Ancaman Keras Bagi Penguasa yang Zalim dan Pendukungnya

Selain mengajak untuk taat kepada ulil amri dalam perkara yang ma’ruf, mendoakan mereka dalam kebaikan, serta melarang memberontak. Pada ulama dan da’i Ahlussunnah juga membahas tentang larangan berbuat zalim bagi penguasa dan ancaman-ancaman keras yang ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Perkara seperti ini ma’ruf terdapat dalam kitab-kitab akidah Ahlussunnah. Maka, Ahlussunnah itu pertengahan antara ekstrem kanan dan ekstrem kiri.

Simak pembahasan yang bermanfaat dari Al Ustadz Sofyan Chalid Ruray -hafizhahullah- berikut ini:

What’s Wrong with Sufi-Quboori

🗣️ Barelwi /Sufi /Quboori/ Awnis :

You ruthless takfeeri wahhabis call us muslims as mushriks while we believe in Allah, we fast , we pray, we face the same qiblah, we eat your dhabeeha, we perform Hajj & Umrah

🗣️ Muwahhideen/Wahhabis/Salafis :

So what dude? Do you even know how strikingly similar the idol worshippers of Makkah were with your likes (i.e. grave and waint worshippers)? Well let us list it out for you:

1) The pagans of Makkah used to associate themselves with the millah of Ibraheem (‘alayhis salam)
2) They used to perform Salah (Allah called their prayers as Salah in the Qur’an) (See Al-Qur’an)
3) They used to perform Hajj (see Al-Furqan)
4) They used to perform Umrah (see Bukhari & Muslim)
5) They used to fast (See Bukhari & Muslim)
6) They used to invoke Allah alone (with full fledged Tawheed, but only during calamity) (see The Noble Qur’an)
7) They used to collect Sadaqah (charity) and demanded only halal wealth for it! ( إن قومك قصرت بهم النفقة )
8) They used to do good deeds like emancipating slaves!
9) They used to sanctify the Haram area and also the sacred months (ashhur ul hurum)
10) They used the word Jihad (Seerat Ibn Hisham)
11) They considered wiping their heads as the Ghusl of Janabah (the bath for major impurity)! (Musnad Ahmad)
12) They used to seek closeness to Allah by doing Silat ur Rahm (maintaining the ties of kinship) and even honor their guests during Jahiliyyah (Musnad Ahmad)
13) They used to do circumcision following the Sunnah of Ibraheem (عليه السلام)

Sounds like muslims right ? This was a glimpse of the pagan Qur’aysh of Makkah. Yet Allah called them Mushrikeen over and over again. Next time don’t come and tell us that you are muslims just because you pray and look like the muslims!

If you don’t understand Tawheed properly and you associate partners with Allah, you invoke other than Allah, then your shahadatayn is meaningless.

You are like them just as they were like you!

Beberapa Asatidzah Rujukan

Berikut adalah sebagian dari asatidz hafizhahumullah yang kami merujuk ilmu kepada mereka.

Ust Abdul Hakim Amir Abdat
Ust Yazid bin Abdul Qadir Jawaz
Ust Abu Ihsan al Maidany
Ust Abu Haidar As Sundawy
Ust Dr. Firanda Andirja
Ust Muhammad Nuzul Dzikri
Ust Hasan Al Jaizy
Ust Abdullah Roy
Ust Abdul Aziz Muhtarom
Ust Harits Abu Naufal
Ust Farhan Abu Furaihan
Ust Dr. Syafiq Riza Basalamah
Ust Dr. Khalid Basalamah
Ust Zulqarnain Sunusi
Ust Fadlan Fahamsyah
Ust Erwandi Tarmizi
Ust Abu Yahya Badrusalam
Ust Abu Qatadah
Ust Zainal Abidin Syamsuddin
Ust Maududi Abdullah
Ust dr Raehanul Bahraen
Ust dr. Muhammad Saifuddin Hakim
Ust Dr. Dasman Yahya
Ust Andy Octavian Latief, Ph.D
Ust Mizan Qudsiyah
Ust Ammi Nur Baits
Ust Yulian Purnama
Ust Syariful Mahya Lubis
Ust Dr. Sufyan Baswedan
Ust Abdullah Taslim
Ust Sofyan Chalid Ruray
Ust Ahmad Zainuddin
Ust Muflih Safitra
Ust Luthfi Abdul Jabbar
Ust Abdullah Zaen
Ust Abuz Zubair
Ust Muhammad Abduh Tuasikal M.Sc
Ust Dr. Musyaffa Ad Dariny

Jalan Cinta Sejati Istri Sang Pejuang

Inilah sebuah kisah,
Kisah yang lama terpendam,
Kisah tentang kesetiaan dan pengorbanan seorang istri pejuang.

NA-ILAH BINTI AL-FARAFISHAH

Seorang gadis Kristen cantik dari negeri Kufah, berkulit putih, berparas jelita, berfikiran jernih dan berakhlak penuh pesona. Laksana bunga harum lagi mekar yang menjadi incaran “para kumbang”.

Keelokan dan keindahannya telah sampai ke telinga Sang Khalifah Amirul Mukminiin Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, maka beliau pun meminang gadis idaman, dan Sang Khalifah pun menikahinya setelah dia masuk Islam.

Tahukah engkau terpautnya umur di antara keduanya?
Seorang khalifah Islam berumur senja, menikahi seorang gadis yang masih belia… sebagian riwayat mengatakan umur khalifah 81 tahun sedang umur Nailah masih 18 tahun, sebagian lagi mengatakan umur Utsman 76 tahun sedang umur Nailah 16 tahun, dan masih ada riwayat lainnya.

Apakah anda mengira ini pernikahan ala Siti Nurbaya atau pernikahan yang terpaksa? Tidak, sekali lagi tidak, tapi ini adalah pernikahan karena cinta, pernikahan yang sejarah akan gagal menggoreskan tintanya untuk menulis kisah semisalnya, cinta seorang gadis muslimah dengan seorang ksatria Islam di zamannya..

Di malam pertama, khalifah menyapa lembut kekasihnya, “Wahai Nailah, kenapa engkau mau menikah dengan lelaki tua seperti aku?”, Nailahpun menjawab, “Aku suka dengan lelaki yang lebih tua”, khalifah pun berkata, ” Tapi masa tuaku telah melampaui masa tua yang ada…”. Nailahpun menjawab, “TETAPI MASA MUDAMU TELAH ENGKAU HABISKAN BERSAMA RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Allahu Akbar…
lihatlah…..

Dia telah memilih pemilik sepasang mata yang dulu pernah melihat dan bersua dengan Rasulullah, Dia telah memilih lelaki ksatria yang menghabiskan masa mudanya demi membela Nabi yang Mulia.

Biduk pernikahanpun berjalan, Utsman bin Affan diperlakukan dengan penuh cinta dan akhlak yang mulia, Nailah pun dianugrahi oleh Allah keberkahan cinta sang Khalifah.

Hari-hari berjalan, sang Khalifah menaklukkan negeri-negeri kafir, menundukkan dan mengislamkan penduduknya, hingga negeri Islam terbentang dari timur hingga ke barat, terbentang dari Afrika utara hingga ke Azerbaijan. Semua itu tidak lepas dari peran istri pejuang, istri seorang ksatria yang menemani sang suami dalam suka dan duka, tentunya setelah taufik dari Rabb semesta alam.

Hingga tibalah hari-hari kelam dalam sejarah islam, mucullah ribuan manusia-manusia durjana berhati syetan berkumpul di kota Madinah di saat para sahabat senior beribadah haji di Tanah Haram, kaum munafikin pengikut Abdullah bin Saba’ mengepung rumah Sang Khalifah, ingin menjatuhkannya dan mengobarkan api revolusi dan melengserkannya dari tampuk kekhalifahan.

Para anak-anak shahabat yang kalah jumlah bergegas dan segera menuju rumah Sang Khalifah, menghunuskan pedang dan membela Sang Khalifah. Akan tetapi sang Khalifah memerintahkan mereka untuk pulang dan menyarungkan pedang-pedang mereka, hingga akhirnya manusia-manusia syetan itu berhasil mendobrak pintu rumah Sang Khalifah, sedang Sang Khalifah dalam keadaan berpuasa lagi khusyu’ melantunkan Al-Qur’an….ditemani Nailah sang istri yang tidak sejengkalpun mundur dari menjaga dan melayani Sang Khalifah Ustman bin Affan.

Hingga takdir Allah berjalan, datanglah manusia terlaknat masuk ke rumah sang Khalifah, mengayunkan pedang ke arah tubuh Sang Khalifah yang sedang membaca Al-Qur’an,….maka dengan cepat Na-ilah maju menangkis mata pedang yang tajam, hingga jari-jari Nailah terputus demi membela suaminya Utsman bin Affan. Namun apalah daya seorang wanita lemah yang sedang melawan manusia iblis yang penuh dengan amarah dan kebencian, tatkala Utsman melihat Na’ilah belum sempat mengenakan hijab demi membelanya, maka Utsman pun berkata, “Masuklah ya Na’ilah demi Allah aku terbunuh lebih aku cintai dari pada auratmu dilihat oleh manusia-manusia ini”, hingga akhirnya gugurlah Sang Khalifah Utsman bin Affan sebagai martir Islam, darah Nailah bercampur dengan darah syahid Sang Khalifah.

Nailah berkata kepada kaum pemberontak, “Celaka kalian! Kalian telah membunuh manusia yang selalu sholat malam dan membaca al-Qur’an!”

Madinah pun bergejolak membara, dalam riwayat tiada manusia yang berani mengubur Utsman karena banyaknya para syetan berkeliaran, hingga Nailah setia mendampingi jenazah sang suami. Nailah meminta bantuan Jubair bin Muth’im untuk mengubur jenazah Khalifah, tapi karena bergejolaknya Madinah, maka pemakamanpun ditunda hingga waktu malam.

Ketika malam tiba, Nailah membewa lentera bersama Jubair bin Muth’im dan beberapa wanita dan lelaki lainnya, Jubair meminta agar Nailah mematikan lentera agar syetan-syetan itu tidak mengacaukan pemakaman Sang Khalifah, Utsman dimakamkan sedangkan Nailah diterpa kesedihan yang mendalam.

Sambil mengubur jenazah sang suami Na-ilah berkata, “Ya Ustmaaanaaahhhh…. ya amiral mukminiiinah, bagaimana aku tidak bersedih dengan kepergianmu……”

Nailah pun memperjuangkan hak Qishas suaminya, Ia mendatangi manusia-manusia di kota Madinah akan tetapi usahanya tak berbuah. Akhirnya Na-ilah menulis surat kepada Mu’awiyah selaku amir negeri Syam dan sebagai keluarga dekat Utsman bin Affan.

HINGGA TERJADILAH APA YANG TERJADI…ANTARA ALI DAN MU’AWIYAH.

Waktu terus berjalan, Nailah menjanda ditinggal suami tercinta, hari-harinya dipenuhi dengan kerinduan dengan Sang Khalifah, hingga cinta itu tak usang di makan zaman tak lapuk dimakan waktu….

Status janda belumlah memudarkan kecantikannya, hingga datanglah lelaki rupawan, bangsawan bahkan bergelar amirul mukmininKhalifah Muawiyah bin Abi Sufyan datang melamar Nailah, …maka Nailah pun bertanya ke wanita yang ada di dekatnya, “Apa yang membuat lelaki tertarik denganku padahal aku adalah seorang wanita janda yang terputus jari-jarinya?” Wanita itu menjawab, “Gigi serimu”. Maka Nailah-pun memecahkan gigi serinya dan berkata, “Demi Allah aku tak akan pernah mengganti cinta Utsman bin Affan”

Masya Allah…lihatlah wanita ini, dilamar seorang lelaki yang memiliki dunianya, tapi dia menolaknya dan lebih berharap menjadi istrinya Utsman bin Affan di dunia dan di akherat…padahal dia seorang janda yang membutuhkan perlindungan.

Waktu telah berlalu Nailah, senyap dari keramaian, dia mengurus putra-putri buah hatinya bersama Utsman…membesarkannya dengan penuh cinta, dan dia tidak menikah lagi hingga ajal menjemputnya….innaa lillaahi wainnaa ilaihi raji’uun….

Semoga Allah merahmatimu wahai Nailah…
Semoga Allah mempertemukanmu kembali dengan kekasihmu Utsman bin Affan.
Di syurga Utsman akan menjadi pemuda gagah dan engkau menjadi bidadari jelita…insya Allah

Dan semoga wanita-wanita muslimah setelahmu bisa meneladani kesetiaanmu dan pengorbananmu demi agama dan cintamu…

Akhukum Fillah:
(Ust Fadlan Fahamsyah)

Disarikan dari:

  1. Abdul Malik al-Qasim, nikah Ash-Shalihat tsimaaruhu wa aatsaaruhu (Dar al-Qasim) hal. 15, .
  2. Imam Adz-Dzahabi, Tarikh al-Islam (Dar Al- hari al-Islam, 2003) vol. 2, hal.242. Dan 257.
  3. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-nihayah (Dar al-Hijr, 1418 H), vol. 10, hal. Wanita 307
  4. Utsman bin Muhammad al-Khamis, Hikqbah minat tarikh,
  5. https://ar.m.wikipedia.org/…/%D9%86%D8%A7%D8%A6%D9%84%D8%A9…

Ulama dan Syiarnya

Yang namanya ulama sejati, yang disyiarkan adalah tauhid, tauhid dan tauhid. Semua aspek ubudiyah dan muamalah disyiarkan dengan talian dan jangkar yang kuat kepada tauhid.

Kalau yang disyiarkan nggak jauh dari urusan dongkel-mendongkel kekuasaan, kebencian terhadap penguasa muslim secara terang-terangan di muka umum, hasutan, aliansi berdasarkan tujuan kursi kekuasaan bersama, ujaran kasar dan kotor, kelakuan bid’ah, al wala’ terhadap syi4h dan ahlul bid’ah sementara al bara’ terhadap ahlul atsar, maka yang model demikian lebih mirip dengan penipu umat dan provokator.

Majelis Ilmu Syar’i

Majelis ilmu yang engkau datangi, itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Faidah yang kau dapat tidak bisa dibandingkan dan disamakan dengan yang lainnya.

(Syaikh As Sa’di rahimahullah)

Tentang Bid’ah

Bid’ah lebih dicintai iblis daripada maksiat, karena orang lebih mudah bertaubat dari maksiat berdasarkan bisikan nuraninya, sedangkan orang sulit bertaubat dari bid’ah karena merasa sedang melakukan suatu bentuk ketaatan kepada Allah

Mengambil Ilmu Agama dari Film?

Tidaklah berlebihan jika dinasehatkan, “Jangan mengambil ilmu agama dari film, tetapi ambillah dari majelis ilmu yang dipelajari di dalamnya Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Salafusshaleh”

(Ust Ahmad Zainuddin Al Banjary)

Blog at WordPress.com.

Up ↑