Shalat Berdua dengan Bukan Mahram

Seorang laki-laki shalat berduaan dengan wanita yg bukan mahram, si laki-laki menjadi imam, si perempuan menjadi makmum, apa hukumnya? Jawab: tidak boleh.

Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها ذو محرم

“Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan, kecuali perempuan tersebut ditemani mahramnya”.
(HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, tidaklah seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan kecuali yang menjadi ketiganya adalah syetan.

Berdua-duaan dengan yang bukan mahram, Jika saja hal itu tidak pantas dilakukan diluar shalat, maka lebih tidak pantas lagi jika hal itu dilakukan ketika sedang shalat, disaat seorang hamba sedang mengibadahi Rabb nya. Kecuali ada laki-laki lain, atau wanita lain, yang menemani shalat mereka berdua.

Allaahu a’lam
Semoga bermanfaat

Faishal Abu Ibrahim

“Kalian Silakan Poligami, Selama Bukan Suamiku”

Hadits yang kerap dibawakan oleh beberapa dai yang terkesan kurang mendukung praktik poligami (untuk dirinya maupun jemaah) adalah hadits ancaman bagi pria yang tidak berbuat adil antar istri. Hadits itu pula yang lebih dipertimbangkan oleh sebagian ummahat, sebagai tameng agar suami mereka tidak pernah berniatan poligami, meskipun boleh jadi itu kebutuhannya. Hadits itu pula yang lebih dititikberatkan oleh sebagian pria muslim yang mapan, mampu dan butuh poligami demi menghindari kemunkaran lebih besar.

Bagaimana dengan hadits berikut:

«ما من عبدٍ استرعاه الله رعية فلم يحطها بنصيحة إلا لم يجد رائحة الجنة»

“Tidaklah ada seorang hamba yang diberikan tugas oleh Allah untuk memelihara suatu pihak yang dipimpin, lalu ia tidak melakukan sesuai dengan petunjuk melainkan ia tidak memperoleh aroma surga.” [H.R. Al-Bukhary]

Dijelaskan oleh sebagian ahli ilmu:

ويَشمَلُ كذلك الرَّجُلَ في بيتِه والمرأةَ في بيْتِها، فقصَّر في حَقِّ رَعِيَّتِه، ولم يَرْعَهَا ويَنصَحْ لها، فضَيَّعَ حُقوقَها الدِّينيَّةَ والدُّنيويَّةَ؛ فعُقوبتُه عند اللهِ شَديدةٌ، وهي: ألَّا يَشَمَّ رائحةَ الجنَّةِ التي تُشَمُّ مِن مَسافةِ سَبعينَ سَنَةً

“(Ancaman itu) mencakup pula suami atau istri di rumah. Baik suami maupun istri, kurang cakap dalam memenuhi hak rakyatnya (anak); dengan tidak memperhatikan dan memberikan arahan. Maka hak agama dan dunia anak tidak tertunaikan. Hukuman di sisi Allah begitu besar yaitu tidak mencium aroma surga yang sebenarnya bisa tercium dari jarak perjalanan sejauh 70 tahun.” [https://dorar.net/hadith/sharh/13372]

Jika hadits itu diberikan kepada sepasang suami istri yang ingin punya anak, apakah pantas sebagai ancaman agar jangan sampai punya anak, karena pertanggungjawabannya berat kelak? Terlebih anak bisa saja lebih dari 1. Sebagian punya anak 5 bahkan lebih. Berapa kali lipat pertanggungjawabannya?!

Atau sekalian ancaman agar tidak nikah sekalian? Karena suami akan diminta pertanggungjawaban akan istrinya.

Tetapi kenapa pada menikah?!
Jika mereka katakan: ‘menikah (pertama) untuk lajang dan mojang itu kan diperintahkan oleh Nabi?!’
Kita katakan: ‘menikah (kedua ketiga keempat) juga ada syariatnya dan contohnya oleh Nabi langsung dan para salaf. Bahkan, itu bukan hal yang dianggap tabu, ganjil dan sensitif, sebagaimana tinjauan masyarakat sekarang yang sudah cukup terkontaminasi.’

Selama memang butuh, dan memenuhi syarat bisa berbuat adil, maka semoga semua dipermudah. Kalau dikatakan bahwa itu akan berat pertanggungjawabannya, maka Anda punya istri, anak, mobil, rumah, semua itu pun juga bisa berat pertanggungjawabannya. Adakalanya berpoligami namun lebih aman dan selamat dari godaan dan fitnah, justru lebih ringan hisabnya daripada tidak berpoligami namun tidak aman dari fitnah bahkan rajin bertengkarnya. Yang terceritakan tentang praktek poligami selama ini rata-rata kegagalan sebagian praktisi. Yang berhasilnya dan teduhnya tidak dikisahkan, melainkan ditutupi, di-blacklist oleh sebagian ummahat bahkan boleh jadi dikorek-korek oleh pemulung sampah.

Tulisan ini bukan merupakan suatu dukungan untuk para pria yang disebut sebagian ulama sebagai jabban (pengecut) atau yang tahu diri belum siap berbuat adil. Sebaiknya yang seperti ini tentu mencukupkan satu saja. Dan tidak semua yang tidak atau belum berpoligami berarti pengecut.

Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi hidayah pada kaum Muslimin akan hal ini, dan semoga kelak poligami benar-benar menjadi solusi terbaik untuk banyak kemerosotan moral, hancurnya ekonomi sebagian keluarga dan keberkahan tersendiri untuk banyak dari janda yang diuji kehidupannya.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Ziarah Kubur yang Bid’ah

Ziarah kubur hukumnya sunnah, untuk mengingatkan kita pada kematian. Tapi, “mengkhususkan waktu ziarah sehari atau 2 hari menjelang ramadhan kemudian menganggap bahwa ziarah kubur di hari² tersebut lebih afdhal daripada hari² yg lain”, paket amalan seperti ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ. Apalagi kalau sampai ada anggapan bahwa berdoa dikuburan orang tua di hari² tersebut lebih afdhal dan akan cepat dikabulkan, ini keyakinan yang dibuat² yg tidak ada ajarannya dr Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ bersabda,

لا يتقدمن أحدكم رمضان بصوم يوم أو يومين إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه فليصم ذلم اليوم

“Janganlah salah seorang dr kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali jika ia memang sudah terbiasa melaksanakan puasa (sunnah) maka pd hari itu, maka dia dipersilahkan untuk melaksanakannya”.
(Shahih Muttafaq ‘alaih)

Bulan ramadhan adalah bulan istimewa, bulan yg penuh dgn keutamaan, namun bersamaan dgn itu Rasulullah jg melarang umatnya mengkhususkan puasa sehari atau 2 hari demi menyambut bulan tersebut. Dari hadits ini kita belajar bahwa tdk boleh mengkhususkan melakukan suatu amalan tertentu dalam rangka menyambut datangnya hari atau bulan yg dianggap spesial kecuali dgn dalil, termasuk dlm hal ini mengkhususkan waktu ziarah sehari atau 2 hari menjelang ramadhan dan menganggap waktu² tersebut adlh waktu spesial, waktu yg afdhal untuk melakukan ziarah kubur

Faishal Abu Ibrahim

Jangan Jadi Awam Terus

Tak ada orang awam yang bisa langsung merujuk ke dalil. Pasti melalui ulama. Karena istilah ‘dalil’ yang kita kenal saat ini sebetulnya tidak murni dalil.

Kalau kita bicara dalil berupa Al Quran, maka sumber aslinya dalam bahasa arab. Kapan orang awam dapat membacanya? Setelah diterjemahkan oleh ulama. Dan terjemah itu kedudukannya seperti tafsir.

Itupun, kalau tidak dibimbing bisa salah pengertian. Seperti salah seorang kawan saya yang karena baca terjemahan berkesimpulan bahwa jika seorang mukmin membunuh mukmin lainnya dengan sengaja, maka kekal di neraka selama-lamanya. Padahal tidak ada mukmin yang kekal di neraka.

Itu baru tentang Al Quran.

Kalau bicara dalil hadits, maka sumber primernya ada pada kitab-kitab hadits berbahasa arab berikut sanad atau rantai periwayatannya.. Itu sumber aslinya kalau mau langsung merujuk.

Maka untuk sampai ke kita dalam bentuk sudah terjemahan dan dilengkapi “(HR Abu Dawud, dishahihkan Al Albani)”, dia melalui proses yang panjang yang melibatkan para ulama.

Mulai dari penelitian masing-masing perawi hadits dalam satu sanad.. Kemudian mencari sanad lainnya dari hadits tersebut untuk dicek satu-satu perawinya dan ketersambungannya, lalu semua sanad digabungkan, sampai ketemu apakah shahih atau dha’if atau hukum lainnya.

Itu pun, ulama satu dengan yang lain bisa berbeda penilaian, sehingga yang satu menjadikannya dalil hukum karena shahih, yang satu tidak memakainya..

Nanti setelah misalkan shahih, baru diterjemahkan.. Kadangkala menerjemahkan bisa langsung, kadangkala butuh ilmu ushul fiqih.. Karena tidak semua lafazh dalam hadits bisa diterjemahkan saklek.

Contoh: ‘alaikum bi sunnati… diterjemahkan: wajib bagimu mengikuti sunnahku.. karena ‘ala bermakna wajib. Kalau diterjemahkan saklek cuma pakai bahasa arab pas2an hanya akan menjadi: “atasmu dengan sunnahku”, ndak bisa dipahami.

Itu baru satu hadits.. Padahal untuk merumuskan sebuah hukum harus mengumpulkan hadits-hadits pada permasalahan yang sama, sehingga yang tadinya lafazh-nya mewajibkan, ternyata setelah dikombinasikan dengan hadits lain disimpulkan sunnah muakkadah, dll. Contohnya hadits tentang shalat witir.

Walhasil, sekali lagi, kalau kita orang awam, hanya bermodal hadits itupun terjemahan, sebaiknya tahu diri agar tidak merasa bisa langsung merujuk kepada dalil tanpa melalui ulama.

Pertanyaan: Lalu, apa ngga boleh menganggap ulama itu salah berdasarkan dalil? Tentu boleh, asalkan pemahaman Anda terhadap dalil itu berasal dari ulama juga, bukan dari kantong Anda sendiri.

Ini yang disebut muttabi’, yaitu orang yang bisa menilai pendapat yang lebih tepat berdasarkan dalil (dan pendalilan, ini tak kalah penting, karena boleh jadi sama2 berdalil bahkan dalilnya sama tapi berbeda pemahaman).

Kalau mau bisa membaca dalil secara langsung, upgrade diri. Jangan kajian tematik terus bertahun2 tanpa ada perkembangan.

Mulailah kajian kitab dan ilmu-ilmu alat seperti bahasa arab, ushul fiqih, mustalah hadits, dll. Jangan mau jadi orang awam terus, tapi jadilah penuntut ilmu syar’i.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Siapa Berhak Jadi Imam Shalat

Semestinya DKM masjid menaruh perhatian tentang siapa yang berhak jadi imam, kualitas bacaannya, dsb.

Menurut pengalaman, tidak setiap ustadz yang ngisi kultum tarawih itu punya kapasitas mengimami shalat lantaran bacaannya sendiri masih bermasalah.

Jadi sebaiknya kalau sudah punya imam tetap yang bacaannya baik dan benar, dia tetap yang mengimami meskipun penceramahnya tiap malam berganti2, yang bertitel KH atau ustadz sekalipun.

Mari kita hargai arahan Nabi tentang kriteria imam shalat.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Bab Jihad dan Bab Cebok

Para ahli fiqih ditanya, “Kenapa bab jihad -selalu- diletakkan di bagian akhir kitab?”
Mereka menjawab, “Supaya orang yang tak pandai taharah tak bicara tentang jihad.”

Tentang Dzikir Berjamaah

Bismillah.

“Mekkah dan Madinah tidak ada dzikir berjamaah karena madzhab mereka tidak membenarkan dzikir secara berjamaah, sejak kapan ? Sejak 1924, kapan itu ? Revolusi King Saud…”
.
Seseorang mencoba menggiring opini bahwa Mekkah dan Madinah tidak mengadakan dzikir berjamaah karena Mekkah dan Madinah dikuasai Wahabi.
.
Padahal di Mekkah dan Madinah tidak ada dzikir berjamaah karena tidak ada satupun dalil shahih yang disyariatkannya dzikir secara berjamaah, tidak pernah dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah serta para sahabat.
.
Bukan karena madzhab yang berbeda, keempat madzhab pun dalam kitab mereka tidak ada yang mensyariatkannya seandainya ada salah satu madzhab yang membolehkan tentu tidak boleh diikuti karena Rasulullah serta para sahabat tidak mengerjakannya.
.
Adapun dzikir bersama, dipimpin oleh seseorang kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama maka ini termasuk bid’ah, tidak ada dalilnya dan tidak diamalkan para salaf. Bahkan mereka mengingkari dzikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berdzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:
.
مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟
.
“Apa yang kalian lakukan?! Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian, para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada dia atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan? (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

Faishal Abu Ibrahim

(dengan sedikit edit tanpa mengubah makna)

Tentang Shalawat (2)

Para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam itu orang Arab dan fasih berbahasa Arab

Selain fasih dalam bahasa Arab, para sahabat adalah orang-orang terbaik pilihan Allah taala dan murid dari Nabi shalallahu alaihi wasallam

Namun demikian, mereka bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam bagaimana cara bershalawat

“Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat” (Muttafaqun alaihi)

Ajaib nya, hari ini ada yang pas-pasan dalam bahasa Arab namun berani bikin-bikin sholawat sendiri dan tentunya orang-orang ini tidak bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Orang-orang yang bukan orang terbaik dan bukan murid Nabi shalallahu alaihi wasallam, mereka masuk surga atau neraka nya saja masih rahasia Allah taala.

Seandainya bikin-bikin sholawat sendiri itu baik maka pasti para sahabat radhiyallahu’anhum Ajma’in lah yang pertama kali bikin-bikin sholawat

Karena dalam kitab tafsir Ibnu Katsir dikatakan:

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

(Ust La Ode Abu Hanifa)

Hendaknya … (dan Jilbab)

Ada pengalaman lucu dan sedikit pahit ketika berinteraksi dengan seseorang ketika bicara masalah jilbab.
Ketika dibawakan ayat tentang wajibnya memakai jilbab:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: HENDAKNYA mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).

Orang itu mengatakan, “Sudahlah jangan terlalu ekstrem, di ayatnya sudah jelas hanya dikatakan “hendaknya…” berarti pakai jilbab itu tidak wajib”.
Ternyata orang ini mengambil kesimpulan hukum syar’i dari terjemah ayat yang di sana ada kata “hendaknya…”!
Tentu saja ini tidak benar, karena yang menjadi dalil adalah ayatnya bukan terjemahannya. Terjemahan itu sekedar membantu kita untuk memahami ayat bagi yang tidak bisa bahasa Arab atau tidak paham makna ayat. Oleh karena itu, dalam ilmu ushul fikih, yang dibahas adalah teks-teks Arab dari ayat dan hadits, bukan terjemahnya.
Dan terjemahan pun bisa benar dan bisa keliru. Terjemahan yang benar pun terkadang tidak merepresentasikan makna ayat secara lengkap karena keterbatasan bahasa Indonesia. Terjemahan pun bisa diselipkan pendapat dan pemahaman dari penerjemah.

Intinya, jangan menyimpulkan hukum syar’i dari terjemahan.

Adapun terjemahan “hendaknya” ini biasanya hanya untuk memperhalus dan memberikan rasa yang lembut pada perintah-perintah dalam ayat atau hadits. Jadi, aslinya kalimat perintah, namun agar lebih halus digunakan kata “hendaknya”.

Daripada menggunakan “pakaikanlah jilbab…”, “gunakanlah jilbab…”, “suruh mereka pakai jilbab…”, dll maka tentu lebih halus jika menggunakan kata “hendaknya mereka mengulurkan jilbab…”. Namun tetap saja isinya adalah perintah yang nilainya wajib.

‘ala kulli haal, itulah realita masyarakat kita yang masih sangat awam terhadap agamanya. Yok kita terus semangat belajar agama dan mengajarkannya terutama kepada orang-orang terdekat kita.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Ustadz Yulian Purnama

Join channel telegram @fawaid_kangaswad

Senam dan Yoga

Jangan juga senam diberi nama ‘yoga’.
Kalau kita merasa tidak nyaman dengan istilah-istilah yang merujuk kepada kemaksiatan, maka seharusnya kita jauh lebih tidak nyaman dengan istilah yang lebih dari itu, yaitu istilah yang merujuk kepada peribadahan yang syirik. Tidak pantas kita tasyabbuh bil kuffar alias menyerupai kaum kuffar walaupun ‘hanya’ dalam soal istilah, karena menyangkut aqidah yang mendasar karena terkait tauhid uluhiyah kepada Allah.

Istilah yoga adalah bagian dari semedi, meditasi dan peribadahan kepada selain Allah, tidak beda dengan ‘kebaktian’ atau ‘tantra’ dan semacamnya.

Nikah vs zina, hakikat yang dilakukan sama, tapi beda istilah dan nilainya. Yang satu berpahala ibadah besar penyebab masuk surga, yang satu lagi maksiat besar penyebab masuk neraka. Dan nggak ada orang yang rela pernikahannya disebut zina. Murka, pasti.

“Hanya” dengan lafaz dua kalimat syahadat yang “ringan”, seseorang sudah menjadi muslim, diharamkan darah dan hartanya, dan dijamin masuk surga, dan “hanya” dengan kalimat sederhana yang enteng semisal “saya mau ikut kebaktian” atau menyinyiri ayat Al Quran dan hadits yang hasan /shahih sudah cukup untuk memasukkan seseorang abadi di dalam neraka selama-lamanya.

Kita harus berhati-hati dengan lafadz dan lisan, semua ada hisabnya, dan sebagian besar orang masuk neraka karena ketergelinciran lisan karena menganggap remeh lafadz dan lisan. Termasuk istilah, karena Islam tegak dengan ilmu, yang memaknai istilah dengan segala konsekuensi pahala-dosa dan surga-neraka.

Hendaklah kita takut kepada Allah. Berapa banyak di akhirat nanti orang yang di dunia merasa sebagai muslim dan mukmin, tetapi ternyata Allah kumpulkan bersama kaum kuffar, lalu diceburkan ke dalam neraka karena tasyabbuh bil kuffar atau karena keyakinan mereka ternyata menyimpang dari pemahaman Islam yang salaf selama di dunia. Na’udzubillahi min dzaalik.

Semoga Allah memberi taufik, hidayah dan istiqamah.

Blog at WordPress.com.

Up ↑