Utang 4000 Trilyun


Gregetan kan mendengar utang Pemerintah hampir mencapai Rp 4.000 trilyun ?. Lebih pening lagi setelah mendengar ulasan INDEF nilainya membengkak menjadi Rp 7.000 trilyun.
“Dasar, rezim korup, doyan utang !”, umpat sebagian teman.

Mungkin ada benarnya apa yang dikatakannya itu.

Tapi coba refleksikan pada diri kita masing-masing. Ternyata setelah direnungi, kita – bangsa Indonesia – juga punya karakter yang sama : gemar utang. Rumah utang, kendaraan utang, perkakas utang, baju utang, hingga beli kolor pun ada yang utang. SK dan ijazah banyak yang ‘disekolahkan’ di bank. Iya apa iya ? Perilaku masyarakat Indonesia semakin konsumtif.
Sebagai informasi, market size Indonesia menurut laporan World Economics Forum (WEF) tahun lalu menempati urutan ke-9 di dunia dengan rincian : domestic market size index meningkat, foreign market size index menurun. Kita minim produktivitas. Di sisi lain, daya beli masyarakat semakin menurun. Kalau boleh dikatakan dengan bahasa rumah tangga : nafsu belanja (semakin) besar, dompet semakin tipis. Akhirnya, hutang (kredit) jadi solusi.

Jika dikatakan Pemimpin adalah cerminan rakyatnya, tidak salah. Mereka (pemimpin) seakan-akan menjadi etalase perilaku masyarakat kita. Jika kita (bangsa Indonesia) tidak merubah mindset kehidupan gemar berutang, maka selama itu pula negara kita punya kegemaran yang sama. Riba pulak. Mereka adalah bagian dari kita. Produk budaya kita.

Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafiy rahimahulah mengatakan:
فإذا أراد الرعية أن يتخلصوا من ظلم الأمير الظالم ، فليتركوا الظلم
“Maka, apabila rakyat ingin mengakhiri/melepaskan diri dari kedhaliman pemimpin yang dhalim, hendaklah mereka meninggalkan kedhaliman (yang mereka perbuat)” [Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah hal 370].

Allah ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ.
”Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” [QS. An-Nisaa’ : 79].
NB : Saya tahu ada sebagian Pembaca bosan ikut disalahkan karena kebobrokan rezim.


Ustadz Dony Arif Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: