagian wanita, berjilbab lebih ditujukan untuk menutup aib fisik, bukan menutup aurat atas perintah agama. Setelah aib tersebut hilang dan merasa pede dengan penampilan fisiknya, baru mereka lepas dan buka-bukaan.

Yosia C Sulistian

Antara Bani Israil Dan Para Sahabat

Dulu Bani Israil diuji dengan ikan. Mereka dilarang mengambil ikan di hari sabtu, ternyata ikan tak pernah datang kecuali hari sabtu, maka mereka pun berbuat hiilah (tipu daya). Mereka memasang jaring di hari Jum’at dan mengangkatnya di hari Ahad dalam keadaan penuh dengan ikan-ikan. Allah berfirman,

‎وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik” (QS. Al A’raf : 163).

Maka Allah murka dan mereka dijadikan babi dan kera, kemudian tak bertahan lama lalu mati. Lihat firman Allah,

‎فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina” (QS. Al A’raf: 166).

Dijelaskan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhum,

‎فجعل [ الله ] منهم القردة والخنازير . فزعم أن شباب القوم صاروا قردة والمشيخة صاروا خنازير

“Allah ta’ala menjadikan mereka sebagai kera dan babi. Disebutkan bahwa yang masih muda dari kaum tersebut dijadikan kera, dan yang sudah tua dijadikan babi” (Tafsir Ibnu Katsir).

Kemudian dalam Tafsir Al Baghawi dikatakan,

‎قال قتادة : صار الشبان قردة والشيوخ خنازير فمكثوا ثلاثة أيام ثم هلكوا ولم يمكث مسخ فوق ثلاثة أيام ولم يتوالدوا

“Qatadah berkata: mereka dijadikan kera-kera muda dan babi-babi tua, kemudian mereka hidup selama 3 hari lalu dibinasakan, tak ada yang bertahan lebih dari 3 hari, dan mereka tidak berkembang biak”. Wal ‘iyaadzubillah.

Sekian tahun setelahnya, para sahabat Rasulullah juga mendapat ujian yang mirip dengan bani israil. Yakni tentang larangan berburu ketika ihram. Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَيَبْلُوَنَّكُمُ ٱللَّهُ بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلصَّيْدِ تَنَالُهُۥٓ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ ٱللَّهُ مَن يَخَافُهُۥ بِٱلْغَيْبِ ۚ فَمَنِ ٱعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُۥ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepadaNya, biarpun ia tidak dapat melihatNya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih”. (QS. Al Maidah : 94).

Perjalanan antara Madinah menuju Mekkah itu tak sebentar, dulu membutuhkan waktu hingga 7 hari, dan pasti begitu melelahkan dan menghabiskan tenaga maupun harta. Maka di tengah perjalanan tersebut Allah datangkan ujian menggiurkan berupa hewan buruan yang sangat banyak, yang begitu mudah ditangkap dengan tangan atau sekedar cukup ditombak. Dan para sahabat, tak satupun dari mereka berani untuk melanggar. Radhiyallahu ‘anhuma ajma’in.

Sebagian manusia masa kini diuji dengan dunia serta kesibukan pekerjaannya, seringkali menggiurkan namun haram dan terlarang dalam syariat. Maka siapa yang berani melanggarnya sejatinya dia sedang meneladani bani israil yang Allah murkai. Dan siapa yang berhasil menjauhinya karena Allah maka dia sedang mengikuti jalannya salafush shalih, salaful ummah para sahabat Nabi yang mulia.

Fahmi Akbar

https://fahmiakbar.com/2022/08/16/antara-bani-israil-dan-para-sahabat/

Dukun Palsu, Pesulap dan Reiki

Kenapa saya tidak ikut-ikutan memuji pesulap abang ?
Karena tercampur pada dirinya antara yang haq dan yang bathil, dan terdapat kontradiksi dari pesulap abang. Dia menelanjangi si Udin, walau sebenernya Udin itu 1/2 dukun, alias bukan dukun ORI. Kalaupun benar si Udin punya khodam, tapi tetap dia level ecek-ecek.

Tapi….
Anda tau ga, pesulap abang itu praktisi REIKI.
Iya REIKI. anda tau REIKI kan ? Singkat kata, REIKI tak ada bedanya dengan sat** nus****.
Dan pada wawancara pesulap abang dengan seorang dokter nashrani, dia ngaku sebagai praktisi REIKI, dan seringkali dia bangga sebagai pemilik sertifikat REIKI MASTER.
Dan yg agak kontradiksi dari pesulap abang, dia percaya sihir, tapi ga percaya ilmu kebal itu ada, menurut dia itu cuma trik /olah fokus, padahal dengan REIKI juga bisa kebal api, dan dia pernah praktikkan demikian. Dan di REIKI kan juga ada “PENGISIAN” dari guru ke murid. Bahkan lebih jauh, di REIKI ada aktivasi energi cakra, dan ini sangat kental dengan ilmu sihir.

Dan yang masih tanda tanya besar bagi saya, kenapa Ustadz Faizar Hafidzahullahu tak pernah membongkar bathilnya REIKI dan hipnotis di channel Youtube beliau ? Padahal pesulap abang adalah sohibnya, maka lebih urgent untuk diselamatkan.

Akhuukum Fillah
~al Faqiir Abu Musa al-Fadaniy

NB : saya bahagia dukun² kw macem Udin ditelanjangi habis²an, tapi agak sangat ngeri ketika sihir yg asli malah dianggap legal. Ini namanya mencampurkan yg haq dgn yg bathil. Silahkan tanya kepada semua mantan praktisi REIKI yg telah bertaubat dan ruju’ kepada manhaj salaf, tanyakan kepada para mantan praktisi REIKI tsb, apa saja yg mereka lakukan, mereka semua sepakat bahwa itu bagian dari ilmu sihir. Sangat fatal jika seorang peruqyah tidak mengerti hakikat ilmu olah energi tenaga dalam, sangat fatal.

Melepas Jilbab Berarti Melepas Kemuliaan Wanita

Jilbab bukanlah sebuah pilihan, tetapi memakainya adalah kewajiban wanita. Siap atau tidak siap hati seorang wanita, ketika sudah berusia baligh, seorang wanita wajib berjilbab. Tidak ada alasan untuk tidak memakainya, itu semua hanya alasan yang dibuat-buat saja dan tidak masuk akal.

Ketika ada seorang wanita yang tidak berjilbab dan ia paham benar kewajiban ini, atau ketika ada seorang wanita yang bahkan melepas jilbabnya setelah sebelumnya memakai, maka khawatirkan lah dirinya. Allah telah memberikan jalan petunjuk dan hidayah yang sangat mahal, kemudian ia menyimpang, bisa jadi Allah simpangkan ia selama-lamanya. Allah tidak akan menoleh peduli padanya lagi, wal’iyadzu Billah

Allah berfirman,

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺯَﺍﻏُﻮﺍ ﺃَﺯَﺍﻍَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻗُﻠُﻮﺑَﻬُﻢْ

Maka ketika mereka melenceng (dari jalan yang lurus) niscaya Allah lencengkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaff/61:5)

Jilbab itu untuk melindungi kehormatan dan menjaga wanita dari gangguan laki-laki dan keinginan laki-laki yang hanya cinta karena kecantikan saja.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيم

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab : 59)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

يقول تعالى آمرا رسوله، صلى الله عليه وسلم تسليما، أن يأمر النساء المؤمنات -خاصة أزواجه وبناته لشرفهن -بأن يدنين عليهن من جلابيبهن، ليتميزن عن سمات نساء الجاهلية وسمات الإماء

“Allah Ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar dia menyuruh wanita-wanita mukmin, istri-istri dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Apakah para wanita ingin jika:

“Ketika kecantikan mulai luntur, maka luntur juga cinta suaminya”

Tentu tidak ada yang wanita yang seperti ini. Bukankah keinginan terbesar wanita adalah cinta tulus suaminya, cinta yang tidak hanya karena kecantikan saja. Betapa banyak seorang istri bergelimang kemewahan dunia, harta dan perhiasan dunia, akan tetapi hati dan jiwanya kering karena suaminya sudah tidak cinta dan sudah sayang lagi, bahkan ia mendapatkan kedzaliman dari suami mereka, karena para laki-laki jika sudah tidak cinta lagi pada istrinya, cenderung akan mendzalimi atau tidak memperdulikan lagi.

Cinta tulus tersebut hanya abadi jika cinta karena agama dan akhlak. Ketauhilah para wanita:

“Kecantikan fisik membuat mata suami betah menetap, akan tetapi kecantikan agama dan akhlak membuat betah menetap bersama selamanya”

Cinta tersebut akan abadi selamanya jika karena Allah, bukan cinta “sehidup-semati” tetapi cinta sehidup-sesurga”.

ما كان لله أبقي

“Apa-apa yang karena Allah maka akan kekal selamanya”

Ancaman bagi wanita yang sudah baligh dan tidak berjilbab cukup keras, yaitu tidak mencium bau surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Segeralah wahai wanita, kenakan pakaian kehormatan dan kemuliaanmu. Kami mendoakan, semoga semua wanita muslimah sadar dan kembali ke agama mereka.

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslim.or.id

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/34261-melepas-jilbab-berarti-melepas-kemuliaan-wanita.html

Poligami? Mana yang Lebih Afdhal?

Sebagian ummahat yang sepertinya tidak ridha sama sekali suaminya berpoligami, membawakan tulisan dan poster yang menyatakan bahwa syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya seorang suami akan dirinya yang ingin berpoligami. Maka sang syaikh menganjurkan baginya untuk beralih membiayai seorang bujang untuk menikah sehingga pahalanya berlimpah.

Sebagian bapak yang mungkin istrinya sulit dinego atau faktor lain, juga membawakan fatwa itu. Bahkan ada pula beberapa dai muslim yang mengesankan tidak mendukung suami-suami yang MAMPU secara finansial dan keadilan untuk berpoligami.

Maka, kami berhujjah sebagaimana apa yang sudah maklum di awal surat an-Nisa’. Poligami itu adalah salah satu syariat Allah dan dipraktekkan oleh para fudhala dari kalangan anbiya dan shalihin. Adapun perihal apakah lebih afdhal berpoligami atau satu saja, ini khilaf di antara ulama madzhab. Jalan tengahnya adalah fihi tafshil. Ada rincian. Tidak dimutlakkan untuk setiap individu. Bagi yang memiliki hajat serta mampu berbuat adil (plus managemen finansial yang baik untuk zaman ini), maka LEBIH AFDHAL baginya berpoligami.

Na’am. Lebih afdhal terutama untuk mereka yang memiliki ILMU dan menjadi contoh yang baik serta PEMBELA syariat ini dengan praktek yang terarah.

Adapun bagi yang ragu berbuat adil, bakhil, perhitungan, juga menimbang madharatnya lebih besar, maka lebih afdhal baginya tidak berpoligami.

Ini dari sisi individunya. Adapun dari segi zaman dan sosial, maka sesuai perkataan Syaikh ibn Utsaimin yang wafat kisaran 20 tahunan lalu:

التعدد في هذا الزمان أشد إلحاحا منه فيما سبق لكثرة النساء وكثرة الفتن واحتياج النساء إلى من يحصن فروجهن، وقد ذهب كثير من العلماء إلى أن التعدد أفضل من الإفراد

“Poligami di zaman ini LEBIH TEGAS HIMBAUANNYA daripada dahulu kala karena:

(1) Banyaknya perempuan
(2) Banyaknya fitnah
(3) Butuhnya perempuan kepada pria yang bisa menjaga kemaluan mereka

Banyak dari ulama berpendapat bahwa poligami lebih afdhal dibandingkan mencukupkan diri dengan satu.” (Syarh Hilyah Thalib al-Ilm)

Anjuran kami agar pembaca yang memiliki kemampuan berbuat adil, tidak bakhil, tidak perhitungan dan finansial yang baik agar berpoligami, sesuai dengan himbauan syariat Islam. Namun bagi yang selama ini perhitungan, apalagi bakhil, untuk mencukupi satu istri saja sudah kesulitan, maka ini indikator tidak akan bisa berbuat adil jika berpoligami. Yang seperti ini, lebih afdhal baginya berusaha memperbaiki sikap-sikap tersebut.

Yang kami dapatkan, ikhwah di perkumpulan mereka, bahkan beberapa juru dakwah yang masih mufridun (beristri satu), berkumpul membahas poligami hanya sebagai candaan, bukan suatu pembahasan yang berbuah amal atau minimal ada ilmu yang terbicarakan. Mirip seperti bujang-bujang gabut yang membicarakan akhwat fulanah yang masih single. Bedanya, para mufridun ini membicarakan janda demi janda, yang mana majelis semacam itu mengotori hati mereka sendiri. Boleh jadi setelah obrolan, hati mereka panas dan berefek pada sikap terhadap istri sendiri (karena merasa hasratnya terhalangi padahal obrolan tadi indah sekali).

Maka kami katakan kepada bapak-bapak yang seperti ini (dan betul kami berkali-kali katakan), “Imma antum bicara untuk merealisasikan, imma antum baiknya diam saja.” Walau memang tidak masalah jika sesekali bercanda, namun yang kami dapatkan kerapkali ikhwan kita keterusan karena seru (bagi mereka).

Memang, ada sebagian salaf yang di obrolan mereka, mengutarakan bahwa kelak ‘saya akan menikah dengan fulanah binti fulan’, namun mereka tidak menjadikannya candaan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sebagian sahabat pun, saat menginginkan fulanah binti fulan, pernah menyebutnya ketika berbincang dengan sebagian sahabat. Banyak rekan kita, hanya membicarakan fulanah binti fulan, maju tapi gentar, melangkah malah mundur, akhirnya berakhir pada candaan dan halusinasi.

Juga, sebagian ikhwan hobi memberikan meme di WA dua akhwat berpelukan dengan tulisan Ikhwan Idaman. Exactly, ikhwan yang semisal ini sama sekali bukan idaman, melainkan dialah yang ngidam dan tak kesampaian. Atau meme 4 perempuan yang seolah menggoda agar semuanya dinikahi. Meme atau gambar semisal ini menjatuhkan muru’ah dan harga diri ikhwan yang sudah ngaji. Lebih jelek lagi jika ikhwan sudah berpoligami namun masih suka umbar meme seperti ini. Harusnya menjadi contoh kewibawaan muta’addid bahwa setelah poligami, bukan saatnya main-main dan bercanda.

Masih banyak yang harus kita perhatikan berkaitan dengan poligami. Ini termasuk syariat yang mahjurah oleh banyak kalangan Muslimin. Di antara kezaliman yang terjadi adalah banyaknya orang yang antipati terhadap poligami dengan dasar kisah-kisah kegagalan bahtera beberapa praktisi. Padahal banyak praktisi yang alhamdulillah sukses. Bahkan, perceraian di pernikahan mufridun jauh jauh lebih banyak. Apa gegara kisah-kisah cerai mereka lantas kita antipati dengan nikah sehingga bujang tetap membapuk dan duda tetap dapuk?!

Berbenahlah waffaqanallah.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Cacat Fikir Ahlul Bid’ah

Ketika berbicara tentang Allah maka logika yang terdepan. Ketika berbicara tentang berkah dan karamah wali, logika tak lagi nampak.

Apakah Imam Syafii Muhammad bin Idris seperti ini?

(Syarif Ja’far Baraja)

Su’ul Khatimah Ahlul Bid’ah

Kufur dan banyak mengerjakan amalan² bid’ah adalah faktor utama su’ul khatimah.

Mengikuti pendapat yg menyimpang dg bertaklid atau su’ul fahm. Ketika tabir tersingkap (saat sakaratul maut) barulah sadar bahwa semua keyakinan dan seluruh jenis amalan menyimpang tanpa dasar.

Ibnu Faridh umar bin Ali al Hamawi, wafat 632 H meyakini al Ittihad atau kawula manunggaling gusti. Ketika menghadapi sakaratul maut ia mendendangkan dua bait syair yg mengekspresikan kesengsaraan dan kebinasaan nya sambil menangis;

“Apabila kalian masih menyimpan rasa cinta kepadaku sebagaimana yg telah kulihat,
maka aku telah menyia² kan usiaku”

“Sebuah harapan agar jiwaku mendapatkan nya selama beberapa lama, dan sekarang aku yakin semua itu hanyalah fatamorgana”.

Ia menyatakan demikian setelah melihat kemurkaan Allah. Dan diperlihatkan kepadanya hakikat keyakinan dan amalnya.

Sangat sedikit ahlul bid’ah yg meninggal dunia dengan membawa iman dan husnul khatimah.

Agung Bursyaga

Khadijah

اني قد رزقت حبها…….

Sungguh aku telah dikaruniai cintanya…..

**
Cinta sejati harus teruji oleh waktu, saling memprioritaskan namun bukan cinta buta.

Tidak ada romansa paling agung didunia ini selain kisah cinta Rasulullah dg ibunda Khadijah.

Al Mubarakfuri didalam tarikhnya ar Rahiqul Maktum mengomentari sosok ibunda Khadijah;

“Beliau merupakan nikmat yg paling agung bagi Rasulullah. Selama seperempat abad hidup bersama nya, ia senantiasa menghibur saat beliau cemas, memberikan dorongan disaat² paling kritis, menyokong penyampaian risalah nya dan selalu membela beliau baik dg jiwa maupun dg harta”.

Rasulullah bertutur; “Allah tidak memberikan ganti kepadaku yg lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku di saat manusia tidak beriman, ia membenarkanku di saat manusia mendusta, ia mengeluarkan hartanya untukku dan Allah mengaruniakanku anak darinya sementara tidak dikaruniakan dari selainnya…(Musnad Ahmad)

Ketika beliau mendoakannya “Yaa Allah jadikanlah Khadijah bercahaya”
Ibunda Aisyah pun cemburu lalu mengatakan;

“Engkau masih ingat dg wanita Quraisy yg sudah tua renta dan sudah lama meninggal dunia, sungguh Allah telah memberikan kepadamu ganti dg wanita yg lebih baik darinya”. (HR Bukhari)

Beliau tidak mampu menyembunyikan perasaannya dan sering menyebut² nama Khadijah. Ibunda Aisyah pun mengomentari;

Khadijah…Khadijah… seakan² tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah…..

Rasulullah berkata; “Memang begitulah keutamaan Khadijah, darinyalah aku mendapatkan anak”. (HR Bukhari)

Innii qad ruziqtu hubbahaa….
Sungguh aku telah dikaruniai cintanya…
(HR Muslim)

Bahkan beliau sama sekali tidak pernah melupakan Khadijah hingga empat belas tahun setelah wafatnya.

Agung Bursyaga

Blog at WordPress.com.

Up ↑