Saya Butuh Pahala dari Allah, Bukan Terima Kasih dari Manusia

Pada saat anda memberikan sesuatu kepada orang lain, hadirkan perasaan bahwa anda sedang bermuamalah dengan Allah, dan berharaplah kepada Allah untuk balasannya. Anda bisa hadirkan perasaan bahwa memberikan sebagian harga ini kepada orang lain karena ‘saya butuh pahala sedekah dari Allah’.

Sehingga, ketika anda memberikan sesuatu, anda tidak akan berfikir untuk mengharapkan balas budi dari penerima, baik ucapan terima kasih, senyuman maupun doa. Andaikan tidak didoakan sekalipun, bagi kita nggak jadi masalah karena yang anda harapkan adalah balasan dari Allah dan bukan balasan dari penerima.

(Ust Ammi Nur Baits)

Tentang Ayah

Dulu sekali, sebelum kamu ada:

[1] Ayahmu adalah lelaki yang mengerahkan segala jerih termampu tuk mencari modal agar bisa menikahi ibumu.

[2] Jikalau rupanya kakekmu lah yang menanam modal pelaminan, tentu ayahmu dulu telah berupaya suburkan modal batin.

Lalu, ketika kau terlahir dan tumbuh kecil:

[1] Ingatlah ketika ayahmu pulang malam dari kerja; disambut olehmu dan ibumu.

[2] Letih dan payah agaknya tertera di baris bulu matanya. Sungguh ia berupaya mencari nafkah untukmu dan ibumu.

[3] Pernah dulu ayahmu sakit…tak mampu merangkulmu kembali. Dan kau dan ibumu pun merindukan ceria ayah kala itu.

[4] Dan setelah ayahmu pulih, kembali ia bangkit menata jam-jam hidup yang sebelumnya terberai.

[5] Dan kala itu, masa-masa itu…ayahmu begitu muda. Senyumnya tiada gersang, seri wajahnya sering terpandang dan senja umurnya belum menjelang.

Kini, setelah dewasa:

[1] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, lihatlah goresan perjuangan di raut dan keriput kulitnya…terlebih wajahnya.

[2] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, simaklah batuk-batuk senja menahan rasa sakit…kau tahu jika pagi telah terjelang, senja kemudian akan menjelang.

[3] Jikalau ayahmu masih bisa kau tatap wajahnya dan masih kau dengar suaranya, satu pintu surga masih terbuka…

Jikalau ia telah tiada…harga tak lagi tertera…mahalnya tak lagi terbeli…segala sesuatu takkan kau fahami seberapa besar termakna, kecuali setelah hilangnya ia…

(Ustadz Hasan Al-Jaizy hafidzahullah)

Nikmat Iman atas Wanita

Seorang wanita bertanya pada syaikh Muhammad Nashiruddin Rahimahullaah

Wahai Syaikh, dulu sebelum nikah aku gadis yang rajin puasa, sholat malam, membaca alqur’an dan menikmati lezatnya taat pada Allah, akan tetapi kini tak lagi nikmat wahai syaikh, Apa masalahnya syaikh ?

Bagaimana perhatianmu pada suamimu wahai saudari ?

Syaikh Aku tanya padamu soal diatas, tetapi engkau malah tanya padaku soal perlakuanku pada suamiku?

Tidak demikian wahai saudari…mengapa sebagian wanita tidak lagi merasakan lezatnya iman, taat dan ibadah.

Karena Nabi telah bersabda:
Tidak akan seorang wanita mendapati lezatnya Iman sampai mereka menunaikan hak-hak suaminya.

Pertanyaan Pertama di Akhirat atas Seorang Wanita

Qatadah rahimahullah mengatakan bahwa Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata:

أول ما تسأل عنه المرأة يوم القيامة عن صلاتها، وعن حق زوجها.

“Pada hari kiamat nanti, yang pertama kali akan ditanyakan kepada seorang wanita adalah tentang shalatnya dan hak suaminya (kewajiban istri terhadap suami, apakah dijalankan dengan baik atau tidak, -pent.).”

Al-Mushannaf 11/304, Karya al-Imam Abdur Razzaq

Seburuk-buruk Wanita

بسم الله الرحمن الرحیم

Telah Berkata Amīrul mu’minin ‘Umar bin Khaththāb Radhiyallahu ‘anhu:

« أقـبـح النـسـاء السـلفـع »

” Seburuk – buruk wanita adalah As_salfa’.”

Assalfa’ : Pemberani terhadap para laki-laki dan tidak ada rasa malu terhadap mereka.

(Ibn Abī Syaibah : 32503)

قنـاة : الـفتيات_العفيفـات

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ.

Berzina dengan Istri Tetangga

Zina dengan isteri tetangga


عن الْمِقْدَاد بْنَ الْأَسْوَدِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَا قَالُوا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ

Dari Miqdad bin al-Aswad, Rasulullah bersabda kepada para shahabatnya, “Apa komentar kalian mengenai zina?”. Para shahabat mengatakan, “Zina itu diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Zina itu haram sampai Kiamat tiba”. Rasulullah lantas bersabda, “Sungguh jika seorang laki-laki itu berzina dengan sepuluh wanita yang bukan tetangganya itu dosanya lebih ringan dibandingkan dengan berzina dengan isteri tetangga sendiri”.


قَالَ فَقَالَ مَا تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ قَالُوا حَرَّمَهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهِيَ حَرَامٌ قَالَ لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

Rasulullah bersabda, “Apa komentar kalian mengenai tindakan mencuri?”. Para shahabat mengatakan, “Mencuri itu diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Jadi hukum mencuri adalah haram”.
Rasulullah bersabda, “Sungguh jika seorang itu mencuri di sepuluh rumah yang bukan tetangganya itu dosanya lebih ringan dibandingkan dengan mencuri di satu rumah yang merupakan tetangganya sendiri”

HR Ahmad no 23905, Syuaib al-Arnauth mengatakan, “sanadnya jayyid”.

Sebab Fitnah dari Wanita

Kepada setiap siapa saja yang ketika menikah mencari kecantikan, nasab, harta, dan mengabaikan serta meninggalkan sisi agama, bacalah (kisah berikut) semoga Allāh menjagamu:
“Seseorang mengeluh disisi Sufyān bin ‘Uyainah bahwasanya ia menikahi seorang wanita lalu ia menjadi barang yang paling hina disisi istrinya dan paling remeh yakni ia menghina suaminya.

Lalu Sufyān berkata: “Mungkin engkau berhasrat kepadanya karena engkau ingin menambah kemuliaan ?”.

Ia berkata: “Benar”.

Dan Sufyān berkata: “Barangsiapa pergi menuju kemuliaan, maka ia diuji dengan kehinaan, dan barangsiapa pergi menuju harta maka ia diuji dengan kefaqiran, dan barangsiapa pergi menuju agama, maka Allāh akan mengumpulkan untuknya kemuliaan, harta, beserta agama”.

[Hilyatul Auliyā’ 7/289]

Blog at WordPress.com.

Up ↑