Bersabar di Belakang Garis Sunnah (adalah Kemuliaan, bukan Kepengecutan)

Dahulu Abu Dzar Al Ghifari -radhiyallahu ‘anhu- pernah disuruh Rasulullah untuk tetap di tempatnya sampai beliau kembali.

Beberapa waktu kemudian Abu Dzar mendengar suara gemuruh yang mengkhawatirkan dari arah Rasulullah pergi.

Karena khawatir, beliau ingin menyusul ke arah Rasulullah pergi, akan tetapi beliau ingat pesan Rasulullah “Tetap di tempatmu, jangan kemana-mana sampai aku kembali”.

Akhirnya beliau tetap di tempatnya, dan Rasulullah pun kembali dengan membawakan hadits bahwa orang yang meninggal tanpa berbuat syirik akan masuk surga.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari.

Apakah Abu Dzar pengecut? Abu Dzar bukanlah pengecut, bahkan beliau sangat pemberani. Untuk dirinya sendiri saja beliau tidak takut menantang orang menghunuskan pedang padanya, apalagi untuk Rasulullah.

Akan tetapi apakah yang membuat Abu Dzar tetap sabar berada di tempatnya? Apakah beliau tidak peduli dengan keselamatan Rasulullah? Jelas bukan!

Tidak ada yang menahan beliau kecuali perintah Rasulullah untuk bersabar di belakang garis SUNNAH. Beliau tidak mau melanggar perintah Rasulullah untuk alasan keselamatan Rasul. Lantas bagaimana dengan orang-orang pada masa sekarang yang melah mengolok-olok perintah Rasulullah untuk sabar terhadap kezhaliman penguasa? Na’udzubillah, kita berlindung pada Allah dari ketergelinciran lisan yang berujung pada kebinasaan!

(Ust Ristiyan Ragil Putradianto)

Kasihannya Diriku

Al-Fudhail bin lyadh berkata (kepada dirinya),

“Wahai, kasihannya engkau… engkau berbuat buruk, tetapi engkau merasa berbuat baik, engkau tidak tahu, tetapi merasa selevel dengan ulama’, engkau kikir, tetapi engkau merasa dermawan, engkau pandir, tetapi merasa berakal (cerdas), ajalmu pendek, namun angan-anganmu panjang.”

(Siyar A’lamin Nubala 8/ 440)

Tentang Ayah

Dulu sekali, sebelum kamu ada:

[1] Ayahmu adalah lelaki yang mengerahkan segala jerih termampu tuk mencari modal agar bisa menikahi ibumu.

[2] Jikalau rupanya kakekmu lah yang menanam modal pelaminan, tentu ayahmu dulu telah berupaya suburkan modal batin.

Lalu, ketika kau terlahir dan tumbuh kecil:

[1] Ingatlah ketika ayahmu pulang malam dari kerja; disambut olehmu dan ibumu.

[2] Letih dan payah agaknya tertera di baris bulu matanya. Sungguh ia berupaya mencari nafkah untukmu dan ibumu.

[3] Pernah dulu ayahmu sakit…tak mampu merangkulmu kembali. Dan kau dan ibumu pun merindukan ceria ayah kala itu.

[4] Dan setelah ayahmu pulih, kembali ia bangkit menata jam-jam hidup yang sebelumnya terberai.

[5] Dan kala itu, masa-masa itu…ayahmu begitu muda. Senyumnya tiada gersang, seri wajahnya sering terpandang dan senja umurnya belum menjelang.

Kini, setelah dewasa:

[1] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, lihatlah goresan perjuangan di raut dan keriput kulitnya…terlebih wajahnya.

[2] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, simaklah batuk-batuk senja menahan rasa sakit…kau tahu jika pagi telah terjelang, senja kemudian akan menjelang.

[3] Jikalau ayahmu masih bisa kau tatap wajahnya dan masih kau dengar suaranya, satu pintu surga masih terbuka…

Jikalau ia telah tiada…harga tak lagi tertera…mahalnya tak lagi terbeli…segala sesuatu takkan kau fahami seberapa besar termakna, kecuali setelah hilangnya ia…

(Ustadz Hasan Al-Jaizy hafidzahullah)

Nikmat Iman atas Wanita

Seorang wanita bertanya pada syaikh Muhammad Nashiruddin Rahimahullaah

Wahai Syaikh, dulu sebelum nikah aku gadis yang rajin puasa, sholat malam, membaca alqur’an dan menikmati lezatnya taat pada Allah, akan tetapi kini tak lagi nikmat wahai syaikh, Apa masalahnya syaikh ?

Bagaimana perhatianmu pada suamimu wahai saudari ?

Syaikh Aku tanya padamu soal diatas, tetapi engkau malah tanya padaku soal perlakuanku pada suamiku?

Tidak demikian wahai saudari…mengapa sebagian wanita tidak lagi merasakan lezatnya iman, taat dan ibadah.

Karena Nabi telah bersabda:
Tidak akan seorang wanita mendapati lezatnya Iman sampai mereka menunaikan hak-hak suaminya.

Ancaman Keras Bagi Penguasa yang Zalim dan Pendukungnya

Selain mengajak untuk taat kepada ulil amri dalam perkara yang ma’ruf, mendoakan mereka dalam kebaikan, serta melarang memberontak. Pada ulama dan da’i Ahlussunnah juga membahas tentang larangan berbuat zalim bagi penguasa dan ancaman-ancaman keras yang ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Perkara seperti ini ma’ruf terdapat dalam kitab-kitab akidah Ahlussunnah. Maka, Ahlussunnah itu pertengahan antara ekstrem kanan dan ekstrem kiri.

Simak pembahasan yang bermanfaat dari Al Ustadz Sofyan Chalid Ruray -hafizhahullah- berikut ini:

What’s Wrong with Sufi-Quboori

🗣️ Barelwi /Sufi /Quboori/ Awnis :

You ruthless takfeeri wahhabis call us muslims as mushriks while we believe in Allah, we fast , we pray, we face the same qiblah, we eat your dhabeeha, we perform Hajj & Umrah

🗣️ Muwahhideen/Wahhabis/Salafis :

So what dude? Do you even know how strikingly similar the idol worshippers of Makkah were with your likes (i.e. grave and waint worshippers)? Well let us list it out for you:

1) The pagans of Makkah used to associate themselves with the millah of Ibraheem (‘alayhis salam)
2) They used to perform Salah (Allah called their prayers as Salah in the Qur’an) (See Al-Qur’an)
3) They used to perform Hajj (see Al-Furqan)
4) They used to perform Umrah (see Bukhari & Muslim)
5) They used to fast (See Bukhari & Muslim)
6) They used to invoke Allah alone (with full fledged Tawheed, but only during calamity) (see The Noble Qur’an)
7) They used to collect Sadaqah (charity) and demanded only halal wealth for it! ( إن قومك قصرت بهم النفقة )
8) They used to do good deeds like emancipating slaves!
9) They used to sanctify the Haram area and also the sacred months (ashhur ul hurum)
10) They used the word Jihad (Seerat Ibn Hisham)
11) They considered wiping their heads as the Ghusl of Janabah (the bath for major impurity)! (Musnad Ahmad)
12) They used to seek closeness to Allah by doing Silat ur Rahm (maintaining the ties of kinship) and even honor their guests during Jahiliyyah (Musnad Ahmad)
13) They used to do circumcision following the Sunnah of Ibraheem (عليه السلام)

Sounds like muslims right ? This was a glimpse of the pagan Qur’aysh of Makkah. Yet Allah called them Mushrikeen over and over again. Next time don’t come and tell us that you are muslims just because you pray and look like the muslims!

If you don’t understand Tawheed properly and you associate partners with Allah, you invoke other than Allah, then your shahadatayn is meaningless.

You are like them just as they were like you!

Tears

[Bismillah]

Don’t be ashamed of your tear although you are a man. It is not a sign of weakness. It is just a voice without words.

Sometimes, crying is the only way your eyes speak when your mouth can’t explain what in your heart is. Heavy hearts, like heavy clouds in the sky, are best relieved by the letting of a little water.

After crying, get up, be bold, and face the life with all of your might and the help of Allah.

Shobahul khoir.
Selamat beraktivitas.

(Ust Ammi Ahmad)

Antara Pahala dan Hukuman yang Dipercepat

Berkata Ibnu Muflih Al Hanbali rahimahullah :

لَا يَحزُنكَ قَولُ النَّاسِ فيْكَ، فَإنْ كَان كَاذباً، كَانتْ حَسَنةً لَم تَعمَلْها، وَإنْ كانَ صَادقاً، كَانَت سَيِّئةً عُجِّلَت عقُوبَتُها

“Janganlah bersedih karena ucapan manusia tentangmu, jika dia berdusta maka itu (pahala) kebaikan tanpa engkau kerjakan, tapi jika benar ucapannya maka itu keburukan yang dipercepat hukumanya untukmu”.

Al Adab As Syar’iyyah 1/12.

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : Doa disaat susah (sedih) adalah

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, hanya rahmatMu lah yang kuharap, janganlah Engkau biarkan aku tanpa rahmatMu sekejap mata pun. Perbaikilah segala urusanku, Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau”. (HR. Ahmad no. 20430 -shahih-)

Pertanyaan Pertama di Akhirat atas Seorang Wanita

Qatadah rahimahullah mengatakan bahwa Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata:

أول ما تسأل عنه المرأة يوم القيامة عن صلاتها، وعن حق زوجها.

“Pada hari kiamat nanti, yang pertama kali akan ditanyakan kepada seorang wanita adalah tentang shalatnya dan hak suaminya (kewajiban istri terhadap suami, apakah dijalankan dengan baik atau tidak, -pent.).”

Al-Mushannaf 11/304, Karya al-Imam Abdur Razzaq

Blog at WordPress.com.

Up ↑