Kejahilan Berbalut Kalimat Mutiara

“Percuma menjadi pelangi untuk suami yang buta warna”

atau

“Percuma menjadi nada yang indah untuk istri yang tuli”

Dikira kalimat-kalimat seperti itu keren.

Padahal itu menunjukkan amalnya untuk manusia, mengharap apresiasi manusia dan berharap dibalas manusia.

Ini keliru.

Beramallah sebaik mungkin dengan niat dilihat Allah, diapresiasi Allah dan diperhatikan Allah. Harapkan Dia rida padamu. Haraplah balasan dariNya.

Buang semua harapan pada manusia.

Itu baru ikhlas sejati.

Setiap amal dan kebaikan apapun yang masih berharap dihargai manusia, maka kita tidak akan mendapati balasannya di akhirat.

Alangkah banyaknya kejahilan di zaman sekarang yang berbalut kalimat mutiara.

(Muafa)

Pentingnya Lingkaran Pertemanan Kita

Serusak dan sebejat apapun kita, pastikan lingkaran pertemanan kita dan teman-teman nongkrong kita adalah orang-orang saleh. Sebab dengan begitu, sejauh apapun kita terbelokkan dari jalan Allah (na‘ūżu billāh min żālik), akan tetap ada harapan bahwa suatu hari kita akan “kembali”. Kembali kepada Allah, itulah yang dinamakan taubat.

Jangan sampai sudah merasa jauh dari Allah, melakukan banyak dosa, larut dengan dunia yang melalaikan, lalu membuat keputusan terburuk: Menjauh dari teman-teman saleh. Yang seperti ini sangat berbahaya bagi akhirat. Karena serigala akan memangsa kambing yang tersesat sendirian.

Allah menjamin, bahwa siapapun yang gemar bergaul dengan orang-orang saleh dan ahli zikir, maka dia akan kecipratan berkahnya dan mendapatkan ampunanNya. Meskipun dia seorang pendosa dan banyak sekali melakukan kesalahan. Allah mensifati orang-orang saleh dan ahli zikir dengan penuh cinta memakai ungkapan sebagai berikut,

«هُمُ الْقَوْمُ لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ ‌جَلِيسُهُمْ». [«صحيح مسلم» (8/ 68 ط التركية)]

Artinya,

“Mereka (orang-orang saleh ahli zikir itu) adalah kaum yang “teman nongkrong”nya tidak (akan) sengsara berkat mereka” (H.R.Muslim)

Dari sini tampak juga keutamaan memiliki suami atau istri yang saleh. Walaupun tidak ada cinta misalnya. Sebab pasangan suami-istri adalah teman yang paling dekat dan paling intens berinteraksi di antara semua teman. Alangkah banyaknya suami yang kembali “waras” karena memiliki istri yang salehah setelah berpetualang bertahun-tahun dalam kemaksiatan. Alangkah banyak pula istri yang sadar dan bertaubat karena memiliki suami yang saleh setelah “nakal” bertahun-tahun.

(Muafa)

Blog at WordPress.com.

Up ↑