Orang “Baik-Baik” dan Orang “Jelek”, Sama Saja

Orang “baik-baik”, yang disombongkan kepada orang lain itu tentang anak-anaknya yang pinter ini itu, membanggakan mereka rajin shalat, mengaji, sedekah, silaturahmi. Tentang dirinya dan keluarganya yang berakhlak baik kepada Allah dan makhluk-makhlukNya.

Orang “jelek”, yang disombongkan itu hartanya, kedudukannya, kemolekan istrinya, kemampuannya, jalan-jalannya, hobinya.

Golongan “baik-baik” dan “jelek” hakikatnya sama saja. Menganggap selainnya lebih rendah levelnya daripada dirinya. Bedanya, yang satu halus, satunya lagi vulgar.
Seperti kata Iblis yang membandingkan dirinya dengan Adam, “Aku lebih baik daripadanya”.
Ini cuma soal seni menyajikan kesombongan ke khalayak ramai saja.

Bukan Sok Suci tapi Malu, Bukan Jujur tapi Kurang Ajar

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa malu itu sebagian dari iman.

Jika orang risau dengan dosanya dan bahagia dengan amal salehnya, maka itu tanda ada iman dalam hatinya.
Sebaliknya, orang yang maksiat lalu dengan bangga menceritakan kemaksiatannya atau terang-terangan bermaksiat, maka ini maknanya sudah dieman Allah, disayang Allah, ditutupi aibnya dan diberi kesempatan bertaubat, tapi malah tidak menghargai tutup dari Allah itu dan merobeknya. Ini bukan jujur, tapi kurang ajar, tak tahu malu dan tak tahu diri kepada Allah.

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)


Yang juga dikuatirkan, maksiat tersembunyi yang diulang-ulang, akhirnya Allah tampakkan di depan manusia banyak.

Hari Terindah

Hari terindah adalah hari ketika anda tidak bermaksiat kepada Allah. Semakin anda bermaksiat semakin pudar keindahan tersebut.
Jaga pandangan, pendengaran, fikiran dan lisan.

(Ustadz Dr. Firanda Andirja)

Lelaki, Perbaikilah Agamamu

Suatu hari Malik bin Dinar (seorang tabi’in, murid dari Hasan Al Basri) melihat seorang laki-laki yang buruk sekali sholatnya.
Diapun berkata: “Sungguh aku amat kasihan terhadap keluarganya”.


Lantas seseorang bertanya kepadanya, “Yang buruk adalah sholat orang ini, mengapa engkau justru mengkhawatirkan keluarganya..?


Malik bin Dinar menjawab; “Dia orang tertua ditengah-tengah keluarganya dari dialah keluarganya akan belajar”.

(Al Hilyah: 2/384)

Jangan Merasa Suci

Janganlah merasa diri suci. Takutlah kalau Allah menghukummu dengan engkau ditakdirkan-Nya berbuat maksiat besar.

Na’udzubillahi min dzaalik

Kesedihan dan Pengguguran Dosa

“Jika telah banyak dosa-dosa seorang hamba, tetapi ia tidak memiliki amalan yang dapat menghapus dosa-dosa tersebut darinya, maka Allâh mengujinya dengan kesedihan agar kesedihan tersebut dapat menggugurkan dosa-dosanya dari dirinya.”

[At-Taubah karya Ibnu Abîd Dunyâ 130]

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Saat Ditipu Orang Lain

Mungkin Anda akan marah, jengkel, susah tidur karena pikiran yg sangat terganggu.

Jika Anda seorang mukmin yg kuat, harusnya hal seperti ini tdk perlu terjadi .. harusnya pikiran Anda tetap tenang dan santai, karena beberapa alasan berikut ini:

  1. Hakmu tdk akan hilang.

Karena kalau Anda merelakan harta itu utk penipu, maka Allah akan ganti dg yg lbh baik dan lbh banyak .. sedang, kalau Anda tdk merelakannya, maka Anda bisa menuntutnya di akherat nanti sesuai kadarnya .. hak Anda tetap terjaga dg baik.

  1. Perbuatan dia tdk akan mengurangi jatah rezekimu.

Saat Anda ditipu oleh seseorang, sebenarnya mmg saat itulah waktu Anda menikmati rezeki itu telah selesai, sehingga rezeki itu mmg harus diambil dari Anda.

  1. Bahkan Anda bisa mendapatkan doa yg mustajab.

Karena ketika Anda ditipu, berarti Anda dizalimi, dan doanya orang yg dizalimi itu mustajab, karena tidak adanya hijab antara doanya dg Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dlm hadits.

Dan tidak ada masalah kita mendoakan keburukan kpd orang yg menzalimi kita, sebagaimana dilakukan oleh beberapa sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika dizalimi orang lain.

  1. Anda bisa mendapatkan pahala, penghapus dosa, dan kedudukan yg tinggi di sisi Allah, bila Anda bisa menghadapinya dg sabar dan rela atas takdir Allah tersebut .. sehingga sebenarnya ketika sedang ditipu, Anda diberi peluang mendapatkan ganti yg jauh lbh baik.
  2. Ingatlah bahwa itu merupakan takdir yg mmg dikehendaki Allah terjadi .. Anda marah atau rela, tetap saja harus terjadi, dan tidak mungkin bisa dihindari.

Jika semua ini Anda tahu, tanyakan kepada diri Anda, mengapa saya harus marah dan jengkel .. bukankah lbh baik saya melupakannya dan memikirkan hal lain yg lbh bermanfaat utk masa yg akan datang.

Ustadz Musyaffa Ad Dariny

Tetap Berusaha di Atas Ketaatan Walaupun

Teruslah berusaha di atas ketaatan, meski saat ini dirimu masih belum mampu melepaskan diri dari maksiat. Semoga Allah memperbaiki keadaan dirimu dgn sebab ketaatanmu tsb.


Betapa sering kita dapati orang yg muamalah nya bagus, tutur katanya baik, tidak pernah menyakiti atau merugikan orang lain, namun kesehariannya dikenal sebagai orang yg gemar bermaksiat atau berbuat bid’ah, dan ketika mereka dinasehati untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, lisannya menjawab; “Urus saja urusanmu sendiri, jangan kebanyakan ngurusin orang”, seraya membanding-bandingkan keadaan dirinya dengan orang yg casingnya terlihat shaleh namun lisannya kotor, ‘munafiq’; – seakan hendak menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dari mereka; “ana khoiru minhum.”

Abdul Hakim

Ruh Berkumpul dengan Sesamanya

Kita bertemu dengan rûh yang kita tidak mengenali roman mukanya..

Kita menyukai kata-kata tanpa melihat kepada siapa yang menulisnya..

Kita menangis bersama banyak mata yang mata kita belum pernah melihatnya..

Dan kecintaan rûh tetaplah yang tertinggi pada apa yang kita kenal..

Kasih sayang dan perasaan cinta bukanlah dengan kedekatan jasâd..

Tetapi ia ada dengan kedekatan hati dan kesamaan rûh..

Alangkah indahnya ketika engkau menjadi sumber kepercayaan dan kenyamanan bagi banyak manusia, padahal mereka hanya mengenalimu melalui kata-katamu saja..

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Blog at WordPress.com.

Up ↑