Ahlul Bid’ah dan Miskin Adab

Ahlul bid’ah adalah orang-orang yg paling gak tau diri dan miskin adab. Bagaimana tidak, mereka berani membuat syari’at baru yg sudah jelas ada larangannya, namun mereka mencari-cari dalih pembenaran untuk melegitimasi perbuatannya dan membuat beragam alasan bahwa apa yg mereka lakukan tidaklah tercela.

Lalu agar orang lain percaya mereka pun mengarang-ngarang cerita bahwa amalan yg mereka buat sudah mendapat restu dan persetujuan dari Rasulullah baik itu melalui mimpi atau bahkan katanya bertemu langsung secara sadar.


Tapi lucunya, mereka mensyaratkan ijazah bagi siapapun yg hendak mengamalkan dan mengajarkan bid’ah yg mereka buat dan melarang mereka untuk mengubah & mengutak-atiknya entah itu dalam lafadz, jumlah, waktu, tempat ataupun urutannya.

Abdul Hakim

Tolerance

If you tolerate anything, you stand for nothing.
If you tolerate nothing, anything can’t stand with you.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Beda Wanita ‘Alimah dan Jahilah

“Dahulu Fâthimah bintu al-imâm Mâlik jika dibacakan kepada ayahnya Al-Muwattha’ dan qâri’ (pembaca) melakukan kesalahan baca huruf, atau menambah dan mengurangi, ia akan mengetuk pintu, Lalu imâm Mâlik berkata kepada qâri’: ‘ulangi karena kesalahan menyertaimu’.

Lalu qâri’ mengulangi membaca dan menemukan kesalahan.”

[Al-Makhal karya Ibnul Hâj 1/215]

Pemilik Status (Abû Salmân) berkata: “Kalau wanita ‘âlimah mengetuk pintu, kalau wanita jâhilah (bodoh) akan membuka chanel youtube.”

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

‘Iffah dan Pandangan

‘Iffah seorang wanita diawali dari meninggalkan menarik pandangan, ‘iffah seorang lelaki diawali dengan menundukkan pandangan, dan ‘iffah hati diawali dari mengagungkan perintah-perintah Rabbul basyar (Rabb manusia yakni Allâh).

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Adab Para Ulama

Tiga Ulamâ’ berada dalam satu majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Istri yang Menyembunyikan Suaminya

Ini kisah nyata yang kualami sendiri, aku adalah seorang jomblowati yang berteman ke sana-sini. Dan aku berteman dengan seorang ummahat, sudah hampir 3 tahun kenal, sering bertemu di majelis ilmu, pernah juga satu profesi, dan kadang kami kumpul-kumpul bersama akhwat lainnya.

Bagiku, ia sosok yang mengagumkan dalam seni menyembunyikan kehidupan rumah tangganya. Umur rumah tangganya melebihi umur pertemanan kami. Namun, tak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok suaminya, tak pernah ia bercerita panjang lebar tentang keluarga kecilnya. Baik itu keromantisan ataupula sebuah pertengkaran, tak kudapati ia sebuti.

Jangankan untuk menge-tag akun suaminya di sosial media, menyebutkan nama suaminya di depan kami(para teman akhwatnya) saja tidak pernah ia lakukan.

Betapa ia begitu menjaga, apa yang memang seharusnya dijaga. Begitu besar rasa cemburunya, hingga tak ada celah yang ia tampakkan dari kehidupan rumah tangganya. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang tahu kehidupan keluarganya. Bukan teman pada umumnya, bukan pula dibeberkan di sosial media yang siapa saja bisa mengetahuinya.

Untukmu, wahai ummahat yang begitu menjaga kehidupan rumah tangga, aku benar-benar banyak belajar darimu. Seni menjaga yang sangat besar manfaatnya, apalagi buat para jomblo yang sering menghalu tentang indahnya kehidupan berumah tangga, disebabkan bersilewernya pasangan-pasangan yang memamerkan keromantisannya di sosial media.

Darimu, aku mengerti hakikat cemburu yang sesungguhnya. Bahwa suamimu adalah milikmu, cukup kau yang tahu, cukup menjadi privasimu.

Semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan keturunanmu.
Aku kagum dengan caramu menjaga kehidupan berumah tangga.

Jejak Pena | @tintadya
telegram | t.me/tintadya15

********************

Wahai kalian para suami, hendaklah kalian berlaku serupa. Apalagi kalian terancam dengan predikat lelaki dayyuts yang dengan itu diharamkan atasnya Surga.

Tiga Ulamâ’ Berada dalam Satu Majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Blog at WordPress.com.

Up ↑