Mengapa Mereka Berbuat Syirik?

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menerangkan alasan orang-orang musyrik berbuat syirik. Ada dua alasan mereka :

Pertama, untuk mendekatkan diri kepada Allah

Kedua, untuk berharap syafa’at (penolong di hadapan Allah), dari Tuhan yang mereka sembah.

Dalil bahwa mereka menyembah selain Allah untuk alasan mendekatkan diri kepada Allah adalah firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)

Dalil bahwa alasan mereka berbuat syirik karena mencari syafa’at adalah firman Allah Ta’ala,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) (mendatangkan) manfaat.” (QS. Yunus: 18)

(Dikutip dari Qawaidul Arba’, kaidah kedua)

Alasan mereka di atas, menunjukkan dua hal:

Pertama, tidak percaya diri berterus-terang telah melakukan syirik.

Lihatlah sikap mereka yang tidak percaya diri dan tidak mau berterus terang untuk menyebut diri mereka telah melakukan syirik atau musyrik. Sehingga mereka pun mencari berbagai macam dalih karena tidak ingin disebut dengan orang musyrik. Begitupula dengan orang kafir.

Contoh:

Sempat viral di tanah air kita, adanya orang non-muslim yang tidak suka disebut dengan “kafir”. Padahal kenyataannya, status mereka memang demikian. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa Islam adalah agama fitrah, buktinya mereka tidak suka dikatakan seperti itu. Dan hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak yakin dengan keyakinan mereka sendiri dan fitrah mereka mengingkari hal tersebut.

Kedua, kelirunya beragama hanya berdasar pada anggapan baik.

Mereka menganalogikan kekafiran yang mereka lakukan itu, seperti meminta sesuatu kepada makhluk. Kalau kita mau meminta kepada presiden, maka harus terlebih dahulu melalui perantara orang di bawahnya (sekretaris negara, misalnya) dan yang semisalnya.

Hal ini dibantah oleh firman Allah Ta’ala,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku (langsung), niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Kesesatan ini muncul, karena beragama hanya berpijak pada anggapan baik. Sehingga setiap orang yang beragama hanya berdalil dengan anggapan baik, bukan ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka mereka telah menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang ini.

Lanjut baca: https://muslim.or.id/55093-mengapa-mereka-berbuat-syirik.html

Beda Wanita ‘Alimah dan Jahilah

“Dahulu Fâthimah bintu al-imâm Mâlik jika dibacakan kepada ayahnya Al-Muwattha’ dan qâri’ (pembaca) melakukan kesalahan baca huruf, atau menambah dan mengurangi, ia akan mengetuk pintu, Lalu imâm Mâlik berkata kepada qâri’: ‘ulangi karena kesalahan menyertaimu’.

Lalu qâri’ mengulangi membaca dan menemukan kesalahan.”

[Al-Makhal karya Ibnul Hâj 1/215]

Pemilik Status (Abû Salmân) berkata: “Kalau wanita ‘âlimah mengetuk pintu, kalau wanita jâhilah (bodoh) akan membuka chanel youtube.”

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Sweet Words, Bitter Action

“Jangan merasa paling nyunnah!”

“Jangan merasa paling ngikuti salaf saja!”

Vonis terselubung. Melarang orang lain memvonis suatu amalan sebagai bid’ah atau tidak sesuai syariah, tapi sendirinya memvonis dengan trik terselubung.

“Memang yang terbaik hati dibina dan tidak saling memvonis.”

Sweet words. Bitter action.

“Jangan merasa paling nyunnah!”

Padahal, ‘merasa’ paling nyunnah adalah perbuatan hati.

Katanya: ‘yang di dalam hati, hanya Allah dan dirinya yang tahu.’

Kok, bisa tahu hati fulan yang merasa paling nyunnah ya?!

Sweet words, bitter action.

(Ustadz Hasan Al Jaizy)

Pamit Mencari Nafkah, Pulang Jadi Jenazah.

Kita tak pernah tahu bahwa saat orang² yang kita cintai melangkahkan kaki keluar pintu pergi untuk mencari nafkah bisa jadi itu adalah merupakan saat² terakhir kita bersamanya.

Sebab itu wahai para istri, Syukurilah saat² bersama pasanganmu, karena ada suatu nikmat yang sering diabaikan bagi para perempuan, yaitu nikmat memiliki pencari nafkah.

Di saat banyak perempuan lain harus keluar demi menyambung hidup, sedangkan engkau hanya menunggu hasil buruan suami dari dalam rumah yang aman dan nyaman, tanpa harus panas-panasan.

Padahal mereka diluar sana terkadang mencari nafkahnya bukan sekedar modal tenaga tapi juga penuh perjuangan dan mempertaruhkan nyawa.

Karena itu jangan suka mengeluh dengan sedikitnya hasil yang suami bawa pulang. Bisa jadi itu hari terakhir ia mencarikan nafkah untuk kita.

Tetap syukuri dan berterima kasih, walau sedikit atau banyak hasil kerja yang ia bawa, yang terpenting ia tanggung jawab dan membawa nafkah yang halal.

Semoga Allah Ta’ala memberi keselamatan, keberkahan serta pahala yang berlipat kepada para suami kita yang sedang mencari nafkah, Aamiin.

Foto : Kecelakaan maut di Cibubur – Cileungsi

Habibie II

Hari Terindah

Hari terindah adalah hari ketika anda tidak bermaksiat kepada Allah. Semakin anda bermaksiat semakin pudar keindahan tersebut.
Jaga pandangan, pendengaran, fikiran dan lisan.

(Ustadz Dr. Firanda Andirja)

Tidak Semua Perbedaan Bisa Ditolerir

Renungan sebelum tidur…

Kalau semua masalah perbedaan ditolerir dengan alasan khilafiyah (bahkan masalah aqidah) akhirnya para penyembah kuburan akan berkata; “Biarkanlah kami meminta kepada penghuni kuburan dan beristighotsah kepada mayat mayat, toh ada ulama yang membolehkan!”

Akhirnya kaum mu’tazilah akan berkata biarkanlah kami menolak sifat-sifat Allah dan kami katakan al-Qur’an adalah makhluk, toh ada ulama yang menyatakan demikian!

Akhirnya muncul kaum liberal dan berkata “Buat apa diributkan antara Nashrani dan Islam, toh Nashrani juga agama tauhid, mereka juga meyakini Tuhan esa hanya saja cara pengungkapan yang berbeda yaitu trinitas!”

Atau berkata; “Buat apa diperdebatkan masalah aqidah, toh yang penting niatnya dan akhlaknya baik!”

Permasalahan khilafiyah ada yang bisa ditolerir dan ada yang tidak boleh ditolerir bahkan wajib diingkari.

Kalau permasalahan al-Quran makhluk harus ditolerir maka begitu bodohnya Imam Ahmad bertahan mempertahankan aqidahnya hingga dipenjara dan disiksa…?! Semuanya karena beliau tidak mentolerir.

Entah sebagian kita yang selalu mentolerir yang lebih pandai ataukah Imam Ahmad?

(Ustadz Firanda Andirja)

Cermin Berbisik

Cermin berbisik kepadaku, “Berhias-hias diri di luar kehadiran kekasih adalah pengkhianatan…” (@Balqes75)

Translated oleh Hendra Wibawa Wangsa Wiguna

Ghibah

Ketika ada yang mengghibah seseorang, kita nasehati dia agar jangan ngomongin orang.. Tapi malah dijawab: “Kok kamu belain dia sih?”

Kita jawab: “Bukan.. Justru saya belain kamu, supaya kamu ga terjerumus dalam dosa. Adapun aib dia, kesalahan dia, itu urusan dia dengan Allah.

Kalau kamu ingin memperbaiki dia, ya datangi dia, omong langsung ke dia. Kalau nggak mampu, berarti kamu bukan termasuk yang wajib nasehati dia. Nah kalau kamu nggak wajib karena ga mampu menasehati, maka kewajibanmu diam, ingkari dengan hati, bukan malah ghibah dia, karena itu bukan solusi dan malah jadi dosa…

Tapi kalau memang niatnya cari solusi, ya silakan, misal kamu ghibah orang ini di depan orang yang kamu harap bisa menasehati dan meluruskan dia.. Kalau itu silakan saja, ghibah antara dirimu dan orang yang kamu harapkan ini, cukup berdua tidak perlu melibatkan orang lain apalagi banyak orang yang tidak berkepentingan..”

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Khadijah Wanita Karir?

Khadijah radhiallahu’anha sering dijadikan dalih bagi para wanita yang menjadi wanita karir, sering keluar rumah untuk bekerja dan lainnya.
Khadijah radhiallahu’anha memang adalah seorang saudagar yang kaya raya dan punya kedudukan di masyarakat Quraisy ketika itu. Namun kenyataannya jauh sekali antara Khadijah dan kebanyakan wanita karir zaman sekarang.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:

أَتَى جِبْرِيلُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: يا رَسولَ اللَّهِ: هذِه خَدِيجَةُ قدْ أتَتْ معهَا إنَاءٌ فيه إدَامٌ، أوْ طَعَامٌ أوْ شَرَابٌ، فَإِذَا هي أتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِن رَبِّهَا ومِنِّي وبَشِّرْهَا ببَيْتٍ في الجَنَّةِ مِن قَصَبٍ لا صَخَبَ فِيهِ، ولَا نَصَبَ

“Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian ia berkata: wahai Rasulullah, istrimu Khadijah sedang datang kepadamu membawakan wadah yang di dalamnya ada idam, atau makanan atau minuman. Jika ia datang maka sampaikanlah salam dari Allah dan dariku kepadanya. Dan sampaikan kabar gembira baginya berupa rumah di surga yang terbuat dari mutiara yang berongga, yang tidak ada kelelahan di sana dan tidak ada kesulitan” (HR. Bukhari no. 3820, Muslim no. 2432).

Perhatikan, walaupun beliau orang terpandang dan saudagar kaya, tetap saja beliau berkhidmat kepada suaminya, melayani suaminya dengan maksimal, bahkan beliau sendiri yang membuatkan makanan dan minuman untuk suaminya.

Dalam hadits tentang turunnya wahyu kedua kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Perhatikan apa yang terjadi setelah Nabi melihat Malaikat Jibril. Dari Abu Salamah bin Abdirrahman, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فَأَتَيْتُ خدِيجَةَ فقلتُ : دَثِّرُونِي وصبُّوا عليَّ ماءً بارِدًا ، وأُنْزِلَ عليَّ : { يَا أَيُّهَا المُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ}

“… Lalu aku bergegas pulang menemui Khadijah lalu aku berkata, ‘Selimutilah aku. Dan tuangkanlah air dingin pada tubuhku’. Lalu turunlah ayat: ‘Yaa ayyuhal muddatsir, qum fa-anzhir warabbaka fakabbir (Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatakan. Dan Tuhan-mu, agungkanlah)’”” (HR. Bukhari no. 4924).

Perhatikanlah, Khadijah radhiallahu ‘anha selalu stand by ada di rumah sehingga ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pulang, Khadijah ada di rumah. Bukan sedang bekerja atau di luar rumah. Dan beliau pun bersegera melayani kebutuhan suaminya.

Dan Khadijah radhiallahu’anha juga ibu yang baik dan sukses dalam mendidik anak-anaknya. Tercermin dalam kebaikan akhlak dan kesalihan putra-putri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Maka hendaknya kaum Muslimah merenungkan hal ini. Bekerja bagi wanita memang boleh dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Dan salah satu syaratnya, tidak boleh sampai melalaikan tugas utamanya sebagai istri dan ibu. Ambilah ibrah dari sosok Khadijah radhiallahu’anha.

Yang ingin menyelami bagaimana kehidupan sehari-hari Khadijah radhiyallahu’anha bisa baca buku berikut ini: “Khadijah Teladan Agung” karya Ibrahim Muhammad Hasa

Blog at WordPress.com.

Up ↑