Dukun Adalah Wali Setan

[1] Perdukunan adalah kekufuran. Jika perdukunan dipersatukan, maka sama dengan menjamak banyak kekufuran.

[2] Di antara faktor -yang saya amati- klenik mulai laris kembali saat ini adalah menjamurnya channel-channel misteri, seperti channel orang indigo (pendusta), explorasi tempat-tempat keramat untuk mencari hantu, dan kisah-kisah rekaan perihal jin.

[3] Para dukun -semoga Allah menghinakan mereka- ingin mencitrakan positif kedustaan dan kehinaan mereka di mata masyarakat, supaya mereka diterima dan kehadiran mereka dianggap biasa.

[4] Merupakan tugas dai Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan kaum Muslimin yang berpegang pada aqidah Islam sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah, untuk membentengi diri, keluarga dan masyarakat dari praktek, propaganda dan eksistensi dukun dan perdukunan.

[5] Para dukun -semoga Allah menghinakan mereka- adalah para wali setan, yang mengikuti jejak Iblis. Mempropagandakan pohon terlarang sebagai pohon keabadian. Maka, jika Anda tidak ingin mengkhianati akal sendiri, jangan mengikuti jejak mereka yang penuh tinja kemerosotan aqidah. Pakaian boleh serupa, namun bedakan antara tinja, darah dan susu murni.

(Ust Hasan Al Jaizy)

Dukun Jaman Now

Jangan terkecoh….

Dulu tukang sihir atau dukun di film-film kita saksikan matanya picek, rambutnya kriwil-kriwil panjang, gigi depannya ompong, kemudian didepannya kemenyan, pakai meniup-niup… fuuhhh!!

Jangan terkecoh..

Sekarang dukun pakai jubah, kadang-kadang pakai laptop, kadang-kadang berjenggot, kadang-kadang pakai sorban, kadang-kadang pakai tasbih, kadang-kadang DUDUK DI MASJID!

Jangan tertipu..

Walau ia hafal Al Quran, walau ia ahli sholat malam, kalau dia nulis-nulis rajah dia adalah TUKANG SIHIR

(Ust Ahmad Zainuddin hafidzahullah)

(Like) Hero but (the Truth is) Zero

Wahai jiwa yang berlumur dosa ini, mau sampai kapan engkau lalai dari sujud bersimpuh di hadapan-Nya dengan segala pengakuan atas ketidakberdayaanmu? Mau sampai kapan engkau berjalan dengan ketinggian hati di muka bumi?
Sampai kapan engkau merasa lebih hebat dan lebih mulia dari orang lain di muka bumi?
Sampai kapan engkau lalai dari kalam Rabb-mu dan sabda Nabimu, sementara engkau sangat kuatir dengan perkataan manusia dan berita dunia?

Padahal statusmu tidak lebih dari hamba, tidak lebih dari budak, yang harga dirinya ada di titik nadir.
Tapi kau lebih memilik menjadi budak hawa nafsu duniawi ketimbang menjadi budak Rabb-mu.
Engkau itu zero, tapi merasa hero.
Maka mana mungkin engkau mau merendah di hadapan Rabb-mu.
Kau jadikan Rabb-mu seolah adalah EO-mu.
Kau desak Rabb-mu agar mengabulkan doa-doa duniawiahmu.
Sementara kau lalai akan hak-hak-Nya untuk kau kenali dalam asma wa sifat-Nya, kau ibadahi dalam ululiyah-Nya, kau akui dalam rububiyah-Nya.

Apakah engkau harus menunggu hingga Rabb-mu menurunkan musibah yang datang melanda bertubi-tubi hingga engkau sadar bahwa engkau adalah zero dan bukan siapa-siapa di hadapan-Nya?

Ampuni hamba-Mu yang faqir ilmu, faqir iman dan faqir amal ini ya Rabb ……

Hijrah dan Musibah yang Datang Kemudian

Kalau antum berhijrah, lalu musibah menimpa antum secara bertubi-tubi, maka boleh jadi itulah musibah yang Allah berikan untuk menguji kesungguhan antum dalam berhijrah.
(Dan Allah sungguh sudah tahu apakah hijrah antum benar-benar ikhlas atah hanya berpura-pura).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(QS: al-‘Ankabuut Ayat: 2-3)

Musibah, yang mana ketika antum hadapi pertama kali dengan ketawakkalan kepada Allah, maka ia adalah ujian. Sedangkan bila antum hadapi pertama kali dengan celaan dan keluhan, maka itulah hukuman yang sesungguhnya atas dosa-dosa antum.

Kabar gembiranya, bilamana antum sabar dalam menghadapi musibah tersebut, maka musibah inilah yang insya Allah menjadi pelebur dosa-dosa antum di masa lalu sebelum berhijrah.

Semoga kita semua diberi-Nya taufik, kekuatan dan kesabaran di saat musibah datang melanda.

(Faidah dari Ust Syafiq Basalamah, Ust Muhammad Nuzul Dzikri dan Ust Hasan Al Jaizy hafidzahumullah)

Takutlah Kepada Allah, Wahai Jiwa yang Berlumur Dosa Ini

Jika engkau sulit melakukan ketaatan, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah sudah tidak suka denganmu, jangan-jangan Allah sudah tidak menginginkan ketaatanmu.

Jika engkau sulit menangisi dosa-dosamu, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah telah menutup hatimu yang gelap pekat dengan hitamnya dosa-dosa.

Jika engkau sulit mengingat dosa-dosamu kepada Allah dan kepada sesama manusia, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah telah tak mempedulikanmu, dibiarkannya engkau dalam gelimang maksiat dan dosa tanpa merasa bersalah.

Takutlah kepada Allah, wahai jiwa yang berlumur dosa ini …
Takutlah akan hari di mana setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri dan ketakutan di hadapan Allah dan para malaikat…

Hari di mana dibentangkan jurang neraka Jahannam, hari di mana rantai-rantai yang berat dan kasar menyeret leher para musyrikin dan munafiqin, para pezina, para pembunuh, para pengkhianat dan para perampok untuk masuk ke dalamnya…

Hari-hari di mana semua rahasia dibukakan, hari di mana semua isi hati ditampakkan. Hari-hari di mana wajah-wajah tertunduk malu dan ketakutan yang mendalam, dalam dahsyatnya hari pengadilan.

Hari di mana semua rasa sakit di dunia menjadi terasa ringan, tak terasa walau hanya bagai seujung kuku sekalipun.
Hari di mana semua nikmat di dunia menjadi hambar, tak terasa walau hanya bagai setetes air sekalipun.

Bersabar di Belakang Garis Sunnah (adalah Kemuliaan, bukan Kepengecutan)

Dahulu Abu Dzar Al Ghifari -radhiyallahu ‘anhu- pernah disuruh Rasulullah untuk tetap di tempatnya sampai beliau kembali.

Beberapa waktu kemudian Abu Dzar mendengar suara gemuruh yang mengkhawatirkan dari arah Rasulullah pergi.

Karena khawatir, beliau ingin menyusul ke arah Rasulullah pergi, akan tetapi beliau ingat pesan Rasulullah “Tetap di tempatmu, jangan kemana-mana sampai aku kembali”.

Akhirnya beliau tetap di tempatnya, dan Rasulullah pun kembali dengan membawakan hadits bahwa orang yang meninggal tanpa berbuat syirik akan masuk surga.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari.

Apakah Abu Dzar pengecut? Abu Dzar bukanlah pengecut, bahkan beliau sangat pemberani. Untuk dirinya sendiri saja beliau tidak takut menantang orang menghunuskan pedang padanya, apalagi untuk Rasulullah.

Akan tetapi apakah yang membuat Abu Dzar tetap sabar berada di tempatnya? Apakah beliau tidak peduli dengan keselamatan Rasulullah? Jelas bukan!

Tidak ada yang menahan beliau kecuali perintah Rasulullah untuk bersabar di belakang garis SUNNAH. Beliau tidak mau melanggar perintah Rasulullah untuk alasan keselamatan Rasul. Lantas bagaimana dengan orang-orang pada masa sekarang yang melah mengolok-olok perintah Rasulullah untuk sabar terhadap kezhaliman penguasa? Na’udzubillah, kita berlindung pada Allah dari ketergelinciran lisan yang berujung pada kebinasaan!

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Kasihannya Diriku

Al-Fudhail bin lyadh berkata (kepada dirinya),

“Wahai, kasihannya engkau… engkau berbuat buruk, tetapi engkau merasa berbuat baik, engkau tidak tahu, tetapi merasa selevel dengan ulama’, engkau kikir, tetapi engkau merasa dermawan, engkau pandir, tetapi merasa berakal (cerdas), ajalmu pendek, namun angan-anganmu panjang.”

(Siyar A’lamin Nubala 8/ 440)

Blog at WordPress.com.

Up ↑