Andai Mereka Tahu

Jika saya tinggalkan dunia hitam ini lalu saya mau kemana?
Jika saya keluar dari bidang haram ini lalu saya mau kerja dimana?
Jika saya tinggalkan geng saya dengan segala maksiatnya, memangnya ada yang mau berteman dengan saya?

Andai mereka tahu bahwa Pencipta dan Pemilik kehidupan ini telah berfirman:

‏﴿١٠٠﴾ ۞ وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ …

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan kelapangan yang banyak…”
(An Nisaa: 100)

Ternyata…
Ada kehidupan lain yang penuh dengan kehangatan siap menyambut kita.
Banyak bidang dan lapangan pekerjaan yang menunggu kita.
Banyak teman shalih/shalihah yang mau berpijak bersama.

Hanya saja kita belum tahu dan mengenal mereka.

Saudaraku..
ALLAH memastikan bahwa dibalik hijrah ada banyak tempat yang indah, ada banyak kelapangan, rizki, ketenangan serta kebahagaian.

Maka jangan ragu untuk berhijrah dari dosa.

Yang perlu anda lakukan adalah terus melangkah, lalu bersabar dan bertahan, niscaya pertolongan ALLAH dan kelapangan itu pasti menyapa anda.

(Disadur dari Tafsir Ath Thabari dan Al Qurthubi QS. An Nisa ayat 100)

✏ Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri

Jin Nasab (Part 9 – selesai)

Part 9 – Selesai

Sudah beberapa lama semenjak saya tulis Part 8. Akhirnya, saya tuliskan Part 9 ini sekaligus sebagai part penutup seri cerita ini.

Bersyukur kepada Allah ta’ala, setelah saya tulis cerita pada Part 8 sudah tidak ada lagi gangguan yang terjadi setelahnya. Namun, untuk mengantisipasi masalah psikologis anak-anak, saya membawa mereka ke psikiater. Alhamdulillah, dokter bilang anak-anak kami sehat-sehat.

Dokter menyarankan untuk mengganti seluruh tema perbincangan di rumah. “No more” cerita-cerita tentang jin. Kami disarankan untuk membuat topik dan suasana baru. Tujuannya agar anak tidak trauma.

Saya pun inisiatif untuk mengajak anak-anak liburan ke Bandung, lalu pulang kampung ke Bekasi (rumah saya), dan Kebumen (rumah istri). Saat pulang ke Bekasi dan Kebumen, saya sampaikan kepada keluarga untuk jangan bertanya-tanya tentang gangguan jin dan semisal. Anggap semua sudah ‘clear’ dan tidak pernah terjadi.

Sengaja kami liburan menggunakan transportasi yang disukai anak-anak. Mulai dari kereta api, sampai bis double decker. Intinya apapun itu yang bisa membuat anak-anak saya ceria kembali, akan saya lakukan. Sekolah online anak-anak pun tak liburkan semua. Biar mereka ceria dan bahagia dulu tanpa beban.

Alhamdulillah, kami kami bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ujian yang kami lalui membuat kami semakin bersyukur.

Dulu saat awal-awal gangguan terjadi, saya sangat emosional, sering menangis. Bahkan saat ditelepon orang tua pun saya menangis seperti anak kecil. Mungkin itu kali pertama orang tua saya melihat anak sulungnya menangis seperti itu. Saya gak pernah menangis di depan orang tua, apalagi sampai sesegukan.

Ditengah down-nya mental saya saat itu, saya banyak mendengar kabar musibah dan cobaan yang dirasakan teman dan kolega saya sendiri. Ada kawan saya yang diuji dengan sakit diabetes sampai harus suntik insulin setiap hari. Ada lagi kawan saya yang diuji dengan kebangkrutan.

Jika saya berada pada posisi kawan saya di atas, mungkin saya tidak mampu menanggungnya. Memang Allah itu sangat adil. DIA menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. So, bagaimana mungkin saya tidak bersyukur?

Saat awal-awal saya sekeluarga tinggal di tempat ustadz Fadlan, ada seorang pasien wanita pimpinan perusahaan. Ia disihir oleh rekan kerjanya sendiri karena sikapnya yang terlalu ‘lurus’, sangat anti korupsi. Jelas rekan kerjanya yang korup menjadi terusik, lantas mengirim sihir kepadanya.

Celakanya, pasien wanita ini tidak bisa membaca Qur’an sehingga mudah baginya terkena serangan sihir. Tidak ada pembentengan diri. Pasien wanita tersebut sudah puluhan kali diruqyah, tapi tak kunjung sembuh.

Melihat kejadian itu, seakan-akan saya sedang diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana serta pribadi yang lebih berhati-hati dalam bermuamalah dengan orang lain. Sebisa mungkin minimalisir konflik dengan orang lain yang berpotensi membuat hati orang terluka. Terlebih rekan kerja.

Mungkin saja kita berada pada posisi yang benar, namun kalo ada orang lain yang hasad atau tersinggung dengan sikap kita, bukan tidak mungkin mereka akan main sihir. Jika kita lalai dari dzikrullah, maka akan sangat mudah dukun menyerang dengan sihirnya.

Gangguan jin semakin menambah iman kami kepada Allah ta’ala. Eksistensi bangsa jin yang telah dikabarkan dalam Quran dan Hadits shahih pun terbukti. Kami juga semakin meyakini lemahnya gangguan jin dihadapan dzikrullah. Semakin membuktikan kebenaran Quran dan Haditst.

Memang setiap musibah itu selalu ada hikmahnya. Semoga rangkaian cerita yang sudah saya ceritakan sampai part 9 ini bermanfaat bagi yang membacanya serta bisa diambil hikmahnya.

Saya secara pribadi mohon maaf jika selama menuliskan cerita ini dan dalam membalas komentar ada kata-kata yang salah atau menyinggung. Semoga Allah ta’ala mengampuni dosa kita semua.

Selesai

Hendy Mustiko Aji

Jin Nasab (Part 8)

Part 8.

Setelah kejadian dialog dan meng-Islamkan jin-jin yang ada di tubuh anak kami. Alhamdulillah, gangguan yang berasal dari dalam relatif gak ada lagi.

Pernah sih beberapa kali bagian tubuh anak kami ada yg sakit. Namun, alhamdulillah setelah diruqyah sebentar langsung hilang sakitnya. Yang jauh lebih terlihat adalah gangguan dari luar.

Gangguan luar pertama adalah cakaran. Jadi tiba-tiba ada bekas cakaran di tangan dan kaki anak-anak kami. Dicakar ketika tidur maupun ketika sedang main-main. Beberapa ada yang tidak terlalu sakit, dan beberapa lagi kata anak kami cukup dalam sehingga cukup sakit.

Gangguan luar kedua adalah bau bangkai di ruang tamu. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba bau bangkai. Bau bangkainya tapi rada aneh. Biasanya bau bangkai itu semakin kesini semakin pekat menyengat. Tapi ini bau bangkainya sifatnya ‘light’.

Kalo kata istri saya seperti bau rendeman kain yang busuk, tapi busuknya ndak semenyengat bau bangkai pada umumnya. Dan juga ada tiga lalat ijo berterbangan di ruang tamu. Mungkin karena bau bangkai itu.

Akhirnya coba tak ruqyah membacakan Al-Baqarah Full dilanjut dengan menyipratkan bidara yang sudah dicampur garam. Alhamdulillah, setelah itu bau bangkainya hilang. Berarti memang bau bangkai itu berasal dari gangguan jin. Lalat ijo yang berterbangan pun tak pukul mati dengan menyebut nama Allah.

Ganggun luar berikutnya adalah gangguan yang menunjukkan penghinaan syaithon ini kepada al-Quran. Syaithon ini membuang Quran anak saya ke dalam kamar mandi, diceburin ke bak mandinya sampai basah.

Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali hingga seluruh Quran di rumah saya ‘habis’ karena semuanya dicemplungin ke bak di kamar mandi. Bisa dilihat di Gambar 1.

Bukan hanya Quran yang dihinakan, buku sekolah anak saya juga begitu. Diumpetin, dsobek, dibasahin hingga gak bisa dipakai. Mukena istri saya dibuang ke selokan di depan rumah. Alhamdulillah selokannya kering. Bisa dilihat di Gambar 2.

Karena seluruh Qur’an sudah habis, kami pun beli lagi sebanyak 4 Quran. Namun, lagi-lagi Quran baru yg dibaca anak saya dimasukkin lagi ke bak yang ada di kamar mandi. Kali ini surat al-Baqarahnya disobek habiss…. Bisa dilihat Gambar 3.

Kami hanya bisa beristighfar. Astaghfirullah.

Namun demikian kami gak mau menyerah begitu saja. Syaithon ini harus kami lawan. Kami memohon kepada Allah ta’ala yang maha perkasa agar menyegerakan adzab untuk syaithon ini karena penghinaan mereka kepada kalamullah berkali-kali.

Di hari Jum’at ini, kami memohon juga kepada pembaca untuk melaknat syaithon ini dan mendoakan agar syaithon ini disegerakan adzabnya. Aamiin..

Untuk mencegah syaithon mencemplungkan Quran kami ke kamar mandi lagi, akhirnya kami membeli plasti Zip. Jadi, setelah baca Quran harus langsung ditaro di plastik Zip, sehingga masih aman meskipun diceburkan ke bak mandi. Bisa dilihat di Gambar 4

Hal lain, kami pun juga mendisiplinkan untuk selalu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Sebelumnya, pintu kamar mandi ndk pernah tertutup rapat.

Setelah mencoba ikhtiar tersebut, alhamdulillah tidak ada lagi Quran yang diceburkan ke bak di kamar mandi. Darisitu kami mulai menduga bahwa syaithon ini tidak mampu memindahkan barang dari dan ke tempat yang terkunci rapat.

Akhirnya kami beli box plastik yang tutupnya bisa dikunci rapat untuk menyimpan Quran dan buku sekolah anak-anak. Semenjak itu, alhamdulillah sudah tidak ada lagi Quran yang hilang dan diceburkan ke bak di dalam kamar mandi.

Namun ternyata ada gangguan ‘luar’ lainnya. Yakni ketika wudhu, anak saya tiba-tiba telanjang bulat dan seluruh pakaiannya ada ada di dalam bak mandi di kamar mandi. Basah semua. Memang diluar nalar, tapi begitulah adanya. Kejadiannya kalo gak salah sudah dua kali.

Setelah itu, kami berikhtiar membeli smart CCTV yang bisa dipantau melalui smartphone. Alhamdulillah, setelah ada CCTV gangguan di atas sudah tidak pernah lagi terjadi. Saya juga gak tahu kenapa.

Sudah kurang lebih 1 bulan kami sekeluarga ruqyah mandiri dengan membaca Al-Baqarah full konsisten setiap hari. Alhamdulillah, kami merasakan progress yang sangat positif. Gangguan relatif sudah tidak ada, dan kami jadi dipaksa untuk melakukan kebiasaan baru. Anak saya juga jadi hafal beberapa lembar surat al-Baqarah karena dibaca terus setiap hari. Semoga Allah menghapus dosa-dosa kami dan menambahkan pahala untuk kami.

Sampai hari ini masih kami pantau terus gangguannya. Harapan kami semoga musnah semua syaithon kaafir penghina kalamullah itu.

Pada part berikutnya insya Allah akan saya ceritakan perkembangannya, khususnya setelah uyut anak kami meninggal dunia setelah di ruqyah kurang lebih 1 bulan sebelumnya.

Semoga part berikutnya adalah part terakhir. Aamiin.

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/05/31/jin-nasab-part-9-selesai/

Jin Nasab (Part 2)

Izinkan saya melanjutkan cerita sebelumnya.


Gangguan jin kepada anak kami semakin frontal hari ke hari. Bukan hanya saat akan ibadah saja, tetapi juga saat tidak akan melaksanakan ibadah. Sampai satu kejadian dimana saya pribadi begitu khawatir akan keselamatan anak saya.


Saat itu hari Jum’at, anak-anak sedang bermain di kamar kami sekitar pukul 14.00-an. Istri saya tertidur, dan saya juga sangat mengantuk. Saya pun tiduran di kasur, niatnya gak tidur karena saya ada kelas pukul 15.30 WIB. Namun, qadarallah saya tertidur juga pada akhirnya.
Bangun-bangun dari tidur, saya mendapat cerita yang betul-betul membuat saya sangat menyesal kenapa saya tertidur. Ketika saya tidur, dan istri juga tidur, anak kami cerita katanya lampu dimatikan kembali oleh Jin. Lalu anak kami cerita katanya ia dilempari batu-batu jorok berbau pipis (istilah anak kami) oleh jin yang membawa tali dan jarum. Lalu ia dilempar keluar kamar (nembus pintu), dan dilempar balik ke dalam kamar (nembus pintu).


Anak kami juga cerita bahwa mulutnya dikunci dan tangannya dibekap, sehingga tidak bisa berteriak minta tolong kepada kami. Luka (terbeset akibat dilempar batu) ditangannya akibat serangan Ghoib pun ada bekasnya dan masih terasa.
Anak saya terus terusan ingin dicelakakan ketika kami lengah. Pukul 15.00-an saya mengambil pesanan Go-Send dan meminta anak saya duduk di sofa ruang tamu. Selang beberapa detik setelah saya menerima Go-Send, anak saya teriak minta tolong. Ternyata jin melemparnya lagi ke bawah kasur dengan kepala yang terpentok dan tertindih kasur.


Dari situ saya peluk anak saya sambil mengatakan,
“Yang sabar ya sayang, Allah pasti menurunkan pertolongan”
Saya peluk sambil membaca ayat kursi berkali-kali. Hingga saya pun tak kuasa menahan tangis terisak-isak. Kami tidak takut dengan jinnya, melainkan sangat khawatir dengan keselamatan anak kami.
Setelah kejadian itu saya putuskan untuk cancel seluruh kelas saya selama seminggu. Saya pun minta ijin ke kampus untuk tidak bisa mengikuti kegiatan kampus apapun. Baik mengajar atau kerjaan tim.
Detik itu juga saya bawa anak saya dan keluarga untuk ruqyah ke tempat Ust. Fadlan Abu Yasir di Kota Gede. Beliau adalah praktisi Ruqyah ternama di Jogja.


Saya memohon kepada Ust. Fadlan agar berkenan menampung saya, istri dan anak-anak di tempat beliau karena saya sangat trauma sekali di rumah. Lengah beberapa detik saja, anak saya bisa semakin celaka!
Saya cerita kronologis kejadiannya kepada Ust. Fadlan sambil menganalis jenis gangguan jin seperti apakah yang menyerang anak kami. Hingga kami meyakini bahwa gangguan yang diterima anak kami adalah gangguan Jin Nasab atau Jin yang secara otomatis diturunkan dari bapak/kakek/uyut/leluhur kepada nasab/keturunannya.


Jin Nasab ini turun secara otomatis, tanpa harus kita menerima atau menolak. Turun kepada siapanya tergantung bagaimana kontrak/kesepakatan awal dengan bangsa jin yang dilakukan oleh bapak/kakek/uyut/leluhur. Kesepakatan/persekutuan dengan bangsa jin itu bentuknya bisa berbagai macam, diantaranya tenaga dalam, ilmu kebal dan bentuk lainnya.
Hipotesis Jin Nasab itu pun menguat karena uyut anak kami memang diketahui sebagai orang yang punya ilmu tenaga dalam.

Malam hari setelah anak kami di ruqyah oleh ust. Fadlan sambil menangis karena kesakitan di beberapa bagian tubuhnya, ia pun bercerita kepada kami bahwa sebetulnya ia bisa melihat makhluk-makhluk aneh semenjak kecil (indigo). Ia tidak pernah menceritakan kepada kami karena pikirnya itu hanya bayangannya saja. Ia juga melihat jin yang mendzoliminya. Katanya warnanya hitam dan jorok (bau).
Ini semakin menguatkan hipotesis terkait Jin Nasab. Salah satu ciri pasti dari orang yang diturunkan Jin Nasab adalah indigo semenjak kecil.


(Bersambung insya Allah jika banyak yang mau membaca kelanjutannya….)

Nb:
Cerita ini saya tuliskan agar bisa menjadi pelajaran dan menambah keimanan bagi yang membaca

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-3/

Dunia dalam Timbangan Imam Syafi’i

Dunia adalah batu yang licin dan kampung yang kumuh
Bangunannya kelak rubuh
Penduduknya adalah calon penghuni kubur
Apa yang dikumpulkan akan ditinggalkan
Apa yang dibanggakan akan disesalkan
Mengejarnya sulit meninggalkannya mudah

(Imam asy Syafi’i rahimahullah)

(Like) Hero but (the Truth is) Zero

Wahai jiwa yang berlumur dosa ini, mau sampai kapan engkau lalai dari sujud bersimpuh di hadapan-Nya dengan segala pengakuan atas ketidakberdayaanmu? Mau sampai kapan engkau berjalan dengan ketinggian hati di muka bumi?
Sampai kapan engkau merasa lebih hebat dan lebih mulia dari orang lain di muka bumi?
Sampai kapan engkau lalai dari kalam Rabb-mu dan sabda Nabimu, sementara engkau sangat kuatir dengan perkataan manusia dan berita dunia?

Padahal statusmu tidak lebih dari hamba, tidak lebih dari budak, yang harga dirinya ada di titik nadir.
Tapi kau lebih memilik menjadi budak hawa nafsu duniawi ketimbang menjadi budak Rabb-mu.
Engkau itu zero, tapi merasa hero.
Maka mana mungkin engkau mau merendah di hadapan Rabb-mu.
Kau jadikan Rabb-mu seolah adalah EO-mu.
Kau desak Rabb-mu agar mengabulkan doa-doa duniawiahmu.
Sementara kau lalai akan hak-hak-Nya untuk kau kenali dalam asma wa sifat-Nya, kau ibadahi dalam ululiyah-Nya, kau akui dalam rububiyah-Nya.

Apakah engkau harus menunggu hingga Rabb-mu menurunkan musibah yang datang melanda bertubi-tubi hingga engkau sadar bahwa engkau adalah zero dan bukan siapa-siapa di hadapan-Nya?

Ampuni hamba-Mu yang faqir ilmu, faqir iman dan faqir amal ini ya Rabb ……

Hijrah dan Musibah yang Datang Kemudian

Kalau antum berhijrah, lalu musibah menimpa antum secara bertubi-tubi, maka boleh jadi itulah musibah yang Allah berikan untuk menguji kesungguhan antum dalam berhijrah.
(Dan Allah sungguh sudah tahu apakah hijrah antum benar-benar ikhlas atah hanya berpura-pura).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(QS: al-‘Ankabuut Ayat: 2-3)

Musibah, yang mana ketika antum hadapi pertama kali dengan ketawakkalan kepada Allah, maka ia adalah ujian. Sedangkan bila antum hadapi pertama kali dengan celaan dan keluhan, maka itulah hukuman yang sesungguhnya atas dosa-dosa antum.

Kabar gembiranya, bilamana antum sabar dalam menghadapi musibah tersebut, maka musibah inilah yang insya Allah menjadi pelebur dosa-dosa antum di masa lalu sebelum berhijrah.

Semoga kita semua diberi-Nya taufik, kekuatan dan kesabaran di saat musibah datang melanda.

(Faidah dari Ust Syafiq Basalamah, Ust Muhammad Nuzul Dzikri dan Ust Hasan Al Jaizy hafidzahumullah)

Takutlah Kepada Allah, Wahai Jiwa yang Berlumur Dosa Ini

Jika engkau sulit melakukan ketaatan, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah sudah tidak suka denganmu, jangan-jangan Allah sudah tidak menginginkan ketaatanmu.

Jika engkau sulit menangisi dosa-dosamu, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah telah menutup hatimu yang gelap pekat dengan hitamnya dosa-dosa.

Jika engkau sulit mengingat dosa-dosamu kepada Allah dan kepada sesama manusia, berhati-hatilah, jangan-jangan itu tanda Allah telah tak mempedulikanmu, dibiarkannya engkau dalam gelimang maksiat dan dosa tanpa merasa bersalah.

Takutlah kepada Allah, wahai jiwa yang berlumur dosa ini …
Takutlah akan hari di mana setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri dan ketakutan di hadapan Allah dan para malaikat…

Hari di mana dibentangkan jurang neraka Jahannam, hari di mana rantai-rantai yang berat dan kasar menyeret leher para musyrikin dan munafiqin, para pezina, para pembunuh, para pengkhianat dan para perampok untuk masuk ke dalamnya…

Hari-hari di mana semua rahasia dibukakan, hari di mana semua isi hati ditampakkan. Hari-hari di mana wajah-wajah tertunduk malu dan ketakutan yang mendalam, dalam dahsyatnya hari pengadilan.

Hari di mana semua rasa sakit di dunia menjadi terasa ringan, tak terasa walau hanya bagai seujung kuku sekalipun.
Hari di mana semua nikmat di dunia menjadi hambar, tak terasa walau hanya bagai setetes air sekalipun.

Kasihannya Diriku

Al-Fudhail bin lyadh berkata (kepada dirinya),

“Wahai, kasihannya engkau… engkau berbuat buruk, tetapi engkau merasa berbuat baik, engkau tidak tahu, tetapi merasa selevel dengan ulama’, engkau kikir, tetapi engkau merasa dermawan, engkau pandir, tetapi merasa berakal (cerdas), ajalmu pendek, namun angan-anganmu panjang.”

(Siyar A’lamin Nubala 8/ 440)

Blog at WordPress.com.

Up ↑