Adab Para Ulama

Tiga Ulamâ’ berada dalam satu majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Istri yang Menyembunyikan Suaminya

Ini kisah nyata yang kualami sendiri, aku adalah seorang jomblowati yang berteman ke sana-sini. Dan aku berteman dengan seorang ummahat, sudah hampir 3 tahun kenal, sering bertemu di majelis ilmu, pernah juga satu profesi, dan kadang kami kumpul-kumpul bersama akhwat lainnya.

Bagiku, ia sosok yang mengagumkan dalam seni menyembunyikan kehidupan rumah tangganya. Umur rumah tangganya melebihi umur pertemanan kami. Namun, tak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok suaminya, tak pernah ia bercerita panjang lebar tentang keluarga kecilnya. Baik itu keromantisan ataupula sebuah pertengkaran, tak kudapati ia sebuti.

Jangankan untuk menge-tag akun suaminya di sosial media, menyebutkan nama suaminya di depan kami(para teman akhwatnya) saja tidak pernah ia lakukan.

Betapa ia begitu menjaga, apa yang memang seharusnya dijaga. Begitu besar rasa cemburunya, hingga tak ada celah yang ia tampakkan dari kehidupan rumah tangganya. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang tahu kehidupan keluarganya. Bukan teman pada umumnya, bukan pula dibeberkan di sosial media yang siapa saja bisa mengetahuinya.

Untukmu, wahai ummahat yang begitu menjaga kehidupan rumah tangga, aku benar-benar banyak belajar darimu. Seni menjaga yang sangat besar manfaatnya, apalagi buat para jomblo yang sering menghalu tentang indahnya kehidupan berumah tangga, disebabkan bersilewernya pasangan-pasangan yang memamerkan keromantisannya di sosial media.

Darimu, aku mengerti hakikat cemburu yang sesungguhnya. Bahwa suamimu adalah milikmu, cukup kau yang tahu, cukup menjadi privasimu.

Semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan keturunanmu.
Aku kagum dengan caramu menjaga kehidupan berumah tangga.

Jejak Pena | @tintadya
telegram | t.me/tintadya15

********************

Wahai kalian para suami, hendaklah kalian berlaku serupa. Apalagi kalian terancam dengan predikat lelaki dayyuts yang dengan itu diharamkan atasnya Surga.

Tiga Ulamâ’ Berada dalam Satu Majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Dai Sunnah Bisa Salah, Namun Kenapa Kamu Gembira?

Merupakan hal yang disepakati semua kalangan bahwa manusia biasa berpotensi salah dan melakukan dosa besar, baik di kesendirian maupun di keramaian. Para ulama, duat dan asatidzah (dari kalangan Ahlus Sunnah) pun tidak luput dari pernah berpendapat dengan pendapat keliru. Kendatipun begitu, kebaikan mereka lebih besar, lebih terlihat dan lebih masif efeknya, dibandingkan kesalahan, yang mungkin tidak disengaja, terjebak, atau mungkin sengaja, dan kelak meralat.

Tulisan ini tidak tentang para dai ahli bid’ah, ahli kalam, ahli filsafat dan anti dakwah Sunnah, baik dari madzhab hizbiyyah, harakiyyah, kuburiyyah hingga khurafiyyah. Keburukan mereka umumnya lebih masif daripada ishabah as-sunnah.

Tapi yang kita maksud adalah individu yang dasarnya memang bermanhaj Salaf, terus belajar, mengajar, menebar kebaikan ilmu dan amal di tengah kaum Muslimin. Ketergelincirannya adalah keniscayaan sebagaimana itu sifat kemanusiaan.

Para ulama Sunnah sejak lampau masing-masing punya kesalahan.
Di antara contohnya: Abu Bakr Ibn Khuzaimah rahimahullah (w. 311), seorang ulama ahli hadits bermadzhab Syafi’i yang berlatar belakang atsari sunni, menulis kitab at-Tauhid, berisikan riwayat-riwayat bersanad di bidang aqidah Ahlus Sunnah. Namun dalam masalah hadits shurah beliau menyendiri. Beliau berpendapat dhamir ه dalam صورته kembali ke nabi Adam, bukan Allah, yang mana itu menyelisihi pemahaman yang disepakati 3 generasi pertama (para Salaf). Bahkan beliau meriwayatkan secara jelas riwayat berikut:

فإن الله خلق آدم على صورة الرحمن

Di riwayat itu, langsung disebut lafal nama Allah yang mulia (الرحمن). Tapi beliau memilih idhafah kembali ke selain ar-Rahman. Hal ini terjadi pula pada Abu Tsaur, Abu asy-Syaikh al-Ashbahany dan lainnya dari ulama hadits. Perlu diketahui, bahwa pandangan mereka rahimahumullah diinkari oleh para ulama Sunnah saat itu dan setelahnya. Dan itu tidak menurunkan penghormatan terhadap mereka.

Abu Ahmad al-Karajy atau dikenal dengan julukan al-Qashshab (القصاب). Wafat kisaran 360 H. Beliau dengan ajaibnya menjelaskan panjang lebar keyakinan beliau bahwa mayyit setelah ditanya dengan soalan kubur, takkan memiliki ihsas (merasakan) suatu apapun, baik nikmat atau adzab. Nikmat dan adzab itu ada bagi beliau. Tapi merasakan keduanya tidak ada. Tidak ada ulama Sunnah berpendapat seperti itu. Dan ini masalah furu’ aqidah. Beliau menyendiri. Namun tidak mencederai posisi beliau sebagai ulama Sunnah.

Memiliki kesalahan adalah udzur manusia, walau tidak semua kesalahan bisa diberi udzur. Maka, siapapun imam dan dai Sunnah yang menyendiri dalam suatu permasalahan, sejak masa Sahabat hingga masa kini, tentang mereka ada matsal:

لكل عالم هفوة، ولكل صارم نبوة، ولكل جواد كبوة

“Setiap orang berilmu memiliki ketergelinciran. Setiap pedang ada masa melesatnya. Setiap kuda super pernah jatuh.”

Namun tentu di antara manhaj kita: kebenaran sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah serta petunjuk salaf diutamakan.

Artinya: tidak boleh kita ikut pendapat yang menyelisihi semua itu, sekalipun ulama kibar yang mengatakannya, alih-alih ustadz taraf lokal.

Juga nama baik alim yang tergelincir harus tetap dijaga. Tanbih dan nasehat tetap ada. Sebagai bentuk kecemburuan. Namun jangan melampaui batas, dengan julukan-julukan yang secara vulgar mengarah kepadanya. Ini adalah track yang ditempuh orang-orang yang berpenyakit. Setiap ada kesalahan dai fulan dan dai allan, maka ia bukannya merasa sedih dan ingin meralat agar membaik, justru ia bergembira. Adakah yang bergembira dengan tergelincirnya hamba shalih selain setan?!

Ustadz Hasan Al Jaizy

Didiklah Anak Perempuan Kita untuk Memahalkan Diri

Didik anak perempuan untuk merasa malu dengan aurat sendiri dan aurat orang lain

Didik anak perempuan untuk merasa cantik dari dalam bukan cuma cantik fisik

Didik anak perempuan untuk mencari cinta Pencipta daripada berharap untuk mencari cinta manusia

Didik anak perempuan untuk jadikan Al Quran sebagai pegangan dan rujukan

Didik anak perempuan untuk mengenal siapa mahram dan siapa bukan mahram bagi dirinya

Didik anak perempuan untuk lebih menghargai dirinya sendiri daripada mencari penghargaan dari manusia lain

Didik anak perempuan untuk lebih menjaga marwah diri lebih dari menjaga hati orang yang baru dikenali
“Sesiapa yang diberati menanggung sesuatu urusan menjaga dan memelihara anak-anak perempuan, lalu ia menjaga dan memeliharanya dengan baik, niscaya mereka menjadi pelindung baginya daripada api neraka.”
[HR Bukhari, Muslim dan at-Tirmizi].

Dermawan Hanif

Agar Tidak Ada Pelakor Di Antara Kita

Sebenarnya andai kita menerapkan adab-adab Islam dengan baik, maka rumah tangga akan langgeng dan jauh dari yang namanya pelakor.

Maka terapkanlah adab-adab Islam dalam berinteraksi terhadap lawan jenis yang bukan mahram:

  • Menundukkan pandangan

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An Nur: 30-31).

  • Tidak bersentuhan baik langsung maupun dengan pelapis

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahramnya)” (HR. Ar Ruyani dalam Musnad-nya, 2/227,dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 1/447).

  • Tidak berdua-duaan

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

Termasuk berkomunikasi berdua melalui japri tanpa ada kebutuhan.

  • Tidak bercampur-baur antara lelaki dan wanita yang membuat mudah sekali berpandang-pandangan atau bersentuhan. Sebagaimana dilarangnya berdua-duaan.
  • Wanita tidak melembut-lembutkan suara ketika berbicara dengan lawan jenis, termasuk suara yang bisa dianggap lucu, ayu, imut dan semisalnya

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“maka janganlah kamu menundukkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al Ahzab: 32)

  • Berbicara dan memenuhi suatu keperluan dari balik tabir jika memungkinkan

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53).

  • Senantiasa ingat bahaya fitnah wanita, baik wanita yang belum bersuami maupun yang sudah bersuami

ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ

“Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita” (HR. Al Bukhari 5096, Muslim 2740).

  • Berbicara dengan lawan jenis seperlunya jika dibutuhkan saja. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mewasiatkan agar kita waspada terhadap fitnah wanita.

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah dari wanita” (HR. Muslim no. 2742).

  • Tidak saling tertawa, interaksi yang terlalu akrab, canda ria, dan semacamnya yang menimbulkan bekas di hati dan dapat menimbulkan desiran-desiran syahwat. Karena ini tidak sejalan dengan sabda Nabi: “berhati-hatilah terhadap wanita!”
  • Wanita ketika safar wajib bersama mahramnya

لا تسافرُ المرأةُ إلا مع ذي محرمٍ

“Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

  • Tidak pasang foto di medsos. Terutama bagi wanita. Karena tidak sejalan dengan perintah untuk menundukkan pandangan.

Semoga bermanfaat.

@fawaid_kangaswad

(Ustadz Yulian Purnama)

Wanita dan Serigala Medsos

Nasehat Untuk Ukhti Muslimah Agar Hati-Hati Dari Serigala

ﻗﺎﻝ ﺍلشيخ ﻋبد الرزاق البدر حفظه الله :
ﻛﻢ ﻣﻦ ﺍﻣﺮﺃﺓ مؤﻣﻨﺔ ﺻﺎلحة ﻋﻔﻴﻔﺔ شَرﻳﻔﺔ ﺗﻌﻴﺶ بينَ ﺃﺳﺮﺗﻬﺎ ﻓﻲ ﺇﻳﻤﺎﻥ ﻭ ﺗﻘﻮﻯ ﻭ ﺻﻼﺡ فجاﺀﻫﺎ ﺫئبٌ من ﺍﻟﺬﺋﺎﺏ ؛ ﻓﺄفسدﻫﺎ ﺑﻠﺴﺎنه ! ﻭ ﺃﺧﺬ – ﺇما ﻋﺒﺮ ﺍﻟﻬﺎتف ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ – يُحدﺛﻬﺎ ﺑﻜﻼﻡ ﺭﻗﻴﻖ ﻭ ﺃﻟﻔﺎﻅ مُغرﻳﺔ ،، ﻓﺄفسَد ﻋﻠﻴﻬﺎ عفّتها ﻭ شَرفها ﻭ ﻛﺮﺍمَتها .
[ ﻣﻮﻋﻈﺔ ﺍلنّساﺀ ( ﺹ 42 ) ]

As-Syaikh ‘Abdurrazzâq Al-Badr hafizhahullâh berkata:
“Berapa banyak wanita mu’minah, shâlihah, ‘afîfah (yang terjaga kehormatannya), syarîfah (wanita mulia) yang hidup di tengah keluarganya dalam keadaan imân, taqwâ, dan shalâh (baik-baik), lalu datang kepadanya salah satu dari serigala, kemudian ia merusaknya dengan lisânnya, dan ia pun mengambil mungkin via HP, atau yang lainnya, ia pun berbicara kepadanya dengan ucapan yang lemah lembut, dan lafazh-lafazh yang memikat, lalu ia pun merusak ‘iffahnya, kemuliaannya, dan karâmahnya.”

[Mau’izhatun Nisâ’ hal 42]
IG: @mencari_jalan_hidayah

Imam Ahmad dan Penguasa Mu’tazilah

Khalifah di masa Imam Ahmad dipengaruhi oleh orang-orang Mu’tazilah sehingga kebijakannya merugikan Ahlus Sunnah bahkan Islam itu sendiri.

Yang beliau lakukan adalah mencounter pemikiran Mu’tazilah yang diseru para pembisik khalifah, dengan tetap menjaga kewibawaan Khalifah agar rakyat tidak benci kepada pemimpinnya.

Jadi, bukan “jangan mengkritik”, tapi bagaimana cara kritikmu agar hubungan rakyat-penguasa tetap baik dan tidak timbul kebencian kepada pemerintah.

Nahi munkar jalan, taat dan respek kepada pemimpin pun tetap terjaga.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

T: Berarti mengcounter terang-terangan secara publik, ustadz?

J: Jika diperlukan oleh publik, dan atau dapat sampai ke penguasa. Jika tidak, maka tidak dilakukan. Dan jangan sampai ini menjadi opsi pertama selagi masih dapat dilakukan dengan cara empat mata, atau perwakilan, yang melakukannya (terang-terangan) pun ulama atau tokoh yang punya pengaruh

Bersikap Pertengahan terhadap Penguasa

Harus diakui bersikap pertengahan itu sulit, terutama kalau kita tidak tahu ilmunya.

Sebagian orang karena sangat berhati-hati sampai tidak membolehkan pengingkaran terhadap kemungkaran yang terpublikasikan dan butuh untuk diluruskan, dengan alasan bahwa itu berasal dari pemerintah.

Padahal para ulama telah menjelaskan dan mengakomodir hal ini. Bahwa nahi munkar tetap bisa dilakukan dengan batasan-batasan sesuai syariat. Bisa dibaca di sini: https://cintasedekah.org/Muamalah-kepada-Penguasa-di-Era…

Sebagian yang lain, kebablasan mengomentari kebijakan-kebijakan yang sebetulnya bukan kemungkaran, dengan alasan nahi munkar dan nasehat terang-terangan. Ini juga tidak tepat.

Definisi kemungkaran adalah hal-hal yang melanggar syariat dan bukan ruang ijtihad. Dan para ulama mengatakan: dalam perkara ijtihadiyah tidak ada nahi munkar.

Sehingga kalau sebuah kebijakan itu *tidak melanggar syariat* atau tidak menyentuh ranah syariat, maka itu masuk dalam perkara siyasah syar’iyyah dan bagian dari ijtihad yang kita tidak boleh menganggapnya sebuah kemungkaran yang wajib diingkari.

Menyikapi kebijakan yang TIDAK bertentangan dengan syariat, ada dua pedoman:

1. Ketika tidak sependapat dengan kebijakan tersebut, maka harus berdasarkan ilmu. Sehingga, kebijakan pemerintah tidak boleh dikomentari oleh orang yang bukan ahli di bidangnya, apalagi ramai-ramai oleh netizen yang tidak paham permasalahan.

2. Karena bukan ranah nahi munkar, maka kedaruratan untuk disampaikan secara terbuka tidaklah sebagaimana nahi munkar. Akan tetapi ia sebagaimana kritik dan saran pada umumnya yang diusahakan sampaikan secara tertutup agar mudah diterima,

Atau jika harus terbuka maka disampaikan dengan bahasa yang baik dan sopan, bukan dengan sindiran-sindiran yang menjatuhkan martabat dan wibawa pemerintah.

Walhasil, kesimpulannya tetap tidak dibenarkan membicarakan politik dan kebijakan pemerintah di medsos, kecuali urusannya adalah nahi munkar yang mau tidak mau harus dilakukan.

Jadikanlah itu keterpaksaan, bukan hobi.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Aqidah Ahlus Sunnah Terkait Penguasa

Aqidah Ahlus Sunnah terkait penguasa itu mudah dan simpel:

1. Taat dalam hal yang bukan maksiat,

2. Tidak memberontak kepada mereka,

3. Shalat jamaah, jumat, puasa, dan berhari raya bersama mereka,

4. Menjaga kehormatan mereka agar mereka tetap disegani dan ditaati,

5. Mendoakan kebaikan bagi mereka,

6. Tidak mendoakan kejelekan bagi mereka, dan

7. Menasehati mereka ketika keliru, yang hukum asalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Namun sebagian orang yang hatinya tidak rela menerima aqidah ini, jika ada kesempatan, mereka dengan halus mengajak rakyat untuk membenci penguasanya, berkedok kecemburuan kepada agama.

Ketika ada kemungkaran, fokusnya bukan agar kemungkaran tersebut terangkat, tapi ingin menunjukkan kepada orang-orang: “Lihatlah pemimpin kalian, apa yang dia lakukan”.

Begitu pula orang-orang yang tidak punya perhatian kepada aqidah ini, dia akan masih memberi pemakluman bahkan pembelaan serta promosi kepada da’i-da’i yang menyimpang dalam masalah ini.

Semoga kita dikuatkan untuk istiqamah di atas sunnah.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Blog at WordPress.com.

Up ↑