Husnul Khatimah itu …

Husnul khatimah itu bukan selalu bahwa seseorang itu mati dalam keadaan sedang bersujud di shalat malam atau dalam keadaan sedang membaca mushaf. Sejarah mencatat bahwa tokoh-tokoh khawarij mati terbunuh sementara lisannya tak henti melafalkan ayat-ayat al-Quran.

Bisa jadi pula seorang yang berpemikiran kuburiyyun mati dalam keadaan sedang sujud dalam shalat malam, sementara ia membawa keyakinan kuburiyunnya itu sampai akhir hayat.

Maka husnul khatimah adalah seseorang yang mati dalam keadaan bertauhid terlepas dari syirik, baik ia mati dalam keadaan terbaring di atas ranjangnya maupun dalam keadaan sujud shalatnya.

(HWWW)


Kuburiyyun: pemuja kuburan, baik meminta langsung kepada penghuni kubur maupun memperantarai doa kepada Allah melalui penghuni kubur. Keduanya pembatal keislaman.

Sebuah Perumpamaan dengan Dosa-Dosa

Orang yang terbiasa dengan kamar mandi/ WC yang jorok, busuk dan kotor maka dia akan merasa baik-baik saja dengan pemandangan dan bau seperti itu.

Sebaliknya, orang yang mulai membiasakan dengan kamar mandi yang bersih, wangi, bahkan indah dan artistik, maka saat bertemu kamar mandi yang sedikit saja ada noda kuning atau ada satu dua hewan beterbangan, maka dia akan merasa risih, tidak nyaman, jijik dan tidak kerasan.

Pembiasaan lingkungan yang bersih, indah dan rapi akan membuatnya sensitif dengan lingkungan yang kotor dan jorok.

Seperti itulah perumpamaan orang dengan dosa-dosanya.

Jika dia terbiasa dengan dosa, maka dia akan merasa baik-baik saja. Dia sulit untuk merasakan betapa jorok, busuk dan kotor hatinya.

Tapi jika dia terbiasa membersihkan diri, menyucikan jiwa, memperindah akhlak, dan mewangikan hati, maka dia akan sangat sensitif dengan segala hal yang mengotori dirinya. Sekecil apapun.

﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ ‌زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9-10]

(Muafa)

Kejahilan Berbalut Kalimat Mutiara

“Percuma menjadi pelangi untuk suami yang buta warna”

atau

“Percuma menjadi nada yang indah untuk istri yang tuli”

Dikira kalimat-kalimat seperti itu keren.

Padahal itu menunjukkan amalnya untuk manusia, mengharap apresiasi manusia dan berharap dibalas manusia.

Ini keliru.

Beramallah sebaik mungkin dengan niat dilihat Allah, diapresiasi Allah dan diperhatikan Allah. Harapkan Dia rida padamu. Haraplah balasan dariNya.

Buang semua harapan pada manusia.

Itu baru ikhlas sejati.

Setiap amal dan kebaikan apapun yang masih berharap dihargai manusia, maka kita tidak akan mendapati balasannya di akhirat.

Alangkah banyaknya kejahilan di zaman sekarang yang berbalut kalimat mutiara.

(Muafa)

Pentingnya Lingkaran Pertemanan Kita

Serusak dan sebejat apapun kita, pastikan lingkaran pertemanan kita dan teman-teman nongkrong kita adalah orang-orang saleh. Sebab dengan begitu, sejauh apapun kita terbelokkan dari jalan Allah (na‘ūżu billāh min żālik), akan tetap ada harapan bahwa suatu hari kita akan “kembali”. Kembali kepada Allah, itulah yang dinamakan taubat.

Jangan sampai sudah merasa jauh dari Allah, melakukan banyak dosa, larut dengan dunia yang melalaikan, lalu membuat keputusan terburuk: Menjauh dari teman-teman saleh. Yang seperti ini sangat berbahaya bagi akhirat. Karena serigala akan memangsa kambing yang tersesat sendirian.

Allah menjamin, bahwa siapapun yang gemar bergaul dengan orang-orang saleh dan ahli zikir, maka dia akan kecipratan berkahnya dan mendapatkan ampunanNya. Meskipun dia seorang pendosa dan banyak sekali melakukan kesalahan. Allah mensifati orang-orang saleh dan ahli zikir dengan penuh cinta memakai ungkapan sebagai berikut,

«هُمُ الْقَوْمُ لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ ‌جَلِيسُهُمْ». [«صحيح مسلم» (8/ 68 ط التركية)]

Artinya,

“Mereka (orang-orang saleh ahli zikir itu) adalah kaum yang “teman nongkrong”nya tidak (akan) sengsara berkat mereka” (H.R.Muslim)

Dari sini tampak juga keutamaan memiliki suami atau istri yang saleh. Walaupun tidak ada cinta misalnya. Sebab pasangan suami-istri adalah teman yang paling dekat dan paling intens berinteraksi di antara semua teman. Alangkah banyaknya suami yang kembali “waras” karena memiliki istri yang salehah setelah berpetualang bertahun-tahun dalam kemaksiatan. Alangkah banyak pula istri yang sadar dan bertaubat karena memiliki suami yang saleh setelah “nakal” bertahun-tahun.

(Muafa)

@buzzerp

Kalau orang-orang shaleh dalam heningnya sudah memanjatkan doa-doa laknat atasmu, tinggal kehendak Allah saja yang menentukan.

Lalu mau lari ke mana lagi kamu?

Jangan Sampai Diammu Dianggap Setuju

Ketika para pemuka agama di masyarakat (tgk; kiyai; tuan guru; dll) diam saat kemaksiatan berlangsung di hadapan mereka, padahal sdh dijelaskan di kitab yang mereka pelajari bahwa itu maksiat.

Akibatnya, ketika suatu saat nanti ada yang mengingkari dengan memakai penjelasan kitab tsb.
Maka, akan terdengar jawaban:

“Dari dulu kami sudah melakukanya, gak ada kiayi yang larang. Kok, kamu anak kemaren sore, ngelarang kami. Emang kamu lebih paham isi kitab dari tuan guru kami? Dasar ” Wahabi”.

Sungguh engkau akan bertanggung jawab atas “diam” mu yang dianggap sebagai persetujuan oleh masyarakat.

Syubhat Multitafsir atas Al Qur’an

Ada orang berkata: “Al-Qur’an itu terbuka, multitafsir, bisa ditafsirkan oleh siapa saja.”

Kalimat ini jika ditelan mentah-mentah dapat menyesatkan.

Pertanyaannya: “Apakah Allah menugaskan anda untuk menafsirkan atau menjelaskan Al-Qur’an?, apakah Allah memberikan mandat pada kita untuk menjelaskan Al-Qur’an ?”

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan Aż-Żikr (Al-Qur`ān) kepadamu, agar engkau enerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada merekadan agar mereka memikirkan
( Qs.An-Nahl 44 ).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ

Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur`ān) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
( Qs.An-Nahl 64 ).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا

Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali ( Qs.An-Nisa 115 ).

Dua ayat di atas menerangkan tentang tugas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu menjelaskan AlQur’an, dan ayat ketiga menjelaskan keharusan kita mengikuti para sahabat radhiallahu anhum.

Oleh karena itu setiap penafsiran yang meyelisihi penafsiran Rasul dan para sahabatnya, maka itu adalah penafsiran yang menyimpang.

Semoga Allah memberikan taufiqNya dan memudahkan kita untuk mempelajari ilmu Ushul tafsir.

Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi

Kisah Mualaf

Ada seorang pekerja yang berangkat di pagi hari dengan naik bus ke tempat kerjanya

Pagi itu kebetulan dia menunggu bus di tempat pembuatan patung, tuhan yang mereka biasa sembah

Maka diapun memperhatikan bagaimana tukang pahat sedang menyelesaikan pembuatan patung-patung, kadang sambil duduk kadang berdiri…

Yang membuatnya terkejut dan mengusik jiwanya adalah tatkala duduk, pemahat tsb menduduki patung yang belum jadi, dan saat berdiri pemahat tsb menginjakkan kakinya pada patung tsb

Padahal patung tsb adalah tuhan yang biasa mereka sembah…
Bagaimana mungkin tuhan kok dijadikan alas tempat duduk bahkan diinjak dengan kaki ?

Diapun berpikir dan berpikir…
Akhirnya diapun memutuskan masuk ke dalam agama Islam

Di tempat lain juga ada kisah…
Seseorang yang melihat seekor anjing mendatangi sebuah patung sesembahan, lalu anjing tsb mengencinginya…

Maka hati kecilnyapun terusik..
Bagaimana mungkin tuhan dikencingi oleh seekor anjing. ?

Kemudian diapun memutuskan masuk agama Islam

Faidah Kajian Islam
Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di Bulan Ramadhan
Ustadz Dr Firanda Andirja

Pikiran Kita Sendiri yang Menta’yin dan Mendramatisir

Ketika ada A menasehati secara umum tentang riya. Lalu menyebutkan beberapa perbuatan yang rawan akan riya.

Datanglah B menasehati agar jangan su’uzhan bahwa orang yang berbuat seperti itu riya. Itu masalah hati.

Maka habislah kitab-kitab yang membahas syirik kecil bahkan syirik besar; mengupas amalan-amalan dan sikap yang berpotensi untuk riya.

Syaikh Shalih al Fauzan ketika ditanya tentang imam yang memvideokan dirinya saat baca al-Qur’an atau saat jadi imam, langsung beliau memperingatkan bahwa itu adalah riya. Padahal ya kalau husnuzhan, boleh jadi ada posibilitas lain yang bukan riya. Tapi kenapa beliau langsung menjawab seperti itu?

Karena itulah tanbih dan nasihat. Himayah an asy-syirk. Juga tidak menyebutkan nama atau identitas atau singkatan nama. Tidak mentakyin.

Pikiran kitalah yang mentakyin. Lalu mendramatisirnya.

Kenapa kita tidak katakan ke Syaikh Shalih bahwa riya itu amalan hati. Jangan berburuk sangka, wahai Syaikh. Kenapa tidak?

Karena kita sadar itu tidak nyambung. Syaikh mengingatkan secara mujmal.

Maka, lakukan itu pula terhadap nasehat-nasehat yang semisal. Kekhawatiran syirik menimpa diri kita dan kaum muslimin lebih dikedepankan. Selama tidak mentakyin atau menyebut sesiapa, maka perlakukan secara mujmal.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Blog at WordPress.com.

Up ↑