Kisah Ya’qub dan Yusuf

Aku sempat bertanya-tanya kenapa nabiyullah Ya’qub alaihissalam diam saja terhadap kejahatan anak-anaknya saat mereka pulang ke rumah menemui beliau dengan membawa baju Yusuf yang disertai darah palsu/buatan. Terlebih beliau tidak percaya ketika melihat baju tersebut utuh tanpa robekan.

Kenapa beliau tidak pergi ke tempat terjadinya kasus percobaan pembunuhan Yusuf untuk mencari Yusuf, seperti yang dilakukan ayah mana pun jika menghadapi kasus yang sama?

Kenapa beliau tidak memaksa anak-anaknya itu untuk mengakui kesalahan dan kejahatan yang mereka lakukan terhadap saudara mereka Yusuf?

Kenapa beliau justru memilih hal tersulit yang dilakukan oleh hati?

Ya’qub berkata:

بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).. Dan Allah sajalah tempat meminta pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan. “ (QS Yusuf: 18)

Aku begitu terpana dengan jawaban Ya’qub yang berulang bertahun-tahun kemudian yaitu saat anak-anaknya kembali dari Mesir menemui beliau.

Ya’qub kembali berucap dengan nada yang sama:

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

“Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). (QS Yusuf: 83)

Jelaslah bagiku bahwa beliau begitu yakin dengan buah kesabarannya, yaitu ayah dan anak-anaknya itu berkumpul dalam kebaikan.

Ya’qub menyebutkan harapan tulusnya:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Aku berharap Allah mendatangan mereka semua untukku, Dialah yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS Yusuf: 83)

Di hadapan anak-anaknya, Ya’qub tidak menyingkap segala perasaan, keluhan dan kesedihan yang berkecamuk di dadanya, sebagai bentuk tawakkal kepada Allah. “Dialah yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS Yusuf: 83), ungkapnya.

Aku terkagum-kagum dengan Ya’qub karena ketegasannya dalam menyimpan pilu, derita dan kecewa di hatinya tanpa menuntut anak-anaknya untuk mengatakan apapun.

Allah menyebutkan:

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (QS Yusuf: 84)

Anak-anaknya begitu terheran-heran dengan kesabaran sang ayah hingga mereka bertanya-tanya.

تَٱللَّهِ تَفْتَؤُا۟ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ ٱلْهَٰلِكِينَ

“Demi Allah, senantiasa anda mengingati Yusuf, sehingga anda mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa”. (QS Yusuf: 85)

Ya’qub pun berujar:
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya”. (QS Yusuf: 86)

Dari penggalan kalimat Ya’qub tersebut, nampaklah bagiku bahwa Ya’qub telah diwahyukan oleh Allah. Allah memerintahkan Ya’qub untuk diam semenjak awalnya. Ya’qub pun menyimpan sedih dan kegudahan terbesarnya di hati bertahun-tahun lamanya hingga matanya buta akibat kesedihan. Dan ini, tanpa ia adukan kepada manusia walau sepatah kata pun.

Nampaklah olehku pula bahwa anaknya, Yusuf alaihissalam, telah diwahyukan oleh Allah sejak mereka, saudara-saudaranya, membawanya ke dalam hutan dan menjerumuskannya ke dalam sumur.

Yusuf alaihissalam mengetahui bahwa di balik semua makar yang diarahkan kepadanya terdapat hikmah ilahiyyah bahwa kelak akan tiba hari-hari yang Allah janjikan:

لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

“Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.” (QS Yusuf: 15)

Yusuf bersabar sepertinya ayahnya bersabar. Ia mampu memikul kesulitan, keterasingan dan penjara bertahun-tahun.

Ya’qub pun tidak keluar untuk mencari Yusuf. Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa Ya’qub meminta kepada Allah untuk memberi petunjuk tentang keberadaan anaknya.

Setelah dewasa, Yusuf alaihissalam tidak kembali menemui keluarganya. Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa Yusuf meminta kepada Allah agar memberi petunjuk kepada keluarganya untuk menemui beliau.

Yusuf dan Ya’qub menunggu dan menyimpan rapi semuanya. Keduanya sama-sama melaksanakan perintah Allah dan fokus menjalankan tugas kenabian yaitu menyampaikan petunjuk dan risalah kepada manusia.

Saat hari terungkap dan tersingkapnya alur kehidupan, penghilatan Ya’qub kembali normal, keluarga Yusuf kembali menemuinya, dan para saudaranya itu meminta maaf dan ampunan.

Yusuf berkata:

وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا

“Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf pun menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang tercurahkan untuknya, bukan menyebutkan dendam-dendam.

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ

“Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir. .” (QS Yusuf: 100)

Setelah duduk di singgasana dan saudara-saudaranya bersujud kepadanya, Yusuf pula tidak menyinggung-nyinggung seorang pun di antara mereka atas kejahatan yang pernah mereka lakukan.

Bahkan Yusuf menyandarkan dan menisbatkan bahwa apa yang terjadi semuanya berasal dari syaithan (yang mengobarkan kejahatan di bumi).

Yusuf berkata:

مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“ . .setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf tak sepatah katapun menyebutkan bahwa beliau dan ayahnya amat menderita bertahun-tahun. Beliau hanya berujar:

إنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Sejatinya Rabbku Maha Lembut terhadap siapa yang Dia kehendaki.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf menyandarkan segala sesuatu kepada Allah dengan mengatakan: “Dialah sejatinya Maha Mengetahui lagi Bijaksana.”

Yusuf menyebutkan segala kenikmatan dan anugerah Allah kepadanya tanpa menolehkan pandangan terhadap ujian-ujian kehidupan yang telah berlalu:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. .” (Ayat: 101)

Dengan penuh ketawadhuan jiwa, ia berujar:

“(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (Ayat: 101)

Aku semakin meyakini bahwa para nabi adalah manusia terberat ujiannya. Akan selalu ada pihak-pihak pendukung kesesatan dan hasad hendak melaksanakan makar kepada mereka. Ujian-ujian yang terkadang bersumber dari anak, saudara dan kerabat lainnya akan mengantarkan orang shaleh mencapai derajat mulia.

Aku semakin meyakini dan memahami bahwa jalan keluar tak akan datang kecuali setelah mengerahkan sabar hingga episode telah usai.

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami. . .” (Ayat: 110)


Diringkas dan diterjemahkan dari akun Lailiy Fahd as-Syamiriy

Alih bahasa: Yani Fahriansyah

(Asrama, Ahad pagi, 25/12/2016)

Sifat Malu yang Mulia pada Ummul Mukminin

Nabi dimakamkan dalam rumah Aisyah di sebelah Masjid Nabawi. Karena sangat menyayangi Nabi, Aisyah tinggal dan tidur di dalam makam Nabi setiap harinya.

Selepas itu Khalifah pertama yaitu Abu Bakar As-Sidiq pun meninggal dunia dan dimakamkan di sebelah Nabi dan Aisyah masih tinggal dan tidur di dalam makam itu.

Setelah itu Umar Al-Khatab pun meninggal dan dimakamkan di dalam ruangan makam yang sama bersama Nabi Muhammad dan Abu Bakar maka Aisyah pun sejak saat itu tidak lagi tinggal di makam itu.

Maka para sahabat bertanya ; “Kenapa kamu Aisyah tidak lagi tiggal dan tidur di makam selepass Umar Al-Khatab juga dimakamkam di situ?”

Jawab Aisyah … ketika Nabi meninggal aku tinggal di situ karena dia suamiku dan Abu Bakar ayahku, maka aku bebas untuk membuka aurat, menyikat rambut dan buat apa saja karena mereka mahramku namun apabila Umar Al-Khatab masuk daalam makam itu (walaupun dalam keadaan mati) aku menjadi segan dan malu untuk bebas seperti biasa sebab dia bukan mahramku.

Dalam kisah ini tampak begitu hebatnya Aisyah dalam menutup auratnya meskipun Umar Al– Khatab dalam keadaan meninggal.

Seharusnya kita sebagai umat Islam terkhususnya bagi wanita bisa mengikuti dan mencontohkan sebagaimana yang dilakukan Aisyah dalam menutup auratnya, kita bisa lebih teliti dalam hal-hal kecil seperti menutup aurat ini. Namun dalam kita sehari- hari tak jarang kita melihat Muslim yang masih belum sepenuhnya menutup aurat sesuai kaidah yang telah ditetapkan.

Siapa Memberontak Terhadap Turki Utsmani?

SIAPA YANG MEMBERONTAK KEPADA TURKI UTSMANI?

Sejarah yang banyak diceritakan kepada kita, bahwa Kerajaan Saudi yang membawa pemahaman ‘Wahhabi’-lah yang memberontak kepada Turki.

Sejatinya, Kerajaan Saudi Arabia (KSA) di masa itu menguasai daerah Nejd yang sama sekali di luar area Turki. Kekuasaan keluarga Saud itu hanya di Riyadh dan sekitarnya. Bahkan di sana ada keluarga Rasyid juga yang memiliki kekuasaan di daerah Al Jawf dan Hail. Dua kekuasaan ini tidak berada di bawah Utsmani.

Wilayah Turki (untuk daerah yang menjadi KSA sekarang) itu hanya meliputi daerah Hijaz sampai pesisir laut Merah.

Kalau mau dikatakan memberontak kepada Turki Utsmani, maka yang lebih tepat dikatakan sebagai pemberontak adalah Syarif Husein -Allah yarhamuh- yang menjadi penguasa Hijaz. Bukan ‘Wahhabi’ dari keluarga Bani Saud.

Dan perlu anda ketahui, pemisahan Hijaz dari Turki Utsmani pun bukan dilakukan tanpa sebab. Di era pemisahan itu, pihak yang berkuasa secara defacto di Turki adalah kelompok sekuler yang disebut Gerakan Turki Muda. Sultan Abdul Hamid II rahimahullah mereka jadikan hanya sebagai simbol saja.

Syarif Husein rahimahullah sebagai penguasa tanah suci tentu tidak menginginkan dipimpin oleh kaum sekularis. Walaupun beliau sendiri berambisi untuk menjadi Raja Arab. Dia merasa punya alasan kuat untuk memberontak kepada Turki. Pemisahan Hijaz dari Turki ini terlaksana pada tahun 1916, di masa pemerintahan Sultan Mehmed (Muhammad) V. Sejak itu Hijaz adalah wilayah tersendiri yang terpisah dari otoritas Turki.

Sampai di sini kita bisa simpulkan bahwa keluarga Saud tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemberontakan kepada Turki. Kalau mau dikatakan memberontak kepada Turki, maka vonis pemberontak harusnya disematkan kepada Syarif Husein rahimahullah.

KLAIM SEBAGAI RAJA SELURUH ARAB

Setelah melepaskan diri dari ‘kekhilafahan’ Turki Utsmani, Syarif Husein mengangkat diri beliau sebagai Raja seluruh Arab. Ini self-proclaimed saja. Karena secara defacto, dia tidak punya kekuatan yang cukup bisa dihandalkan untuk mewujudkan kekuasannya tersebut. Lepasnya dia dari Turki pun karena kerjasama dengan Inggris. Begitu Inggris melepas dukungannya, maka otomatis Syarif Husein pun tidak punya kekuatan yang bisa dihandalkan. Ini terbukti ketika dia berkonflik dengan keluarga Saud.

Merasa dirinya sebagai Raja Arab, Syarif Husein meminta agar keluarga Saud tunduk kepadanya. Tentu keluarga Saud menolak. Mereka sudah punya wilayah sendiri sejak zaman Utsmani. Sejak zaman Utsmani sudah independen, kok tiba-tiba harus berada di bawah Syarif Husein?

Konflik bersenjata antara pasukan Syarif dan Saudi muncul ketika Amiir (pemimpin) kawasan Al Khurmah, sebuah daerah subur di Timur Makkah, memilih untuk bergabung bersama Saudi. Al Khurmah ini perbatasan antara Hijaz dan Nejd. Maka Syarif Husein pun mengirimkan pasukan ke Al Khurmah. Meletuslah perang antara Saudi dan Syarif Husein.

Pasukan Syarif Husein yang didukung Inggris ketika itu menganggap remeh kekuatan militer Saudi yang didukung oleh gerakan Al Ikhwan. Gerakan al Ikhwan ini tidak ada hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Al Ikhwan ini pasukan loyalis Saudi. Di luar dugaan, pasukan Syarif Husein mengalami kekalahan di Al Khurmah.

Sejak kekalahan Syarif di Khurmah, Saudi melihat kemungkinan besar untuk menaklukkan Hijaz, terutama dua tanah suci, Makkah dan Madinah. Tentu ini akan membawa prestise bagi keluarga Saud. Apalagi keluarga Saud memiliki keinginan untuk melakukan purifikasi Islam sebagaimana program yang dicanangkan oleh leluhur mereka bersama Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.

Namun keinginan ini terhalang oleh Inggris yang masih memberikan perlindungan kepada Syarif Husein. Keluarga Saud lantas menahan diri dari ekspansi tersebut karena melihat kemudharatan yang besar akan muncul kalau berhadapan langsung dengan Inggris.

Sampai kemudian tahun 1924, Syarif Husein tidak cukup lagi dengan gelar Raja Arab. Dia mengangkat dirinya sebagai khalifah setelah Kamal Ataturk membubarkan ‘kekhilafahan’ Turki Utsmani. Syarif juga melarang jamaah haji dari Nejd untuk melakukan ibadah di Makkah.

Ini tentu menimbulkan kemarahan keluarga Saud. Begitu Inggris melepaskan dukungannya atas Syarif Husein, maka dengan waktu relatif cepat Saudi pun menguasai Hijaz. Syarif Husein rahimahullah pun kemudian lari ke Cyprus. Wilayah Dinasti Hasyimiyah yang beliau bangun hanya tersisa berupa kerajaan kecil yang bernama Yordania.

Keterangan foto:

  • Peta Jazirah Arabiyah sebelum Syarif Husein memberontak kepada Turki
  • Syarif Husein di masa tua beliau
  • Pangeran Faisal, putra Syarif Husein berfoto dengan Jenderal Allenby, komandan Inggris di Timur Tengah.
  • Pangeran Faisal dengan beberapa orang perwira militer, termasuk TE Lawrence yang dikenal sebagai Lawrence of Arabia. Tokoh militer legendaris dari Inggris yang berhasil membujuk penguasa Arab untuk memberontak kepada Turki. Kapan-kapan kita bahas rojul yang satu ini biidznillah.

Ustadz Wira Bachrun

Sejarah Arab Saudi

Sejarah Arab Saudi

Orang di sebelah kanan itu bernama Faisal bin Hussein Al-Hasyimi, anak ketiga dari Syarif Hussein bin Ali Al-Hasyimi dari Mekkah.
Ia adalah Raja Kerajaan Arab Suriah (1920) dan menjadi Raja Iraq dari tahun 1921 hingga 1933.
Keturunan ke 38 Ahlul-Bait dari jalur al-Hasan.

Dengan dibantu Inggris, dia bersama dua saudaranya, yakni Abdullah dan Ali bin Hussein Al-Hasyimi memimpin puluhan ribu pasukan ke Madinah dan berhasil merebutnya dari cengkeraman Utsmani pada sebuah peperangan panjang dari tahun 1916 hingga 1919. Rahimahullahu ta’ala, dan semoga Allah mengampuninya.

Adapun orang di sebelah kirinya adalah Chaim Azriel Weizmann, seorang Yahudi Russia sekaligus Presiden Zionis.
Kelak, ia pun menjadi Presiden Pertama Israel dari tahun 1949-1952.

Sebelumnya, ia dikenal sebagai pemimpin Zionis Inggris, pengurus Perusahaan Pengembang Tanah Palestina (PLDC atau Palestine Land Development Company), dan salah satu pendiri Universitas Ibrani Yerusalem. Laknatullah ‘alaih.

Keduanya menandatangani Persetujuan Faisal-Weizmann pada 3 Januari tahun 1919, tepat dua minggu sebelum dimulainya Konferensi Perdamaian Prancis. Sebuah persetujuan yang menjadi salah satu justifikasi Yahudi menempati Palestina pada masanya.

Meski pada akhirnya persetujuan itu dianggap batal setelah Faisal mendapat tekanan di Kongres Nasional Suriah beberapa bulan setelah Persetujuan itu ditandatangani. Yang menurut sebagian pengamat kontemporer seperti Georgina Howell dalam bukunya “Gertrude Bell: Queen of the Desert, Shaper of Nations”, persetujuan itu menjadi tak berlaku setelah Gertrude Bell dan T. E. Lawrence dengan dukungan Inggris-Perancis melakukan pengkhianatan. Namun persetujuan itu masih dianggap sebagai barang penting oleh Israel hingga saat ini.

Saudi?
Oh tidak ada, teman..
Tak ada satupun anggota keluarga as-Saud disini.

Isi perjanjiannya: https://www.jewishvirtuallibrary.org/the-weizmann-faisal-agreement-january-1919

Kronologi Peristiwa Karbala dari Kacamata Ahlussunnah

  1. Tahun 60 H, Muawiyyah meninggal dunia. Tampuk Kekhilafahan diberikan kepada putranya Yazid.
  2. Di Madinah, para utusan Yazid bin Muawiyah meminta para sahabat untuk memberikan bai’at kepada Yazid. Abdullah bin Zubair dan Husain bin Ali radhiyallahu anhum menolak. Secara diam-diam mereka pergi ke Makkah.
  3. Di Makkah, Al Husain mendapatkan 500 surat yang berisi dukungan masyarakat Kufah atas diri beliau untuk menjadi khalifah. Husain kemudian mengutus sepupunya yang bernama Muslim bin Aqil bin Abi Thalib untuk berangkat ke Kufah memastikan kondisi di sana.
  4. Tiba di Kufah, Muslim ditampung oleh tokoh masyarakat sana yang bernama Hani bin Urwah. Penduduk Kufah kemudian memberikan bai’at kepada Husain bin Ali melalui Muslim bin Aqil.
  5. An Nu’man bin Basyir yang menjadi Gubernur Kufah ketika itu tidak melakukan apa-apa terhadap gerakan Muslim bin Aqil. Para loyalis Yazid melaporkan hal ini kepada Yazid sehingga Yazid mengganti An Nu’man bin Basyir dengan Ubaidillah bin Ziyad.
  6. Ubaidillah bin Ziyad adalah Gubernur Basrah, dengan penunjukkan ini wewenangnya diperluas sampai ke Kufah.
  7. Ubaidillah kemudian pergi ke Kufah untuk mengambil alih tugas dari An Nukman bin Basyir. Di Kufah orang-orang mengelu-elukan Ubaidillah, mereka mengira Ubaidillah adalah Al Husain yang baru tiba. Dari sini Ubaidillah menyadari bahwa perkara penduduk Kufah tidak bisa dianggap enteng.
  8. Muslim bin Aqil setelah memastikan loyalitas penduduk Kufah, dia mengirimkan utusan kepada Al Husain bin Ali agar segera berkumpul dengan mereka di Kufah.
  9. Al Husain bin Ali kemudian bersiap-siap untuk menuju Kufah. Para sahabat yang mulia seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abu Said Al Khudri dll. berusaha untuk menghalangi. Tapi Al Husain tetap bersikeras untuk berangkat.
  10. Adapun di Kufah, Ubaidillah segera menyelidiki siapa otak dari gerakan pendukung Husain. Dia menugaskan seorang agen (mata-mata) yang bernama Ma’qil untuk menyusup dalam gerakan tersebut dan mengumpulkan info.
  11. Ma’qil kemudian menyamar sebagai seorang saudagar kaya dan mengekspresikan dukungannya kepada Husain. Dia pun berkoar-koar akan mendanai gerakan Al Husain. Ma’qil kemudian diterima oleh Hani bin Urwah. Dari sini Ma’qil menyedot banyak informasi.
  12. Ma’qil kemudian melapor kepada Ubaidillah. Ubaidillah langsung menangkap Hani bin Urwah dan menginterogasinya. Ubaidillah kemudian melakukan beberapa langkah yang diperlukan untuk menghentikan gerakan pendukung Husain. Dia mengumpulkan beberapa orang pemuka Kufah yang bisa dia ajak bekerjasama.
  13. Begitu mengetahui bahwa Hani bin Urwah ditangkap oleh Ubaidillah, Muslim bin Aqil kemudian mengumpulkan loyalis Husain untuk menyerang istana gubernur untuk membebaskan Hani. Terkumpul 4000 pasukan ketika itu.
  14. Sampai di istana, ternyata di istana sudah banyak pemuka Kufah yang telah dibeli oleh Ubaidillah. Pemuka ini kemudian menyeru para loyalis Husain untuk meninggalkan Muslim, menakut-nakuti mereka dengan Pasukan Yazid dari negeri Syam apabila mereka meneruskan gerakan mereka dan menjanjikan hadiah bagi siapa yang meninggalkan Muslim bin Aqil.
  15. Dari 4000 pasukan, tinggal 30 orang saja yang masih bersama Muslim bin Aqil, dan tidaklah matahari terbenam ketika itu melainkan Muslim bin Aqil tinggal sendirian kehausan.
  16. Muslim bin Aqil kemudian menumpang berteduh dan meminta air kepada seorang wanita Kindah. Anak wanita itu lalu melapor kepada Ubaidillah bin Ziyad. Muslim pun ditangkap.
  17. Sebelum dieksekusi, Muslim berwasiat kepada Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menyampaikan pesan kepada Husain agar tidak pergi ke Kufah. Muslim lalu dieksekusi oleh Ubaidillah bin Ziyad.
  18. Di hari tarwiyah, 8 Dzulhijjah, Al Husain berangkat dengan rombongannya ke Kufah. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan utusan Umar bin Saad bin Abi Waqqash yang menyampaikan khabar dan wasiat dari Muslim bin Aqil.
  19. Al Husain ingin kembali, namun anak-anak Muslim bin Aqil yang ikut dalam rombongan tidak terima dengan berita kematian ayah mereka. Al Husain pun kemudian melanjutkan perjalanan.
  20. Di Al Qadishiyyah, rombongan Al Husain bertemu dengan 1000 pasukan yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad di bawah pimpinan Al Hurr bin Yazid. Al Hurr bin Yazid melakukan usaha persuasi kepada Husain agar tidak melanjutkan perjalanan. Husain tetap bersikeras melanjutkan perjalanan
  21. Husain singgah di suatu tempat. Dia bertanya nama tempat tersebut. Ternyata namanya Karbala. Kata Husain, “Ini adalah tempatnya karbun dan bala’, musibah dan bencana”
  22. Di Karbala, rombongan Husain didatangi oleh 4000 pasukan yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Terjadi negosiasi antara Umar dan Husain. Husain meminta agar dia diperbolehkan memilih tiga perkara: a) Kembali ke Makkah b) Ke Syam untuk membaiat Yazid c) Ke perbatasan negeri kaum muslimin
  23. Umar pun kemudian mengirimkan utusan untuk menyampaikan opsi tersebut kepada Ubaidillah bin Ziyad.
  24. Ubaidillah tidak keberatan dengan usulan Husain, sampai ada seorang pembisik bernama Syamr bin DzilJausyan yang memprovokasi agar Husain datang dulu ke istana sebagai bukti ketundukan kepada Ubaidillah.
  25. Al Husain menolak perintah Ubaidillah. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang pada hari Asyuro (10 Muharram). Rombongan Husain yang berjumlah 72 orang harus berhadapan dengan 5000 pasukan Ubaidillah.
  26. Sebelum berperang, mereka sempat shalat berjamaah dhuhur dan ashr dengan Al Husain sebagai imam.
  27. Al Hurr bin Yazid yang sebelumnya bagian dari pasukan Ubaidillah memilih bergabung dengan Husain.
  28. Meletuslah pertempuran. Seluruh rombongan Husain gugur. Banyak di antara mereka merupakan anak cucu dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Husain sendiri menjadi orang yang terakhir gugur. Sebagian mengatakan bahwa yang membunuh adalah Syamr bin Dzil Jausyan, sebagian lagi mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah Sinan bin Anas An Nakha’i.
  29. Berita gugurnya Husain sampai kepada Yazid. Dia menangis tersedu-sedu menyesalkan kejadian ini dan kemudian melaknat Ubaidillah yang telah berbuat melampaui batas kepada Al Husain.

Diringkas oleh akhukum Wira Mandiri Bachrun dari sumber:

  • Hiqbah minat Tarikh, DR Utsman Khumais
  • Ashr Ad Daulatain, Prof. DR. Ali Shallabi
  • Al Alam al Islami fil Ashr Al Umawi, Prof. DR. Abdusy Syafi Muhammad Abdil Lathif

Haaditsatul Ifki

Sesungguhnya ketika kita menyimak kisah haaditsatul ifki, di situ kecintaan, adab dan akhlak kita terhadap Rasulullah dan keluarganya diuji

Nggak Enakan Hati yang Berujung Petaka

Tak Enak Hati Berujung Petaka

Dua tokoh kekafiran Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl hadir saat Abu Thalib, paman nabi itu tengah sakaratul maut. Berkali-kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawarkan agar pamannya itu mengucapkan kalimat tauhid yang dengan kalimat tsb menjadi persaksian bagi Rasulullah guna menjadi penolongnya di hadapan Allah.

Pada saat yang sama, kedua tokoh munafik di atas ‘menembak’ paman nabi itu dengan pernyataan pamungkas:

أترغب عن ملة عبد المطلب؟

“Apakah engkau ini membenci agama Abdul Muthalib (agama nenek moyang)?” Ini dengan maksud agar Abu Thalib jangan sekali-sekali mengucakan syahadat. Sebab mereka tahu bhw konsekuensi syahadat adalah meninggalkan dan berlepas dari agama nenek moyang.

Nabi pun mengulang-ulang permintaaan kepada pamannya perkara syahadat agar sang paman meninggal di atas tauhid dan bukan meninggal di atas kekufuran.

Sayangnya sang paman enggan mengucapkan kalimat tauhid laa ilaha illallah dan lebih memilih meninggal di atas kekufuran setelah tak enak hati dengan dua tokoh munafik di atas. Fragmen ini terekam dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Sudah banyak korban tak enak hati dalam urusan iman/aqidah. Di antaranya sebagian kaum muslimin yang bersikukuh berani mengucapkan selamat natal karena tak enak hati dan ingin meraih hati/ridha musuh-musuh Allah.

NB:

  1. Abdullah bin Abu Umayyah pada akhirnya diberi taufik untuk masuk Islam. Sementara Abu Jahl musuh Islam ini terbunuh di perang Badr.
  2. Islam tidak melarang ber-mu’amalah/berinteraksi dengan orang kafir dalam urusan dunia: berbisnis, dll. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengunjungi si kafir kecil yang sedang sakit lalu beliau menawarkan Islam hingga dia masuk Islam. Muamalah kita dengan orang kafir jangan sampai memudarkan prinsip wala’ dan Bara’ apalagi hanya karena tak enak hati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengambil hati orang kafir dengan cara mengucapkan selamat atau bahkan menghadiri hari raya orang kafir. Beliau tidak menjadikan hal demikian sebagai wasilah dakwah sebab Allah telah menjaga kemurniaan tauhid pada diri Rasulullah shallallahu alaihi.
  3. Ta’asshub terhadap agama, ritual atau keyakinan nenek moyang yang bertentangan dgn Islam termasuk salah satu sebab su’ul khatimah.
    __

(Ust Yani Fahriansyah)

Balasan Atas Dosa PASTI Akan Datang, Cepat atau Lambat

Ketika Muhammad bin Sirin terlilit hutang dan ia dipenjara karenanya, beliau berkata:

إني أعرف الذنب الذي أصابني بهذا عيّرتُ رجلاً منذُ أربعين سنة فقلت له : يا مفلس قال : عَيَّرْتُ رَجُلاً بِالْإِفْلَاسِ فَأَفْلَسْتُ

“Sesungguhnya aku ingat dosaku yang mengakibatkan aku tertimpa musibah ini. Dahulu 40 tahun yang lalu aku pernah mengejek seorang yang bangkrut, “Hai bangkrut!””
Ternyata kini aku yang terkena bangkrut.”
(Majmu’ Rosail Ibnu Rojab 2/413)

Maka segeralah kita bartaubat dari segala dosa.
Karena dosa mendatangkan kesialan di dunia dan akherat.

(Ust Abu Yahya Badrusalam)

Kisah Pertama dan Kisah Kedua Imam Ahmad bin Hanbal

Dulu aku terkagum-kagum dg kisah pertama ini, akan tetapi sekarang aku lebih terkagum-kagum dg kisah yang kedua, karena bisa jadi kisah yang kedua itu penyebab datangnya kisah yang pertama:

Kisah pertama

Imam Ahmad Bin Hanbal rahimahullah berkata: ” Aku hidup bersama istriku Ummu Shalih (Abbasah binti Al-Fadl) selama 30 tahun sampai ia wafat, tidak pernah ia menyelisihiku meski satu katapun.

Kisah yang kedua

Imam Ahmad bercerita:
حفظتني أمي القرآن وأنا ابن عشر سنين وكانت توقظني قبل صلاة الفجر وتُحمي لي ماء الوضوء في ليالي بغداد الباردة وتُلبسني ملابسي ثم تتخمر و تتغطى بحجابها وتذهب معي إلى المسجد لبعد بيتنا عن المسجد

“Dahulu ibuku telah menjadikan aku hafal al quran saat aku berumur 10 tahun. Ia selalu membangunkanku sebelum sholat fajar. Ia memanaskan air untukku di malam malam yang amat dingin di Baghdad dan memakaikan untukku pakaianku. Lalu ia memakai cadar dan hijabnya untuk mengantarkanku ke masjid karena jauh jaraknya.”
(Min Akhbar Salaf).

=====
من عجائب الدنيا
Min ‘ajaibi ad-dunya….

(Ust Fadlan Fahamsyah)

Kisah Seorang Budak yang Memandang Rendah atas Dunia

Ibnul Mubarak (TABI’UT TABI’IN) -rahimahullah- menceritakan kisahnya, “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya. Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.””

Dia terus mengatakan, “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (TABI’UT TABI’IN) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?”

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?”
Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!”
Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?”

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”
Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?”

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.
Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”
Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?”
Saya jawab, “Ya.”
Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”
Saya tanya, “Memangnya kenapa?”
Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”
Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?”

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!”

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.
Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!”
Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”
Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?”
Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”
Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”
Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!”

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?”

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.”
Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.”

Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.
Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?”

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?”
Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”
Saya bertanya, “Ke mana?”
Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!”

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.”

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!”

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)

Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.

Al-Akh Abu Umar Andri Maadsa.

Blog at WordPress.com.

Up ↑