Jangan Sampai Diammu Dianggap Setuju

Ketika para pemuka agama di masyarakat (tgk; kiyai; tuan guru; dll) diam saat kemaksiatan berlangsung di hadapan mereka, padahal sdh dijelaskan di kitab yang mereka pelajari bahwa itu maksiat.

Akibatnya, ketika suatu saat nanti ada yang mengingkari dengan memakai penjelasan kitab tsb.
Maka, akan terdengar jawaban:

“Dari dulu kami sudah melakukanya, gak ada kiayi yang larang. Kok, kamu anak kemaren sore, ngelarang kami. Emang kamu lebih paham isi kitab dari tuan guru kami? Dasar ” Wahabi”.

Sungguh engkau akan bertanggung jawab atas “diam” mu yang dianggap sebagai persetujuan oleh masyarakat.

Syubhat Multitafsir atas Al Qur’an

Ada orang berkata: “Al-Qur’an itu terbuka, multitafsir, bisa ditafsirkan oleh siapa saja.”

Kalimat ini jika ditelan mentah-mentah dapat menyesatkan.

Pertanyaannya: “Apakah Allah menugaskan anda untuk menafsirkan atau menjelaskan Al-Qur’an?, apakah Allah memberikan mandat pada kita untuk menjelaskan Al-Qur’an ?”

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan Aż-Żikr (Al-Qur`ān) kepadamu, agar engkau enerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada merekadan agar mereka memikirkan
( Qs.An-Nahl 44 ).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ

Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur`ān) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
( Qs.An-Nahl 64 ).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا

Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali ( Qs.An-Nisa 115 ).

Dua ayat di atas menerangkan tentang tugas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu menjelaskan AlQur’an, dan ayat ketiga menjelaskan keharusan kita mengikuti para sahabat radhiallahu anhum.

Oleh karena itu setiap penafsiran yang meyelisihi penafsiran Rasul dan para sahabatnya, maka itu adalah penafsiran yang menyimpang.

Semoga Allah memberikan taufiqNya dan memudahkan kita untuk mempelajari ilmu Ushul tafsir.

Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi

Kisah Mualaf

Ada seorang pekerja yang berangkat di pagi hari dengan naik bus ke tempat kerjanya

Pagi itu kebetulan dia menunggu bus di tempat pembuatan patung, tuhan yang mereka biasa sembah

Maka diapun memperhatikan bagaimana tukang pahat sedang menyelesaikan pembuatan patung-patung, kadang sambil duduk kadang berdiri…

Yang membuatnya terkejut dan mengusik jiwanya adalah tatkala duduk, pemahat tsb menduduki patung yang belum jadi, dan saat berdiri pemahat tsb menginjakkan kakinya pada patung tsb

Padahal patung tsb adalah tuhan yang biasa mereka sembah…
Bagaimana mungkin tuhan kok dijadikan alas tempat duduk bahkan diinjak dengan kaki ?

Diapun berpikir dan berpikir…
Akhirnya diapun memutuskan masuk ke dalam agama Islam

Di tempat lain juga ada kisah…
Seseorang yang melihat seekor anjing mendatangi sebuah patung sesembahan, lalu anjing tsb mengencinginya…

Maka hati kecilnyapun terusik..
Bagaimana mungkin tuhan dikencingi oleh seekor anjing. ?

Kemudian diapun memutuskan masuk agama Islam

Faidah Kajian Islam
Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di Bulan Ramadhan
Ustadz Dr Firanda Andirja

Pikiran Kita Sendiri yang Menta’yin dan Mendramatisir

Ketika ada A menasehati secara umum tentang riya. Lalu menyebutkan beberapa perbuatan yang rawan akan riya.

Datanglah B menasehati agar jangan su’uzhan bahwa orang yang berbuat seperti itu riya. Itu masalah hati.

Maka habislah kitab-kitab yang membahas syirik kecil bahkan syirik besar; mengupas amalan-amalan dan sikap yang berpotensi untuk riya.

Syaikh Shalih al Fauzan ketika ditanya tentang imam yang memvideokan dirinya saat baca al-Qur’an atau saat jadi imam, langsung beliau memperingatkan bahwa itu adalah riya. Padahal ya kalau husnuzhan, boleh jadi ada posibilitas lain yang bukan riya. Tapi kenapa beliau langsung menjawab seperti itu?

Karena itulah tanbih dan nasihat. Himayah an asy-syirk. Juga tidak menyebutkan nama atau identitas atau singkatan nama. Tidak mentakyin.

Pikiran kitalah yang mentakyin. Lalu mendramatisirnya.

Kenapa kita tidak katakan ke Syaikh Shalih bahwa riya itu amalan hati. Jangan berburuk sangka, wahai Syaikh. Kenapa tidak?

Karena kita sadar itu tidak nyambung. Syaikh mengingatkan secara mujmal.

Maka, lakukan itu pula terhadap nasehat-nasehat yang semisal. Kekhawatiran syirik menimpa diri kita dan kaum muslimin lebih dikedepankan. Selama tidak mentakyin atau menyebut sesiapa, maka perlakukan secara mujmal.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Adab Para Ulama

Tiga Ulamâ’ berada dalam satu majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Cara Instan untuk Menunjukkan Anda Orang’ Mulia

Pake rumus, “bukan karena….. “

Contoh I:

Bila TAMPANG JELEK, “bukan karena tampang, seseorang itu mulia”

Bila KERE alias MISKIN, “bukan karena harta, seseorang itu mulia”

Bila BODOH prestasi, “bukan karena Nilai ijazah, seseorang itu mulia”

Bila NGANGGUR, “bukan karena sukses, seseorang itu mulia”

Dst, silahkan ditambah sendiri dg segala kekurangan anda.

Contoh II,

Dalam ceramah, dan anda adalah seorang tokoh agama:

Bila CUKUR JENGGOT, “bukan karena panjang jenggotnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila masih ISBAL, “bukan karena cingkrang celananya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila ISTRI TIDAK BERHIJAB, “bukan karena lebar jilbabnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila TIDAK HAFAL QURAN, “bukan karena banyak hafalan Quran nya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila TIDAK BISA BACA KITAB KUNING, “bukan karena bisa baca kitab, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila MALAS SHALAT SUNNAH, “bukan karena banyak shalat tahajjudnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila MALAS SEDEKAH, “bukan karena banyak sedekahnya, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Bila pernah NARKOBA; SELINGKUH; KHIANAT UANG, “bukan karena tidak pernah berdosa, seseorang itu mulia di sisi Allah”

Dst, silahkan ditambah lagi dg segala ketaatan yang tidak diamalkan.

Lalu di akhir ceramah ditutup dengan, “akan tetapi, mulianya seseorang di sisi Allah, karena taat nya kepada Allah dan manfaatnya bagi manusia”

Hebaaaaaat, seakan dia anggap hal-hal yg disebut di atas bukanlah ketaatan dan kemanfaatan.

Mau tiru model “cari mulia” seperti ini?

Masih mending yg contoh I, ia mencari kemuliaan dlm pandangan manusia dg cara framing di hadapan mereka.

Adapun contoh II, dia mencari mulia di sisi Allah, dg cara framing di hadapan manusia.

Inilah cara instan.
Anda tidak punya prestasi?
Tunjukkan bahwa orang lain yang berprestasi adalah orang hina, atau paling kurang, bukan orang mulia.

Makanya, dari sini paham kan? Kenapa orang yg tidak punya prestasi sering jualan “bnradial” dan “celak arab”?

Yasir Kencong

Kisah Ya’qub dan Yusuf

Aku sempat bertanya-tanya kenapa nabiyullah Ya’qub alaihissalam diam saja terhadap kejahatan anak-anaknya saat mereka pulang ke rumah menemui beliau dengan membawa baju Yusuf yang disertai darah palsu/buatan. Terlebih beliau tidak percaya ketika melihat baju tersebut utuh tanpa robekan.

Kenapa beliau tidak pergi ke tempat terjadinya kasus percobaan pembunuhan Yusuf untuk mencari Yusuf, seperti yang dilakukan ayah mana pun jika menghadapi kasus yang sama?

Kenapa beliau tidak memaksa anak-anaknya itu untuk mengakui kesalahan dan kejahatan yang mereka lakukan terhadap saudara mereka Yusuf?

Kenapa beliau justru memilih hal tersulit yang dilakukan oleh hati?

Ya’qub berkata:

بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).. Dan Allah sajalah tempat meminta pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan. “ (QS Yusuf: 18)

Aku begitu terpana dengan jawaban Ya’qub yang berulang bertahun-tahun kemudian yaitu saat anak-anaknya kembali dari Mesir menemui beliau.

Ya’qub kembali berucap dengan nada yang sama:

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

“Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). (QS Yusuf: 83)

Jelaslah bagiku bahwa beliau begitu yakin dengan buah kesabarannya, yaitu ayah dan anak-anaknya itu berkumpul dalam kebaikan.

Ya’qub menyebutkan harapan tulusnya:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Aku berharap Allah mendatangan mereka semua untukku, Dialah yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS Yusuf: 83)

Di hadapan anak-anaknya, Ya’qub tidak menyingkap segala perasaan, keluhan dan kesedihan yang berkecamuk di dadanya, sebagai bentuk tawakkal kepada Allah. “Dialah yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS Yusuf: 83), ungkapnya.

Aku terkagum-kagum dengan Ya’qub karena ketegasannya dalam menyimpan pilu, derita dan kecewa di hatinya tanpa menuntut anak-anaknya untuk mengatakan apapun.

Allah menyebutkan:

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (QS Yusuf: 84)

Anak-anaknya begitu terheran-heran dengan kesabaran sang ayah hingga mereka bertanya-tanya.

تَٱللَّهِ تَفْتَؤُا۟ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ ٱلْهَٰلِكِينَ

“Demi Allah, senantiasa anda mengingati Yusuf, sehingga anda mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa”. (QS Yusuf: 85)

Ya’qub pun berujar:
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya”. (QS Yusuf: 86)

Dari penggalan kalimat Ya’qub tersebut, nampaklah bagiku bahwa Ya’qub telah diwahyukan oleh Allah. Allah memerintahkan Ya’qub untuk diam semenjak awalnya. Ya’qub pun menyimpan sedih dan kegudahan terbesarnya di hati bertahun-tahun lamanya hingga matanya buta akibat kesedihan. Dan ini, tanpa ia adukan kepada manusia walau sepatah kata pun.

Nampaklah olehku pula bahwa anaknya, Yusuf alaihissalam, telah diwahyukan oleh Allah sejak mereka, saudara-saudaranya, membawanya ke dalam hutan dan menjerumuskannya ke dalam sumur.

Yusuf alaihissalam mengetahui bahwa di balik semua makar yang diarahkan kepadanya terdapat hikmah ilahiyyah bahwa kelak akan tiba hari-hari yang Allah janjikan:

لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

“Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.” (QS Yusuf: 15)

Yusuf bersabar sepertinya ayahnya bersabar. Ia mampu memikul kesulitan, keterasingan dan penjara bertahun-tahun.

Ya’qub pun tidak keluar untuk mencari Yusuf. Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa Ya’qub meminta kepada Allah untuk memberi petunjuk tentang keberadaan anaknya.

Setelah dewasa, Yusuf alaihissalam tidak kembali menemui keluarganya. Al-Qur’an tidak menyebutkan bahwa Yusuf meminta kepada Allah agar memberi petunjuk kepada keluarganya untuk menemui beliau.

Yusuf dan Ya’qub menunggu dan menyimpan rapi semuanya. Keduanya sama-sama melaksanakan perintah Allah dan fokus menjalankan tugas kenabian yaitu menyampaikan petunjuk dan risalah kepada manusia.

Saat hari terungkap dan tersingkapnya alur kehidupan, penghilatan Ya’qub kembali normal, keluarga Yusuf kembali menemuinya, dan para saudaranya itu meminta maaf dan ampunan.

Yusuf berkata:

وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا

“Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf pun menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang tercurahkan untuknya, bukan menyebutkan dendam-dendam.

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ

“Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir. .” (QS Yusuf: 100)

Setelah duduk di singgasana dan saudara-saudaranya bersujud kepadanya, Yusuf pula tidak menyinggung-nyinggung seorang pun di antara mereka atas kejahatan yang pernah mereka lakukan.

Bahkan Yusuf menyandarkan dan menisbatkan bahwa apa yang terjadi semuanya berasal dari syaithan (yang mengobarkan kejahatan di bumi).

Yusuf berkata:

مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“ . .setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf tak sepatah katapun menyebutkan bahwa beliau dan ayahnya amat menderita bertahun-tahun. Beliau hanya berujar:

إنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Sejatinya Rabbku Maha Lembut terhadap siapa yang Dia kehendaki.” (QS Yusuf: 100)

Yusuf menyandarkan segala sesuatu kepada Allah dengan mengatakan: “Dialah sejatinya Maha Mengetahui lagi Bijaksana.”

Yusuf menyebutkan segala kenikmatan dan anugerah Allah kepadanya tanpa menolehkan pandangan terhadap ujian-ujian kehidupan yang telah berlalu:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. .” (Ayat: 101)

Dengan penuh ketawadhuan jiwa, ia berujar:

“(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (Ayat: 101)

Aku semakin meyakini bahwa para nabi adalah manusia terberat ujiannya. Akan selalu ada pihak-pihak pendukung kesesatan dan hasad hendak melaksanakan makar kepada mereka. Ujian-ujian yang terkadang bersumber dari anak, saudara dan kerabat lainnya akan mengantarkan orang shaleh mencapai derajat mulia.

Aku semakin meyakini dan memahami bahwa jalan keluar tak akan datang kecuali setelah mengerahkan sabar hingga episode telah usai.

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami. . .” (Ayat: 110)


Diringkas dan diterjemahkan dari akun Lailiy Fahd as-Syamiriy

Alih bahasa: Yani Fahriansyah

(Asrama, Ahad pagi, 25/12/2016)

Blog at WordPress.com.

Up ↑