Jasad Jenazahmu Bukan Urusanmu

Ada yg mengeluhkan:
“saya gak mau berbeda dg masyarakat. Krn kalau beda, nnt jika saya mati, gak ada yang mau ngurus jenazah saya.”

Akhirnya membuat dia ikut tradisi syirik ataupun bid’ah di masyarakat tersebut, kerena kekhawatiran itu.

Seorang sahabat, Abdullah bin Zubair, pernah mengeluhkan kepada ibundanya, Asma binti Abi Bakar, ketika beliau dikepung oleh pasukan Hajjaj.

Beliau berkata, “Bu, aku khawatir bila aku dibunuh nanti, mereka akan mencincang jasad jenazahku”.

Ibundanya pun menjawab, dengan memberikan sebuah ungkapan,

لا يضر الشاة سلخها بعد ذبحها
” Seekor kambing yg sudah disembelih tidak akan merasakan sakit ketika dikuliti”

Pikirkan bagaimana amalanmu selama hidup agar diterima Allah setelah engkau mati.

Adapun jasadmu, untuk dimandikan; dikafankan; disholatkan; dikuburkan; itu tugas orang yg masih hidup. Jika mereka tidak melaksakan fardhu kifayah tsb, maka yg dosa mereka semua, bukan kamu.

Ustadz Yasir Kencong

Istri yang Menyembunyikan Suaminya

Ini kisah nyata yang kualami sendiri, aku adalah seorang jomblowati yang berteman ke sana-sini. Dan aku berteman dengan seorang ummahat, sudah hampir 3 tahun kenal, sering bertemu di majelis ilmu, pernah juga satu profesi, dan kadang kami kumpul-kumpul bersama akhwat lainnya.

Bagiku, ia sosok yang mengagumkan dalam seni menyembunyikan kehidupan rumah tangganya. Umur rumah tangganya melebihi umur pertemanan kami. Namun, tak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok suaminya, tak pernah ia bercerita panjang lebar tentang keluarga kecilnya. Baik itu keromantisan ataupula sebuah pertengkaran, tak kudapati ia sebuti.

Jangankan untuk menge-tag akun suaminya di sosial media, menyebutkan nama suaminya di depan kami(para teman akhwatnya) saja tidak pernah ia lakukan.

Betapa ia begitu menjaga, apa yang memang seharusnya dijaga. Begitu besar rasa cemburunya, hingga tak ada celah yang ia tampakkan dari kehidupan rumah tangganya. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang tahu kehidupan keluarganya. Bukan teman pada umumnya, bukan pula dibeberkan di sosial media yang siapa saja bisa mengetahuinya.

Untukmu, wahai ummahat yang begitu menjaga kehidupan rumah tangga, aku benar-benar banyak belajar darimu. Seni menjaga yang sangat besar manfaatnya, apalagi buat para jomblo yang sering menghalu tentang indahnya kehidupan berumah tangga, disebabkan bersilewernya pasangan-pasangan yang memamerkan keromantisannya di sosial media.

Darimu, aku mengerti hakikat cemburu yang sesungguhnya. Bahwa suamimu adalah milikmu, cukup kau yang tahu, cukup menjadi privasimu.

Semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan keturunanmu.
Aku kagum dengan caramu menjaga kehidupan berumah tangga.

Jejak Pena | @tintadya
telegram | t.me/tintadya15

********************

Wahai kalian para suami, hendaklah kalian berlaku serupa. Apalagi kalian terancam dengan predikat lelaki dayyuts yang dengan itu diharamkan atasnya Surga.

Kisah Wanita Cantik yang Menggoda Ulama

Kisah ini terjadi pada abad pertama hijriyah, di zaman tabi’in.

“Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda?” tanya seorang istri kepada suaminya, sambil bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan yang terpantul di kaca itu.

“Ada.” jawab sang suami.
“Siapa?” kata istrinya
“Ubaid bin Umair.” jawab suaminya

Sang istri diam sejenak. Ia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.

“Wahai suamiku,” katanya merayu, “bolehkah aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umair bertekut lutut di depanku?”

Sang suami terkejut dengan permintaan ekstrem itu, tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, untuk menguji keshalihah seorang ulama. “Silahkan, aku mengijinkanmu.”

Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidil Haram.

Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah ﷺ masih hidup. Nama lengkapnya Ubaid bin Umair bin Qatadah Al Laitsi Al Junda’i Al Makki. Beliau wafat pada tahun 74 hijriyah.

Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasehat. Ia beralasan kebutuhannya amat penting, dan memintanya pindah ke pojok masjid. Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya dan tampaklah wajah cantiknya laksana bening rembulan.

“Apa yang kau lakukan?” kata Ubaid melihat kejanggalan wanita tersebut.
“Sungguh, aku mencintaimu. Aku hanya ingin jawaban darimu,” sergah wanita itu, terus berusaha menggoda Ubaid.

“Sebentar,” kata Ubaid. Kini nadanya mulai naik. “Ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.”

“Baik, aku akan menjawabnya dengan jujur.”

“Pertama, seandainya Malaikat Maut datang menjemputmu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu?”

Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya dengan kematian. Kemudian menjawabnya “Tidak”

“Kedua, seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu?”
“Tidak” jawabnya.

“Ketiga, seandainya saat ini semua manusia menerima catatan amalnya dan engkau tidak tahu apakah kau akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Keempat, seandainya saat ini seluruh manusia digiring ke timbangan amal dan engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau justru amal buruknya yang lebih berat, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Kelima, seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmatNya yang telah dianugerahkan kepadamu, masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Demi Allah, tidak”

“Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah. Betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu.”

Kini dia tak kuasa menahan air mata. Tadi dia datang ke Masjidil Haram berpura-pura mencari nasehat, kini ia benar-benar mendapatkan nasehat yang benar-benar menyentuhnya.

Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih.

“Apa yang terjadi wahai istriku?” kata suaminya.

“Kita ini termasuk orang yang celaka,” jawab wanita itu, kemudian ia mengambil wudhu dan shalat.

Hari-hari berikutnya, ia berubah drastis. Ia tak lagi membanggakan kecantikannya. Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam. Ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.

Mudah-mudahan ini ada manfaatnya..
Barakallahufiikum.

اللَّـﮬـُمَّ صـَلِِّ ؏َـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِن امُحَمَّدٍ ﷺ

Tidak Perlu Ada Kumpulan Pejuang Poligami

Jika ingin, dan siapalah yang tak ingin…
Lebih tepatnya, jika sudah kuat hasratnya, maka bercerminlah: ‘ibadah dan ketakwaan’ atau sekadar perhiasan dunia dan hawa nafsu belaka? Ketahuilah bahwa yang telah berpengalaman, lebih mengenal dan lebih dewasa.


Jika rupanya betul karena ibadah dan takwa, maka ceritakan itu ke mereka yang telah berpengalaman.

Namun, saya ingin sebutkan untuk siapapun di sini kalam Ibnul Jauzy -rahimahullah-. Tentang orang yang telah menikah dengan lebih dari seorang perempuan. Dan hasratnya masih terus, karena memang begitulah tabiat. Beliau berkata:

ظن أنه يجد عندها ما ليس عندهن!

“Dia mengira bahwa dia akan menemukan di perempuan (asing) tersebut, apa yang tidak ada pada mereka (istri-istrinya).”

Lalu ia memperjuangkan untuk mendapatkannya. Penasaran. Merasa istri-istrinya masih kurang. Perlu pelengkap. Ia kemudian menyana bahwa pada insan baru ini ada hal baru, berbeda dan menyemangatinya.


Kemudian beliau berkata:

ولعمري، إن في الجدة لذة، ولكن، رب مستور إذا انكشف افتضح.

“Sungguh, dalam hal yang baru memang ada kenikmatan. Tetapi, boleh jadi yang tadinya tertutup, jika disingkap, akan tampak buruknya.” [Shaid al-Khathir]

Acapkali dunia itu terasa indah justru sebelum mendapatkannya. Setelah ia mendapatkannya, membuka bungkusnya, merasakannya, ternyata ia merasakan apa yang pernah dirasakan. Seterusnya ia ingin lebih. Atau sebaliknya, ada bangunan yang telah dihancurkan.

Kecuali jika dunia digenggam karena demi berpijak untuk akhirat. Maka, ia akan merasakan iman dan kekhusyuan di setiap khuthuwat. Hanyasaja, banyak orang -khususnya ‘pejuang poligami’- tidak jujur dalam hal ini.
Lisan mereka berkata akhirat, namun hati mereka merindu dunia.

Jika ingin berjuang, perjuangkan terlebih dahulu kemapanan i’tikad, niat dan ibadah. Semoga Allah permudah bagi orang bertakwa.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Islam, Arab dan Nusantara

Islam datang untuk mengislamkan bangsa Arab dan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam ditentang kaumnya karena Islamisasi ini. Yang didakwahkan Nabi kita adalah mengislamkan Arab, bukan meng-Arabkan Islam.

Islam terlalu sempurna untuk dipaksakan mengikuti adat dan budaya bangsa fulan atau suku ‘allan. Adat dan budaya Arab yang baik tidak dilarang oleh Islam, namun yang menyelisihi Syari’at Islam seperti penyembahan berhala, tamimah (jimat), mengubur anak perempuan hidup-hidup, membuka aurat dlsb maka Allah dan Rasul-Nya larang dan diarahkan menuju yang lebih baik.

Jika di Indonesia ada aliran nusantara yang mendakwahkan, “Mengindonesiakan Islam, bukan mengislamkan Indonesia.”, Nabi siapa yang mereka teladani?

Ustadz Abu Razin Taufiq

Tiga Ulamâ’ Berada dalam Satu Majelis

As-Syaikh Al-Albâniy, as-syaikh bin Bâz, dan as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahumullâh.

Pada musim haji, dan waktu itu adalah akhir tahun haji, di dalamnya ada as-syaikh Al-Albâniy rahimahullâh, dan amîr jalsah (pemimpin pertemuan) adalah as-syaikh bin Bâz, dan berbagai macam pertanyaan pun diajukan, dan as-syaikh rahimahullâh mendapatkan soal-soal tersebut, dan jika soal berkaitan dengan perkara fiqh beliau mengirimkannya ke as-syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, dan jika berkaitan dengan masalah hadîts as-syaikh mengarahkannya ke as-syaikh Al-Albâniy, dan jika soal berkaitan dengan bertemakan i’tiqâd maka as-syaikh bin Bâz sendiri yang menjawabnya.

Dan tunggulah para jamâ’ah shalat, siapakah yang akan shalat zhuhur bersama mereka (menjadi Imâm), dan waktu itu mereka ada di Minâ ?.

Dan tiba-tiba as-syaikh ‘Abdul ‘Azîz rahimahullâh berkata kepada as-syaikh Al-Albâniy: “Majulah wahai Abû ‘Abdirrahman shalatlah bersama kami, engkau imâm kami.”

Lalu as-syaikh Al-Albâniy berkata: “Tidak. Tidak, engkaulah syaikh kami.”

Dan tiba-tiba as-syaikh bin Bâz rahimahullâh berkata kepada beliau: “Kita semua dalam Al-Qurân sama, sementara engkau lebih ‘âlim dari kami dalam masalah hadîts rasûlillâh, majulah wahai Abû ‘Abdirrahman.”

Dan as-syaikh Al-Albâniy pun maju mengimami mereka.

Dan ketika itu beliau menoleh ke as-syaikh bin Bâz dan beliau berkata kepadanya: “Wahai syaikh kami Aku shalat mengimami manusia dengan shalat rasûlillâh, ataukah Aku ringankan.”

Dan as-syaikh bin Bâz menjawab: “Shalatlah bersama kami dengan shalat rasûlillâh, ajarkan kami wahai syaikh bagaimana rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat ?.”

Lihatlah kepada Adab ?.

Ibnu Bâz berkata kepada Al-Albâniy: “Ajarkanlah kami wahai syaikh!!.”

Ini merupakan adab di antara para ‘ulamâ’, dan inilah akhlâq para ‘ulamâ’.”

Alangkah butuhnya kita kepada peneladanan kepada mereka yang memiliki keutamaan ini

Dan kita akan berjalan di atas jalan mereka dalam masalah adab, akhlâq, dan bersikap tawâdhu’ pada apa yang ada di antara mereka.

IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Untuk Para Suami

Berkata Al-Hafidzh ‘Amru bin Qois Al-Malaai rahimahullah.

“Sesungguhnya seorang wanita benar² akan memusuhi suaminya pada Hari Kiamat disisi Rabb-nya kemudian dia mengatakan (sembari mengadukan perihal suaminya kepada Rabb-nya);

“Dahulu dia tidak mengajariku adab, dan tidak mengajariku apapun(dari perkara agama), dahulu dia hanya datang membawakanku roti dari pasar (yakni dia hanya sibuk memenuhi kebutuhan duniawinya semata).”

[Tafsir As-Sam’aany, cetakan Daarul Wathan (5/475)]

*****

Sudahkah kita para suami mengajarkan tauhid, adab, tazkiyatun nafs dan fiqh – semampu kita sembari terus belajar?

Shalat Berdua dengan Bukan Mahram

Seorang laki-laki shalat berduaan dengan wanita yg bukan mahram, si laki-laki menjadi imam, si perempuan menjadi makmum, apa hukumnya? Jawab: tidak boleh.

Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها ذو محرم

“Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan, kecuali perempuan tersebut ditemani mahramnya”.
(HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, tidaklah seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan kecuali yang menjadi ketiganya adalah syetan.

Berdua-duaan dengan yang bukan mahram, Jika saja hal itu tidak pantas dilakukan diluar shalat, maka lebih tidak pantas lagi jika hal itu dilakukan ketika sedang shalat, disaat seorang hamba sedang mengibadahi Rabb nya. Kecuali ada laki-laki lain, atau wanita lain, yang menemani shalat mereka berdua.

Allaahu a’lam
Semoga bermanfaat

Faishal Abu Ibrahim

Tidak Ada yang Merasa an dari Riya’ kecuali Orang Munafik

Setiap amalan ibadah yang dikerjakan secara terang-terangan berpotensi riya di dalamnya. Bahkan sepotong status singkat seperti ini pun sama.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Barangsiapa yang beramal agar disebut-sebut manusia, maka Allah akan tampakkan bahwa ia berharap demikian. Begitupun dengan orang yang beramal agar manusia memandangnya, maka Allah akan tampakkan bahwa ia berharap demikian.”

(HR. Bukhari 6499)

Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan,

ومن كان له وِردٌ مشروعٌ من صلاة الضحى أو قيام ليل أو غير ذلك، فإنه يصليه حيث كان، ولا ينبغي له أن يدَع ورده المشروع لأجل كونه بين الناس – إذا علم الله من قلبه أنه يفعله سرًّا لله – مع اجتهاده في سلامته من الرياء ومفسدات الإخلاص…ومن نهى عن أمر مشروع بمجرد زعمه أن ذلك رياءٌ فنهيه مردود عليه…والأعمال المشروعة لا يُنهى عنها خوفًا من الرياء، بل يؤمر بها، وبالإخلاص فيها

“Seseorang yang sudah punya rutinitas khusus dari ibadah, seperti salat Duha, salat malam, atau yang lainnya, maka hendaknya ia tetap mengerjakannya bagaimanapun kondisinya. Tidak lantas menghentikan hanya gegara ia tengah bersama manusia yang lain, padahal ia yakin Allah tahu ia mengerjakannya ikhlas karena Allah di kala sendiri, dengan catatan ia tetap mengondisikan hatinya beramal hanya karena Allah dan waspada dari riya dan penghancur keikhlasan lainnya. Seorang yang meninggalkan rutinitas ibadah yang disyariatkan hanya karena persangkaan bahwa hal itu tergolong riya, maka tertolak. Amalan yang disyariatkan tidak lantas ditinggalkan hanya karena khawatir riya. Bahkan dianjurkan dan tetap menjaga hati.”

Tidak ada yang merasa aman dari riya kecuali orang munafik.

Ustadz Muhammad Nur Faqih

Wanita, Casingnya dan Sosok Istri yang Dibutuhkan Saat Suami Terpuruk

[Bismillah]

Ketika suami tengah terpuruk dalam ujian yang berat, ekonomi sulit, masalah datang silih berganti; saat itulah dia akan menyadari seperti apa gambaran sosok istri yang dibutuhkannya.

Tidaklah terlalu penting istri cantik jelita yang pandai berdandan dan bersolek. Tidaklah terlalu berguna pendidikan tinggi dengan sederet gelar yang mentereng. Bahkan, meskipun seorang hafizhah faqihah lulusan lembaga pendidikan Islam ternama; semuanya itu seakan tiada arti bila tidak diimbangi dengan akhlaq yang baik.

Akhlaq, yang dengannya seorang istri selalu setia membersamai suaminya; dalam suka duka, ada dan tiada. Akhlaq, yang menjadikan seorang wanita berkarakter sabar dan syukur menjalani deru debu rumahtangga bersama imamnya. Akhlaq, yang bisa menguatkan wanita untuk terus mendukung suaminya menjalani peran sebagai pemimpin, meski dirinya sendiri tengah tertatih perih berkalang lara. Akhlaq teguh, yang dibangun di atas asas qona’ah dan taat pada suami di jalan Allah.

Dalam memilih pasangan, jangan silau dengan hal-hal yang bersifat casing.

“Dia itu dokter muda loh…”

“Dia bidan lulusan terbaik.”

“Dia wanita yang hebat. Sudah lulus S3.”

“Dia itu hafizhah loh, baru lulus dari pesantren ternama.”

“Dia putrinya Ustadz Fulan loh…”

Rupa ragam casing yang seperti itu tidak menjamin kebahagiaan dan keharmonisan rumahtangga. Bukan berarti mutlak tidak penting, tapi tidak menjamin. Betapa banyak rumahtangga yang karam, padahal dibangun oleh sosok-sosok yang punya casing menyilaukan.

Banyak kalangan ikhwan yang jika mendengar ada akhwat dengan “casing” background yang WOW , terutama terkait pendidikan formal duniawi, seketika menggebu-gebu ingin bisa mempersuntingnya tanpa berusaha lebih jauh mengenali bagaimana aspek akhlaqnya. Ujungnya, ketika bahtera rumahtangga mulai berlayar, pukulan demi pukulan ombak menghantam dan membuatnya tenggelam.

Semoga Allah karuniakan kepada kita pasangan dengan visi misi surgawi yang sama. Saling menjaga, saling ridho, saling menguatkan di atas kebaikan, hingga ke jannah, biidznillah.

Shobahul khoir. 🤝

Ustadz Ammi Ahmad

Blog at WordPress.com.

Up ↑