Kerugian Hakiki Kaum Musyrikin

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْٓنِّيْۤ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰـهِلُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?””

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 64)

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

وَلَـقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِ لَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَئِنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.”

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 65)

*****

Maka sangat rugi orang-orang yg berbuat syirik kepada Allah sebagaimana kafir Quraisy, yang menjadikan orang-orang shaleh yg sudah mati dan atau kuburannya sebagai perantara doa dan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sebagaimana saat ini sebagian orang yang mengaku muslim menjadikan permintaan kepada Rasulullah, Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, dan kuburan para mursyid mereka sebagai perantara doa. Musnah sia-sia semua amal mereka, dan mereka diancam kekal dalam api neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.

Hendaknya manusia berhati-hati dengan lafadz-syair-lagu shalawat palsu yang isinya meminta pertolongan kepada Rasulullah, bahkan memposisikan Rasulullah sebagai dzat pemberi perlindungan, keselamatan dll yang hanya bisa dilakukan oleh Allah saja, karena ini sudah termasuk ke dalam syirik rububiyah yg menyebabkan seseorang kekal di neraka.

Abu Lahab dan Abu Jahal dan musyrikin Quraisy, merekapun merasa berada di atas kebenaran, mengklaim diri sebagai pengikut Ibrahim, menuduh Muhammad gila dan perusak tradisi nenek moyang dalam beribadah.

Abu Lahab berjenggot, bergamis, berbahasa Arab dengan sangat fasih, berwajah ganteng berseri kemerahan, berpostur gagah sempurna.

Tapi … mereka itulah kaum musyrikin yang dikutuk selamanya.

Padahal mereka mengakui keesaan Allah sebagai pencipta dan pemelihara manusia dan alam semesta, dan mereka merasa mewarisi keyakinan yang dibawa Ibrahim ‘alaihissalam.

Lalu di mana salahnya?

Salahnya adalah karena mereka memperantarai doa melalui orang-orang yang sudah mati, yang oleh sebab itu mereka jatuh ke dalam kesyirikan besar yang menyebabkan mereka keluar dari agama Nabi Ibrahim.

Bahkan mereka menolak dengan keras terhadap dakwah Rasulullah yang melarang mereka memperantarai doa kepada Allah melalui orang mati, mereka membubarkan dakwah Rasulullah bahkan memeranginya.

Kelakuan yang mirip dengan sebagian manusia yang mengaku sebagai muslim dan mengaku paling toleran.

Ahlul Bid’ah dan Miskin Adab

Ahlul bid’ah adalah orang-orang yg paling gak tau diri dan miskin adab. Bagaimana tidak, mereka berani membuat syari’at baru yg sudah jelas ada larangannya, namun mereka mencari-cari dalih pembenaran untuk melegitimasi perbuatannya dan membuat beragam alasan bahwa apa yg mereka lakukan tidaklah tercela.

Lalu agar orang lain percaya mereka pun mengarang-ngarang cerita bahwa amalan yg mereka buat sudah mendapat restu dan persetujuan dari Rasulullah baik itu melalui mimpi atau bahkan katanya bertemu langsung secara sadar.


Tapi lucunya, mereka mensyaratkan ijazah bagi siapapun yg hendak mengamalkan dan mengajarkan bid’ah yg mereka buat dan melarang mereka untuk mengubah & mengutak-atiknya entah itu dalam lafadz, jumlah, waktu, tempat ataupun urutannya.

Abdul Hakim

Senangnya Punya Anak Perempuan

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Di antara orang-orang yang “setengah dijamin” masuk surga adalah mereka yang oleh Allah ditakdirkan memiliki 2 anak perempuan.

Orang yang diberi 2 anak perempuan, lalu diurus sebaik-baiknya, dibesarkan dengan kasih sayang, diajari hingga mandiri, dan dididik sampai menjadi salihah maka amalnya terhadap dua putrinya tersebut akan mengantarkannya ke surga. Al-Bukhārī meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad sebagai berikut,

«عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ ‌مُسْلِمٍ ‌تُدْرِكُهُ ‌ابْنَتَانِ، ‌فَيُحْسِنُ صُحْبَتَهُمَا، إِلَّا أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ”». [«صحيح الأدب المفرد» (ص57)]

Artinya,

“Dari Ibnu Abbās dari Nabi ﷺ beliau bersabda, “Tidaklah ada seorang muslim yang mendapatkan 2 anak putri, lalu mengurusnya dengan baik kecuali kedua putrinya tersebut akan memasukkannya ke dalam surga” (al-Adab al-Mufrad hlm 57)

Jangan pernah meremehkan amal mendidik anak perempuan.

Mendidik anak perempuan itu tidak mudah.

Apalagi di zaman penuh fitnah semacam ini.

Zaman di mana freesex sudah merajalela, narkoba mudah didapatkan, internet yang mengajarkan akhlak buruk mudah diakses, wanita bisa kontak dengan lelaki manapun hanya dengan ponsel dari kamar mereka, dan bisa pergi kemanapun hanya dengan grab/gojek, maka mendidik anak perempuan di zaman edan seperti ini sungguh benar-benar tugas yang tidak mudah.

Orang tua tidak hanya harus berjibaku mencari nafkah menyediakan uang untuk biaya makan, pakaian dan tempat tinggal mereka. Tetapi juga harus memikirkan biaya pendidikan yang terus naik dan biaya kesehatan yang tak terduga, sementara penghasilan bagi rumah tangga tertentu juga tidak selalu jelas. Juga harus rajin-rajin berdoa, menangis di tengah malam, dan menghiba-hiba kepada Sang Pencipta, agar menjaga anak-anak putrinya, agar melindungi anak-anak putrinya, agar selalu memberi petunjuk jalan yang lurus sehingga anak tidak terpengaruh semua pergaulan yang menjerumuskan.

Bukan kah banyak orang tua yang berangkat pagi pulang malam, sampai lembur-lembur dan begadang demi anak?

Apalagi jika yang mengurus anak perempuan adalah janda. Yang ditinggal mati suaminya. Yang dicerai suaminya. Yang dihianati suaminya. Yang berjuang sendirian dengan segala keterbatasannya sebagai seorang wanita. Yang kadang dilecehkan lelaki, diberi harapan palsu, dipermainkan perasaannya, bahkan ditipu dan disakiti setelah segala madunya dihisap.

Sungguh benar-benar tidak mudah mengurus anak-anak perempuan.

Oleh karena itu, sungguh wajar jika balasannya sangat besar. Yakni dijanjikan masuk surga karena amal membesarkan 2 anak putri tersebut.

Hanya saja, di awal tulisan saya beri penekanan bahwa mengurus 2 anak perempuan itu “setengah dijamin masuk surga”. Bukan pasti masuk surga. Jaminan masuk surga bagi orang yang diuji dengan 2 anak wanita sudah jelas dinyatakan dalam hadis. Tetapi pelaksanaannya masih harus dikembalikan kepada orang tua yang mendapatkan amanah tersebut.

Jika orang tua bisa mengatur niatnya bahwa membesarkan anak perempuan adalah amanah dari Allah dan punya misi mensalihahkan anak tersebut, maka insya Allah dapat janji penuh dalam hadis itu. Tapi jika niatnya adalah untuk memburu kebanggaan, pamer pada manusia, berharap dirawat anak di masa tua atau motif-motif duniawi yang lain, maka di akhirat dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Pertanyaannya, “Bagaimana jika yang diurus bukan 2 anak perempuan tapi bahkan 3 atau lebih?”

Jika dua anak perempuan saja sudah mendapatkan janji masuk surga, maka diuji 3 anak perempuan lebih layak lagi mendapatkan janji tersebut. Lebih-lebih ada hadis sahih yang memang menyebut mengurus 3 anak perempuan dipastikan akan masuk surga. Apalagi jika putrinya 4 atau lebih dari itu.

Lebih-lebih jika yang mengurus ini seorang janda atau wanita yang karena sebab tertentu harus mengurus anak sendirinya. Ada hadis sahih yang juga lugas menjamin wanita yang tabah mengurus 2 anak putrinya karena Allah dengan segenap kemiskinannya, bahwa dia juga dipastikan akan masuk surga. Muslim meriwayatkan,

عَنْ ‌عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: « جَاءَتْنِي مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً، وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا، فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا، فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ ‌أَوْجَبَ ‌لَهَا ‌بِهَا ‌الْجَنَّةَ، أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ .». [«صحيح مسلم» (8/ 38 ط التركية)]

Artinya,

“Dari ‘Aisyah dia berkata: “Telah datang kepadaku seorang wanita miskin yang membawa dua anak perempuan, lalu saya memberinya makan dengan tiga buah kurma, wanita tersebut memberikan kurmanya satu persatu kepada kedua anaknya, kemudian wanita tersebut mengangkat satu kurma ke mulutnya untuk dia makan. Tapi, kedua anaknya meminta kurma tersebut, akhirnya dia pun memberikan (kurma) yang ingin ia makan kepada anaknya dengan membelahnya menjadi dua. Saya sangat kagum dengan kepribadiannya. Lalu saya menceritakan apa yang diperbuat oleh wanita tersebut kepada Rasulullah ﷺ . Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadanya untuk masuk surga atau membebaskannya dari neraka.” (H.R.Muslim)

Jadi, engkau para wanita yang mungkin disakiti suami, atau ditinggal pergi, atau ditinggal wafat atau dikhianati dan punya 2 putri, sekarang engkau punya tujuan hidup yang jelas dan terarah. Fokuslah mensalihkan 2 putri tersebut hingga dewasa. Walaupun mungkin harus mengorbankan sebagian kebahagiaanmu. Setelah itu tunggu memetik hasilnya di akhirat. Karena Allah akan menikahkanmu di surga dengan lelaki saleh yang membuatmu 1000 kali melayang bahagia daripada dilamar lelaki di dunia.

CATATAN

Untuk mereka yang hanya memiliki 1 putri, jangan khawatir. Ada juga hadis yang menyebut janji yang sama untuk satu putri. Hanya saja, kebanyakan riwayat menyebut putri lebih dari satu sehingga punya anak putri lebih dari satu memang memiliki keutamaan lebih dibandingkan yang hanya satu.

Muafa

Antara Bani Israil Dan Para Sahabat

Dulu Bani Israil diuji dengan ikan. Mereka dilarang mengambil ikan di hari sabtu, ternyata ikan tak pernah datang kecuali hari sabtu, maka mereka pun berbuat hiilah (tipu daya). Mereka memasang jaring di hari Jum’at dan mengangkatnya di hari Ahad dalam keadaan penuh dengan ikan-ikan. Allah berfirman,

‎وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik” (QS. Al A’raf : 163).

Maka Allah murka dan mereka dijadikan babi dan kera, kemudian tak bertahan lama lalu mati. Lihat firman Allah,

‎فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina” (QS. Al A’raf: 166).

Dijelaskan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhum,

‎فجعل [ الله ] منهم القردة والخنازير . فزعم أن شباب القوم صاروا قردة والمشيخة صاروا خنازير

“Allah ta’ala menjadikan mereka sebagai kera dan babi. Disebutkan bahwa yang masih muda dari kaum tersebut dijadikan kera, dan yang sudah tua dijadikan babi” (Tafsir Ibnu Katsir).

Kemudian dalam Tafsir Al Baghawi dikatakan,

‎قال قتادة : صار الشبان قردة والشيوخ خنازير فمكثوا ثلاثة أيام ثم هلكوا ولم يمكث مسخ فوق ثلاثة أيام ولم يتوالدوا

“Qatadah berkata: mereka dijadikan kera-kera muda dan babi-babi tua, kemudian mereka hidup selama 3 hari lalu dibinasakan, tak ada yang bertahan lebih dari 3 hari, dan mereka tidak berkembang biak”. Wal ‘iyaadzubillah.

Sekian tahun setelahnya, para sahabat Rasulullah juga mendapat ujian yang mirip dengan bani israil. Yakni tentang larangan berburu ketika ihram. Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَيَبْلُوَنَّكُمُ ٱللَّهُ بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلصَّيْدِ تَنَالُهُۥٓ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ ٱللَّهُ مَن يَخَافُهُۥ بِٱلْغَيْبِ ۚ فَمَنِ ٱعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُۥ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepadaNya, biarpun ia tidak dapat melihatNya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih”. (QS. Al Maidah : 94).

Perjalanan antara Madinah menuju Mekkah itu tak sebentar, dulu membutuhkan waktu hingga 7 hari, dan pasti begitu melelahkan dan menghabiskan tenaga maupun harta. Maka di tengah perjalanan tersebut Allah datangkan ujian menggiurkan berupa hewan buruan yang sangat banyak, yang begitu mudah ditangkap dengan tangan atau sekedar cukup ditombak. Dan para sahabat, tak satupun dari mereka berani untuk melanggar. Radhiyallahu ‘anhuma ajma’in.

Sebagian manusia masa kini diuji dengan dunia serta kesibukan pekerjaannya, seringkali menggiurkan namun haram dan terlarang dalam syariat. Maka siapa yang berani melanggarnya sejatinya dia sedang meneladani bani israil yang Allah murkai. Dan siapa yang berhasil menjauhinya karena Allah maka dia sedang mengikuti jalannya salafush shalih, salaful ummah para sahabat Nabi yang mulia.


Antara Bani Israil Dan Para Sahabat

Fahmi Akbar

Su’ul Khatimah Ahlul Bid’ah

Kufur dan banyak mengerjakan amalan² bid’ah adalah faktor utama su’ul khatimah.

Mengikuti pendapat yg menyimpang dg bertaklid atau su’ul fahm. Ketika tabir tersingkap (saat sakaratul maut) barulah sadar bahwa semua keyakinan dan seluruh jenis amalan menyimpang tanpa dasar.

Ibnu Faridh umar bin Ali al Hamawi, wafat 632 H meyakini al Ittihad atau kawula manunggaling gusti. Ketika menghadapi sakaratul maut ia mendendangkan dua bait syair yg mengekspresikan kesengsaraan dan kebinasaan nya sambil menangis;

“Apabila kalian masih menyimpan rasa cinta kepadaku sebagaimana yg telah kulihat,
maka aku telah menyia² kan usiaku”

“Sebuah harapan agar jiwaku mendapatkan nya selama beberapa lama, dan sekarang aku yakin semua itu hanyalah fatamorgana”.

Ia menyatakan demikian setelah melihat kemurkaan Allah. Dan diperlihatkan kepadanya hakikat keyakinan dan amalnya.

Sangat sedikit ahlul bid’ah yg meninggal dunia dengan membawa iman dan husnul khatimah.

Agung Bursyaga

Hakekat Tasawuf

Tasawuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahkan tidak dikenal di zaman tiga generasi yang utama (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Ajaran ini baru muncul sesudah zaman tiga generasi ini. (Lihat Haqiqat Ash Shufiyyah hal. 14).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Adapun lafazh “Shufiyyah”, lafazh ini tidak dikenal di kalangan tiga generasi yang utama. Lafazh ini baru dikenal dan dibicarakan setelah tiga generasi tersebut, dan telah dinukil dari beberapa orang imam dan syaikh yang membicarakan lafazh ini, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad Darani dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri bahwasanya beliau membicarakan lafazh ini, dan ada juga yang meriwayatkan dariHasan Al Bashri” (Majmu’ Al Fatawa 11/5).

Kemudian Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ajaran ini pertama kali muncul di kota Bashrah, Iraq, yang dimulai dengan timbulnya sikap berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah yang tidak terdapat di kota-kota (islam) lainnya (Majmu’ Al Fatawa, 11/6).

Berkata Imam Ibnu Al Jauzi: “Tasawuf adalah suatu aliran yang lahirnya diawali dengan sifat zuhud secara keseluruhan, kemudian orang-orang yang menisbatkan diri kepada aliran ini mulai mencari kelonggaran dengan mendengarkan nyanyian dan melakukan tari-tarian, sehingga orang-orang awam yang cenderung kepada akhirat tertarik kepada mereka karena mereka menampakkan sifat zuhud, dan orang-orang yang cinta dunia pun tertarik kepada mereka karena melihat gaya hidup yang suka bersenang-senang dan bermain pada diri mereka. (Talbis Iblis hal 161).

Dan berkata DR. Shabir Tha’imah dalam kitabnya Ash Shufiyyah Mu’taqadan Wa Maslakan (hal. 17) “Dan jelas sekali besarnya pengaruh gaya hidup kependetaan Nasrani -yang mereka selalu memakai pakaian wol ketika mereka berada di dalam biara-biara- pada orang-orang yang memusatkan diri pada kegiatan ajaran tasawuf ini di seluruh penjuru dunia, padahal Islam telah membebaskan dunia ini dengan tauhid, yang mana gaya hidup ini dan lainnya memberikan suatu pengaruh yang sangat jelas pada tingkah laku para pendahulu ahli tasawuf.” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya Haqiqat At Tasawwuf, hal. 13).

Dan berkata Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dalam kitab beliau At Tashawuf, Al Mansya’ wa Al Mashdar hal. 28 “Ketika kita mengamati lebih dalam ajaran-ajaran tasawuf yang dulu maupun yang sekarang dan ucapan-ucapan mereka, yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu maupun sekarang, kita akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas antara ajaran tersebut dengan ajaran Al Quran dan As Sunnah. Dan sama sekali tidak pernah kita dapati bibit dan cikal bakal ajaran tasawuf ini dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla, bahkan justru sebaliknya kita dapati ajaran tasawuf ini diambil dan dipungut dari kependetaan model Nasrani, dari kebrahmanaan model agama Hindu, peribadatan model Yahudi dan kezuhudan model agama Budha” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya “Haqiqat At Tashawuf” hal. 14).

Dari keterangan yang kami nukilkan di atas, jelaslah bahwa tasawuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam Islam, hal ini terlihat jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawuf, amalan-amalan asing dan jauh dari petunjuk islam. Dan yang kami maksudkan di sini adalah orang-orang ahli tasawuf zaman sekarang, yang banyak melakukan kesesatan dan kebohongan dalam agama, adapun ahli tasawuf yang terdahulu keadaan mereka masih lumayan, seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Al Junaid, Ibrahim bin Adham dan lain-lain. (Lihat kitab Haqiqat At Tashawwuf tulisan Syaikh Shalih Al Fauzan hal. 15)

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/407-hakikat-tasawuf-1.html

Penulis: Ust. Abdullah Taslim, Lc., MA.

Silakan di-share…

Penting tapi Bukan yang Terpenting

Belajar bahasa Arab itu penting, bahkan penting sekali.. Tapi bukan yang paling penting..

Seorang dari kalangan terpandang dan berpakaian dari sutera, melewati majelis Imam Malik -rahimahullah-, lalu ia dapati sang imam melakukan kesalahan dalam tata bahasa Arab, maka ia pun berkata: “Kenapa kedua orang tuanya tidak mengeluarkan dua dirham saja supaya ia belajar nahwu?”

Imam Malik mendengarnya lalu menanggapi:

لان تعرف ما يحل لك لبسه مما يحرم عليك خير لك من ضرب عبدالله زيدا، وضرب زيد عبدالله.

“Engkau tahu mana baju yang halal dan mana yang haram kau pakai, itu lebih baik bagimu daripada membedakan antara “Abdullah memukul Zaid” dan “Zaid memukul Abdullah”

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar bahwa ia berkata:

تلقى الرجل وما يلحن حرفا وعمله لحن كله

“Engkau jumpai ada orang yang satu huruf pun ia tidak keliru dalam berbahasa, namun amalannya keliru seluruhnya!”

Maka sering kita temui orang yang menyerang dakwah ahlus sunnah, mereka mengandalkan ilmu nahwu, sharaf dan balaghah yang mereka miliki untuk menunjukkan kefasihan mereka demi menutupi kekeliruan mereka dalam pemahaman terhadap sunnah. Sebagiannya lain menjadikan kefasihan dalam berbahasa untuk meremehkan du’at ahlus sunnah yang keliru. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Sweet Words, Bitter Action

“Jangan merasa paling nyunnah!”

“Jangan merasa paling ngikuti salaf saja!”

Vonis terselubung. Melarang orang lain memvonis suatu amalan sebagai bid’ah atau tidak sesuai syariah, tapi sendirinya memvonis dengan trik terselubung.

“Memang yang terbaik hati dibina dan tidak saling memvonis.”

Sweet words. Bitter action.

“Jangan merasa paling nyunnah!”

Padahal, ‘merasa’ paling nyunnah adalah perbuatan hati.

Katanya: ‘yang di dalam hati, hanya Allah dan dirinya yang tahu.’

Kok, bisa tahu hati fulan yang merasa paling nyunnah ya?!

Sweet words, bitter action.

(Ustadz Hasan Al Jaizy)

Tidak Semua Perbedaan Bisa Ditolerir

Renungan sebelum tidur…

Kalau semua masalah perbedaan ditolerir dengan alasan khilafiyah (bahkan masalah aqidah) akhirnya para penyembah kuburan akan berkata; “Biarkanlah kami meminta kepada penghuni kuburan dan beristighotsah kepada mayat mayat, toh ada ulama yang membolehkan!”

Akhirnya kaum mu’tazilah akan berkata biarkanlah kami menolak sifat-sifat Allah dan kami katakan al-Qur’an adalah makhluk, toh ada ulama yang menyatakan demikian!

Akhirnya muncul kaum liberal dan berkata “Buat apa diributkan antara Nashrani dan Islam, toh Nashrani juga agama tauhid, mereka juga meyakini Tuhan esa hanya saja cara pengungkapan yang berbeda yaitu trinitas!”

Atau berkata; “Buat apa diperdebatkan masalah aqidah, toh yang penting niatnya dan akhlaknya baik!”

Permasalahan khilafiyah ada yang bisa ditolerir dan ada yang tidak boleh ditolerir bahkan wajib diingkari.

Kalau permasalahan al-Quran makhluk harus ditolerir maka begitu bodohnya Imam Ahmad bertahan mempertahankan aqidahnya hingga dipenjara dan disiksa…?! Semuanya karena beliau tidak mentolerir.

Entah sebagian kita yang selalu mentolerir yang lebih pandai ataukah Imam Ahmad?

(Ustadz Firanda Andirja)

Membid’ahkan Perbuatan vs Membid’ahkan Orangnya

Membid’ahkan perbuatan tidak sama dengan membid’ahkan orangnya.
Mengatakan suatu perbuatan termasuk bid’ah itu BOLEH, meskipun dalam hal itu ada perbedaan pendapat. Karena bid’ah-sunnah, halal-haram, mubah-makruh, semua itu masuk domain/wilayah khilafiyah.


Adapun membid’ahkan orang, maknanya adalah menyatakan bahwa orang tersebut mubtadi’ atau ahli bid’ah. Maka ini hanya boleh untuk masalah yang disepakati (mujma’ ‘alaihi), bukan pada masalah khilafiyah ijtihadiyah. Itupun ada kaidahnya tersendiri, tidak otomatis.
Sehingga dalam masalah khilafiyah: Boleh membid’ahkan suatu perbuatan/ibadah, namun tidak boleh membid’ahkan pelakunya.

Jangan sampai kebablasan dengan mengatakan: “Tidak boleh membid’ahkan qunut subuh.”, ini salah paham dan salah kaprah. Yang tidak boleh dibid’ahkan adalah pelakunya. Adapun bid’ahnya qunut subuh ini adalah salah satu pendapat ulama yang mu’tabar.

Kemudian, terkait bolehnya bermakmum dan mengikuti imam yang qunut hal ini karena terdapat dalil yang menyatakan bahwa imam itu untuk diikuti. Oleh karena itu para ulama menyatakan sah shalat di belakang orang yang berbeda madzhab, bahkan walaupun shalat imam tersebut tidak sah jika dipandang menurut madzhab makmum.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Blog at WordPress.com.

Up ↑