Jangan Sampai Diammu Dianggap Setuju

Ketika para pemuka agama di masyarakat (tgk; kiyai; tuan guru; dll) diam saat kemaksiatan berlangsung di hadapan mereka, padahal sdh dijelaskan di kitab yang mereka pelajari bahwa itu maksiat.

Akibatnya, ketika suatu saat nanti ada yang mengingkari dengan memakai penjelasan kitab tsb.
Maka, akan terdengar jawaban:

“Dari dulu kami sudah melakukanya, gak ada kiayi yang larang. Kok, kamu anak kemaren sore, ngelarang kami. Emang kamu lebih paham isi kitab dari tuan guru kami? Dasar ” Wahabi”.

Sungguh engkau akan bertanggung jawab atas “diam” mu yang dianggap sebagai persetujuan oleh masyarakat.

Syubhat Multitafsir atas Al Qur’an

Ada orang berkata: “Al-Qur’an itu terbuka, multitafsir, bisa ditafsirkan oleh siapa saja.”

Kalimat ini jika ditelan mentah-mentah dapat menyesatkan.

Pertanyaannya: “Apakah Allah menugaskan anda untuk menafsirkan atau menjelaskan Al-Qur’an?, apakah Allah memberikan mandat pada kita untuk menjelaskan Al-Qur’an ?”

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan Aż-Żikr (Al-Qur`ān) kepadamu, agar engkau enerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada merekadan agar mereka memikirkan
( Qs.An-Nahl 44 ).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ

Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur`ān) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
( Qs.An-Nahl 64 ).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا

Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali ( Qs.An-Nisa 115 ).

Dua ayat di atas menerangkan tentang tugas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu menjelaskan AlQur’an, dan ayat ketiga menjelaskan keharusan kita mengikuti para sahabat radhiallahu anhum.

Oleh karena itu setiap penafsiran yang meyelisihi penafsiran Rasul dan para sahabatnya, maka itu adalah penafsiran yang menyimpang.

Semoga Allah memberikan taufiqNya dan memudahkan kita untuk mempelajari ilmu Ushul tafsir.

Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi

Jasad Jenazahmu Bukan Urusanmu

Ada yg mengeluhkan:
“saya gak mau berbeda dg masyarakat. Krn kalau beda, nnt jika saya mati, gak ada yang mau ngurus jenazah saya.”

Akhirnya membuat dia ikut tradisi syirik ataupun bid’ah di masyarakat tersebut, kerena kekhawatiran itu.

Seorang sahabat, Abdullah bin Zubair, pernah mengeluhkan kepada ibundanya, Asma binti Abi Bakar, ketika beliau dikepung oleh pasukan Hajjaj.

Beliau berkata, “Bu, aku khawatir bila aku dibunuh nanti, mereka akan mencincang jasad jenazahku”.

Ibundanya pun menjawab, dengan memberikan sebuah ungkapan,

لا يضر الشاة سلخها بعد ذبحها
” Seekor kambing yg sudah disembelih tidak akan merasakan sakit ketika dikuliti”

Pikirkan bagaimana amalanmu selama hidup agar diterima Allah setelah engkau mati.

Adapun jasadmu, untuk dimandikan; dikafankan; disholatkan; dikuburkan; itu tugas orang yg masih hidup. Jika mereka tidak melaksakan fardhu kifayah tsb, maka yg dosa mereka semua, bukan kamu.

Ustadz Yasir Kencong

Islam, Arab dan Nusantara

Islam datang untuk mengislamkan bangsa Arab dan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam ditentang kaumnya karena Islamisasi ini. Yang didakwahkan Nabi kita adalah mengislamkan Arab, bukan meng-Arabkan Islam.

Islam terlalu sempurna untuk dipaksakan mengikuti adat dan budaya bangsa fulan atau suku ‘allan. Adat dan budaya Arab yang baik tidak dilarang oleh Islam, namun yang menyelisihi Syari’at Islam seperti penyembahan berhala, tamimah (jimat), mengubur anak perempuan hidup-hidup, membuka aurat dlsb maka Allah dan Rasul-Nya larang dan diarahkan menuju yang lebih baik.

Jika di Indonesia ada aliran nusantara yang mendakwahkan, “Mengindonesiakan Islam, bukan mengislamkan Indonesia.”, Nabi siapa yang mereka teladani?

Ustadz Abu Razin Taufiq

“Kalian Silakan Poligami, Selama Bukan Suamiku”

Hadits yang kerap dibawakan oleh beberapa dai yang terkesan kurang mendukung praktik poligami (untuk dirinya maupun jemaah) adalah hadits ancaman bagi pria yang tidak berbuat adil antar istri. Hadits itu pula yang lebih dipertimbangkan oleh sebagian ummahat, sebagai tameng agar suami mereka tidak pernah berniatan poligami, meskipun boleh jadi itu kebutuhannya. Hadits itu pula yang lebih dititikberatkan oleh sebagian pria muslim yang mapan, mampu dan butuh poligami demi menghindari kemunkaran lebih besar.

Bagaimana dengan hadits berikut:

«ما من عبدٍ استرعاه الله رعية فلم يحطها بنصيحة إلا لم يجد رائحة الجنة»

“Tidaklah ada seorang hamba yang diberikan tugas oleh Allah untuk memelihara suatu pihak yang dipimpin, lalu ia tidak melakukan sesuai dengan petunjuk melainkan ia tidak memperoleh aroma surga.” [H.R. Al-Bukhary]

Dijelaskan oleh sebagian ahli ilmu:

ويَشمَلُ كذلك الرَّجُلَ في بيتِه والمرأةَ في بيْتِها، فقصَّر في حَقِّ رَعِيَّتِه، ولم يَرْعَهَا ويَنصَحْ لها، فضَيَّعَ حُقوقَها الدِّينيَّةَ والدُّنيويَّةَ؛ فعُقوبتُه عند اللهِ شَديدةٌ، وهي: ألَّا يَشَمَّ رائحةَ الجنَّةِ التي تُشَمُّ مِن مَسافةِ سَبعينَ سَنَةً

“(Ancaman itu) mencakup pula suami atau istri di rumah. Baik suami maupun istri, kurang cakap dalam memenuhi hak rakyatnya (anak); dengan tidak memperhatikan dan memberikan arahan. Maka hak agama dan dunia anak tidak tertunaikan. Hukuman di sisi Allah begitu besar yaitu tidak mencium aroma surga yang sebenarnya bisa tercium dari jarak perjalanan sejauh 70 tahun.” [https://dorar.net/hadith/sharh/13372]

Jika hadits itu diberikan kepada sepasang suami istri yang ingin punya anak, apakah pantas sebagai ancaman agar jangan sampai punya anak, karena pertanggungjawabannya berat kelak? Terlebih anak bisa saja lebih dari 1. Sebagian punya anak 5 bahkan lebih. Berapa kali lipat pertanggungjawabannya?!

Atau sekalian ancaman agar tidak nikah sekalian? Karena suami akan diminta pertanggungjawaban akan istrinya.

Tetapi kenapa pada menikah?!
Jika mereka katakan: ‘menikah (pertama) untuk lajang dan mojang itu kan diperintahkan oleh Nabi?!’
Kita katakan: ‘menikah (kedua ketiga keempat) juga ada syariatnya dan contohnya oleh Nabi langsung dan para salaf. Bahkan, itu bukan hal yang dianggap tabu, ganjil dan sensitif, sebagaimana tinjauan masyarakat sekarang yang sudah cukup terkontaminasi.’

Selama memang butuh, dan memenuhi syarat bisa berbuat adil, maka semoga semua dipermudah. Kalau dikatakan bahwa itu akan berat pertanggungjawabannya, maka Anda punya istri, anak, mobil, rumah, semua itu pun juga bisa berat pertanggungjawabannya. Adakalanya berpoligami namun lebih aman dan selamat dari godaan dan fitnah, justru lebih ringan hisabnya daripada tidak berpoligami namun tidak aman dari fitnah bahkan rajin bertengkarnya. Yang terceritakan tentang praktek poligami selama ini rata-rata kegagalan sebagian praktisi. Yang berhasilnya dan teduhnya tidak dikisahkan, melainkan ditutupi, di-blacklist oleh sebagian ummahat bahkan boleh jadi dikorek-korek oleh pemulung sampah.

Tulisan ini bukan merupakan suatu dukungan untuk para pria yang disebut sebagian ulama sebagai jabban (pengecut) atau yang tahu diri belum siap berbuat adil. Sebaiknya yang seperti ini tentu mencukupkan satu saja. Dan tidak semua yang tidak atau belum berpoligami berarti pengecut.

Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi hidayah pada kaum Muslimin akan hal ini, dan semoga kelak poligami benar-benar menjadi solusi terbaik untuk banyak kemerosotan moral, hancurnya ekonomi sebagian keluarga dan keberkahan tersendiri untuk banyak dari janda yang diuji kehidupannya.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Persatuan Semu

Persatuan ala pemain judi, kelihatannya rukun duduk dalam satu meja padahal dalam hati mereka masing² saling ingin menjatuhkan. Ini juga persatuan ala yahudi seperti yg disebutkan oleh Firman Allaah ta’aala:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

“Kamu mengira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah”

(QS. Al Hasyr: 14)

Beginilah persatuan hizbiyyah, mau tahlil atau tidak tahlil silahkan, mau tahlil /dzikir sambil goyang triping yo silahkan, semau mereka. Yang HT mau setiap hari njelek-jelekkin pemerintah silahkan, yang HT mau tidak percaya dengan adzab kubur juga silahkan. Yang syi’ah mau bacok-bacok demi menghormati kematian al Husein ya silahkan, tak usahlah dipermasalahkan (padahal dalamm hatinya mengingkari semua itu atau setidaknya mengingkari salah satunya), karena setiap kelompok punya bid’ahnya masing-masing dan masing-masing saling menganggap baik bid’ahnya sendiri.

Sobat,.

Persatuan itu memang penting, namun dikala kita harus berpecah karena berselisih setelah datangnya kebenaran, maka mempertahankan kebenaran lebih penting ketimbang persatuan.

Di saat kebenaran datang kita ma’lum manusia akan terpolar pada dua poros yang saling beroposisi, satu pihak akan menerima kebenaran dan satu pihak akan bertahan diatas kebathilan, maka kebenaran memang tidak dapat bersatu dengan kebathilan.

Faishal Abu Ibrahim

Sebut Saja Agama Nusantara

“Islam kita ya bukan Islam Arab. Islam kita sesuai konteks nasional dan kenusantaraan. Islam kita ya Islam Indonesia.”


Beginilah, terkadang seseorang lebih bodoh dibandingkan hewan peliharaannya (أجهل من حمار أهله). Memangnya Islam versi nusantara itu sudah memproduksi hukum apa? Wong nama agamamu sendiri (Islam) itu dari bahasa Arab. Coba gantilah dengan nama lokal. Artikan Islam ke Bahasa Indonesia.
Islam makanya: (1) Keselamatan, atau (2) Menyerahkan Diri.


Namakan agamamu jadi agama Keselamatan. Bukan Islam. Ya tetap blunder. Karena kata ‘selamat’ dari bahasa Arab (سلامة).

Atau namakan agamamu jadi agama Menyerahkan Diri. Bukan Islam. Ya blunder lagi. Karena ‘menyerahkan’ berasal dari kata ‘serah’ yang itu juga dari bahasa Arab (سراح) dengan arti ‘melepas’.
Ganti saja dengan sebutan Agama Nusantara.

Jangan hanya berlepas diri dari sisi penamaan, melainkan juga keyakinan dan hukum. Kembali ke teologi animisme dinamisme karena itu kunyahan agama asli nenek moyang(mu). Juga ritual jangan pakai bahasa Arab.

Pluralisme dengan kedok nusantara. Next time, apa lagi ganti nama? Kedoknya nusantara, pakaiannya budaya dan alasannya toleransi. Lagu ini diulang-ulang. Polanya serupa. Ajhal min himari ahlih.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Tawasul, Penghuni Kubur dan Syirik Akbar

Baru dikirimin video seorang habib yang mengatakan bahwa meminta kepada Allah itu harus melalui dan melewati orang yang telah mati sebagai perantara dan jembatan (wasilah) agar dikabulkan, karena jika tidak akan dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla doa permintaan dan permohonannya sebab banyak dosa, karenanya harus menjadikan orang shalih yang telah mati sebagai perantara dan jembatan.
.
Tipikal ahlu syirik yang berjubah Islam yang menyelewengkan tawasul /sasilah itu harus melalui dan melewati orang yang telah mati sebagai perantara dan jembatan dalam doa memohon kepada Allah Azza Wa Jalla. Ini sama saja meminta dan memohon pertolongan kepada orang yang telah mati agar memberikan manfaat untuk menjadi perantara memohon kepada Allah Azza Wa Jalla, dan itu adalah syirik akbar.
.
Jika mengatakan tidak diterima lantaran banyak dosa, sungguh, iblis saja yang dinyatakan kafir oleh Allah Azza Wa Jalla didengar doanya dan dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla doanya.
.
Berdoalah langsung kepada Allah Azza Wa Jalla. Dia Dzat Yang Maha Mendengar dan tidak membutuhkan perantara. Jangan dengarkan ahlu syirik berjubah Islam
.
Atha bin Yussuf

Tuduhan Khawarij kepada Salafi

Diantara salah satu jurus jitu buatan SYI4H dan Sufi kepada orang awam adalah menyamakan “Wahabbi/Salafi” dengan “Khawarij” karena dendam mereka kepada Dakwah Tauhid Syaikh Abdul Wahhab rahimahullah, yang dengannya dapat merebut kembali Mekkah dan Madinah dari kekuasaan tangan mereka.
.
Kemudian dikembangkanlah isu bahwa “Wahabbi /Salafi” itu anti pemerintahan dan suka berontak kepada pemimpin yang sah sebagaimana “Khawarij” dengan alasan Ibnu Su’ud dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah memberontak kepada Turki Utsmani.
.
Cuy! Baca sejarah, jangan mau dibodohi macam sapi dicucuk hidungnya, Kerajaan Dir’iyyah itu, tempat Ibnu Su’ud dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah itu tidak dibawah kekuasaan Turki Utsmani. Jadi bukan memberontak kepada pemimpin yang sah.
.
Di bagian mana “Wahabbi /Salafi” mengajarkan boleh memberontak kepada pemimpin yang sah meskipun dzalim. Demo saja saja diharamkan.
.
Sampai kapan elo semua hidup terus dibohongin ? Makanya belajar !
.
Manusia yang baik adalah yang terus berkembang menjadi lebih baik dalam hal kehidupan dan agamanya, adapun manusia tolol itu yang hanya berputar disatu titik saja tanpa mau berkembang menjadi lebih baik dalam perkara agamanya dan kehidupannya.
.
Atha bin Yussuf

Doa Mengubah Takdir?


.
Bismillahirrahmanirrahim
.
Banyak yang masih keblinger mengenai Doa dapat merubah takdir yang akhirnya berujung kepada pemahaman Qadariyyah bahwasannya Takdir belum ditulis dan baru akan ditulis setelah hamba-Nya melakukan ikthiar. Inna Lillahi Wa Inna Ilayhi Raji’un
.
PERTAMA : yang harus dipahami adalah bahwasannya takdir telah ditulis dan ditetapkan 50,000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi oleh Allah Azza Wa Jalla.
.
Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin ‘Amru bin ‘Abdullah bin Sarh : telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb : telah mengabarkan kepadaku Abu Hani Al Khalwani dari Abu ‘Abdur Rahman Al Hubuli dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
“Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” Rasulullah menambahkan : “Dan Arsy Allah itu berada di atas air.”
.

  • HR. Muslim no. 4797 | Syarh Shahih Muslim no. 2653, Tirmidzi no. 2082 | no. 2156, Al-Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/327 no. 1026 dan Ahmad no. 6291. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim
    KEDUA : Takdir yang telah ditetapkan dan ditentukan 50,000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi oleh Allah Azza Wa Jalla tidak dapat dirubah sebagaimana pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.
    .
    Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Musa : telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak : telah mengkhabarkan kepada kami Laits bin Sa’ad dan Ibnu Lahi’ah dari Qais bin Al Hajjaj berkata : dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman: telah mengkhabarkan kepada kami Abu Al Walid : telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’ad telah menceritakan kepadaku Qais bin Al Hajjaj -artinya sama- dari Hanasy Ash Shan’ani, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku pernah berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, beliau bersabda,
    .
    “Hai nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya dihadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (maksudnya takdir telah ditetapkan).”
    .
  • HR. Tirmidzi no. 541 | no. 593. Hasan Shahih
    .
    DAN MAKSUD DOA DAPAT MERUBAH takdir sebagaimana di dalam hadits hasan dibawah ini
    .
    Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad : telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abdullah bin Isa dari Abdullah bin Abu Al Ja’d dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Tidaklah akan bertambah umur (seseorang) kecuali dengan kebaikan, dan tidaklah akan dapat menolak takdir kecuali doa. Sesungguhnya seseorang akan ditahan rizkinya karena dosa yang dia lakukan.”
    .
  • HR. Ibnu Majah no. 4012 | no. 4022 dan Ahmad no. 21379. Hasan. Lafazh dan sanad di atas milik Ibnu Majah
    .
    IALAH bahwasannya tidaklah Allah Azza Wa Jalla telah menakdirkan atau menetapkan, menentukan dan menuliskan takdir hamba-Nya KECUALI juga telah ditakdirkan, ditetapkan, ditentukan dan dituliskan sebab-sebabnya yang sebab itu juga telah ditakdirkan, ditetapkan, ditentukan dan dituliskan oleh Allah Azza Wa Jalla.
    .
    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
    .
    وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ (96)
    .
    “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
    .
  • QS. Ash Shaffat [37] : 96
    .
    Telah menceritakan Abu An-Nadhr Muhammad bin Yusuf Al Faqih kepada kami : telah menceritakan Utsman bin Sa’id Ad Darimi kepada kami, telah menceritakan Ali bin Al Madini kepada kami : telah menceritakan Marwan bin Muawiyah kepada kami, Abu Malik Al Asyja’i menceritakan kepada kami dari Rib’i bin Hirasi, dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Allah adalah pembuat (pencipta) setiap orang yang berbuat sekaligus perbuatannya.”
    .
  • Al Hakim no. 85, Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/199 no. 942 dan Al Bukhari, Khalq Af’al Al Ibad no. 137. Shahih. Ash-Shahihah no. 1637. Lafazh dan sanad di atas milik Al Hakim.
    .
    Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdullah bin Mubasysyir, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinan, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il Al Jabbbuli, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyyah, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Malik, dari Rib’i bin Khirasy dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Allah menciptakan setiap orang yang berbuat sekaligus perbuatannya.”
    .
    Al Fazari berkata : “Maksudnya menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.”
    .
  • Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/200 no. 943 dan Al Hakim no. 86, Al Hakim rahimahullah berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim, namun keduanya (Al Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya (dalam Shahihnya).” Shahih. Ash Shahihah no. 1637. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dari Ya’qub bin Humaid dari Marwan dengan redaksi yang sama dalam As Sunnah no. 358 dan juga dari Al Fudhail bin Sulaiman dari Marwan dengan redaksi yang sama dalam As-Sunnah no. 357 sebagaimana juga yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Syaikh Ahmad bin Sa’ad bin Hamdan Al Ghamidi mengatakan : “Jalur periwayatannya tidak masalah”. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan : “Jalur periwayatannya Jayyid.”. Lafazh dan sanad di atas milik Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/200 no. 943
    .
    Maka, perbuatan berdoa itu adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Azza Wa Jalla, dan takdir itu pasti terjadi. Atas kehendak Allah-lah terjadi dan tercegahnya segala sesuatu. Dia juga yang menakdirkan dan mencegah segala sesuatu baik dengan sebab doa, sedekah, atau amal shalih. Dan Dia menjadikan perkara-perkara ini sebagai sebab-sebab dari semua itu (rezeki, panjang umur, dll), yang tidak lepas dari ketetapan-Nya.
    .
    Sederhananya, orang yang memiliki hidup yang sempit kemudian dia berdoa agar diluaskan rezekinya dan terus melakukan ikthiar. Takdir ia berdoa pada saat itu sudah dituliskan dan takdir ia melakukan ikthiar pun juga sudah dituliskan, kemudian hasil dari apa yang menjadi doanya pun juga telah dituliskan dalam takdirnya.
    .
    Jadi jangan keblinger lagi kalau Takdir belum ditulis macam Qadariyyah.
    .
    Atha bin Yussuf

Blog at WordPress.com.

Up ↑