Imam Ahmad dan Penguasa Mu’tazilah

Khalifah di masa Imam Ahmad dipengaruhi oleh orang-orang Mu’tazilah sehingga kebijakannya merugikan Ahlus Sunnah bahkan Islam itu sendiri.

Yang beliau lakukan adalah mencounter pemikiran Mu’tazilah yang diseru para pembisik khalifah, dengan tetap menjaga kewibawaan Khalifah agar rakyat tidak benci kepada pemimpinnya.

Jadi, bukan “jangan mengkritik”, tapi bagaimana cara kritikmu agar hubungan rakyat-penguasa tetap baik dan tidak timbul kebencian kepada pemerintah.

Nahi munkar jalan, taat dan respek kepada pemimpin pun tetap terjaga.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

T: Berarti mengcounter terang-terangan secara publik, ustadz?

J: Jika diperlukan oleh publik, dan atau dapat sampai ke penguasa. Jika tidak, maka tidak dilakukan. Dan jangan sampai ini menjadi opsi pertama selagi masih dapat dilakukan dengan cara empat mata, atau perwakilan, yang melakukannya (terang-terangan) pun ulama atau tokoh yang punya pengaruh

Bersikap Pertengahan terhadap Penguasa

Harus diakui bersikap pertengahan itu sulit, terutama kalau kita tidak tahu ilmunya.

Sebagian orang karena sangat berhati-hati sampai tidak membolehkan pengingkaran terhadap kemungkaran yang terpublikasikan dan butuh untuk diluruskan, dengan alasan bahwa itu berasal dari pemerintah.

Padahal para ulama telah menjelaskan dan mengakomodir hal ini. Bahwa nahi munkar tetap bisa dilakukan dengan batasan-batasan sesuai syariat. Bisa dibaca di sini: https://cintasedekah.org/Muamalah-kepada-Penguasa-di-Era…

Sebagian yang lain, kebablasan mengomentari kebijakan-kebijakan yang sebetulnya bukan kemungkaran, dengan alasan nahi munkar dan nasehat terang-terangan. Ini juga tidak tepat.

Definisi kemungkaran adalah hal-hal yang melanggar syariat dan bukan ruang ijtihad. Dan para ulama mengatakan: dalam perkara ijtihadiyah tidak ada nahi munkar.

Sehingga kalau sebuah kebijakan itu *tidak melanggar syariat* atau tidak menyentuh ranah syariat, maka itu masuk dalam perkara siyasah syar’iyyah dan bagian dari ijtihad yang kita tidak boleh menganggapnya sebuah kemungkaran yang wajib diingkari.

Menyikapi kebijakan yang TIDAK bertentangan dengan syariat, ada dua pedoman:

1. Ketika tidak sependapat dengan kebijakan tersebut, maka harus berdasarkan ilmu. Sehingga, kebijakan pemerintah tidak boleh dikomentari oleh orang yang bukan ahli di bidangnya, apalagi ramai-ramai oleh netizen yang tidak paham permasalahan.

2. Karena bukan ranah nahi munkar, maka kedaruratan untuk disampaikan secara terbuka tidaklah sebagaimana nahi munkar. Akan tetapi ia sebagaimana kritik dan saran pada umumnya yang diusahakan sampaikan secara tertutup agar mudah diterima,

Atau jika harus terbuka maka disampaikan dengan bahasa yang baik dan sopan, bukan dengan sindiran-sindiran yang menjatuhkan martabat dan wibawa pemerintah.

Walhasil, kesimpulannya tetap tidak dibenarkan membicarakan politik dan kebijakan pemerintah di medsos, kecuali urusannya adalah nahi munkar yang mau tidak mau harus dilakukan.

Jadikanlah itu keterpaksaan, bukan hobi.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Aqidah Ahlus Sunnah Terkait Penguasa

Aqidah Ahlus Sunnah terkait penguasa itu mudah dan simpel:

1. Taat dalam hal yang bukan maksiat,

2. Tidak memberontak kepada mereka,

3. Shalat jamaah, jumat, puasa, dan berhari raya bersama mereka,

4. Menjaga kehormatan mereka agar mereka tetap disegani dan ditaati,

5. Mendoakan kebaikan bagi mereka,

6. Tidak mendoakan kejelekan bagi mereka, dan

7. Menasehati mereka ketika keliru, yang hukum asalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Namun sebagian orang yang hatinya tidak rela menerima aqidah ini, jika ada kesempatan, mereka dengan halus mengajak rakyat untuk membenci penguasanya, berkedok kecemburuan kepada agama.

Ketika ada kemungkaran, fokusnya bukan agar kemungkaran tersebut terangkat, tapi ingin menunjukkan kepada orang-orang: “Lihatlah pemimpin kalian, apa yang dia lakukan”.

Begitu pula orang-orang yang tidak punya perhatian kepada aqidah ini, dia akan masih memberi pemakluman bahkan pembelaan serta promosi kepada da’i-da’i yang menyimpang dalam masalah ini.

Semoga kita dikuatkan untuk istiqamah di atas sunnah.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Prinsip Ahlus Sunnah dalam Mencintai dan Membenci

Prinsip Ahlus Sunnah dalam mencintai dan membenci adalah bahwa seseorang:

– Dicintai sesuai kadar keimanan, ketakwaan, ketaatan, dan kedekatannya dengan sunnah.

– Dibenci sesuai kadar kekufuran, kefasikan, kemaksiatan, dan kebid’ahannya.

Sehingga seseorang bisa saja dicintai secara parsial, dan juga dibenci secara parsial.

Adapun yang tidak memegang prinsip di atas, maka mereka kalau cinta ya cinta 100%, benci juga benci 100%. Kalau cinta seperti ngga ada salahnya. Kalau benci seperti nggak ada benernya.

Dan kadang kebencian itu hanya disebabkan perbedaan dalam satu dan dua masalah, yang itupun bukan pokok agama. Tapi sudah seperti jadi musuh yang tiap membaca namanya, atau melihat tulisannya sudah kesel dan bawaannya pengen mengomentari negatif terus. Padahal dulunya tidak seperti itu.

Mari introspeksi diri.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Ketaatan kepada Suami Lebih Tinggi Kedudukannya Daripada kepada Orang Tua

Kedudukan suami lebih tinggi daripada ustadz, ibu. Kedudukan suami lebih tinggi daripada guru. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kyai. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kedua orang tua.

Maka ketaatan kepada suami lebih tinggi daripada ketaatan kepada orang tua. Di sini saya sampaikan. Ini ijma ulama.

Setelah seorang wanita menikah maka dia harus taat kepada suaminya lebih dari kepada kedua orang tuanya. Kenapa bisa demikian ustadz ??

Bukankah yang melahirkan orang tuanya. Yang merawat ia sejak kecil orang tuanya. Sudah puluhan tahun dia rawat sang putri.
20 tahun kemudian dinikahi sama orang lain ketaatannya kemudian berubah harus kepada suaminya.

Memang demikian. Demikian. Tetapi syariat punya pandangan yang lebih daripada itu.

Ustadz Firanda Andirja Hafidzhahullah.
—selesai—

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita – setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260)

Prinsip Dalam Mencintai dan Membenci

Prinsip Ahlus Sunnah dalam mencintai dan membenci adalah bahwa seseorang:

  • Dicintai sesuai kadar keimanan, ketakwaan, ketaatan, dan kedekatannya dengan sunnah.
  • Dibenci sesuai kadar kekufuran, kefasikan, kemaksiatan, dan kebid’ahannya.

Sehingga seseorang bisa saja dicintai secara parsial, dan juga dibenci secara parsial.

Adapun yang tidak memegang prinsip di atas, maka mereka kalau cinta ya cinta 100%, benci juga benci 100%. Kalau cinta seperti ngga ada salahnya. Kalau benci seperti nggak ada benernya.

Dan kadang kebencian itu hanya disebabkan perbedaan dalam satu dan dua masalah, yang itupun bukan pokok agama. Tapi sudah seperti jadi musuh yang tiap membaca namanya, atau melihat tulisannya sudah kesel dan bawaannya pengen mengomentari negatif terus. Padahal dulunya tidak seperti itu.

Mari introspeksi diri.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Dosa yang Diwariskan

Bila engkau menyayangi orang tuamu di alam kubur, jangan perberat hisab atas mereka karena dosa-dosa yang engkau perbuat, jangan teruskan kebiasaan buruk yg mereka wariskan kepadamu semisal merokok, memaki, berbuat bid’ah, apalagi berbuat syirik.

Rumah yang Tertutup Terus

Mba, Rumahnya kok tutupan terus sih?
Pernah ga dapat komentar kayak begitu? Saya pernah.

Mau tau kenapa rumah kami selalu ditutup pintunya?

👉Pertama , Setiap hari yang dirumah hanyalah istri dan anak. Suami bekerja pergi pagi pulang sore. Pintu rumah selalu ditutup karena di dalam rumah saya cuma memakai baju rumahan, baju daster, atau rok/celana pendek selutut.

Masa’ sih kita harus memakai jilbab cadar dan kaus kaki sepanjang hari ? Kalo saya sih gak mau, wong dirumah sendiri kok dibikin repot?

👉Kedua, sebagai istri kita tidak diperbolehkan menerima tamu laki laki saat suami tidak dirumah.
Jika pintu rumah selalu terbuka, maka siapa saja yang hendak bertamu kerumah bisa dengan bebas ‘ujug ujug’ di depan pintu, tinggal melangkahkan kaki dan masuk rumah. Belum lagi jika ada orang yang memiliki niat jahat, maka akan sangat mudah melakukan niat jahatnya bila pintu selalu terbuka.

👉Ketiga, pintu selalu dikunci dari dalam. Agar ketika ada tamu siapapun itu, mau kerabat, tetangga, atau teman yang mungkin memiliki hubungan dekat tidak langsung nyelonong masuk, ketika memanggil atau sudah mengucapkan salam.

Namanya dirumah sendiri, bisa saja kita sedang dalam keadaan aurat terbuka. Dengan pintu yang tertutup dan dikunci, maka kita bisa mempersiapkan diri atau menutupi aib yang tidak boleh diketahui orang lain, meski pun (teman sesama wanita,kerabat wanita) yg datang ke rmh.

🌷Jadi, itulah sebabnya mengapa pintu rumah saya selalu tertutup.

(Tulisan seseorang yang semoga Allah menjaganya)

Blog at WordPress.com.

Up ↑