Pikiran Kita Sendiri yang Menta’yin dan Mendramatisir

Ketika ada A menasehati secara umum tentang riya. Lalu menyebutkan beberapa perbuatan yang rawan akan riya.

Datanglah B menasehati agar jangan su’uzhan bahwa orang yang berbuat seperti itu riya. Itu masalah hati.

Maka habislah kitab-kitab yang membahas syirik kecil bahkan syirik besar; mengupas amalan-amalan dan sikap yang berpotensi untuk riya.

Syaikh Shalih al Fauzan ketika ditanya tentang imam yang memvideokan dirinya saat baca al-Qur’an atau saat jadi imam, langsung beliau memperingatkan bahwa itu adalah riya. Padahal ya kalau husnuzhan, boleh jadi ada posibilitas lain yang bukan riya. Tapi kenapa beliau langsung menjawab seperti itu?

Karena itulah tanbih dan nasihat. Himayah an asy-syirk. Juga tidak menyebutkan nama atau identitas atau singkatan nama. Tidak mentakyin.

Pikiran kitalah yang mentakyin. Lalu mendramatisirnya.

Kenapa kita tidak katakan ke Syaikh Shalih bahwa riya itu amalan hati. Jangan berburuk sangka, wahai Syaikh. Kenapa tidak?

Karena kita sadar itu tidak nyambung. Syaikh mengingatkan secara mujmal.

Maka, lakukan itu pula terhadap nasehat-nasehat yang semisal. Kekhawatiran syirik menimpa diri kita dan kaum muslimin lebih dikedepankan. Selama tidak mentakyin atau menyebut sesiapa, maka perlakukan secara mujmal.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: