Istri yang Menyembunyikan Suaminya

Ini kisah nyata yang kualami sendiri, aku adalah seorang jomblowati yang berteman ke sana-sini. Dan aku berteman dengan seorang ummahat, sudah hampir 3 tahun kenal, sering bertemu di majelis ilmu, pernah juga satu profesi, dan kadang kami kumpul-kumpul bersama akhwat lainnya.

Bagiku, ia sosok yang mengagumkan dalam seni menyembunyikan kehidupan rumah tangganya. Umur rumah tangganya melebihi umur pertemanan kami. Namun, tak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok suaminya, tak pernah ia bercerita panjang lebar tentang keluarga kecilnya. Baik itu keromantisan ataupula sebuah pertengkaran, tak kudapati ia sebuti.

Jangankan untuk menge-tag akun suaminya di sosial media, menyebutkan nama suaminya di depan kami(para teman akhwatnya) saja tidak pernah ia lakukan.

Betapa ia begitu menjaga, apa yang memang seharusnya dijaga. Begitu besar rasa cemburunya, hingga tak ada celah yang ia tampakkan dari kehidupan rumah tangganya. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang tahu kehidupan keluarganya. Bukan teman pada umumnya, bukan pula dibeberkan di sosial media yang siapa saja bisa mengetahuinya.

Untukmu, wahai ummahat yang begitu menjaga kehidupan rumah tangga, aku benar-benar banyak belajar darimu. Seni menjaga yang sangat besar manfaatnya, apalagi buat para jomblo yang sering menghalu tentang indahnya kehidupan berumah tangga, disebabkan bersilewernya pasangan-pasangan yang memamerkan keromantisannya di sosial media.

Darimu, aku mengerti hakikat cemburu yang sesungguhnya. Bahwa suamimu adalah milikmu, cukup kau yang tahu, cukup menjadi privasimu.

Semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan keturunanmu.
Aku kagum dengan caramu menjaga kehidupan berumah tangga.

Jejak Pena | @tintadya
telegram | t.me/tintadya15

********************

Wahai kalian para suami, hendaklah kalian berlaku serupa. Apalagi kalian terancam dengan predikat lelaki dayyuts yang dengan itu diharamkan atasnya Surga.

Kisah Wanita Cantik yang Menggoda Ulama

Kisah ini terjadi pada abad pertama hijriyah, di zaman tabi’in.

“Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda?” tanya seorang istri kepada suaminya, sambil bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan yang terpantul di kaca itu.

“Ada.” jawab sang suami.
“Siapa?” kata istrinya
“Ubaid bin Umair.” jawab suaminya

Sang istri diam sejenak. Ia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.

“Wahai suamiku,” katanya merayu, “bolehkah aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umair bertekut lutut di depanku?”

Sang suami terkejut dengan permintaan ekstrem itu, tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, untuk menguji keshalihah seorang ulama. “Silahkan, aku mengijinkanmu.”

Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidil Haram.

Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah ﷺ masih hidup. Nama lengkapnya Ubaid bin Umair bin Qatadah Al Laitsi Al Junda’i Al Makki. Beliau wafat pada tahun 74 hijriyah.

Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasehat. Ia beralasan kebutuhannya amat penting, dan memintanya pindah ke pojok masjid. Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya dan tampaklah wajah cantiknya laksana bening rembulan.

“Apa yang kau lakukan?” kata Ubaid melihat kejanggalan wanita tersebut.
“Sungguh, aku mencintaimu. Aku hanya ingin jawaban darimu,” sergah wanita itu, terus berusaha menggoda Ubaid.

“Sebentar,” kata Ubaid. Kini nadanya mulai naik. “Ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.”

“Baik, aku akan menjawabnya dengan jujur.”

“Pertama, seandainya Malaikat Maut datang menjemputmu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu?”

Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya dengan kematian. Kemudian menjawabnya “Tidak”

“Kedua, seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu?”
“Tidak” jawabnya.

“Ketiga, seandainya saat ini semua manusia menerima catatan amalnya dan engkau tidak tahu apakah kau akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Keempat, seandainya saat ini seluruh manusia digiring ke timbangan amal dan engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau justru amal buruknya yang lebih berat, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Kelima, seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmatNya yang telah dianugerahkan kepadamu, masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Demi Allah, tidak”

“Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah. Betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu.”

Kini dia tak kuasa menahan air mata. Tadi dia datang ke Masjidil Haram berpura-pura mencari nasehat, kini ia benar-benar mendapatkan nasehat yang benar-benar menyentuhnya.

Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih.

“Apa yang terjadi wahai istriku?” kata suaminya.

“Kita ini termasuk orang yang celaka,” jawab wanita itu, kemudian ia mengambil wudhu dan shalat.

Hari-hari berikutnya, ia berubah drastis. Ia tak lagi membanggakan kecantikannya. Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam. Ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.

Mudah-mudahan ini ada manfaatnya..
Barakallahufiikum.

اللَّـﮬـُمَّ صـَلِِّ ؏َـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِن امُحَمَّدٍ ﷺ

Tidak Perlu Ada Kumpulan Pejuang Poligami

Jika ingin, dan siapalah yang tak ingin…
Lebih tepatnya, jika sudah kuat hasratnya, maka bercerminlah: ‘ibadah dan ketakwaan’ atau sekadar perhiasan dunia dan hawa nafsu belaka? Ketahuilah bahwa yang telah berpengalaman, lebih mengenal dan lebih dewasa.


Jika rupanya betul karena ibadah dan takwa, maka ceritakan itu ke mereka yang telah berpengalaman.

Namun, saya ingin sebutkan untuk siapapun di sini kalam Ibnul Jauzy -rahimahullah-. Tentang orang yang telah menikah dengan lebih dari seorang perempuan. Dan hasratnya masih terus, karena memang begitulah tabiat. Beliau berkata:

ظن أنه يجد عندها ما ليس عندهن!

“Dia mengira bahwa dia akan menemukan di perempuan (asing) tersebut, apa yang tidak ada pada mereka (istri-istrinya).”

Lalu ia memperjuangkan untuk mendapatkannya. Penasaran. Merasa istri-istrinya masih kurang. Perlu pelengkap. Ia kemudian menyana bahwa pada insan baru ini ada hal baru, berbeda dan menyemangatinya.


Kemudian beliau berkata:

ولعمري، إن في الجدة لذة، ولكن، رب مستور إذا انكشف افتضح.

“Sungguh, dalam hal yang baru memang ada kenikmatan. Tetapi, boleh jadi yang tadinya tertutup, jika disingkap, akan tampak buruknya.” [Shaid al-Khathir]

Acapkali dunia itu terasa indah justru sebelum mendapatkannya. Setelah ia mendapatkannya, membuka bungkusnya, merasakannya, ternyata ia merasakan apa yang pernah dirasakan. Seterusnya ia ingin lebih. Atau sebaliknya, ada bangunan yang telah dihancurkan.

Kecuali jika dunia digenggam karena demi berpijak untuk akhirat. Maka, ia akan merasakan iman dan kekhusyuan di setiap khuthuwat. Hanyasaja, banyak orang -khususnya ‘pejuang poligami’- tidak jujur dalam hal ini.
Lisan mereka berkata akhirat, namun hati mereka merindu dunia.

Jika ingin berjuang, perjuangkan terlebih dahulu kemapanan i’tikad, niat dan ibadah. Semoga Allah permudah bagi orang bertakwa.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Tiga Ulamâ’ Berada dalam Satu Majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Wanita, Casingnya dan Sosok Istri yang Dibutuhkan Saat Suami Terpuruk

[Bismillah]

Ketika suami tengah terpuruk dalam ujian yang berat, ekonomi sulit, masalah datang silih berganti; saat itulah dia akan menyadari seperti apa gambaran sosok istri yang dibutuhkannya.

Tidaklah terlalu penting istri cantik jelita yang pandai berdandan dan bersolek. Tidaklah terlalu berguna pendidikan tinggi dengan sederet gelar yang mentereng. Bahkan, meskipun seorang hafizhah faqihah lulusan lembaga pendidikan Islam ternama; semuanya itu seakan tiada arti bila tidak diimbangi dengan akhlaq yang baik.

Akhlaq, yang dengannya seorang istri selalu setia membersamai suaminya; dalam suka duka, ada dan tiada. Akhlaq, yang menjadikan seorang wanita berkarakter sabar dan syukur menjalani deru debu rumahtangga bersama imamnya. Akhlaq, yang bisa menguatkan wanita untuk terus mendukung suaminya menjalani peran sebagai pemimpin, meski dirinya sendiri tengah tertatih perih berkalang lara. Akhlaq teguh, yang dibangun di atas asas qona’ah dan taat pada suami di jalan Allah.

Dalam memilih pasangan, jangan silau dengan hal-hal yang bersifat casing.

“Dia itu dokter muda loh…”

“Dia bidan lulusan terbaik.”

“Dia wanita yang hebat. Sudah lulus S3.”

“Dia itu hafizhah loh, baru lulus dari pesantren ternama.”

“Dia putrinya Ustadz Fulan loh…”

Rupa ragam casing yang seperti itu tidak menjamin kebahagiaan dan keharmonisan rumahtangga. Bukan berarti mutlak tidak penting, tapi tidak menjamin. Betapa banyak rumahtangga yang karam, padahal dibangun oleh sosok-sosok yang punya casing menyilaukan.

Banyak kalangan ikhwan yang jika mendengar ada akhwat dengan “casing” background yang WOW , terutama terkait pendidikan formal duniawi, seketika menggebu-gebu ingin bisa mempersuntingnya tanpa berusaha lebih jauh mengenali bagaimana aspek akhlaqnya. Ujungnya, ketika bahtera rumahtangga mulai berlayar, pukulan demi pukulan ombak menghantam dan membuatnya tenggelam.

Semoga Allah karuniakan kepada kita pasangan dengan visi misi surgawi yang sama. Saling menjaga, saling ridho, saling menguatkan di atas kebaikan, hingga ke jannah, biidznillah.

Shobahul khoir. 🤝

Ustadz Ammi Ahmad

“Kalian Silakan Poligami, Selama Bukan Suamiku”

Hadits yang kerap dibawakan oleh beberapa dai yang terkesan kurang mendukung praktik poligami (untuk dirinya maupun jemaah) adalah hadits ancaman bagi pria yang tidak berbuat adil antar istri. Hadits itu pula yang lebih dipertimbangkan oleh sebagian ummahat, sebagai tameng agar suami mereka tidak pernah berniatan poligami, meskipun boleh jadi itu kebutuhannya. Hadits itu pula yang lebih dititikberatkan oleh sebagian pria muslim yang mapan, mampu dan butuh poligami demi menghindari kemunkaran lebih besar.

Bagaimana dengan hadits berikut:

«ما من عبدٍ استرعاه الله رعية فلم يحطها بنصيحة إلا لم يجد رائحة الجنة»

“Tidaklah ada seorang hamba yang diberikan tugas oleh Allah untuk memelihara suatu pihak yang dipimpin, lalu ia tidak melakukan sesuai dengan petunjuk melainkan ia tidak memperoleh aroma surga.” [H.R. Al-Bukhary]

Dijelaskan oleh sebagian ahli ilmu:

ويَشمَلُ كذلك الرَّجُلَ في بيتِه والمرأةَ في بيْتِها، فقصَّر في حَقِّ رَعِيَّتِه، ولم يَرْعَهَا ويَنصَحْ لها، فضَيَّعَ حُقوقَها الدِّينيَّةَ والدُّنيويَّةَ؛ فعُقوبتُه عند اللهِ شَديدةٌ، وهي: ألَّا يَشَمَّ رائحةَ الجنَّةِ التي تُشَمُّ مِن مَسافةِ سَبعينَ سَنَةً

“(Ancaman itu) mencakup pula suami atau istri di rumah. Baik suami maupun istri, kurang cakap dalam memenuhi hak rakyatnya (anak); dengan tidak memperhatikan dan memberikan arahan. Maka hak agama dan dunia anak tidak tertunaikan. Hukuman di sisi Allah begitu besar yaitu tidak mencium aroma surga yang sebenarnya bisa tercium dari jarak perjalanan sejauh 70 tahun.” [https://dorar.net/hadith/sharh/13372]

Jika hadits itu diberikan kepada sepasang suami istri yang ingin punya anak, apakah pantas sebagai ancaman agar jangan sampai punya anak, karena pertanggungjawabannya berat kelak? Terlebih anak bisa saja lebih dari 1. Sebagian punya anak 5 bahkan lebih. Berapa kali lipat pertanggungjawabannya?!

Atau sekalian ancaman agar tidak nikah sekalian? Karena suami akan diminta pertanggungjawaban akan istrinya.

Tetapi kenapa pada menikah?!
Jika mereka katakan: ‘menikah (pertama) untuk lajang dan mojang itu kan diperintahkan oleh Nabi?!’
Kita katakan: ‘menikah (kedua ketiga keempat) juga ada syariatnya dan contohnya oleh Nabi langsung dan para salaf. Bahkan, itu bukan hal yang dianggap tabu, ganjil dan sensitif, sebagaimana tinjauan masyarakat sekarang yang sudah cukup terkontaminasi.’

Selama memang butuh, dan memenuhi syarat bisa berbuat adil, maka semoga semua dipermudah. Kalau dikatakan bahwa itu akan berat pertanggungjawabannya, maka Anda punya istri, anak, mobil, rumah, semua itu pun juga bisa berat pertanggungjawabannya. Adakalanya berpoligami namun lebih aman dan selamat dari godaan dan fitnah, justru lebih ringan hisabnya daripada tidak berpoligami namun tidak aman dari fitnah bahkan rajin bertengkarnya. Yang terceritakan tentang praktek poligami selama ini rata-rata kegagalan sebagian praktisi. Yang berhasilnya dan teduhnya tidak dikisahkan, melainkan ditutupi, di-blacklist oleh sebagian ummahat bahkan boleh jadi dikorek-korek oleh pemulung sampah.

Tulisan ini bukan merupakan suatu dukungan untuk para pria yang disebut sebagian ulama sebagai jabban (pengecut) atau yang tahu diri belum siap berbuat adil. Sebaiknya yang seperti ini tentu mencukupkan satu saja. Dan tidak semua yang tidak atau belum berpoligami berarti pengecut.

Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi hidayah pada kaum Muslimin akan hal ini, dan semoga kelak poligami benar-benar menjadi solusi terbaik untuk banyak kemerosotan moral, hancurnya ekonomi sebagian keluarga dan keberkahan tersendiri untuk banyak dari janda yang diuji kehidupannya.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Nasihat Berharga Untuk Wanita Muslimah

Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy رحمه الله bertutur :

هل تعلمين أن عائشة -رضي الله عنها- لم تنجب ولم يكن لها ذرية، ومع ذلك لم يوجد أثر في كتب السنة النبوية أن عائشة قالت: يا رسول الله إدع الله لي بالذرية!!

Tidakkah engkau mengetahui bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang tidak memiliki keturunan ? Meski demikian, tidak terdapat satupun atsar { riwayat } di dalam kitab – kitab para ulama yang menyebutkan bahwa Aisyah pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ” Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku mendapatkan keturunan “.

وهل تعلمين أن النبي -صلى الله عليه وسلم- مات عنها وعمرها ١٨ سنة، وكان شديد الحب لها، وكانت شديدة الغيرة، أي عاشت بعده ٤٧ سنة، ومع ذلك لم تتحسر على الزواج!!

Tidakkah engkau mengetahui bahwa Rasulullah wafat saat Aisyah berumur 18 tahun ? Rasulullah sangat mencintai beliau. Beliau sendiri adalah wanita yang memiliki rasa cemburu yang besar. Beliau hidup 47 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Meski demikian, beliau tidak pernah menyesali pernikahannya dengan Nabi.

لكنها إشتغلت بالعلم والعبادة
وكانت معلمة ومثقفة ومفتيه لكبار الصحابة.
لن تتوقف الحياة على الإنجاب.
ولا على الزواج. ولا على البيت.
ولا على الضرة -الزوجة الثانية-، ولا على المال، ولا على موت الوالدين، أو فقد الأبناء.

Akan tetapi, beliau sibuk dengan ilmu dan ibadah. Beliau juga adalah wanita yang menjadi pengajar, pendidik, dan ahli fatwa bagi para sahabat.

Hidup tidak boleh berhenti karena tidak memiliki keturunan, kematian suami, keadaan rumah, adanya istri kedua, kehilangan harta, kematian orang tua, dan kehilangan anak yang disayangi.

ما أخذ الله شيئًا إلا وعوض خيرًا منه، والدنيا دار ابتلاء لم تكمل لأحد أبدًا

Tidaklah Allah mengambil suatu pemberian, melainkan Allah mengganti dengan yang lebih baik.

Dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan, selamanya tidak akan pernah sempurna bagi siapapun.

إملئي قلبك بالإيمان والرضا وحسن الظن بالله، ووقتك بطلب العلم والعمل في كل ما ينفع نفسك ومجتمعك.

Penuhilah hatimu dengan iman, ridho, dan prasangka baik kepada Allah. Penuhilah waktumu untuk menuntut ilmu dan mengamalkan segala yang bermanfaat bagi dirimu dan masyarakat.

اجعلي الصبر زادك، والقرآن صاحبك: ﴿مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى﴾.

Jadikanlah sabar sebagai bekalmu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai kitab yang selalu menyertaimu.

” Tidaklah Kami menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau merasa berat “.

لاينبغي للإنسان أن يكون فارغًا؛ لأن الشيطان يتسلط عليه بخواطر السوء، فخير له أن يشغل نفسه بما ينفعه كي لاتشغله نفسه بما يضره.

Seseorang tidak sepantasnya memiliki waktu kosong. Sebab, syaithon akan menguasai dirinya dengan membisikkan pikiran – pikiran jelek. Yang lebih baik adalah menyibukkan dirinya dengan hal – hal yang bermanfaat agar jiwanya tidak sibuk dengan hal – hal yang memudhorotkannya.

ختامًا
أنصح المرأة الصالحة أن تحرص على مجالسة النساء الصالحات فإنها بهذا تزداد إيمانًا وتزداد علمًا وتزداد بصيرة.

Terakhir, aku menashihatkan kepada wanita shalihah agar bersemangat untuk bermajelis dengan wanita – wanita shalihah. Sebab, dengan ini, akan bertambah iman dan ilmunya.

{ Gharatul Asyrithah, no : 474 }

Wanita, Korban Perang dan Kontradiksi di Masa Aman

“Wanita adalah korban utama peperangan. Mereka kehilangan suami, kekasih, anak, dan ayah mereka.”

…. dan tidak jarang yang paling berharga: kehormatan mereka 😞
.
Maka sangat buruk, bahkan terlalu buruk, mereka wanita yang menghargamurahkan kehormatan mereka sendiri pada saat situasi aman

Hari Wanita Sedunia dan Awal Kejatuhan Qowamah Laki-Laki

Awal dari kejatuhan qowamah seorang laki-laki (suami) adalah ikut campurnya wanita (istri) dalam mencari uang.

Ini yg sering tidak di perhatikan oleh kita (laki-laki), dan ini adalah PR untuk kita sebagai pemimpin dalam rumah tangga.

Jangan jauh-jauh dulu ngomongin masalah negara!

Karena sebab itulah wanita (istri) kerja / punya penghasilan. Kebanyakan laki-laki (suami) jatuh di hadapannya…

Bahasanya: “Aku nggak perlu uang kamu, wong penghasilanku lebih gede dari kamu kok…”

Subhanalloh, dan itu sudah banyak terjadi hari ini. Yg bahkan saya sendiri pernah menyaksikannya…

Ketahuilah wahai saudara/saudariku…
Pemberian harta (nafkah) suami untuk istrinya, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan.

Akan tetapi ini adalah ikatan tali kasih antara suami & istri, serta dalam rangka menjaga aowamah seorang laki-laki (suami).

Bukan sekedar keperluan (butuh uang), karena kalau hanya sekedar kebutuhan uang, lama kelamaan wanita tidak perlu lagi kepada laki-laki (suami). Dan itu awal keretakan dalam hubungan rumah tangga.

Lebih jauh dari itu, seperti dalam paragraf terakhir gambar yg saya screenshoot.
(wanita bebas memilih kecenderungan seksualnya).

Allahul musta’an…

Pesan saya, jika seorang istri ingin bekerja dalam rangka membantu suami. Maka harus di jaga baik-baik qowamah itu serta harus diperhatikan juga syarat-syaratnya.

Hadanallahu waiyyakum…
Barakallahu Ta’ala fiikum…

Abdulkisan Mufty As Sundaiy

Blog at WordPress.com.

Up ↑