Senangnya Punya Anak Perempuan

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Di antara orang-orang yang “setengah dijamin” masuk surga adalah mereka yang oleh Allah ditakdirkan memiliki 2 anak perempuan.

Orang yang diberi 2 anak perempuan, lalu diurus sebaik-baiknya, dibesarkan dengan kasih sayang, diajari hingga mandiri, dan dididik sampai menjadi salihah maka amalnya terhadap dua putrinya tersebut akan mengantarkannya ke surga. Al-Bukhārī meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad sebagai berikut,

«عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ ‌مُسْلِمٍ ‌تُدْرِكُهُ ‌ابْنَتَانِ، ‌فَيُحْسِنُ صُحْبَتَهُمَا، إِلَّا أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ”». [«صحيح الأدب المفرد» (ص57)]

Artinya,

“Dari Ibnu Abbās dari Nabi ﷺ beliau bersabda, “Tidaklah ada seorang muslim yang mendapatkan 2 anak putri, lalu mengurusnya dengan baik kecuali kedua putrinya tersebut akan memasukkannya ke dalam surga” (al-Adab al-Mufrad hlm 57)

Jangan pernah meremehkan amal mendidik anak perempuan.

Mendidik anak perempuan itu tidak mudah.

Apalagi di zaman penuh fitnah semacam ini.

Zaman di mana freesex sudah merajalela, narkoba mudah didapatkan, internet yang mengajarkan akhlak buruk mudah diakses, wanita bisa kontak dengan lelaki manapun hanya dengan ponsel dari kamar mereka, dan bisa pergi kemanapun hanya dengan grab/gojek, maka mendidik anak perempuan di zaman edan seperti ini sungguh benar-benar tugas yang tidak mudah.

Orang tua tidak hanya harus berjibaku mencari nafkah menyediakan uang untuk biaya makan, pakaian dan tempat tinggal mereka. Tetapi juga harus memikirkan biaya pendidikan yang terus naik dan biaya kesehatan yang tak terduga, sementara penghasilan bagi rumah tangga tertentu juga tidak selalu jelas. Juga harus rajin-rajin berdoa, menangis di tengah malam, dan menghiba-hiba kepada Sang Pencipta, agar menjaga anak-anak putrinya, agar melindungi anak-anak putrinya, agar selalu memberi petunjuk jalan yang lurus sehingga anak tidak terpengaruh semua pergaulan yang menjerumuskan.

Bukan kah banyak orang tua yang berangkat pagi pulang malam, sampai lembur-lembur dan begadang demi anak?

Apalagi jika yang mengurus anak perempuan adalah janda. Yang ditinggal mati suaminya. Yang dicerai suaminya. Yang dihianati suaminya. Yang berjuang sendirian dengan segala keterbatasannya sebagai seorang wanita. Yang kadang dilecehkan lelaki, diberi harapan palsu, dipermainkan perasaannya, bahkan ditipu dan disakiti setelah segala madunya dihisap.

Sungguh benar-benar tidak mudah mengurus anak-anak perempuan.

Oleh karena itu, sungguh wajar jika balasannya sangat besar. Yakni dijanjikan masuk surga karena amal membesarkan 2 anak putri tersebut.

Hanya saja, di awal tulisan saya beri penekanan bahwa mengurus 2 anak perempuan itu “setengah dijamin masuk surga”. Bukan pasti masuk surga. Jaminan masuk surga bagi orang yang diuji dengan 2 anak wanita sudah jelas dinyatakan dalam hadis. Tetapi pelaksanaannya masih harus dikembalikan kepada orang tua yang mendapatkan amanah tersebut.

Jika orang tua bisa mengatur niatnya bahwa membesarkan anak perempuan adalah amanah dari Allah dan punya misi mensalihahkan anak tersebut, maka insya Allah dapat janji penuh dalam hadis itu. Tapi jika niatnya adalah untuk memburu kebanggaan, pamer pada manusia, berharap dirawat anak di masa tua atau motif-motif duniawi yang lain, maka di akhirat dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Pertanyaannya, “Bagaimana jika yang diurus bukan 2 anak perempuan tapi bahkan 3 atau lebih?”

Jika dua anak perempuan saja sudah mendapatkan janji masuk surga, maka diuji 3 anak perempuan lebih layak lagi mendapatkan janji tersebut. Lebih-lebih ada hadis sahih yang memang menyebut mengurus 3 anak perempuan dipastikan akan masuk surga. Apalagi jika putrinya 4 atau lebih dari itu.

Lebih-lebih jika yang mengurus ini seorang janda atau wanita yang karena sebab tertentu harus mengurus anak sendirinya. Ada hadis sahih yang juga lugas menjamin wanita yang tabah mengurus 2 anak putrinya karena Allah dengan segenap kemiskinannya, bahwa dia juga dipastikan akan masuk surga. Muslim meriwayatkan,

عَنْ ‌عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: « جَاءَتْنِي مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً، وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا، فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا، فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ ‌أَوْجَبَ ‌لَهَا ‌بِهَا ‌الْجَنَّةَ، أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ .». [«صحيح مسلم» (8/ 38 ط التركية)]

Artinya,

“Dari ‘Aisyah dia berkata: “Telah datang kepadaku seorang wanita miskin yang membawa dua anak perempuan, lalu saya memberinya makan dengan tiga buah kurma, wanita tersebut memberikan kurmanya satu persatu kepada kedua anaknya, kemudian wanita tersebut mengangkat satu kurma ke mulutnya untuk dia makan. Tapi, kedua anaknya meminta kurma tersebut, akhirnya dia pun memberikan (kurma) yang ingin ia makan kepada anaknya dengan membelahnya menjadi dua. Saya sangat kagum dengan kepribadiannya. Lalu saya menceritakan apa yang diperbuat oleh wanita tersebut kepada Rasulullah ﷺ . Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadanya untuk masuk surga atau membebaskannya dari neraka.” (H.R.Muslim)

Jadi, engkau para wanita yang mungkin disakiti suami, atau ditinggal pergi, atau ditinggal wafat atau dikhianati dan punya 2 putri, sekarang engkau punya tujuan hidup yang jelas dan terarah. Fokuslah mensalihkan 2 putri tersebut hingga dewasa. Walaupun mungkin harus mengorbankan sebagian kebahagiaanmu. Setelah itu tunggu memetik hasilnya di akhirat. Karena Allah akan menikahkanmu di surga dengan lelaki saleh yang membuatmu 1000 kali melayang bahagia daripada dilamar lelaki di dunia.

CATATAN

Untuk mereka yang hanya memiliki 1 putri, jangan khawatir. Ada juga hadis yang menyebut janji yang sama untuk satu putri. Hanya saja, kebanyakan riwayat menyebut putri lebih dari satu sehingga punya anak putri lebih dari satu memang memiliki keutamaan lebih dibandingkan yang hanya satu.

Muafa

Melepas Jilbab Berarti Melepas Kemuliaan Wanita

Jilbab bukanlah sebuah pilihan, tetapi memakainya adalah kewajiban wanita. Siap atau tidak siap hati seorang wanita, ketika sudah berusia baligh, seorang wanita wajib berjilbab. Tidak ada alasan untuk tidak memakainya, itu semua hanya alasan yang dibuat-buat saja dan tidak masuk akal.

Ketika ada seorang wanita yang tidak berjilbab dan ia paham benar kewajiban ini, atau ketika ada seorang wanita yang bahkan melepas jilbabnya setelah sebelumnya memakai, maka khawatirkan lah dirinya. Allah telah memberikan jalan petunjuk dan hidayah yang sangat mahal, kemudian ia menyimpang, bisa jadi Allah simpangkan ia selama-lamanya. Allah tidak akan menoleh peduli padanya lagi, wal’iyadzu Billah

Allah berfirman,

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺯَﺍﻏُﻮﺍ ﺃَﺯَﺍﻍَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻗُﻠُﻮﺑَﻬُﻢْ

Maka ketika mereka melenceng (dari jalan yang lurus) niscaya Allah lencengkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaff/61:5)

Jilbab itu untuk melindungi kehormatan dan menjaga wanita dari gangguan laki-laki dan keinginan laki-laki yang hanya cinta karena kecantikan saja.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيم

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab : 59)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

يقول تعالى آمرا رسوله، صلى الله عليه وسلم تسليما، أن يأمر النساء المؤمنات -خاصة أزواجه وبناته لشرفهن -بأن يدنين عليهن من جلابيبهن، ليتميزن عن سمات نساء الجاهلية وسمات الإماء

“Allah Ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar dia menyuruh wanita-wanita mukmin, istri-istri dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Apakah para wanita ingin jika:

“Ketika kecantikan mulai luntur, maka luntur juga cinta suaminya”

Tentu tidak ada yang wanita yang seperti ini. Bukankah keinginan terbesar wanita adalah cinta tulus suaminya, cinta yang tidak hanya karena kecantikan saja. Betapa banyak seorang istri bergelimang kemewahan dunia, harta dan perhiasan dunia, akan tetapi hati dan jiwanya kering karena suaminya sudah tidak cinta dan sudah sayang lagi, bahkan ia mendapatkan kedzaliman dari suami mereka, karena para laki-laki jika sudah tidak cinta lagi pada istrinya, cenderung akan mendzalimi atau tidak memperdulikan lagi.

Cinta tulus tersebut hanya abadi jika cinta karena agama dan akhlak. Ketauhilah para wanita:

“Kecantikan fisik membuat mata suami betah menetap, akan tetapi kecantikan agama dan akhlak membuat betah menetap bersama selamanya”

Cinta tersebut akan abadi selamanya jika karena Allah, bukan cinta “sehidup-semati” tetapi cinta sehidup-sesurga”.

ما كان لله أبقي

“Apa-apa yang karena Allah maka akan kekal selamanya”

Ancaman bagi wanita yang sudah baligh dan tidak berjilbab cukup keras, yaitu tidak mencium bau surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Segeralah wahai wanita, kenakan pakaian kehormatan dan kemuliaanmu. Kami mendoakan, semoga semua wanita muslimah sadar dan kembali ke agama mereka.

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslim.or.id

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/34261-melepas-jilbab-berarti-melepas-kemuliaan-wanita.html

Urgensi Mengenalkan Properti dalam Keluarga Inti


Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Seorang lelaki tua renta menjelang kematiannya memanggil salah satu anaknya lalu berkata,
“Anakku, tanah tempat berdiri rumah kita ini diminta kembali oleh anak-anak pakdhemu. Bagaimana pendapatmu?”
Sang anak dengan keheranan hanya menjawab pasrah,
“Kalau diminta ya sudah pak, tidak mengapa berikan saja”.
Setelah itu lelaki tua itu wafat dengan meninggalkan sebidang tanah dengan rumah yang berdiri di atasnya.
Beberapa saat kemudian, datanglah “si anak-anak pakdhe” tersebut. Cocok dengan “sounding” almarhum, mereka datang untuk “meminta kembali” tanah.

Tidak semua tanah yang diminta, hanya sebagian saja.
Ada kesan bahwa sekitar separuh dari tanah itu adalah hak milik “si anak-anak pakdhe”, sementara separuh sisanya dan bangunan rumah adalah hak milik almarhum. Jika benar hak almarhum hanya separuh tanah dan bangunan rumah, berarti hanya itulah yang bisa diwariskan untuk anak-anaknya.
Tapi sang anak almarhum heran.
Jika benar itu hak “si anak-anak pakdhe”, mengapa baru diminta saat almarhum menjelang wafat?
Sang anak juga heran, karena sertifikat tanah dan rumah jelas tertulis atas nama almarhum.
Saat “si anak-anak pakdhe” dikonfrontasi dengan fakta keabsahan sertifikat tersebut, mereka mengklaim bahwa almarhum memalsukan tanda tangan sehingga bisa memiliki sertifikat atas namanya.
Sang anak makin bingung, sebenarnya bagaimana sejarah tanah dan rumah tersebut?
Apakah tanah itu sebelumnya hak penuh “si pakdhe” lalu dihibahkan separuh untuk almarhum?
Ataukah tanah itu milik “si pakdhe” lalu dijual kepada almarhum tapi baru lunas separuh?
Ataukah sebenarnya “si pakdhe” hanya berhak separuhnya, lalu karena kasihan melihat adiknya miskin, kemudian mengizinkan dipakai oleh sang adik (almarhum) hingga sang adik beranak cucu dan sampai “si pakdhe” wafat juga tidak diterangkan kepada anak-anaknya?
Bagaimana sebenarnya status penggunaan tanah itu?

Semuanya gelap.
Sang anak tidak tahu sejarahnya.
Yang ditahu anak hanyalah pertanyaan almarhum menjelang wafat,
“Anakku, tanah tempat berdiri rumah kita itu diminta kembali oleh anak-anak pakdhemu. Bagaimana pendapatmu?”
Sebuah pertanyaan yang memberi kesan bahwa “anak-anak pakdhe” memang punya hak. Sebab andai tidak punya hak, nada pertanyaannya mungkin sudah emosi. Orang umumnya marah atau minimal jengkel jika ada orang lain yang tidak punya hak dengan seenaknya ingin menguasai harta yang bukan haknya.
Juga hanya tahu bahwa sepupu-sepupunya datang untuk “meminta kembali” sebagian tanah yang ditempati mereka.
Karena kasus ini, akhirnya hubungan di antara dua keluarga itu berpotensi kurang enak. Sebab anak-anak almarhum bukan orang-orang yang kaya sehingga bisa dengan mudah menyelesaikan perselisihan itu memakai hartanya. Anak-anak “si pakdhe” juga heterogen, ada yang kaya dan ada yang kurang sehingga masih terasa berat untuk merelakan sebagian tanah yang ditempati almarhum dan anak-anaknya.

  • Kasus ketidak jelasan sejarah properti dalam satu unit keluarga seperti di atas cukup sering terjadi. Dampak dari kasus tersebut berpotensi membuat hubungan kekerabatan jadi merenggang, silaturahmi terancam putus dan ketegangan antar keluarga jadi muncul.
    Oleh karena itu, fakta-kata semisal itu di masyarakat seharusnya menyentak kesadaran kita agar dalam mendidik anak itu kita harus mengagendakan untuk mengajarkan pengetahuan tentang properti yang dimiliki. Bukan dengan maksud menumpuk kecintaan terhadap harta, juga bukan untuk mengajarkan sifat “kemaruk” bin tamak terhadap dunia, tetapi mengajarkan sejarah properti dan pengetahuan tentangnya semata-mata dengan semangat ketakwaan. Yakni menghindari kezaliman, memperjelas hak+kewajiban, menghindari konflik, memecahkan problem, dan meringankan yang sudah ada di kuburan. Jika posisi kita sebagai anak dan melihat orang tua kurang memberi perhatian terhadap pengenalan properti, maka kita yang harus pro aktif dan mencari tahu sejarah semua properti orang tua, agar saat beliau wafat tidak sampai terjadi masalah antar keluarga gara-gara warisan hanya karena tidak mengerti sejarah propertinya.
    Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada kita untuk memburu apapun yang bermanfaat untuk urusan dunia maupun akhirat kita. Mencari tahu sejarah properti orang tua termasuk hal bermanfaat karena bisa mencegah salah paham, memecahkan problem, memblokir kezaliman, mengurai keruwetan, meringankan beban orang dan membantu ketakwaan. Oleh karena itu, belajar sejarah properti orang tua termasuk mengajarkannya kepada anak harus menjadi salah satu agenda dalam hidup kita. Rasulullah ﷺ bersabda,

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ». «صحيح مسلم» (8/ 56 ط التركية)
Artinya,
“Seriuslah terhadap segala hal yang bermanfaat bagimu” (H.R.Muslim)
Mengomentari hadis ini, Abu al-‘Abbas al-Qurtubi menjelaskan maknanya sebagai berikut,

«استعمل الحرص ‌والاجتهاد ‌في ‌تحصيل ما تنتفع به في أمر دينك ودنياك التي تستعين بها على صيانة دينك، وصيانة عيالك، ومكارم أخلاقك، ولا تفرط في طلب ذلك، ولا تتعاجز عنه متكلا على القدر، فتنسب للتقصير، وتلام على التفريط شرعا وعادة». «المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم» (6/ 682)
Artinya,
“Bersungguh-sungguhlah untuk mengoleksi apapun yang bermanfaat bagimu baik urusan din maupun duniamu, yang dengannya engkau bisa menggunakannya untuk menjaga dinmu, menjaga keluargamu/ tanggunganmu dan kemuliaan akhlakmu. Jangan melalaikan memburu hal seperti itu dan jangan lemah dengan alasan pasrah dengan takdir. Jika engkau seperti itu, maka engkau dianggap lalai dan dicela karena kelalaian itu baik secara syar’I maupun secara tradisi” (al-Mufhim, juz 6 hlm 682)

Adapun properti yang dikenalkan, maka cukup yang besar-besar saja. Yakni properti yang punya potensi menjadi sumber pertengkaran. Yang termasuk jenis ini adalah tanah, rumah/bangunan, tempat usaha dan harta apapun yang nilanya besar. Adapun properti yang kecil-kecil seperti ponsel, tas, pakaian, alas kaki dan semisalnya tidak masalah jika diabaikan karena biasanya hal-hal demikian tidak terlalu menjadi penyebab masalah.

Adapun level kedalaman mengenal sejarah properti, maka itu dikembalikan pada maksud mengenal properti, yakni mencegah segala mafsadat/kerusakan/mudarat yang timbul akibat kekaburan sejarah properti. Oleh karena kebanyakan perselisihan terkait properti itu seringkali berhubungan dengan status kepemilikannya, maka semua sejarah akad dan taṣarruf properti harus diketahui lengkap dengan bukti-buktinya. Semua dokumen yang membantu juga harus disimpan baik-baik. Semua saksi yang terkait dengan akad dan taṣarruf itu harus dicatat. Jika bukti kepemilikan belum jelas dan masih kabur, sedapat mungkin segera diuruskan sertifikan kepemilikannya.
Jika terkait tanah misalnya, harus diketahui siapa pemilik awal tanah itu, setelah itu berpindah ke tangan siapa saja. Perpindahan itu juga harus jelas, apakah melalui akad jual beli, hibah, warisan, hak pakai atau apa. Bukti-bukti dari transaksi atau saki-saksi juga harus didokumentasi dengan baik.

Jika terkait bangunan, maka juga harus diketahui dengan jelas. Siapakah yang membangun, atas biaya siapa, prosentase kepemilikan bangunan itu, apakah hak milik pribadi atau komunal, apakah milik keluarga ataukah yayasan, apakah sudah diwakafkan ataukah belum. Bukti-bukti akad, transaksi dan saksi-saksi juga harus didokumentasi dengan baik.

Jika jauh hari proses mengenal properti ini sudah disiapkan, maka saat terjadi perselisihan seputar tinggalan seperti kasus lelaki tua dalam kisah di atas, maka insya Allah permasalahan bisa diselesaikan dengan baik dan tidak harus sampai mengorbankan persaudaraan yang mengakibatkan putusnya silaturahmi.
اللهم اجعلنا من الواصلين للأرحام

(Muafa)

Poligami? Mana yang Lebih Afdhal?

Sebagian ummahat yang sepertinya tidak ridha sama sekali suaminya berpoligami, membawakan tulisan dan poster yang menyatakan bahwa syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya seorang suami akan dirinya yang ingin berpoligami. Maka sang syaikh menganjurkan baginya untuk beralih membiayai seorang bujang untuk menikah sehingga pahalanya berlimpah.

Sebagian bapak yang mungkin istrinya sulit dinego atau faktor lain, juga membawakan fatwa itu. Bahkan ada pula beberapa dai muslim yang mengesankan tidak mendukung suami-suami yang MAMPU secara finansial dan keadilan untuk berpoligami.

Maka, kami berhujjah sebagaimana apa yang sudah maklum di awal surat an-Nisa’. Poligami itu adalah salah satu syariat Allah dan dipraktekkan oleh para fudhala dari kalangan anbiya dan shalihin. Adapun perihal apakah lebih afdhal berpoligami atau satu saja, ini khilaf di antara ulama madzhab. Jalan tengahnya adalah fihi tafshil. Ada rincian. Tidak dimutlakkan untuk setiap individu. Bagi yang memiliki hajat serta mampu berbuat adil (plus managemen finansial yang baik untuk zaman ini), maka LEBIH AFDHAL baginya berpoligami.

Na’am. Lebih afdhal terutama untuk mereka yang memiliki ILMU dan menjadi contoh yang baik serta PEMBELA syariat ini dengan praktek yang terarah.

Adapun bagi yang ragu berbuat adil, bakhil, perhitungan, juga menimbang madharatnya lebih besar, maka lebih afdhal baginya tidak berpoligami.

Ini dari sisi individunya. Adapun dari segi zaman dan sosial, maka sesuai perkataan Syaikh ibn Utsaimin yang wafat kisaran 20 tahunan lalu:

التعدد في هذا الزمان أشد إلحاحا منه فيما سبق لكثرة النساء وكثرة الفتن واحتياج النساء إلى من يحصن فروجهن، وقد ذهب كثير من العلماء إلى أن التعدد أفضل من الإفراد

“Poligami di zaman ini LEBIH TEGAS HIMBAUANNYA daripada dahulu kala karena:

(1) Banyaknya perempuan
(2) Banyaknya fitnah
(3) Butuhnya perempuan kepada pria yang bisa menjaga kemaluan mereka

Banyak dari ulama berpendapat bahwa poligami lebih afdhal dibandingkan mencukupkan diri dengan satu.” (Syarh Hilyah Thalib al-Ilm)

Anjuran kami agar pembaca yang memiliki kemampuan berbuat adil, tidak bakhil, tidak perhitungan dan finansial yang baik agar berpoligami, sesuai dengan himbauan syariat Islam. Namun bagi yang selama ini perhitungan, apalagi bakhil, untuk mencukupi satu istri saja sudah kesulitan, maka ini indikator tidak akan bisa berbuat adil jika berpoligami. Yang seperti ini, lebih afdhal baginya berusaha memperbaiki sikap-sikap tersebut.

Yang kami dapatkan, ikhwah di perkumpulan mereka, bahkan beberapa juru dakwah yang masih mufridun (beristri satu), berkumpul membahas poligami hanya sebagai candaan, bukan suatu pembahasan yang berbuah amal atau minimal ada ilmu yang terbicarakan. Mirip seperti bujang-bujang gabut yang membicarakan akhwat fulanah yang masih single. Bedanya, para mufridun ini membicarakan janda demi janda, yang mana majelis semacam itu mengotori hati mereka sendiri. Boleh jadi setelah obrolan, hati mereka panas dan berefek pada sikap terhadap istri sendiri (karena merasa hasratnya terhalangi padahal obrolan tadi indah sekali).

Maka kami katakan kepada bapak-bapak yang seperti ini (dan betul kami berkali-kali katakan), “Imma antum bicara untuk merealisasikan, imma antum baiknya diam saja.” Walau memang tidak masalah jika sesekali bercanda, namun yang kami dapatkan kerapkali ikhwan kita keterusan karena seru (bagi mereka).

Memang, ada sebagian salaf yang di obrolan mereka, mengutarakan bahwa kelak ‘saya akan menikah dengan fulanah binti fulan’, namun mereka tidak menjadikannya candaan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sebagian sahabat pun, saat menginginkan fulanah binti fulan, pernah menyebutnya ketika berbincang dengan sebagian sahabat. Banyak rekan kita, hanya membicarakan fulanah binti fulan, maju tapi gentar, melangkah malah mundur, akhirnya berakhir pada candaan dan halusinasi.

Juga, sebagian ikhwan hobi memberikan meme di WA dua akhwat berpelukan dengan tulisan Ikhwan Idaman. Exactly, ikhwan yang semisal ini sama sekali bukan idaman, melainkan dialah yang ngidam dan tak kesampaian. Atau meme 4 perempuan yang seolah menggoda agar semuanya dinikahi. Meme atau gambar semisal ini menjatuhkan muru’ah dan harga diri ikhwan yang sudah ngaji. Lebih jelek lagi jika ikhwan sudah berpoligami namun masih suka umbar meme seperti ini. Harusnya menjadi contoh kewibawaan muta’addid bahwa setelah poligami, bukan saatnya main-main dan bercanda.

Masih banyak yang harus kita perhatikan berkaitan dengan poligami. Ini termasuk syariat yang mahjurah oleh banyak kalangan Muslimin. Di antara kezaliman yang terjadi adalah banyaknya orang yang antipati terhadap poligami dengan dasar kisah-kisah kegagalan bahtera beberapa praktisi. Padahal banyak praktisi yang alhamdulillah sukses. Bahkan, perceraian di pernikahan mufridun jauh jauh lebih banyak. Apa gegara kisah-kisah cerai mereka lantas kita antipati dengan nikah sehingga bujang tetap membapuk dan duda tetap dapuk?!

Berbenahlah waffaqanallah.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Membid’ahkan Perbuatan vs Membid’ahkan Orangnya

Membid’ahkan perbuatan tidak sama dengan membid’ahkan orangnya.
Mengatakan suatu perbuatan termasuk bid’ah itu BOLEH, meskipun dalam hal itu ada perbedaan pendapat. Karena bid’ah-sunnah, halal-haram, mubah-makruh, semua itu masuk domain/wilayah khilafiyah.


Adapun membid’ahkan orang, maknanya adalah menyatakan bahwa orang tersebut mubtadi’ atau ahli bid’ah. Maka ini hanya boleh untuk masalah yang disepakati (mujma’ ‘alaihi), bukan pada masalah khilafiyah ijtihadiyah. Itupun ada kaidahnya tersendiri, tidak otomatis.
Sehingga dalam masalah khilafiyah: Boleh membid’ahkan suatu perbuatan/ibadah, namun tidak boleh membid’ahkan pelakunya.

Jangan sampai kebablasan dengan mengatakan: “Tidak boleh membid’ahkan qunut subuh.”, ini salah paham dan salah kaprah. Yang tidak boleh dibid’ahkan adalah pelakunya. Adapun bid’ahnya qunut subuh ini adalah salah satu pendapat ulama yang mu’tabar.

Kemudian, terkait bolehnya bermakmum dan mengikuti imam yang qunut hal ini karena terdapat dalil yang menyatakan bahwa imam itu untuk diikuti. Oleh karena itu para ulama menyatakan sah shalat di belakang orang yang berbeda madzhab, bahkan walaupun shalat imam tersebut tidak sah jika dipandang menurut madzhab makmum.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Hati-Hati dalam Berfatwa dalam Bab Poligami

Masih banyak ikhwah yang membahas poligami di beranda.


Kita ingin sedikit memberi sudut pandang berfikir:
Banyak yang menentang poligami dengan alasan laki-laki tidak mampu, bahkan tidak sedikit para da’i juga ikut berbicara demikian, tapi saat mereka berbicara sisi ketidak mampuan laki-laki berpoligami ini, disayangkan mereka tidak berbicara sudut pandang lain yang juga tidak kalah besar mafsadatnya (zina) saat membahas dalam pembahasan yang sama.


Bila bertemu 2 kemudharatan yang tidak bisa ditinggalkan bersamaan apa yang anda fatwakan ?
2 kemudharatan itu:

  1. Menikah dengan keadaan apa adanya
  2. Berzina diam-diam dengan dalih takut miskin dan takut tidak berbuat adil.
    Keadaan 1 memiliki mudharat mungkin akan menelantarkan keluarga dalam sudut pandang terbatas manusia, padahal dalam masalah ini masih ada peluang akan menjadi mampu karena rizqi ada di tangan Allâh bukan pada pemilik fatwâ.
    Keadaan 2 tidak kalah besar mafsadatnya, dan sulit untuk menghindar darinya bagi siapa yang syahwatnya misalnya melebihi syahwat rata-rata laki-laki pada umumnya, mungkin mereka bisa selamat dari zina akbar, tapi belum tentu mereka bisa selamat dari zina hati, zina mata, zina tangan, zina telinga, dan lain-lainnya

Hati-hati dalam berfatwâ, karena andai terjadinya perzinahan dengan sebab orang takut menikah akibat fatwâ anda, lalu memilih jalan yang salah karena tidak punya jalan untuk kemaslahatan dirinya, maka anda mungkin saja akan terkena juga dosanya, seberapa sering mereka berzina mungkin saja anda akan terkena dampaknya akibat fatwâ anda yang menutup jalan ini.
Bicaralah dengan baik atau diam.


Berfatwâlah sesuai kondisi lapangan, lihat situasi keadaan, dan jangan menggeneralisir.
Bila anda seorang da’i yang tidak setuju poligami jangan menggunakan kata “Kita” telah merusak citra poligami karena memaksakan diri untuk melakukannya, tapi katakanlah “saya” telah merusak citra poligami.


Karena apa yang anda temui tidak mewakili semua, karena anda ya anda, dan anda bukan orang lain.
Bisa jadi anda berpoligami karena ingin gaya-gayaan, tapi banyak selain anda ingin berpoligami karena ingin menyelamatkan diri mereka agar terhindar dari zina.

Catatan:
Jangan anda katakan anda kuat, ingat telah banyak contoh para da’i baik sudah mengaji sunnah ataupun belum mengaji sunnah tatkala mengaku kuat dengan 1 istri lalu Allâh uji, akhirnya mereka berpoligami, bahkan ada diantara mereka langsung redup di tengah popularitas mereka.

Dihyah Abdussalam

Shalat Berdua dengan Bukan Mahram

Seorang laki-laki shalat berduaan dengan wanita yg bukan mahram, si laki-laki menjadi imam, si perempuan menjadi makmum, apa hukumnya? Jawab: tidak boleh.

Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها ذو محرم

“Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan, kecuali perempuan tersebut ditemani mahramnya”.
(HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, tidaklah seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan kecuali yang menjadi ketiganya adalah syetan.

Berdua-duaan dengan yang bukan mahram, Jika saja hal itu tidak pantas dilakukan diluar shalat, maka lebih tidak pantas lagi jika hal itu dilakukan ketika sedang shalat, disaat seorang hamba sedang mengibadahi Rabb nya. Kecuali ada laki-laki lain, atau wanita lain, yang menemani shalat mereka berdua.

Allaahu a’lam
Semoga bermanfaat

Faishal Abu Ibrahim

“Kalian Silakan Poligami, Selama Bukan Suamiku”

Hadits yang kerap dibawakan oleh beberapa dai yang terkesan kurang mendukung praktik poligami (untuk dirinya maupun jemaah) adalah hadits ancaman bagi pria yang tidak berbuat adil antar istri. Hadits itu pula yang lebih dipertimbangkan oleh sebagian ummahat, sebagai tameng agar suami mereka tidak pernah berniatan poligami, meskipun boleh jadi itu kebutuhannya. Hadits itu pula yang lebih dititikberatkan oleh sebagian pria muslim yang mapan, mampu dan butuh poligami demi menghindari kemunkaran lebih besar.

Bagaimana dengan hadits berikut:

«ما من عبدٍ استرعاه الله رعية فلم يحطها بنصيحة إلا لم يجد رائحة الجنة»

“Tidaklah ada seorang hamba yang diberikan tugas oleh Allah untuk memelihara suatu pihak yang dipimpin, lalu ia tidak melakukan sesuai dengan petunjuk melainkan ia tidak memperoleh aroma surga.” [H.R. Al-Bukhary]

Dijelaskan oleh sebagian ahli ilmu:

ويَشمَلُ كذلك الرَّجُلَ في بيتِه والمرأةَ في بيْتِها، فقصَّر في حَقِّ رَعِيَّتِه، ولم يَرْعَهَا ويَنصَحْ لها، فضَيَّعَ حُقوقَها الدِّينيَّةَ والدُّنيويَّةَ؛ فعُقوبتُه عند اللهِ شَديدةٌ، وهي: ألَّا يَشَمَّ رائحةَ الجنَّةِ التي تُشَمُّ مِن مَسافةِ سَبعينَ سَنَةً

“(Ancaman itu) mencakup pula suami atau istri di rumah. Baik suami maupun istri, kurang cakap dalam memenuhi hak rakyatnya (anak); dengan tidak memperhatikan dan memberikan arahan. Maka hak agama dan dunia anak tidak tertunaikan. Hukuman di sisi Allah begitu besar yaitu tidak mencium aroma surga yang sebenarnya bisa tercium dari jarak perjalanan sejauh 70 tahun.” [https://dorar.net/hadith/sharh/13372]

Jika hadits itu diberikan kepada sepasang suami istri yang ingin punya anak, apakah pantas sebagai ancaman agar jangan sampai punya anak, karena pertanggungjawabannya berat kelak? Terlebih anak bisa saja lebih dari 1. Sebagian punya anak 5 bahkan lebih. Berapa kali lipat pertanggungjawabannya?!

Atau sekalian ancaman agar tidak nikah sekalian? Karena suami akan diminta pertanggungjawaban akan istrinya.

Tetapi kenapa pada menikah?!
Jika mereka katakan: ‘menikah (pertama) untuk lajang dan mojang itu kan diperintahkan oleh Nabi?!’
Kita katakan: ‘menikah (kedua ketiga keempat) juga ada syariatnya dan contohnya oleh Nabi langsung dan para salaf. Bahkan, itu bukan hal yang dianggap tabu, ganjil dan sensitif, sebagaimana tinjauan masyarakat sekarang yang sudah cukup terkontaminasi.’

Selama memang butuh, dan memenuhi syarat bisa berbuat adil, maka semoga semua dipermudah. Kalau dikatakan bahwa itu akan berat pertanggungjawabannya, maka Anda punya istri, anak, mobil, rumah, semua itu pun juga bisa berat pertanggungjawabannya. Adakalanya berpoligami namun lebih aman dan selamat dari godaan dan fitnah, justru lebih ringan hisabnya daripada tidak berpoligami namun tidak aman dari fitnah bahkan rajin bertengkarnya. Yang terceritakan tentang praktek poligami selama ini rata-rata kegagalan sebagian praktisi. Yang berhasilnya dan teduhnya tidak dikisahkan, melainkan ditutupi, di-blacklist oleh sebagian ummahat bahkan boleh jadi dikorek-korek oleh pemulung sampah.

Tulisan ini bukan merupakan suatu dukungan untuk para pria yang disebut sebagian ulama sebagai jabban (pengecut) atau yang tahu diri belum siap berbuat adil. Sebaiknya yang seperti ini tentu mencukupkan satu saja. Dan tidak semua yang tidak atau belum berpoligami berarti pengecut.

Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi hidayah pada kaum Muslimin akan hal ini, dan semoga kelak poligami benar-benar menjadi solusi terbaik untuk banyak kemerosotan moral, hancurnya ekonomi sebagian keluarga dan keberkahan tersendiri untuk banyak dari janda yang diuji kehidupannya.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Ziarah Kubur yang Bid’ah

Ziarah kubur hukumnya sunnah, untuk mengingatkan kita pada kematian. Tapi, “mengkhususkan waktu ziarah sehari atau 2 hari menjelang ramadhan kemudian menganggap bahwa ziarah kubur di hari² tersebut lebih afdhal daripada hari² yg lain”, paket amalan seperti ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ. Apalagi kalau sampai ada anggapan bahwa berdoa dikuburan orang tua di hari² tersebut lebih afdhal dan akan cepat dikabulkan, ini keyakinan yang dibuat² yg tidak ada ajarannya dr Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ bersabda,

لا يتقدمن أحدكم رمضان بصوم يوم أو يومين إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه فليصم ذلم اليوم

“Janganlah salah seorang dr kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali jika ia memang sudah terbiasa melaksanakan puasa (sunnah) maka pd hari itu, maka dia dipersilahkan untuk melaksanakannya”.
(Shahih Muttafaq ‘alaih)

Bulan ramadhan adalah bulan istimewa, bulan yg penuh dgn keutamaan, namun bersamaan dgn itu Rasulullah jg melarang umatnya mengkhususkan puasa sehari atau 2 hari demi menyambut bulan tersebut. Dari hadits ini kita belajar bahwa tdk boleh mengkhususkan melakukan suatu amalan tertentu dalam rangka menyambut datangnya hari atau bulan yg dianggap spesial kecuali dgn dalil, termasuk dlm hal ini mengkhususkan waktu ziarah sehari atau 2 hari menjelang ramadhan dan menganggap waktu² tersebut adlh waktu spesial, waktu yg afdhal untuk melakukan ziarah kubur

Faishal Abu Ibrahim

Jangan Jadi Awam Terus

Tak ada orang awam yang bisa langsung merujuk ke dalil. Pasti melalui ulama. Karena istilah ‘dalil’ yang kita kenal saat ini sebetulnya tidak murni dalil.

Kalau kita bicara dalil berupa Al Quran, maka sumber aslinya dalam bahasa arab. Kapan orang awam dapat membacanya? Setelah diterjemahkan oleh ulama. Dan terjemah itu kedudukannya seperti tafsir.

Itupun, kalau tidak dibimbing bisa salah pengertian. Seperti salah seorang kawan saya yang karena baca terjemahan berkesimpulan bahwa jika seorang mukmin membunuh mukmin lainnya dengan sengaja, maka kekal di neraka selama-lamanya. Padahal tidak ada mukmin yang kekal di neraka.

Itu baru tentang Al Quran.

Kalau bicara dalil hadits, maka sumber primernya ada pada kitab-kitab hadits berbahasa arab berikut sanad atau rantai periwayatannya.. Itu sumber aslinya kalau mau langsung merujuk.

Maka untuk sampai ke kita dalam bentuk sudah terjemahan dan dilengkapi “(HR Abu Dawud, dishahihkan Al Albani)”, dia melalui proses yang panjang yang melibatkan para ulama.

Mulai dari penelitian masing-masing perawi hadits dalam satu sanad.. Kemudian mencari sanad lainnya dari hadits tersebut untuk dicek satu-satu perawinya dan ketersambungannya, lalu semua sanad digabungkan, sampai ketemu apakah shahih atau dha’if atau hukum lainnya.

Itu pun, ulama satu dengan yang lain bisa berbeda penilaian, sehingga yang satu menjadikannya dalil hukum karena shahih, yang satu tidak memakainya..

Nanti setelah misalkan shahih, baru diterjemahkan.. Kadangkala menerjemahkan bisa langsung, kadangkala butuh ilmu ushul fiqih.. Karena tidak semua lafazh dalam hadits bisa diterjemahkan saklek.

Contoh: ‘alaikum bi sunnati… diterjemahkan: wajib bagimu mengikuti sunnahku.. karena ‘ala bermakna wajib. Kalau diterjemahkan saklek cuma pakai bahasa arab pas2an hanya akan menjadi: “atasmu dengan sunnahku”, ndak bisa dipahami.

Itu baru satu hadits.. Padahal untuk merumuskan sebuah hukum harus mengumpulkan hadits-hadits pada permasalahan yang sama, sehingga yang tadinya lafazh-nya mewajibkan, ternyata setelah dikombinasikan dengan hadits lain disimpulkan sunnah muakkadah, dll. Contohnya hadits tentang shalat witir.

Walhasil, sekali lagi, kalau kita orang awam, hanya bermodal hadits itupun terjemahan, sebaiknya tahu diri agar tidak merasa bisa langsung merujuk kepada dalil tanpa melalui ulama.

Pertanyaan: Lalu, apa ngga boleh menganggap ulama itu salah berdasarkan dalil? Tentu boleh, asalkan pemahaman Anda terhadap dalil itu berasal dari ulama juga, bukan dari kantong Anda sendiri.

Ini yang disebut muttabi’, yaitu orang yang bisa menilai pendapat yang lebih tepat berdasarkan dalil (dan pendalilan, ini tak kalah penting, karena boleh jadi sama2 berdalil bahkan dalilnya sama tapi berbeda pemahaman).

Kalau mau bisa membaca dalil secara langsung, upgrade diri. Jangan kajian tematik terus bertahun2 tanpa ada perkembangan.

Mulailah kajian kitab dan ilmu-ilmu alat seperti bahasa arab, ushul fiqih, mustalah hadits, dll. Jangan mau jadi orang awam terus, tapi jadilah penuntut ilmu syar’i.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Blog at WordPress.com.

Up ↑