Sebuah Perumpamaan dengan Dosa-Dosa

Orang yang terbiasa dengan kamar mandi/ WC yang jorok, busuk dan kotor maka dia akan merasa baik-baik saja dengan pemandangan dan bau seperti itu.

Sebaliknya, orang yang mulai membiasakan dengan kamar mandi yang bersih, wangi, bahkan indah dan artistik, maka saat bertemu kamar mandi yang sedikit saja ada noda kuning atau ada satu dua hewan beterbangan, maka dia akan merasa risih, tidak nyaman, jijik dan tidak kerasan.

Pembiasaan lingkungan yang bersih, indah dan rapi akan membuatnya sensitif dengan lingkungan yang kotor dan jorok.

Seperti itulah perumpamaan orang dengan dosa-dosanya.

Jika dia terbiasa dengan dosa, maka dia akan merasa baik-baik saja. Dia sulit untuk merasakan betapa jorok, busuk dan kotor hatinya.

Tapi jika dia terbiasa membersihkan diri, menyucikan jiwa, memperindah akhlak, dan mewangikan hati, maka dia akan sangat sensitif dengan segala hal yang mengotori dirinya. Sekecil apapun.

﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ ‌زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9-10]

(Muafa)

Kejahilan Berbalut Kalimat Mutiara

“Percuma menjadi pelangi untuk suami yang buta warna”

atau

“Percuma menjadi nada yang indah untuk istri yang tuli”

Dikira kalimat-kalimat seperti itu keren.

Padahal itu menunjukkan amalnya untuk manusia, mengharap apresiasi manusia dan berharap dibalas manusia.

Ini keliru.

Beramallah sebaik mungkin dengan niat dilihat Allah, diapresiasi Allah dan diperhatikan Allah. Harapkan Dia rida padamu. Haraplah balasan dariNya.

Buang semua harapan pada manusia.

Itu baru ikhlas sejati.

Setiap amal dan kebaikan apapun yang masih berharap dihargai manusia, maka kita tidak akan mendapati balasannya di akhirat.

Alangkah banyaknya kejahilan di zaman sekarang yang berbalut kalimat mutiara.

(Muafa)

Pentingnya Lingkaran Pertemanan Kita

Serusak dan sebejat apapun kita, pastikan lingkaran pertemanan kita dan teman-teman nongkrong kita adalah orang-orang saleh. Sebab dengan begitu, sejauh apapun kita terbelokkan dari jalan Allah (na‘ūżu billāh min żālik), akan tetap ada harapan bahwa suatu hari kita akan “kembali”. Kembali kepada Allah, itulah yang dinamakan taubat.

Jangan sampai sudah merasa jauh dari Allah, melakukan banyak dosa, larut dengan dunia yang melalaikan, lalu membuat keputusan terburuk: Menjauh dari teman-teman saleh. Yang seperti ini sangat berbahaya bagi akhirat. Karena serigala akan memangsa kambing yang tersesat sendirian.

Allah menjamin, bahwa siapapun yang gemar bergaul dengan orang-orang saleh dan ahli zikir, maka dia akan kecipratan berkahnya dan mendapatkan ampunanNya. Meskipun dia seorang pendosa dan banyak sekali melakukan kesalahan. Allah mensifati orang-orang saleh dan ahli zikir dengan penuh cinta memakai ungkapan sebagai berikut,

«هُمُ الْقَوْمُ لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ ‌جَلِيسُهُمْ». [«صحيح مسلم» (8/ 68 ط التركية)]

Artinya,

“Mereka (orang-orang saleh ahli zikir itu) adalah kaum yang “teman nongkrong”nya tidak (akan) sengsara berkat mereka” (H.R.Muslim)

Dari sini tampak juga keutamaan memiliki suami atau istri yang saleh. Walaupun tidak ada cinta misalnya. Sebab pasangan suami-istri adalah teman yang paling dekat dan paling intens berinteraksi di antara semua teman. Alangkah banyaknya suami yang kembali “waras” karena memiliki istri yang salehah setelah berpetualang bertahun-tahun dalam kemaksiatan. Alangkah banyak pula istri yang sadar dan bertaubat karena memiliki suami yang saleh setelah “nakal” bertahun-tahun.

(Muafa)

Pikiran Kita Sendiri yang Menta’yin dan Mendramatisir

Ketika ada A menasehati secara umum tentang riya. Lalu menyebutkan beberapa perbuatan yang rawan akan riya.

Datanglah B menasehati agar jangan su’uzhan bahwa orang yang berbuat seperti itu riya. Itu masalah hati.

Maka habislah kitab-kitab yang membahas syirik kecil bahkan syirik besar; mengupas amalan-amalan dan sikap yang berpotensi untuk riya.

Syaikh Shalih al Fauzan ketika ditanya tentang imam yang memvideokan dirinya saat baca al-Qur’an atau saat jadi imam, langsung beliau memperingatkan bahwa itu adalah riya. Padahal ya kalau husnuzhan, boleh jadi ada posibilitas lain yang bukan riya. Tapi kenapa beliau langsung menjawab seperti itu?

Karena itulah tanbih dan nasihat. Himayah an asy-syirk. Juga tidak menyebutkan nama atau identitas atau singkatan nama. Tidak mentakyin.

Pikiran kitalah yang mentakyin. Lalu mendramatisirnya.

Kenapa kita tidak katakan ke Syaikh Shalih bahwa riya itu amalan hati. Jangan berburuk sangka, wahai Syaikh. Kenapa tidak?

Karena kita sadar itu tidak nyambung. Syaikh mengingatkan secara mujmal.

Maka, lakukan itu pula terhadap nasehat-nasehat yang semisal. Kekhawatiran syirik menimpa diri kita dan kaum muslimin lebih dikedepankan. Selama tidak mentakyin atau menyebut sesiapa, maka perlakukan secara mujmal.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Cara Instan untuk Menunjukkan Anda Orang’ Mulia

Pake rumus, “bukan karena….. “

Contoh I:

Bila TAMPANG JELEK, “bukan karena tampang, seseorang itu mulia”

Bila KERE alias MISKIN, “bukan karena harta, seseorang itu mulia”

Bila BODOH prestasi, “bukan karena Nilai ijazah, seseorang itu mulia”

Bila NGANGGUR, “bukan karena sukses, seseorang itu mulia”

Dst, silahkan ditambah sendiri dg segala kekurangan anda.

Contoh II,

Dalam ceramah, dan anda adalah seorang tokoh agama:

Bila CUKUR JENGGOT, “bukan karena panjang jenggotnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila masih ISBAL, “bukan karena cingkrang celananya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila ISTRI TIDAK BERHIJAB, “bukan karena lebar jilbabnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila TIDAK HAFAL QURAN, “bukan karena banyak hafalan Quran nya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila TIDAK BISA BACA KITAB KUNING, “bukan karena bisa baca kitab, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila MALAS SHALAT SUNNAH, “bukan karena banyak shalat tahajjudnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila MALAS SEDEKAH, “bukan karena banyak sedekahnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila pernah NARKOBA; SELINGKUH; KHIANAT UANG, “bukan karena tidak pernah berdosa, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Dst, silahkan ditambah lagi dg segala ketaatan yang tidak diamalkan.

Lalu di akhir ceramah ditutup dengan, “akan tetapi, mulianya seseorang di sisi Allah, karena taat nya kepada Allah dan manfaatnya bagi manusia”

Hebaaaaaat, seakan dia anggap hal-hal yg disebut di atas bukanlah ketaatan dan kemanfaatan.

Mau tiru model “cari mulia” seperti ini?

Masih mending yg contoh I, ia mencari kemuliaan dlm pandangan manusia dg cara framing di hadapan mereka.

Adapun contoh II, dia mencari mulia di sisi Allah, dg cara framing di hadapan manusia.

Inilah cara instan.
Anda tidak punya prestasi?
Tunjukkan bahwa orang lain yang berprestasi adalah orang hina, atau paling kurang, bukan orang mulia.

Makanya, dari sini paham kan? Kenapa orang yg tidak punya prestasi sering jualan “bnradial” dan “celak arab”?

Yasir Kencong

Kisah Ya’qub dan Yusuf

Aku sempat bertanya-tanya kenapa nabiyullah Ya’qub alaihissalam diam saja terhadap kejahatan anak-anaknya saat mereka pulang ke rumah menemui beliau dengan membawa baju Yusuf yang disertai darah palsu/buatan. Terlebih beliau tidak percaya ketika melihat baju tersebut utuh tanpa robekan.

Kenapa beliau tidak pergi ke tempat terjadinya kasus percobaan pembunuhan Yusuf untuk mencari Yusuf, seperti yang dilakukan ayah mana pun jika menghadapi kasus yang sama?

Kenapa beliau tidak memaksa anak-anaknya itu untuk mengakui kesalahan dan kejahatan yang mereka lakukan terhadap saudara mereka Yusuf?

Kenapa beliau justru memilih hal tersulit yang dilakukan oleh hati?

Ya’qub berkata:

بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).. Dan Allah sajalah tempat meminta pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan. “ (QS Yusuf: 18)

Aku begitu terpana dengan jawaban Ya’qub yang berulang bertahun-tahun kemudian yaitu saat anak-anaknya kembali dari Mesir menemui beliau.

Ya’qub kembali berucap dengan nada yang sama:

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

“Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). (QS Yusuf: 83)

Jelaslah bagiku bahwa beliau begitu yakin dengan buah kesabarannya, yaitu ayah dan anak-anaknya itu berkumpul dalam kebaikan.

Ya’qub menyebutkan harapan tulusnya:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Aku berharap Allah mendatangan mereka semua untukku, Dialah yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS Yusuf: 83)

Di hadapan anak-anaknya, Ya’qub tidak menyingkap segala perasaan, keluhan dan kesedihan yang berkecamuk di dadanya, sebagai bentuk tawakkal kepada Allah. “Dialah yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS Yusuf: 83), ungkapnya.

Aku terkagum-kagum dengan Ya’qub karena ketegasannya dalam menyimpan pilu, derita dan kecewa di hatinya tanpa menuntut anak-anaknya untuk mengatakan apapun.

Allah menyebutkan:

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (QS Yusuf: 84)

Anak-anaknya begitu terheran-heran dengan kesabaran sang ayah hingga mereka bertanya-tanya.

تَٱللَّهِ تَفْتَؤُا۟ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ ٱلْهَٰلِكِينَ

“Demi Allah, senantiasa anda mengingati Yusuf, sehingga anda mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa”. (QS Yusuf: 85)

Ya’qub pun berujar:
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya”. (QS Yusuf: 86)

Dari penggalan kalimat Ya’qub tersebut, nampaklah bagiku bahwa Ya’qub telah diwahyukan oleh Allah. Allah memerintahkan Ya’qub untuk diam semenjak awalnya. Ya’qub pun menyimpan sedih dan kegudahan terbesarnya di hati bertahun-tahun lamanya hingga matanya buta akibat kesedihan. Dan ini, tanpa ia adukan kepada manusia walau sepatah kata pun.

Nampaklah olehku pula bahwa anaknya, Yusuf alaihissalam, telah diwahyukan oleh Allah sejak mereka, saudara-saudaranya, membawanya ke dalam hutan dan menjerumuskannya ke dalam sumur.

Yusuf alaihissalam mengetahui bahwa di balik semua makar yang diarahkan kepadanya terdapat hikmah ilahiyyah bahwa kelak akan tiba hari-hari yang Allah janjikan:

لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

“Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.” (QS Yusuf: 15)

Yusuf bersabar sepertinya ayahnya bersabar. Ia mampu memikul kesulitan, keterasingan dan penjara bertahun-tahun.

Ya’qub pun tidak keluar untuk mencari Yusuf. Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa Ya’qub meminta kepada Allah untuk memberi petunjuk tentang keberadaan anaknya.

Setelah dewasa, Yusuf alaihissalam tidak kembali menemui keluarganya. Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa Yusuf meminta kepada Allah agar memberi petunjuk kepada keluarganya untuk menemui beliau.

Yusuf dan Ya’qub menunggu dan menyimpan rapi semuanya. Keduanya sama-sama melaksanakan perintah Allah dan fokus menjalankan tugas kenabian yaitu menyampaikan petunjuk dan risalah kepada manusia.

Saat hari terungkap dan tersingkapnya alur kehidupan, penghilatan Ya’qub kembali normal, keluarga Yusuf kembali menemuinya, dan para saudaranya itu meminta maaf dan ampunan.

Yusuf berkata:

وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا

“Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf pun menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang tercurahkan untuknya, bukan menyebutkan dendam-dendam.

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ

“Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir. .” (QS Yusuf: 100)

Setelah duduk di singgasana dan saudara-saudaranya bersujud kepadanya, Yusuf pula tidak menyinggung-nyinggung seorang pun di antara mereka atas kejahatan yang pernah mereka lakukan.

Bahkan Yusuf menyandarkan dan menisbatkan bahwa apa yang terjadi semuanya berasal dari syaithan (yang mengobarkan kejahatan di bumi).

Yusuf berkata:

مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“ . .setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf tak sepatah katapun menyebutkan bahwa beliau dan ayahnya amat menderita bertahun-tahun. Beliau hanya berujar:

إنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Sejatinya Rabbku Maha Lembut terhadap siapa yang Dia kehendaki.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf menyandarkan segala sesuatu kepada Allah dengan mengatakan: “Dialah sejatinya Maha Mengetahui lagi Bijaksana.”

Yusuf menyebutkan segala kenikmatan dan anugerah Allah kepadanya tanpa menolehkan pandangan terhadap ujian-ujian kehidupan yang telah berlalu:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. .” (Ayat: 101)

Dengan penuh ketawadhuan jiwa, ia berujar:

“(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (Ayat: 101)

Aku semakin meyakini bahwa para nabi adalah manusia terberat ujiannya. Akan selalu ada pihak-pihak pendukung kesesatan dan hasad hendak melaksanakan makar kepada mereka. Ujian-ujian yang terkadang bersumber dari anak, saudara dan kerabat lainnya akan mengantarkan orang shaleh mencapai derajat mulia.

Aku semakin meyakini dan memahami bahwa jalan keluar tak akan datang kecuali setelah mengerahkan sabar hingga episode telah usai.

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami. . .” (Ayat: 110)


Diringkas dan diterjemahkan dari akun Lailiy Fahd as-Syamiriy

Alih bahasa: Yani Fahriansyah

(Asrama, Ahad pagi, 25/12/2016)

Kisah Wanita Cantik yang Menggoda Ulama

Kisah ini terjadi pada abad pertama hijriyah, di zaman tabi’in.

“Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda?” tanya seorang istri kepada suaminya, sambil bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan yang terpantul di kaca itu.

“Ada.” jawab sang suami.
“Siapa?” kata istrinya
“Ubaid bin Umair.” jawab suaminya

Sang istri diam sejenak. Ia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.

“Wahai suamiku,” katanya merayu, “bolehkah aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umair bertekut lutut di depanku?”

Sang suami terkejut dengan permintaan ekstrem itu, tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, untuk menguji keshalihah seorang ulama. “Silahkan, aku mengijinkanmu.”

Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidil Haram.

Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah ﷺ masih hidup. Nama lengkapnya Ubaid bin Umair bin Qatadah Al Laitsi Al Junda’i Al Makki. Beliau wafat pada tahun 74 hijriyah.

Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasehat. Ia beralasan kebutuhannya amat penting, dan memintanya pindah ke pojok masjid. Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya dan tampaklah wajah cantiknya laksana bening rembulan.

“Apa yang kau lakukan?” kata Ubaid melihat kejanggalan wanita tersebut.
“Sungguh, aku mencintaimu. Aku hanya ingin jawaban darimu,” sergah wanita itu, terus berusaha menggoda Ubaid.

“Sebentar,” kata Ubaid. Kini nadanya mulai naik. “Ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.”

“Baik, aku akan menjawabnya dengan jujur.”

“Pertama, seandainya Malaikat Maut datang menjemputmu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu?”

Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya dengan kematian. Kemudian menjawabnya “Tidak”

“Kedua, seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu?”
“Tidak” jawabnya.

“Ketiga, seandainya saat ini semua manusia menerima catatan amalnya dan engkau tidak tahu apakah kau akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Keempat, seandainya saat ini seluruh manusia digiring ke timbangan amal dan engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau justru amal buruknya yang lebih berat, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Kelima, seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmatNya yang telah dianugerahkan kepadamu, masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Demi Allah, tidak”

“Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah. Betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu.”

Kini dia tak kuasa menahan air mata. Tadi dia datang ke Masjidil Haram berpura-pura mencari nasehat, kini ia benar-benar mendapatkan nasehat yang benar-benar menyentuhnya.

Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih.

“Apa yang terjadi wahai istriku?” kata suaminya.

“Kita ini termasuk orang yang celaka,” jawab wanita itu, kemudian ia mengambil wudhu dan shalat.

Hari-hari berikutnya, ia berubah drastis. Ia tak lagi membanggakan kecantikannya. Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam. Ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.

Mudah-mudahan ini ada manfaatnya..
Barakallahufiikum.

اللَّـﮬـُمَّ صـَلِِّ ؏َـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِن امُحَمَّدٍ ﷺ

Tidak Perlu Ada Kumpulan Pejuang Poligami

Jika ingin, dan siapalah yang tak ingin…
Lebih tepatnya, jika sudah kuat hasratnya, maka bercerminlah: ‘ibadah dan ketakwaan’ atau sekadar perhiasan dunia dan hawa nafsu belaka? Ketahuilah bahwa yang telah berpengalaman, lebih mengenal dan lebih dewasa.


Jika rupanya betul karena ibadah dan takwa, maka ceritakan itu ke mereka yang telah berpengalaman.

Namun, saya ingin sebutkan untuk siapapun di sini kalam Ibnul Jauzy -rahimahullah-. Tentang orang yang telah menikah dengan lebih dari seorang perempuan. Dan hasratnya masih terus, karena memang begitulah tabiat. Beliau berkata:

ظن أنه يجد عندها ما ليس عندهن!

“Dia mengira bahwa dia akan menemukan di perempuan (asing) tersebut, apa yang tidak ada pada mereka (istri-istrinya).”

Lalu ia memperjuangkan untuk mendapatkannya. Penasaran. Merasa istri-istrinya masih kurang. Perlu pelengkap. Ia kemudian menyana bahwa pada insan baru ini ada hal baru, berbeda dan menyemangatinya.


Kemudian beliau berkata:

ولعمري، إن في الجدة لذة، ولكن، رب مستور إذا انكشف افتضح.

“Sungguh, dalam hal yang baru memang ada kenikmatan. Tetapi, boleh jadi yang tadinya tertutup, jika disingkap, akan tampak buruknya.” [Shaid al-Khathir]

Acapkali dunia itu terasa indah justru sebelum mendapatkannya. Setelah ia mendapatkannya, membuka bungkusnya, merasakannya, ternyata ia merasakan apa yang pernah dirasakan. Seterusnya ia ingin lebih. Atau sebaliknya, ada bangunan yang telah dihancurkan.

Kecuali jika dunia digenggam karena demi berpijak untuk akhirat. Maka, ia akan merasakan iman dan kekhusyuan di setiap khuthuwat. Hanyasaja, banyak orang -khususnya ‘pejuang poligami’- tidak jujur dalam hal ini.
Lisan mereka berkata akhirat, namun hati mereka merindu dunia.

Jika ingin berjuang, perjuangkan terlebih dahulu kemapanan i’tikad, niat dan ibadah. Semoga Allah permudah bagi orang bertakwa.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Untuk Para Suami

Berkata Al-Hafidzh ‘Amru bin Qois Al-Malaai rahimahullah.

“Sesungguhnya seorang wanita benar² akan memusuhi suaminya pada Hari Kiamat disisi Rabb-nya kemudian dia mengatakan (sembari mengadukan perihal suaminya kepada Rabb-nya);

“Dahulu dia tidak mengajariku adab, dan tidak mengajariku apapun(dari perkara agama), dahulu dia hanya datang membawakanku roti dari pasar (yakni dia hanya sibuk memenuhi kebutuhan duniawinya semata).”

[Tafsir As-Sam’aany, cetakan Daarul Wathan (5/475)]

*****

Sudahkah kita para suami mengajarkan tauhid, adab, tazkiyatun nafs dan fiqh – semampu kita sembari terus belajar?

Blog at WordPress.com.

Up ↑