Hadiah Al Fatihah untuk Orang Sakit?

Hal ini karena tidak ditemukannya dalil dari Al-Qur’an maupun hadis yang melegalkan tindakan tersebut. Mengingat ini perkara ibadah, maka tidak adanya dalil, adalah dalil tidak legalnya menghadiahkan pahala bacaan kepada orang lain. Baik untuk orang sakit atau yang lainnya.
Syekh Abdulaziz Ibnu Baz -rahimahullah- menerangkan,

لم يرد في كتابه العزيز ولا في السنة المطهرة عن الرسول عليه الصلاة والسلام ولا عن أصحابه رضي الله عنهم ما يدل على الإهداء بقراءة القرآن لا للوالدين ولا لغيرهما، وإنما شرع الله قراءة القرآن للانتفاع به والاستفادة منه وتدبر معانيه والعمل بذلك

“Tidak ada dalil dari Al-Qur’an yang mulia, maupun sunah yang suci dari Rasul ﷺ, tidak juga riwayat dari para sahabat -semoga Allah meredhoi mereka- yang menunjukkan legalnya menghadiahkan pahala bacaan Qur’an untuk kedua orangtua atau yang lainnya. Allah memerintahkan membaca Al-Qur’an untuk diambil manfaat (melalui ruqyah misalnya, -pent), dipelajari, ditadaburi maknanya serta diamalkan..”

(Rekaman fatwa beliau bisa disimak di :
https://binbaz.org.sa/…/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%87…)


Meskipun para ulama berbeda pendapat berkenaan hukum menghadiahkan pahala kepada orang lain; termasuk dalam hal ini menghadiahkan pahala bacaan Qur’an kepada orang lain. Namun, pendapat yang tampaknya mendekati kebenaran dalam hal ini, adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi’i dan Imam Malik -rahimahumallah-, bahwa pahala tidak bisa dihadiahkan kepada orang lain, kecuali yang dijelaskan oleh dalil, seperti sedekah, haji / umrah dan doa. (Lihat : Az-Ziyadatu wal Ihsan fi ‘Ulumil Qur’an 2/315)


konsultasisyariah.com

Berzina dengan Istri Tetangga

Zina dengan isteri tetangga


عن الْمِقْدَاد بْنَ الْأَسْوَدِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَا قَالُوا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ

Dari Miqdad bin al-Aswad, Rasulullah bersabda kepada para shahabatnya, “Apa komentar kalian mengenai zina?”. Para shahabat mengatakan, “Zina itu diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Zina itu haram sampai Kiamat tiba”. Rasulullah lantas bersabda, “Sungguh jika seorang laki-laki itu berzina dengan sepuluh wanita yang bukan tetangganya itu dosanya lebih ringan dibandingkan dengan berzina dengan isteri tetangga sendiri”.


قَالَ فَقَالَ مَا تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ قَالُوا حَرَّمَهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهِيَ حَرَامٌ قَالَ لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

Rasulullah bersabda, “Apa komentar kalian mengenai tindakan mencuri?”. Para shahabat mengatakan, “Mencuri itu diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Jadi hukum mencuri adalah haram”.
Rasulullah bersabda, “Sungguh jika seorang itu mencuri di sepuluh rumah yang bukan tetangganya itu dosanya lebih ringan dibandingkan dengan mencuri di satu rumah yang merupakan tetangganya sendiri”

HR Ahmad no 23905, Syuaib al-Arnauth mengatakan, “sanadnya jayyid”.

Benarkah Imam Ahmad Rujuk (dari Melarang Pembacaan Al Qur’an di Kuburan)?

Al-Allamah Syamsuddin Ibnu Muflih al-Hanbali (wafat tahun 763 H) rahimahullah menukilkan rujuknya al-Imam Ahmad rahimahullah dari melarang membaca al-Quran di kuburan. Beliau berkata:

وَلِهَذَا رَجَعَ أَحْمَدُ عَنِ الْكَرَاهَةِ، قَالَهُ أَبُو بَكْرٍ،

“Oleh karena itu al-Imam Ahmad rujuk dari pendapat dibencinya membaca al-Quran di kuburan. Demikian menurut Abu Bakar al-Khallal.” (Al-Mubdi’ fi Syarhil Muqni’: 2/281).

Kisah ini diceritakan oleh al-Imam Abu Bakar al-Khallal dalam Kitab al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar. Beliau berkata:

وأخبرني الحسن بن أحمد الوارق ، قال : حدثني علي بن موسى الحداد ، وكان صدوقا ، وكان ابن حماد المقريء يرشد إليه ، فأخبرني قال : كنت مع أحمد بن حنبل ، ومحمد بن قدامة الجوهري في جنازة ، فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر ، فقال له أحمد : يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة ، فلما خرجنا من المقابر محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل : يا أبا عبد الله ، ما تقول في مبشر الحلبي ؟ قال : ثقة ، قال : كتبت عنه شيئا ؟ قلت : نعم ، قال : فأخبرني مبشر ، عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج ، عن أبيه أنه « أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة ، وخاتمتها ، وقال : سمعت ابن عمر يوصي بذلك ، فقال أحمد : ارجع فقل للرجل يقرأ . . »

“Telah menceritakan kepadaku al-Hasan bin Ahmad al-Warraq, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Ali bin Musa al-Haddad –dan dia adalah shaduq dan adalah Ibnu Hammad al-Muqri’ membimbing kepadanya-, maka ia menceritakan kepadaku. Ia berkata: “Aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari di dalam prosesi jenazah. Ketika mayit dikuburkan, maka seseorang yang buta duduk untuk membaca al-Quran di kuburan. Maka Ahmad berkata: “Wahai Orang ini! Sesungguhnya membaca al-Quran di kuburan itu bid’ah.” Ketika kami keluar dari kuburan, Muhammad bin Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: “Wahai Abu Abdillah! Apakah pendapatmu tentang Mubasyir al-Halabi?” Beliau menjawab: “Dia tsiqat.” Beliau bertanya: “Kamu menulis darinya?” Aku menjawab: “Iya.” Muhammad bin Qudamah berkata: “Telah menceritakan kepadaku Mubasyir dari Abdurrahman bin al-Ala’ bin al-Lajlaj dari bapaknya bahwa ia berwasiat jika dia dikuburkan agar dibacakan awal dan akhir al-Baqarah di sisi kepalanya. Ia berkata: “Aku mendengar Ibnu Umar berwasiat demikian. Maka Ahmad berkata: “Kembalilah dan katakan kepada orang buta tadi agar menbaca..dst.” (Atsar riwayat al-Khallal dalam al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar: 246 (292)).

Jawaban:

Kisah di atas itu syadz (janggal), aneh dan lemah, karena berikut ini:

Pertama: di dalam sanad al-Khallal terdapat al-Hasan bin Muhammad al-Warraq dan Ali bin Musa al-Haddad, keduanya adalah orang yang majhul. Sehingga riwayat ini lemah. Al-Allamah Nashirudin al-Albani rahimahullah berkata:

إن في ثبوت هذه القصة عن أحمد نظر، لان شيخ الخلال الحسن بن أحمد الوراق لم أجد ترجمة فيما عندي الان من كتب الرجال، وكذلك شيخه علي بن موسى الحداد لم أعرفه، وإن قيل في هذا السند أنه كان صدوقا، فإن الظاهر أن القائل هو الوارق هذا، وقد عرفت حاله.

“Sesungguhnya kebenaran kisah ini dari Ahmad bin Hanbal, perlu ditinjau lagi. Karena guru al-Khallal, yaitu al-Hasan bin Ahmad al-Warrraq, belum aku temukan biografinya dalam rujukan yang aku punyai sampai sekarang dari kitab-kitab perawi hadits. Demikian pula gurunya, yaitu Ali bin Musa al-Haddad belum aku ketahui tentangnya. Jika dikatakan dalam sanadnya bahwa ia adalah seorang shaduq (jujur, pen), maka yang jelas bahwa orang yang menilainya adalah al-Warraq ini. Dan kamu sudah mengetahui keadaannya.” (Ahkamul Jana’iz wa Bida’uha: 192).

Kedua: di dalam kisah ini terdapat pelecehan terhadap al-Imam Ahmad rahimahullah. Beliau –dalam kisah ini- dengan mudah menerima hadits dari Muhammad bin Qudamah al-Jauhari. Padahal para ulama Ahlul hadits lainnya tidak mau menerima hadits darinya dan menganggapnya ‘Matrukul Hadits’ (ditinggalkan haditsnya), tetapi al-Imam Ahmad mau menerimanya mentah-mentah.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

مُحَمَّد بن قدامَة الْجَوْهَرِي ضعفه أَبُو دَاوُد لم يخرج عَنهُ أحد

“Muhammad bin Qudamah al-Jauhari, dilemahkan oleh Abu Dawud dan tidak ada seorang Ahlul Hadits pun yang mengeluarkan haditsnya.” (Al-Mughni fidh Du’afa’: 2/625).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وقال الآجري عن أبي داود ضعيف لم أكتب عنه شيئا قط.

“Al-Ajurri berkata dari Abu Dawud bahwa beliau berkata: “Dia (al-Jauhari) dhaif (lemah) dan aku tidak mau meriwayatkan satu hadits pun darinya.” (Tahdzibut Tahdzib: 9/364).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa kisah ‘Rujuknya al-Imam Ahmad dari melarang membaca al-Quran di Kuburan’ adalah tidak benar

Oleh : dr. M Faiq Sulaifi

Cadar: Antara Dalil dan Fashion

Dulu kaum muslimah di tahun 90-an, ketika ingin bercadar, mereka akan menyerbu toko-toko buku atau maktabah untuk mencari dan mengumpulkan semua dalil tentang cadar.

Mereka menelusuri pendapat-pendapat yang dikemukakan ahli ilmu dalam hal ini baik pendapat yang mewajibkan, menyunnahkan atau sebatas membolehkan.

Kami bertukar pikiran dengan para akhwat senior saat itu yang telah bercadar bertahun-tahun sekaligus menimba pengalaman hidup dari mereka sehingga ketika pulang hati penuh dengan semangat spiritual yang tinggi.

Kami membaca, menelaah, meneliti dan memahami lalu shalat dan berdoa memohon dan meminta petunjuk kepada Allah agar Allah memberikan taufik dan hidayah pada permasalahan ini.

Akan tetapi. . .

Di zaman ini bila anda berjumpa dengan salah satu akhwat muda yang bercadar dan bertanya mengapa mereka bercadar, mereka akan menjawab bahwa alasannya karena ingin tampil seperti para akhwat artis medsos di Facebook, Instagram dan media sosial lainnya yang terlihat cantik dengan cadar. Mereka, para akhwat di medsos, banyak menampilkan foto selfi atau pose-pose lain yang tidak bersahaja bahkan lebih menekankan nilai fashion di balik cadar yang mereka kenakan.

Ketika akhwat muda tadi yang mengikuti trend cadar selfi ditanya dalil atau alasan syar’i sama sekali tidak bisa menjawab sebab keputusan mereka bercadar bukan dilandasi ilmu namun hanya mengikuti para akhwat artis medsos -terutama instagram-.

Saudariku..

Bercadar adalah syariat Islam maka sebagaimana syariat Islam lainnya begitu perlu dan penting engkau mengilmui syariat cadar yang disepakati para ulama bahwa semua istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wanita bercadar.

Ukhti, pastikan bahwa engkau mengetahui dalil-dalil sebelum beramal dan keputusanmu bukan karena latah dan ikut-ikutan agar kita tidak termasuk dalam kaum Nasrani yang beramal tanpa ilmu.

Imam Bukhari membuat bab tersendiri tentang pentingnya ilmu sebelum beramal dengan bab yang berjudul “Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan” Ini menunjukan pentingnya ilmu sebelum beramal dan ini merupakan syarat sahnya amal, perkataan maupun perbuatan.

Dengan ilmumu tentang cadarmu diharapkan bernilai disisi Allah dan kita akan berhati-hati dalam setiap melangkah atau berbuat dengan cadar yang menutupi wajah kita. Dengan kata lain, engkau tidak semena-semena dalam bersikap di medsos mengikuti para akhwat dengan cadar selfi yang jauh dari kesahajaan. Hormati dan junjung tinggilah cadar yang engkau kenakan.

Dan dengan ilmu akan menjadi penggerak seseorang istiqamah dalam mengenakannya karena dalil telah mengakar di hati dan menghujam jiwa sehingga engkau pun tidak akan buyar ketika diterpa syubhat yang bisa datang dari orang-orang yang tidak menyukainya.

Dengan ilmu, selembar kain yang menutupi wajah seorang muslimah akan mengangkat kehormatannya karena ia sadar selembar kain tersebut adalah sebuah syariat, bukan hanya selembar kain yang dipakai justru untuk menarik perhatian banyak orang terlebih lawan jenis. Wallahu a’lam bish-shawwab.

_
Penyusun: Ustadzah Funy Ummu Raihanah (Alumni LIPIA)
Editor & Penyunting: Yani Fahriansyah (2017)

Mengaji di Kuburan

Tradisi yang masih berlangsung di masyarakat kita, kalau ada salah satu dari anggota keluarganya yang meninggal atau orang tuanya yang meninggal, dia bayar orang untuk ngaji di kuburan keluarganya itu, atau di kuburan orang tuanya.


Coba deh dipikir lagi … kenapa harus di kuburan, apa istimewanya kuburan?
Jika niatnya mendoakan bukankah doa itu bisa dimana saja tanpa kita harus pergi ke kuburan?
Bukankah Nabi ﷺ malah mengatakan “la taj’aluu buyutakum kubuuron / janganlah kalian jadikan rumah² kalian seperti kuburan” (HR. Abu Daud dengan sanad jayyid).


Lihat, kata Nabi, “jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan”, karena kuburan itu bukan tempat khusus untuk beribadah. Kuburan bukan tempat khusus untuk berdoa atau membaca Al Quran seperti halnya di rumah. Makanya kita dilarang menjadikan rumah kita seperti kuburan. Kenapa sekarang kita malah menjadikan kuburan itu sebagai tempat ibadah sepertihalnya di masjid atau di rumah?


Terus kenapa harus membayar orang lain? Bukankah ini bisa merusak keikhlasan mereka?
Mereka beribadah dengan semangat mencari harta dunia sehingga menyebabkan doa mereka tidak dikabulkan.

(Faishal Abu Ibrahim)

Bidah: Meremehkan Allah Ta’ala dan Aturan-Nya

BID’AH ADALAH TINDAKAN MENGOLOK-OLOK DAN MEREMEHKAN ALLAH TA’ALA DAN ATURAN-NYA.
.
Saya buat suatu perumpamaan untuk kalian, para penyeru dan pelaku Bid’ah dalam Syariat.
.
Bagaimana jika kalian memiliki karyawan namun kerjanya tidak mengikuti aturan-aturan yang telah kalian tetapkan dengan alasan dipandang baik dalam pandangan dan perasaannya saja ?
.
Pastilah kalian menilai bahwa karyawan kalian telah meremehkan, merendahkan dan mengolok-olok kalian dan aturan-aturan yang telah kalian tetapkan sehingga yang kalian lakukan adalah memecatnya.
.
Bagaimana dengan Allah yang telah menciptakan kalian dan telah menetapkan aturan dalam beribadah kepada-Nya haruslah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melarang perbuatan Bid’ah dalam Syariat.
.
Kemudian manusia yang diciptakan oleh-Nya itu tidak mengikuti aturan yang telah Allah tetapkan dengan alasan hanya memandang baik dalam pandangan dan perasaannya saja atau bahkan berbuat seenaknya.
.
Bagaimana menurut kalian ?
.
Ketahuilah ! bahwa perbuatan Bid’ah dalam Syariat itu merupakan bagian perbuatan dan tindakan meremehkan, merendahkan dan mengolok-olok Allah dan aturan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.
.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ
.
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok ?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.”
.

  • QS. At Taubah [9] : 65- 66
    .
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata,
    .
    “Melakukan bid’ah dalam perkara agama hakikatnya termasuk bentuk mengolok-olok Allah. Sebab, engkau mendekatkan diri kepada-Nya (beribadah) dengan sesuatu yang tidak Dia syariatkan.”
    .
  • Al Qaulul Mufid, I/67
    .
    Sudah direnungkan ? Sudah ? takutlah dan taubatlah !
    .
    (Atha bin Yussuf)

Sama-Sama Rela. Tapi Allah tidak.

Kalau kaifiyah jual-beli, pembagian waris dan pinjam-meminjam ribawi hanya semata didasarkan kepada kaidah “sama-sama rela”, “sama-sama enak”, “sama-sama senang” dan semisal, maka sungguh, mereka pelaku selingkuh dan pelaku zina juga menggunakan hujjah “sama-sama rela” dan “sama-sama suka”.

Syaithon mengalir dalam darah, membisikkan talbis berupa syubhat yang halus. Dari aliran darah hingga masuk ke jantung dan merasuk di kalbu.

Lalu bagaimana kita mau meraih keberkahan dalam harta kita? Sedangkan kita sepelekan hukum-Nya.

Bahkan, sungguh dosa menyepelekan hukum yang telah digariskan oleh Rabbul ‘aalamiin lebih besar daripada dosa perbuatan itu sendiri. Bagaikan beranggapan hukum yang bersumber dari hawa nafsu kita lebih baik daripada hukum buatan Allah.
(Maka kemudian tampak jelas bayangan ibis di belakang kegelapan hawa nafsu kita).

Hanya Allah pemberi hidayah dan taufik.

Suami dan Harta Istri

Hukum suami memakai harta istri tanpa keridhoan istri

قال الشيخ العثيمين رحمه الله:
“الازواج الذين يأخذون الرواتب من زوجاتهم قهرا هؤلاء ظلمة وهذا لا يحل منه شيئ ابدا وكل ماأخذه منها فهو حرام الا بطيب نفس حقيقي منها.”
[شرح بلوغ المرام( 254/5)]

as-Syaikh al-‘Utsaimīn rahimahullāh berkata:

“Para suami yang mereka mengambil gaji dari para istri mereka dengan paksa, maka mereka ini orang-orang yang zhālim, dan ini tidak halal sedikitpun darinya selamanya, dan setiap apa saja yang telah ia ambil dari istrinya maka itu harām kecuali dengan thayyibu nafs haqīqiy (Kebaikan jiwa yang haqīqī) dari istrinya”.

[Syarh Bulūghil Marām 5/254]

Terjemah
Hanafi Abu Abdillah Ahmad

Awal Mula Bid’ah Tahlilan

SEJARAH LAHIRNYA TAHLILAN DALAM UPACARA KEMATIAN DI INDONESIA

Para ulama yang sembilan dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di Tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.

Mereka terpecah menjadi dua kelompok: aliran Giri Dan aliran Tuban.

Aliran Tuban yang dipipimpin oleh Sunan Kalijaga ini lebih moderat, mereka membolehkan Islam masuk lewat budaya, seni, dan tradisi tradisi lama masyarakat yang ada.

Silahkan cari KITAB atau BUKU TUNTUNAN TAHLILAN SESUAI SUNNAH sampai kiamatpun tidak akan mungkin ketemu, karena ajaran tersebut memang bukan berasal dari Nabi kita shalallahu ‘alaihi wasallam..

Tapi coba kita cari di kitab Samawedha Samitha Agama Hindu, barulah kita dapat menemukannya di sana. Sebuah kitab yg isinya mengatur tata cara pelaksanaan sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk menghormati orang yang telah mati (nenek moyang).

Satu yang sangat berat di buang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati roh-roh org yg sdh mati.

Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada di lingkungan rumah keluarganya.
Pada hari ke 40, 100, 1000 dari Kematiannya roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus diadakan upacara, bacaan mantera serta nyanyian kepada dewa-dewa.

Maka secara resmi berdasarkan hasil musyawarah menyetujui usulan Sunan Kalijaga, walaupun aliran Giri menentangnya. Upacara dalam Agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna di lestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian di kenal dengan nama Nelung Dina (3 hari), Mitung Dina (7 hari), Matang Puluh (40 hari), Nyatus (100 hari) dan Nyewu (1.000 hari).

Orang Hindu sama sekali tidak mau melestarikan ajaran Islam, bahkan tidak mau kepercikan ajaran Islam sedikit pun.
Tetapi kenapa kita Umat Islam justru melestarikan keyakinan mereka?

(hamzahabumirza)

Blog at WordPress.com.

Up ↑