Adab Para Ulama

Tiga Ulamâ’ berada dalam satu majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Cara Instan untuk Menunjukkan Anda Orang’ Mulia

Pake rumus, “bukan karena….. “

Contoh I:

Bila TAMPANG JELEK, “bukan karena tampang, seseorang itu mulia”

Bila KERE alias MISKIN, “bukan karena harta, seseorang itu mulia”

Bila BODOH prestasi, “bukan karena Nilai ijazah, seseorang itu mulia”

Bila NGANGGUR, “bukan karena sukses, seseorang itu mulia”

Dst, silahkan ditambah sendiri dg segala kekurangan anda.

Contoh II,

Dalam ceramah, dan anda adalah seorang tokoh agama:

Bila CUKUR JENGGOT, “bukan karena panjang jenggotnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila masih ISBAL, “bukan karena cingkrang celananya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila ISTRI TIDAK BERHIJAB, “bukan karena lebar jilbabnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila TIDAK HAFAL QURAN, “bukan karena banyak hafalan Quran nya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila TIDAK BISA BACA KITAB KUNING, “bukan karena bisa baca kitab, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila MALAS SHALAT SUNNAH, “bukan karena banyak shalat tahajjudnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila MALAS SEDEKAH, “bukan karena banyak sedekahnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila pernah NARKOBA; SELINGKUH; KHIANAT UANG, “bukan karena tidak pernah berdosa, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Dst, silahkan ditambah lagi dg segala ketaatan yang tidak diamalkan.

Lalu di akhir ceramah ditutup dengan, “akan tetapi, mulianya seseorang di sisi Allah, karena taat nya kepada Allah dan manfaatnya bagi manusia”

Hebaaaaaat, seakan dia anggap hal-hal yg disebut di atas bukanlah ketaatan dan kemanfaatan.

Mau tiru model “cari mulia” seperti ini?

Masih mending yg contoh I, ia mencari kemuliaan dlm pandangan manusia dg cara framing di hadapan mereka.

Adapun contoh II, dia mencari mulia di sisi Allah, dg cara framing di hadapan manusia.

Inilah cara instan.
Anda tidak punya prestasi?
Tunjukkan bahwa orang lain yang berprestasi adalah orang hina, atau paling kurang, bukan orang mulia.

Makanya, dari sini paham kan? Kenapa orang yg tidak punya prestasi sering jualan “bnradial” dan “celak arab”?

Yasir Kencong

Kisah Ya’qub dan Yusuf

Aku sempat bertanya-tanya kenapa nabiyullah Ya’qub alaihissalam diam saja terhadap kejahatan anak-anaknya saat mereka pulang ke rumah menemui beliau dengan membawa baju Yusuf yang disertai darah palsu/buatan. Terlebih beliau tidak percaya ketika melihat baju tersebut utuh tanpa robekan.

Kenapa beliau tidak pergi ke tempat terjadinya kasus percobaan pembunuhan Yusuf untuk mencari Yusuf, seperti yang dilakukan ayah mana pun jika menghadapi kasus yang sama?

Kenapa beliau tidak memaksa anak-anaknya itu untuk mengakui kesalahan dan kejahatan yang mereka lakukan terhadap saudara mereka Yusuf?

Kenapa beliau justru memilih hal tersulit yang dilakukan oleh hati?

Ya’qub berkata:

بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).. Dan Allah sajalah tempat meminta pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan. “ (QS Yusuf: 18)

Aku begitu terpana dengan jawaban Ya’qub yang berulang bertahun-tahun kemudian yaitu saat anak-anaknya kembali dari Mesir menemui beliau.

Ya’qub kembali berucap dengan nada yang sama:

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

“Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). (QS Yusuf: 83)

Jelaslah bagiku bahwa beliau begitu yakin dengan buah kesabarannya, yaitu ayah dan anak-anaknya itu berkumpul dalam kebaikan.

Ya’qub menyebutkan harapan tulusnya:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Aku berharap Allah mendatangan mereka semua untukku, Dialah yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS Yusuf: 83)

Di hadapan anak-anaknya, Ya’qub tidak menyingkap segala perasaan, keluhan dan kesedihan yang berkecamuk di dadanya, sebagai bentuk tawakkal kepada Allah. “Dialah yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS Yusuf: 83), ungkapnya.

Aku terkagum-kagum dengan Ya’qub karena ketegasannya dalam menyimpan pilu, derita dan kecewa di hatinya tanpa menuntut anak-anaknya untuk mengatakan apapun.

Allah menyebutkan:

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (QS Yusuf: 84)

Anak-anaknya begitu terheran-heran dengan kesabaran sang ayah hingga mereka bertanya-tanya.

تَٱللَّهِ تَفْتَؤُا۟ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ ٱلْهَٰلِكِينَ

“Demi Allah, senantiasa anda mengingati Yusuf, sehingga anda mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa”. (QS Yusuf: 85)

Ya’qub pun berujar:
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya”. (QS Yusuf: 86)

Dari penggalan kalimat Ya’qub tersebut, nampaklah bagiku bahwa Ya’qub telah diwahyukan oleh Allah. Allah memerintahkan Ya’qub untuk diam semenjak awalnya. Ya’qub pun menyimpan sedih dan kegudahan terbesarnya di hati bertahun-tahun lamanya hingga matanya buta akibat kesedihan. Dan ini, tanpa ia adukan kepada manusia walau sepatah kata pun.

Nampaklah olehku pula bahwa anaknya, Yusuf alaihissalam, telah diwahyukan oleh Allah sejak mereka, saudara-saudaranya, membawanya ke dalam hutan dan menjerumuskannya ke dalam sumur.

Yusuf alaihissalam mengetahui bahwa di balik semua makar yang diarahkan kepadanya terdapat hikmah ilahiyyah bahwa kelak akan tiba hari-hari yang Allah janjikan:

لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

“Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.” (QS Yusuf: 15)

Yusuf bersabar sepertinya ayahnya bersabar. Ia mampu memikul kesulitan, keterasingan dan penjara bertahun-tahun.

Ya’qub pun tidak keluar untuk mencari Yusuf. Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa Ya’qub meminta kepada Allah untuk memberi petunjuk tentang keberadaan anaknya.

Setelah dewasa, Yusuf alaihissalam tidak kembali menemui keluarganya. Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa Yusuf meminta kepada Allah agar memberi petunjuk kepada keluarganya untuk menemui beliau.

Yusuf dan Ya’qub menunggu dan menyimpan rapi semuanya. Keduanya sama-sama melaksanakan perintah Allah dan fokus menjalankan tugas kenabian yaitu menyampaikan petunjuk dan risalah kepada manusia.

Saat hari terungkap dan tersingkapnya alur kehidupan, penghilatan Ya’qub kembali normal, keluarga Yusuf kembali menemuinya, dan para saudaranya itu meminta maaf dan ampunan.

Yusuf berkata:

وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا

“Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf pun menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang tercurahkan untuknya, bukan menyebutkan dendam-dendam.

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ

“Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir. .” (QS Yusuf: 100)

Setelah duduk di singgasana dan saudara-saudaranya bersujud kepadanya, Yusuf pula tidak menyinggung-nyinggung seorang pun di antara mereka atas kejahatan yang pernah mereka lakukan.

Bahkan Yusuf menyandarkan dan menisbatkan bahwa apa yang terjadi semuanya berasal dari syaithan (yang mengobarkan kejahatan di bumi).

Yusuf berkata:

مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“ . .setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf tak sepatah katapun menyebutkan bahwa beliau dan ayahnya amat menderita bertahun-tahun. Beliau hanya berujar:

إنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Sejatinya Rabbku Maha Lembut terhadap siapa yang Dia kehendaki.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf menyandarkan segala sesuatu kepada Allah dengan mengatakan: “Dialah sejatinya Maha Mengetahui lagi Bijaksana.”

Yusuf menyebutkan segala kenikmatan dan anugerah Allah kepadanya tanpa menolehkan pandangan terhadap ujian-ujian kehidupan yang telah berlalu:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. .” (Ayat: 101)

Dengan penuh ketawadhuan jiwa, ia berujar:

“(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (Ayat: 101)

Aku semakin meyakini bahwa para nabi adalah manusia terberat ujiannya. Akan selalu ada pihak-pihak pendukung kesesatan dan hasad hendak melaksanakan makar kepada mereka. Ujian-ujian yang terkadang bersumber dari anak, saudara dan kerabat lainnya akan mengantarkan orang shaleh mencapai derajat mulia.

Aku semakin meyakini dan memahami bahwa jalan keluar tak akan datang kecuali setelah mengerahkan sabar hingga episode telah usai.

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami. . .” (Ayat: 110)


Diringkas dan diterjemahkan dari akun Lailiy Fahd as-Syamiriy

Alih bahasa: Yani Fahriansyah

(Asrama, Ahad pagi, 25/12/2016)

Jasad Jenazahmu Bukan Urusanmu

Ada yg mengeluhkan:
“saya gak mau berbeda dg masyarakat. Krn kalau beda, nnt jika saya mati, gak ada yang mau ngurus jenazah saya.”

Akhirnya membuat dia ikut tradisi syirik ataupun bid’ah di masyarakat tersebut, kerena kekhawatiran itu.

Seorang sahabat, Abdullah bin Zubair, pernah mengeluhkan kepada ibundanya, Asma binti Abi Bakar, ketika beliau dikepung oleh pasukan Hajjaj.

Beliau berkata, “Bu, aku khawatir bila aku dibunuh nanti, mereka akan mencincang jasad jenazahku”.

Ibundanya pun menjawab, dengan memberikan sebuah ungkapan,

لا يضر الشاة سلخها بعد ذبحها
” Seekor kambing yg sudah disembelih tidak akan merasakan sakit ketika dikuliti”

Pikirkan bagaimana amalanmu selama hidup agar diterima Allah setelah engkau mati.

Adapun jasadmu, untuk dimandikan; dikafankan; disholatkan; dikuburkan; itu tugas orang yg masih hidup. Jika mereka tidak melaksakan fardhu kifayah tsb, maka yg dosa mereka semua, bukan kamu.

Ustadz Yasir Kencong

Istri yang Menyembunyikan Suaminya

Ini kisah nyata yang kualami sendiri, aku adalah seorang jomblowati yang berteman ke sana-sini. Dan aku berteman dengan seorang ummahat, sudah hampir 3 tahun kenal, sering bertemu di majelis ilmu, pernah juga satu profesi, dan kadang kami kumpul-kumpul bersama akhwat lainnya.

Bagiku, ia sosok yang mengagumkan dalam seni menyembunyikan kehidupan rumah tangganya. Umur rumah tangganya melebihi umur pertemanan kami. Namun, tak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok suaminya, tak pernah ia bercerita panjang lebar tentang keluarga kecilnya. Baik itu keromantisan ataupula sebuah pertengkaran, tak kudapati ia sebuti.

Jangankan untuk menge-tag akun suaminya di sosial media, menyebutkan nama suaminya di depan kami(para teman akhwatnya) saja tidak pernah ia lakukan.

Betapa ia begitu menjaga, apa yang memang seharusnya dijaga. Begitu besar rasa cemburunya, hingga tak ada celah yang ia tampakkan dari kehidupan rumah tangganya. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang tahu kehidupan keluarganya. Bukan teman pada umumnya, bukan pula dibeberkan di sosial media yang siapa saja bisa mengetahuinya.

Untukmu, wahai ummahat yang begitu menjaga kehidupan rumah tangga, aku benar-benar banyak belajar darimu. Seni menjaga yang sangat besar manfaatnya, apalagi buat para jomblo yang sering menghalu tentang indahnya kehidupan berumah tangga, disebabkan bersilewernya pasangan-pasangan yang memamerkan keromantisannya di sosial media.

Darimu, aku mengerti hakikat cemburu yang sesungguhnya. Bahwa suamimu adalah milikmu, cukup kau yang tahu, cukup menjadi privasimu.

Semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan keturunanmu.
Aku kagum dengan caramu menjaga kehidupan berumah tangga.

Jejak Pena | @tintadya
telegram | t.me/tintadya15

********************

Wahai kalian para suami, hendaklah kalian berlaku serupa. Apalagi kalian terancam dengan predikat lelaki dayyuts yang dengan itu diharamkan atasnya Surga.

Kisah Wanita Cantik yang Menggoda Ulama

Kisah ini terjadi pada abad pertama hijriyah, di zaman tabi’in.

“Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda?” tanya seorang istri kepada suaminya, sambil bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan yang terpantul di kaca itu.

“Ada.” jawab sang suami.
“Siapa?” kata istrinya
“Ubaid bin Umair.” jawab suaminya

Sang istri diam sejenak. Ia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.

“Wahai suamiku,” katanya merayu, “bolehkah aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umair bertekut lutut di depanku?”

Sang suami terkejut dengan permintaan ekstrem itu, tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, untuk menguji keshalihah seorang ulama. “Silahkan, aku mengijinkanmu.”

Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidil Haram.

Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah ﷺ masih hidup. Nama lengkapnya Ubaid bin Umair bin Qatadah Al Laitsi Al Junda’i Al Makki. Beliau wafat pada tahun 74 hijriyah.

Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasehat. Ia beralasan kebutuhannya amat penting, dan memintanya pindah ke pojok masjid. Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya dan tampaklah wajah cantiknya laksana bening rembulan.

“Apa yang kau lakukan?” kata Ubaid melihat kejanggalan wanita tersebut.
“Sungguh, aku mencintaimu. Aku hanya ingin jawaban darimu,” sergah wanita itu, terus berusaha menggoda Ubaid.

“Sebentar,” kata Ubaid. Kini nadanya mulai naik. “Ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.”

“Baik, aku akan menjawabnya dengan jujur.”

“Pertama, seandainya Malaikat Maut datang menjemputmu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu?”

Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya dengan kematian. Kemudian menjawabnya “Tidak”

“Kedua, seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu?”
“Tidak” jawabnya.

“Ketiga, seandainya saat ini semua manusia menerima catatan amalnya dan engkau tidak tahu apakah kau akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Keempat, seandainya saat ini seluruh manusia digiring ke timbangan amal dan engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau justru amal buruknya yang lebih berat, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Kelima, seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmatNya yang telah dianugerahkan kepadamu, masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Demi Allah, tidak”

“Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah. Betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu.”

Kini dia tak kuasa menahan air mata. Tadi dia datang ke Masjidil Haram berpura-pura mencari nasehat, kini ia benar-benar mendapatkan nasehat yang benar-benar menyentuhnya.

Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih.

“Apa yang terjadi wahai istriku?” kata suaminya.

“Kita ini termasuk orang yang celaka,” jawab wanita itu, kemudian ia mengambil wudhu dan shalat.

Hari-hari berikutnya, ia berubah drastis. Ia tak lagi membanggakan kecantikannya. Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam. Ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.

Mudah-mudahan ini ada manfaatnya..
Barakallahufiikum.

اللَّـﮬـُمَّ صـَلِِّ ؏َـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِن امُحَمَّدٍ ﷺ

Tidak Perlu Ada Kumpulan Pejuang Poligami

Jika ingin, dan siapalah yang tak ingin…
Lebih tepatnya, jika sudah kuat hasratnya, maka bercerminlah: ‘ibadah dan ketakwaan’ atau sekadar perhiasan dunia dan hawa nafsu belaka? Ketahuilah bahwa yang telah berpengalaman, lebih mengenal dan lebih dewasa.


Jika rupanya betul karena ibadah dan takwa, maka ceritakan itu ke mereka yang telah berpengalaman.

Namun, saya ingin sebutkan untuk siapapun di sini kalam Ibnul Jauzy -rahimahullah-. Tentang orang yang telah menikah dengan lebih dari seorang perempuan. Dan hasratnya masih terus, karena memang begitulah tabiat. Beliau berkata:

ظن أنه يجد عندها ما ليس عندهن!

“Dia mengira bahwa dia akan menemukan di perempuan (asing) tersebut, apa yang tidak ada pada mereka (istri-istrinya).”

Lalu ia memperjuangkan untuk mendapatkannya. Penasaran. Merasa istri-istrinya masih kurang. Perlu pelengkap. Ia kemudian menyana bahwa pada insan baru ini ada hal baru, berbeda dan menyemangatinya.


Kemudian beliau berkata:

ولعمري، إن في الجدة لذة، ولكن، رب مستور إذا انكشف افتضح.

“Sungguh, dalam hal yang baru memang ada kenikmatan. Tetapi, boleh jadi yang tadinya tertutup, jika disingkap, akan tampak buruknya.” [Shaid al-Khathir]

Acapkali dunia itu terasa indah justru sebelum mendapatkannya. Setelah ia mendapatkannya, membuka bungkusnya, merasakannya, ternyata ia merasakan apa yang pernah dirasakan. Seterusnya ia ingin lebih. Atau sebaliknya, ada bangunan yang telah dihancurkan.

Kecuali jika dunia digenggam karena demi berpijak untuk akhirat. Maka, ia akan merasakan iman dan kekhusyuan di setiap khuthuwat. Hanyasaja, banyak orang -khususnya ‘pejuang poligami’- tidak jujur dalam hal ini.
Lisan mereka berkata akhirat, namun hati mereka merindu dunia.

Jika ingin berjuang, perjuangkan terlebih dahulu kemapanan i’tikad, niat dan ibadah. Semoga Allah permudah bagi orang bertakwa.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Islam, Arab dan Nusantara

Islam datang untuk mengislamkan bangsa Arab dan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam ditentang kaumnya karena Islamisasi ini. Yang didakwahkan Nabi kita adalah mengislamkan Arab, bukan meng-Arabkan Islam.

Islam terlalu sempurna untuk dipaksakan mengikuti adat dan budaya bangsa fulan atau suku ‘allan. Adat dan budaya Arab yang baik tidak dilarang oleh Islam, namun yang menyelisihi Syari’at Islam seperti penyembahan berhala, tamimah (jimat), mengubur anak perempuan hidup-hidup, membuka aurat dlsb maka Allah dan Rasul-Nya larang dan diarahkan menuju yang lebih baik.

Jika di Indonesia ada aliran nusantara yang mendakwahkan, “Mengindonesiakan Islam, bukan mengislamkan Indonesia.”, Nabi siapa yang mereka teladani?

Ustadz Abu Razin Taufiq

Tiga Ulamâ’ Berada dalam Satu Majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Blog at WordPress.com.

Up ↑