(7)
Tergolek di Wayang

Gunung Wayang adalah kembaran dari Gunung Windu yang berdiri tegak persis di sebelahnya. Sebagai stratovolcano aktif, dapur panas dan subsurface reservoir-nya dimanfaatkan dalam pembangkitan listrik tenaga panas bumi sebesar 280MW oleh Star Energy Ltd.

Sebenarnya dalam cluster ini terdapat satu gunung lagi, yaitu Gunung Bedil yang konon di masa lalu digunakan untuk menyembunyikan persenjataan (bedil) tentara penjajah.

Gunung Wayang dapat diakses dari Situ Cisanti (km nol Citarum), kebun sorgum di sisi timur, ataupun dari kawah. Terdapat tiga puncakan; Puncak Kawah 2167 mdpl, Puncak Haruman 2144 mdpl dan Puncak Wayang 2182 mdpl. Puncak Kawah berada persis di atas kawah, Puncak Haruman berada di ujung jalur pendakian dari Situ Cisanti, sedangkan Puncak Wayang sejati harus ditempuh dari Puncak Haruman dengan menerabas hutan rimba karena belum ada jalan setapak menuju ke sana. Selain itu, saat penulis tiba di Puncak Wayang (yang tertutup tanpa pemandangan lepas) belum ada plang apapun yang menandakan puncak sejati. Penulis sendiri mencapai Puncak Haruman dengan menerabas hutan rimba dari kebun terakhir di sisi timur.

Gunung Wayang memperlihatkan pemandangan kawah yang ‘stunning’ dilihat dari Puncak Kawah. Beberapa puncak terdekat langsung terlihat: Gn Bedil dan Gn Gambung Sedaningsih.

Sesuatu yang cukup menyebalkan adalah, di Puncak Haruman terdapat situs pemujaan syaithan dari bangsa jin.

Sebagaimana kebanyakan kawasan lindung di Jawa Barat, hutan rimba dalam cluster Wayang-Windu-Bedil adalah habitat bagi elang jawa dan macan kumbang.

Menampak dari sisi utara
Menampak dari sisi timur
Puncak sejati
Elang Jawa di atas Puncak Kawah
Tebing pendakian Puncak Kawah
Menampak Gn Bedil di latar depan dan Gn Gambung Sedaningsih di latar belakang
Menampak geothermal power plant Star Energy Ltd
Wayang Windu Bike Park

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah. (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)


Kembali: https://mistytrail190318094.wordpress.com/jalan-setapak-berkabut/1/

Berikut: Ku Lari ke Pasar, Lalu Berlari. Palasari
https://mistytrail190318094.wordpress.com/jalan-setapak-berkabut/9/

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41