Husnul Khatimah itu …

Husnul khatimah itu bukan selalu bahwa seseorang itu mati dalam keadaan sedang bersujud di shalat malam atau dalam keadaan sedang membaca mushaf. Sejarah mencatat bahwa tokoh-tokoh khawarij mati terbunuh sementara lisannya tak henti melafalkan ayat-ayat al-Quran.

Bisa jadi pula seorang yang berpemikiran kuburiyyun mati dalam keadaan sedang sujud dalam shalat malam, sementara ia membawa keyakinan kuburiyunnya itu sampai akhir hayat.

Maka husnul khatimah adalah seseorang yang mati dalam keadaan bertauhid terlepas dari syirik, baik ia mati dalam keadaan terbaring di atas ranjangnya maupun dalam keadaan sujud shalatnya.

(HWWW)


Kuburiyyun: pemuja kuburan, baik meminta langsung kepada penghuni kubur maupun memperantarai doa kepada Allah melalui penghuni kubur. Keduanya pembatal keislaman.

Kisah Mualaf

Ada seorang pekerja yang berangkat di pagi hari dengan naik bus ke tempat kerjanya

Pagi itu kebetulan dia menunggu bus di tempat pembuatan patung, tuhan yang mereka biasa sembah

Maka diapun memperhatikan bagaimana tukang pahat sedang menyelesaikan pembuatan patung-patung, kadang sambil duduk kadang berdiri…

Yang membuatnya terkejut dan mengusik jiwanya adalah tatkala duduk, pemahat tsb menduduki patung yang belum jadi, dan saat berdiri pemahat tsb menginjakkan kakinya pada patung tsb

Padahal patung tsb adalah tuhan yang biasa mereka sembah…
Bagaimana mungkin tuhan kok dijadikan alas tempat duduk bahkan diinjak dengan kaki ?

Diapun berpikir dan berpikir…
Akhirnya diapun memutuskan masuk ke dalam agama Islam

Di tempat lain juga ada kisah…
Seseorang yang melihat seekor anjing mendatangi sebuah patung sesembahan, lalu anjing tsb mengencinginya…

Maka hati kecilnyapun terusik..
Bagaimana mungkin tuhan dikencingi oleh seekor anjing. ?

Kemudian diapun memutuskan masuk agama Islam

Faidah Kajian Islam
Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di Bulan Ramadhan
Ustadz Dr Firanda Andirja

Pikiran Kita Sendiri yang Menta’yin dan Mendramatisir

Ketika ada A menasehati secara umum tentang riya. Lalu menyebutkan beberapa perbuatan yang rawan akan riya.

Datanglah B menasehati agar jangan su’uzhan bahwa orang yang berbuat seperti itu riya. Itu masalah hati.

Maka habislah kitab-kitab yang membahas syirik kecil bahkan syirik besar; mengupas amalan-amalan dan sikap yang berpotensi untuk riya.

Syaikh Shalih al Fauzan ketika ditanya tentang imam yang memvideokan dirinya saat baca al-Qur’an atau saat jadi imam, langsung beliau memperingatkan bahwa itu adalah riya. Padahal ya kalau husnuzhan, boleh jadi ada posibilitas lain yang bukan riya. Tapi kenapa beliau langsung menjawab seperti itu?

Karena itulah tanbih dan nasihat. Himayah an asy-syirk. Juga tidak menyebutkan nama atau identitas atau singkatan nama. Tidak mentakyin.

Pikiran kitalah yang mentakyin. Lalu mendramatisirnya.

Kenapa kita tidak katakan ke Syaikh Shalih bahwa riya itu amalan hati. Jangan berburuk sangka, wahai Syaikh. Kenapa tidak?

Karena kita sadar itu tidak nyambung. Syaikh mengingatkan secara mujmal.

Maka, lakukan itu pula terhadap nasehat-nasehat yang semisal. Kekhawatiran syirik menimpa diri kita dan kaum muslimin lebih dikedepankan. Selama tidak mentakyin atau menyebut sesiapa, maka perlakukan secara mujmal.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Islam, Arab dan Nusantara

Islam datang untuk mengislamkan bangsa Arab dan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam ditentang kaumnya karena Islamisasi ini. Yang didakwahkan Nabi kita adalah mengislamkan Arab, bukan meng-Arabkan Islam.

Islam terlalu sempurna untuk dipaksakan mengikuti adat dan budaya bangsa fulan atau suku ‘allan. Adat dan budaya Arab yang baik tidak dilarang oleh Islam, namun yang menyelisihi Syari’at Islam seperti penyembahan berhala, tamimah (jimat), mengubur anak perempuan hidup-hidup, membuka aurat dlsb maka Allah dan Rasul-Nya larang dan diarahkan menuju yang lebih baik.

Jika di Indonesia ada aliran nusantara yang mendakwahkan, “Mengindonesiakan Islam, bukan mengislamkan Indonesia.”, Nabi siapa yang mereka teladani?

Ustadz Abu Razin Taufiq

Persatuan Semu

Persatuan ala pemain judi, kelihatannya rukun duduk dalam satu meja padahal dalam hati mereka masing² saling ingin menjatuhkan. Ini juga persatuan ala yahudi seperti yg disebutkan oleh Firman Allaah ta’aala:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

“Kamu mengira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah”

(QS. Al Hasyr: 14)

Beginilah persatuan hizbiyyah, mau tahlil atau tidak tahlil silahkan, mau tahlil /dzikir sambil goyang triping yo silahkan, semau mereka. Yang HT mau setiap hari njelek-jelekkin pemerintah silahkan, yang HT mau tidak percaya dengan adzab kubur juga silahkan. Yang syi’ah mau bacok-bacok demi menghormati kematian al Husein ya silahkan, tak usahlah dipermasalahkan (padahal dalamm hatinya mengingkari semua itu atau setidaknya mengingkari salah satunya), karena setiap kelompok punya bid’ahnya masing-masing dan masing-masing saling menganggap baik bid’ahnya sendiri.

Sobat,.

Persatuan itu memang penting, namun dikala kita harus berpecah karena berselisih setelah datangnya kebenaran, maka mempertahankan kebenaran lebih penting ketimbang persatuan.

Di saat kebenaran datang kita ma’lum manusia akan terpolar pada dua poros yang saling beroposisi, satu pihak akan menerima kebenaran dan satu pihak akan bertahan diatas kebathilan, maka kebenaran memang tidak dapat bersatu dengan kebathilan.

Faishal Abu Ibrahim

Sebut Saja Agama Nusantara

“Islam kita ya bukan Islam Arab. Islam kita sesuai konteks nasional dan kenusantaraan. Islam kita ya Islam Indonesia.”


Beginilah, terkadang seseorang lebih bodoh dibandingkan hewan peliharaannya (أجهل من حمار أهله). Memangnya Islam versi nusantara itu sudah memproduksi hukum apa? Wong nama agamamu sendiri (Islam) itu dari bahasa Arab. Coba gantilah dengan nama lokal. Artikan Islam ke Bahasa Indonesia.
Islam makanya: (1) Keselamatan, atau (2) Menyerahkan Diri.


Namakan agamamu jadi agama Keselamatan. Bukan Islam. Ya tetap blunder. Karena kata ‘selamat’ dari bahasa Arab (سلامة).

Atau namakan agamamu jadi agama Menyerahkan Diri. Bukan Islam. Ya blunder lagi. Karena ‘menyerahkan’ berasal dari kata ‘serah’ yang itu juga dari bahasa Arab (سراح) dengan arti ‘melepas’.
Ganti saja dengan sebutan Agama Nusantara.

Jangan hanya berlepas diri dari sisi penamaan, melainkan juga keyakinan dan hukum. Kembali ke teologi animisme dinamisme karena itu kunyahan agama asli nenek moyang(mu). Juga ritual jangan pakai bahasa Arab.

Pluralisme dengan kedok nusantara. Next time, apa lagi ganti nama? Kedoknya nusantara, pakaiannya budaya dan alasannya toleransi. Lagu ini diulang-ulang. Polanya serupa. Ajhal min himari ahlih.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Tawasul, Penghuni Kubur dan Syirik Akbar

Baru dikirimin video seorang habib yang mengatakan bahwa meminta kepada Allah itu harus melalui dan melewati orang yang telah mati sebagai perantara dan jembatan (wasilah) agar dikabulkan, karena jika tidak akan dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla doa permintaan dan permohonannya sebab banyak dosa, karenanya harus menjadikan orang shalih yang telah mati sebagai perantara dan jembatan.
.
Tipikal ahlu syirik yang berjubah Islam yang menyelewengkan tawasul /sasilah itu harus melalui dan melewati orang yang telah mati sebagai perantara dan jembatan dalam doa memohon kepada Allah Azza Wa Jalla. Ini sama saja meminta dan memohon pertolongan kepada orang yang telah mati agar memberikan manfaat untuk menjadi perantara memohon kepada Allah Azza Wa Jalla, dan itu adalah syirik akbar.
.
Jika mengatakan tidak diterima lantaran banyak dosa, sungguh, iblis saja yang dinyatakan kafir oleh Allah Azza Wa Jalla didengar doanya dan dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla doanya.
.
Berdoalah langsung kepada Allah Azza Wa Jalla. Dia Dzat Yang Maha Mendengar dan tidak membutuhkan perantara. Jangan dengarkan ahlu syirik berjubah Islam
.
Atha bin Yussuf

Doa Mengubah Takdir?


.
Bismillahirrahmanirrahim
.
Banyak yang masih keblinger mengenai Doa dapat merubah takdir yang akhirnya berujung kepada pemahaman Qadariyyah bahwasannya Takdir belum ditulis dan baru akan ditulis setelah hamba-Nya melakukan ikthiar. Inna Lillahi Wa Inna Ilayhi Raji’un
.
PERTAMA : yang harus dipahami adalah bahwasannya takdir telah ditulis dan ditetapkan 50,000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi oleh Allah Azza Wa Jalla.
.
Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin ‘Amru bin ‘Abdullah bin Sarh : telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb : telah mengabarkan kepadaku Abu Hani Al Khalwani dari Abu ‘Abdur Rahman Al Hubuli dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
“Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” Rasulullah menambahkan : “Dan Arsy Allah itu berada di atas air.”
.

  • HR. Muslim no. 4797 | Syarh Shahih Muslim no. 2653, Tirmidzi no. 2082 | no. 2156, Al-Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/327 no. 1026 dan Ahmad no. 6291. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim
    KEDUA : Takdir yang telah ditetapkan dan ditentukan 50,000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi oleh Allah Azza Wa Jalla tidak dapat dirubah sebagaimana pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.
    .
    Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Musa : telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak : telah mengkhabarkan kepada kami Laits bin Sa’ad dan Ibnu Lahi’ah dari Qais bin Al Hajjaj berkata : dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman: telah mengkhabarkan kepada kami Abu Al Walid : telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’ad telah menceritakan kepadaku Qais bin Al Hajjaj -artinya sama- dari Hanasy Ash Shan’ani, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku pernah berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, beliau bersabda,
    .
    “Hai nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya dihadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (maksudnya takdir telah ditetapkan).”
    .
  • HR. Tirmidzi no. 541 | no. 593. Hasan Shahih
    .
    DAN MAKSUD DOA DAPAT MERUBAH takdir sebagaimana di dalam hadits hasan dibawah ini
    .
    Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad : telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abdullah bin Isa dari Abdullah bin Abu Al Ja’d dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Tidaklah akan bertambah umur (seseorang) kecuali dengan kebaikan, dan tidaklah akan dapat menolak takdir kecuali doa. Sesungguhnya seseorang akan ditahan rizkinya karena dosa yang dia lakukan.”
    .
  • HR. Ibnu Majah no. 4012 | no. 4022 dan Ahmad no. 21379. Hasan. Lafazh dan sanad di atas milik Ibnu Majah
    .
    IALAH bahwasannya tidaklah Allah Azza Wa Jalla telah menakdirkan atau menetapkan, menentukan dan menuliskan takdir hamba-Nya KECUALI juga telah ditakdirkan, ditetapkan, ditentukan dan dituliskan sebab-sebabnya yang sebab itu juga telah ditakdirkan, ditetapkan, ditentukan dan dituliskan oleh Allah Azza Wa Jalla.
    .
    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
    .
    وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ (96)
    .
    “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
    .
  • QS. Ash Shaffat [37] : 96
    .
    Telah menceritakan Abu An-Nadhr Muhammad bin Yusuf Al Faqih kepada kami : telah menceritakan Utsman bin Sa’id Ad Darimi kepada kami, telah menceritakan Ali bin Al Madini kepada kami : telah menceritakan Marwan bin Muawiyah kepada kami, Abu Malik Al Asyja’i menceritakan kepada kami dari Rib’i bin Hirasi, dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Allah adalah pembuat (pencipta) setiap orang yang berbuat sekaligus perbuatannya.”
    .
  • Al Hakim no. 85, Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/199 no. 942 dan Al Bukhari, Khalq Af’al Al Ibad no. 137. Shahih. Ash-Shahihah no. 1637. Lafazh dan sanad di atas milik Al Hakim.
    .
    Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdullah bin Mubasysyir, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinan, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il Al Jabbbuli, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyyah, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Malik, dari Rib’i bin Khirasy dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    .
    “Allah menciptakan setiap orang yang berbuat sekaligus perbuatannya.”
    .
    Al Fazari berkata : “Maksudnya menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.”
    .
  • Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/200 no. 943 dan Al Hakim no. 86, Al Hakim rahimahullah berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim, namun keduanya (Al Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya (dalam Shahihnya).” Shahih. Ash Shahihah no. 1637. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dari Ya’qub bin Humaid dari Marwan dengan redaksi yang sama dalam As Sunnah no. 358 dan juga dari Al Fudhail bin Sulaiman dari Marwan dengan redaksi yang sama dalam As-Sunnah no. 357 sebagaimana juga yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Syaikh Ahmad bin Sa’ad bin Hamdan Al Ghamidi mengatakan : “Jalur periwayatannya tidak masalah”. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan : “Jalur periwayatannya Jayyid.”. Lafazh dan sanad di atas milik Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, III/200 no. 943
    .
    Maka, perbuatan berdoa itu adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Azza Wa Jalla, dan takdir itu pasti terjadi. Atas kehendak Allah-lah terjadi dan tercegahnya segala sesuatu. Dia juga yang menakdirkan dan mencegah segala sesuatu baik dengan sebab doa, sedekah, atau amal shalih. Dan Dia menjadikan perkara-perkara ini sebagai sebab-sebab dari semua itu (rezeki, panjang umur, dll), yang tidak lepas dari ketetapan-Nya.
    .
    Sederhananya, orang yang memiliki hidup yang sempit kemudian dia berdoa agar diluaskan rezekinya dan terus melakukan ikthiar. Takdir ia berdoa pada saat itu sudah dituliskan dan takdir ia melakukan ikthiar pun juga sudah dituliskan, kemudian hasil dari apa yang menjadi doanya pun juga telah dituliskan dalam takdirnya.
    .
    Jadi jangan keblinger lagi kalau Takdir belum ditulis macam Qadariyyah.
    .
    Atha bin Yussuf

Shalat di Pekuburan yang Diperbolehkan

Bismillah,
Foto yang sarat fitnah ini sering digunakan sebagai amunisi untuk menyerang beberapa posting Dakwah Salafiyah, terutama ketika membahas perihal ziarah kubur yang terlarang/syirik, padahal jelas kuburan ini terlihat baru, bukan kuburan lama, dan amalan shalat di depan kuburan ini pernah di amalkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam, dengan tujuan adalah menshalatkan, bukan pemujaan (syirik) seperti dikira mereka yang memposting foto ini, Allahua’lam.

Sebuah hadis yang menceritakan tentang seorang perempuan berkulit hitam, yang biasa menyapu masjid di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.


َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi).
Nabi shallallahu’alaihiwasallam, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.”
” Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada sahabatnya.
Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang.
“Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya” (Muttafaqun ‘ alaihi).

(Siswo Kus)

Masalah Dzahirah, Khofiyah dan Istighosah kepada Pemuja Kubur

Masalah dzahirah adalah masalah yang sudah jelas dan diketahui oleh semua orang. Masalah seperti ini tidak lepas dari perkara yang disebut dengan ma’lum fiddin bidharurah. Contohnya seperti wajibnya sholat lima waktu, puasa ramadhan, hajji dsb. Haramnya minum arak, zina, mencuri dsb.

Sedangkan masalah khofiyah adalah masalah yang tersembunyi yang banyak orang tidak mengetahuinya. Hanya orang orang tertentu saja yang tahu.

Dalam masalah yang dzahirah tidak diterima padanya udzur kejahilan. Karena masalah tsb telah jelas kepada semua orang. Maka orang yang mengingkarinya otomatis kafir.

Namun…
Masalah masalah dzahirah atau juga perkara yang mu’lum fiddin bidharurah adalah masalah masalah yang bersifat relatif.
Semakin merebak kejahilan, semakin banyak kesamaran dalam masalah agama.
Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فكون الشيء معلوما من الدين ضرورة أمر إضافي ، فحديث العهد بالإسلام ، ومن نشأ ببادية بعيدة : قد لا يعلم هذا بالكلية ، فضلا عن كونه يعلمه بالضرورة . وكثير من العلماء يعلم بالضرورة أن النبي صلى الله عليه وسلم سجد للسهو ، وقضى بالدية على العاقلة ، وقضى أن الولد للفراش ، وغير ذلك مما يعلمه الخاصة بالضرورة ، وأكثر الناس لا يعلمه ألبتة

“Sesuatu dianggap ma’lum fiddin secara darurat adalah perkara yang bersifat relatif. Orang yang baru masuk islam dan orang yang tinggal di pedalaman terkadang tidak mengetahui masalah ini sama sekali. Apalagi menjadi perkara yang diketahui secara darurat. Dan banyak ulama yang mengetahui secara darurat bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam sujud sahwi, mewajibkan diyat atas ‘aqilah, memutuskan bahwa anak (zina) dinisbatkan kepada firosy dan sebagainya. Sedangkan kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Majmu Fatawa 13/118)

Sebuah contoh juga adalah istighotsah kepada selain Allah adalah syirik yang telah jelas keharamnnya. Namun untuk sebagian orang menjadi samar karena banyaknya syubhat.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

علم بالضرورة أنه لم يشرع لأمته أن تدعو أحدا من الأموات ، لا الأنبياء ولا الصالحين ولا غيرهم ، لا بلفظ الاستغاثة ولا يغيرها ، ولا بلفظ الاستعاذة ولا بغيرها، كما أنه لم يشرع لأمته السجود لميت ، ولا لغير ميت، ونحو ذلك، بل نعلم أنه نهى عن كل هذه الأمور، وأن ذلك من الشرك الذي حرمه الله تعالى ورسوله .
لكن لغلبة الجهل وقلة العلم بآثار الرسالة في كثير من المتأخرين : لم يمكن تكفيرهم بذلك ، حتى يتبين لهم ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم ، مما يخالفه.

“Telah diketahui secara dharurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya untuk berdoa kepada mayat. Baik mayat itu nabi atau orang salih. Baik dengan lafadz istigotsah atau lainnya. Juga lafadz isti’adzah dan lainnya. Sebagaimana juga Nabi tidak pernah mensyariatkan sujud kepada mayat atau selain mayat dan sebagainya. Bahkan Kita mengetahui bahwa beliau melarang perkara perkara itu semua. Dan bahwa itu termasuk kesyirikan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya.


Namun, karena merajalelanya kebodohan dan sedikitnya ilmu tentang risalah pada banyak orang orang belakangan, tidak mungkin untuk mengkafirkan mereka karena itu hingga menjadi jelas kepada mereka ajaran yang dibawa oleh Rasul Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dari ajaran yang menyelisihinya.”
(Ar Raddu ‘alal bakri 2/731)

Ustadz Badrusalam

Blog at WordPress.com.

Up ↑