Haaditsatul Ifki

Sesungguhnya ketika kita menyimak kisah haaditsatul ifki, di situ kecintaan, adab dan akhlak kita terhadap Rasulullah dan keluarganya diuji

Nggak Enakan Hati yang Berujung Petaka

Tak Enak Hati Berujung Petaka

Dua tokoh kekafiran Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl hadir saat Abu Thalib, paman nabi itu tengah sakaratul maut. Berkali-kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawarkan agar pamannya itu mengucapkan kalimat tauhid yang dengan kalimat tsb menjadi persaksian bagi Rasulullah guna menjadi penolongnya di hadapan Allah.

Pada saat yang sama, kedua tokoh munafik di atas ‘menembak’ paman nabi itu dengan pernyataan pamungkas:

أترغب عن ملة عبد المطلب؟

“Apakah engkau ini membenci agama Abdul Muthalib (agama nenek moyang)?” Ini dengan maksud agar Abu Thalib jangan sekali-sekali mengucakan syahadat. Sebab mereka tahu bhw konsekuensi syahadat adalah meninggalkan dan berlepas dari agama nenek moyang.

Nabi pun mengulang-ulang permintaaan kepada pamannya perkara syahadat agar sang paman meninggal di atas tauhid dan bukan meninggal di atas kekufuran.

Sayangnya sang paman enggan mengucapkan kalimat tauhid laa ilaha illallah dan lebih memilih meninggal di atas kekufuran setelah tak enak hati dengan dua tokoh munafik di atas. Fragmen ini terekam dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Sudah banyak korban tak enak hati dalam urusan iman/aqidah. Di antaranya sebagian kaum muslimin yang bersikukuh berani mengucapkan selamat natal karena tak enak hati dan ingin meraih hati/ridha musuh-musuh Allah.

NB:

  1. Abdullah bin Abu Umayyah pada akhirnya diberi taufik untuk masuk Islam. Sementara Abu Jahl musuh Islam ini terbunuh di perang Badr.
  2. Islam tidak melarang ber-mu’amalah/berinteraksi dengan orang kafir dalam urusan dunia: berbisnis, dll. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengunjungi si kafir kecil yang sedang sakit lalu beliau menawarkan Islam hingga dia masuk Islam. Muamalah kita dengan orang kafir jangan sampai memudarkan prinsip wala’ dan Bara’ apalagi hanya karena tak enak hati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengambil hati orang kafir dengan cara mengucapkan selamat atau bahkan menghadiri hari raya orang kafir. Beliau tidak menjadikan hal demikian sebagai wasilah dakwah sebab Allah telah menjaga kemurniaan tauhid pada diri Rasulullah shallallahu alaihi.
  3. Ta’asshub terhadap agama, ritual atau keyakinan nenek moyang yang bertentangan dgn Islam termasuk salah satu sebab su’ul khatimah.
    __

(Ust Yani Fahriansyah)

Balasan Atas Dosa PASTI Akan Datang, Cepat atau Lambat

Ketika Muhammad bin Sirin terlilit hutang dan ia dipenjara karenanya, beliau berkata:

إني أعرف الذنب الذي أصابني بهذا عيّرتُ رجلاً منذُ أربعين سنة فقلت له : يا مفلس قال : عَيَّرْتُ رَجُلاً بِالْإِفْلَاسِ فَأَفْلَسْتُ

“Sesungguhnya aku ingat dosaku yang mengakibatkan aku tertimpa musibah ini. Dahulu 40 tahun yang lalu aku pernah mengejek seorang yang bangkrut, “Hai bangkrut!””
Ternyata kini aku yang terkena bangkrut.”
(Majmu’ Rosail Ibnu Rojab 2/413)

Maka segeralah kita bartaubat dari segala dosa.
Karena dosa mendatangkan kesialan di dunia dan akherat.

(Ust Abu Yahya Badrusalam)

Kisah Pertama dan Kisah Kedua Imam Ahmad bin Hanbal

Dulu aku terkagum-kagum dg kisah pertama ini, akan tetapi sekarang aku lebih terkagum-kagum dg kisah yang kedua, karena bisa jadi kisah yang kedua itu penyebab datangnya kisah yang pertama:

Kisah pertama

Imam Ahmad Bin Hanbal rahimahullah berkata: ” Aku hidup bersama istriku Ummu Shalih (Abbasah binti Al-Fadl) selama 30 tahun sampai ia wafat, tidak pernah ia menyelisihiku meski satu katapun.

Kisah yang kedua

Imam Ahmad bercerita:
حفظتني أمي القرآن وأنا ابن عشر سنين وكانت توقظني قبل صلاة الفجر وتُحمي لي ماء الوضوء في ليالي بغداد الباردة وتُلبسني ملابسي ثم تتخمر و تتغطى بحجابها وتذهب معي إلى المسجد لبعد بيتنا عن المسجد

“Dahulu ibuku telah menjadikan aku hafal al quran saat aku berumur 10 tahun. Ia selalu membangunkanku sebelum sholat fajar. Ia memanaskan air untukku di malam malam yang amat dingin di Baghdad dan memakaikan untukku pakaianku. Lalu ia memakai cadar dan hijabnya untuk mengantarkanku ke masjid karena jauh jaraknya.”
(Min Akhbar Salaf).

=====
من عجائب الدنيا
Min ‘ajaibi ad-dunya….

(Ust Fadlan Fahamsyah)

Kisah Seorang Budak yang Memandang Rendah atas Dunia

Ibnul Mubarak (TABI’UT TABI’IN) -rahimahullah- menceritakan kisahnya, “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya. Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.””

Dia terus mengatakan, “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (TABI’UT TABI’IN) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?”

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?”
Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!”
Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?”

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”
Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?”

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.
Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”
Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?”
Saya jawab, “Ya.”
Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”
Saya tanya, “Memangnya kenapa?”
Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”
Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?”

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!”

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.
Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!”
Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”
Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?”
Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”
Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”
Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!”

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?”

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.”
Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.”

Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.
Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?”

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?”
Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”
Saya bertanya, “Ke mana?”
Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!”

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.”

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!”

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)

Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.

Al-Akh Abu Umar Andri Maadsa.

Lion of The Desert

Syaikh Omar al-Mukhtar (rahimahullah) suatu hari sedang mengajari anak-anak alQuran di rumahnya.
Yusuf Borahil sahabatnya menemuinya di rumah dan bertanya, “Wahai Omar, tidakkah cukup bagimu memerangi penjajah Italia dan tidak direpotkan lagi dengan mengajari mereka Al Quran?”

Syaikh pun menjawab, “Perang kita ini tidak sekedar perang senjata tetapi perang aqidah. Dan orang-orang Italia baru mampu menjajah kita setelah kita meninggalkan mempelajari Al Quran”

You see … the real mujahid fights against kuffar and teaching correct aqeedah ….
Lion of the desert, Omar al-Mukhtar.

Tahu kan sekarang bedanya sama si ituh?

(Katon Kurniawan)

Blog at WordPress.com.

Up ↑