Dunia dalam Timbangan Imam Syafi’i

Dunia adalah batu yang licin dan kampung yang kumuh
Bangunannya kelak rubuh
Penduduknya adalah calon penghuni kubur
Apa yang dikumpulkan akan ditinggalkan
Apa yang dibanggakan akan disesalkan
Mengejarnya sulit meninggalkannya mudah

(Imam asy Syafi’i rahimahullah)

(Like) Hero but (the Truth is) Zero

Wahai jiwa yang berlumur dosa ini, mau sampai kapan engkau lalai dari sujud bersimpuh di hadapan-Nya dengan segala pengakuan atas ketidakberdayaanmu? Mau sampai kapan engkau berjalan dengan ketinggian hati di muka bumi?
Sampai kapan engkau merasa lebih hebat dan lebih mulia dari orang lain di muka bumi?
Sampai kapan engkau lalai dari kalam Rabb-mu dan sabda Nabimu, sementara engkau sangat kuatir dengan perkataan manusia dan berita dunia?

Padahal statusmu tidak lebih dari hamba, tidak lebih dari budak, yang harga dirinya ada di titik nadir.
Tapi kau lebih memilik menjadi budak hawa nafsu duniawi ketimbang menjadi budak Rabb-mu.
Engkau itu zero, tapi merasa hero.
Maka mana mungkin engkau mau merendah di hadapan Rabb-mu.
Kau jadikan Rabb-mu seolah adalah EO-mu.
Kau desak Rabb-mu agar mengabulkan doa-doa duniawiahmu.
Sementara kau lalai akan hak-hak-Nya untuk kau kenali dalam asma wa sifat-Nya, kau ibadahi dalam ululiyah-Nya, kau akui dalam rububiyah-Nya.

Apakah engkau harus menunggu hingga Rabb-mu menurunkan musibah yang datang melanda bertubi-tubi hingga engkau sadar bahwa engkau adalah zero dan bukan siapa-siapa di hadapan-Nya?

Ampuni hamba-Mu yang faqir ilmu, faqir iman dan faqir amal ini ya Rabb ……

Hijrah dan Musibah yang Datang Kemudian

Kalau antum berhijrah, lalu musibah menimpa antum secara bertubi-tubi, maka boleh jadi itulah musibah yang Allah berikan untuk menguji kesungguhan antum dalam berhijrah.
(Dan Allah sungguh sudah tahu apakah hijrah antum benar-benar ikhlas atah hanya berpura-pura).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(QS: al-‘Ankabuut Ayat: 2-3)

Musibah, yang mana ketika antum hadapi pertama kali dengan ketawakkalan kepada Allah, maka ia adalah ujian. Sedangkan bila antum hadapi pertama kali dengan celaan dan keluhan, maka itulah hukuman yang sesungguhnya atas dosa-dosa antum.

Kabar gembiranya, bilamana antum sabar dalam menghadapi musibah tersebut, maka musibah inilah yang insya Allah menjadi pelebur dosa-dosa antum di masa lalu sebelum berhijrah.

Semoga kita semua diberi-Nya taufik, kekuatan dan kesabaran di saat musibah datang melanda.

(Faidah dari Ust Syafiq Basalamah, Ust Muhammad Nuzul Dzikri dan Ust Hasan Al Jaizy hafidzahumullah)

Takutlah Kepada Allah, Wahai Jiwa yang Berlumur Dosa Ini

Jika engkau sulit melakukan ketaatan, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah sudah tidak suka denganmu, jangan-jangan Allah sudah tidak menginginkan ketaatanmu.

Jika engkau sulit menangisi dosa-dosamu, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah telah menutup hatimu yang gelap pekat dengan hitamnya dosa-dosa.

Jika engkau sulit mengingat dosa-dosamu kepada Allah dan kepada sesama manusia, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah telah tak mempedulikanmu, dibiarkannya engkau dalam gelimang maksiat dan dosa tanpa merasa bersalah.

Takutlah kepada Allah, wahai jiwa yang berlumur dosa ini …
Takutlah akan hari di mana setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri dan ketakutan di hadapan Allah dan para malaikat…

Hari di mana dibentangkan jurang neraka Jahannam, hari di mana rantai-rantai yang berat dan kasar menyeret leher para musyrikin dan munafiqin, para pezina, para pembunuh, para pengkhianat dan para perampok untuk masuk ke dalamnya…

Hari-hari di mana semua rahasia dibukakan, hari di mana semua isi hati ditampakkan. Hari-hari di mana wajah-wajah tertunduk malu dan ketakutan yang mendalam, dalam dahsyatnya hari pengadilan.

Hari di mana semua rasa sakit di dunia menjadi terasa ringan, tak terasa walau hanya bagai seujung kuku sekalipun.
Hari di mana semua nikmat di dunia menjadi hambar, tak terasa walau hanya bagai setetes air sekalipun.

Kasihannya Diriku

Al-Fudhail bin lyadh berkata (kepada dirinya),

“Wahai, kasihannya engkau… engkau berbuat buruk, tetapi engkau merasa berbuat baik, engkau tidak tahu, tetapi merasa selevel dengan ulama’, engkau kikir, tetapi engkau merasa dermawan, engkau pandir, tetapi merasa berakal (cerdas), ajalmu pendek, namun angan-anganmu panjang.”

(Siyar A’lamin Nubala 8/ 440)

Tears

[Bismillah]

Don’t be ashamed of your tear although you are a man. It is not a sign of weakness. It is just a voice without words.

Sometimes, crying is the only way your eyes speak when your mouth can’t explain what in your heart is. Heavy hearts, like heavy clouds in the sky, are best relieved by the letting of a little water.

After crying, get up, be bold, and face the life with all of your might and the help of Allah.

Shobahul khoir.
Selamat beraktivitas.

(Ust Ammi Ahmad)

Antara Pahala dan Hukuman yang Dipercepat

Berkata Ibnu Muflih Al Hanbali rahimahullah :

لَا يَحزُنكَ قَولُ النَّاسِ فيْكَ، فَإنْ كَان كَاذباً، كَانتْ حَسَنةً لَم تَعمَلْها، وَإنْ كانَ صَادقاً، كَانَت سَيِّئةً عُجِّلَت عقُوبَتُها

“Janganlah bersedih karena ucapan manusia tentangmu, jika dia berdusta maka itu (pahala) kebaikan tanpa engkau kerjakan, tapi jika benar ucapannya maka itu keburukan yang dipercepat hukumanya untukmu”.

Al Adab As Syar’iyyah 1/12.

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : Doa disaat susah (sedih) adalah

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, hanya rahmatMu lah yang kuharap, janganlah Engkau biarkan aku tanpa rahmatMu sekejap mata pun. Perbaikilah segala urusanku, Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau”. (HR. Ahmad no. 20430 -shahih-)

Sedangkan Gunung-Gunung Saja Ketakutan

Allah ta’ala berfirman:

لَوْ أَنزَلْنَا هَـٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
(Al-Hashr – 21)

Hanya untuk manusia yang mau berfikir tentang hakikat kehidupan..
Adapun yang pikirannya hanya seputar perut dan kemaluan..
Ia tidak akan memikirkan hal itu…

(Ust Badrusalam)

Sebab Fitnah dari Wanita

Kepada setiap siapa saja yang ketika menikah mencari kecantikan, nasab, harta, dan mengabaikan serta meninggalkan sisi agama, bacalah (kisah berikut) semoga Allāh menjagamu:
“Seseorang mengeluh disisi Sufyān bin ‘Uyainah bahwasanya ia menikahi seorang wanita lalu ia menjadi barang yang paling hina disisi istrinya dan paling remeh yakni ia menghina suaminya.

Lalu Sufyān berkata: “Mungkin engkau berhasrat kepadanya karena engkau ingin menambah kemuliaan ?”.

Ia berkata: “Benar”.

Dan Sufyān berkata: “Barangsiapa pergi menuju kemuliaan, maka ia diuji dengan kehinaan, dan barangsiapa pergi menuju harta maka ia diuji dengan kefaqiran, dan barangsiapa pergi menuju agama, maka Allāh akan mengumpulkan untuknya kemuliaan, harta, beserta agama”.

[Hilyatul Auliyā’ 7/289]

Blog at WordPress.com.

Up ↑