Poligami? Mana yang Lebih Afdhal?

Sebagian ummahat yang sepertinya tidak ridha sama sekali suaminya berpoligami, membawakan tulisan dan poster yang menyatakan bahwa syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya seorang suami akan dirinya yang ingin berpoligami. Maka sang syaikh menganjurkan baginya untuk beralih membiayai seorang bujang untuk menikah sehingga pahalanya berlimpah.

Sebagian bapak yang mungkin istrinya sulit dinego atau faktor lain, juga membawakan fatwa itu. Bahkan ada pula beberapa dai muslim yang mengesankan tidak mendukung suami-suami yang MAMPU secara finansial dan keadilan untuk berpoligami.

Maka, kami berhujjah sebagaimana apa yang sudah maklum di awal surat an-Nisa’. Poligami itu adalah salah satu syariat Allah dan dipraktekkan oleh para fudhala dari kalangan anbiya dan shalihin. Adapun perihal apakah lebih afdhal berpoligami atau satu saja, ini khilaf di antara ulama madzhab. Jalan tengahnya adalah fihi tafshil. Ada rincian. Tidak dimutlakkan untuk setiap individu. Bagi yang memiliki hajat serta mampu berbuat adil (plus managemen finansial yang baik untuk zaman ini), maka LEBIH AFDHAL baginya berpoligami.

Na’am. Lebih afdhal terutama untuk mereka yang memiliki ILMU dan menjadi contoh yang baik serta PEMBELA syariat ini dengan praktek yang terarah.

Adapun bagi yang ragu berbuat adil, bakhil, perhitungan, juga menimbang madharatnya lebih besar, maka lebih afdhal baginya tidak berpoligami.

Ini dari sisi individunya. Adapun dari segi zaman dan sosial, maka sesuai perkataan Syaikh ibn Utsaimin yang wafat kisaran 20 tahunan lalu:

التعدد في هذا الزمان أشد إلحاحا منه فيما سبق لكثرة النساء وكثرة الفتن واحتياج النساء إلى من يحصن فروجهن، وقد ذهب كثير من العلماء إلى أن التعدد أفضل من الإفراد

“Poligami di zaman ini LEBIH TEGAS HIMBAUANNYA daripada dahulu kala karena:

(1) Banyaknya perempuan
(2) Banyaknya fitnah
(3) Butuhnya perempuan kepada pria yang bisa menjaga kemaluan mereka

Banyak dari ulama berpendapat bahwa poligami lebih afdhal dibandingkan mencukupkan diri dengan satu.” (Syarh Hilyah Thalib al-Ilm)

Anjuran kami agar pembaca yang memiliki kemampuan berbuat adil, tidak bakhil, tidak perhitungan dan finansial yang baik agar berpoligami, sesuai dengan himbauan syariat Islam. Namun bagi yang selama ini perhitungan, apalagi bakhil, untuk mencukupi satu istri saja sudah kesulitan, maka ini indikator tidak akan bisa berbuat adil jika berpoligami. Yang seperti ini, lebih afdhal baginya berusaha memperbaiki sikap-sikap tersebut.

Yang kami dapatkan, ikhwah di perkumpulan mereka, bahkan beberapa juru dakwah yang masih mufridun (beristri satu), berkumpul membahas poligami hanya sebagai candaan, bukan suatu pembahasan yang berbuah amal atau minimal ada ilmu yang terbicarakan. Mirip seperti bujang-bujang gabut yang membicarakan akhwat fulanah yang masih single. Bedanya, para mufridun ini membicarakan janda demi janda, yang mana majelis semacam itu mengotori hati mereka sendiri. Boleh jadi setelah obrolan, hati mereka panas dan berefek pada sikap terhadap istri sendiri (karena merasa hasratnya terhalangi padahal obrolan tadi indah sekali).

Maka kami katakan kepada bapak-bapak yang seperti ini (dan betul kami berkali-kali katakan), “Imma antum bicara untuk merealisasikan, imma antum baiknya diam saja.” Walau memang tidak masalah jika sesekali bercanda, namun yang kami dapatkan kerapkali ikhwan kita keterusan karena seru (bagi mereka).

Memang, ada sebagian salaf yang di obrolan mereka, mengutarakan bahwa kelak ‘saya akan menikah dengan fulanah binti fulan’, namun mereka tidak menjadikannya candaan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sebagian sahabat pun, saat menginginkan fulanah binti fulan, pernah menyebutnya ketika berbincang dengan sebagian sahabat. Banyak rekan kita, hanya membicarakan fulanah binti fulan, maju tapi gentar, melangkah malah mundur, akhirnya berakhir pada candaan dan halusinasi.

Juga, sebagian ikhwan hobi memberikan meme di WA dua akhwat berpelukan dengan tulisan Ikhwan Idaman. Exactly, ikhwan yang semisal ini sama sekali bukan idaman, melainkan dialah yang ngidam dan tak kesampaian. Atau meme 4 perempuan yang seolah menggoda agar semuanya dinikahi. Meme atau gambar semisal ini menjatuhkan muru’ah dan harga diri ikhwan yang sudah ngaji. Lebih jelek lagi jika ikhwan sudah berpoligami namun masih suka umbar meme seperti ini. Harusnya menjadi contoh kewibawaan muta’addid bahwa setelah poligami, bukan saatnya main-main dan bercanda.

Masih banyak yang harus kita perhatikan berkaitan dengan poligami. Ini termasuk syariat yang mahjurah oleh banyak kalangan Muslimin. Di antara kezaliman yang terjadi adalah banyaknya orang yang antipati terhadap poligami dengan dasar kisah-kisah kegagalan bahtera beberapa praktisi. Padahal banyak praktisi yang alhamdulillah sukses. Bahkan, perceraian di pernikahan mufridun jauh jauh lebih banyak. Apa gegara kisah-kisah cerai mereka lantas kita antipati dengan nikah sehingga bujang tetap membapuk dan duda tetap dapuk?!

Berbenahlah waffaqanallah.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: