Orang “Baik-Baik” dan Orang “Jelek”, Sama Saja

Orang “baik-baik”, yang disombongkan kepada orang lain itu tentang anak-anaknya yang pinter ini itu, membanggakan mereka rajin shalat, mengaji, sedekah, silaturahmi. Tentang dirinya dan keluarganya yang berakhlak baik kepada Allah dan makhluk-makhlukNya.

Orang “jelek”, yang disombongkan itu hartanya, kedudukannya, kemolekan istrinya, kemampuannya, jalan-jalannya, hobinya.

Golongan “baik-baik” dan “jelek” hakikatnya sama saja. Menganggap selainnya lebih rendah levelnya daripada dirinya. Bedanya, yang satu halus, satunya lagi vulgar.
Seperti kata Iblis yang membandingkan dirinya dengan Adam, “Aku lebih baik daripadanya”.
Ini cuma soal seni menyajikan kesombongan ke khalayak ramai saja.

Laki-Laki Normal

Seorang laki-laki normal, semakin dia memegang ajaran agama, semakin dia mudah tergoda oleh perempuan.
Semakin gampang ‘on’.
.
Lha piye? Ya iyalah, karena matanya selalu dijaga untuk tidak jelalatan ke mana-mana, karena dia punya rasa takut yang besar akan pertanggungjawaban akan dosa dari pandangannya. Akibatnya, dia mudah ‘ngegas” tapi di sisi lain dia punya ‘rem’ yang kuat.
.
Lain hal dengan lelaki jelalatan, apalagi sudah ketagihan bokep. Mereka tidak lagi mudah untuk ‘on’, sudah jenuh duluan. Yang ada, mereka terus dan terus menaikkan dosis kebokepannya supaya bisa tetap ‘on’. Kalau sudah begini, alamat gejala impotensi.
.
Bukankah wanita justru lebih suka lelaki yang gampang ‘on’?
Itu hanya diperoleh dari laki-laki yang menjaga pandangannya dari yang haram.

Bukan Sok Suci tapi Malu, Bukan Jujur tapi Kurang Ajar

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa malu itu sebagian dari iman.

Jika orang risau dengan dosanya dan bahagia dengan amal salehnya, maka itu tanda ada iman dalam hatinya.
Sebaliknya, orang yang maksiat lalu dengan bangga menceritakan kemaksiatannya atau terang-terangan bermaksiat, maka ini maknanya sudah dieman Allah, disayang Allah, ditutupi aibnya dan diberi kesempatan bertaubat, tapi malah tidak menghargai tutup dari Allah itu dan merobeknya. Ini bukan jujur, tapi kurang ajar, tak tahu malu dan tak tahu diri kepada Allah.

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)


Yang juga dikuatirkan, maksiat tersembunyi yang diulang-ulang, akhirnya Allah tampakkan di depan manusia banyak.

Beratnya Dosa kepada Sesama Manusia

Bila engkau berjumpa dengan Allah dalam keadaan engkau membawa 70 kesalahan /dosa – selain syirik – yg dosa tersebut antara engkau dan Allah, itu lebih baik daripada engkau berjumpa dengan Allah meskipun hanya membawa satu dosa yang itu menyangkut antara engkau dengan manusia.

(Imam Sufyan Ats-Tsauri – رحمه الله )

Jilbab dan Aib Fisik

Bagi sebagian wanita, berjilbab lebih ditujukan untuk menutup aib fisik, bukan menutup aurat atas perintah agama. Setelah aib tersebut hilang dan merasa pede dengan penampilan fisiknya, baru mereka lepas dan buka-bukaan.

Yosia C Sulistian

Poligami? Mana yang Lebih Afdhal?

Sebagian ummahat yang sepertinya tidak ridha sama sekali suaminya berpoligami, membawakan tulisan dan poster yang menyatakan bahwa syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya seorang suami akan dirinya yang ingin berpoligami. Maka sang syaikh menganjurkan baginya untuk beralih membiayai seorang bujang untuk menikah sehingga pahalanya berlimpah.

Sebagian bapak yang mungkin istrinya sulit dinego atau faktor lain, juga membawakan fatwa itu. Bahkan ada pula beberapa dai muslim yang mengesankan tidak mendukung suami-suami yang MAMPU secara finansial dan keadilan untuk berpoligami.

Maka, kami berhujjah sebagaimana apa yang sudah maklum di awal surat an-Nisa’. Poligami itu adalah salah satu syariat Allah dan dipraktekkan oleh para fudhala dari kalangan anbiya dan shalihin. Adapun perihal apakah lebih afdhal berpoligami atau satu saja, ini khilaf di antara ulama madzhab. Jalan tengahnya adalah fihi tafshil. Ada rincian. Tidak dimutlakkan untuk setiap individu. Bagi yang memiliki hajat serta mampu berbuat adil (plus managemen finansial yang baik untuk zaman ini), maka LEBIH AFDHAL baginya berpoligami.

Na’am. Lebih afdhal terutama untuk mereka yang memiliki ILMU dan menjadi contoh yang baik serta PEMBELA syariat ini dengan praktek yang terarah.

Adapun bagi yang ragu berbuat adil, bakhil, perhitungan, juga menimbang madharatnya lebih besar, maka lebih afdhal baginya tidak berpoligami.

Ini dari sisi individunya. Adapun dari segi zaman dan sosial, maka sesuai perkataan Syaikh ibn Utsaimin yang wafat kisaran 20 tahunan lalu:

التعدد في هذا الزمان أشد إلحاحا منه فيما سبق لكثرة النساء وكثرة الفتن واحتياج النساء إلى من يحصن فروجهن، وقد ذهب كثير من العلماء إلى أن التعدد أفضل من الإفراد

“Poligami di zaman ini LEBIH TEGAS HIMBAUANNYA daripada dahulu kala karena:

(1) Banyaknya perempuan
(2) Banyaknya fitnah
(3) Butuhnya perempuan kepada pria yang bisa menjaga kemaluan mereka

Banyak dari ulama berpendapat bahwa poligami lebih afdhal dibandingkan mencukupkan diri dengan satu.” (Syarh Hilyah Thalib al-Ilm)

Anjuran kami agar pembaca yang memiliki kemampuan berbuat adil, tidak bakhil, tidak perhitungan dan finansial yang baik agar berpoligami, sesuai dengan himbauan syariat Islam. Namun bagi yang selama ini perhitungan, apalagi bakhil, untuk mencukupi satu istri saja sudah kesulitan, maka ini indikator tidak akan bisa berbuat adil jika berpoligami. Yang seperti ini, lebih afdhal baginya berusaha memperbaiki sikap-sikap tersebut.

Yang kami dapatkan, ikhwah di perkumpulan mereka, bahkan beberapa juru dakwah yang masih mufridun (beristri satu), berkumpul membahas poligami hanya sebagai candaan, bukan suatu pembahasan yang berbuah amal atau minimal ada ilmu yang terbicarakan. Mirip seperti bujang-bujang gabut yang membicarakan akhwat fulanah yang masih single. Bedanya, para mufridun ini membicarakan janda demi janda, yang mana majelis semacam itu mengotori hati mereka sendiri. Boleh jadi setelah obrolan, hati mereka panas dan berefek pada sikap terhadap istri sendiri (karena merasa hasratnya terhalangi padahal obrolan tadi indah sekali).

Maka kami katakan kepada bapak-bapak yang seperti ini (dan betul kami berkali-kali katakan), “Imma antum bicara untuk merealisasikan, imma antum baiknya diam saja.” Walau memang tidak masalah jika sesekali bercanda, namun yang kami dapatkan kerapkali ikhwan kita keterusan karena seru (bagi mereka).

Memang, ada sebagian salaf yang di obrolan mereka, mengutarakan bahwa kelak ‘saya akan menikah dengan fulanah binti fulan’, namun mereka tidak menjadikannya candaan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sebagian sahabat pun, saat menginginkan fulanah binti fulan, pernah menyebutnya ketika berbincang dengan sebagian sahabat. Banyak rekan kita, hanya membicarakan fulanah binti fulan, maju tapi gentar, melangkah malah mundur, akhirnya berakhir pada candaan dan halusinasi.

Juga, sebagian ikhwan hobi memberikan meme di WA dua akhwat berpelukan dengan tulisan Ikhwan Idaman. Exactly, ikhwan yang semisal ini sama sekali bukan idaman, melainkan dialah yang ngidam dan tak kesampaian. Atau meme 4 perempuan yang seolah menggoda agar semuanya dinikahi. Meme atau gambar semisal ini menjatuhkan muru’ah dan harga diri ikhwan yang sudah ngaji. Lebih jelek lagi jika ikhwan sudah berpoligami namun masih suka umbar meme seperti ini. Harusnya menjadi contoh kewibawaan muta’addid bahwa setelah poligami, bukan saatnya main-main dan bercanda.

Masih banyak yang harus kita perhatikan berkaitan dengan poligami. Ini termasuk syariat yang mahjurah oleh banyak kalangan Muslimin. Di antara kezaliman yang terjadi adalah banyaknya orang yang antipati terhadap poligami dengan dasar kisah-kisah kegagalan bahtera beberapa praktisi. Padahal banyak praktisi yang alhamdulillah sukses. Bahkan, perceraian di pernikahan mufridun jauh jauh lebih banyak. Apa gegara kisah-kisah cerai mereka lantas kita antipati dengan nikah sehingga bujang tetap membapuk dan duda tetap dapuk?!

Berbenahlah waffaqanallah.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Senangnya Punya Anak Perempuan

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Di antara orang-orang yang “setengah dijamin” masuk surga adalah mereka yang oleh Allah ditakdirkan memiliki 2 anak perempuan.

Orang yang diberi 2 anak perempuan, lalu diurus sebaik-baiknya, dibesarkan dengan kasih sayang, diajari hingga mandiri, dan dididik sampai menjadi salihah maka amalnya terhadap dua putrinya tersebut akan mengantarkannya ke surga. Al-Bukhārī meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad sebagai berikut,

«عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ ‌مُسْلِمٍ ‌تُدْرِكُهُ ‌ابْنَتَانِ، ‌فَيُحْسِنُ صُحْبَتَهُمَا، إِلَّا أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ”». [«صحيح الأدب المفرد» (ص57)]

Artinya,

“Dari Ibnu Abbās dari Nabi ﷺ beliau bersabda, “Tidaklah ada seorang muslim yang mendapatkan 2 anak putri, lalu mengurusnya dengan baik kecuali kedua putrinya tersebut akan memasukkannya ke dalam surga” (al-Adab al-Mufrad hlm 57)

Jangan pernah meremehkan amal mendidik anak perempuan.

Mendidik anak perempuan itu tidak mudah.

Apalagi di zaman penuh fitnah semacam ini.

Zaman di mana freesex sudah merajalela, narkoba mudah didapatkan, internet yang mengajarkan akhlak buruk mudah diakses, wanita bisa kontak dengan lelaki manapun hanya dengan ponsel dari kamar mereka, dan bisa pergi kemanapun hanya dengan grab/gojek, maka mendidik anak perempuan di zaman edan seperti ini sungguh benar-benar tugas yang tidak mudah.

Orang tua tidak hanya harus berjibaku mencari nafkah menyediakan uang untuk biaya makan, pakaian dan tempat tinggal mereka. Tetapi juga harus memikirkan biaya pendidikan yang terus naik dan biaya kesehatan yang tak terduga, sementara penghasilan bagi rumah tangga tertentu juga tidak selalu jelas. Juga harus rajin-rajin berdoa, menangis di tengah malam, dan menghiba-hiba kepada Sang Pencipta, agar menjaga anak-anak putrinya, agar melindungi anak-anak putrinya, agar selalu memberi petunjuk jalan yang lurus sehingga anak tidak terpengaruh semua pergaulan yang menjerumuskan.

Bukan kah banyak orang tua yang berangkat pagi pulang malam, sampai lembur-lembur dan begadang demi anak?

Apalagi jika yang mengurus anak perempuan adalah janda. Yang ditinggal mati suaminya. Yang dicerai suaminya. Yang dihianati suaminya. Yang berjuang sendirian dengan segala keterbatasannya sebagai seorang wanita. Yang kadang dilecehkan lelaki, diberi harapan palsu, dipermainkan perasaannya, bahkan ditipu dan disakiti setelah segala madunya dihisap.

Sungguh benar-benar tidak mudah mengurus anak-anak perempuan.

Oleh karena itu, sungguh wajar jika balasannya sangat besar. Yakni dijanjikan masuk surga karena amal membesarkan 2 anak putri tersebut.

Hanya saja, di awal tulisan saya beri penekanan bahwa mengurus 2 anak perempuan itu “setengah dijamin masuk surga”. Bukan pasti masuk surga. Jaminan masuk surga bagi orang yang diuji dengan 2 anak wanita sudah jelas dinyatakan dalam hadis. Tetapi pelaksanaannya masih harus dikembalikan kepada orang tua yang mendapatkan amanah tersebut.

Jika orang tua bisa mengatur niatnya bahwa membesarkan anak perempuan adalah amanah dari Allah dan punya misi mensalihahkan anak tersebut, maka insya Allah dapat janji penuh dalam hadis itu. Tapi jika niatnya adalah untuk memburu kebanggaan, pamer pada manusia, berharap dirawat anak di masa tua atau motif-motif duniawi yang lain, maka di akhirat dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Pertanyaannya, “Bagaimana jika yang diurus bukan 2 anak perempuan tapi bahkan 3 atau lebih?”

Jika dua anak perempuan saja sudah mendapatkan janji masuk surga, maka diuji 3 anak perempuan lebih layak lagi mendapatkan janji tersebut. Lebih-lebih ada hadis sahih yang memang menyebut mengurus 3 anak perempuan dipastikan akan masuk surga. Apalagi jika putrinya 4 atau lebih dari itu.

Lebih-lebih jika yang mengurus ini seorang janda atau wanita yang karena sebab tertentu harus mengurus anak sendirinya. Ada hadis sahih yang juga lugas menjamin wanita yang tabah mengurus 2 anak putrinya karena Allah dengan segenap kemiskinannya, bahwa dia juga dipastikan akan masuk surga. Muslim meriwayatkan,

عَنْ ‌عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: « جَاءَتْنِي مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً، وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا، فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا، فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ ‌أَوْجَبَ ‌لَهَا ‌بِهَا ‌الْجَنَّةَ، أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ .». [«صحيح مسلم» (8/ 38 ط التركية)]

Artinya,

“Dari ‘Aisyah dia berkata: “Telah datang kepadaku seorang wanita miskin yang membawa dua anak perempuan, lalu saya memberinya makan dengan tiga buah kurma, wanita tersebut memberikan kurmanya satu persatu kepada kedua anaknya, kemudian wanita tersebut mengangkat satu kurma ke mulutnya untuk dia makan. Tapi, kedua anaknya meminta kurma tersebut, akhirnya dia pun memberikan (kurma) yang ingin ia makan kepada anaknya dengan membelahnya menjadi dua. Saya sangat kagum dengan kepribadiannya. Lalu saya menceritakan apa yang diperbuat oleh wanita tersebut kepada Rasulullah ﷺ . Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadanya untuk masuk surga atau membebaskannya dari neraka.” (H.R.Muslim)

Jadi, engkau para wanita yang mungkin disakiti suami, atau ditinggal pergi, atau ditinggal wafat atau dikhianati dan punya 2 putri, sekarang engkau punya tujuan hidup yang jelas dan terarah. Fokuslah mensalihkan 2 putri tersebut hingga dewasa. Walaupun mungkin harus mengorbankan sebagian kebahagiaanmu. Setelah itu tunggu memetik hasilnya di akhirat. Karena Allah akan menikahkanmu di surga dengan lelaki saleh yang membuatmu 1000 kali melayang bahagia daripada dilamar lelaki di dunia.

CATATAN

Untuk mereka yang hanya memiliki 1 putri, jangan khawatir. Ada juga hadis yang menyebut janji yang sama untuk satu putri. Hanya saja, kebanyakan riwayat menyebut putri lebih dari satu sehingga punya anak putri lebih dari satu memang memiliki keutamaan lebih dibandingkan yang hanya satu.

Beda Wanita ‘Alimah dan Jahilah

“Dahulu Fâthimah bintu al-imâm Mâlik jika dibacakan kepada ayahnya Al-Muwattha’ dan qâri’ (pembaca) melakukan kesalahan baca huruf, atau menambah dan mengurangi, ia akan mengetuk pintu, Lalu imâm Mâlik berkata kepada qâri’: ‘ulangi karena kesalahan menyertaimu’.

Lalu qâri’ mengulangi membaca dan menemukan kesalahan.”

[Al-Makhal karya Ibnul Hâj 1/215]

Pemilik Status (Abû Salmân) berkata: “Kalau wanita ‘âlimah mengetuk pintu, kalau wanita jâhilah (bodoh) akan membuka chanel youtube.”

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Pamit Mencari Nafkah, Pulang Jadi Jenazah.

Kita tak pernah tahu bahwa saat orang² yang kita cintai melangkahkan kaki keluar pintu pergi untuk mencari nafkah bisa jadi itu adalah merupakan saat² terakhir kita bersamanya.

Sebab itu wahai para istri, Syukurilah saat² bersama pasanganmu, karena ada suatu nikmat yang sering diabaikan bagi para perempuan, yaitu nikmat memiliki pencari nafkah.

Di saat banyak perempuan lain harus keluar demi menyambung hidup, sedangkan engkau hanya menunggu hasil buruan suami dari dalam rumah yang aman dan nyaman, tanpa harus panas-panasan.

Padahal mereka diluar sana terkadang mencari nafkahnya bukan sekedar modal tenaga tapi juga penuh perjuangan dan mempertaruhkan nyawa.

Karena itu jangan suka mengeluh dengan sedikitnya hasil yang suami bawa pulang. Bisa jadi itu hari terakhir ia mencarikan nafkah untuk kita.

Tetap syukuri dan berterima kasih, walau sedikit atau banyak hasil kerja yang ia bawa, yang terpenting ia tanggung jawab dan membawa nafkah yang halal.

Semoga Allah Ta’ala memberi keselamatan, keberkahan serta pahala yang berlipat kepada para suami kita yang sedang mencari nafkah, Aamiin.

Foto : Kecelakaan maut di Cibubur – Cileungsi

Habibie II

Blog at WordPress.com.

Up ↑