Kambing Terbang

Konon di zaman dahulu kala ada dua orang Arab badui berjalan bersama di padang pasir. Untuk mengusir kejenuhan, mereka main tebak-tebakan. Nun jauh di depan mereka ada sebuah titik hitam. Apakah itu?

Si A menebak, “Itu burung gagak!”.

Kata si B, “Itu kambing!”.

Keduanya bersikeras untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Titik hitam itu semakin dekat. Ternyata ia terbang tinggi mengangkasa. Alias tebakan si A lah yang benar. Itu burung. Namun karena terlanjur malu, si B berkata, “Pokoknya itu kambing, walaupun terbang”.

‘Anzun wa in thôro. Begitu pepatah Arab mengistilahkannya.

Lebih mempercayai fakta atau hoax?

Kita hidup di zaman begitu banyak orang terjebak hoax. Sekalipun mengetahui bahwa realita yang mereka rasakan berbeda dengan berita bohong tersebut.

Dua orang bersahabat akrab bisa saling mencurigai bahkan bermusuhan gara-gara hoax. Padahal mereka telah saling mengenal selama belasan tahun. Sudah saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terbiasa saling menasehati dan menghargai. Hingga datanglah orang ketiga yang menebarkan isu miring.

“Temanmu itu selalu merasa paling benar. Fanatik. Eksklusif. Provokator. Suka mencela, memfitnah, membongkar aib orang lain dll. Selama ini dia hanya berpura-pura baik”, begitu kata orang ketiga.

Saking gencarnya tuduhan-tuduhan miring yang dilontarkan, hingga ia termakan isu tersebut. Walaupun sebenarnya selama ini dia tidak melihat adanya sifat-sifat buruk itu dalam diri temannya.

Dia lebih mempercayai hoax dibanding fakta. Hanya kepada Allah saja kita mengadu…

Apa motifnya?

Kedatangan pihak ketiga tersebut tentunya membawa misi. Dia punya motif di balik langkah-langkah masif yang dilakukannya. Motif itu kemungkinan salah satu dari dua. Atau bahkan kedua-duanya.

Pertama: Iri dan dengki

Dia merasa iri dengan keakraban dua sahabat tersebut. Cemburu melihat keharmonisan hubungan antara keduanya. Dia ingin mereka saling bermusuhan. Namun kesulitan untuk menemukan cara. Akhirnya ditempuhlah langkah praktis menebar fitnah.

Dirasa atau tidak dirasa, dia telah bergabung dalam timses mega proyek setan. Yakni proyek menciptakan permusuhan di antara kaum mukminin.

Kedua: Gebyah uyah

Alias pukul rata. Kayaknya dia pernah melihat orang berpenampilan luar sama dengan salah satu dari dua bersahabat tadi. Orang itu memiliki seabreg karakter buruk yang tersebut di atas. Lalu dia pikir semua orang yang berpenampilan seperti itu, sama juga berkarakter buruk.

Atau dengan ungkapan lain, di negeri antah berantah dia pernah melihat kambing terbang. Lalu karena minim wawasan, dia klaim bahwa semua kambing di dunia ini bisa terbang.

Ingat pesan para pejuang, “Rapatkan barisan! Belanda sudah dekat kawan…”.

Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 25 J Ula 1440 / 30 Januari 2019
Abdullah Zaen Lc. MA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: