Hari Terindah

Hari terindah adalah hari ketika anda tidak bermaksiat kepada Allah. Semakin anda bermaksiat semakin pudar keindahan tersebut.
Jaga pandangan, pendengaran, fikiran dan lisan.

(Ustadz Dr. Firanda Andirja)

Tidak Semua Perbedaan Bisa Ditolerir

Renungan sebelum tidur…

Kalau semua masalah perbedaan ditolerir dengan alasan khilafiyah (bahkan masalah aqidah) akhirnya para penyembah kuburan akan berkata; “Biarkanlah kami meminta kepada penghuni kuburan dan beristighotsah kepada mayat mayat, toh ada ulama yang membolehkan!”

Akhirnya kaum mu’tazilah akan berkata biarkanlah kami menolak sifat-sifat Allah dan kami katakan al-Qur’an adalah makhluk, toh ada ulama yang menyatakan demikian!

Akhirnya muncul kaum liberal dan berkata “Buat apa diributkan antara Nashrani dan Islam, toh Nashrani juga agama tauhid, mereka juga meyakini Tuhan esa hanya saja cara pengungkapan yang berbeda yaitu trinitas!”

Atau berkata; “Buat apa diperdebatkan masalah aqidah, toh yang penting niatnya dan akhlaknya baik!”

Permasalahan khilafiyah ada yang bisa ditolerir dan ada yang tidak boleh ditolerir bahkan wajib diingkari.

Kalau permasalahan al-Quran makhluk harus ditolerir maka begitu bodohnya Imam Ahmad bertahan mempertahankan aqidahnya hingga dipenjara dan disiksa…?! Semuanya karena beliau tidak mentolerir.

Entah sebagian kita yang selalu mentolerir yang lebih pandai ataukah Imam Ahmad?

(Ustadz Firanda Andirja)

Cermin Berbisik

Cermin berbisik kepadaku, “Berhias-hias diri di luar kehadiran kekasih adalah pengkhianatan…” (@Balqes75)

Translated oleh Hendra Wibawa Wangsa Wiguna

Ghibah

Ketika ada yang mengghibah seseorang, kita nasehati dia agar jangan ngomongin orang.. Tapi malah dijawab: “Kok kamu belain dia sih?”

Kita jawab: “Bukan.. Justru saya belain kamu, supaya kamu ga terjerumus dalam dosa. Adapun aib dia, kesalahan dia, itu urusan dia dengan Allah.

Kalau kamu ingin memperbaiki dia, ya datangi dia, omong langsung ke dia. Kalau nggak mampu, berarti kamu bukan termasuk yang wajib nasehati dia. Nah kalau kamu nggak wajib karena ga mampu menasehati, maka kewajibanmu diam, ingkari dengan hati, bukan malah ghibah dia, karena itu bukan solusi dan malah jadi dosa…

Tapi kalau memang niatnya cari solusi, ya silakan, misal kamu ghibah orang ini di depan orang yang kamu harap bisa menasehati dan meluruskan dia.. Kalau itu silakan saja, ghibah antara dirimu dan orang yang kamu harapkan ini, cukup berdua tidak perlu melibatkan orang lain apalagi banyak orang yang tidak berkepentingan..”

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Khadijah Wanita Karir?

Khadijah radhiallahu’anha sering dijadikan dalih bagi para wanita yang menjadi wanita karir, sering keluar rumah untuk bekerja dan lainnya.
Khadijah radhiallahu’anha memang adalah seorang saudagar yang kaya raya dan punya kedudukan di masyarakat Quraisy ketika itu. Namun kenyataannya jauh sekali antara Khadijah dan kebanyakan wanita karir zaman sekarang.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:

أَتَى جِبْرِيلُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: يا رَسولَ اللَّهِ: هذِه خَدِيجَةُ قدْ أتَتْ معهَا إنَاءٌ فيه إدَامٌ، أوْ طَعَامٌ أوْ شَرَابٌ، فَإِذَا هي أتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِن رَبِّهَا ومِنِّي وبَشِّرْهَا ببَيْتٍ في الجَنَّةِ مِن قَصَبٍ لا صَخَبَ فِيهِ، ولَا نَصَبَ

“Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian ia berkata: wahai Rasulullah, istrimu Khadijah sedang datang kepadamu membawakan wadah yang di dalamnya ada idam, atau makanan atau minuman. Jika ia datang maka sampaikanlah salam dari Allah dan dariku kepadanya. Dan sampaikan kabar gembira baginya berupa rumah di surga yang terbuat dari mutiara yang berongga, yang tidak ada kelelahan di sana dan tidak ada kesulitan” (HR. Bukhari no. 3820, Muslim no. 2432).

Perhatikan, walaupun beliau orang terpandang dan saudagar kaya, tetap saja beliau berkhidmat kepada suaminya, melayani suaminya dengan maksimal, bahkan beliau sendiri yang membuatkan makanan dan minuman untuk suaminya.

Dalam hadits tentang turunnya wahyu kedua kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Perhatikan apa yang terjadi setelah Nabi melihat Malaikat Jibril. Dari Abu Salamah bin Abdirrahman, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فَأَتَيْتُ خدِيجَةَ فقلتُ : دَثِّرُونِي وصبُّوا عليَّ ماءً بارِدًا ، وأُنْزِلَ عليَّ : { يَا أَيُّهَا المُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ}

“… Lalu aku bergegas pulang menemui Khadijah lalu aku berkata, ‘Selimutilah aku. Dan tuangkanlah air dingin pada tubuhku’. Lalu turunlah ayat: ‘Yaa ayyuhal muddatsir, qum fa-anzhir warabbaka fakabbir (Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatakan. Dan Tuhan-mu, agungkanlah)’”” (HR. Bukhari no. 4924).

Perhatikanlah, Khadijah radhiallahu ‘anha selalu stand by ada di rumah sehingga ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pulang, Khadijah ada di rumah. Bukan sedang bekerja atau di luar rumah. Dan beliau pun bersegera melayani kebutuhan suaminya.

Dan Khadijah radhiallahu’anha juga ibu yang baik dan sukses dalam mendidik anak-anaknya. Tercermin dalam kebaikan akhlak dan kesalihan putra-putri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Maka hendaknya kaum Muslimah merenungkan hal ini. Bekerja bagi wanita memang boleh dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Dan salah satu syaratnya, tidak boleh sampai melalaikan tugas utamanya sebagai istri dan ibu. Ambilah ibrah dari sosok Khadijah radhiallahu’anha.

Yang ingin menyelami bagaimana kehidupan sehari-hari Khadijah radhiyallahu’anha bisa baca buku berikut ini: “Khadijah Teladan Agung” karya Ibrahim Muhammad Hasa

Bahagia dan Sengsara itu

Kata Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Yang termasuk kebahagiaan itu: istri yang apabila kau memandangnya, kau merasa takjub terhadapnya, dan ketika kau tak ada di rumah, kau merasa tenang dan nyaman karena kau merasa bahwa istrimu bisa menjaga dirinya dan juga menjaga hartamu …

Yang termasuk kesengsaraan itu: istri yang ketika kau memandangnya, kau merasa tak genah sementara lisannya pun buruk terhadapmu. Ketika kau tak ada di rumah, kau merasa tak tenang atasnya – karena kau merasa – dia tak menjaga dirinya dan tidak pula menjaga hartamu …

Translate oleh Hendra Wibawa Wangsa Wiguna

Membid’ahkan Perbuatan vs Membid’ahkan Orangnya

Membid’ahkan perbuatan tidak sama dengan membid’ahkan orangnya.
Mengatakan suatu perbuatan termasuk bid’ah itu BOLEH, meskipun dalam hal itu ada perbedaan pendapat. Karena bid’ah-sunnah, halal-haram, mubah-makruh, semua itu masuk domain/wilayah khilafiyah.


Adapun membid’ahkan orang, maknanya adalah menyatakan bahwa orang tersebut mubtadi’ atau ahli bid’ah. Maka ini hanya boleh untuk masalah yang disepakati (mujma’ ‘alaihi), bukan pada masalah khilafiyah ijtihadiyah. Itupun ada kaidahnya tersendiri, tidak otomatis.
Sehingga dalam masalah khilafiyah: Boleh membid’ahkan suatu perbuatan/ibadah, namun tidak boleh membid’ahkan pelakunya.

Jangan sampai kebablasan dengan mengatakan: “Tidak boleh membid’ahkan qunut subuh.”, ini salah paham dan salah kaprah. Yang tidak boleh dibid’ahkan adalah pelakunya. Adapun bid’ahnya qunut subuh ini adalah salah satu pendapat ulama yang mu’tabar.

Kemudian, terkait bolehnya bermakmum dan mengikuti imam yang qunut hal ini karena terdapat dalil yang menyatakan bahwa imam itu untuk diikuti. Oleh karena itu para ulama menyatakan sah shalat di belakang orang yang berbeda madzhab, bahkan walaupun shalat imam tersebut tidak sah jika dipandang menurut madzhab makmum.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Jangan Percayai Feminist

Ladies, di barat, wanita memerdekakan diri dan tak melayani suami sebagaimana kita membangun konsep keluarga.
Maka suami di barat, juga tidak punya beban tanggung jawab harus mendengar, perhatian, peduli, dan mengurus istri.

Rumah bordil laku, PSK begitu memikat, kenapa? Karena mereka tahu cara melayani laki-laki, cara menyervis laki-laki.

Rumah makan laris, ramai pembeli, kenapa? Karena para chef tahu cara masak yang lezat untuk melayani pembeli.
Alfamart dan Indomaret menarik begitu banyak pembeli, padahal harganya tidak lebih murah dari Toko-Toko di pasar, kenapa? Karena kasirnya ramah dan bersahabat.

Di tempat kerja; energi, waktu dan pikiranmu di dedikasikan untuk pekerjaan, menjaga nama baik perusahaan/lembaga, kamu sigap dan tanggap dengan apapun perintah pimpinan, dan untuk itu semua, kamu mendapatkan upah/gaji.

Di rumah, kamu mendapatkan kemerdekaanmu, kamu mendapat perlindungan penuh dari laki-laki yang disebut suami, makananmu terjamin, pakaianmu dijamin, perawatanmu ditanggung, urusanmu dibantu, rumahmu disediakan, kendaraanmu diserviskan.

Lalu apakah tidak logis untuk semua pelayanan itu kamu memberikan layanan balik pada suami dengan menyenangkan ketika dipandang, bersegera ketika diminta melakukan sesuatu yang ma’ruf, menjaga kemaluan dan harta suami ketika dia tidak ada di rumah (?)

Kalau bicara rasionalitas, bukankah lebih logis kamu melakukan pelayananmu pada lelaki seperti itu yang juga ayah dari anak-anakmu ketimbang pada perusahaan/lembaga yang menuntut pelayanan darimu tetapi hanya memberikan feedback berupa gaji bulanan.
Jika kamu berpikir rasional, kamu menerima karyawan yang harus mengabdi pada perusahaan, kenapa kamu jadi tidak rasional untuk suami yang memberikanmu lebih dari sekedar apa yang perusahaan mampu berikan untukmu.

Ladies, jangan percayai feminist, mereka pendusta besar, mengacaukan konsep relasi keluarga dan tidak memberikan jalan keluar atau solusi apapun atas kacaunya rumah tangga, di barat sana kehidupan rumah tangga berjalan buruk.

Aly Raihan El Mishry

Lelaki, Perbaikilah Agamamu

Suatu hari Malik bin Dinar (seorang tabi’in, murid dari Hasan Al Basri) melihat seorang laki-laki yang buruk sekali sholatnya.
Diapun berkata: “Sungguh aku amat kasihan terhadap keluarganya”.


Lantas seseorang bertanya kepadanya, “Yang buruk adalah sholat orang ini, mengapa engkau justru mengkhawatirkan keluarganya..?


Malik bin Dinar menjawab; “Dia orang tertua ditengah-tengah keluarganya dari dialah keluarganya akan belajar”.

(Al Hilyah: 2/384)

Blog at WordPress.com.

Up ↑